27 September 2022

Review Buku "Bold"

"Bold," 212 Charisma & Small Talk Tips to Engage, Charm & Leave a Lasting Impression

Penulis: Irvin Finau

Bold / Charisma

Buku "Bold" ini mengingatkanku akan Dale Carnegie dan bukunya "How to win friends and influence people" (yang rencana mau kubaca) dan Carnegie lain yaitu Andrew Carnegie yang pernah disinggung oleh Napoleon Hill dalam bukunya "Think and grow rich." Bahasan tentang karismanya itu yang mengingatkanku pada duo Carnegie ini, yang sepertinya sama-sama karismatik orangnya.


Kamu yang sering ngikuti review di blogku mungkin udah bisa nebak kalau salah satu yang membuatku tertarik adalah covernya. Ceria dan komposisinya enak dilihat. Meski jumlah halamannya juga banyak seperti "How to win friends and influence people" kenapa aku baca "Bold" duluan karena lebih ringan dibaca. Wong tulisannya itu pendek-pendek, nggak nyampe 1 halaman, trus ada quote-quote, dan ada beberapa bagian yang berwarna. Aku nggak ngira lho isinya gini, kirain kayak buku-buku lain pada umumnya. Di satu sisi kayak usaha buat nebel-nebelin halaman (dan kayaknya nyaris mustahil penerbit di Indonesia nerbitin dalam bentuk banyak ruang yang kosong seperti ini), tapi di sisi lain bikin lebih ringan dan enak dibaca (dan lebih mahal tentunya).


Kalau baca judulnya, aku agak ngerasa ganjil, bold dan karisma, hubungannya apa? Di buku-buku lain biasanya dibedain pembahasannya. Bold biasanya gandengannya buku asertif, bukan buku karisma. Dan memang di buku "Bold" ini, sesuatu yang tegas/berani hanya terdapat pada halaman 99, 125, dan 177. Pada beberapa sisanya malah seperti people pleaser atau bertentangan dengan judul "Bold" itu sendiri. Penulis seperti berasumsi bahwa semua orang itu baik, pengertian, dan tidak egois. Misalnya dalam hal tak boleh memotong pembicaraan, iya kalau lawan bicara mau bicara gantian, kalau kita nggak diberi kesempatan ngomong? Kalau kita ada urusan dan dia nggak selesai-selesai ngomong? Kalau ngomongnya terlalu nggak baik, nggak penting, atau terlalu cepat dan beruntun? Itu menurutku situasional banget dan nggak bisa disikapi sama. Malahan, buku-buku tentang asertif, manajemen, habit, dan produktivitas biasa mengajarkan yang sebaliknya. Dengan kata lain, judul "Bold" tidak sesuai untuk buku ini.


Ternyata, "Bold" ini adalah buku tentang etiket/etika/tata krama/sopan santun/manner. Isinya tentang cara berperilaku, yaitu menjadi orang yang baik, sopan, menyenangkan, positif, dan perhatian penuh pada lawan bicara maupun orang lain, termasuk kedisiplinan juga. Jadi orang yang nggak nyebelin gitu deh. Yang diajarkan itu misalnya jangan mer*kok kecuali izin dulu (dan semua orang sekitar mengizinkan), jangan tanya makanannya apa sebelum kamu menerima undangan makan malam (eh ini pernah kejadian lho ada orang yang gini ke kami, nanya makanan gitu. Kaget banget cz dia satu-satunya), serta jangan tanya umur, gaji, dan status pernikahan. Kalau gaji sih aku memang ga suka ditanya-tanya, kalau yang lain ya tergantung konteks, tone, dan caranya. Lebih baik ditanya status pernikahan daripada langsung dipanggil "Bu" atau ditanya "Anaknya sudah berapa?" That's annoying. 


Buku "Bold" ini terdiri dari 4 bagian:

Part one: from hermit to sociable

Part two: from sociable to popular

Part three: from popular to socialite

Part four: charisma attained


Tapi sebenarnya part-nya cuma 3 sih ya karena part 4 cuma 1 halaman dan lebih bersifat penjelas atau anjuran untuk melatih dan mempraktekkan part sebelumnya aja sih.


Dan hasil akhirnya adalah ... jreng jreng jreng ... BAGUUUS. Aku merekomendasikan buku "Bold" ini. Lumayan buat pengingat akan hal-hal sederhana yang sering kita lupakan atau abaikan. 



25 September 2022

Review Buku "The Art of Letting Go"

"The Art of Letting Go"

Penulis: Rania Naim, dkk.


The art of letting go


"The art of letting go" ini adalah buku tentang seni untuk move on/melepaskan mantan. Dia berupa antologi yang ditulis oleh sekitar 15 penulis. Kenapa sekitar? Karena ada penulis yang menulis lebih dari 1 cerita. 


Jadi, formatnya itu berupa kisah nyata perjalanan cinta 15 orang penulis kemudian diberi kata-kata penghibur, penyemangat, dan pelajaran hidup yang bisa diambil. Macem-macem sih cerita mereka sebagai korban asmara yang gagal, perlakuan buruk mantan, atau sekadar tidak cocok dan harus ikhlas dan ridho intinya karena nggak ridho dan nggak ikhlas pun percuma dan nggak bisa ngubah apa-apa. Baca buku ini mungkin akan bikin kamu ngerasa di-pukpuk sama para penulis itu karena salah satu ceritanya mungkin mirip kamu. 


Buku "The art of letting go" ini ditutup dengan 1 bab yang berisi 20 quote agar bisa lebih menghibur dan menguatkanmu. Bikin kamu makin cepet move on. Maksimal seminggu aja berkabungnya gitu. Yang menarik, pada salah satu quote-nya ada nama Winna Efendi, yang sepertinya orang Indonesia. Selama aku baca buku-buku bule, hanya beberapa yang mengandung nama orang Indonesia dan buku ini salah satunya.


Catatanku cuma satu, 21 tulisan di dalamnya ini nggak semuanya berupa kisah, ada yang  berisi pelajaran hidup atau nasehatnya aja. Nggak konsisten sih tapi nggak ngerusak keseluruhan format/isinya. Dan aku lebih suka kalau covernya diperbaiki. Gitu aja.


Btw, aku ketipu sih sebenernya sama judul buku ini cz aku nyarinya yang letting go untuk non mantan, yang bukan cinta-cintaan. Apa aja pokoknya selain mantan. Kupikir letting go untuk umum, bukan khusus (bahas mantan doang). Ketika aku tahunya ini tentang mantan pacar, hanya sedikit yang bisa kuambil. Selain itu, buku ini juga mengingatkanku akan buku antologi pertamaku dulu yang bertema sama, yang judulnya "Kulepaskan kau dari hatiku." 


Buat yang lagi galau karena susah move on ya nggak papa lah baca buku "The art of letting go" ini. Siapa tahu kamu akan lebih cepat bangkitnya dan jadi semangat lagi.

Review Buku "The Ultimate Focus Strategy"

Review Buku "The Ultimate Focus Strategy," how to set the right goals, develop powerful focus, stick to the process, and achieve success.

Penulis: Martin Meadows

The ultimate focus strategy

Ultimate Focus Strategy yang diajarkan di dalam buku ini ditujukan untuk kelompok selain orang yang sudah hampir mencapai tujuannya, orang yang ingin hasil instan, dan orang yang tidak yakin dengan dirinya sendiri. Terdapat 4 komponen Ultimate Focus Strategy yang masing-masingnya kemudian diuraikan ke dalam 1 bab terpisah. Di dalamnya tercakup bahasan mengenai cara menetapkan tujuan (goal setting), motivasi, cara memilih jalan untuk mencapai tujuan, cara mensinergikan tujuan, dan lain-lain. Pada setiap akhir bab kemudian penulis menutupnya dengan ringkasan.


Buku ini sangat kaya dan padat dan akan memberimu banyak insight. Penulis memberimu panduan untuk memutuskan segala sesuatu terkait tujuan dan perwujudan tujuan itu dengan baik, yang akan sangat memudahkanmu untuk memilih. Isinya berat, tetapi disampaikan dengan bahasa yang luwes. Andaikan layout serta ukuran dan jenis font serta spasinya lebih diperhatikan, keterbacaannya akan menjadi lebih baik dan lebih nyaman. 


Perubahan cover menjadi lebih menarik juga akan menjadi pelengkap yang manis. Apalagi, karena buku ini berseri, maksudnya buku-buku yang dihasilkan oleh penulis ini gini semua model covernya. Kuning suram gini dengan desain yang kurang menarik juga. Sayang banget, kan padahal isinya bagus.


Meskipun ada beberapa bagian di dalamnya yang tidak cocok denganku, buku ini bagus. Fleksibilitas penulis serta perhatiannya akan hubungan dan kesehatan patut diacungi jempol.

24 September 2022

Review Buku "Date ... or Soulmate?"

"Date ... or Soulmate," how to know if someone is worth pursuing in two dates or less

Penulis: Neil Clark Warren

Date ... or soulmate


Memenangkan dating game itu tidak mudah dan kamu tak boleh berlama-lama di dalamnya. Untuk itu, kamu butuh strategi khusus yang dijelaskan di dalam buku "Date ... or Soulmate" karya Neil Clark Warren ini. 

Langkahnya dimulai dari mengenali dirimu sendiri dan membuat daftar 10 hal yang tidak boleh ada pada calon dan 10 hal yang harus ada pada calon berdasarkan pengenalanmu atas dirimu sendiri. Di sini, penulis membimbing kamu dengan memberi contoh 50 daftar populer yang harus ada pada calon dan 50 daftar yang tidak boleh ada, beserta pengaruh-pengaruhnya dalam hubungan nantinya. Tak lupa penulis juga mengajarkan cara membaca calon semudah membaca buku, memilih calon yang layak mendapatkan kompromi kriteria dari kita, mempertimbangkan perbedaan-perbedaan yang tak boleh diabaikan, serta membuat keputusan yang cepat dan tepat.

Buku "Date ... or Soulmate" ini lebih detail/kompleks daripada buku "Finding your perfect match" kemarin dan menyinggung sedikit mengenai aspek kesehatan mental. Selain itu, keduanya sama-sama berhubungan dengan dating site/situs kencan online. Jika "Finding your perfect match" itu berhubungan dengan perfectmatch.com, "Date ... or soulmate" ini berhubungan dengan eharmony. Persamaan lainnya adalah mereka sama-sama kompleks dan membingungkan seperti buku-buku tentang kriteria jodoh pada umumnya. Dalam arti, misalkan pada "Finding your perfect match" kriteria jodoh itu seakan-akan tertulis hanya 8, padahal banyak; sedangkan pada "Date ... or soulmate" kriteria jodohnya itu seolah-olah hanya 20, padahal lebih banyak dari itu. Jadi, masalah jodoh itu tak pernah sederhana. Susah untuk menetapkan berapa sebenarnya kriteria totalnya, yang jelas banyak, baik itu ditulis dengan detail di buku ataupun dalam bentuk tersamar/disuruh mencari sendiri. 

Buku "Date ... or soulmate" ini recommended untuk dibaca. Hanya saja, ada beberapa bagian yang kurang terstruktur dengan baik, misalnya pada bagian "How to read someone like a book" (bab 4) dan "How to make an accurate and early decision" (bab 10) itu susunannya nggak lancar jaya saat dibaca. Selain itu, sepertinya lebih cocok kalau bab 3, 5, 6, dan appendix 1 isinya didekatkan (bahasnya pada bab yang berurutan). 
Secara keseluruhan, masih terlalu acak sih menurutku, meloncat-loncat bahasan antar bab maupun dalam babnya. Trus untuk cara kompromi kriteria, menurutku 4 faktor yang dia ajukan nggak jaminan bikin calon tersebut bakal sukses/kaya nantinya. Masih berupa potensi yang gambling banget/seperti judi. Kalau dari sisi realistis yang ori-nya kamu, ajaran finansialnya lebih cocok pakai buku "Finding your perfect match."

Buat kamu suka yang lebih detail dan ada aspek kesehatan mentalnya, kamu bisa pilih buku "Date ... or soulmate" ini, tapi buat kamu yang suka aspek kriteria yang lebih sedikit/lebih simple kamu bisa pilih "Finding your perfect match."
Dua-duanya bagus kok, tapi aku beri sedikit catatan pada "Finding your perfect match" yang bisa kamu baca pada review-ku sebelumnya. 






23 September 2022

Review Buku "A Million Bucks by 30"

 "A Million Bucks by 30," how to overcome a crap job, stingy parents, and a useless degree to become a millionaire before (or after) turning thirty

Penulis: Alan Corey


Buku "A Million Bucks by 30" ini adalah buku biografi sekaligus inspirasi, motivasi, dan pengembangan diri. Isinya tentang proses perjuangan Alan Corey yang selepas kuliah itu ngerasa nggak jelas banget (hidupnya sangat berantakan dan tak tentu arah) hingga menjadi miliuner di usia 30 tahunan.


