31 Januari 2022

Review Buku "How to Write Funny"

"How to Write Funny," your serious step by step blueprint for creating incredibly, irresistibly, successfully hilarious writing.

Penulis: Scott Dikkers #1 New York Times Best Selling authors.


Aku nih bukan penulis genre komedi ya. Genre komedi itu sesuatu yang baru buatku. Seperti buku ini, ini buku panduan menulis komedi pertama yang kubaca. Jadi, aku belum punya pembandingnya. Begitupun penulisnya, seingatku ini buku Scott Dikkers pertama yang kubaca. Jadi, review kali ini aku memposisikan diri sebagai pemula yang mau belajar genre komedi gitu aja.


Sesuai covernya, buku ini ditulis dengan gaya serius. Nggak lucu sama sekali. Penulisnya pun sudah menjelaskan kalo pada dasarnya dia bukan orang yang pinter ngelucu dan buku "How to Write Funny" ini hanya buku panduan, kalo mau baca karya komedinya ada di buku lain. 


Bagian awal buku ini ditulis dengan alur yang lambat kemudian semakin ke belakang semakin menarik dan berisi. Dia berisi unsur-unsur pembangun kelucuan, latihan-latihan, aturan-aturan di dalam dunia komedi, hubungan antara komedi dengan beberapa genre lain, dan berbagai hal lain yang penting dalam karya komedi. Mengapa kusebut karya komedi? Karena kata Scott Dikkers sendiri panduan ini bukan hanya untuk komedi dalam bentuk tulisan, tetapi segala bentuk karya yang lucu atau memuat unsur humor.


Sebagai orang yang sangat awam di dunia komedi ini, aku mendapatkan beberapa insight/pencerahan dan pokoknya sesuatu yang menarik dan bermanfaat dari membacanya. Panduannya lumayan jelas kok dan kalo diupayakan sungguh-sungguh mungkin juga orang yang serius sepertiku bisa nulis yang beda banget dengan keseharianku, seperti Scott Dikkers yang ngakunya tadinya sama sekali nggak bisa ngelucu eh jadi penulis humor kawakan. 


So, buku "How to Write Funny" ini boljug (boleh juga) untuk dibaca. Recommended buat siapapun yang pengen mendalami komedi, mau itu buku humor, stand up comedy, pantomim, komedi radio, atau apa pun pokoknya masih berbau humor bisa belajar dari buku ini.

24 Januari 2022

Review Buku "Poisonous Parenting: Toxic Relationships"

"Poisonous Parenting: Toxic Relationships," toxic relationships between parents and their adult children.

Penulis: Shea M. Dunham, Shannon B. Dermer, Jon Carlson.


Saat membaca buku ini, aku baru tahu kalo buku ini ditujukan untuk kalangan klinis. Kamu bisa menebak kalo isinya berat, bahasanya formal, dan ditulis ala karya ilmiah. Dia didesain agar pembaca mudah menelusuri sumber referensi yang ada di dalamnya.


Buku "Poisonous Parenting: Toxic Relationships" ini tuebel banget. Jumlah halamannya banyak. Dia dibuka dengan memperkenalkan satu demi satu penulis dan kontributor-kontributornya, yang semuanya kelas tinggi/ahli (secara "label"). Itu terdengar fair dan menghargai bagi semua orang yang terlibat di sana, tetapi bagi pembaca itu terasa menuh-menuhin halaman. Perkenalannya aja uda tebel. Lalu tak seperti buku lain pada umumnya, pada setiap bab tertulis jelas yang bikin itu siapa. Ada kesan bahwa setiap ahli tersebut ingin menonjol (itu membuat yang baca terganggu/bacanya jadi ga mulus/nggak enak dibaca). Kalau buku lain kan umumnya meskipun yang nulis banyak, bagian isinya itu udah campur, nggak dibeda-bedain Si A nulis yang mana, Si B yang mana; kecuali mungkin kalo proporsi isi tulisannya beda banget. Misal Si A nulis 80%,  Si B nulis 20% doang. 


Buku ini tentang kekerasan ortu terhadap anaknya. Keistimewaan buku ini adalah dia membedakan kategori-kategori ortu yang melakukan kekerasan terhadap anaknya secara spesifik, termasuk sub kategori-sub kategorinya. Sepanjang aku baca buku ginian or belajar dari ahli ginian, nggak ada yang sedetail itu. Bahkan, nyaris nggak ada yang memuat itu. Keistimewaan tersebut ada di bab pertama. Bagian itu yang menarik dari bab pertama ataupun dari keseluruhan isi buku ini.


Namun, mengenai masalah abuse/kekerasan, kamu jangan terlalu lihat "label-label", kamu lebih butuh orang yang percaya kamu dan ngertiin kamu (bisa berempati). Kalau kamu mengalami abuse sungguhan (seorang survivor), kamu mungkin sudah bisa membedakan mana yang ahli beneran dan mana yang tidak. Kamu lebih tahu keadaanmu, apakah yang dikatakan mereka benar/tidak. Untuk masalah abuse/perilaku abusive, aku lebih merekomendasikan buku "Why Does He Do That." Ada buku lain juga sih tapi aku nggak ingat. Setidaknya, "Why Does He Do That" itu ditulis oleh ahli yang sangat logis dan disusun secara sistematis dan lumayan detail. Dia jelas dalam memposisikan diri bahwa dia berpihak kepada survivor, nggak kasian atau sungkan-sungkan pada abusernya. Nggak di tengah-tengah atau geje posisinya. Dengan membaca buku tersebut, kamu mungkin nggak akan bingung lagi tentang masalah-masalah semacam gaslighting. 





Review Buku "The 48 Laws of Power"

"The 48 Laws of Power"

Penulis: Robert Greene



Buku ini international best seller. Wajar sih karena isinya bagus. Membacanya mengingatkanku akan lagu "Dunia ini panggung sandiwara ceritanya mudah berubah," juga mengingatkanku akan buku lain yang bilang (atau bahkan berjudul) "semua orang pembohong", atau buku lain yang berkata "semua orang player", atau tentang pengalaman-pengalaman atau masa lalu-masa laluku yang sering ketipu orang yang kuanggap lugu atau bukan player. Yah, semacam itu. Buku ini berat dan bagi sebagian orang mungkin isinya tampak jahat tapi ya begitulah hidup. Itu realita. 


Membacanya membuatku tersadar akan beberapa hal dan jadi pengen baca buku serupa, yaitu seni perang Sun Tzu. Udah lama sih kepo sama buku itu tapi nggak kunjung kubaca.


Buku "The 48 Laws of Power" ini disusun dengan cara menunjukkan ke empat puluh delapan hukum kekuatannya dulu baru kemudian dijelaskan satu persatu. Agak sedikit beda dengan bayanganku. Kupikir nggak ada penjelasannya gitu, point-point doang, tapi kalo nggak ada penjelasannya kok bukunya tuebel banget, isinya apa aja? Ternyata memang diuraikan juga satu satu. 


Hidup itu keras. Dan membaca buku ini akan membantumu mempersiapkan diri atasnya. 

23 Januari 2022

Review Buku "It's Not about the Shark"

"It's Not about the Shark," how to solve unsolvable problems. The simple path from problem to answer.

Penulis: David Niven


Aku pernah membaca buku tentang cara memecahkan masalah. Aku lupa penulisnya siapa, tapi aku suka buku-buku dari penulis itu. Sepertinya, namanya itu sudah jadi jaminan mutu kalau isi bukunya bagus. 


Nah, buku "It's Not about the Shark" ini isinya adalah cara-cara memecahkan masalah atau mengambil keputusan semacam yang ada di buku tadi (yang aku lupa judul dan penulisnya itu). Isinya adalah cara kreatif dalam memecahkan masalah dan mengambil keputusan. Ada bagian-bagian yang isinya sama (intinya aja maksudnya) dan bagian yang beda. 


Buku ini menarik, tapi bertele-tele. Aku nggak sabar baca bagian story telling-nya yang ala tulisan fiksi, dan beruntung tiap bab itu ada kesimpulannya/rangkuman point pentingnya pada bagian akhir. Jadi, aku langsung ngikut prinsip Pareto, baca 20% yang merupakan intinya aja (dan skip 80% bagian lainnya). 


