17 Mei 2022

Review Buku "Deal Breakers"

"Deal Breakers," breaking out of relationship purgatory

Penulis: Bethany Marshall


Habis baca buku "Red Flags" kemarin aku baca buku "Deal Breakers." Keduanya sama-sama luar biasa isinya dan wajib kamu baca. Bedanya, "Deal Breakers" ini lebih simple, clear (memenuhi unsur clarity), bahasanya sederhana, dan keterbacaannya lebih enak baik dari sisi jenis dan ukuran font maupun layoutnya.


Isinya bagus banget, meskipun ada sisi danger-nya juga yang tidak kusepakati, misalnya bahwa perselingkuhan bagi dia tidak seharusnya kamu masukkan ke dalam deal breaker. Begitupun jika pasanganmu menularkan herpes k*lamin padamu (karena mungkin nakal). Bagiku sih dua-duanya itu no banget.


Terlepas dari hal danger tersebut, selebihnya buku ini bagus. Aku mendapat insight/pencerahan setelah membacanya. Aku nggak tahu pasti sih itu karena buku ini atau karena aku udah berproses lama dan udah mendalami lama banget tentang masalah ini, tetapi sepertinya buku ini punya andil besar dalam membuka tabir kegelapan di pikiranku. Saat membacanya, aku jadi ingat benang merah terhadap ilmu-ilmu yang kupelajari sebelumnya dan pengalaman-pengalamanku yang berhubungan. Tiba-tiba aku bisa melihat apa yang sebelumnya tak tampak. Percaya nggak sih walaupun isinya ini kadang udah pernah ditunjukkan oleh ahli-ahli lain, tapi itu kayak kata-kata "mati" yang nggak kumaknai dan begitu aku baca buku ini "Oh Ya Allah ternyata itu dulu maksudnya gitu tho." Padahal, ahli sebelumnya itu sudah merangkumnya dengan sangat singkat, padat, jelas, praktis, dan aplikatif lho. 


Di buku "Deal Breakers" ini penulis menunjukkan 5 deal breakers utama. Di situ kan banyak kliennya yang bingung, "Yang bermasalah itu aku (Si Klien) atau dia sih?" Nah, Bethany Marshall, penulisnya, menguraikannya dengan jelas di sini. Sudah bisa diduga kan, mayoritas klien ini mengalami kebingungan, mirip hubungan dengan narsis trait. Yah terus terang aja karena dating itu mengandung permainan mental yang kuat. 


Sudah pasti dong penulis juga memaparkan ciri dari masing-masing deal breakers tersebut agar kamu bisa mengenalinya. Kamu juga ditunjukkan kenapa dia begitu dan kenapa kamu tertarik sama orang seperti itu, trus cara ngetes kamu sebaiknya bertahan atau putus sama dia. Jadi, kamu nggak bakal galau lagi. Udah mantep bakal lanjut atau malah bye-bye aja selamanya. Intinya cara agar bikin hubunganmu sama dia lebih sehat.


Bonusnya lagi, penulis juga menunjukkan ciri-ciri pria yang "sehat" untuk dijadikan pasangan hidup.


Oh ya, aku mo nyampein juga 1 hal penting lain di sini. Masalah relationship/percintaan/asmara biasanya kan berakar pada masalah pengasuhan. Kalau kamu bermasalah di keluargamu, kamu kemungkinan besar akan menjalin hubungan dengan pasangan yang bermasalah atau mengalami masalah dalam hubungan kalian. Aku mbayanginnya kayak penyakit komplikasi gitu ya, sistematik. Yang kalau kamu ngalami itu kayak "Aduh masalahku aja udah berat dan belum selesai kok ketambahan masalah baru sih." Kabar baiknya, karena inti masalahnya sama, tips penulis yang aslinya ditujukan biar kamu bisa meng-handle calonmu itu bisa kamu praktekkan/coba juga untuk meng-handle keluargamu dan bisa untuk mutusin juga apakah kamu lebih baik tetep di sana atau misal pergi dan punya rumah sendiri. So, itu adalah makna dari "Sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui."


Menurutmu aku bakal rekomendasiin nggak buku "Deal Breakers" ini? Pasti lah. Highly recommended. Wajib kamu baca. 

16 Mei 2022

Review Buku "Red Flags! How to Know when You're Dating a Loser"

"Red Flags! How to Know when You're Dating a Loser"

Penulis: Gary S. Aumiller dan Daniel A. Goldfarb


Aku punya ketertarikan tinggi untuk membaca buku-buku tentang relationship, terutama tentang red flags atau deal breakers. Aku membaca semua versi, baik versi pria, versi wanita, maupun versi dangerous people/toxic people/abuser. Tapi, buku-buku yang ditulis oleh pria kuberikan perhatian lebih. Secara aku berpikir yang lebih memahami pria mungkin kaumnya sendiri plus aku kepo sejauh mana mereka paham tentang wanita (apa kata mereka tentang wanita). Ya mungkin ada persamaan-persamaan dari versi pria dengan versi wanita, tapi terkadang ada kejutan-kejutan besar maupun kecil yang tidak kudapati dari versi kaumku sendiri kalau bicara tentang makhluk yang namanya laki-laki.


Buku "Red Flags! How to Know when You're Dating a Loser" ini adalah salah satu buku tentang red flags yang ditulis oleh 2 pria. Amazing juga sih, mereka pria tetapi sangat detail menggambarkan isinya. Mungkinkah mereka tipe melankolis? Atau detail atau tidak detail itu tidak tergantung gender tetapi stigma saja. 


Ini isinya detail banget. Ada 25 red flags berikut contoh kisahnya, penjelasannya, tesnya, dan cara putus/memperbaiki hubungan dengannya (jika bisa). Red flags ini campuran, ada yang bukan cowok baik-baik tapi ada juga yang sekadar tidak perhatian (baik tapi tidak baik sebagai pasangan). Ada yang jelas banget nggak baiknya, tapi ada yang kayaknya baik padahal nggak. 


Dari red flags-red flags ini nggak semua berdiri sendiri, ada yang tumpang tindih dengan buku-buku dari ahli lain, termasuk buku yang ditulis oleh wanita.


Isi buku "Red Flags! How to Know when You're Dating a Loser" meskipun detail tetapi rumit bagiku dan susah kalau harus ingat isinya saat dating beneran/kenalan dengan cowok beneran. Tapi ada patokan utama yang kupegang, yaitu percayai perasaan dan intuisimu dan fokuslah pada cara dia memperlakukan kamu, bukan fokus pada keuangan dia/kamu, imej-mu, atau lainnya. Penulis nggak bilang tentang narsis dan semacamnya sih tapi nasibmu tetep aja akan ngenes baik itu narsis beneran atau bukan.


Buku ini bagus banget dan sangat kurekomendasikan. 

13 Mei 2022

Review Buku "The Nice Girl Syndrome"

"The Nice Girl Syndrome," stop being manipulated

Penulis: Beverly Engel


Nice Girl. Sampai sekarang pun budaya untuk menjadi nice girl masih terus disosialisasikan dan terus ada. Ditambah dengan latar belakang kita di keluarga yang mungkin diasuh dengan cara tidak layak, membuat nice girl ini masih banyak saja sampai saat ini.


Itu belum seberapa, masih banyak belief-belief kita yang salah yang menyebabkan kita untuk terus menyuburkan atau bahkan bangga menjadi nice girl bahkan mungkin untuk selamanya.


Dulu aku termasuk orang yang menganggap nggak penting adanya mindset atau bahasan belief di dalam buku. Terasa teoritis, nggak praktis, atau cuma untuk menuh-menuhin halaman. Kenapa sih banyak buku bahas gituan? Apalagi kadang udah ganti tema buku tapi masih juga ketemu mindset lagi mindset lagi, belief lagi belief lagi. Lambat laun aku unlearning keyakinan tersebut. Mindset dan belief memang penting, bahkan hanya dengan mengubahnya kadang orang bisa mengubah habit-nya atau berubah menjadi orang yang baru seketika.


Jadi, "The Nice Girl Syndrome" ini isinya lebih menitikberatkan pada merusak belief lamamu yang nggak bermanfaat/buruk bagi hidupmu. Ada banyak belief di sini dan ada latihannya juga untuk kamu praktekkan dalam unlearning belief tersebut, lalu kamu diajarkan untuk membangun belief baru yang akan menguatkan/empowering kamu.


Kalau kamu berada dalam fase seperti aku yang dulu, pasti kamu akan menganggap "Nih buku apaan sih. Isinya kok gitu doang." Tapi kalau kamu termasuk yang sudah lewat dari fase tersebut atau sudah memahami pentingnya belief ya mungkin akan setuju kalau buku ini bagus dan bermanfaat.


Isinya lebih ke refleksi diri sih karena kalau kamu sudah lama berada dalam hubungan yang disfungsi/abusive, kemungkinan besar kamu yang ori sudah terhapus. Kamu nggak tahu siapa dirimu yang sebenarnya.


Dan kenapa buku-buku gini ada? Menurutku ya karena nggak semua orang itu lemah, penakut, nggak tau cara asertif, atau nggak tau cara melindungi dirinya sendiri. Kadang ada juga orang yang aslinya asertif, pemberani, kuat, dan tahu cara "menyerang balik" sehingga dia nggak perlu panduan yang terlalu detail tentang langkah-langkahnya. Dia hanya butuh "pembuka pikiran"/"pembuka kesadaran" dan sisanya akan dia bereskan sendiri.


 Nah, buku "The Nice Girl Syndrome" ini sangat bagus untuk orang-orang jenis itu. Sementara untuk jenis yang lain, buku ini lebih berfungsi sebagai pembuka/langkah awal saja. Memperbaiki internalmu dulu (diri sendiri) baru kemudian memperbaiki eksternalmu, dan cara memperbaiki eksternalmu ini bisa kamu dapatkan dari buku lain atau sumber yang lain. Ada sih di buku ini tetapi kurang mendalam. Ada buku lain yang lebih ditujukan untuk menyusun kata-kata atau mengambil aksi yang tepat dalam mengatasi manipulasi atau orang-orang yang sulit/beracun (toxic people).


Buku ini bagus banget dan wajib dibaca oleh semua wanita. Very recommended. 

12 Mei 2022

Review Buku "Can Music Make You Sick? Music and Depression"

"Can Music Make You Sick? Music and Depression," a study into the incidence of musicians mental health

Penulis: Sally Anne Gross & Dr. George Mushrave


Sebenarnya aku nggak yakin tulisan ini bentuknya apa. Sepertinya sih bukan buku tapi karya ilmiah, survei, atau laporan.


Aku tertarik karena judulnya yang sensasional. Hari gini kan jarang banget gitu lho orang yang nggak suka atau setidaknya nggak terpapar musik. 


Dan ternyata isinya tentang hubungan antara musik dengan kesehatan mental, pemusik dengan kesehatan fisik dan mental, penyebab mayoritas musisi profesional mengalami gangguan mental, berbagai kesulitan yang dialami oleh pemusik, serta kisah-kisah dari para musisi itu sendiri.


Kalau ngomongin musisi, yah agak sebelas duabelas dengan penulis. Masih terhitung sama-sama seniman dan memiliki beberapa ATHG (ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan) serupa. Oleh karena itu, membaca buku ini membuatku melakukan beberapa refleksi diri.


Tentunya buku ini penting banget digunakan sebagai tambahan wawasan bagi mereka yang ngebet banget jadi musisi terkenal/profesional. Jadi setelah baca buku ini mereka bisa bertanya kembali kepada hatinya; apakah sudah mantap, sudah melakukan persiapan-persiapan dengan lebih baik, dan semacamnya. Karena menjadi musisi bukan sekadar tentang ikut-ikutan teman, hidup glamor, populer, terkenal, tampak keren, atau digilai banyak wanita. Bukan juga sekadar pelarian karena kamu nggak jago matematika atau malas sekolah. 


Menjadi musisi adalah sebuah pilihan hidup yang membawa konsekuensi tersendiri. Pastikan kamu sudah tahu itu dan sanggup menanggung/menjalaninya.