Itu perubahan yang fantastis, bukan? Berbekal goal-nya untuk menjadi milyuner di usia 30 tahun dia menerapkan pola hidup gratisan dan sehemat mungkin sambil tetep rajin mencari uang. Masalah pekerjaan, tempat tinggal, asmara, hiburan, sampai masalah kehidupan apa pun diatasi sama dia dengan kreatif dan strategik, dan kadang kurang baik (melakukan perbuatan buruk, walau sepertinya jarang banget). 


Membaca buku ini selain membuatku malu karena nggak sehemat dan sekeras dia, itu mengingatkanku akan buku (kalau nggak salah) The Millionaire Next Door dan perjuangan-perjuangan miliuner yang tidak berasal dari turunan/bukan warisan (kerja keras dulu). Mulai dari rajin ngumpulin kupon sampai lainnya. Hal itu mengingatkanku juga tentang cowok-cowok Indonesia yang bagiku banyak yang lemah dan suka banyak alasan trus suka nyalah-nyalahin cewek, mertua, ribet tentang siapa yang harus bayar kencan, sampai lainnya. Mereka, cowok-cowok itulah, yang sangat kuanjurkan baca buku ini, biar niru tentang mindsetnya, mentalnya, perjuangannya, strategik/kreatifnya, kegigihannya, dan lain-lain. 


Penulis menjabarkan semua proses penting hidupnya beserta tips-tips hidup se-gratisan mungkin seperti dia dan tetep bisa dapet sesuatu yang bagus, menghibur diri, punya pacar, dan lain-lain. 


Rasanya setiap dia ulang tahun itu hidupnya selalu semakin membaik secara signifikan. Merinding bacanya. 


Jadi, dengan kehidupan seketat dan sekeras dia, dia melejit jauh di depan teman-temannya dan akhirnya berhasil mencapai targetnya menjadi miliuner dan mulai menikmati hidup yang ringan dan enak.


Tapi, buku "A Million Bucks by 30" ini juga ada minusnya. Masih ada utang-utangnya dan memburu hal yang klise untuk menjadi miliuner yaitu bidang real estate dan saham. Dia sangat ambisius, risk taker banget, terencana, tapi tetep bisa kubilang nekat banget juga. Selain itu, nggak semua orang juga paham atau suka bidang real estate dan saham. Jadi, yang kusarankan sebagian dari buku ini aja.


Buku ini kurekomendasikan tetapi dengan beberapa catatan di atas untuk diperhatikan.

21 September 2022

Review Buku "Finding Your Perfect Match"

"Finding Your Perfect Match," 8 Keys to Finding Lasting Love through True Compatibility

Penulis: Pepper Schwartz

Finding your perfect match


"Finding Your Perfect Match" adalah buku tentang mencari pasangan yang cocok, terutama berdasarkan fitur duet Total Compatibility System yang digunakan oleh lebih dari 3 juta orang. Masih berhubungan dengan dating site Perfectmatch.com karena penulisnya, Pepper Schwartz adalah relationship advisor di sana.


Jadi, bisa dimaklumi ya kalau judul buku ini dan nama situs kencan online tersebut masih berhubungan. Meskipun, kata "perfect" ini berat banget dan tentunya perfect yang sebenarnya itu nggak ada. Tapi, judul dan sub judul ini marketable dan ramah mesin pencari.


Metode yang digunakan dalam pencarian jodoh di sini menggunakan duet Total Compatibility System, yaitu mencocokkan kamu dan calonmu berdasarkan 8 faktor utama. Pada 4 faktor penulis menganjurkan kamu nyari yang setara/sama, pada 4 faktor sisanya kamu lebih baik nyari yang berkebalikan, tetapi tidak ekstrim. Untuk mengetahui kamu termasuk yang mana dalam pengelompokan faktor tadi, kamu disuruh menjawab 7 soal dulu pada setiap awal bahasan dari 8 faktor tadi. Setelah itu, tiap pertanyaan/soal tadi diuraikan oleh penulis, berikut pembahasannya kalau kepribadianmu sama, beda, atau beda sangat ekstrim beserta masalah-masalah yang mungkin terjadi atau kompromi yang mungkin bisa dilakukan, kalau memungkinkan. Gitu terus sampai 8 faktor tadi dibahas semua. Jadi, ada 56 pertanyaan untuk kedelapan faktor ini.


Nah, seperti buku-buku relationship pada umumnya, pembahasan tentang kriteria jodoh itu tak pernah sederhana. Kalau kamu ngira kita cuma memfokuskan pada 8 faktor tadi, kamu salah. Buntutnya masih panjang di bagian belakang, yaitu isu-isu tentang cinta dan gaya hidup. Cuma 5 poin sih, tapi kalau dipraktekkan untuk nyari calon beneran ya lebih dari 5 plus nyari orang yang memenuhi 13 faktor ini aja uda menantang banget pastinya. Tidak mudah. Meski gitu, menurutku ini termasuk salah satu buku relationship ter-simple dibanding lainnya. 


Pada bagian terakhir atau bab 4 ditutup dengan bagaimana cara kamu mencari Perfect Match-mu tadi berdasarkan isi buku ini dan bagaimana mempertahankan hubungan kalian nantinya.


Secara umum bagus sih, tapi kuberi warning pada bagian romantic impulsivity. Ini sangat rawan/berpotensi menimbulkan bahaya besar karena apa yang dipandang penulis hanya sebatas perbedaan impulsivitas romansa, bisa jadi adalah narsis atau narsis trait (narcissist trait) yang sedang melakukan love bombing. Dan narsis ini sangat berbahaya dan akan membuatmu sangat menderita jika berhubungan dengan mereka. Semua narsis pendekatannya diawali dengan love bombing, jadi aku beri peringatan keras padamu untuk sangat berhati-hati dalam masalah ini. 


Kesimpulannya, buku "Finding Your Perfect Match" ini bagus tetapi mengandung peringatan keras seperti di atas.



07 September 2022

Review Buku "The Friendship Formula"

"The Friendship Formula," add great friends, subtract toxic people, and multiply your happiness

Penulis: Caroline Millington

The Friendship Formula

"The Friendship Formula" adalah buku tentang cara mencari teman, di mana mencari teman, menyeleksi teman, melalui dinamika-dinamika/perubahan-perubahan dan naik-turunnya kehidupan yang mempengaruhi pertemanan, sampai dengan cara memutuskan pertemanan.


Pertama aku suka karena covernya ceria. Isinya sendiri biasa saja, yang dibahas ya gitu-gitu aja seperti buku serupa. Malah, buku lain ada yang lebih bagus kalau bicara isi, di antaranya adalah buku tentang loneliness. Kalau buku ini kelebihannya adalah dia kecil/singkat, lumayan straight/to the point/ga terlalu bertele-tele, dan keterbacaannya enak. 


Selain itu, pada bagian awal itu sangat halus penulisannya. Sayangnya, itu ga bertahan lama. Makin ke belakang makin terasa emosional dan tidak teduh. Mulai dari pembahasan seleksi teman itu auranya udah nggak enak lagi. Penulis terlalu emosional terutama saat menulis bahasan tentang rasis, elgebete, dan childfr**. Tak kuketahui dengan pasti apakah dia elgebete juga atau hanya sahabatnya yang punya ortu elgebete. Yang jelas itu bikin nuansa tulisannya berubah nggak ramah dan aku juga nggak suka. Aku pengen buku yang ceria seperti covernya, yang halus seperti bagian awalnya, dan yang terpenting adalah aku bukan pro elgebete dan bukan pro childfr** ataupun pro friend with b*nefit, dan aku mungkin sama kerasnya dengan dia soal ini. Jadi, aku nggak suka buku ini terutama karena bertentangan dengan nilai-nilaiku.








02 September 2022

Review Buku "Overload"

"Overload," how to unplug, unwind, and unleash yourself from the pressure of stress

Penulis: Joyce Meyer


Overload

Pertama banget nih ya, aku tuh kecewa karena "Overload" ini ternyata buku agama. Jadi isinya dominan dengan ayat-ayat Krist*n dan nasehat-nasehat Kr*sten. Nggak ada penandanya untuk bisa dikenali di depan, jadi kupikir dia buku umum. Buanyak banget ya isi Kr*stennya sehingga kupikir kamu perlu menandai kalau buku dari Joyce Meyer kemungkinan ya akan seperti itu, bukan buku umum.


Buku "Overload" ini berisi tentang cara mencegah dan menangani stres. Isinya biasa seperti buku stres pada umumnya, tapi ini dominan mengarahkan ke Tuhan dan agama, dalam konteks Kr*sten tentunya. Mengajakmu untuk melibatkan Tuhan juga gitu lho saat stres ataupun biar nggak mudah stres dan biar nggak stres banget.


Enaknya buku ini sih per babnya itu nggak terlalu panjang, ada penekanan poin-poin penting juga dalam kotak, tapi secara keseluruhan tulisan per babnya akan lebih baik kalau diberi spasi antar paragraf.


Buku ini juga bisa di-speed reading karena selain modelnya yang lumayan enak dibaca, intinya juga sedikit, dan isinya nggak baru (buatku), lebih sebagai pengingat aja.







01 September 2022

Review Buku "Company of One"

"Company of One," why staying small is the next big thing for business

Penulis: Paul Jarvis


Company of one

Buku "Company of one" ini adalah buku tentang wirausaha, wiraswasta, atau pengusaha. Whatever lah kamu nyebutnya apa karena ketiganya bisa tercakup di sini. Biarpun namanya mengandung kata "company" tetapi dia bukan seperti perusahaan kebanyakan, juga bukan freelancer. Pengertiannya lebih dekat pada ketiga kata tadi: wirausaha, wiraswasta, atau pengusaha. Setidaknya, begitu kalau aku lihat versi dari definisi ketiganya yang beredar di dunia maya.


Paul Jarvis ini mengajarkan segala yang kamu butuhkan untuk membuat bisnis sendiri. Lebih spesifik lagi, yang dimaksud adalah bisnis yang akan tetap kecil, bukan bisnis yang berfokus pada pertumbuhan. Apakah itu berarti buruk? Tidak. Ada bisnis yang memang dipertahankan berada dalam skala tertentu agar mereka bisa tetap nyaman atau tetap memiliki keseimbangan hidup. Aku sendiri nggak yakin kalau dibilang nggak tumbuh karena kalau benar-benar nggak tumbuh mungkin akan mati. Mungkin lebih tepatnya yang dimaksud adalah pertumbuhannya dijaga sampai pada skala tertentu sehingga dengan pertumbuhan dunia luar juga bisnisnya kelihatan seolah-olah nggak tumbuh. 


Penulis menjelaskan apa saja yang kamu butuhkan jika kamu ingin punya usaha/bisnis sendiri, modal utamanya apa, fokusnya pada apa, mematahkan mitos-mitos/pendapat-pendapat lain yang mendorong ciutnya nyali seseorang untuk berbisnis sendiri, menjelaskan prosesnya bagaimana, memberikan contoh-contohnya, dll. 


Isinya ditulis dengan sangat tenang dan woles dan berorientasi hubungan (humanis) karena sepertinya penulis termasuk tipe plegmatis. Sabar gitu njelasinnya. Selain itu, penulis juga berusaha membuat isinya proporsional, memotivasi dan menginspirasi tapi sekaligus memperingatkan kamu agar tidak menyepelekan/menggampangkannya.


Di sini kamu juga sekaligus akan diajari cara bekerja cerdas sehingga kamu bisa menjadi pengusaha yang sukses, wirausaha yang sukses, ataupun wiraswasta yang sukses. Kamu bisa mulai dari hal yang kecil dulu yang saking kecilnya tidak akan mungkin gagal, baru kemudian kamu bisa menjaga pada level tersebut atau menumbuhkannya hingga mencapai level tertentu (terbatas, bukan yang besar banget) yang kamu inginkan. 


Buku ini memuat banyak hal tetapi tidak terlalu detail. Dia generalis dan detail tapi nggak se-detail itu yang bikin kamu baca buku ini aja bisa punya pemahaman utuh untuk langsung buka usaha tanpa ada tanda tanya lagi di kepalamu. Sebagai orang awam aku masih butuh belajar misalnya tentang teknis hukumnya, pajaknya, pengelolaan uangnya, cara nyari pekerja-pekerja yang cocok, dll.


Tapi ini uda bagus banget kok, sudah memuat prinsip-prinsip penting di dalam menjalankan bisnis sendiri.











30 Agustus 2022

Review Buku "How Not to Worry"

 



"How Not to Worry," the remarkable truth of how a small change can help you stress less and enjoy life more

Penulis: Paul McGee


Buku "How not to worry" adalah buku yang perspektifnya kusukai. Penulis menyoroti kekhawatiran tidak hanya sebagai sesuatu yang negatif, tetapi juga positif, tergantung alasan dan jenis kekhawatirannya. Biasanya khawatir terjadi karena tantangan perubahan dan ketidakpastian.