Kalau kamu baca buku ini, ini akan memberimu perspektif baru tentang cara memecahkan masalah. Cara memecahkan masalah di sini itu berupa menstimulasi otakmu untuk melihat sesuatu secara berbeda dengan mengubah apa yang kamu lakukan. Jadi, bukan memecahkan masalah secara langsung, melainkan memungkinkan otakmu itu bekerja lebih baik dan lebih kreatif serta menghasilkan sesuatu yang lebih baik sebagai hasilnya. Dengan kata lain, membuat otakmu bekerja lebih efektif, efisien, kreatif dan membuat hidupmu lebih ringan dalam menghadapi masalah. Beda dengan buku "Trust Works" yang ku-review kemarin, kalau yang di buku "Trust Works" kamu dituntun dengan contoh yang detail, untuk memecahkan masalah "ini" kamu bertindak "gini" dan ngomong "gitu". Kalau buku "It's Not about the Shark" ini nggak gitu.


Kesimpulannya, buku ini bagus karena bisa memberimu perspektif baru dan dapat membantu memudahkanmu memecahkan masalah.



21 Januari 2022

Review Buku "Soulmate Sequence"

"Soulmate Sequence," your guide to mastering social confidence and finding the one.

Penulis: Richard La Ruina


Sebagai orang timur, aku memandang buku ini isinya ada di ranah "abu-abu." Dia berisi campuran hal yang baik dan buruk. Mayoritas tulisan atau ajarannya itu sangat polite, tetapi dia masih memuat bahasa yang kasar dan ajaran yang (terdengar) seperti player. Campur aduk lah ya. Segmennya tidak jelas apakah untuk orang baik-baik dan serious relationship atau untuk yang casual dan fucek-fucek gitu (tapi mungkin juga biasa untuk budaya di sana). Aku membayangkan kalo di dunia nyata itu penulis sangat berbahaya, seperti sangat polite/sopan dan tahu tata krama tetapi juga sangat ahli dalam "menggaet" lawan jenis. Bahkan, penulis punya julukan sebagai s*ducing guru.  


Penulis mengklaim dirinya telah berhasil "bermetamorfosis" dari seseorang yang pemalu dan menderita kecemasan sosial menjadi orang yang ahli bersosialisasi. Dia mengajarkan cara-caranya di buku "Soulmate Sequence" ini. Menurutnya, mencari jodoh itu bisa dilakukan dengan membangun relasi sebanyak-banyaknya dulu, baru kemudian masuk ke tips-tips berikutnya.


Ada banyak hal praktis yang diajarkan di dalam buku ini, mulai dari persiapan diri, cara PDKT, cara mengatasi konflik, bahkan cara berbicara dengan camer. 


Tapi ya gitu, buku ini agak kurang fokus. Dia beralih dari keahlian berbicara untuk urusan umum ke urusan asmara trus ke urusan umum lagi. Jadi, dia itu seperti di tengah-tengah, antara buku komunikasi untuk umum dan buku tentang asmara. Membaca judulnya pun aku bingung dan judulnya itu aneh/kurang menjual. Kalau nggak ada keterangan tulisan kecilnya mungkin aku nggak ngerti. Apalagi, covernya seperti ala novel/tulisan fiksi.


Tapi ya, nih buku itu tulisannya haluuuus banget. Seperti ditulis oleh seseorang yang berpendidikan tinggi, sangat terlatih lisan atau kemampuan menulisnya, atau sangat baik manner/tata kramanya. Sepanjang kamu menggunakan isinya untuk hal-hal yang positif, menurutku buku ini bagus dan sangat bermanfaat. 



Review Sample Buku "So You Want to be a Freelance Writer"

 "So You Want to be a Freelance Writer", writing for magazines, newspapers, and beyond.

Penulis: Deborah Durbin


Buku "So You Want to be a Freelance Writer" ini berisi panduan menjadi penulis lepas (freelance writer) pada bidang non fiksi, yaitu menulis buku non fiksi (diulas panjang pada bab tersendiri) dan menulis non fiksi bentuk lain (ebook, blog, kisah nyata, ghost writing, greeting card, penulis olahraga (sport writer), penulis wisata (travel writer), dan penulis bisnis (bussiness writer). Jadi, buku ini akan menjelaskan secara spesifik langsung ke segmen yang kamu tuju. Kalau ada di antara segmen di atas yang kamu incer, mungkin kamu cocok untuk membaca buku ini lebih lanjut.


Buku ini diawali dengan menyamakan persepsi. Ketika kamu memilih bekerja sebagai writer (yang dalam hal ini adalah freelance writer), maka detik itu juga kamu harus memperlakukan aktivitasmu ini sebagai bisnis. No alasan-alasan yang bilang hobi lah, yang penting ikhlas lah, yang penting nyebarin ilmu lah, dll.


Di dalam buku ini, Deborah juga menjawab pertanyaan-pertanyaan paling dasar yang biasa ditanyakan oleh pemula, yaitu apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi freelance writer, kualifikasi yang dibutuhkan apa, bagaimana cara memulai karir sebagai freelance writer, langkah awal apa yang dibutuhkan, enaknya menjadi penulis general apa spesifik, cara menyikapi penolakan (rejection), aspek-aspek hukum, serta bagaimana cara menarik editor/membuat surat pengantar naskah kita. Tak lupa pula Deborah menunjukkan apa plus minusnya menjadi seorang freelance writer. Sementara untuk masalah keuangan (finansial), aku nggak tahu dibahas juga apa nggak karena nggak kelihatan pada daftar isinya.


Buku ini jumlah halaman totalnya hanya sedikit, hanya 90 halaman. Jadi, ada 2 kemungkinan: isinya mungkin langsung straight to the point (daging semua), atau sebaliknya, isinya kurang lengkap/kurang menyeluruh sehingga mungkin kamu tetep nggak paham walaupun udah baca buku ini karena jumlah halamannya yang terlalu sedikit.


Nah, karena yang kubaca cuma sample-nya, kamu bisa pastikan sendiri buku ini masuk kelompok yang mana, dengan membaca buku utuhnya.




20 Januari 2022

Review Buku "You're Not Crazy-It's Your Mother"

"You're Not Crazy, It's Your Mother", understanding and healing for daughter of narcissistic mothers.

Penulis: Danu Morrigan


Sesuai judulnya, buku "You're Not Crazy, It's Your Mother" ini berisi tentang kekerasan yang dilakukan oleh ibu (ibu yang abusive). Danu Morrigan, selaku penulisnya, menulisnya dari sudut pandang survivor abuse, yaitu dari pengalamannya sendiri punya ortu yang abusive, terutama ibunya. Dia sudah menjelaskan kalau dia bukan psikolog atau ahli lainnya, dia bicara berdasarkan pengalamannya. Segala pengalamannya, baik pengalaman mengalami kekerasan, menetapkan pilihan untuk lepas dari kekerasan itu, dan cara dia memulihkan diri (healing).


Buku ini itu cara menulisnya bagus banget, seperti sangat memahami atau berempati. Jadi gini, ada banyak buku tentang abuse/narsis tapi masing-masing buku (atau orang yang mengaku ahli di dalamnya atau bahkan survivor lain) punya pandangan beda-beda: ada yang nyalah-nyalahin korbannya, ada yang kasihan pada abuser-nya, ada yang ngatain anak dari narsis pasti narsis juga, ada yang malah bela abuser-nya, dsb). Nah, buku "You're Not Crazy, It's Your Mother" ini adalah buku yang full berpihak pada survivor. Aman dan nyaman dibaca oleh survivor. Oh ya, perlu kamu ketahui sebelumnya, terlepas dari masalah sudut pandang pribadi, nggak semua ahli (psikolog/psikiater/terapis dan semacamnya itu "sehat" mentalnya. Ada yang mungkin narsis, BPD, psikopat, atau lainnya. Sangat mungkin jika ahli yang narsis akan membela sesamanya (yaitu narsis/abuser tersebut). Namun, itu bukan berarti semua pihak yang berbeda pandangan (tidak pro survivor) mengalami mental disorder juga. Belum tentu ya. Kamu harus pahami hal itu.


Ada 2 bab di dalam buku ini, bab pertama itu seputar perilaku kekerasan yang dialami oleh anak dari seorang narsis. Bagian ini sangat istimewa karena memotret kekerasan ortu narsis pada anaknya lebih detail dari buku-buku serupa pada umumnya. Ada banyak kekerasan yang terjadi di dalam hubungan orangtua dan anak yang sering luput di dalam buku-buku lainnya. Apalagi, ortu, terutama ibu, biasanya dianggap sakral/suci, tabu kalo ngomongin yang jelek-jelek tentang ibu. Tapi Danu ini berani menceritakan kisah pribadinya sekaligus membuat poin-poin yang (meskipun nggak mungkin lengkap memuat semua kekerasan yang bisa terjadi), tapi sudah sangat lengkap. Lumayan banget.