07 Mei 2022

Review Buku "Two Awesome Hours"

"Two Awesome Hours," science-based strategies harness your best time and get your most important

Penulis: Josh Davis


"Two Awesome Hours" ini buku yang covernya bagus menurutku. Meskipun idenya agak biasa seperti pemakaian gambar jam dan panah untuk waktu atau produktivitas tapi tetep aja komposisinya/pengaturannya itu keren. 


Ngomong-ngomong soal waktu dan produktivitas, bagiku pribadi buku tentang waktu dan produktivitas itu ya sama, 11-12. Cuma, pada realnya, yang kudapati nih ya, buku waktu itu biasanya tentang pengaturan jadwal harian/kapan dan durasinya gitu-gitu, sedangkan kalau produktivitas mencakup misalnya olahraga, istirahat yang cukup gitu-gitu. Nah, buku ini meskipun judulnya tentang waktu ini termasuk yang kelompok produktivitas. Jadi, kalau kamu membandingkan dia dengan buku-buku yang tentang waktu, dia beda. Dia lebih mirip buku-buku yang ada dalam kelompok produktivitas.


Isi buku ini itu tentang cara agar kamu lebih produktif, yaitu dengan membahas mengenai lingkungan kerjamu, gangguan-gangguan di tempat kerjamu, makanan dan minuman yang mempengaruhi, emosimu, kondisi fisik dan mentalmu, pengaruh suara, cahaya, luas ruangan, dll. 


Di sini, kelebihan utamanya adalah sisi sainsnya. Dia berbasis science. Isinya juga menyeluruh sih. Dan bagiku ya, kalau dari luaran, selain covernya yang bagus, ada 2 frase kunci yang menjadi magnet utamanya, yaitu "two hours" dan "science-based." Yah cuma 2 jam gitu loh. Kepo nggak sih. Eits, tapi tunggu dulu. Ada buku lain yang judulnya itu pake waktu lebih singkat lho. Seperti apa isinya? Yah mungkin lain kali akan kureview dan mungkin juga tidak. Tergantung. Toh aku juga belum ngintip isinya. 


Tapi "Two Awesome Hours" ini emang bagus ya. Recommended. Coba masukkan deh ke daftar bacamu. Insya Allah kamu akan dapat banyak manfaat darinya.

Review Buku "More Time for You"

"More Time for You," a powerful system to organize your work and get things done

Penulis: Rosemary Tator & Alesia Latson


"More Time for You" adalah buku tentang waktu, produktivitas, cara mengorganisir hidupmu dengan lebih baik.


Secara garis besar isinya sama dengan buku-buku serupa, yaitu tentang prioritasmu, mengamati jadwal harianmu, mengelola email, media sosial, gangguan-gangguan, dll. Di sini, penulis juga menyoroti mengapa membuat resolusi tahunan seringkali tidak berhasil. Sebagai gantinya, penulis menyarankan pada kita untuk membuat accomplishment. 


Buku ini menurutku tidak terlalu detail dalam menjelaskan waktu, distraksi, atau semacamnya. Keunggulannya lebih pada cara mengelola email. Di situ dia jelasinnya detail banget step by step-nya plus capture/gambar dari penampakan emailnya. Jadi, pembaca bisa tahu lebih jelas bagaimana cara menerapkannya, meskipun dia tidak terlalu memahami tentang email. Panduan ini ngebantu banget bagiku karena di buku-buku lain biasanya nggak ada. Tapi aku belum ngecek sih apakah panduannya runut dan masih berlaku pada versi email yang sekarang atau tidak. Dan dia ini pakenya email outlook, nggak tahu apa di penyedia email lain juga sama apa nggak caranya.


Jadi, kalau kamu punya masalah dalam mengelola waktu, terutama terkait dengan email, maka buku "More Time for You" ini mungkin akan cocok banget buat kamu.

04 Mei 2022

Review Buku "The Acorn Principle Know Yourself-Grow Yourself"

"The Acorn Principle Know Yourself-Grow Yourself," nurture your nature find out how rich, fully and rewarding your life can be.

Penulis: Jim Cathcart dan Denis E. Waitley


Buku "The Acorn Principle" ini merupakan buku untuk mengenali diri sendiri dan orang lain. Dia memberikan perspektif baru bagiku. 


Prinsip-prinsipnya termasuk sederhana dibanding MBTI yang terdiri dari 16 tipe kepribadian atau bahkan eneagram yang nggak bisa kuingat sama sekali bedanya. Lumayan sederhana seperti pembagian kepribadian berdasarkan sanguinis, melankolis, koleris, dan plegmatis (atau versi serupa: petualang, pembangun, pengendali, dan negosiator - dan ternyata di buku ini juga ada tapi beda istilah aja), walau di dalam penerapannya ada beberapa yang mirip, tumpang tindih, atau memang sepaket (bisa ada bersamaan). Tapi tetep aja ya, saat ngisi tes di dalamnya aku butuh merenung dan mengingat-ingat peristiwa-peristiwa dan tindakan-tindakan/pilihan-pilihan hidupku, mana pilihan yang lebih tepat menggambarkan diriku.


Soal value/nilai dalam prinsip Acorn ini sebenarnya pernah jelas kualami dalami dalam hidupku, walaupun aku belum kenal yang namanya prinsip Acorn ini. Misalnya di sekolah tempatku mengajar dulu itu beda value banget denganku. Value utamaku adalah komitmen dan mungkin knowledge (ilmu pengetahuan), sedangkan value utama sekolahku salah satunya adalah estetika (seni). Di aku, seni mungkin termasuk di antara 3 value terendahku. Jadi ada beda value yang ekstrim di sana. Tempat itu lebih ramah untuk mereka yang sisi artistiknya tinggi.


Nah, kembali pada isi buku, ada beberapa parameter yang digunakan di dalam The Acorn Principle ini, yang masing-masingnya akan membuatmu lebih mengenal dirimu dan orang lain. Parameter-parameter tersebut misalnya tentang nilai-nilai utamamu, kecepatanmu, kecerdasanmu, cara berpikirmu, dll. Semua ini sangat menarik.


Isi buku ini benar-benar baru bagiku dan aku sangat nggak sabar untuk mengenali diriku lebih jauh. Karena aku sudah sering membaca/belajar macam-macam teori dan ikut/mencoba berbagai tes psikologi tetapi tidak terlalu mendapat hasilnya (nggak work) dan tak jarang terasa aneh karena kadang tidak sinkron antara hasil tes yang satu dengan tes yang lainnya. 


Sepintas sepertinya isi buku ini memotret sesuatu yang lebih mendasar daripada semua tes/teori lain yang pernah kupelajari. Aku percaya bahwa kepribadian dan kemampuan seseorang itu bisa berubah. Jadi, tidak menutup pada satu hasil/nama kepribadian saja. Dia bisa berpindah/berubah ke kepribadian lain seiring dengan pelajaran/pengalaman hidupnya. Dan di antara dasar-dasar yang dipakai oleh berbagai ahli tadi, sepertinya The Acorn Principle inilah yang lebih sulit berubah, walaupun masih bisa berubah dan cara pertumbuhannya itu diajarkan pula di dalam buku ini, baik menguatkan apa yang memang sudah jadi kekuatanmu atau memperbaiki bagian-bagian yang masih kurang/lemah darimu.


Jadi, aku sangat merekomendasikan buku ini. Kamu perlu nyari dan baca prinsip-prinsip Acorn ini juga. Karena isinya itu beda banget dari yang lain (dari kebanyakan teori lain yang beredar) dan mungkin akan bisa bantu aku dan kamu semua untuk lebih mengenali dirimu dan orang-orang di sekitarmu.

01 Mei 2022

Review Buku "Habits of a Happy Brain"

"Habits of a Happy Brain," retrain your brain to boost your serotonin, dopamine, oxytocin & endorphin levels

Penulis: Loreta Graziano Breuning


Masih dengan habit-habitan ya. Tapi kujamin kamu nggak akan bosan soalnya yang ini beda. Kali ini aku mo bahas habit yang berhubungan dengan happy brain. 


"Habits of a Happy Brain" ini adalah buku tentang hormon-hormon kebahagiaan. Dia punya keunikan sendiri dibanding buku "habit" dan buku "happy" lainnya. Dia menggabungkan pengaruh antara kebiasaan dengan hormon-hormon kebahagiaan. 


Ada 4 hormon yang berpengaruh kuat terhadap kebahagiaan kita, yaitu dopamin, serotonin, oksitosin, dan endorfin. Tetapi sayangnya hormon-hormon di atas tadi juga punya sisi-sisi negatif. 


Pada buku "Habits of a Happy Brain" ini penulis menjelaskan cara kerja otomatis otak kita lalu menjelaskan tentang hormon-hormon kebahagiaan tadi (bagaimana hormon itu muncul, apa pengaruh positif dan negatifnya, apa yang menyebabkan hormon itu kadang berpengaruh positif dan kadang berpengaruh negatif), bagaimana cara kita melatih diri untuk memunculkan hormon-hormon tadi dan mendapat efek positifnya, apa resistensi (alasan-alasan) yang biasa kita buat yang bisa menggagalkan latihan ini dan bagaimana cara mengatasinya, dll.


Isinya bagus, enak dibaca, runut, dan penjelasan tentang hormon-hormonnya itu sangat sederhana dan mudah dicerna. Sudah kayak bahasa umum, bahasa populer, atau bahasa orang awam gitu lah ya, sudah nggak kayak bahasa ilmiah lagi. Enak dibuat belajar biologi, belajar hormon, atau ilmu-ilmu yang masih berhubungan dengan itu. Bahasanya udah merakyat banget. Udah gitu covernya juga pas banget, membawa aura hepi juga, warnanya  cerah dan enak dilihatnya dan tulisannya enak dibaca. Terasa pas aja komposisinya dan nyatu banget dengan judul dan isi bukunya. Keren banget pokoknya.


Ada banyak hal menarik dalam buku ini yang ingin kucoba. Kamu juga bisa ikut kalau mau. 


Intinya, buku ini bertujuan untuk bikin kamu bahagia dengan latihan untuk memproduksi hormon-hormon kebahagiaan tadi dan menyetop aktivitas-aktivitas atau pikiran-pikiran otomatis atau yang tidak bermanfaat/tidak produktif atau yang mengganggu kesuksesan latihan tadi.


So, kesimpulannya buku "Habits of a Happy Brain" ini buagus. Highly recommended.

29 April 2022

Review Buku "Habit Triggers"

"Habit Triggers," how to create better routines and success rituals to make lasting changes in your life

Penulis: Romuald Andrade


Masih seperti buku-buku habit yang lain, buku "Habit Triggers" ini juga bagus dan juga mirip.


Aku suka buku ini karena jumlah halamannya sedikit dan langsung menangkap point-pointnya. Selain itu, dia juga sistematis dan punya bentuk-bentuk/format-format pendukung yang membantu memudahkan dia untuk diterapkan. Sesuatu yang bersifat "kunci" itu disederhanakan dan ditulis dalam bentuk yang spesifik dan jelas sehingga ketika mata kita melihatnya kita bisa tahu intinya, mudah memahaminya, dan mudah menerapkannya. Tak berhenti sampai di situ, penulis juga memberikan kita contoh-contoh yang jelas kebiasaan/habitnya apa dan bagaimana contoh cara mengatasinya.


Secara isi mungkin tidak memiliki perbedaan signifikan dengan buku-buku serupa, tetapi cara menulisnya dan formatnya itu membuatnya mudah untuk dipahami dan memenuhi unsur clarity.


Aku pribadi membuat beberapa catatan dari hasil membaca "Habit Triggers" ini plus mendapat beberapa moment AHA. Bagus kok bukunya.



28 April 2022

Review Buku "Tough Times Never Last, but Tough People Do!"

"Tough Times Never Last, but Tough People Do!"