Ada banyak hal yang membuat seseorang itu khawatir. Ada kekhawatiran yang baik/positif dan ada yang buruk/negatif. Kamu harus bisa membedakannya dan mengetahui kapan, di mana, atau pada kondisi apa kamu itu khawatir. Penulis menjelaskannya di dalam buku ini, termasuk bagaimana cara-cara membuat perasaanmu lebih baik melalui perbaikan internal (diri sendiri), maupun eksternal (faktor luar/lingkungan), atau bahkan mengatasi akar masalah penyebab kekhawatiran itu. 


Tak lupa penulis juga menyisipkan bahasan tentang otak rasional dan otak emosional serta kesalahan-kesalahan pemikiran yang mungkin kamu lakukan.


Pada akhirnya, kamu disuruh untuk menerapkan apa yang kamu tahu untuk kekhawatiranmu yang berulang, jika berulang lagi di masa depan respon berbeda apa yang akan kamu lakukan.


Buku "How not to worry" ini tampilannya enak dibaca. Antara kalimat yang satu dengan yang lain tidak harus ditulis langsung bersambungan. Ada yang 1 baris 1 kalimat, ada juga yang 1 baris lebih dari 1 kalimat, dan panjang-pendek kalimatnya itu cukup enak dibaca. Penerbit nggak merasa perlu untuk memenuhi ruang kertas dari ujung kanan hingga ujung kiri. Nggak pelit ruang. Selain itu, ada bubble talk besar (bubble yang di komik-komik biasa dibuat sebagai tempat ucapan) di tengah-tengah halaman untuk menyoroti poin-poin inti di sana, serta rangkuman pada setiap akhir bahasan.


Bagus tapi secara isi bagi saya tidak terlalu baru. Sudah tahu jadi lebih sebagai pengingat saja. Namun, bagi orang lain bisa saja berbeda.


Recommended.

03 Agustus 2022

Review Buku "Do It Tomorrow"

"Do It Tomorrow," and other secrets of time management

Penulis: Mark Forster


"Do It Tomorrow?" Lho lho lho, kok malah nyuruh ngerjain besok? Procrastination/menunda-nunda dong namanya. Kepikiran gitu nggak waktu baca judul ini? Itu yang kupikirkan. Judulnya kok aneh banget. Anti mainstream.


Jadi gini, teori "manajemen waktu" itu kan sudah banyak penentangnya. Ada yang menawarkan teori-teori lain, misalnya manajemen energi, manajemen pikiran, manajemen fokus/perhatian, manajemen prioritas, dan lain-lain. Seperti buku yang baru kureview kemarin itu, "Do It Today" itu tentang manajemen perhatian/fokus, lalu buku "Mind Management, Not Time Management" itu tentang manajemen pikiran. Ada juga yang masih sedang kubaca yaitu "Indistractable" itu tentang manajemen rasa sakit.


Buku "Do It Tomorrow" ini termasuk buku yang menentang manajemen waktu dan manajemen prioritas. Setidaknya 2 teori itu sudah ditolak. Isinya unik dan sangat membutuhkan kemampuan asertif/ketegasan dalam menerapkannya. Isinya mencakup prinsip manana, tugas harian, diary tugas, mengenali 3 jenis kesalahanmu dalam mengatur waktu/aktivitas, membagi harimu menjadi 2 hari utama (hari ini dan besok), dan lain-lain. Ketika baca ini otakku langsung nyambung ke kata "administrasi/administratif," padahal selama baca buku-buku produktivitas atau manajemen waktu yang lain nggak sampai berasosiasi ke sana.


Pada bagian awal aku merasa isinya seperti beda banget dari teori produktivitas yang lain, tapi semakin ke belakang semakin terasa rancu. Kamu harus fokus penuh biar bisa memahaminya dan ngerti bedanya dari teori-teori serupa karena semakin ke belakang semakin kompleks.


Uniknya, buku ini juga disertai latihan dan tes pada tiap babnya plus ada review juga di akhir untuk ngecek kamu udah paham apa belum. Latihan dan tes tadi adalah masalah-masalah waktu yang terjadi sehari-hari. Jadi, sekaligus sebagai contoh kasusnya. Dan itu sangat luas dan acak/random. Mungkin satu atau beberapa dari kasus itu akan sesuai dengan kasusmu. Itu artinya kasusmu sekaligus sudah dapat solusi dari dia (kamu dapat pencerahan darinya). 


Buku ini bagus, sayang covernya ga menarik. Buku-buku dari penulis ini covernya jelek-jelek. Sayang banget padahal isinya bagus. Selain buku-buku karya Darius Foroux, buku "Do It Tomorrow" ini adalah buku yang patut kamu baca. 

01 Agustus 2022

Review Buku "How to Choose a Partner"

"How to Choose a Partner"

Penulis: Susan Quilliam


"How to Choose a Partner" ini adalah buku 100-an halaman tentang cara memilih pasangan hidup. Tulisannya itu kalem, tapi isinya berat. Dia berupa kumpulan hasil-hasil riset dari ahli lain. Meski gitu, cara menulisnya itu termasuk luwes, sudah lumayan populer, udah nggak ala karya ilmiah.


Bagian awal itu mbosenin, semacam sejarah atau perbandingan dengan pencarian jodoh di masa lalu. Kemudian semakin ke dalam penulis mulai membahas tentang teori-teori jodoh yang kemudian dikerucutkan menjadi pengambilan kesimpulan oleh penulis. Jadi, mulai dari bagaimana ketertarikan terjadi, apa faktor pendukung hubungan jangka panjang, mungkin nggak sih kita itu jatuh cinta instan dan langsung menikah kilat dan tetep langgeng hubungannya, bagaimana cara meningkatkan peluangmu untuk mendapat jodoh dari dunia nyata maupun dari online, bagaimana jika cinta bertepuk sebelah tangan, bagaimana sebaiknya jika ada orang yang ngejar-ngejar kamu, dll itu ada.


Bagus dan lumayan cepat/straight ga terlalu bertele-tele karena halamannya sedikit. Tapi bagiku ini masih lumayan berat. Kemarin sebenarnya aku nyari buku yang ringan  karena otakku masih capek. Kupikir ini ringan cz cuma bahas jodoh tapi pas aku baca masih nggak lancar jaya entah cz layoutnya doang yang ga enak, paragrafnya yang lempeng dan terlalu panjang, isinya yang ilmiah banget, kurang terstruktur dengan baik (kurang ada kesatuan atau koherensi), atau cara menulisnya. Atau cz akunya yang lagi capek? Ga tau, yang jelas belum terasa ringan di otakku dan belum lancar jaya. Beda sama buku yang saat ini sedang kubaca, lancar jaya. Oh mungkin masalah kompleksitas kalimat juga kali ya, kalo versi bahasa penulis lain itu banyak "bulshit"-nya. Kurang sederhana dan clarity jadi berat dan ga lancar jaya bacanya bagiku.


Secara isi, aku merekomendasikan buku ini. 

30 Juli 2022

Review Buku "Start Your Own Coaching Business"

"Start Your Own Coaching Business," quick guide to starting a profitable coaching business

Penulis: Alex Damale


Bisnis coaching merupakan salah satu bisnis yang menjanjikan, kalau kamu berhasil menjalaninya. Sebagaimana pekerjaan/bisnis apapun, pasti ada orang yang berhasil dan ada yang tidak. Bisnis coaching pun begitu, ada coach yang gagal dan ada yang tidak bisa berpenghasilan menjanjikan.


Buku "Start Your Own Coaching Business" ini ditulis oleh Alex Damale karena hal itu. Dia ingin membantu calon coach agar bisa menjadi coach yang sukses dan berpenghasilan fantastis. Pertama adalah dengan memiliki mindset yang benar dan memenuhi modal-modal internal yang dibutuhkan. Selain itu, dia juga mengajarkan mengenai alat-alat/sarana-sarana yang dibutuhkan dan bentuk-bentuk promosinya, etika atau aturan tidak tertulis saat menghadapi klien, cara menangani beberapa masalah dengan klien, dll.


Penulis cukup terbuka menjelaskan beberapa suka duka menjadi coach. Penulis juga memberikan referensi-referensi, misalnya kamu pakai hosting "ini", nanti dilengkapi dengan "ini" kamu tinggal lihat contohnya di "sini", trus baca panduannya di "sini". Gitu-gitu. Ditunjukkan sekilas alternatif atau variasinya. Tapi ya gitu, cuma sambil lalu, bahkan terkesan nggak niat atau nggak bener-bener pengen memandu calon coach tersebut dengan detail. Alasannya karena ini bukan buku tutorial. Kamu yang gaptek harus aktif nyari sendiri tutorial lengkapnya di internet.


Penulis menjamin kalau semua sarannya dijalankan kamu akan berhasil menjadi coach yang laris dan berpendapatan sangat besar. Cuma, kalau semua sarannya dijalankan, biayanya juga besar. Karena segalanya itu dibuat sebaik mungkin agar tampak profesional dan layak dengan harga mahal.


Jadi, boleh-boleh aja kamu baca buku "Start Your Own Coaching Business" ini, tapi akan susah kalau kamu gaptek. Masih kerja lagi untuk nyari sumber-sumber lainnya. Lagipula, ini bahannya masih sangat kurang. Tergantung dengan tipe bisnis coaching yang mau kamu buka, tapi secara umum kalau modalmu cuma baca buku ini, belum siap/belum mantap untuk buka jasa tersebut. 



28 Juli 2022

Review Buku "Mind Management, Not Time Management"

"Mind Management, Not Time Management," productivity when creativity matter

Penulis: David Kadavy


Judul buku "Mind Management, Not Time Management" ini sangat antimainstream ya. Ini adalah teori/pendekatan baru dalam produktivitas sehingga aku tertarik membacanya. Aku lupa awalnya tahu dari mana. Mungkin dari IG. Trus aku nyari deh bukunya.


Jadi, David Kadavy, penulisnya itu menemukan teori baru. Dia ini suka mempraktekkan berbagai teori yang ada plus bereksperimen sendiri sehingga akhirnya menemukan mind management dan teori-teori lain yang disampaikan di dalam buku ini. Dia menjelaskan kenapa time management itu salah atau nggak berhasil, lalu dia menawarkan teori yang menurutnya lebih tepat dan lebih baik yaitu mind management.


Awalnya aku ragu baca buku ini karena covernya sangat nggak menarik dan ala-ala jadul, terkesan seperti buku yang mbosenin dan berat (aku baca yang covernya gradasi hijau). Sampai bab-bab awal juga sangat bertele-tele dan mbosenin. Baru ketika bacanya udah agak jauh, aku menemukan beberapa hal yang membuatku tertarik. 


Di sini aku baru memahami beda antara insight dan analisis, cara-cara bekerja efektif dan efisien mengikuti cara kerja otak dan psikologi, cara menyesuaikan ritme diri dengan perubahan siang dan malam, perubahan musim, perubahan lokasi/negara, lingkungan kantor, dll. Selain mengatakan bahwa manajemen waktu itu tidak efektif, penulis juga mengajarkan perubahan dalam menjadwalkan aktivitas, mengajarkan 4 tahap kreativitas, serta membuat sistem kreatif. Namun, itu versi penulis. Tiap orang harus mencari sendiri metode apa yang pas untuk dirinya.


Aku mendapatkan banyak ilmu pengetahuan dan metode baru dari sini, yang mungkin bisa kucoba untuk memperbaiki efektivitas dan efisiensi kerjaku. Meskipun, tak semua isi dari buku ini kupahami. 

Aku uda baca beberapa buku produktivitas tapi yang ini isinya bener-bener baru buatku. Selain ini, aku masih punya beberapa buku produktivitas lain yang sepertinya masing-masing juga punya pendekatan beda-beda, dan rencananya mau ku-kepo-in juga gitu. Tapi ... yang paling penting adalah diterapkan dulu, jangan kebanyakan baca. Diproses dan dicoba dulu.

Okey. 


Jadi, intinya buku "Mind Management, Not Time Management" ini patut untuk kamu baca.

27 Juli 2022

Review Buku "Bad Childhood, Good Life"

"Bad Childhood, Good Life," how to blossom and thrive in spite of an unhappy childhood

Penulis: Laura Schlessinger


Pertama baca buku "Bad Childhood, Good Life" ini kamu akan langsung masuk ke sensasi yang berbeda dari buku abuse/trauma/narsis kebanyakan. 


Penulis datang dengan sangat kuat dan walau dia bilang divalidasi dulu lalu ditunjukkan hard truth-nya, tidak terasa empatinya sama sekali. Ini tulisannya halus tapi muatannya kasar. Dia lugas, to the point, blak-blakan dan full nyalah-nyalahin korban/survivor.


Aku ga tahu apa ini termasuk metode CBT (Cognitive Behavior Therapy) apa nggak, yang jelas ini pake pendekatan otak (thinking) atau berpikir. Aku nggak tau metode sekeras ini cocok untuk semua tipe (tipe T/thinking/pemikir) dan (tipe F/feeling/perasa) atau cuma cocok untuk tipe T aja, yang jelas ini kasar dan kamu harus bener-bener menyiapkan mental sebelum baca.


