09 November 2022

Review Buku "The Monk who Sold His Ferrari"

"The Monk who Sold His Ferrari," a fable about fulfilling your dreams and reaching your destiny

Penulis: Robin S. Sharma


The monk who sold his ferrari


Ferrari bukanlah merek mobil buatan Indonesia. Ferrari merupakan produsen mobil balap/supercar/mobil mewah super cepat. Ada Ferrari Roma, Ferrari Testa Rossa, atau lainnya. Jika kita bicara tentang orang terkaya di dunia, kamu mungkin akan membayangkan foto kolam renang mewah, memiliki mobil mewah seperti Ferrari ini, naik kapal pesiar mewah, belanja barang-barang branded/bermerek, atau berwisata ke luar negeri atau keliling dunia. Cuma, saya merasa penasaran, apa yang ada di pikiran pencipta/pembuat mobil Ferrari ini sehingga bisa memasukkan nilai mobil balap menjadi keunggulan mobil sehari-hari milik orang kaya. Yang membuat saya lebih penasaran lagi adalah judul buku ini, "Apa hubungannya biksu dengan mobil Ferrari yang notabene sebuah kemewahan? Bukankah (setahu saya) biksu sudah tidak memikirkan urusan duniawi? Setidaknya urusan duniawi yang berupa kemewahan/materi tadi, kayaknya dia udah nggak mikir deh. Trus kenapa judulnya seperti kontras?" Nah, itulah daya tarik pertama dari buku "The monk who sold his Ferrari" ini.


Buku "The Monk who Sold His Ferrari" berisi gabungan antara fiksi dan non fiksi. Dia menceritakan kisah fiksi lalu dibahas pelajaran-pelajaran di dalamnya dalam bentuk gambar rangkuman (non fiksi). Jadi, dominan fiksinya, 99% fiksi.


Entah kenapa disebut fabel padahal setahuku fabel itu kisah-kisah hewan, sedangkan ini pemerannya/tokohnya itu manusia. 


Buku ini berisi kisah Julian Mantle, seorang pria yang sangat ambisius dan workaholik. Getol banget cari uang sampai akhirnya bisa beli mobil Ferrari. Tapi setelah dia kaya sesuatu terjadi pada dirinya dan mengubah seluruh hidupnya. Kemudian Julian menceritakan perubahan itu kepada sosok "aku". Jadi, buku ini berisi ajaran-ajaran tentang kehidupan secara umum, termasuk karir, kebahagiaan, dan produktivitas yang disampaikan dalam bentuk cerita/dialog antara 2 orang pria. Aku udah bisa nebak ceritanya mulai halaman 15, padahal halamannya ada 200-an.


Secara pribadi, aku ga suka model non fiksi yang dicampur fiksi kayak gini. Aku tau buku ini karena aku tahu penulisnya dulu di Instagram trus penasaran gitu deh. 


Aku pernah tahu model kayak gini di buku tentang memilih orang saat intervew tapi aku lupa judulnya. Kalau buku yang ini porsi non fiksinya agak lebih banyak dari "The monk who sold his ferrari". Kayaknya sih model penulisan kayak gini itu langka. Mereka berusaha kreatif aja gitu. Ada juga buku campuran fiksi dan non fiksi (non fiksi yang dibentuk fiksi) yang masih agak mirip yaitu "Who moved my cheese" dan buku lain yang ditulis oleh penulis "Who moved my cheese" kalau nggak salah judulnya "Peaks and valleys" (dia bikin buku lain dengan format serupa karena "Who moved my cheese" sukses di pasaran).


Kalau secara isi, buku ini biasa. Banyak buku lain tentang kesuksesan yang lebih bagus dari ini. Malahan, untuk dapat poin-poin inti yang sedikit itu kamu harus muter-muter dulu baca ceritanya yang puanjang. Untuk penikmat fiksi mungkin suka, tapi bagiku sangat bertele-tele.


Uniknya, buku "The monk who sold his ferrari" ini masuk non fiksi lho di kategori pencarian, padahal 99% itu fiksi. Nah, lo.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.