Penulis: Robert H. Schuller


Buku "Tough Times Never Last, but Tough People Do!" ini kupilih secara nggak sengaja karena aku salah mengartikan judulnya sedangkan aku lagi males buka terjemahan.


Tapi ternyata isinya bagus juga. Lumayan, meskipun aku nggak selalu cocok dengan isinya. Isinya itu tentang think possibility, yaitu berpikir tentang kemungkinan/kebisaan. Kalau versi bahasa agama Islam isinya itu semacam campuran dari ajaran tentang iman, ajaran untuk ridho, ikhlas, sabar, tawakal, dll. 


Penulisnya seorang p*stor, tapi buku ini buku umum dan sejauh yang kubaca aku hanya nemu sedikit ayat-ayat Kr*stennya. 


Buku ini bisa dibilang buku motivasi sekaligus buku inspiratif. Intinya itu buku "Tough Times Never Last, but Tough People Do!" ini mengajak kamu untuk menerima dan menghadapi masa-masa sulitmu/masalahmu dan aktif melakukan perbaikan diri/mencari solusi atasnya.


Jadi, buku ini unik juga, bisa memasukkan ajaran-ajaran kebaikan di dalam agama ke dalam bahasa populer (yang merakyat). Apalagi, dia P*stor. Biasanya ya, jangankan P*stor/P*ndeta, buku-buku yang ditulis oleh anak-anak mereka aja biasanya sarat dengan ayat-ayat Kr*sten, tapi penulis buku ini nggak. Selain itu, biasanya bahasa dari buku-buku yang ditulis oleh P*stor/P*ndeta itu keras dan agak kasar, seperti penuh aura kejengkelan atau kemarahan dan nadanya itu nyuruh-nyuruh banget. Dibanding bahasa sesama mereka, bahasa dari penulis buku ini termasuk lumayan halus.



27 April 2022

Review Buku "Skip The Guilt Trap"

"Skip The Guilt Trap," simple steps to help you move on with your life

Penulis: Gael Lindenfield


Nih buku covernya nyolok banget. Ada embel-embelnya "International Best Seller" dan "The Million Copy Best Selling Author." Jadi, gak main-main nih, kemungkinan besar akan keren banget isinya. Cuma gambar covernya agak aneh. Gambarnya venus fly trap. Mungkin karena sama-sama ada "trap"-nya kali ya.


Eh tapi beneran lho, isinya ini super keren. Duetil banget dan sangat spesifik dalam menjelaskan masalah shame, guilty, dan terutama solusi untuk masing-masing tipe guilty-nya.


Best seller itu kan kadang karena memang isinya bagus dan kadang karena marketingnya aja yang bagus. Nah, buku "Skip The Guilt Trap" ini termasuk buku yang isinya super bagus, terlepas dari marketingnya yang entah bagus juga apa nggak. 


Buku ini sangat bermanfaat, sangat kaya, daging banget, to the point, padat berisi. Pokoknya dia bakal bantu banget buat kamu yang punya masalah dengan rasa bersalah (guilty atau guilt trap). 

Highly recommended.


Review Buku "168 Hours"

"168 Hours," you have more time than you think

Penulis: Laura Vanderkam


"168 Hours." Judul ini agak beda dari buku-buku serupa tentang produktivitas dan semacamnya. Dia spesifik langsung menunjukkan jumlah total waktunya. Dari gambar covernya yang berbentuk jam pun menyolok banget kalau buku ini tentang waktu, meskipun untuk tahu judulnya orang mungkin agak kesulitan karena tulisannya kecil-kecil dan dibentuk melingkar menjadi jam tadi.


Sudah banyak buku ginian di pasaran, apakah yang satu ini beda? Secara umum ya sama, tapi ada juga bedanya. Waktu membaca buku ini isinya itu sempat memanggil beberapa ingatan tentang beberapa bacaanku sebelumnya yang masih berhubungan sekaligus mendapat ilmu baru. 


Secara keterbacaan dan cara menulis, dia nggak terlalu enak dibaca sih, tapi sebenarnya prinsip yang diajarkan itu bagus. Dia menyoroti beberapa masalah utama waktu di dalam kehidupan keseharian kita lalu menjelaskan solusinya masing-masing. 


Saat membaca buku ini, ingatan dominanku menuju pada buku "The Almanack of Naval Ravikant," meskipun ada buku-buku lain yang berhubungan dengan ini yang juga pernah kubaca, padahal kata penulis rujukannya adalah buku lain. Bisa jadi itu memang inti banget dari bahasan waktu ini sehingga dia muncul atau disebut di dalam berbagai buku.


Kalau dibandingkan dengan buku-buku lain sih, pembagian waktu di buku ini nggak terlalu detail. Dia lebih ke prinsip-prinsipnya. Jadi, agak menipu juga kadang-kadang judulnya. Ini judulnya spesifik banget jumlah jamnya tetapi ternyata isinya lebih spesifik buku-buku serupa yang judulnya mungkin lebih generalis.


Tapi masalah detail dan nggak detail itu hanya masalah strategi atau teknis aja sih ya. Yang terpenting adalah apakah tujuanmu tercapai setelah kamu membaca buku-buku tersebut. 


So, kesimpulannya buku ini memuat prinsip-prinsip yang bagus tapi dia nggak enak dibaca dan belum termasuk buku yang kusukai.  



23 April 2022

Review Buku "Codependent No More"

"Codependent No More," how to stop controlling others and start caring for yourself

Penulis: Melody Beattie


Buku "Codependent No More" ini ada 2 macam, versi teori dan versi workbook (buku kerja). Yang kureview ini versi teorinya.


Buku ini lumayan terkenal di medsos-medsos kesehatan mental, lalu kubaca deh.


Menurut buku "Codependent No More" ini kodependen itu banyak versinya, tapi aku baru tahu. Yang kutahu dan banyak tersebar itu narsis yang banyak versinya, sedangkan kodependen adalah kebalikan dari narsis, dia korban/survivor dari narsis/abuser lainnya atau mengembangkan mekanisme pertahanan diri yang berbeda (coping mekanisme) di bawah lingkungan yang sama dengan narsis. 


Nah, suatu hari ada orang yang mensabotase pertanyaanku, aku nanya ke pemilik akun tapi dia yang jawab (sambil sembunyi-sembunyi seperti takut diserang oleh follower lain, seperti ga berani jawab langsung cuma berani ngasih link). Aku dikirimi link ilmiah versi dia yang menyatakan kalau narsis itu ya kodependen (ini bener-bener beda ekstrim dan lebih pro ke narsisnya). 


Buku "Codependent No More" ini kan judulnya kodependen, aku pengen tau versi dia. Ternyata, setelah aku bandingkan dengan banyak ahli, termasuk buku ini, bedalah ya narsis ma kodependen. Aku lebih cenderung ke versi yang ini daripada versi yang ekstrim tadi.


Pada buku "Codependent No More" ini, penulisnya, Melody Beattie, berusaha menjelaskan dengan detail apa itu kodependen. Dia juga mencantumkan pengertian kodependen versi berbagai ahli dan versi dirinya sendiri. Tentu saja dia juga mencantumkan ciri-cirinya, walaupun tetep nggak jelas karena nggak ada ciri-ciri pastinya. Ciri-cirinya sangat bervariasi antara orang yang satu dengan orang yang lain. Agar lebih jelas, dia juga menunjukkan contoh-contoh kasusnya dari pengalamannya sendiri maupun dari klien-kliennya. Dan meskipun ada pertanyaan-pertanyaan refleksinya, bagiku dia tidak memberikan solusi apa-apa. Buku ini lebih bersifat membuka pikiran aja biar kamu nyadar kalau kamu kodependen trus kamu nyari solusi sendiri.


Pada beberapa bagian isinya seperti luwes, sedangkan pada sebagian lainnya kaku seperti literatur ilmiah (kurang populer). Sebagian juga lumayan hangat dan empati dan sebagian sisanya tetep nyalah-nyalahin. Bahkan, pada banyak kasus kliennya, klien-klien tersebut harus melabel dirinya kodependen dan menyebut masalah itu terjadi karena dia kodependen. Terlepas dari "agar pulih dari sesuatu kamu harus sadar kalau kamu sakit/ada yang salah," hal itu tetap terdengar kasar dan merupakan pendekatan yang tidak enak kalau dilakukan dengan nyalah-nyalahin.


Sebenarnya, diagnosa kodependen itu sendiri pun masih samar, dan penulis pun mengakuinya. Dulu ada juga buku yang pernah kubaca (yang aku lupa judulnya), ada pendapat lain lagi tentang kodependen, bahwa orang sering disalahartikan sebagai kodependen padahal tidak (aslinya sesuatu yang positif tapi aku lupa apa).


Kodependen sendiri dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu yang tampak sebagai sesuatu yang negatif dan yang tampak sebagai sesuatu yang "positif." Kalau kamu merasa/dianggap sebagai orang baik oleh orang-orang, periksa lagi kamu beneran baik apa malah aslinya kodependen. Banyak orang yang nggak nyadar hal ini.


Secara muatan/isi, buku "Codependent No More" ini bagus kok. Silakan dibaca. Recommended.




20 April 2022

Review Buku "No More Regrets!" Create a Better Tomorrow Today

"No More Regrets!" Create a Better Tomorrow Today: 30 Ways to Greater Happiness and Meaning in Your Life

Penulis: Marc Muchnick


Hidup tanpa penyesalan, seharusnya kita semua seperti itu dalam menjalaninya. Sayangnya tidak. Bahkan, aku masih ingat ada buku yang berisi tentang 5 penyesalan terbesar manusia sebelum dia mati. Dari sisi ini mungkin tema dan judul buku "No More Regrets!" ini berpotensi untuk sangat marketable (laku keras).


Dari sisi cover, dia juga menarik. Covernya full tulisan tapi tetap enak dibaca dan dilihat.


Masuk ke daftar isi, aku merasa buku ini iyes banget. Poin-poinnya itu dapet banget. Inspiratif. Isi buku ini sudah langsung dapat terlihat pada daftar isinya.


Kemudian layout-nya, enak gitu untuk dibaca. Lumayan ramah di mata.


Buku ini itu berisi 30 cara untuk hidup tanpa penyesalan, lebih bahagia dan berarti. Tiap 1 bahasan/cara tersebut disertai dengan cerita yang mendukungnya. Aku tipe orang yang suka baca to the point, jadi model-model tulisan yang lama nggak nyampai ke inti itu agak bikin aku kurang sabar dan kelelahan, meskipun cerita-ceritanya banyak yang bagus, terutama cerita pertama, itu sangat inspiratif dan motivatif. 


Banyak di antara isinya yang menyertakan pengalaman pribadi penulis. Jadi, sepertinya istri penulis itu seorang sanguinis yang suka "petualangan" dan mengambil risiko-risiko ekstrim. Aku tidak yakin apakah penulis juga sanguinis seperti istrinya. Sepertinya tidak, atau setidaknya nggak se-dominan istrinya sisi sanguinis tersebut. Yang pernah kubaca gitu, ketika sanguinis bertemu dengan sanguinis maka mereka akan cenderung terjun ke "petualangan-petualangan" yang berbahaya. Intinya (entah sama sanguinisnya apa nggak), pada akhirnya suaminya ini ngikut keputusan istrinya terus. Jadi, mereka berdua bergelut dalam petualangan hidup sebagai pasangan dan keluarga demi untuk menjalani hidup tanpa penyesalan. 


Apa yang diajarkan di buku ini sebenarnya bukan sesuatu yang mudah, tetapi lebih ke sesuatu yang berani. Kamu punya masalah gini gitu berani nggak keluar, mengubah, pergi, atau pokoknya melakukan perubahan sampai kamu merasa sreg dengan hidupmu.


Isi buku ini sendiri sebenarnya sederhana, walau mungkin telah banyak dilupakan orang. Intinya itu lebih ke punya nyali untuk mengubah/memperbaiki hidup atau memperjuangkan hidup yang kamu impikan. Isinya sangat reflektif dan inspiratif dan pada bagian awal dia punya daya dorong otomatis, ada sisi motivasinya yang kena banget di aku. Penulis sendiri pada awal buku sudah dengan sangat PD-nya bilang, pasti akan ada di antara bahasan buku "No More Regrets!" ini yang akan relate sama kamu. Dalam konteks aku, dia benar. Aku langsung mempraktekkan sebagian ajarannya. 