Di sini, Danu juga mengemukakan pendapat-pendapatnya tentang banyak pertanyaan seputar ortu narsis: apakah kamu narsis juga, perlukah memaafkan, dll.


Nah, pada bagian ke dua, Danu sharing tentang metode yang manjur bagi dirinya, yaitu EFT (Emotional Freedom Technique).


Kamu udah tau belum EFT? Kali aja manjur juga buat kamu. Kalau mau tau lebih lanjut baca bukunya aja ya, "You're Not Crazy, It's Your Mother."


Review Buku "Trust Works!"

"Trust Works!", four keys to building lasting relationships

Penulis: 

Ken Blanchard

Cynthia Olmstead

Martha Lawrence


Pernahkah kamu membaca buku "Who Moved My Cheese?" Kalau pernah, berarti kamu nggak asing dengan cara penulisan yang digunakan di dalam buku "Trust Works!" ini. Bukan hanya mirip, memang salah satu penulisnya sama, yaitu Ken Blanchard. Pada buku "Who Moved My Cheese", Ken membantu Spencer Johnson dalam menulisnya; sementara dalam "Trust Works!", Ken berkolaborasi dengan Cynthia Olmstead dan Martha Lawrence dalam mengerjakannya.


Buku "Trust Works!" ini dibagi ke dalam 2 bab. Bab pertamanya berbentuk fabel yang merupakan contoh aplikasi metode ABCD (metode untuk membangun "trust" yang diajarkan di dalam buku ini). Bab inilah yang mirip dengan gaya penulisan "Who Moved My Cheese", sangat ringan, bahkan dikatakan bisa digunakan untuk mengajarkan "trust" pada anak-anak. Selain berisi fabel, bab ini juga berisi metode ABCD dan komponen-komponennya (komponen-komponen "trust") serta tes untuk mengetahui tingkat "trust" diri sendiri.


Nah, untuk penerapan metode ABCD dalam berbagai konteks di kehidupan nyata dijelaskan pada bab ke dua. Jadi, "trust" yang dibahas di dalam buku ini itu berlaku secara umum, bisa untuk masalah dalam keluarga, masalah di kantor, atau lainnya. Bab ke dua ini memuat cara mendeteksi masalah kepercayaan (trust issue) beserta contoh-contoh kasus dalam berbagai bidang tadi untuk membangun kembali atau menguatkan kepercayaan. Spesifik sih tapi tetep berat untuk dicerna (nggak se-ringan bab pertama) dan diterapkan. Tapi memang yang semacam gini biasanya kan butuh latihan ya biar prakteknya mulus dan hasilnya bagus. 


Selain berisi tes untuk menilai "trust" diri sendiri (yang kita lakukan sendiri), ada juga tes untuk menilai "trust" kita di mata orang lain, serta cara meningkatkan aspek-aspek "trust" kita yang kurang/lemah agar kita bisa lebih dipercaya orang lain.


Baca buku ini itu rasanya seperti beralih dari membaca fiksi ke non fiksi. Bab pertama ada fiksinya, bab ke dua itu non fiksi. Unik sih, tapi mungkin agak perlu menyetel otak untuk bisa langsung ganti "mode". Pengen tahu gimana sensasinya? Coba aja baca sendiri!



16 Januari 2022

Review Buku "UpDating"

 "Updating", how to capture a man or woman who once seemed out of your league.

Penulis : Leil Lowndes


Buku "UpDating" merupakan buku yang mengajarkan kita teknik-teknik untuk menggebet calon-calon yang berkelas/kelas atas. Kita diajarkan untuk dating "ke atas", bukan dating "ke bawah".


Secara umum ada 49 teknik yang diajarkan oleh Leil Lowndes, penulisnya. Dan di antara 49 teknik tersebut, penulis menyoroti 4 kelompok orang-orang kelas atas secara terpisah. Mereka ini adalah kelompok yang paling diburu oleh pria maupun wanita saat mencari jodoh, yaitu orang-orang yang good looking, orang-orang yang kaya, orang-orang yang terhormat, dan seniman. 


Untuk mendekati masing-masing dari 4 kelompok ini memerlukan strategi khusus. Bagian inilah yang merupakan keunikan utama buku ini. Leil memberikan berbagai tips menariknya untuk memuluskan jalanmu ke sana. Dan bagian super istimewanya adalah jika kamu ngincer orang kaya, Leil membongkar habis-habisan rahasianya, yaitu berbagai peraturan tidak tertulis di kalangan orang kaya/kaum jetset. Tak main-main, aturannya buanyak banget. Leil memahami ini karena tanpa sadar dia berpacaran dengan pria yang super kaya (crazy rich) lalu memasuki dunia mereka. 


Penulis memperingatkan, kamu harus bener-bener memperhatikan teknik-teknik yang berlaku pada 4 kelompok tadi. Jika satu teknik saja terlewat (tidak kamu lakukan), maka siap-siap saja tereliminasi/langsung dicoret dari daftar calon/gebetan mereka. 


Menarik pokoknya baca buku ini, terutama pada bagian membidik calon high class tersebut. Penulis benar-benar memberikan banyak teknik berharga di dalamnya, yang didukung dengan pengalaman, riset-riset ilmiah, dll. Bahkan, bagi orang yang merasa tidak good looking, juga ada sendiri kiat-kiatnya. 


Pokoknya, kamu harus baca bukunya ya! 



14 Januari 2022

Review Sample Buku "The Sacred Search"

"The Sacred Search", what if it's not about who you marry, but why?

Penulis: Gary Thomas


"The Sacred Search" adalah buku relationship yang ditulis berdasarkan sudut pandang Pastor. Isinya seputar komen-komen Gary Thomas, Pastor sekaligus penulis buku ini, terhadap curhatan jamaah-jamaahnya.


Gary Thomas itu komplain, kenapa sih cewek dan cowok itu ngomongnya "gini" tapi yang dilakuin "gitu"? Nggak sinkron gitu lho. Katanya nggak suka orang yang begini begitu eh tetep dinikahi juga, eh nggak mau cerai juga. Katanya hal yang terpenting dalam pernikahan itu kriteria "gini", eh nikahnya nyari yang kriteria "gitu". Katanya kamu bertindak karena Tuhan, padahal karena cowok. Yah, semacam itu. Kayaknya sih, sebagai pastor itu dia kesal sama jamaah-jamaah yang geje tadi. 


Di buku "The Sacred Search" ini Gary menekankan pentingnya "why" untuk menuju "who". Dia juga menjelaskan kecenderungan kesalahan yang dilakukan pria dan wanita saat memilih pasangan. Kedua gender tadi dikomplain habis-habisan oleh Gary. Yang wanita cenderung melihat dari A/menikah karena A, ubah menjadi lihat B-nya dulu/menikah karena B. Begitupun pria, cenderung melihat dari C, ubah menjadi lebih melihat ke hal-hal yang lebih penting dulu. Selain itu, Gary berusaha menjelaskan apa kriteria terpenting untuk berumahtangga disertai dengan contoh-contoh kasus jamaahnya sambil dijelaskan pentingnya itu kenapa. 


Buku ini terdiri dari 258 halaman dan dibagi ke dalam 19 bahasan. Sample-nya saja sebanyak 63 halaman. Dan pada tiap akhir bahasan, penulis memberi "Study Questions" sebagai bahan renungan pembaca dan untuk dicari sendiri jawabannya.


Buku ini cenderung Kristen ya, karena penulisnya Pastor. Bahasanya kurang ramah dan masih bertele-tele menurutku. Tapi, pertimbangan dalam memilih calon suami/istri yang diajarkan di sini cukup rasional dan manusiawi. Jadi, buat yang Kristen yah boleh lah coba dibaca.


Sayangnya, harga buku utuhnya tidak tercantum pada sample. Jadi, buat yang kepo bisa googling sendiri ya harganya. 



Review Buku "Mr. Unavailable & The Fallback Girl"

 "Mr. Unavailable & The Fallback Girl", the definitive guide to understanding emotionally unavailable men and the women that love them

Penulis: Natalie Lue (NML)

(The writer of www.baggagereclaim.com)


Berawal dari pengalamannya sendiri yang berkali-kali terlibat hubungan dengan pria yang tidak tersedia (unavailable men), Natalie menulis buku ini. Natalie sudah terlepas dari hubungan yang tidak sehat tersebut hingga akhirnya bisa menikah. Natalie kemudian mendalami bahasan ini dan membagikan apa yang diketahuinya tersebut ke dalam buku ini, agar para wanita yang terlibat hubungan serupa bisa terbebas seperti dia.