Untuk metodenya sendiri, itu lebih ke pengalihan dan fokus ke dirimu sendiri. Kan ada buku-buku sejenis itu yang masih ngasih cara untuk mengatasi atau meminimalkan risiko kerusakan dari narsis/trauma (misalnya memberi contoh macam-macam manipulasi dari narsis/abuser itu), di sini nggak. Nggak ada. Dia cuma ngurusi moodmu, pikiranmu, perasaanmu, belief-belief-mu, atau tindakanmu biar kamu bisa berfungsi dengan baik. 


Sepertinya, penulis mikir bahwa apa yang kamu alami itu hanya masa lalu dan penyebab kamu bertindak seperti apa yang kamu lakukan sampai sekarang itu sudah nggak ada (abusernya nggak ada/penyebab traumanya udah nggak ada). So, kalau kamu masih bersama dengan abuser-mu, kayaknya buku ini nggak akan bisa berfungsi penuh.


Ingat ya! Kalau kamu mau baca buku ini pastikan kamu dalam kondisi high (siap mental), apalagi kalau kamu orangnya perasa atau mengalami kekerasan emosional, verbal, atau pikiran (gaslighting), harus sangat-sangat menyiapkan mental dulu. 


Buku ini sangat tidak kurekomendasikan. Sangat nggak sehat or maybe penulisnya sendiri narsis atau enabler/flying monkey.



26 Juli 2022

Review Buku "Do Epic Shit"

"Do Epic Shit"

Penulis: Ankur Warikoo


Aku tertarik dengan buku "Do Epic Shit" ini setelah melihat postingan bule di IG. Capture-nya bagus jadi aku baca deh.


Buku ini nggak hanya bagus, tapi luar biasa bagus. Meski gitu, tetep aja mengandung pembuka yang teraneh di dunia. Penulisnya ngomong, "Mungkin ini buku yang paling nggak berguna yang pernah kamu beli. Isinya nggak baru karena tujuanku cuma mengingatkan." Aneh banget, kan? Pada buku lain itu ya biasanya penulisnya promosi atau ngenalin bukunya di bagian pembuka. Lha ini malah penulisnya jelek-jelekin bukunya sendiri. Tapi... dia itu bohong banget. Ini buku yang suwuper keren. Dia adalah pembuka hati dan pikiran sekaligus. Pemikirannya dalem banget. Dan sejauh aku jadi kutu buku, kayaknya ini pemikiran ori dari dia. Jadi, ini adalah buku inspirasi sekaligus buku motivasi. Dia mengandung inspirasi dan motivasi tingkat tinggi. Buku yang sangat menggugah. Bahasannya macem-macem, dari uang sampai hubungan ada.


Kekurangannya adalah buku ini kurang sistematis (agak acak, kurang terstruktur, nggak terorganisir dengan baik, agak seperti hasil tulisan bebas/freewriting/tulisan dengan otak kanan/nggak diedit), bahasanya kasar, ada kisah pengalaman penulis yang bagiku terlalu banyak dan mengganggu, dan layoutnya bikin nggak enak dibaca. Layoutnya ini ngganggu banget karena aslinya buku ini bagus banget. Gara-gara layoutnya nggak enak jadi merusak kenyamanan membaca aja.


Ini buku yang sangat kaya dan sangat bagus, juga halamannya sedikit (100-an). Kadang orang hanya butuh "kata kunci/keyword" yang pas untuk bisa memperbaiki satu atau beberapa bidang kehidupannya. Jadi, nggak selalu butuh buku yang tebal, kecuali kalau sengaja nyari tutorial atau langkah demi langkah yang detail. Buku ini bukan buku tutorial seperti itu, dia lebih ke buku yang akan memberimu momen "AHA." 


Buku "Do Epic Shit" ini sangat kurekomendasikan.



25 Juli 2022

Review Buku "Do It Today"

"Do It Today," overcome procrastination, improve productivity, and achieve more meaningful things

Penulis: Darius Foroux


Masya Allah, buku "Do It Today" ini bagus banget. Buku habit dan procrastination biasanya memang bagus-bagus, tapi buku ini punya keunggulan tersendiri. 


Ini bukunya singkat, seratusan halaman dan lumayan to the point tapi dengan bahasa yang mengalir (storytelling). Bagus, cuma layout-nya yang kurang enak dibaca. 


Isinya itu tips-tips yang manjur dalam kehidupan penulis yang mungkin akan cocok juga buat kamu. Bagi penulis, hidup itu butuh manajemen perhatian (fokus), bukan manajemen waktu. Di sini kamu diajarkan untuk bertanggungjawab pada hidupmu, bisa segera pulih dari emosi burukmu, mengecek dan mengendalikan pikiranmu, dan menunjukkan 3 hal terpenting dalam hidupmu/kebahagiaanmu beserta parameter untuk mengetahui itu sudah tercapai atau belum.


Aku suka baca buku habit dan buku semacam ini karena mereka punya daya gerak bagiku untuk berubah. Kadang aku butuh pengingat isinya tapi kalo baca buku yang sama biasanya aku males, jadi aku baca lainnya yang isinya sama. Kadang aku lagi mager atau procrastination atau gembos jadi butuh buku-buku yang berprogress kontinyu walau sedikit semacam ini, nggak yang butuh perubahan-perubahan besar gitu. Kadang juga aku mau menerapkan lanjutannya karena ketika baca buku sebelumnya kan aku baru menerapkan satu atau beberapa doang, masih ada yang belum dan yang mungkin aku lupa, jadi baca lagi kekurangannya. Kadang aku juga nyari mungkin ada tips baru yang lebih cocok buatku/yang bisa kuterapkan. 


Nah, buku ini isinya nggak benar-benar baru sih buatku. Ada sih yang baru tapi ada juga yang seperti gabungan dari beberapa buku yang pernah kubaca. Sementara pada buku lain ada yang seperti cuma parafrase atau mengubah format dari 1 buku. Aku nggak ngomong itu kembar/sengaja nyontek tapi ada yang isinya itu sama, beda format aja. Kalau buku ini nggak, dia nggak kembar dengan 1 buku mana pun yang pernah kubaca untuk tema ini.


Aku nemu buku ini dari review orang di instagram. Liat capture isinya kok kayak bagus trus kubaca dan beneran bagus.


Sangat kurekomendasikan.



23 Juli 2022

Review Buku "Poor Charlie's Almanack"

Poor Charlie's Almanack

Penulis: Charles T. Munger


Poor Charlie's Almanack adalah buku tentang Charlie Munger, partner kerja sekaligus sahabat dari Warren Buffet.


Akhirnya aku baca juga buku ini. Ini tuebel banget. Aku kemarin agak terintimidasi dengan jumlah halamannya yang 500-an, jadi aku baca "The Almanack of Naval Ravikant" dulu. Meski sama-sama memuat kata Almanack, keduanya beda banget. Bukunya Naval Ravikant itu tentang kumpulan twitnya Naval yang berisi nasehat bisnis dan kehidupan pada umumnya. Selain lebih padat dan to the point, punya Naval hanya bahas biografi sambil lalu. Pelengkap aja. Wong jumlah halamannya juga gak sebanyak bukunya Charlie. 


Kalau almanaknya Charlie Munger ini bukunya lux banget, full color, dalemnya didesain kayak majalah. Layout tulisannya kayak majalah, foto dan gambarnya juga banyak dan gede-gede. Isinya full tentang Charlie: sifat dan kepribadiannya, kebiasaannya, pandangan orang-orang tentang dia, sejarah hidupnya, pelajaran hidup, pembelajaran, cara mengambil keputusan, dll. Ini lebih ke sosok Charlie-nya, kalau bukunya Naval dia lebih ke pelajaran hidupnya (langsung masuk ke tipsnya). 


Charlie itu blak-blakan orangnya dan sangat disiplin. Di buku ini dia banyak mengkritik berbagai pihak dan juga memaparkan tentang kesulitan-kesulitan orang kelas atas, salah satunya adalah bosen dimintai sumbangan terus. Dianggap wajib oleh orang lain untuk memberi sumbangan. 


Singkatnya, buku Charlie itu ingin memotret sosok Charlie secara keseluruhan lalu kamu bisa meneladani hal-hal baik dari dia agar kamu bisa sukses juga. Buku ini bagus banget buat bikin mata orang-orang yang kelasnya di bawahnya (dan cuma bisa ngiri, ngeluh, atau minta sumbangan) agar lebih terbuka. Charlie itu keras banget usahanya. Adapun beberapa masalah lain, ada yang mungkin sama aja sih dengan masalah orang pada umumnya, tapi Charlie fokus ke solusi dan hal-hal yang bisa dia kontrol aja. Nggak fokus ribut/ngerusuh kayak orang-orang pada umumnya yang levelnya di bawahnya.


Secara tampilan sebenarnya sudah didesain untuk enak dibaca, pendek-pendek bahasannya, tapi tulisannya kuecil-kecil, trus ya aku lebih suka yang kayak Naval Ravikant sih, yang langsung masuk ke tipsnya dan jumlah halamannya lebih sedikit. Lagian, buku Charlie ini lebih berat bahasa dan bahasannya bagiku. Tapi buku Charlie ini detail menggambarkan cara Charlie begini begitu, menyikapi ini dan itu. Yah tergantung kebutuhan dan selera kamu kali ya. Tapi jujur aku susah payah banget kalo harus baca atau nuntasin 500-an halaman, walaupun udah diselingi dengan layout yang baik dan gambar yang banyak dan gede-gede, serta walaupun aku ngerasa Warren Buffet, Charlie Munger, dan Naval Ravikant itu seperti punya beberapa bagian yang mirip aku. Maksudku, orang kan macem-macem, kalo role modelnya uda mirip kita, peluang untuk cocok metodenya dan berhasil itu kan lebih tinggi. Beda sama yang sifat atau kepribadian dasarnya memang jauh banget. Aku mikirnya gitu.


Buku ini bagus tapi bukan pilihan/seleraku. Dan kalo kamu minat dengan buku ini lebih baik nyari buku fisik/buku cetaknya aja. Mungkin akan lebih nyaman dibaca.

21 Juli 2022

Review Buku "It All Begins with Self"

"It All Begins with Self: how to discover your passion, connect with people, and succeed in life"

Penulis: Delano Lewis


"It All Begins with Self" adalah buku best seller 1 dalam 4 kategori dengan rating 4,9. Hebat, bukan?


Isinya semacam memoar atau otobiografi yang disertai dengan inspirasi-inspirasi, motivasi-motivasi, dan pelajaran-pelajaran hidup. Kesanku sih bentuknya kombinasi antara memoar/otobiografi dan buku non fiksi yang berbentuk panduan. 


Delano ini orang kulit hitam. Jadi, pada sejarah hidupnya itu masih banyak terdapat rasis. Untungnya, dia orangnya strategik, dapat kerjanya itu gampang banget dan ditempatkan ke bidang yang bener-bener beda pun dia bisa. 


Faktor utama pendukung kesuksesannya adalah dirinya sendiri (sesuai judulnya). Faktor pendukung utama lainnya adalah kedua ortunya yang percaya penuh pada anaknya. Faktor sisanya bisa kamu baca sendiri di buku ini. 


Delano ini lulusan hukum, tapi menariknya isi buku ini sangat halus dan rendah hati, nggak kaku. Selain itu, dia juga kayaknya perasa/sosial banget, bisa berkompromi, dan family man. Mungkin dia punya sisi plegmatis/konektor yang kuat juga, jadi beda banget sama orang-orang hukum yang sering kutemui selama ini.


Baca buku ini aku sampe kaget, auranya adeeem gitu. Santun sekali dan rendah hati. Enak sih bacanya. Jumlah halamannya pun sedikit, cuma 80-an.


Baca aja buku "It All Begins with Self" ini karena banyak pelajaran berharga di dalamnya.





18 Juli 2022

Review Buku "Danger: 50 Things You should Not Do with a Narcissist"

"Danger: 50 Things You should Not Do with a Narcissist"

Penulis: H.G. Tudor

Danger 50 Things You Should Not Do With A Narcissist


"Danger: 50 Things You should Not Do with a Narcissist" ini adalah buku yang menarik karena ditulis oleh narsis psikopat. Dia menulis berdasarkan dirinya sendiri dan risetnya atas sesama narsis seperti dia.


Oleh karena itu, ini sangat detail berisi sekalian tentang contoh-contoh perilakunya dan motif-motifnya, tapi lebih ke narsis sebagai pasangan (dalam hal asmara). Kamu akan tahu betapa danger-nya narsis ini dan betapa kamu akan merasa sendirian karena ga ada yang memahami (orang lain termakan taktik dia/terlalu berprasangka baik), termasuk orang-orang religius sekalipun nggak akan ada di pihakmu.


H.G. Tudor ini membuat paket buku tentang narsis dan buku ini hanya salah satunya. Dia juga punya youtube yang isinya juga menginformasikan tentang narsis, cuma menurutku suara dia di sana gak jelas jadi aku lebih suka baca bukunya.