Lumayan lah buat ngingetin kamu akan beberapa hal penting dalam hidup, yang mungkin kamu sudah lupa. Sambil membaca kisah penulis dan keluarganya yang sangat penuh warna, baik warna hitam (baca: masalah/pergulatan hidup) maupun berbagai warna cerah lainnya. 







17 April 2022

Review Buku "Maybe It's You"

"Maybe It's You," Cut the Crap, Face Your Fears, Love Your Life

Penulis: Lauren Handel Zander


"Maybe It's You." Pertama baca judulnya aku nggak punya gambaran buku ini isinya apa karena selain nggak clear aku nggak terlalu paham bahasa Inggris (dan lagi males ngintip terjemahan). Dan ketika baca subjudulnya sudah agak terasa ya kalau gaya penulisnya ini bakal kasar dan blak-blakan.


Gaya blak-blakan ini ditegaskan pula di awal, dia nggak bakal manis-manisin. Dari situ aku uda siap-siap, sekasar apa nih? Cocok nggak buat aku? Nada-nadanya pun bakal pake gaya nyalah-nyalahin, yang pastinya nggak enak banget.


Buku "Maybe It's You" ini isinya tentang changing, perbaikan hidup. Meski judulnya "Maybe", seperti dugaanku, isinya full nyalah-nyalahin. Isinya nggak "Maybe", tapi bener-bener "It's You" (sambil nunjuk ke kamu). Bedanya apa dengan buku lain yang sebenarnya bahasannya sama? Cara penyampaian. Mungkin mereka sama-sama ingin mengubah tapi ini auranya nggak enak. 


Untuk metodenya sendiri secara tertulis beda, tetapi secara inti tidak. Mungkin ada bagian dari kreativitas masing-masing terapisnya. Aku nggak tahu nama metodenya apa, tapi ini tentang kesadaran diri. Lebih ke thinking or logical. Kamu disuruh memikirkan hubungan antara dirimu dengan ucapanmu, belief-mu, inner critic-mu, ortumu, dan lain-lain lalu membuat rencana perubahan dan konsekuensi secara sadar. Ada bagian "menunjukkan"-nya juga, tapi caranya masih kasar.


Sepanjang aku membaca buku ini, dia tidak mengandung daya dorong alami. Kata-kata atau isinya itu nggak menimbulkan daya motivasi atau daya inspirasi otomatis terhadapku. Malahan, aku lebih merasakan aura paksaan. Masih berupa controlling gitu, masih kasaran, nggak alusan, nggak persuasif, dan seperti kataku tadi, nggak menginspirasi dan nggak memotivasi secara otomatis. Kata-katanya tidak punya power ke arah sana. 


Bagus nggak isinya? Bagus kok. Cuma tentang kata-kata tadi aja dan tentang cocok-cocokan metode. Cocok nggak metode ini buat kamu? Dan itu perlu kamu baca dan coba sendiri. 

16 April 2022

Review Buku "Assertiveness"

"Assertiveness," how to stand up for yourself and still win the respect of others

Penulis: Judy Murphy


"Assertiveness" adalah sebuah buku yang mengajarkan tentang ketegasan dengan tetap menghormati orang lain. Penulis, Judy Murphy, berusaha mengajarkan ketegasan yang sehat, tidak pasif tetapi juga tidak agresif.


Dalam situasi sehari-hari, kita akan sering dihadapkan pada pelanggaran hak, orang yang menyebalkan/toksik, ataupun situasi-situasi yang tidak menguntungkan. Di sinilah sikap asertif kita dibutuhkan.


Mulanya penulis akan mengenalkanmu pada prinsip-prinsip asertif, kemudian mengajarkan bahasa tubuh pendukung ketegasanmu di mata orang lain, serta contoh-contoh penerapan asertivitas pada berbagai pihak dan berbagai situasi/kasus sehari-hari, misalnya pada orangtua, anak, teman kerja, sales, dan bos; bagaimana cara mengajarkan ketegasan kepada anakmu nanti, plus cara mengukur/mengevaluasi apakah pada akhirnya kamu sudah berhasil menjadi lebih tegas/asertif atau belum. Dan pada bagian akhir ada motivasi-motivasinya dan penguat saat masa transisimu (saat kamu belajar menerapkannya).


Enak sih sebenernya, ada contoh-contoh kasus dan strategi/kata-kata asertif yang digunakan, tetapi pada beberapa di antaranya itu seperti susah dilakukan atau susah untuk mendapatkan hasil yang diharapkan. 


Kalau dari segi bahasa, masih ada bagian yang kasar atau kurang enak di hati. 


Aku belum punya pembanding untuk buku ini karena aku belum terlalu baca buku-buku tentang asertivitas, yang memang temanya spesifik tentang asertif. Kalau buku-buku tentang abuse juga kadang ada bahasan asertifnya tapi kan nggak spesifik bahas tema asertif aja. 


Sementara sih aku masih nilai buku ini kualitasnya sedang. Meski bagus dan bermanfaat, tetapi aku masih kurang puas dengan isinya. 



Review Buku "Unstoppable Confidence"

"Unstoppable Confidence," unleash your natural confidence within

Penulis: Kent Sayre


Buku "Unstoppable Confidence" ini diawali dengan kisah transformasi penulis yang dulunya pemalu tetapi sekarang sudah PD. Dia menjelaskan kalau orang yang menyebut dirinya sendiri pemalu itu sebenarnya hanya excuse atau alasan bahwa dia tidak mau upgrade diri. Kamu yang ngaku pemalu harus belajar secara bertahap agar lebih percaya diri.


Secara umum isinya nggak jauh beda dari buku yang baru kureview kemarin (apa ya judulnya? lupa) tapi yang ini banyak tambahannya. Dia lebih kompleks. Karena penulis memang juga mengadopsi teknik NLP pada sebagian isi bukunya.


Pada buku ini, penulis juga menjelaskan beda antara arogan dan percaya diri, beda antara kompeten dan percaya diri, serta berbagai hal pembangun percaya diri, seperti keyakinan (belief), bahasa tubuh, pilihan kata, suara internal (inner voice), postur, kontak mata, dan masih banyak lagi. 


Isinya kompleks, tapi porsi visualisasi lumayan mendominasi. Mungkin sebagian orang malah terbantu dengan memilih mana yang cocok atau dia butuhkan, tapi buatku pribadi agak overwhelm (berlebihan) gitu ya, terutama karena aku nggak terlalu cocok dengan metode visualisasi. Kayaknya capek juga gitu lho kalau untuk setiap fungsi/perbaikan apa pun kita harus visualisasi. Aku lebih suka yang simple tapi work. Apalagi, buku ini ditulis dengan lempeng banget (format yang melelahkan untuk dibaca), jadi semakin ada resistensi untuk bacanya.


Overall, up to you mau baca yang ini apa nggak. 



15 April 2022

Review Buku "How to Love"

"How to Love"

Penulis: Thich Nhat Hanh


Thich Nhat Hanh. Nama ini termasuk sering kujumpai di cover-cover buku, sebelum akhirnya kemarin aku tahu kalau dia ternyata master Z*n (berhubungan dengan agama B*dha). Itu juga taunya kebetulan karena habis baca buku kalau nggak salah judulnya Claim Clarity, yang ujung-ujungnya ternyata penulisnya kemudian memeluk agama B*dha. 


Meski gitu "How to Love" ini sepertinya isinya umum, bukan ajaran B*dha. Sepertinya ya. Ini prinsip-prinsip umum tentang cinta. Ini ajaran tentang cinta. Cinta itu seperti apa, syaratnya apa saja, dll. Uniknya, isi buku ini dan cara penulis menuliskannya itu begitu lembut, hangat, dan terasa aura cintanya. Aura cintanya itu memancar gitu. Dengan kata lain, mungkin aku setuju dengan definisi dan deskripsi cinta yang ditawarkannya. Terasa beda banget gitu lho kemarin aku habis baca buku dari (mungkin psikolog) cowok yang ngomong tentang relationship dan ngomongnya itu kasar banget walaupun diberi alasan-alasan logis atau rasional, pun walaupun dia cowok (cz ada buku lain dan email lain di mana cowok itu "ganti mode" kalau ngomong ke cewek dan ngomong ke cowok). 


Isi buku ini itu halus banget. Beneran. Aura cintanya itu dapet banget, sesuai dengan tema yang diusungnya. Dan nggak ada aura keegoisan, controlling, atau ke-otoriter-annya. Jujur, aku nggak menemukan yang seperti ini pada pemuka-pemuka agama dan buku-buku agama di agamaku sendiri. Membaca atau mendengar mereka aku malah nggak merasa teduh, nggak merasa melembut atau ada aura cinta dan semacamnya. Malahan, aku sering nelongso karena ucapan atau isinya yang cenderung pro pria, kurang bijak, tidak adil, atau kasar pada pihak tertentu. 


Untuk relationship sendiri aku sudah menutup dari baca buku-buku relationship versi agamaku (yang berlabel buku agama atau ditulis oleh orang-orang agamaku) karena aku nggak puas dengan isinya dan auranya nggak enak. Aku lebih cenderung baca buku umum. 


Ini juga salah satu buku yang bikin aku iri karena udah halamannya dikit banget, 1 halaman itu isinya cuma 1 paragraf singkat banget.  Itu pun kadang isinya cuma beberapa kalimat. Ada juga halaman-halaman yang cuma diisi gambar besar/gambar peralihan antar halaman yang gambarnya itu sama. Bikin ngiri banget, kan?


So, kesimpulannya buku "How to Love" ini bagus banget isinya. Recommended.

Review Buku "I Can't Believe You just Said That"

"I Can't Believe You just Said That," the truth about why people are so rude

Penulis: Danny Wallace



Rude/kekasaran itu mungkin sudah menjadi makanan sehari-hari kita. Di mana-mana orang suka kasar seolah nggak mau ngertiin perasaan orang lain. 


Ketika baca judul buku "I Can't Believe You Just Said That" ini aku tertarik karena aku sendiri merasa ini relate banget dengan kehidupan kita sehari-hari. Eh barangkali nemu sesuatu yang berguna dari baca buku ini.


Kelihatan ya, tema yang diambil itu beda banget. Lain sendiri. Ada buku tentang orang toksik, ada buku tentang narsis, ada buku tentang asertif, tapi buku ini walaupun secara isi sedikit banyak masih berhubungan dengan hal-hal tersebut tapi judulnya beda banget. Dia bisa berdiri sendiri dengan judul yang menyolok dan lebih familiar. Kalau narsis misalnya mungkin masih ada orang yang belum paham artinya.


Kalau aku nggak salah tafsir ya, dari judul aja bisa terlihat kalau buku ini fokus/lebih menyoroti perbuatan buruknya, bukan pelakunya. Isinya pun gitu, tentang beraneka macam orang di berbagai situasi (di fast food, di jalan, saat interview, dll) dengan kekasaran mereka masing-masing. Penulis mencoba mereka-reka penyebabnya, mencari referensi-referensi ilmiah yang berhubungan, plus mendiskusikan/mencoba menawarkan kemungkinan solusinya.


Dia menjelaskan betapa bahayanya kekerasan itu karena selain bisa menular dengan cepat kepada semua yang menginderanya, dia juga merusak fisik, mental, dan pikiran dari semua orang tersebut. Dia membuat level orang untuk bereaksi negatif meningkat bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya (bagi penulis) netral.


Karena itu dia berusaha meredam dengan respon yang "cenderung ngalahi" walaupun yang salah pihak lain sekalipun. Tips-tipsnya dia bagi di sini.