Di dalam buku "Mr. Unavailable & The Fallback Girl" ini, Natalie menjelaskan bahwa Mr. Unavailable dan The Fallback Girl itu berpasangan. Ada 3 model yang dijelaskan di sini. Pertama adalah peran prianya (yang memang nggak bener/unavailable), ke dua adalah peran wanitanya (yang nggak bener atau setidaknya dia membiarkan dirinya diperlakukan seperti itu oleh Si Pria), dan ke tiga adalah sebenarnya prianya itu available tapi perilaku wanitanya yang membuat Pria tersebut berubah menjadi unavailable.


Seperti buku-buku serupa pada umumnya, buku ini dibuka dengan kisah Natalie, disusul dengan penjelasan bahwa sebagai fallback girl kamu tidak sendiri, banyak wanita lain juga mengalaminya, lalu kamu akan dikenalkan dengan apa sih unavailable relationship (hubungan yang tidak tersedia) itu, disusul dengan penjelasan spesifik mengenai berbagai tipe pria yang unavailable serta berbagai peran wanita yang mendukung terjadinya unavailable relationship tersebut. Misalnya unavailable men tipe A berpasangan dengan fallback girl tipe A. Ada pasangan dari sesuatu yang tidak sehat yang menyebabkan hubungan tidak sehat itu terjadi. 


Di sini, Natalie pun menjelaskan ciri dari masing-masing tipe unavailable men tersebut dan cara untuk mengenali dan menghentikan hubungan dengannya.


Semua isinya bisa terbaca jelas di dalam daftar isi alias daftar isinya bagus. Buku ini isinya cukup detail sih meskipun aku nggak sepenuhnya setuju dengan pernyataan penulis. Selain itu, aku juga suka judulnya: singkat, padat, jelas, dan menarik. Hanya saja, bahasanya di dalam buku ini tidak terlalu ramah. 


Meski demikian, buku ini bagus untuk cewek-cewek yang termasuk ke dalam fallback girl ini. Sepertinya akan bisa membukakan mata mereka. Bahasanya nggak terlalu ramah tapi bisa mencerahkan/membuka mata pembaca. 


Menurutku, selain membaca buku "Mr. Unavailable & The Fallback Girl" ini, cewek-cewek fallback girl sebaiknya membaca juga "Love Me, Don't Leave Me," buku tentang abandonment dan kupikir masih berhubungan banget dan akan sangat membantu mereka.




13 Januari 2022

Review Buku "Stop Being Lonely"

"Stop Being Lonely", three simple steps to developing close friendship and deep relationships.

Penulis: Kira Asatryan


Aku membaca di dalam banyak buku, jumlah orang yang narsis makin meningkat dewasa ini. Narsis itu hanya peduli diri sendiri dan tak segan melakukan cara apapun yang penting tujuannya tercapai.


Di dalam buku "Stop Being Lonely" ini juga ada sesuatu yang masih berhubungan dengan itu. Dewasa ini muncul jenis kesepian baru dan itu tidak harus berarti sendirian saja, orang yang dikelilingi banyak teman pun juga bisa kesepian. Padahal, dengan semakin majunya teknologi, kita bisa menjangkau siapapun dan di mana pun, kapan pun kita mau/butuh/ingin. Ironis sekali, bukan?


Sebagai orang yang (menurut hasil tes) memiliki intrapersonal tinggi, aku tuh miris misal dengan ajaran-ajaran Islam selama ini yang lebih dimaknai sebagai kediktatoran. "Semakin agamis" seperti semakin menguat sisi otoriternya, dan itu bukan Islam yang kuyakini. Kenapa mereka memaknainya gitu (yang bagiku "diplintir")? Ada kekecewaan pribadi yang bikin aku berpikir "Ah ya udah lah, nggak dapat yang alim juga nggak papa. Yang penting aku dapat yang humanis dan closeness (versiku)." 


Closeness itu adalah syarat agar tidak lonely/kesepian. Dan Kira Asatryan ini menjelaskan dengan baik segala hal yang berhubungan dengan kesepian ini, mulai dari penyebabnya, apa yang dibutuhkan agar tercapai closeness/tidak kesepian, bagaimana cara memilih partner, cara membina hubungan, sampai dengan cara bersatu sebagai tim ada di sini. Semua disampaikan dalam bahasa resmi nan halus. Nggak kasar. 


Buku ini dibagi ke dalam beberapa bahasan, yang pada tiap-tiap bahasannya itu disertai dengan refleksi untuk diri sendiri, latihan, dan ringkasan. Layout-nya lumayan enak dan panjang per bahasan itu masih lumayan enak juga untuk daya konsentrasi mata maupun otak. Makin enak lagi karena buku ini ditulis dengan struktur yang sangat baik, runut. 


Pada bagian akhir terdapat kesimpulan untuk seluruh bahasan. Ini bermanfaat banget untuk me-review kembali apa saja yang telah dipelajari sebelumnya.


Kalau kamu sering membaca buku tentang narsis, psikopat, sosiopat, disorder, abuse, controlling, dsb. kamu mungkin akan tahu kalau closeness ini adalah sisi yang sangat bertolak belakang dengan itu. Misalnya orang yang controlling, ada seorang ahli menunjukkan bahwa orang controlling itu menyama-nyamakan kita dengan dirinya/menganggap kita seperti dirinya/membentuk kita seperti dirinya. Semacam kloningnya gitu, yang seharusnya sudah tahu apa pikiran/perasaan/kemauan Si Pengontrol tadi. Jika orang yang dipersepsikan sama itu melakukan sesuatu yang berbeda, maka dia marah, bahkan bisa sampai memb*nuhnya atau b*nuh diri. 


Banyak orang kan ya sok tahu tentang kita (kita mau bicara/bertindak apa, kita ingin/butuh apa, gimana perasaan/pikiran kita, siapa kita) atau merasa care padahal kita itu nggak butuh/terganggu dengan bentuk care yang dia berikan itu (yang tidak sesuai dengan harapan/kebutuhan/keinginan kita). Nah, yang gitu itu nggak akan bisa membentuk closeness/menghilangkan lonely-mu.


Untuk itulah, mempelajari buku "Stop Being Lonely" ini sangat penting dan bermanfaat. 


Buku "Stop Being Lonely" ini sangat kurekomendasikan.



11 Januari 2022

Review Sample Buku "The Real Deal on Love and Men"

Buku "The Real Deal on Love and Men", getting smart about dating, romance, and living happily ever after.

Karya: Michelle McKinney Hammond


Kesan awalku terhadap sample buku ini adalah bahasanya sangat tidak ramah. Lugasnya itu sarkas dan ada nada-nada merendahkan juga. Dia juga memuat konsul-konsul dari pembaca dan ada satu yang sangat kusoroti itu (menurut pikiran/pemahamanku) pembaca menulis keluhan itu karena ada bagian dari statement di buku Michelle yang gitu, tapi malah dibalik direspon penulis bahwa pembaca tersebut punya self esteem yang buruk. Padahal, kalau aku lihat isi buku ini, ini nggak baik untuk self esteem cewek karena semua di-mirroring ke cewek. Seolah apapun ke-error-an cowoknya, itu ceweknya kembar error seperti itu juga. Nah, pembaca mempertanyakan hal itu tapi malah direspon kayak gitu oleh penulis.


Jadi buku ini bahasanya sarkas ya dan penulis sadar akan hal itu. Berkali-kali dia bilang obat itu pahit tapi bermanfaat. 


Isi buku ini menurutku kurang terstruktur. Aku bingung. Isinya nggak mengalir seperti air dari satu bab ke bab lainnya. Tapi kalo dibilang terpisah itu nggak bener-bener terpisah. Kayak nanggung gitu lho. Nggak jelas. Selain itu, ada bagian yang menurutku kurang konsisten, pada bab depan dia mengatakan cowok yang tertarik pada cewek itu cerminan dari cewek itu (nyalahin ceweknya), sedangkan pada bab di belakangnya dia nyalahin cowoknya. Mungkin sebenarnya ini masalahnya ada pada kejelasan (clarity)-nya sehingga sepeti ambigu/inkonsistensi. 