Buku ini sangat worth it dan kupikir aku perlu membaca seluruh paket bukunya. Kamu juga sangat kuanjurkan. Ini dalem banget dan harus kamu pelajari karena korban narsis adalah asing, nyaris nggak akan ada yang memahami kondisimu. Kamu akan bisa baca tahapan-tahapan prosesnya saat narsis berusaha menguasai kamu. Dan dari bahasanya aja kamu akan bisa merasakan betapa kejam dan licik mereka.


Berhubungan dengan narsis itu benar-benar akan menyulitkanmu. Bahkan, walaupun kamu sudah mengetahui info tentang mereka sekalipun. Tapi kamu tetap perlu membekali dirimu dengan hal itu. Sisanya, teruslah berproses untuk bisa mengatasi makhluk-makhluk semacam mereka dengan lebih baik lagi.



12 Juli 2022

Review Buku "Dating a Narcissist : the Brutal Truth You Don't Want to Hear"

"Dating a Narcissist : the Brutal Truth You Don't Want to Hear," how to spot a narcissist on the very first date and set boundaries to become psychopath free

Penulis: Theresa J. Covert


Buku "Dating a Narcissist : the Brutal Truth You Don't Want to Hear" ini covernya kuning, antimainstream karena biasanya kuning itu warna yang ceria.


Sebelum bahas isinya, perhatikan judul dan sub judulnya. Seperti yang pernah kubilang, sebagian ahli itu nggak ngurus beda antara narsis, psikopat, sosiopat, APD, dan BPD. Mereka tumpang tindih dan kadang didapati dalam bentuk combo (1 orang mengidap lebih dari 1 sekaligus). Kebanyakan sih penulis nggak mentingin bedanya saat ngajar orang awam. Mereka lebih menyeragamkan jadi satu frase "orang toksik" gitu aja. Penulis ini ternyata termasuk yang menyamakan antara narsis dan psikopat atau mungkin maksudnya keduanya itu cara pendekatannya sama dalam asmara.


Ada banyak buku tentang narsis, tapi buku ini punya kelebihan karena temanya yang sangat spesifik. Penulis hanya membahas tentang narsis saat PDKT dan saat jadi pacarmu, serta caramu memulihkan diri kalau terlanjur terjebak dengan mereka. Selain temanya yang spesifik, daya tarik lain dari buku ini adalah frase "brutal truth"-nya dan warna kuningnya yang menyolok. Ngejreng banget.


Secara isi, terdapat beberapa tambahan yang tidak kudapati dari buku narsis lainnya. Tapi, buku ini menurutku lebih ke tips praktis untuk mengenali narsis saat PDKT, kencan (awal ngedate), atau pacaran. Ada buku yang lebih detail baik tentang pengenalan narsisnya, macam-macam mind games atau manipulasinya, ataupun mengenai cara mengkonfrontasi langsung narsisnya. Mungkin sengaja dibuat gitu karena penulis ini bikin buku berseri. Buku ini hanya salah satu bukunya yang membahas tentang narsis. Selain untuk lebih menyederhanakan ya mungkin biar dibeli semua gitu bukunya.

Untuk ukuran buku setebal 100-an halaman sih buku "Dating a Narcissist" ini sudah bagus.


Btw, setelah aku mendalami narsis cukup lama, aku mulai berpikir, salah satu hal paling berbahaya dari narsis adalah mind games (manipulasinya), makanya di berbagai buku yang bahas narsis sangat menekankan tentang hal itu.


So, buat kamu, terutama yang pemula or nggak tahu banget tentang narsis dan butuh tips praktis untuk cari jodoh yang aman, kamu bisa baca buku ini.





09 Juli 2022

Review Buku "Championship Writing"

"Championship Writing," 50 ways to improve your writing

Penulis: Paula LaRocque (America's foremost writing coach)


Buku "Championship Writing" ini beda sama "Writing without Bullshit" yang kureview kemarin ya. Kalau "Writing without Bullshit" isinya tentang menyederhanakan tulisan dan membuatnya lebih jelas dan tepat (presisi) dan terutama ditujukan untuk penulisan bisnis, sementara "Championship Writing" ini lebih luas isinya dan digunakan untuk penulisan secara umum, terutama koran.


Aku tertarik karena judulnya memuat angka. Jadi, kupikir itu akan berupa poin-poin pendek yang nggak akan bikin aku kehilangan fokus atau aku bisa milih bagian mana yang mau kubaca/kudulukan. Selain itu, angka 50 pada judulnya itu kayak jumlah yang banyak. Aku berharap bisa mendapat banyak tips perbaikan dari sini. 


Seperti yang pernah kubilang pada reviewku sebelumnya, penulis-penulis bule senior itu suka berbantah-bantahan di dalam bukunya. Penulis yang ini juga sama. Misalnya, dia beda pendapat dengan penulis "Writing without Bullshit" kemarin soal "menulis yang baik adalah menulis yang berisiko." Menurut Paula LaRocque, justru menulis jelek lah yang berisiko. Tapi, sebenernya walo keliatan beda, aslinya nggak. Beda sudut pandang aja. Yang dimaksud penulis "Writing without Bullshit" itu kalau kamu nulisnya tepat dan jelas, kalau salah ya pasti ketahuan dan akan merusak namamu or dipenjara maybe; sedangkan yang dimaksud oleh penulis "Championship Writing" ini kalau kamu nulis jelek ya kamu berisiko kehilangan pembaca, kehilangan pekerjaan, dan lain-lain. 


Perbedaan pendapat lain misalnya dengan penulis "On Writing Well," yaitu tentang penggunaan "aku." Tapi bukan beda seperti yang dimaksud oleh penulis "On Writing Well" dalam bukunya. Bukan tentang penggunaan "aku" atau "kita", tetapi Paula LaRocque ini menyarankan kita untuk jangan ngomong tentang diri sendiri, carilah sisi menarik dari bahan tulisanmu itu. Kupikir ini beda juga dari pahamnya para storyteller yang suka ngomongin diri sendiri, termasuk yang pahamnya kuikuti.


So, buku "Championship Writing" ini mengandung 50 tips menulis. Isinya campuran dengan tips editing. Ada grammar, pronoun, beda who dan whom, beda they dan them, peletakan subyek, penyederhanaan kalimat, kata-kata yang dimaknai salah, peletakan koma, mencegah masuknya pendapat wartawan dalam berita, dll. Ada contoh before-after nya juga. Tapi tetep aja ini mbingungi bagiku. Hanya sedikit yang bisa kupahami dari contoh-contohnya. Dan, nggak semua isinya penting untuk penulis yang tulisannya tidak berbahasa Inggris. Kalau aturan penempatan koma sih masih sama kayaknya antara kita dan sana, tapi kalau tentang kata-katanya (kata-kata bahasa Inggris yang diartikan salah) kita nggak butuh itu. Itu lumayan banyak juga dibahas. 


Baca "Championship Writing" ini mungkin akan membuatmu lega karena ternyata bule-bule pun banyak yang nggak bisa berbahasa Inggris dengan baik dan benar. Bukan orang kita doang lho. Orang sana juga masih nggak bisa bedain he apa his apa him, who apa whom, dll. Jadi, untuk orang yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris lebih dimaklumi lagi lah ya.


Oh ya, meskipun buku ini susah kupahami, tapi kalau dibandingkan dengan "On Writing Well" kayaknya mending ini deh. "On Writing Well" itu lebih susah lagi untuk kupahami. Dan kalau kubandingkan dengan "Writing without Bullshit" bahasanya lebih sederhana "Writing without Bullshit" dan pemadatan kata/kalimatnya juga lebih padat "Writing without Bullshit." 


Tapi, itu semua kan versi aku yang kemampuan bahasa Inggrisnya terbatas. Mungkin kamu atau orang lain beda. Jadi, coba aja baca semuanya.



06 Juli 2022

Review Buku "The Narcissism Recovery Workbook"

"The Narcissism Recovery Workbook," skills for healing from emotional abuse

Penulis: Brenda Stephens


Satu hal utama yang saya soroti dari "The Narcissism Recovery Workbook" ini adalah buku ini pro korban/survivor. 100% aman. Nggak ada kata-katanya yang nggak enak buat korban/survivor. Dan dia memahami bahwa di kalangan ahli pun banyak yang nggak bener-bener paham mengenai narsis dan  masalah yang ditimbulkannya ini.


Buku ini berwarna tapi gak full. Secara layout menarik, sayang tulisannya kecil banget. 


Kalau di buku-buku narsis yang pernah kubaca kan biasanya solusinya gitu-gitu aja, jadi aku ngintip khusus yang workbook ini beda apa nggak. Lumayan beda sih solusi di buku ini. Mungkin penulis dapet sendiri dan nggak tiru-tiru ahli lain. 


Jumlah halaman totalnya ada 146, tapi itu termasuk teori-teori/pengenalan tentang narsis dan contoh-contoh kasusnya. 


Untuk solusinya, ini lebih ke perbaikan diri sendiri ya, bukan tentang mengatasi narsisnya. Meskipun solusinya agak beda dari buku-buku serupa, aku lihatnya tetep gimana... gitu. Solusinya masih serumpun or mirip-mirip lah ya dan yah... gitu deh.


Untuk ukuran workbook yang tipis, ini udah lumayan banget, cz tadi aku sempat ngintip workbook lain juga nggak terlalu ada kelebihannya walaupun tebel. 



05 Juli 2022

Review Buku "108 Proven Split Test Winners"

108 Proven Split Test Winners: simple tweaks you can make to your website, so you can make more money now!

Penulis: Russel Brunson


"Don't blindly follow. Test everything!" Kata-kata ini sangat powerful dan bervibrasi di diriku. Saat aku lagi mager dan seperti lupa sesuatu, kata-kata tersebut menjadi pelecut dan pengingat bagiku. Itu adalah kata-kata yang kudapat dari buku "108 Proven Split Test Winners," yang ditulis berdasarkan pelajaran hidup yang dialami oleh penulis. 


Waktu baca "108 Proven Split Test Winners" ini aku tuh kaget karena isinya lebih bagus dari ekspektasiku. Bayanganku isinya bakal mbosenin banget, tapi ternyata full color, layout-nya kayak majalah, dan penuh gambar gede-gede. 


Isinya sebenarnya daging banget cz ini rahasia para marketer ahli dan sudah mereka uji, tapi aku mewakili orang awam, non TI, dan non marketer masih sulit menerapkan atau memahaminya. Iya gambarnya aku paham, tapi bikinnya gimana aku nggak ngerti. Apa itu termasuk landing page, atau uda bentukan websitenya dan kita tinggal ngisi or gimana aku nggak ngerti. Blaz. Ga ada step by step-nya. Penulis langsung hantam aja gitu dengan hasil eksperimen-eksperimennya yang wow itu. Dan kamu juga harus tau, masing-masing eksperimen ini nggak ada urutan nomernya (walaupun judulnya memuat angka), jadi kamu harus nandain or nginget-nginget sendiri halamannya pas baca biar nggak kehilangan jejak (banget). 


So, menurutku buku ini cocoknya untuk orang yang punya dasar IT atau digital marketing. Ini akan bantu mereka banget, bahkan mungkin akan nge-boost (melejitkan) hasil mereka. Bukan untuk pemula kayak aku.



04 Juli 2022

Review Buku "17 Anti Procrastination Hacks"

"17 Anti Procrastination Hacks," how to stop being lazy, overcome procrastination, and finally get stuff done

Penulis: Dominic Mann


Buku "17 Anti Procrastination Hacks" isinya sudah terlihat jelas ya pada judulnya. Ia buku yang sangat singkat. Cuma 47 halaman. Cocok banget buat kamu yang lagi mager or procrastination. Enteng kan, cuma 47 halaman. Apalagi, judulnya memuat angka. Jadi, ini itu terbagi dalam 17 bahasan yang pendek-pendek. Nggak bikin capek mata maupun otak.


Meski judulnya procrastination, isinya ada miripnya sama buku habit. Nggak semuanya baru sih tipsnya, tapi bisa banget buat dicoba. Dari 17 tips tadi, beberapa tips isinya sama sih intinya, beda judul aja. So, tips aslinya itu di bawah 17. Dan kalau kamu lagi super duper mager, uda disiapin juga ringkasannya di bagian paling belakang. Wenak tho! Dikit dan enteng banget buat dicoba. 

Jadi, kenapa gak dicoba? Coba aja atuh!


Review Buku "Narcissistic Mothers"

"Narcissistic Mothers," how to handle a narcissistic parent and recover from CPTSD

Penulis: Caroline Foster


Di antara buku tentang narsis, buku "Narcissistic Mothers" ini spesifik membahas tentang ortu yang narsis, tepatnya ibu yang narsis. CPTSD adalah salah satu efeknya. Jadi, judulnya dijadiin sepaket, bahas narsis dan CPTSD.


Dari warna covernya, buku ini aneh ya, pake warna kuning yang biasa mengindikasikan keceriaan atau kebahagiaan. Tapi, gambarnya menyolok banget tentang ibu yang nyakitin anaknya.


Isi buku ini lebih ke teori. Teorinya lumayan detail. Pemahamannya bagus. Tapi, untuk solusi masih mengawang-awang. Ngglambyar istilahnya. 