Buku "I Can't Believe You Just Said That" ini lumayan bermanfaat sih aslinya. Hanya saja formatnya yang berupa story telling dan format layout yang kurang enak dibaca membuat bacanya itu melelahkan banget buatku karena gak nemu-nemu intinya/poinnya.

Baca aja kalau mau. Menarik kok, apalagi karena solusi yang ditawarkan juga unik.



13 April 2022

Review Buku "Help with Negative Self-Talk"

 "Help with Negative Self-Talk"

Penulis: Steve Andreas


Ada kejadian unik di seputar aku baca buku "Help with Negative Self-Talk" ini. Pas baca kan aku ngerasa ada info yang nggak baru, aku udah pernah baca sebelumnya di buku lain tapi aku lupa buku apa. Trus kan aku baca buku lain, eh ternyata itu bukunya. Judulnya "Change Your Life in 7 Days." Trus kan aku baca-baca lagi buku "Help with Negative Self-Talk" ini. Pada bagian yang lebih ke belakang ada lagi info yang aku pernah baca tapi lagi-lagi lupa judulnya. Tentang apa juga lupa. Trus tiba-tiba aku ingat, itu salah satu buku relationship. Penulisnya pria yang kuduga seorang fucekboy (tapi aku tetep lupa judulnya). 


Jadi gini ya, buku "Help with Negative Self-Talk" ini tentang self talk ya, bukan tentang inner critic. Aslinya, keduanya bisa sama dan bisa juga tidak. Negative self talk itu tidak selalu berupa inner critic dan sebaliknya inner critic pun tidak selalu self (diri sendiri) yang ngomong/sumbernya. 


Sekarang sudah tahu kan bedanya?


Pertama baca buku "Help with Negative Self-Talk" ini tadinya aku merasa ini metode yang bener-bener baru buatku, sebelum akhirnya aku sadar kalau ada beberapa yang sudah pernah kupelajari. Dan aku kaget, nggak nyangka kalau ini bagian dari NLP (Neurolinguistic Programme). Udah sering sih denger tentang NLP tapi nggak tau tekniknya kayak apa. Ternyata di antaranya ya seperti yang di buku ini. Aku juga sudah nyoba sebagian di antaranya dan sepertinya manjur.


Isi buku ini macam-macam, di antaranya ya cara mengatasi inner critic, cara mengatasi trauma (gambar/suara yang mengganggu), cara agar mudah bangun tidur, dan pokoknya cara agar kata-kata kita itu lebih positif atau boleh negatif tapi negatif yang memberikan hasil positif.


Intinya buku ini ngajarin kamu untuk aware atau memperhatikan kata-katamu:

1. Kata-kata yang negatif dan berefek negatif diganti kata-kata positif,

2. Kata-kata positif yang berefek negatif diganti yang berefek positif,

3. Kata-kata positif diganti kata-kata positif yang lebih baik/lebih tepat,

4. Kata-kata negatif yang berefek positif tidak apa-apa (biar kamu nggak salah paham dengan poin ke-4 ini mending langsung baca bukunya aja).


Singkatnya, buku "Help with Negative Self-Talk" ini adalah buku tentang memperbaiki hidupmu dengan cara memperbaiki kata-katamu. 


Beberapa bagian dari buku ini bahasanya lumayan berat sih tapi dia bagus kok. Recommended.

Review Buku "Why So Stupid?"

"Why So Stupid?" how the human race has never really learned to think

Penulis: Edward de Bono


Hmm ... judul yang sangat sensasional bukan.

Bodoh kamu. Nggak mikir. Manusia itu goblok semua. 

Wow ... sangat kasar, bukan?

Aku nggak ingat udah baca berapa buku de Bono. Mungkin 2. Tapi gaya bicaranya ya serupa ini, meledak-ledak dan membodoh-bodohkan orang lain. Kasar gitu lho pilihan bahasanya.


Pada buku "Why So Stupid?" ini dia mengkritik semua manusia itu nggak mikir. Dia mengkritik sains/metode ilmiah, dia mengkritik pemikiran logis, dan dia mengkritik segalanya, termasuk tentang keyakinan beragama.


Aku jadi ingat saat pertama kali masuk kuliah. Di situ aku mengikuti pengenalan UKM Penalaran dan yang dibahas juga agama, "Setujukah kamu bahwa semua agama benar?" 


Yah, mirip-mirip gitu dibahas juga di buku "Why So Stupid?" ini, tapi tentu jawabannya beda ya. Pokoknya kalo di buku "Why So Stupid?" ini, yang pinter atau bener cuma de Bono.


Memang ada sih beberapa orang atau buku yang menyinggung tentang logika atau berpikir, misalnya "Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat" - nya Mark Manson itu juga membahas tentang bagaimana pemikiran atau logika itu bisa salah. Jadi, jangan terlalu mendewa-dewakan pemikiran/logika. 


Kalau pada buku Mark Manson ini, penjelasannya malah kupandang sebagai penyeimbang karena ada orang yang terlalu mendewa-dewakan logika dan menghina atau seperti malu/membuang/ingin mengesampingkan sisi perasaan, bahwa pemikir lebih baik dari perasa. Di situlah aku memandang dia sebagai penyeimbang, bahwa logika (pemikir) maupun perasaan (perasa) ada kekurangannya sendiri-sendiri.


Selain "Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat", aku juga pernah menemukan statement "Manusia itu males mikir" di dalam buku-buku marketing atau mungkin juga buku pembuatan keputusan atau buku dan media lain. Yang eksplisit banget ya di buku marketing. 


Dan ... yah aku juga ingat banyaknya ayat "nggak mikir" di dalam Al Quran: "Apakah kamu tidak berpikir? Apakah kamu tidak memikirkan? dll."


Oh ya, lupa, ada lagi sih buku tentang logika yang kuingat judulnya, "Logically Fallacious."


Apakah benar manusia itu nggak berpikir? Atau cara berpikirnya yang salah? Atau yang dipikirkannya yang nggak bener? Kalau versi de Bono sih, apa yang kita anggap sebagai berpikir logis sebenarnya bukan berpikir logis tapi hal yang berbeda. Istilah dia beda.


Paham nggak sih kamu? Nggak paham, kan?

Sama.

Mbuh kah. Mbingungi.

Udah isinya berat, cara nulisnya juga berat.

Wis pokok'e gitu deh intine.


12 April 2022

Review Buku "Self-Confidence"

"Self-Confidence," the remarkable truth of why a small change can make a big difference

Penulis: Paul McGee


Ada kabar gembira buatmu yang ingin lebih PD. Ternyata, rasa percaya diri itu bisa ditingkatkan. Bahkan, dengan perubahan kecil saja bisa memberikan dampak yang besar. Nambah 10 persen aja, hidupmu akan jauh lebih baik, begitu janji Paul McGee, penulis buku "Self-Confidence" tersebut di dalam bukunya.


Aku tuh suka buku small change-small change macam gini ya karena kayak enteng aja gitu, ada kata "small"-nya. Tapi, ini beda dari buku small change pada umumnya karena dia spesifik untuk 1 hal/tujuan, yaitu meningkatkan rasa PD.


Secara umum, buku "Self-Confidence" ini keren abis. Mulai dari cover sampai isinya itu bagus. Covernya bagus, format penulisannya (keterbacaan/layoutnya) bagus, cara menulisnya bagus, isinya pun bagus, hanya saja buatku pribadi ada beberapa hal yang kurasa kurang empatik atau nggak enak di hati. 


Apa saja isi buku ini?

Ada mitos-mitos tentang rasa percaya diri, orang-orang atau peristiwa-peristiwa yang mengikis rasa percaya dirimu, 4 tipe orang yang harus kamu pahami dan cara memilih mereka sesuai kebutuhanmu, tips-tips untuk meningkatkan rasa percaya dirimu agar 10 persen lebih tinggi, dan masih banyak lagi.


Ngomong-ngomong, aku juga pernah baca buku lain tentang kepercayaan diri. Aku lupa sih judulnya, tapi dia membahas hubungan antara rasa percaya diri dengan kompetensi, perasaan minder, maupun narsis. Uniknya, Paul McGee juga membahas beberapa masalah yang diangkat tersebut di dalam buku "Self-Confidence" ini. Paul McGee menerangkan hal itu secara jelas tentang batasan-batasan mengenai rasa percaya diri ini, apa yang bisa dilakukan dan tidak bisa dilakukannya, sejauh mana rasa PD bisa mendatangkan hasil positif, dan lain-lain. Penjelasannya sangat clear (memenuhi unsur clarity). Rupanya, Paul McGee tidak hanya jago public speaking, dalam bentuk tertulis pun ucapannya itu terdengar luwes, bijak, dan ramah. Sebagian kecil saja dari isinya yang secara personal aku kurang suka.


Kesanku setelah baca buku ini aku jadi pengen baca bukunya yang best seller, yang judulnya S.U.M.O (Shut Up, Move On) karena tulisannya yang begitu easy reading. Penasaran gitu, yang sebagus "Self-Confidence" ini aja nggak best seller, trus yang best seller itu kayak apa?


Seperti itu. Tapi baca beneran apa nggaknya ya liat aja nanti.

11 April 2022

Review Buku "The Art of Money Getting, or Golden Rules for Making Money"

"The Art of Money Getting, or Golden Rules for Making Money"

Penulis: P.T. Barnum


"The Art of Money Getting, or Golden Rules for Making Money" adalah karya dari P.T. Barnum, salah satu orang yang sukses di berbagai bidang.


Dia merupakan buku yang singkat dan padat berisi. Isinya memuat prinsip-prinsip penting dalam mencari atau menghasilkan uang. Prinsip-prinsip ini sederhana tetapi penting. Dan saat aku baca prinsipnya, aku kagum karena salah satu yang diajarkannya adalah "Carilah uang dengan jujur." Jadi, kemungkinan besar Barnum adalah orang yang baik (orang baik-baik), yang berusaha/bekerja dengan "bersih."


Buku ini ditulis dengan cara tiap 1 bab mewakili 1 prinsip. Jadi, mudah untuk membedakannya.


Buku ini punya cover yang kelihatan klasik, memuat gambar yang mungkin gambar Barnum itu sendiri. Yah memang buku ini terbitan 1880 jadi wajar lah ya. Bahasanya pun gitu, masih serius. Tapi, Barnum ini sebenarnya penulis dan penerbit juga, walaupun buku ini sendiri sepertinya diterbitkan oleh penerbit lain.


Aku sih kurang suka cara penulisan buku ini, tapi aku suka prinsip-prinsip yang diajarkan di dalamnya. Aku setuju bahwa prinsip-prinsip yang diajukannya itu krusial di dalam bisnis/mencari dan menghasilkan uang.

Review Buku "Energy Vampires"

"Energy Vampires," how to protect yourself from toxic people with narcissistic tendencies

Penulis: Tom Sayers


Sesuai judulnya, "Energy Vampires" adalah buku tentang narsis. Penulis menyerupakan narsis dengan vampir yang menyedot energi.


Secara isi sih, kalau kamu udah biasa baca buku ginian, ini sama dengan yang lain (biasa/pasaran). 


Keunggulan buku ini adalah formatnya yang enak dibaca. Dia diusahakan tiap 1 bahasan 1 halaman. Sering-seringnya, 1 bahasan itu pun nggak penuh 1 halaman. Jadi, dia enak dibaca. Dia juga salah satu buku yang bikin aku iri karena boleh pake format ginian. Selain itu, alurnya yang baik dan penulisannya yang jelas (memenuhi unsur clarity) membuatnya semakin enak dibaca.


Seperti buku-buku narsis pada umumnya, dia juga memuat ciri-ciri narsis. Tak lupa dia memberi juga solusi jika kamu berhubungan dengan narsis baik mereka sebagai orangtua, saudara, anak, pasangan, teman, atau lainnya. Meskipun, bagiku pribadi, solusi dia maupun solusi-solusi buku lain pada umumnya terasa gimana ya? Abstrak, nggak terlalu mengatasi masalah/nggak terlalu membantu, atau entah apa.


