17 Maret 2022

Beli Kosmetik, Apa Hal Utama yang harus Diperhatikan?

Semakin kamu nggak punya dasar yang kuat, semakin kamu akan random.

Prinsip ini kutemukan setelah mengalami banyak hal berat/buruk dalam hidupku.

Jika kamu punya dasar pun, tapi dasarmu salah/kurang kuat, itu bisa jadi sama buruknya.


Aku peduli kosmetik itu sejak SD, terutama Sampo. Bisa dibilang aku "brai" sampo. Aku nggak akan terlalu bahas sampo, tapi mengenai pemilihan kosmetik/skin care-nya secara umum.


Dulu, aku sangat random beli samponya. Rejoice, Sunsilk, Dimension, dsb termasuk varian-variannya itu kucoba demi untuk rambut yang lebih bagus. Tapi, ternyata seperti sama aja.


Setelah besar, cara pemilihanku berubah. Aku ngikut label/iklannya: menghitamkan rambut, menyuburkan rambut, untuk kulit kering, untuk kulit sensitif, untuk membersihkan wajah, dll. Termasuk harga yang murah jadi pilihan utama.


Makin besar lagi, aku milih berdasarkan warna, tone kulit, dll.


Tambah besar lagi, aku baca komen-komen dan rating produk di marketplace, di website kumpulan review, di blog-blog milik beauty blogger/beauty vlogger/youtuber, dll.


Nah, sampai suatu hari aku merasa semuanya salah/bukan yang utama. Warna atau tone sudah mirip tapi gatel, udah sesuai saran youtuber tapi gatel, muka bener cerah tapi gatel. Bahkan, beli yang udah berlabel untuk kulit sensitif tetep gatel, kering, ngglodoki, dsb. Taunya apa, salah satunya karena lidah buaya/aloe vera. Banyak produk kecantikan terutama yang untuk hidrasi, melembabkan, melembutkan, atau kulit sensitif pake lidah buaya. Sedangkan aku baru nyadar kalo alergi lidah buaya.


Begitupun dengan sampo, gonta-ganti sampo apa pun tetep gatel, berketombe, kusam, bercabang, atau rontok parah.


Lipstik, odol, dll juga sama. Ada bahannya enak tapi warnanya dengdong, ada lipstik yang langsung bikin sariawan, ada odol yang kayaknya bikin mulut sobek, dll.


Termasuk jika kamu hanya ngikutin review-review dari beauty blogger/beauty vlogger/youtuber, itu belum tentu cocok buatmu. Baik tentang warna kulitnya, tone-nya, pengaruh bahan-bahan di dalamnya, maupun lainnya.


Aku pernah ngikut seorang beauty vlogger, beberapa produk. Ternyata produk yang direkomendasikan nggak enak di aku. Gatel. Ada juga yang bikin panas atau bruntusan. Kuriset produk lain yang disarankannya ternyata ada yang mengandung alkohol (yang nggak ditulis jenis apa, takutnya haram) dan ada juga yang mengandung aloe vera. Iya di dia fine-fine aja, di aku? Horor.


Jadi, masalah gatel, banjir di daerah T, muncul lemak-lemak putih di wajah, jerawat yang besar-besar (yang kayak bantat), bruntusan, panas, sariawan, sobek, rambut bercabang, ketombe, dll itu semua karena aku nggak punya dasar yang kuat atau dasar memilihku salah.


Nah, apa sebenarnya dasar utama dalam pemilihan kosmetik?


Semua dasar di atas, misalnya review, label pada produk, dll bukan nggak berfungsi ya, tapi kamu butuh lebih dari itu, yaitu kandungan bahannya. Bahannya kira-kira aman atau tidak, cocok atau tidak buat kamu, dan sesuai atau tidak dengan kebutuhanmu. Selain itu, apa kebutuhan utama/produk utama untuk mengatasi masalahmu. Step pertamanya itu apa. Itu yang menurutku terpenting. Urutannya ya, jangan loncat. Dan jangan lupa, yang sudah terdaftar di BPOM ya, cek KLIK dulu dan kalau bisa cek juga nomer registrasinya di web BPOM. 


Jadi, ketika aku butuh fungsi X (mengatasi masalah A dulu), aku akan cari produk-produk tahap pertama yang punya fungsi X. Lalu, aku lihat pada toko atau review kandungannya apa saja. Kalau ada etanol, NO. Kalau ada alkohol (ga jelas jenis apa) kuhindari, tapi terutama aku lihat ada kandungan aloe-nya atau tidak. Aloe apa saja, mau aloe vera kek, aloe barbadensis kek, pokok'e aloe. Trus kuperhatikan kandungan-kandungan yang di-warning oleh reviewer-reviewer, meskipun belum tentu nggak cocok di aku atau bikin aku alergi. Selain itu, perhatikan urutan penulisan bahannya pada produk. Bahan-bahan yang di-warning kalau bisa jangan ada di urutan atas dan kalau bisa jangan terlalu banyak macamnya.


Aku mengamati, brand tertentu serta brand-brand lokal tertentu cenderung pake kandungan yang sama. Jadi, kamu harus hati-hati, baik terhadap variannya maupun rangkaian produknya. Kalau kamu cocok, kemungkinan kamu akan cocok dengan varian lain atau produk pada step selanjutnya mungkin lebih besar, tapi kalo nggak? Ya kebalikannya juga berlaku, kemungkinan nggak cocok terus akan lebih besar. Kenapa? Karena mungkin terkait diversifikasi atau efisiensi atau penghematan dan kepraktisan gitu lah ya. Misal pabriknya kulak lidah buaya, ya sekalian buat varian A, varian B, untuk wajah, untuk bibir, untuk pembersih, untuk pelembab, dll. Selain itu, mungkin terkait harga. Harga bahan itu kan ada range-nya, brand itu bermain di level apa? Level bawah ya bisanya pake bahan murah atau ada bahan mahalnya tapi dikit banget/urutan bawah, dll. 


Yah, begitulah, harga membawa rupa. Itu kenapa orang semakin kaya semakin cantik atau ganteng itu biasa.


Sekarang pilihannya 2, kamu mau ribet riset dulu apa mau random dan berisiko menyebabkan tubuhmu "nyenyek tun" atau kena berbagai masalah yang entah bisa balik/pulih atau tidak, bisa pulih cepat atau tidak, gawat atau tidak, dll. 


Yang kualami ya, tadinya aku mau nyoba produk-produk murah tapi pada nggak cocok.

Murah 1+murah 2+murah 3+ murah 4 dst = mihil bingit + risiko di kulit/tubuh/rambutmu+biaya pemulihannya.


Murah nggak papa, asal memenuhi dasar-dasar di atas tadi: aman, cocok buatmu, sesuai dengan kebutuhanmu, sesuai step-nya. 


Dengan dasar pemilihan yang lebih baik, alhamdulillah wajahku baikan. Fungsinya juga terasa dan risikonya semakin minim.

Aku tetep belum ahli soal ginian, tetapi kemampuanku sudah membaik. 


Barangkali ada dari kamu yang seperti aku dulu, jangan sampai mengulangi kesalahan-kesalahanku. Terus terang aku telat nyadarnya. Semoga kamu tidak.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.