Yang kusuka dari buku ini, penulis 99% pro korban/survivornya. Lumayan aman untuk feel mu dan kalo di buku lain masih banyak yang nyalah-nyalahin korban or punya kecenderungan besar untuk menuduh korban akan/pasti jadi narsis berikutnya, buku ini nggak. Cuma 1%. 


Ada 2 hal yang unik sih tapi satunya aku lupa. Di sini, neglect itu juga digolongkan sebagai abuse. Kapan hari aku pernah nonton ahli lain di IG tidak menggolongkan neglect sebagai abuse. 


Ya, intinya penulis pemahamannya bagus tapi kalau kamu nyari solusi dari buku ini kayaknya nggak dapet deh. Istilahnya kayak "Ah gitu doang." Lebih baik nyari solusi dari buku lain yang lebih spesifik dalam menjelaskan hal itu.

22 Juni 2022

Review Buku "Writing without Bullshit"

"Writing without Bullshit," boost your career by saying what you mean

Penulis: Josh Bernoff


Baca judulnya kok kasar gitu, tapi pengen belajar isinya. Isinya juga sama, ada kasarnya. Entah kenapa beberapa penulis bule senior yang bukunya pernah kubaca juga ada kasar-kasarnya gitu. 


Ini buku tentang menulis singkat, padat, dan tepat. Ia bukan satu-satunya buku tentang menulis singkat yang pernah kubaca, tapi aku gak ingat buku yang mana aja, takutnya keliru, karena yang pernah kubaca banyak.


Intinya, buku "Writing without Bullshit" ini nggak bener-bener beda dengan buku-buku lain tadi. Menurut penulis, bedanya adalah buku ini untuk tujuan bisnis. Jadi, belum tentu cocok untuk keperluan non bisnis. Josh Bernoff sendiri juga seperti beberapa penulis buku yang pernah kubaca itu, mendobrak beberapa aturan. Hal ini belum tentu diterima dalam tujuan penulisan non bisnis.


Jenis-jenis tulisan yang dicontohkan misalnya email, blog, dan profil perusahaan. Ada contoh bentuk "sebelum" dan "sesudah"-nya, tetapi masih ganjil dan sulit kupahami, misalnya pada bagian profil perusahaan, bagaimana caranya pembaca tahu apa saja bidang atau pelayanan dari perusahaan tersebut kalau isinya terlalu umum. Begitupun tentang jumlah atau subyek dan semacamnya yang harus tepat, itu seperti kita tidak boleh membuat taksiran, keraguan, atau bahkan jatuhnya jadi generalisir. Seperti itu kebingunganku. Ada plus minus di sini. Plusnya jika angka-angka yang disebut itu tepat/benar. Minusnya, generalisasi yang dilakukan bisa sangat berbahaya/fatal. Dia menjadikan sesuatu itu mutlak (semua gitu), padahal tidak. Meski yang dianggapnya sedikit sekalipun, "tidak semua" tetap tidak bisa menjadi "semua." Ini masih agak gimana gitu lho buatku. Masih bertentangan dengan hati nurani/nilai-nilaiku.


Baca ini masih sulit bagiku. Buku ini sebagai hasil nyata dari ajaran-ajaran Josh Bernoff bagiku masih kurang singkat dan jelas, belum clear. Tapi, selama aku baca buku-buku bule lain tentang teknik menulis ya gitu-gitu. Buku ini termasuk yang mending. Entah karena kemampuan bahasa Inggrisku yang minim atau memang sulit dipahami aku kurang tahu. Juga, pada bagian menilai kebenaran data-data, aku masih belum paham.


Saat nulis review ini aku nyadar kalau sudah melanggar beberapa ajarannya. Mungkin perlu dilatih dulu atau sengaja kuambil beberapa saja. Rencananya akan kupraktekkan langsung dalam salah satu lomba nulis yang mau kuikuti dalam 1-2 bulan ini. Kebetulan lomba itu cuma punya syarat jumlah kata maksimal, bukan minimal dan bukan rentangan. Soalnya, kalau habis belajar cara menulis singkat seperti ini kadang aku jadi terlalu singkat nulisnya. Akhirnya, aku sering kesusahan mencapai jumlah kata minimal yang disyaratkan dalam lomba, mencapai jumlah minimal halaman buku, terlalu kaku kedengarannya, dll. Itu tantangannya.





11 Juni 2022

Review Buku "Feeling Good, the New Mood Therapy"

"Feeling Good, the New Mood Therapy" : the clinically proven drug-free treatment for depression

Penulis: David D. Burns, M.D.


"Feeling Good, the New Mood Therapy" ini adalah buku tentang cara berbahagia/berperasaan baik, yang ternyata dihubungkan dengan depresi. Jadi, beda dia dengan buku happy lainnya adalah dia ini psikologi banget/terapi banget, bukan dalam bentuk yang lebih bebas atau lebih populer.


Sebenarnya dia lumayan padat, banyak terapi atau metode yang bisa kamu coba di dalamnya, tapi ini bahasanya formal dan terlebih lagi tulisannya itu kuecil-kuecil dan lempeng/lurus banget, nggak enak layoutnya. Nggak enak dilihat dan dibaca. 


Soal isi, padat berisi dengan jumlah halaman lumayan tebal dan tulisan kuecil-kuecil. Jadi padat banget aslinya. Kalau secara metode sendiri sih ada yang baru dan ada yang sudah biasa di buku-buku lain. Banyak juga yang seperti jurnaling/bikin tabel-tabel, bikin-bikin alasan atau jawab-jawab pertanyaan yah memang kayak terapis banget gitu. Kayak panduan saat kamu terapi atau bisa juga untuk buku pegangan buat para terapis. Dia memuat cara mengatasi penunda-nundaan, sabotase diri, kritik yang mengganggu, dll.


Nggak semua isinya aku setuju sih dan aku lebih prefer ke buku lain (yang aku lupa judulnya), tapi karena terapi di buku ini juga banyak banget mungkin kamu bisa milih atau nyoba satu atau beberapa di antaranya, barangkali ada yang cocok buat kamu.


Kalau aku pribadi sih, misal lagi nggak feeling good, baca buku ini yang nggak enak dilihat dan dibaca itu ya berat juga. Butuh usaha lebih yang mungkin bisa bikin tambah betmut. Tapi kalau kepepet ya mungkin tetep dibaca atau nyari buku yang formatnya lebih enak (misalnya buku kemarin yang aku lupa judulnya itu). Nggak kesuwen gitu lho nyari bagian yang kita butuhkan/bisa bantu kita.



09 Juni 2022

Review Buku "Lasting Relationships"

"Lasting Relationships," how to recognize the man or woman who's right for you

Penulis: Myron Brenton


Buku "Lasting Relationships" ini adalah buku relationship yang luar biasa bagus. Dia daging banget dan nggak bisa di-speed reading. 


Di sini itu kamu akan mendapatkan banyak hal yang bersifat praktis dan disertai parameter-parameternya. Gampangnya itu dia memberikan cara cepat dan scanning kilat tapi menyeluruh pada diri calon serta cara mengukur kekuatan dan kelemahan kalian, kira-kira kalian cocok atau tidak. 


Misal kamu nyari yang cerdas, cara mengetahui kecerdasannya itu gimana. Ada banyak sifat/karakter yang dicantumkan di sini beserta cara cepat untuk mengecek atau memprediksinya.


Tak lupa penulis juga memberikan contoh-contoh kasus di dalamnya. Singkat-singkat doang tapi ngena, memperjelas info sebelumnya (bukan mengulang ya). Itu juga aku suka, seperti nggak mubazir (bertele-tele/pemborosan kata dan waktu) jadinya. 


Pokoknya aku suka banget buku ini. Aku dapat insight baru dan tambahan ilmu darinya, yang mungkin bisa bantu aku untuk dapat jodoh yang terbaik dan sesuai harapan.

08 Juni 2022

Review Buku "The Little Black Book of Big Red Flags"

"The Little Black Book of Big Red Flags," relationship warning signs you totally spotted but chose to ignore

Penulis: Natasha Burton, Julie Fishman, dan Meagan McCrary


"The Little Black Book of Big Red Flags" ini adalah buku tentang red flags yang bagus untuk dibaca.


Dia tidak bertele-tele, ditulis dengan cara langsung masuk ke red flag-red flag-nya. Total ada 20 red flags yang dibagi ke dalam 5 kelompok red flag, plus 50 red flag rules di dalamnya.


Aku suka sih dengan sistematika atau cara penulisannya. Bahkan, walaupun ada contoh kasusnya, ceritanya itu pendek-pendek. Cuma, dia punya definisi yang aneh tentang player. Entah apakah itu terkait budaya di sana atau tidak. 


Buatku pribadi, red flags di dalamnya nggak terlalu baru. Sebagian besar sudah kuketahui. Tapi entah ya kalo aku yang sedang dalam hubungan dan bukan aku sebagai pengamat, aku masih "sadar" dan bisa lolos nggak.


Jadi, kalau dibandingkan dengan buku red flags yang lain, red flags di sini itu nggak terlalu baru atau bahkan mungkin nggak baru sama sekali, tapi nyatanya masih banyak cewek-cewek yang belum ngerti atau belum bisa melepaskan diri darinya. Jadi, ini bermanfaat banget gitu lho.


Sejauh yang kubaca, buku-buku red flags itu bagus-bagus sih. Dan buku "The Little Black Book of Big Red Flags" ini bisa jadi salah satu pilihanmu.



Review Buku "Make Your Bed"

"Make Your Bed," little things that can change your life and maybe the world

Penulis: admiral William H. McRaven


Buku "Make Your Bed" ini sebenarnya judulnya nggak menarik bagiku, terasa lebay, nggak sinkron, dan nggak logis. Apa hubungannya merapikan kasur dengan mengubah dunia? Hubungannya masih jauuuh banget. Tapi, ngelirik halamannya yang cuma 75, ya udahlah diintip aja.


Pas lihat daftar isinya, wow bagus lho. Aku jadi berekspektasi tinggi terhadap isinya. Tapi setelah kubaca ... o o kok gini ya? Mbosenin. Story telling yang gimana gitu tentang dunia angkatan. Kalau kamu ngikutin blogku kamu pasti tau aku nggak suka story telling yang bertele-tele. Nggak sabar akunya. Jadi, yang bilang story telling itu teknik terbaik dan disukai semua orang, no, ga ada metode yang fit for all. Orang itu dewe-dewe seleranya.


Jadi, baca buku ini itu langsung ke intinya aja, yaitu 1 atau 2 paragraf terakhir pada tiap bahasan. Itupun bagiku tetep biasa. Aku nggak dapat sesuatu yang baru darinya.


So, nilainya dengdong bagiku.

Review Buku "You can be Happy No Matter What"

 "You can be Happy No Matter What," five principles for keeping life in perspective

Penulis: Richard Carlson


Buku "You can be Happy No Matter What" ini berisi tentang 5 prinsip untuk bahagia, apa pun yang terjadi. 


Percaya nggak sih, aku tertariknya pada frase "no matter what"-nya. Dia menawarkan apa sih? Emang bisa gitu?


Aku memandang buku ini netral ya, tapi cenderung reject, dalam arti bagiku itu nggak gitu, tapi mungkin saja dia benar. Aku terbuka untuk kemungkinan itu. Mungkin aku aja yang nggak cocok dengan metode dia atau nggak/belum bisa nerapinnya. 


Intinya, di buku ini itu bahagia itu ada dalam kendalimu sendiri. Kalau kamu bisa mengontrol pikiran, perasaan, moodmu, dll tetap baik, kamu pasti nggak akan terpengaruh dengan hal-hal di luar kamu yang bikin nggak bahagia. Idenya itu mirip "detachment" kalau di istilah psikologi. Dan menurutku itu akan berhasil dalam kadar tertentu. Hanya membantu, tidak benar-benar membuatmu full bahagia. Itu bukan berarti kamu Borderline Personality Disorder (BPD) karena terpengaruh lingkungan, tapi hanya terkait kapasitas kemampuan kamu. Ada upaya lain yang tetap harus dilakukan. 


Real aja ya, aku sering dalam kondisi baik atau sangat baik, tapi negativitas lingkungan itu menggempur dengan sangat kuat, seberapa bisa kamu mempertahankan kondisi baikmu? Atau kamu akan menyalahkan dirimu sendiri seharusnya kamu bisa meningkatkan level positivitas pikiran, perasaan, dan moodmu sampai bisa menangani setinggi dan sebanyak apapun, segencar apapun negativitas dari luar?


Yah seperti itu. Aku cenderung "no" terhadap isi buku ini. 

05 Juni 2022

Review Buku "Budgets Don't Work, but This Does"

Budgets Don't Work, but This Does

Penulis: Melissa Browne


Salah satu hal yang nggak kusukai/kusetujui adalah ketika orang mengatakan "Kamu hanya bisa (mencapai tujuanmu) dengan cara 'ini'." Itu karena aku percaya kalau orang itu beda-beda dan karena masih dimungkinkan ada penemuan/pemahaman baru di masa mendatang.