Anehnya, jika pada buku lain umumnya penulis membahas NPD (Narcissist Personality Disorder) lebih berbahaya daripada narsis (narcissist trait), penulis "Energy Vampires" ini berpendapat sebaliknya. Menurutnya, narsis lebih berbahaya daripada NPD. Pernyataan itu ditunjukkannya melalui perbedaan antara keduanya pada awal buku ini. Dan buku ini adalah tentang narsis tersebut dan bukan NPD.


Jadi, kalau kamu dasar banget/belum tau sama sekali tentang narsis, mungkin bisa lah ya baca buku ini. Tapi, kalau kamu sudah pernah baca/tahu tentang narsis, ya isinya kurang lebih sama dengan buku-buku lainnya (lebih baik cari yang lain).



10 April 2022

Review Buku "Solving the Procrastination Puzzle"

"Solving the Procrastination Puzzle," a concise guide to strategies for change

Penulis: Timothy A. Pychyl


Procrastination atau penunda-nundaan adalah masalah umum kita bersama. Pada satu atau beberapa kasus, mungkin kita melakukannya atau sering melakukannya. 


Mungkin kamu masih ingat istilah SKS (Sistem Kebut Semalam) atau deadliner (orang yang suka mepet deadline), itu juga bagian dari procrastination.


Buku "Solving the Procrastination Puzzle" ini bentuknya berupa studi kasus dari koleksi postingan blog untuk Psychology Today. Jadi, di situ ada kasus trus dikomentari penyebabnya apa dan diberi solusi sekalian.


Mulanya penulis menjelaskan kalau nggak semua penunda-nundaan itu jelek. Ada yang memang dibutuhkan dan itu nggak termasuk procrastination. Kemudian penulis mengurai macam-macam bentuk penunda-nundaan yang negatif/destruktif (termasuk procrastination) ke dalam berbagai contoh studi kasus tadi. 


Ada bahasan mengapa komitmen dan motivasi saja tidak cukup, mengapa perfeksionis dan self consciousness tinggi juga bisa termasuk bentuk procrastination, sifat-sifat atau kepribadian-kepribadian yang berhubungan erat dengan procrastination serta cara mengatasinya, dan masih banyak lagi.


Di sini, penulis mengambil pendekatan yang berbeda dengan penulis buku "Conquer Fear!" tentang penyebab deadliner, begitupun cara mengatasinya. 

Begitupun perspektif tentang self consciousness yang tinggi. Salah satu buku relationship (lupa judulnya, mungkin "The Secret of Happy Marriage") itu nyuruh kita untuk nyari calon yang consciousness-nya tinggi (untuk menghindari psikopat, dll), lah di buku procrastination ini kok malah negatif atau seperti bertolak belakang. Dia ngasih 3 resep utama sih ya, tapi nggak kubocorin di sini. 

Tapi aku juga bingung, sama nggak sih consciousness dengan self consciousness? Kok aku pernah ngisi tes psikologi berbahasa Inggris itu keduanya dibedakan. 


Kembali ke buku "Solving the Procrastination Puzzle" ini, dia adalah buku yang disisipi kartun-kartun. Jadi, sebenarnya dia sudah berusaha untuk kreatif dengan adanya kartun-kartun ini dan formatnya yang berupa studi kasus, yang berbeda dengan buku procrastination pada umumnya. Selain itu, dia punya kelebihan berupa halamannya yang sedikit.


Meski demikian, aku kurang nyaman aja bacanya. Ada buku lain tentang procrastination yang sepertinya lebih kusukai (tapi belum kureview).

09 April 2022

Review Buku "Think Big!"

"Think Big!" Be positive and be brave to achieve your dreams

Penulis: Ryuho Okawa


"Think Big!" adalah buku tentang filosofi-filosofi atau pelajaran-pelajaran hidup dari Ryuho Okawa, penulisnya. Dia berisi berbagai perspektif unik Ryuho tentang kehidupan, mulai dari filosofi "I'm fine", analogi fighter plane pilot, pemilihan buku dan segala inputmu, sampai dengan hal-hal lainnya.


Di situ juga ada bahasan tentang berpikir sederhana, sebelum kemudian pada bagian akhir muncul bahasan berpikir besar. Awalnya aku berpikir itu kontras, tapi mungkin juga tidak karena berpikir sederhana yang dimaksud di sini adalah intinya saja (berpikir yang inti/penting).


Buku ini unik dan termasuk salah satu yang bikin aku iri karena format menulis dia itu bebas. Mayoritas isinya itu ditulis per baris satu kalimat. Satu kalimat trus enter, satu kalimat enter, gitu terus. Hanya beberapa yang tidak. Terkesan kayak menuh-menuhin halaman ya? Tapi enak bacanya.


Oh ya, pertama aku baca buku ini itu aku cukup tertarik dengan perspektif uniknya, sampai kemudian pada bagian yang agak tengah aku mulai merasakan dia "Jepang banget." Aura pekerja kerasnya, workaholiknya, perfeksionisnya, terlalu mandirinya, pemikirannya yang kurang memperhatikan diri sendiri dan lebih memperhatikan orang lain, tiba-tiba membawaku pada asosiasi ciri-ciri avoidant dan gambaran orang Jepang yang kuketahui sehari-hari, baik dari TV, film, atau lainnya (yang kemudian dijelaskan oleh penulis budaya kerja Jepang tidak workaholik seperti itu, itu budaya kerja di US).


Jadi, aku memandang buku ini ada bagian nggak sehatnya juga. Kalau kamu mo baca atau nerapin yang diajarkan itu perlu disaring dulu.







08 April 2022

Tips Menjawab jika Cewek Ditanya Mau Makan Apa

 

Aku suka sebel kalo cowok bahas masalah remeh kayak ginian. 

Kalau pas ditanya cowok trus cewek jawabnya "terserah."

To be honest, cowok juga banyak lho yang jawab "terserah" kalau ditanya ma cewek tentang berbagai hal.

Lah kenapa kok kata "terserah" dilekatkan ke cewek? Yaaa biasalah ya, tentang apa pun, walopun keduanya melakukan, keduanya sebanding, or semacamnya, kalo yang ngelakuin cewek pasti akan dibesar-besarin. Coz bagi mereka cewek selalu salah.


Bahkan, untuk hal remeh macam jawab "terserah" aja diributin. Ntar kalo kita "nyebut" sananya gak bisa menuhin? Dasar makhluk ribet.


So, gini aja deh, buat kamu yang gak mau diribetin dengan pertanyaan makan apa atau makan di mana, sini kukasih cara menjawabnya.


Cowok: mau makan apa?

Cewek: berapa budget yang kamu punya/anggarkan untuk makan kita?

Cowok: sekian

Cewek: kamu ngincer tempat makan sekitar mana sampai mana dari sini?

Cowok: kalau bisa sih dari "sini" sampai "situ" aja.

Cewek: aku mau makan "ini", ada nggak? Kalau ada pilihin tempat yang menu "itu"-nya paling enak di antara range yang kamu pilih tadi.

Cowok: ada. Kafe A dan warung B.

Cewek: Yang A aja deh, yang kafe.


Yah gitu contohnya. Cewek harus tau saat ditanya itu bener-bener bisa jawab bebas, atau "bebas bersyarat."

Intinya, kamu kudu nanya yang detail karena dia nanyanya nggak detail, modus.


Oke? Silakan dicoba.




07 April 2022

Buku-Buku Rekomendasi tentang Abuser atau Controlling People

 

Abuser ataupun controlling people adalah sesuatu yang rumit dan sulit dipahami. Sepanjang aku mendalami bahasan ini, banyak hal yang tidak kutahu dan aku menduga kemungkinan besar orang juga demikian. Itu mungkin nggak seremeh atau sesimpel bayanganmu. Ada banyak hal yang mungkin akan kamu anggap normal padahal itu abusive atau controlling.


Wajar sebenarnya kalau orang awam sepertiku tidak banyak tahu. Jangankan orang awam, para ahli saja ada yang hanya tahu parsial, ada juga yang tidak tahu. Bahkan, ada juga yang malah membela abusernya.


Begitupun selama aku dalam proses pencarian jodohku. Aku ketemu buanyak sekali abuser/controlling people. Jenisnya pun macam-macam. Ada yang implisit, ada yang terang-terangan. Ada yang berkedok "ini", ada yang berkedok "itu". Ada yang sudah sejak awal abusive, ada yang direncanakan dulu, misal ntar abuse-nya setelah nikah. Ada yang hard abuse, ada yang soft abuse. Ada yang mudah terdeteksi, ada yang tidak. Ada yang abusive tentang uang, ada yang abusive tentang s*ksual, fisik, atau lainnya. Buanyak sekali. Jadi, misal kamu sedang cari jodoh sepertiku trus ada orang nyalah-nyalahin kamu karena tuduhnya kamunya yang bikin cowok gini gitu, kuberi tahu dulu ya emang cowok ga bener itu buanyak. Abuser itu buanyak. Jangan terjebak untuk meragukan dirimu sendiri, padahal kamu yang ori aslinya meragukan cowok tersebut.


Aku berusaha keras mengedukasi diriku sendiri dan terutama para wanita lain agar tidak terjebak dengan mereka.


Aku menemukan beberapa buku yang pernah kubaca (dan yang kebetulan ingat judulnya) sangat bermanfaat untuk membantumu dalam hal ini:

1. Why does he do that,

2. But he says he loves me,

3. Controlling people

4. The nice girl syndrome


Ini adalah buku-buku yang mendalam dan dengan perspektif yang unik. Isinya saling melengkapi dan mendukung satu sama lain. Jika memungkinkan, aku merekomendasikan padamu untuk membaca semuanya. Lalu sebarkan pada wanita-wanita lain, agar semakin banyak wanita yang mampu menemukan hubungan yang sehat, baik itu tentang cinta sejatinya atau lainnya.


Sebenarnya ada beberapa judul lain juga, mungkin kalau aku ingat atau ada tambahan lain bisa ku-update lagi.

06 April 2022

Review Buku "The Complex PTSD Workbook"

"The Complex PTSD Workbook," a mind-body approach to regaining emotional control and becoming whole

Penulis: Arielle Schwartz dan Jim Knipe


Beberapa waktu lalu aku sudah mereview beberapa buku tentang sabotase diri, yang menurutku auranya pada nggak enak. Tapi yang "Conquer Fear!" kemarin masih mending daripada yang satunya.


Nah, kalau buku "The Complex PTSD Workbook" ini isinya bener-bener safe. Nggak ada aura-aura nggak enak. Penulisnya itu safe, compassionate, dan understanding, sepertinya memenuhi kriteria sebagai terapis yang baik.


Dibanding beberapa buku lain tentang CPTSD, buku "The Complex PTSD Workbook" ini termasuk singkat. Tapi kayaknya dia sudah bisa bantu kamu banget karena dia clear (memenuhi unsur clarity), berperasaan/berempati, sangat kaya, padat berisi, dan jangan lupa ini adalah buku kerja (workbook), jadi ada tugas-tugasnya.


Isi buku ini sebenarnya berat, sudah masuk psikologi banget, tapi secara bahasa masih mudah dipahami. Medium/sedengan. Lagipula, ini sudah kayak rangkuman banget. Kalau kamu beneran butuh, udah terbantu banget bacanya. Bandingin sama buku CPTSD lain yang halamannya lebih tuebel-tuebel, enakan ini lah. Tapi, ini lebih ke teori. Tingkat kedalaman teorinya mungkin menengah, sedangkan kedalaman untuk terapinya masih tingkat dasar. Lebih ke pengenalan aja, kurang mendalam.


Buku ini dibagi menjadi 6 bab:

1. Pengenalan tentang CPTSD: penyebabnya apa, gejala utamanya apa, gejala-gejala umumnya apa aja, gangguan/disorder/illness apa yang sering menyertai CPTSD, kesalahan diagnosa apa yang berhubungan dengan gangguan ini, hubungan antara CPTSD dengan gangguan belajar, gangguan makan, maupun gangguan fisik, dll.