Daftar isinya pun begitu, kata-kata/frase yang dipilih kurang jelas dan kurang spesifik, jadi nggak terlalu "terbaca" isinya. Dan daftar isi ini pun tidak memuat halaman (sepertinya kebanyakan/semua buku bule gini deh).


Nah, apa yang dibahas pada sample buku ini? Yang dibahas itu cewek harus upgrade diri dan punya "kehidupan" sehingga dia menarik, PD, dan bisa menarik lawan jenis/lawan jenis yang lebih baik. Trus cewek harus tahu cowok yang layak baginya, yaitu cowok-cowok yang mencerminkan sifat-sifat ketuhanan. Selain itu, di sini juga dibahas perbedaan setelan pria dan wanita beserta perbedaan perannya masing-masing.


Buku ini tidak murni netral. Dia memuat penyebutan-penyebutan istilah Kristen dan ajaran-ajaran/ayat-ayat Kristen. Entah ya, kayaknya kalo di buku bule itu buku umum pun masih banyak yang memuat ajaran agama tertentu (terutama Kristen). Nggak enjoy sih sebenarnya buatku yang beragama beda dengan penulis buku tersebut. 


So, kesimpulannya, buku ini mungkin lebih cocok untuk tipe orang blak-blakan, nggak sensitif, nggak sedang dalam kondisi self esteem rendah/down/mental buruk/betmut, nggak sedang butuh divalidasi, siap menerima "hard truth" (versi penulis), dan terutama Kristen. 







Review Sample Buku "9 Must Have Conversations for a Doubt-Free Wedding Day"

Hal pertama yang ingin kuucapkan adalah aku suka sample buku "9 Must Have Conversations for a Doubt-Free Wedding Day" ini. Dia isinya beda dengan buku relationship yang kemarin-kemarin kubaca. Buku-buku yang lain kemarin lebih membahas ke pengenalan kebutuhan diri dan sifat pasangan, kalau buku karya Gary Thomas ini lebih membahas ke pertanyaan-pertanyaan penting sebelum menuju ke pernikahan. Sebenarnya intinya sama sih, untuk lebih mengenali kecocokan satu sama lain, caranya/pendekatannya aja yang agak beda.


Buku "9 Must Have Conversations for a Doubt-Free Wedding Day" ini nggak cuma beda pendekatannya, tapi gaya penulisannya juga beda. Dia langsung masuk ke inti/menyoroti hal-hal krusial dalam pernikahan dan kesalahan-kesalahan umum individu-individu yang sedang berpasangan tersebut. Kamu yang bucin-bucin akan bisa langsung ngenali kesalahan-kesalahanmu/kesalahan-kesalahan doktrin-doktrin yang telah dijejalkan padamu di situ.


Gary Thomas mengajarkan pentingnya pengenalan kecocokan lebih dari persiapan hari pernikahan saja, lebih ke rumah tangganya (kehidupan setelah pernikahan itu). Dan untuk mengenali kecocokan tersebut butuh keberanian: keberanian untuk jujur, keberanian untuk menyakiti diri sendiri, keberanian untuk menyakiti pasangan, dan keberanian untuk menerima risiko disakiti oleh pasangan. Banyak pasangan menghindari hal-hal yang sebenarnya penting hanya demi menjaga hubungan dengan pasangan. Padahal, masalah tersebut tidak menghilang. Malahan, masalah itu akan menjadi bom waktu setelah kamu menikah dengannya nanti. 


Gary membagi buku ini menjadi 9 sesi, yang masing-masing sesinya membutuhkan waktu 1 minggu. Jadi, setiap minggu kamu diberi serangkaian pertanyaan yang berupa refleksi diri maupun sesuatu yang harus kamu ketahui dari pasangan atau harus didiskusikan bersama. Jangan sampai kamu "buta", nggak bener-bener kenal pasanganmu, alias seperti membeli kucing dalam karung. Dari daftar isinya, aku bisa melihat beberapa masalah penting yang disorot, misalnya: uang, keuangan, s*ks, dan keintiman spiritual, dan jawabannya harus spesifik dan detail. Tapi, Gary memberi 6 syarat utama yang harus dipenuhi sebelum kalian masuk ke 9 sesi tadi. 


Aku nggak tahu ini buku umum apa buku agama/buku rohani, tapi dia memuat ayat-ayat Kristen dan sering ngomong tentang Injil.  Bible gini, Bible gitu. Kalau aku nemu buku kayak gini biasanya ku-skip aja ayatnya. 


Buku ini total ada 162 halaman, dengan jumlah halaman sample sekitar sepertiganya atau 51 halaman. Tapi, nggak tau harganya berapa. Karena harga untuk membaca versi utuhnya tidak tercantum pada sample buku ini.


So, kesimpulan akhirnya adalah kayaknya aku suka buku ini. Dia bermanfaat, straight/lugas/to the point, agak beda, trus bahasanya juga sejauh ini kayaknya lumayan netral/datar (nggak negatif/kasar tapi juga nggak positif/halus, nol/biasa aja, cukup untuk sekadar tidak menyakitkan hati).

10 Januari 2022

Review Sample Buku "How to Meet and Marry the Right Person"

Buku "How to Meet and Marry the Right Person" ini adalah karya Rolf Nabb. 

Isi sample-nya bagus tapi nggak baru, biasa, tentang konsep "the right person", tentang realita rumah tangga, cara mengenali diri, serta cara agar memiliki ekspektasi yang wajar/tidak berlebihan. 


Dari segi kata-kata juga nggak terlalu nyaman dibaca. 


Nggak ada daftar isinya juga. Jadi, nggak bisa ngintip isinya kira-kira apa saja.


Yang paling kusuka itu isinya yang realistis, nggak over menyoroti uwu-uwuannya aja. Meskipun, biasa sih, tapi kadang orang suka lupa dan perlu diingetin lagi. Buku ini memaparkan konsep yang mendasaaar banget di halaman muka, sehingga bisa lebih diperhatikan dan diingat kembali. Karena hal itu penting. 





Review Sample Buku "Attracting Genuine Love"

Sebagaimana banyak buku relationship yang lain, buku "Attracting Genuine Love" ini diawali dengan sejarah cinta penulisnya hingga berhasil sukses dalam hubungan cintanya.


Buku ini ditulis oleh sepasang suami istri, Gay Hendricks dan Kathlyn Hendricks, yang tadinya sama-sama mengalami lika-liku cinta, lalu menikah dan mengalami lika-liku rumah tangga bersama, hingga akhirnya mendapat "pencerahan" dan membaik hidupnya.


Bagian awal berisi kisah cowoknya, yaitu Gay Hendricks. Dia menjelaskan kenapa perjalanan cintanya sempat error, dan ternyata error-nya ini berpola. Ternyata itu karena tanpa sadar dia berkomitmen untuk melakukan hal yang salah atau memilih pasangan yang salah. Menurutnya, setiap orang perlu mengambil tanggung jawab pribadi agar kehidupan romansanya membaik, dengan tidak menyalahkan orang lain/hal lain, tetapi menyadari pola-pola tersebut lalu mengubahnya. 


Selain kisahnya sendiri, dia juga menyertakan contoh kasus dari kliennya.


Buku ini meskipun mungkin maksudnya baik/benar tapi bagiku cara penyampaiannya kurang ramah. Mungkin pembaca tertentu ada yang akan merasa disalah-salahin atau mengalami ruminasi (menjadi trigger akan peristiwa traumatis atau tidak menyenangkan dalam hidupnya. Meskipun penulis mencoba memperhalus dengan membongkar kisahnya sendiri dan mengatakan bahwa dia dulu juga sulit menerima "kebenaran" itu tapi tetap terdengar kasar bagiku. 


Membaca buku ini membuatku melakukan refleksi sekaligus membuat moodku memburuk seketika. Sebenarnya isi bagian awal ini bukan sesuatu yang baru sih bagi buku-buku relationship, hanya dibahasakan agak berbeda dan angle-nya geser sedikit tapi cukup mencerahkan sekaligus menyakitkan. Harapannya sih, bisa disampaikan dengan lebih halus dan sangat hati-hati. 


Selebihnya aku tidak terlalu tahu. Kalau pada daftar isinya sih dia memberikan 4 aturan agar beruntung di dalam cinta, cara membuat genuine connection dalam 10 detik pertama, dan ada audio pelengkapnya yang bisa diakses dalam website yang alamatnya tercantum di dalam buku ini. 