Kalau kamu nggak cocok dengan suatu metode, belum tentu kamu yang gagal/bermasalah. Bisa juga metodenya yang nggak cocok buatmu. Ada teknik yang lebih tepat untuk kamu.


Nah, seperti itu pula Melissa Brown menyinggung di dalam bukunya, "Budget don't work, but this does," nggak ada metode itu yang fit for all. Dia mengajukan teori baru untuk memperbaiki keuanganmu, yaitu dengan mengenali financial phenotypes-mu (fenotip keuanganmu). 


Ada 4 fenotip keuangan utama dan beberapa fenotip kombinasi yang dipaparkan di sini, masing-masing dengan kekuatan dan kelemahannya, beliefnya, mottonya, tantangannya, relationship-nya, serta cara mengatasi kondisi/sabotase dirinya saat stres.


Aku nyoba ngisi ini dan emang bener aku gitu, kebiasaanku juga gitu, walau aku uda tau sih karena selain salah satu kecerdasan utamaku memang intrapersonal aku sering melakukan refleksi diri, memang mendalami psikologi, dan lumayan sering ngisi tes-tesan. 


Dan untuk solusi memang harus nyari yang pas dan dicoba dulu. Pada beberapa buku yang kubaca memang gitu, penulisnya berproses dulu nyari dan mraktekin teori-teori dari orang lain, baru kemudian nemu apa yang work buat dia. 


Di buku ini kebetulan financial phenotypes penulisnya sama denganku. Jadi, aku dapat inspirasi tambahan dari apa yang sudah dicoba dia dan work di dia.


Oh ya, ngomong-ngomong soal judulnya yang ada garis coretnya pada kalimat "Budget don't work," aku ngiri lho cz aku bikin naskah dengan judul yang kuberi keterangan coret kayak gitu enggak lolos. 


Udah ah, jadi ngomongin aku. 

Intinya gini, kalau kamu uda nyoba berbagai metode keuangan dan nggak berhasil, mungkin itu nggak cocok dengan fenotip keuanganmu. Coba baca buku ini untuk lebih memahami fenotip keuanganmu itu yang mana dan solusi apa yang sekiranya lebih cocok untuk tipe seperti kamu.

04 Juni 2022

Review Buku "You Don't Owe Anyone"

"You Don't Owe Anyone," free yourself from the weight of expectations

Penulis: Caroline Garnet McGraw


Pertama baca judul buku "You Don't Owe Anyone" ini, ia langsung menyedot perhatianku. Abisnya, judulnya unik sih. Beda sendiri gitu. Menyolok di antara yang lain. Antimainstream.


Dan memang ada kondisi saat orang itu merasa berutang pada orang lain atau orang lain yang seolah memaksa kita untuk seperti itu, berutang padanya. 


Kalau mau jujur, apa sih salah satu hal terberat sekaligus perusak kebahagiaan? Jawabannya ekspektasi. Beberapa kali aku nemu di buku-buku relationship rumah tangga hancur atau memburuk gara-gara ekspektasi yang tidak kesampaian. Dalam hal lain pun sama aja kurasa.


Buku "You Don't Owe Anyone" ini berusaha membebaskan kita dari beratnya ekspektasi. Isinya sih seputar boundaries, self care, self compassion, dan semacamnya pada berbagai kondisi yang membuat kita merasa berutang.


Di sela-sela bahasannya, tanpa sungkan penulis menyisipkan pengalaman-pengalaman pribadinya.


Dan yang paling keren dari buku ini adalah ia warm/hangat, empatik, dan sangat safe (aman). Bahasanya itu sangat ramah, pengertian, dan nyaman. Maybe aku bisa merekomendasikan dia sebagai salah satu terapis yang patut kamu coba. 


I know banyak buku yang memuat pengalaman pribadi penulisnya juga, tapi itu nggak bikin tulisannya itu otomatis empatik, halus, dan hangat. Yang kasar atau setengah kasar juga banyak. 


Jadi, coba deh kamu baca buku "You Don't Owe Anyone" ini. Selain merasa relate dan dimengerti, kamu mungkin akan dapat solusi dari masalahmu juga. 

03 Juni 2022

Review Buku "The Perfect You"

"The Perfect You," a blueprint for identity

Penulis: Dr. Caroline Leaf


Dalam rangka lebih memahami diriku, aku nemu judul buku "The Perfect You" ini. Blurb-nya bagus banget. Sangat menarik. Penulis mengatakan punya metode yang bisa memotret kepribadianmu secara lebih permanen dibanding metode-metode lainnya. Jadi, aku nyari bukunya. Selama ini kamu percaya metode apa, mungkin kamu meyakini kamu permanen pada tipe kepribadian tersebut, padahal nggak. Tipe itu bisa berubah-ubah. Kalau di buku ini nggak, hal-hal tentang dirimu di sini ini lebih esensial dan lebih permanen dari itu.


Buku ini itu buerat banget baik dari cara menulisnya maupun isi atau kontennya. Cocoknya sih minimal untuk dibaca mahasiswa, akademisi, atau yang lebih tinggi dari itu. Di luar golongan itu juga bisa sih baca, tapi langsung masuk ke isiannya/tesnya aja di bagian belakang buku ini. Meski gitu, ngisi tesnya juga nggak mudah bagiku. Tesnya tentang multiple intelligence/kecerdasan majemuk. Pada masing-masing tipe kecerdasan itu ada pertanyaannya tentang dirimu. Nah, itu aku yang tetep nggak ngerti diisi apa. Aku tetep nggak paham diriku sendiri. Menurutku sih, untuk bisa ngisi itu kamu perlu memonitor baik-baik tentang perasaanmu, pikiranmu, dan pokoknya segala tentang kamu. Pada tahap ngisi tes-tesan ini aja aku belum berhasil, jadi aku nggak bisa meloncat ke tahap berikutnya, yaitu memanfaatkan hasil tesmu ini pada bidang-bidang atau kondisi saat performamu optimal.


Selain itu, dia punya kesulitan lain. Kamu harus ngerti perbedaan tipis di antara kata-kata yang bersinonim dalam bahasa Inggris. Nah, itu juga aku nggak ngerti. Mungkin butuh kamus Oxford atau ya intinya kamu yang paham bahasa Inggris yang bisa bedainnya. Bedanya aja aku nggak paham, gimana ngisinya?


I don't get it. But, maybe you are different. Just try to read it. 



Review Buku "The Mate Map"

"The Mate Map," the right tool for choosing the right mate

Penulis: Steven Sacks


"The Mate Map," judul yang antimainstream ya. Judul dan subjudul seperti ini punya kelebihan dan kekurangan sekaligus. Kelebihannya adalah dia unik dan langsung jadi pembeda di antara buku relationship lainnya, terutama kalau kita lihat langsung dan tidak mencari via online atau melalui kata kunci (keyword). Sebaliknya, kalau kita nyari dengan kata kunci (yang bener-bener belum tau buku ini sebelumnya), mungkin buku ini nyaris tidak akan ketemu. Baik judul maupun subjudulnya itu tidak memuat kata-kata kunci yang biasa digunakan orang untuk mencari jodoh.


Pada bagian awal penulis menjelaskan kalau metode yang dipakainya adalah berdasarkan analisis. Aku udah mbatin, "Wah, cocok banget nih kan kelebihanku emang di analisis." Begitu dibaca ... ternyata rumit sodara-sodara. Aku paham sih, cuma penerapannya agak mbuh-mbuhan gitu lho ya. Nggak yakin gitu bisa nerapin apa nggak. Terutama saat merating mana yang paling krusial (deal breaker) dan mana yang nggak serta berapa yang harus terpenuhi aspek/parameternya.


Intinya di sini itu penulis memberikan beberapa aspek terpenting untuk diamati saat mencari jodoh. Masing-masing aspek tersebut punya sub-sub aspek atau parameter-parameter lagi. Trus kamu disuruh melakukan refleksi sejauh mana tingkat kepentingan/kebutuhanmu akan aspek tersebut, disertai dengan alasan dan rating/grade-nya. Setelah itu kamu mengamati calonmu memenuhi apa nggak, berapa yang dipenuhi dan berapa yang nggak. Trus dilakukan skoring akhir, skornya masuk ke green flag, yellow flag, atau red flag. Kalau masuk green dan red kan sudah jelas ya, kalau masuk yellow kudu diproses lagi. Yellow flag ini bisa diperbaiki dari sisi kamu atau dari sisi dia atau dari kalian berdua, butuh didiskusikan nggak, gimana hasilnya, dan ada perbaikan apa nggak. Kalau ada perbaikan yang bikin skornya masuk green flag berarti gol, udah terima aja. Kalau nggak ada perbaikan or skornya belum termasuk range green ya berarti dengdong, gak baik sebagai calonmu. Tinggalin.


Sebenarnya sih buku ini unik, beda banget dari yang lain, walaupun secara inti masih ada benang merahnya sih (ini buku penemuan pribadi tapi secara teknik seperti teknik lain yang dibahasakan ulang atau dimodifikasi). Aku pribadi melihatnya rumit, tapi emang aku juga belum nemu buku tentang choosing the right one itu yang sederhana. Sejauh ini kebanyakan rumit penerapannya atau kalau nggak ya mbingungi. Tapi menurut penulis cara ini efektif. Banyak orang yang sukses setelah menerapkannya. 


Gak papa baca aja. Bagus kok.

Review Buku "54 Practical Tips for Dealing with Psychopaths and Narcissists"

54 Practical Tips for Dealing with Psychopaths and Narcissists

Penulis: Dr. David Mc. Dermott


Ada banyak hal yang bikin aku mutusin untuk baca buku yang mana. Kalau buku "54 Practical Tips for Dealing with Psychopaths and Narcissists" ini kupilih karena judulnya. 


Perhatikan, judulnya sangat menohok dan to the point, beda dengan buku-buku tentang narsis dan psikopat pada umumnya. Dia langsung menunjukkan "Ini lho saya punya solusinya. Nggak cuma 1, ada 54 malah." 


Kalau kamu sering baca buku tentang narsis atau psikopat, kamu mungkin tau kalau susunannya ya gitu-gitu aja, solusinya juga gitu-gitu aja. Biasanya cenderung 1 atau 2 solusi utama. Paling banter juga nggak sampai 54 solusi I guess. Dan jangan lupa, kalau ngomongin narsis dan psikopat kita ngomongin orang dalam spektrum menyebalkan, toksik, sampai berbahaya. Jadi, kita butuh buku sesimpel mungkin yang bisa memandu kita untuk segera dapetin solusinya.


Nih buku itu enak banget dibaca. Selain halamannya sedikit, poin-poinnya itu sudah langsung memotret ciri-ciri narsis dan psikopat sekaligus langsung memberikan solusinya. Ini detail banget dalam menjelaskan teknik manipulasi yang dilakukan oleh narsis/psikopat tersebut, efek-efeknya terhadap korbannya, serta apa yang seharusnya/tidak seharusnya dilakukan oleh korbannya. Ini sangat spesifik di dalam hal ini dan banyak memuat hal yang tidak ada di dalam buku narsis/psikopat yang lain.


Kalau kubilang sih buku ini cocok untuk kamu yang sudah punya pengetahuan dasar tentang narsis dan psikopat atau yang butuh solusi kilat karena gangguan yang kamu alami lumayan intens atau danger atau mengalami pikiran yang sangat berkabut/bingung/konslet karena hasil manipulasi dari psikopat/narsis tersebut. Dia memang memuat juga tentang ciri-ciri narsis dan psikopat tetapi nggak terlalu melebar. Dia lebih mendalam dan lebih ke solusinya. Kalau kamu lebih butuh untuk mengetahui teori-teorinya, jenis-jenis narsis dan psikopat secara spesifik, latar belakang, dll, kamu lebih cocok baca buku lain. Buku ini bukan yang kamu cari.


Buku "54 Practical Tips for Dealing with Psychopaths and Narcissists" ini very recommended untuk dibaca. Harus banget dan wajib buanget dibaca. 



29 Mei 2022

Review Buku "Mr. Alexander's Four Steps to Love"

"Mr. Alexander's Four Steps to Love," the simple way to find your dream partner

Penulis: Alexander Stadler & Jennifer Worick


 "Mr. Alexander's Four Steps to Love" ini termasuk buku yang unik kalau dibandingkan dengan buku relationship lainnya. Ini lebih mirip buku untuk meningkatkan self esteem dan self confidence. Ya ada sih bagian relationshipnya, misalnya tentang kriteria, tempat mencari jodoh, dll tapi dominannya ya tentang self esteem dan self confidence tadi, alias hubunganmu dengan dirimu sendiri.


Sepintas kayak nggak terlalu nyambung ya, kok isinya malah tentang hubungan dengan diri sendiri, tapi sebenernya kayak buku yang barusan kureview sebelum ini, hal itu berhubungan erat dengan potensi untuk mendapatkan pasangan yang sehat (mendukung healthy relationship) dan mencegah the Wrong Man/the Loser Man.