2. Macam-macam terapi bagi penderita CPTSD

Penulis menyebutkan, biasanya para terapis menggunakan terapi kombinasi, bukan terapi tunggal. Apa saja macam-macam terapinya kemudian dijelaskan di sini.


3-5. Kisah-kisah penderita dengan 3 fase pemulihan CPTSD yang berbeda-beda. Di sini penulis menyoroti 1 gejala utama yang berbeda-beda pada masing-masing fase penderita tersebut. Dari 3 itu kamu bisa ngukur sedang berada dalam fase yang mana, lalu bisa nyontek solusinya di sini. Ingat! Fase pemulihan itu nggak linear ya, bisa aja penderita yang udah fase 2 balik lagi ke fase 1. Jadi, kamu baca sesuai fasemu saat itu.


6. Dukungan pertumbuhan jangka panjang


Yaaa gitu deh. Baik terapis maupun metodenya itu cocok-cocokan ya. Tapi buatku sih, Si Penulis ini sepertinya bisa jadi terapis yang layak kamu pertimbangkan; sedangkan kalau mau nyoba-nyoba metode yang cocok kamu bisa ngintip macam-macam metode di buku ini trus kamu pilih atau coba satu-satu mana yang pas buat kamu.


Buku "The Complex PTSD Workbook" ini bagus untuk pengetahuan buat pemula, tapi kalau untuk penerapan terapinya, sebagai workbook ini masih kurang.

05 April 2022

Review Buku "Scared Stiff"

"Scared Stiff," everything you need to know about 50 famous phobias

Penulis: Sara Latta


Acrophobia, agoraphobia, ailurophobia, aquaphobia, arachnophobia, astraphobia, ataxophobia, aviophobia. Tahukah kamu fobia apa yang digambarkan oleh istilah-istilah di atas? Fobia-fobia tersebut adalah sebagian dari 50 fobia terkenal yang dibahas di dalam buku "Scared Stiff" ini.


Walaupun angka 50 itu kelihatan banyak, tetapi macam fobia sendiri sebenarnya lebih dari 50. 


Sara Latta, dengan background psikologi klinisnya hanya mengulas 50 di antaranya karena fobia merupakan salah satu spesialisasi dia (menangani segala bentuk anxiety/kecemasan).


Isi buku ini menjelaskan asal kata dari masing-masing fobia itu, penyebabnya, orang-orang terkenal yang menderita fobia tersebut, film-film yang mengangkat fobia itu, dan quotes-quotes yang berhubungan dengannya. Sayangnya, nggak semua fobia disertai dengan solusi atau cara mengatasinya.


Di sini kamu akan tahu, ada fobia yang butuh bantuan obat dan ada juga yang tidak.


Secara keseluruhan, menurutku isinya nggak terlalu mendalam. Dia mungkin lebih cocok untuk pengetahuan dasar saja. Dan asyik aja buat kamu yang kepo akan fobia-fobia yang "nggak umum"/aneh-aneh atau penasaran "Kok bisa sih sama gituan aja takut." Selebihnya, aku nggak yakin untuk terapi beneran cukup apa nggak kalau hanya mengandalkan info dari buku ini. Dia lebih cocok untuk penulis yang sedang cari literatur untuk bahan tulisannya.

Review Buku "Conquer Fear!"

"Conquer Fear!" Stop defeating yourself-end self sabotage

Penulis: Lisa Jimenez


Ini buku self sabotage (sabotase diri) ke-3 yang general (bersifat umum) yang sudah kubaca. Kalau yang terpisah macam procrastination (menunda-nunda) atau lainnya sih sudah sering.


Selama ini, kalau aku baca buku sabotase diri yang spesifik, misalnya tentang habit, procrastination, uang, kemalasan, ketakutan, kemarahan, atau lainnya umumnya nggak terlalu menimbulkan feel nggak enak gitu ya. Malahan, misal buku tentang sabotase keuangan (Mind Over Money), itu aku suka banget isinya. Seingatku, buku-buku sabotase yang spesifik itu jarang menyentuh egoku atau jarang menimbulkan resistensi di aku. 


Tapi, kemarin begitu aku baca buku sabotase diri yang generalis, 2 buku itu (yang kureview sebelumnya baru 1) rasanya nggak enak banget di aku. Nah, buku "Conquer Fear!" ini sebenarnya juga menimbulkan perasaan yang sama tapi mungkin nggak terlalu bagiku. Intinya sih, nggak enak tapi aku masih mempertimbangkan kebenarannya dan mempertimbangkan untuk mencobanya. Aku berusaha menoleransi atau beradaptasi dengan perasaanku saat membacanya. Solusi di buku ini juga kayaknya lebih ramah buatku, nggak serem atau menimbulkan ruminasi.


Jadi gini, aku itu nggak tahu, kadang-kadang aku merasa lebih cenderung masuk ke tipe visual. Waktu aku bekerja di lab dengan jamur-jamur dan bakteri atau waktu aku kerja di suatu tempat dan aku melihat proses yang nggak higienis (jorok), pas makan itu aku nggak kolu, mau makan itu jadi inget bakteri, jamur, atau kondisi pemrosesan yang jorok tadi dan susah makan jadinya. Mual gitu, pengen muntah. Pernah kayak gitu, kalau terlalu intens berhubungan dengan yang seperti itu. Tapi, anehnya, kalau disuruh visualisasi (kayak di beberapa buku psikologi) aku nggak bisa dan merasa nggak cocok. Nggak bisa dan kalaupun dengan susah payah akhirnya bisa, aku akan mengalami ruminasi. Error berat.


Nah, buku "Conquer Fear!" ini sepertinya solusinya sederhana dan terasa "tidak mengancam" (lebih aman untuk dilakukan), walaupun ketika dia ngomong gini gitu aku perlu mencerna dulu "Bener gak sih gitu?" Tapi pada banyak hal sepertinya benar, sisanya perlu kucek ulang lagi.


Buku "Conquer Fear!" ini didasarkan pada masalah utama manusia, yang ternyata adalah fear (ketakutan). Semua masalah dasarnya adalah 2 ketakutan utama, takut sukses atau takut gagal. Dan nggak seperti bayangan banyak orang, umumnya orang lebih takut sukses daripada takut gagal. 


Dari 2 sumber ketakutan tadi kemudian orang sadar atau tidak sadar lalu melakukan sabotase diri. Penulis kemudian mengelompokkan 2 ketakutan tadi dengan sabotase-sabotase diri yang menyertainya, dan kebutuhan-kebutuhan apa yang mengiringi masing-masing perilaku sabotase tersebut. Kamu akan kaget karena solusinya kayak nggak nyambung. Dia berperilaku "gitu" (nyebelin/nganeh-nganehi) tapi ternyata yang dibutuhkan adalah hal lain yang beda banget.


Lalu penulis juga mengajakmu untuk mengenali dirimu lebih dalam, melalui kepribadian alamimu, kebiasaanmu, masa lalumu, kamu itu siapa dan milik siapa, tujuanmu apa, dan lain-lain. Termasuk bagaimana cara kamu mendapatkan kehidupan yang penuh, selaras, dan bahagia.


Buku ini cuma 123 halaman, tapi jangan salah isinya sangat kaya dan padat berisi, serta memuat praktek langsung pada beberapa bahasannya.


Baca buku ini aku merasa sedikit lebih memahami diriku. Kamu juga harus coba baca ya. 


Jadi, buku "Conquer Fear!" ini sangat kurekomendasikan.



03 April 2022

Review Buku "The Easiest Way"

"The Easiest Way," solve your problems and take the road to love, happiness, wealth and the life of your dreams

Penulis: Mabel Katz


"The Easiest Way" adalah buku unik tentang pemecahan masalah. Ia ditulis berdasarkan Ho'oponopono, yaitu seni pemecahan masalah ala Hawaii kuno (Hawaiian art of problem solving). Ini menarik ya, biasanya orang suka pakai filosofi dari Jepang, eh ini dari Hawai kuno.


Ho'oponopono didasarkan pada proses memaafkan, menyesal, dan transformasi, yaitu dengan menghapus memori dan pikiran yang menyebabkan masalah.


Dengan metode ini penulis mengajak kamu untuk berpikir bahwa hidup itu pilihan. Kamu harus memilih apa yang tepat lalu bertanggungjawab 100% atas pilihanmu atau apa yang terjadi pada dirimu.


Metodenya cukup unik, tapi menurut penulis cukup ampuh karena dia sudah mengujicobakan juga pada anak-anaknya. 


Sebenarnya sih, kalau dibilang memecahkan masalah itu kurang tepat menurutku karena isinya hanya tentang permainan persepsi, yaitu dengan mengolah alam bawah sadar untuk mengontrol emosimu.


Buku ini singkat, begitupun inti dari metode ini, sangat singkat. Inti metode ini terutama diletakkan pada bagian paling belakang buku tersebut, sementara bagian-bagian lainnya agak kurang penting (terlalu bertele-tele).


Meskipun aneh, aku nggak bisa ngomong manjur nggaknya karena aku sendiri belum nyoba. 


Kamu penasaran metode lengkapnya seperti apa? Baca aja bukunya, "The Easiest Way."

Review Buku "Love and ..."

"Love and ...," bad boys, "the one" and other fun ways to sabotage your relationship

Penulis: Jen Kim


Dulu, pernah ada seseorang yang bilang, "Kenali pria dari pria." Pada mungkin sebagian besar kasus, itu ada benarnya. Kecuali wanita itu sangat ahli atau sangat berpengalaman, pendapat atau pemikirannya tentang pria itu akan terlalu "berperasaan"/"berprasangka baik."


Buku "Love and ..." ini adalah salah satunya. Meskipun mungkin tujuan/niat penulis baik, tetapi dia terlalu lugu tentang pria. Bener dia bahas tentang ketidakadilan gender, tentang wanita yang dicap p*lacur sedangkan pria dicap dengan hal-hal yang baik, tentang film Disney yang semuanya mengajarkan tentang hal-hal yang buruk (tentang wanita yang lemah dan nggak berguna), dll tetapi dia juga mengajarkan hal-hal lain yang merusak.


Baca buku ini kamu sebagai wanita malah akan di-gembosi. Bahkan, untuk kasus dengan badboy pun bukan badboy-nya yang dikatakan asshole, tetapi wanitanya. Juga pandangannya tentang casual s*x dan semacamnya yang sangat berbahaya. Bukan cuma itu, penulis juga menyertakan berbagai sumber ilmiah agar tampak lebih meyakinkan. Dia terlalu banyak mencari pembenaran untuk kelakuan buruk pria.


Tetapi, kalau kamu baca/denger/nonton literatur/info tentang pria dari pria itu sendiri, dari badboy, dari pria-pria yang ingin "membukakan mata/pikiran" wanita dari keburukan kaum pria, dari para abuser pria yang ngaku dengan jujur, dari para ahli yang menangani kesehatan mental (yang sudah spesialis di bidang itu dan sudah bertahun-tahun serta logis), dll kamu akan paham kalau pria itu nggak selugu bayanganmu. Mereka melakukan banyak permainan di dalamnya.


Tadinya aku berharap buku ini akan mengedukasi wanita dan empowering perempuan. Nyatanya, isinya terlalu campuran, bahkan kunilai nggak bagus buat cewek. Jadi, SANGAT TIDAK KUREKOMENDASIKAN.


Tapi aku suka judulnya, kreatif. Kalau di luar negeri kok boleh judul-judul model kayak gitu, gitu lho. Yang membiarkan penulis untuk berkreasi sebebas-bebasnya.


Terakhir, cari buku lain aja deh. Jangan yang ini. Aku sangat tidak merekomendasikannya.





02 April 2022

Review Buku "Pivot"

"Pivot," the only move that matters is your next one

Penulis: Jenny Blake


Kamu mau pindah kerja? Atau pindah bidang? Bingung mau ke mana? Buku "Pivot" ini jawabannya.


Ini adalah buku panduan yang tepat untuk kamu yang mau pindah kantor, pindah kerja, pindah bidang kerja, pindah dari kerja kantoran jadi wiraswasta atau sebaliknya, dan semacamnya tapi bingung apa yang harus dilakukan.