Review Sample Buku "Getting to 'I Do'"

Menikah pada usia sangat muda, Pat Allen (Patricia Allen) harus menerima kehidupan cintanya naik-turun bak roller coaster. Suami pertamanya sangat parah errornya hingga akhirnya rumah tangga mereka kandas. Pat kemudian semakin meng-upgrade dirinya hingga menjadi semakin sukses dan bersinar. Namun, seolah dia hanya mendapati 2 kelompok pria yang ada, pria terintimidasi dengan kesuksesannya dan pria yang hanya ingin memanfaatkan dirinya (menggantungkan hidup padanya). 


Setelah lulus psikologi, Pat membuka terapi. Padahal, dia masih single dan kehidupan cintanya pun berantakan. Begitupun ketiga anaknya, menjadi bingung karena tidak menemukan role model yang tepat pada ibunya.


Tak berhenti sampai di situ, kegagalan rumah tangga Pat masih terjadi 2 kali lagi. Ketiga suaminya error parah dan membuat hidupnya bangkrut dan hancur. 


Pat melanjutkan studinya hingga doktorat kemudian secara ajaib mampu membalik hidupnya menjadi 360 derajat, yaitu setelah menemukan rumus relationship yang manjur bagi pria dan wanita. Dia menggunakan teknik yang memperhatikan sisi feminin dan maskulin pada kedua gender, pria dan wanita, sekaligus menemukan cara berkomunikasi di antara mereka yang diklaimnya telah mampu menyukseskan hubungan dari banyak pasangan.


Uniknya, meskipun Pat gagal 3x dalam membina rumah tangga (dengan suami-suami yang error parah) dan saat itu juga masih single, klien-kliennya percaya aja sih sama dia. Menurut pengakuannya, banyak yang akhirnya sukses berkat bantuannya. Bukan cuma itu, Pat juga bisa membantu ketiga anaknya menemukan jodohnya. Plus, Pat sendiri akhirnya bertemu jodoh, seorang klien pria yang sedang terapi padanya. Wowww, bener-bener hepi ending seperti dongeng. Masya Allah, mengagumkan. 


Sample buku "Getting to I Do" ini lebih berisi tentang latar belakang Pat dan metodenya yang akan digunakan untuk memuluskan hubungan pria dan wanita, serta mengenali fase-fase hubungan per 3 bulan dalam setahun.


Dari daftar isinya aku bisa melihat isinya seputar: kamu lebih memilih dihormati atau diceriakan, energi feminin dan maskulin, cara menarik pria, 4 tahap dalam hubungan, cara menangani konflik, cara berkomunikasi untuk negosiasi dalam hubungan (terutama terkait uang, ruang, waktu, dan bermain), dll. 


Penulis menjanjikan, setelah membaca buku ini kamu akan mampu:

1. Mengembangkan dan menyeimbangkan energi maskulin dan femininmu,

2. Menarik, mengamati, dan mengevaluasi keseimbangan batin dan kemampuan menikah calon pasangan, 

3. Memiliki keterampilan komunikasi untuk menegosiasikan pertunangan dan pernikahan yang sehat dalam waktu 1 tahun.


Penulis optimis dan sangat PD, dalam 1 tahun kamu akan tunangan atau menikah jika menerapkan metodenya. Sound interesting, bukan? 


Yah, itu adalah isi sample bukunya, chapter 1 dan sebagian chapter 2. Sepintas kulihat isinya agak beda dari buku-buku serupa, tapi aku nggak terlalu ngomenin cz belum kelihatan apa-apa dari sample-nya, lebih ke pengenalan diri penulis dan janji-janjinya. Untuk lebih lengkapnya, kamu bisa langsung baca bukunya. Tapi ini mihil ya. Siapin kocek lebih buat belinya. 

Review Sample Buku "Date or Soulmate"

 "Date or Soulmate?" Bisakah kamu membedakannya dengan cepat? Alih-alih bisa, banyak orang masih asal menikah. Mungkin mereka keberatan dibilang asal nikah, ada yang selektif juga, tapi kadang memang cara menyeleksinya itu kurang tepat, tidak menyentuh hal-hal yang esensial.


Neil Clark Warren, penulisnya, memaparkan pengalaman profesionalnya di dunia per-dating-an ini untuk memudahkan kita memilih calon yang tepat sebagai pasangan, yang tentunya juga bikin kita bahagia nantinya. Sebab, memilih pasangan itu nggak boleh sembarangan, nggak boleh gambling, harus bener-bener tau cara milihnya. Sementara ada buanyak sekali kandidat di luar sana, gimana caranya kamu mengetahui dengan cepat kalau seseorang itu kandidat yang tepat buat kamu. Hal itu dibahas di dalam buku ini.


Prinsip buku ini/prinsip penulis buku ini sebenarnya sama sepertiku. Kami mengembangkan teknik untuk menyeleksi calon dengan cepat dan tepat dan segera mengakhiri hubungan yang buruk atau tidak tepat. Neil sendiri menetapkan waktu 2 kali kencan saja untuk menyeleksi. Ini keren ya, meskipun waktu yang dibutuhkan masih lebih lama dari John Gottman yang hanya butuh waktu 15 menit. Nah, yang seperti mereka ini tekniknya itu sangat dibutuhkan bagi orang-orang yang memilih jalur taaruf, nggak sembrono tapi juga nggak berlama-lama. Semakin kamu pengen nikah kilat, semakin kamu butuh teknik yang smart, super smart, nggak sekadar iri sama orang yang uwu-uwuan.


Janji di buku ini begitu, tapi kan yang kubaca cuma sample, belum sampai bagian intinya. Kalau lihat daftar isinya sih bagus kayaknya. Isi sample-nya juga bagus sih, meskipun bagiku kurang to the point (masih berbelit-belit ala bahasa novel) dan biasa, buku-buku semacam ini memang mengajarkan hal itu. "Biasa" di sini bukan jelek ya, tapi ya memang itu bagian yang penting dari mencari jodoh, jadi akan sering kamu temui di buku-buku tentang pencarian jodoh seperti ini.


Nah, pada sample awal ada bagian menariknya juga, yaitu cara mengenali diri sendiri. Di sini pikiranmu akan dirangsang untuk lebih mengenali dirimu sendiri melalui serangkaian pertanyaan yang berarti.


Buku ini halaman full-nya 224 halaman dan harganya super mihil. Oh ya, dia juga masih berhubungan dengan biro jodoh eharmony dan ngasih cara menyeleksinya juga kalau kamu ikut web birjo tersebut. Jadi, misal kamu member situs online dating tersebut kamu bisa langsung praktek.



09 Januari 2022

Review Sample Buku "Intentional Relationships"

"Intentional Relationships", A Guide To Dating With Purpose.

Buku ini karya Tolu Fabiyi, anak seorang pastor. Ceritanya juga sebagian dari curhatan jamaah ke bapaknya itu. Buku ini total ada 11 chapter dengan jumlah halaman 129. Sample-nya sendiri ada 2 chapter. 


Buku ini relatif murah banget dibanding buku-buku bule serupa. Sepintas kulihat daftar isinya menarik, bahasanya juga ringan. Selain itu, chapter 1-nya bagus, tentang kisah-kisah orang-orang yang bucin alias dating without purpose. Chapter 2-nya kurang menarik sih menurutku, intinya tentang single maupun merit itu seperti musim, lebih baik single dulu daripada salah menikah.


Kalau baca kisah-kisah bucin banget seperti itu aku itu miris gitu ya, tapi aku juga sadar yang bucin gitu itu buanyak buanget dan memang kupikir akan lebih mudah mengena/lebih mudah mereka pahami kalau pakai contoh-contoh kisah nyata seperti itu. Itu puarah-puarah banget bucinnya lalu pada akhir tiap kisah diberi refleksinya/pelajaran/kesimpulannya. 


Pada daftar isi ada bagian lain yang bagiku seperti menarik sih tapi nggak masuk dalam sample. Tapi sample-nya aja ini udah lumayan bagus. Kesan awalku sih buku ini bakal bagus kalau dibaca seutuhnya. Cuma ya itu, ini agak bernuansa Kristen. Bukan bener-bener buku umum ternyata. Ya selain penulisnya Kristen, anak Pastor pula, jadi ada kutipan-kutipan ayat mereka juga di dalamnya. 

08 Januari 2022

Review Buku "Get Married This Year: 365 Days to ''I Do''

Judul buku "Get Married This Year" ini mengingatkanku akan film layar lebar yang tayang beberapa tahun lalu dengan judul serupa, "Get married."