Isinya lebih meriah dan full color daripada buku tentang "the loser man" tadi, lebih artistik juga. Kalau yang buku "the loser man" tadi lebih mirip majalah, kalau yang ini lebih mirip komik berwarna: lebih luwes, lebih cheerful, lebih menarik, dan lebih enak dipandang dan dibaca. Pendeknya, mata dan otak sama-sama senang. Nggak cuma itu, isi dan penyajiannya kreatif banget. Ide-idenya penuh kebaruan.


Aku suka sih buku ini. Ada ilmu baru yang bisa kudapat darinya. Tapi ya itu tadi, ini lebih ke self esteem, nggak mengupas terlalu dalam tentang Si Dia-nya maupun proses pencarian jodoh itu sendiri. Orang yang merasa dominan otak kanan pasti suka banget buku ini, sementara yang dominan otak kiri mungkin bisa lebih rileks. Tapi, buatku sih otak ya bekerjanya barengan, aku udah unlearning konsep dominan otak kanan atau kiri. Yang ada "otak" gitu aja.


Oke. Selamat membaca.

Review Buku "Lose that Loser and Find the Right Guy"

"Lose that Loser and Find the Right Guy," stop falling for Mr. unavailable, Mr. bad boy, Mr. Needy, Mr. married man, or Mr. s3x maniac

Penulis: Jane Matthews


Buku "Lose that Loser and Find the Right Guy" tuh covernya agak p*rno. Begitupun gambar-gambar di dalamnya, ada beberapa yang agak p*rno, tapi tenang isinya nggak p*rno kok. 


Nih buku meriah banget, super duper full color dan layoutnya kayak majalah. Gambarnya juga gede-gede. Meski gitu, jenis dan ukuran fontnya serta ketebalan fontnya nggak enak dibaca. Yah sayang banget ya.


Aku baca ini untuk selingan sih cz kayaknya ringan, halamannya gak terlalu banyak, dan yang pasti meriah tadi. Otakku bisa lebih enjoy bacanya, meskipun lagi capek atau full sekalipun.


Oh ya, kamu bisa baca di atas, ada sub judulnya kan ya, udah dibocorin cowok losernya jenisnya apa aja. Ini bisa jadi keuntungan, bisa juga kerugian. Kadang kalo aku baca buku jenis ginian, aku kepo jenis wrong man atau red flag atau deal breakernya itu apa aja, kalau dibocorin kan udah keliatan dan kita jadi tau misal udah pernah baca di buku lain ya mungkin males baca lagi. Sebaliknya, bisa juga itu menjadi keuntungan. Begitu lihat sub judulnya, kamu udah tau karena udah spesifik jenis loser man-nya. Kalau kamu bermasalah dengan satu atau lebih loser man tadi, kamu malah tertarik untuk baca lebih lanjut dari buku ini.


Pada halaman depan, gak pake lama, langsung menuju ke jenis-jenis loser man-nya. Kemudian dijelaskan ciri-cirinya, cara mengenalinya dari kata-kata di profilnya, kenapa kamu bisa tertarik padanya, cara putus dari dia, cara mengatasi kesedihan setelah putus, cara menjadi single yang bahagia, bertumbuh, powerful, dan terbebas selamanya dari loser man lagi, cara mengenali Mr. Right, dll.


Kalo kubilang sih buku ini separo sistematis separo nggak. Jadi, nggak mulus banget bacanya. Nggak lancar jaya. Masuk apa gitu itu, kesatuan apa koherensi ya? Tapi, dia lumayan padat berisi. Daging banget. Dan sepanjang aku baca ini aku sering teringat sesuatu, merenung, dan memikirkannya. Ada bagian pembuka pikirannya juga. Tapi dia bukan satu-satunya sih, ada beberapa buku yang beda jauh jenis dan bahasannya dan juga pendekatannya tapi sama-sama nyuruh ngenali diri sendiri. Rata-rata masing-masing ada pertanyaannya, tapi kok susah jawabnya. Nah, pas aku baca buku ini dan merenung, terbukalah satu atau beberapa pemahaman tentang diriku sendiri. Alhamdulillah.


Oh ya, penulis membatasi bahwa isinya tidak mencakup cowok KDRT (abuser) dan pecandu (semacam miras dll gitu) atau yang danger-danger gitu karena menurutnya itu adalah ranah psikolog/ahli kesehatan mental. 


So, hasil akhirnya adalah ... jreng jreng jreng...highly recommended.

27 Mei 2022

Review Buku "The 7 Deadly Texting Mistakes"

The 7 Deadly Texting Mistakes

Penulis: (ga tercantum nama penulisnya)


Ceritanya aku itu keliru milih bukunya. Buku "The 7 Deadly Texting Mistakes" ini ternyata ajaran dating coach untuk cowok, alias buat ngedapetin cewek.


Ya udah kepalang tanggung, tetep kubaca deh. Toh cuma 17 halaman dan asyik nih penampakannya, full color dan tulisannya singkat-singkat. Cenderung buat menuh-menuhin halaman aja sih, tapi enak dibaca. Ramah di mata.


Kalau kamu cewek dan lagi baca buku ini, kamu mungkin akan nyadar kalau cowok itu juga takut banget nggak ngedapetin cewek yang disukainya dan mereka berusaha banget untuk menang, dengan strategi dll. Kalo versi-versi cowok yang ada di buku pada umumnya, yang katanya dunia cowok adalah dunia kompetisi, ya tercium juga sih di buku ini. Tak lupa nyelip juga aura p*rnonya. Ya elah ngikut juga yang satu itu.


Intinya, ya apa sih yang didapat dari 17 halaman? Ya 7 kesalahan tadi berikut penjelasannya. "Jangan melakukan 7 kesalahan 'ini', sebagai gantinya lakukan yang 'ini'. Gitu. Ga ada lain-lainnya. Tekniknya aneh-aneh sih. Kalau aku sebagai ceweknya ya liatnya kayak berlebihan banget dan ada yang aneh ajarannya, meskipun ada juga yang mungkin bener. Itu kalau aku ya, nggak tau kalo cewek lain.

Menurutku sih ajaran buku ini kayak dipaksakan. Pria seperti dipaksa jadi dirinya yang palsu/nggak ori, yang dipikirnya lebih menarik dan lebih berpeluang dalam mendapatkan wanita incarannya. 


Ajaran ini nggak asing sih kalau di dunia cowok player. 

Buatku, cowok lebih baik cari buku yang lain. Aku tidak merekomendasikan buku ini.


17 Mei 2022

Review Buku "Deal Breakers"

"Deal Breakers," breaking out of relationship purgatory

Penulis: Bethany Marshall


Habis baca buku "Red Flags" kemarin aku baca buku "Deal Breakers." Keduanya sama-sama luar biasa isinya dan wajib kamu baca. Bedanya, "Deal Breakers" ini lebih simple, clear (memenuhi unsur clarity), bahasanya sederhana, dan keterbacaannya lebih enak baik dari sisi jenis dan ukuran font maupun layoutnya.


Isinya bagus banget, meskipun ada sisi danger-nya juga yang tidak kusepakati, misalnya bahwa perselingkuhan bagi dia tidak seharusnya kamu masukkan ke dalam deal breaker. Begitupun jika pasanganmu menularkan herpes k*lamin padamu (karena mungkin nakal). Bagiku sih dua-duanya itu no banget.


Terlepas dari hal danger tersebut, selebihnya buku ini bagus. Aku mendapat insight/pencerahan setelah membacanya. Aku nggak tahu pasti sih itu karena buku ini atau karena aku udah berproses lama dan udah mendalami lama banget tentang masalah ini, tetapi sepertinya buku ini punya andil besar dalam membuka tabir kegelapan di pikiranku. Saat membacanya, aku jadi ingat benang merah terhadap ilmu-ilmu yang kupelajari sebelumnya dan pengalaman-pengalamanku yang berhubungan. Tiba-tiba aku bisa melihat apa yang sebelumnya tak tampak. Percaya nggak sih walaupun isinya ini kadang udah pernah ditunjukkan oleh ahli-ahli lain, tapi itu kayak kata-kata "mati" yang nggak kumaknai dan begitu aku baca buku ini "Oh Ya Allah ternyata itu dulu maksudnya gitu tho." Padahal, ahli sebelumnya itu sudah merangkumnya dengan sangat singkat, padat, jelas, praktis, dan aplikatif lho. 


Di buku "Deal Breakers" ini penulis menunjukkan 5 deal breakers utama. Di situ kan banyak kliennya yang bingung, "Yang bermasalah itu aku (Si Klien) atau dia sih?" Nah, Bethany Marshall, penulisnya, menguraikannya dengan jelas di sini. Sudah bisa diduga kan, mayoritas klien ini mengalami kebingungan, mirip hubungan dengan narsis trait. Yah terus terang aja karena dating itu mengandung permainan mental yang kuat. 


Sudah pasti dong penulis juga memaparkan ciri dari masing-masing deal breakers tersebut agar kamu bisa mengenalinya. Kamu juga ditunjukkan kenapa dia begitu dan kenapa kamu tertarik sama orang seperti itu, trus cara ngetes kamu sebaiknya bertahan atau putus sama dia. Jadi, kamu nggak bakal galau lagi. Udah mantep bakal lanjut atau malah bye-bye aja selamanya. Intinya cara agar bikin hubunganmu sama dia lebih sehat.


Bonusnya lagi, penulis juga menunjukkan ciri-ciri pria yang "sehat" untuk dijadikan pasangan hidup.


Oh ya, aku mo nyampein juga 1 hal penting lain di sini. Masalah relationship/percintaan/asmara biasanya kan berakar pada masalah pengasuhan. Kalau kamu bermasalah di keluargamu, kamu kemungkinan besar akan menjalin hubungan dengan pasangan yang bermasalah atau mengalami masalah dalam hubungan kalian. Aku mbayanginnya kayak penyakit komplikasi gitu ya, sistematik. Yang kalau kamu ngalami itu kayak "Aduh masalahku aja udah berat dan belum selesai kok ketambahan masalah baru sih." Kabar baiknya, karena inti masalahnya sama, tips penulis yang aslinya ditujukan biar kamu bisa meng-handle calonmu itu bisa kamu praktekkan/coba juga untuk meng-handle keluargamu dan bisa untuk mutusin juga apakah kamu lebih baik tetep di sana atau misal pergi dan punya rumah sendiri. So, itu adalah makna dari "Sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui."


Menurutmu aku bakal rekomendasiin nggak buku "Deal Breakers" ini? Pasti lah. Highly recommended. Wajib kamu baca. 

16 Mei 2022

Review Buku "Red Flags! How to Know when You're Dating a Loser"

"Red Flags! How to Know when You're Dating a Loser"

Penulis: Gary S. Aumiller dan Daniel A. Goldfarb


Aku punya ketertarikan tinggi untuk membaca buku-buku tentang relationship, terutama tentang red flags atau deal breakers. Aku membaca semua versi, baik versi pria, versi wanita, maupun versi dangerous people/toxic people/abuser. Tapi, buku-buku yang ditulis oleh pria kuberikan perhatian lebih. Secara aku berpikir yang lebih memahami pria mungkin kaumnya sendiri plus aku kepo sejauh mana mereka paham tentang wanita (apa kata mereka tentang wanita). Ya mungkin ada persamaan-persamaan dari versi pria dengan versi wanita, tapi terkadang ada kejutan-kejutan besar maupun kecil yang tidak kudapati dari versi kaumku sendiri kalau bicara tentang makhluk yang namanya laki-laki.


Buku "Red Flags! How to Know when You're Dating a Loser" ini adalah salah satu buku tentang red flags yang ditulis oleh 2 pria. Amazing juga sih, mereka pria tetapi sangat detail menggambarkan isinya. Mungkinkah mereka tipe melankolis? Atau detail atau tidak detail itu tidak tergantung gender tetapi stigma saja. 


Ini isinya detail banget. Ada 25 red flags berikut contoh kisahnya, penjelasannya, tesnya, dan cara putus/memperbaiki hubungan dengannya (jika bisa). Red flags ini campuran, ada yang bukan cowok baik-baik tapi ada juga yang sekadar tidak perhatian (baik tapi tidak baik sebagai pasangan). Ada yang jelas banget nggak baiknya, tapi ada yang kayaknya baik padahal nggak. 


Dari red flags-red flags ini nggak semua berdiri sendiri, ada yang tumpang tindih dengan buku-buku dari ahli lain, termasuk buku yang ditulis oleh wanita.


Isi buku "Red Flags! How to Know when You're Dating a Loser" meskipun detail tetapi rumit bagiku dan susah kalau harus ingat isinya saat dating beneran/kenalan dengan cowok beneran. Tapi ada patokan utama yang kupegang, yaitu percayai perasaan dan intuisimu dan fokuslah pada cara dia memperlakukan kamu, bukan fokus pada keuangan dia/kamu, imej-mu, atau lainnya. Penulis nggak bilang tentang narsis dan semacamnya sih tapi nasibmu tetep aja akan ngenes baik itu narsis beneran atau bukan.


Buku ini bagus banget dan sangat kurekomendasikan.