19 Januari 2023

Review Buku "Faster than Normal"

 Faster than Normal: turbocharge your focus, productivity, and success with the secrets of the ADHD brain

Penulis: Peter Shankman


Faster than normal

Buku Faster than Normal ini berbeda dengan buku Fast Minds kemarin karena yang ini ditulis berdasarkan sudut pandang "aku"/orang pertama, alias pengalaman pribadi. Semacam otobiografi.


Isinya berupa pergulatan hidup penulis dalam membalik ADHD-nya menjadi berkah. Meminimalkan kelemahannya dan meningkatkan kekuatannya. 


Itu susah payah banget, dari yang tadinya dia nggak menyadari kalau dia ADHD/perilakunya salah atau bermasalah dan kemudian terjebak dalam j*di, m*ras, n*rkoba, dll (substance abuse) dan kehidupannya yang kelam dan berantakan banget menjadi dia yang sangat terorganisir, bersih, rapi, dan sukses pada banyak bidang. Cara-cara itu ditunjukkannya di dalam buku ini.


ADHD bukan alasan bahwa kamu itu nggak akan berhasil atau hidupmu bakal mentok. Juga, bukan alasan untuk nyakitin orang lain.


Penulis itu dengan sadar dan dengan susah payah berusaha memperbaiki dirinya dan melatih dirinya agar perilakunya lebih seperti orang normal tetapi tentu saja dalam batas tertentu, dia juga ingin dimengerti. Maksudnya mungkin ketemu di tengah-tengah. Nggak dia doang yang berusaha berubah tapi yang normal juga harus ngerti kalau berubahnya itu susah, masih sering gagal, atau hanya bisa sampai kapasitas tertentu. Tapi kalau kamu baca buku Faster than Normal ini, dia gila-gilaan lho usahanya. Mengingatkanku pada Nic Vujicic, tetapi Nic Vujicic mungkin lebih pada mengatasi kekurangan fisik gila-gilaannya, sementara Peter Shankman pada kekurangan mental/usaha psikologis.


Di buku ini juga kental aura ngenesnya sebagai orang ADHD, gimana pandangan dan perlakuan masyarakat terhadap dia. Namun, beberapa isinya seperti minder, beberapa seperti menginspirasi dan memotivasi, dan beberapa sisanya seperti sombong. Yah seperti "Kami super cepat dan kamu lemot, tapi karena super cepat kami bermasalah dengan rem kami yang sering blong." Pada suatu kalimat juga isinya seperti menghina orang yang mungkin punya "gangguan lain."


Buku ini juga tebel kayak buku Fast Minds dan ini lebih bertele-tele, kurang sistematis, dan kurang fokus. Wajar ya karena penulisnya ADHD dan ngakunya memang doyan ngomong. Sisi baiknya, ini ringan dibaca, berupa storytelling.


Menjadi seorang ADHD yang sudah berhasil sangat terorganisir, sangat sukses, punya rem yang lebih baik, berhasil menjauhi dunia hitamnya, dan hanya menggunakan bantuan obat pada kondisi yang sangat minimal (tertentu saja), ada banyak cara dia yang mungkin bisa kamu contek, baik kamu menderita ADHD ataupun tidak. 


Oh ya, ada juga isinya yang protes karena dia menganggap anak-anak cowok itu nakalnya wajar sebagai cowok tetapi kenapa mereka dianggap ADHD dan diberi obat ADHD (dia bahas persentase anak-anak cowok yang diberi obat ADHD), tetapi secara kebetulan aku nemu bantahannya di buku Healing ADD karya Daniel G. Amen. Sepertinya Peter terlalu emosional karena ada kata ADHD-nya.


Yup, itu adalah plus minus dari buku Faster than Normal ini. Gimana, kamu tertarik baca? 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.