Hmm... oke gini. Di antara buku merit-merit-an yang lain, buku ini agak menyolok karena judulnya memuat "365 hari" dan "tahun ini." Ini semacam janji yang harus dibuktikan, tapi bahkan penulisnya sendiri itu kurang yakin, pada bagian awal buku ini dia sendiri mengatakan "...tapi kalo dalam setahun nggak dapat ya nggak papa."


Melihat judul tersebut aku agak berekspektasi lebih sih, kepo nih penulis (Janet Blair) mo ngomong apa. Dan kalau kamu mencantumkan angka atau sesuatu yang agak spesifik semacam "tahun ini" gitu, maka kamu akan menarik orang-orang yang terencana. Bayanganku ini akan memuat step by step-nya dan progress-nya, misal hari pertama atau minggu pertama atau bulan pertama itu ngapain, trus hari ke dua atau minggu ke dua atau bulan ke dua itu ngapain, dst dengan tugas dan hasil yang terukur hingga akhirnya kamu akan gol di bulan ke dua belas dari aksimu. Atau setidaknya dia itu memuat aksi spesifik yang bikin tujuan "this year" itu lebih mungkin tercapai, seperti pada buku "90 Hari Mencari Cinta (aku lupa judul pastinya dalam bahasa inggris)."


Setelah kubaca, ternyata buku ini isinya tentang mengevaluasi kembali kriteria jodohmu (harus banyak kompromi), pengalaman-pengalaman dari kliennya, dan tentang "membersihkan" diri dari para mantan. 


Dan meskipun penulisnya mengaku dia divorce, widow, serta pernah memiliki rumahtangga yang bahagia sehingga ngerti perasaan cewek-cewek (berempati), tapi menurutku bahasanya masih nggak ramah cewek. Muatannya masih kasar dan nggak nyaman dibaca. 


Hingga akhir buku ini aku nggak terlalu dapat apa-apa (yang kucari nggak ada) dan nggak terlalu terkesan. Apalagi, bahasanya nggak nyaman buatku. 

07 Januari 2022

Review Buku "Grit"

Ada beberapa buku berjudul "Grit", tetapi untuk review kali ini yang kupilih adalah buku karya Martin Meadows.


Martin mengawali buku ini dengan mengutip isi buku "Dip" karya Seth Godin, yang isinya kapan kita harus berhenti dan kapan kita harus lanjut/perjuangkan sampai akhir. Karena memang nggak semua hal itu layak menerima kegigihan kita. Kadang berhenti memang lebih baik. Nah, di situ Martin memberi arahan dulu, sebelum kamu memutuskan untuk lanjut, pastikan kegigihanmu itu berada di arah yang tepat.


"Dip" milik Seth Godin ini merupakan salah satu buku yang pernah kureview tetapi aku belum terlalu paham isinya (entah ya bahasa dari buku-buku Seth Godin itu sulit kupahami). Dengan membaca buku "Grit"-nya Martin ini aku jadi lebih paham. Itu sebuah keuntungan tersendiri buatku.


Dari buku "Grit" ini juga aku mulai melakukan unlearning terhadap keyakinan-keyakinanku sebelumnya, yang ternyata salah.


Di dalam buku "Grit" ini Martin juga menunjukkan hal-hal yang merupakan sabotase diri serta teknik-teknik untuk tetap gigih dan tabah dari pengalamannya sendiri maupun orang lain. 


Dia juga memberikan contoh dari kesuksesannya sendiri bagaimana cara menentukan hal apa yang paling esensial untuk lebih dekat pada tercapainya tujuan kita. 


Buku ini agak aneh sih. Daftar isinya ada 2, di depan dan di belakang. Malahan, daftar isi yang bagian belakang yang lebih detail. Format bukunya juga terkesan seperti dibuat agar halamannya lebih banyak. Namun, ya sudahlah ya dicuekin aja bagian anehnya, yang penting formatnya enak dibaca, ada ringkasannya juga pada tiap bagian, trus juga isinya bermanfaat. Banyak teknik sederhana di dalamnya yang mungkin bisa dicoba. 



06 Januari 2022

Review Buku "Dangerous Personalities: An FBI Profiler Shows How to Identify and Protect Yourself from Harmful People"

Masih kepo dengan tema yang sama, kali ini aku baca buku "Dangerous Personalities" ini. 


Buku ini ditulis oleh Joe Navarro, seorang FBI profiler. Di sini, Joe membagi kepribadian berbahaya menjadi 4 kelompok. Secara mengejutkan, kelompok yang dimaksud itu sama dengan yang ada di dalam buku "5 Types of People who can Ruin Your Life," pembagiannya aja yang beda. Jadi, pada buku "5 Types of People who can Ruin Your Life" ini kategorinya jadi 5. Namun, meski yang satu 4 kategori dan yang satunya 5, yang dimaksud di dalamnya itu sama.


Dan tak lupa, sensasi horornya pun sama. Baik di dalam buku "Dangerous Personalities" ini, maupun "5 Types of People who can Ruin Your Life", dan "The Sociopath Next Door," karena saking bahayanya. Kesemua penulis tersebut menulis dan memperingatkan dengan sangat serius. 


Tadinya kupikir, apa yang akan kudapatkan dari seorang agen FBI, yang pastinya sudah akrab banget dengan sosok-sosok berbahaya dan mengancam semacam ini? Ternyata isinya serupa dengan buku yang sebelumnya kubaca, "5 Types of People who can Ruin Your Life," yang kemarin juga sudah ku-review bahwa dia sangat kompeten dan bukunya pun sangat berbobot. 


Kaget sih, tapi aku nggak kecewa. Malahan, paparan-paparan di dalam buku ini bisa membuat pemahamanku tentang pribadi-pribadi yang danger tadi semakin utuh.


Kalau pada buku-buku tentang percintaan, tipe-tipe danger ini juga sering muncul sih, tapi nggak se-persis kedua buku di atas, "Dangerous Personalities" dan "5 Types of People who can Ruin Your Life." 


Ini sudah terbukti banget ya, 2 orang yang ahli banget/kompeten di dalamnya sudah mengatakan persis bahwa 4 atau 5 tipe/kelompok ini sangat danger/berbahaya dan keduanya pun me-warning pembacanya dengan sangat serius agar tidak mengabaikannya. 


So, jangan sia-siakan bocoran info dari mereka ini sebagai ikhtiar untuk membuat diri kita dan orang-orang tercinta menjadi lebih terjaga.


Review Sample Buku "He's Just No Good for You"

Sebagai wanita yang juga seorang pe-review buku, aku bisa katakan banyak sekali buku tentang relationship yang malah merusak wanita, baik secara sadar ataupun tidak. Kalau kamu wanita, rasanya kamu akan selalu salah, meskipun misal kedua belah pihak punya andil salah atau bahkan meskipun kamulah korbannya. Budaya kita sendiri dan juga budaya di dunia sering menempatkan wanita pada posisi yang tidak adil, selalu salah dan kurang ini itu plus bonus tuntutan yang masih segambreng tiada habisnya.


Kalau kamu butuh buku yang empowering cewek dan yang akan membukakan matamu, inilah salah satunya, "He's Just No Good For You". Buku lain yang juga kurekomendasikan adalah karya Sara Eckel yang kalau tidak salah judulnya "It's Not You, It's Him." Kedua buku ini akan mengangkat perasaan-perasaan buruk di dirimu, termasuk perasaan insecure, nggak PD, minder, merasa malu, merasa bersalah, not enough, dll. 


Untuk buku "He's Just No Good For You" ini aku cuma baca sample-nya, tapi aku udah baca berkali-kali. Sample-nya aja itu lho bagus. Dari bagian sample aja inner-mu sudah dibangun kembali. Di situ kamu juga sudah bisa baca berbagai kategori pria yang merusak/nggak baik dijadikan calon suami. Ada juga kuisnya untuk mengetahui kamu berada dalam hubungan yang merusak atau tidak, dan juga refleksi diri, apa langkahmu selanjutnya.


Buku ini bagus untuk mencegahmu terlibat hubungan dengan pria yang "tidak sehat" sekaligus memperbaiki mentalmu yang kemungkinan besar telah dirusak oleh mereka atau oleh pandangan umum di masyarakat. 


05 Januari 2022

Review Buku "5 Types of People Who Can Ruin Your Life"

Dalam keseharian kita, ada orang-orang tertentu yang bahaya banget. Mereka tergolong HCP (High Conflict Personality). Buku "5 Types of People Who Can Ruin Your Life" ini menjelaskan siapa saja mereka dan mengelompokkannya ke dalam 5 kelompok/tipe.


Penulisnya, Bill Eddy, adalah orang yang sangat kompeten di dalamnya. Selain psikoterapis, dia juga pengacara, mediator, serta cofounder dan presiden dari High Conflict Institute (HCI) di San Diego. Ditambah, dia juga telah mendalami masalah HCP ini selama lebih dari 30 tahun.


Sebagai orang biasa, kita mungkin sering bingung siapa yang harus/bisa dipercaya. Nah, Bill Eddy ini memberikan panduannya.


Di dalam buku ini, masing-masing tipe HCP tadi dijelaskan dengan contoh kasus, ciri-cirinya bagaimana, dan bagaimana harus meresponnya. Tak ketinggalan pula dijelaskan bahayanya jika kamu salah merespon. 


Saat membaca ini, terasa banget kalau isinya itu berbobot dan penulisnya itu kompeten. Buku ini auranya serius dan menegangkan, seperti buku "The Sociopath Next Door" karena memang mental disorder adalah masalah serius. Mereka menggambarkan betapa bahayanya itu dan kamu jangan santai-santai karena mereka ada di sekitarmu, cuma mungkin kamu belum ngenali aja cirinya.


Buku ini lumayan ringan bahasanya dan cukup sistematis, cuma aku masih belum bener-bener bisa memahaminya. Pemahamanku belum utuh. Misalkan aku harus membedakan kelima tipe tadi dari orang normal atau dari tipe yang satu dengan tipe yang lain di dunia nyata aku belum tentu bisa. Di antara mereka ada persamaan atau tumpang tindihnya. Juga, pada histrionik misalnya, yang dicontohkan itu kok seperti orang bergosip biasa. Kemudian, beberapa tipe juga seperti hobi membawa masalah ke jalur hukum. 


Tak hanya berisi tentang ciri-ciri HCP, buku ini juga dilengkapi dengan cara menangani advokat yang negatif serta cara mendapat bantuan dari orang lain, termasuk pengacara, konselor, teman, dan keluarga.


Meskipun aku belum terlalu bisa membedakan antara tipe HCP satu dengan yang lain, tetapi setidaknya aku sudah memiliki gambaran tentang mereka melalui buku ini. Plus, pada bagian akhir buku, penulis menyertakan pula 40 perilaku yang bisa diprediksi sebagai ciri dari HCP, sehingga bisa kugunakan sebagai bantuan tambahan. 


Buku ini sangat kurekomendasikan sebagai referensi terkait abuse/mental disorder dan merupakan salah satu buku terbaik versiku selain "The Sociopath Next Door" dan "Why Does He Do That." Jadi, jangan lewatkan untuk membaca buku-buku ini.







01 Januari 2022

Review Buku "The Sociopath Next Door"

Tak hanya dengan menonton film horor , ternyata membaca buku "The Sociopath Next Door" pun mampu memberikan suasana menegangkan yang serupa (ditambah covernya yang juga horor menjadi semakin horor auranya). Kendati sebenarnya sosiopat itu sendiri jarang yang tampak nyata kehororannya seperti yang ditampilkan di TV-TV. Hanya sedikit dari mereka yang tampak sadis, kejam, dan bunuh-membunuh seperti yang digambarkan di film-film. Dari luaran, mereka sama seperti kita manusia-manusia yang punya kesadaran.


Bahasa buku ini sebenarnya resmi/formal dan kata-katanya sederhana (bahasa Inggrisnya sederhana), tapi mungkin karena bahasan-nya memang serem, auranya jadi menegangkan.


Di dalam buku ini, penulis sering menyamakan psikopat dengan sosiopat. Kadang-kadang kata-katanya bisa saling menggantikan. Bagi yang belum tahu, jadi gini, sepanjang aku membaca buku-buku jenis beginian, ada ahli yang mengabaikan beda antara narsis, psikopat, sosiopat, atau bahkan BPD, karena mereka saling tumpang tindih. Ada juga yang membedakan pengertiannya tapi kemudian saat penanganannya itu cuek akan bedanya. Nggak begitu penting gitu lho. Yang penting tau mereka itu berbahaya atau toksik. Ada juga yang membedakan masing-masing dengan perbedaan yang tipis. Nah, untuk penulis buku ini, kudapati istilah psikopat dan sosiopat kadang saling menggantikan. Namun, untuk narsis, avoidant personality disorder, dan sosiopat penulis memaparkan perbedaannya dengan sangat jelas, karena sepintas penderita tersebut mirip. 


Sosiopat itu jumlahnya hanya 4 persen dari seluruh populasi di dunia. Seperti kecil ya? Tapi jika sosiopat tersebut adalah figur otoritas, maka dia bisa menggerakkan orang-orang yang normal untuk mengikuti perintahnya (untuk berbuat buruk). Dan telah diteliti berkali-kali bahwa mayoritas orang normal akan mengikuti arahan dari figur otoritas tanpa membantah/mempertanyakannya, walaupun perintah tersebut error (perintah untuk melakukan kejahatan). 


Sosiopat itu jahat ya tapi jarang yang kelihatan dari luar. Kalau kamu tahu ciri utama yang diungkap oleh penulis buku ini, kamu pasti nggak nyangka banget, terutama buatmu yang penganut paham positif penuh (terlalu berprasangka baik). Sama sekali bukan tentang kata-kata atau bahasa tubuh yang mengerikan atau kejam. 


Selain jahat sosiopat juga cerdas. Saking cerdasnya hanya 20 persen sosiopat yang tertangkap dalam kasus kriminal (dalam pengertian formal). Malahan, kebanyakan penghuni penjara hanya orang biasa dengan kondisi "khusus".


Sayangnya, banyak orang sering tertipu karena mereka cenderung menghakimi orang berdasarkan penampilan, good looking/tidak, serta pekerjaan/gelarnya. Misalnya tentang good looking, tak hanya penulis buku "The Sociopath Next Door" ini, penulis buku "Falling in Love" juga menjelaskan kalau banyak orang mengasumsikan orang yang good looking pasti berakhlak baik.


Banyak orang masih mempercayai bahwa tidak ada 100% orang yang baik dan tidak ada 100% orang yang buruk, padahal keyakinan itu sangat berbahaya, karena 100% orang yang buruk itu ada, termasuk sosiopat ini sebagai kelompok yang tidak boleh dipercaya sama sekali. (Terkait ini, aku pribadi juga tidak setuju bahwa orang berbuat/menjadi jahat pasti karena dijahati duluan. Ada orang yang memang jahat.)


Oh ya, selama beberapa hari terakhir ini aku telah membaca banyak sekali abuse dan ajaran pembungkaman terhadap wanita, dan itu bukan karena aku spesifik membaca buku-buku tentang abuse atau feminis atau sengaja mencari buku-buku yang hanya tentang itu. Dan buku-buku/penulis-penulis/ahli-ahli tersebut adalah para ahli yang memiliki latar belakang berbeda dan dengan tema buku yang berbeda. Sialnya lagi, bukan hanya mereka, ada stok bacaanku yang lain/ahli-ahli yang lain mengatakan hal serupa. Ada yang salah dari budaya atau perlakuan terhadap gender kita, terutama perlakuan terhadap wanita. Dan memang, seperti yang tercantum di dalam buku "The Sociopath Next Door" ini, salah satu teori penyebab terbentuknya sosiopat adalah budaya dan hal ini didukung dengan pola pengasuhan yang salah. Senada dengan itu, di dalam buku "Why Does He Do That?", penulisnya juga menjelaskan salah satu teori penyebab terbentuknya narsis budaya jugalah biang keroknya.


Yah, begitulah, antara sosiopat dan narsis memang dekat hubungannya. Sebelas dua belas. Buat kalian yang punya anak hati-hati mengasuhnya agar tidak menjadi narsis/sosiopat atau malah menjadi korban empuk mereka.


Terakhir, aku mau menyoroti judul bukunya yang mengingatkanku akan judul buku serupa, "The Millionaire Next Door." Entah siapa yang duluan karena aku nggak mengamati tahun pembuatannya. Tapi serem banget kan judul buku "The Sociopath Next Door" ini? Jangan-jangan orang di "next door"-mu adalah sosiopat. Hiiiy...


Mau tau lebih lanjut tentang sosiopat? Martha Stout membongkarnya habis-habisan di dalam buku ini. Baca aja bukunya, "The Sociopath Next Door." Ini adalah salah satu buku terbaik tentang abuse yang pernah kubaca.