Jenny Blake, penulisnya, akan memandumu mulai dari menentukan bidang apa, mengatasi masalah uangnya, siapa mentornya, dll. Semua diulas secara detail, runut, dan sabar oleh Si Penulis.


Bahasanya sebenarnya ramah, cuma tingkat kesulitan pelajarannya mungkin antara medium/menengah/sedang sampai tinggi.


Untuk infonya sendiri, kayaknya sih nggak baru, seperti gabungan/kompilasi dari berbagai sumber tapi dibentuk ulang jadi bentuk yang baru.


Buku ini alurnya baik dan karena dia memandu dengan sabar, kalau kamu termasuk yang bisa memahami bukunya, kamu akan mendapatkan keuntungan/pengetahuan yang besar darinya.


Yang paling kusuka dari buku ini adalah dia memberimu kebebasan tentang pilihan-pilihanmu. Dia tidak controlling. Selain itu, panduan di dalam buku ini itu sistematis. Enak banget untuk diikuti.


Intinya, kebanyakan orang itu kan taunya cuma pengen keluar dari kantornya saat ini, tapi keluarnya ke mana? Ngapain? Bisa sukses nggak nantinya? Mereka masih bingung. Nah, buat kamu yang ngalami kayak gitu, temukan jawabannya pada buku ini.

01 April 2022

Review Buku "Mini Habits"

"Mini Habits," smaller habits, bigger results

Penulis: Stephen Guise


Seperti buku habits pada umumnya, buku "Mini Habits" ini bagus. Tulisannya itu mengandung energi. Dia punya efek memotivasi. Waktu kubaca saat betmut dan lelah berat pun buku ini fine-fine aja dibaca dan bikin moodku baikan.


Bahasanya ringan, mudah dipahami, dan ramah, walau ada juga aura kasarnya.


Buku ini ditulis dengan alur yang baik, terstruktur, dan tidak menyisakan pertanyaan/asumsi pribadi pembaca seperti yang kualami saat membaca "Small Habits, Big Changes". Dengan kata lain, dia memenuhi unsur clarity (kejelasan).


Buku ini berisi cara menanamkan kebiasaan baru dimulai dari kebiasaan yang uenteng banget dengan memanfaatkan penggerak pada manusia. Ada 2 penggerak pada manusia yaitu motivasi dan willpower (kemauan/tekad). Penulis kemudian menjelaskan beda keduanya serta mengapa kita harus cenderung ke salah satunya jika ingin menanamkan kebiasaan baru yang positif dalam jangka panjang. Selain itu, penulis juga menjelaskan tentang cara kerja otak dan mengapa kombinasi antara mini habits dan penggerak tersebut cocok untuk perbaikan positif dalam jangka panjang. Kemudian penulis juga menjelaskan bagaimana cara mempraktekkan mini habits beserta manfaat-manfaatnya.


Ringan kok bacanya. Easy reading. 

Recommended pokoknya.



31 Maret 2022

Review Buku "Heal the Hurt that Sabotages Your Life"

"Heal the Hurt that Sabotages Your Life," be free of the inner issues that destroy love and create suffering

Penulis: Bill Ferguson


Beberapa hari lalu beberapa buku yang ku-review secara ajaib membebaskanku dari 2 buah sabotase diriku (self sabotage), padahal isinya/temanya nggak tentang itu dan mungkin juga nggak memuat itu. Tiba-tiba aja ada "blink" gitu dan itu rasanya ringan sekali, ceria, dan positif. Lalu karena otakku memunculkan kata "sabotase", aku nyari buku yang emang temanya sabotase beneran dan isinya full sabotase. Taunya apa, 2 buku yang sempat kuintip itu malah membuatku betmut parah, sangat negatif, dan mengalami pembalikan/degradasi yang lumayan drastis. Itu efek subyektif yang kurasakan dan aku kecewa karena isinya kok berefek gini banget di aku. Pun bahasanya yang pake kata ganti orang ke dua kok terasa semakin bikin auranya nggak enak. Salah satu bukunya adalah buku "Heal the Hurt that Sabotages Your Life" ini. Pada buku ini aku merasa penulis controlling, berusaha memaksakan kondisi pembaca itu harus/pasti sesuai dengan asumsinya. Aku merasa dia sok tahu akan realita pembaca (pasti sama dan sesuai apa yang dipikirkannya) dan aku merasa penulis seolah bilang cara dia adalah satu-satunya (lakukan ini kalau kamu ingin berhasil/pulih). Apalagi dengan gaya bahasa "kamu", semakin terasa controlling/otoriter/diktatornya. Itu di antara sebab yang bikin auranya nggak enak, selain sebab-sebab yang lain.


Sebelum bahas buku ini, aku mo sharing dikit tentang psikologi versi aku. Aku sudah lama mendalami psikologi tapi aku bukan lulusan psikologi. Menurutku, terapi psikologi tahap awal bisa dibedakan menjadi salah satu dari 2 kelompok ini:

1. Kelompok 1 berbasis pikiran sadar dan bawah sadar,

2. Kelompok 2 berbasis pikiran, perasaan, dan intuisi.


Baru kemudian dibagi ke terapi bicara (wicara), terapi makanan, terapi tindakan (behavioral), dll.


Nah, buku "Heal the Hurt that Sabotages Your Life" ini adalah buku psikologi yang terapinya berbasis pikiran. Isinya tentang sabotase diri, antara lain: asal mula rasa sakit, berdamai dengan diri sendiri, 2 sisi mata uang, penyebab perasaan-perasaan buruk/rasa sakit di dirimu, isu-isu umum pada diri seseorang (perasaan bersalah, tidak layak, tidak dicintai, dll), perintah untuk menghadapi masalahmu, langkah-langkah untuk healing (pemulihan), dll.


Di sini, ada metodenya yang bagiku terlalu "mengerikan/tidak aman" jika dilakukan terhadap sembarang orang serta ada hal-hal yang aku tidak setuju (dan bagiku lumayan fatal). 


Buku ini singkat kok, cuma 92 halaman, dan per bagian/babnya itu lumayan pendek. Selain itu, pada akhir tiap bab ada panduan tindakannya untuk kamu terapin.


Nah, pada bagian awal kan aku bilang ada 2 buku tentang sabotase yang auranya (vibe-nya) nggak enak di aku. Kalau buku yang ini kan berbasis pikiran, yang satunya cenderung berbasis perasaan. 


Tapi ya, pengalaman hidup seseorang dan pengalaman baca seseorang kan beda-beda, apa yang kurasakan dan kupikirkan serta efek buku-buku tersebut di aku belum tentu sama dengan di kamu. Jadi, coba aja baca dan rasakan sendiri.





29 Maret 2022

Review Buku "Smart Choices"

"Smart Choices: a Practical Guide to Making Better Life Decisions"

Penulis: John S. Hammond, Ralph L. Keeney, dan Howard Raiffa


Ini menarik. Aku sudah baca beberapa buku tentang decision (pengambilan keputusan) dan isinya beda-beda. Buku "Smart Choices" inilah yang kemarin kubilang sepertinya lebih dapet point-nya.


Setidaknya aku sudah baca 4 buku decision dalam waktu dekat, yaitu Great People Decisions, The Paradox of Choices, The Truth about Making Smart Decisions, dan Smart Choices. Yang Great People Decisions itu buku berat ya, yang lain nggak. Dari semuanya aku paling suka "Smart Choices" ini, dia bahasanya ringan, memandu dengan lebih detail, dan tahapan pengambilan keputusannya itu ditunjukkan. 


Buku "Smart Choices" berisi tentang cara pengambilan keputusan yang tepat, mulai dari penentuan masalahnya harus tepat sampai dengan menakar tentang konsekuensi dan ketidakpastian yang ditimbulkan oleh keputusan tersebut. Dia cocok banget untuk orang awam atau masyarakat umum dan bisa digunakan untuk masalah apa pun. Pokoknya untuk masalah umum dan target masyarakat umum, kamu bisa pilih ketiga judul di atas, kecuali "Great People Decisions" karena itu berat banget, spesifik untuk pemilihan orang, dan lebih cocok untuk HRD/kantoran.


Selain itu, "Smart Choices" ini juga punya kelebihan lain yaitu memuat rangkuman totalnya pada bagian paling akhir. Tapi, kalau kamu cuma baca rangkumannya akan ada bagian yang terlewat, misalnya tentang cara pengambilan keputusan pada contoh kasus yang diberikan.


Yang jelas, buku ini bagus banget, dan akan lebih bagus lagi kalau covernya diperbaiki. Tulisan pada covernya masih terlalu penuh dan kurang enak dilihat, sedangkan covernya secara keseluruhan itu masih berkesan bahwa dia buku "berat", padahal isinya "ringan". Sayang banget, kan? Tadinya aku juga ngira ini buku berat lho, taunya ringan.


Jadi, untuk pengambilan keputusan secara umum untuk orang awam, kalau kamu cuma ambil 1 buku, pilih "Smart Choices" atau "The Paradox of Choices." Kalau 2 buku, kamu pilih salah satu dari kedua buku di atas plus "The Truth about Making Smart Decisions." 


Recommended ya.

28 Maret 2022

Review Buku "Small Habits, Big Changes"

"Small Habits, Big Changes," how the tiniest steps lead to a happier, healthier you.

Penulis: Steven Handel



Sepanjang aku baca buku habit-habit an, seingatku semuanya bagus dan mirip. Artinya, kamu bisa milih salah satu aja dan kamu nggak akan kehilangan banyak. Kamu akan tetap dapat mayoritas manfaat/manfaat inti dari buku-buku tersebut. 


Buku "Small Habit, Big Changes" ini pun bagus dan bisa jadi pilihan yang baik buatmu. Dia enak kok buat dipelajari karena disusun dengan terstruktur, ramah buat dibaca dan diingat, ramah buat speed reading, ada contoh-contoh spesifiknya, serta ada rangkuman pada tiap bagian maupun rangkuman keseluruhan pada bagian akhirnya. Kalau kamu pengen yang praktis dan hemat waktu banget, kamu bisa langsung baca rangkuman totalnya di bagian akhir buku. Nggak usah kuatir, itu sudah mencakup inti dari isi buku tersebut.


Buku ini berisi tentang perubahan kebiasaan kecil (small habit) dalam hal tidur, diet, kerja, olahraga, bersih-bersih, pengelolaan keuangan, kesehatan mental, dan hubungan.


Karena judulnya "small habit" dan bukan "one thing", buku ini menurutku bisa ditafsirkan setidaknya menjadi 2:

1. Kamu memilih mau mengubah small habit di bidang apa (1 bidang dan 1 habit),

2. Kamu mengubah seluruh bidang kehidupanmu dengan perubahan yang small tadi.

Misalnya: kamu melakukan 1 perubahan kecil di bidang kesehatan, 1 di bidang kerja, 1 di bidang hubungan, dst. 

Jadi, untuk yang nomer 2 ini bisa berarti gini:

Small habit bidang A+small habit bidang B+small habit bidang C = big habit.

Kumpulan dari small kan jadi besar juga akhirnya.

Tapi sih itu tergantung kemampuan masing-masing orang ya tentang penerapannya. Bisa fleksibel lah ya.


Trus ada yang unik dari daftar pustaka buku ini. Daftar pustakanya itu diberi judul "reading list" dan disusun dalam format yang aneh (nggak sesuai dengan aturan penulisan buku).


Kayaknya ya, buku bule itu lebih fleksibel, nggak saklek dengan aturan penulisan buku. 


Terakhir, buku ini akan lebih bagus kalau covernya lebih menarik.


27 Maret 2022

Review Buku "The Truth about Making Smart Decisions"

"The Truth about Making Smart Decisions," get it right every time ...

Penulis: Robert E. Gunther


Habis baca buku kemarin yang berat abis dan keterbacaannya nggak enak, aku nyari yang lebih ringan atau enak dibaca. Ketemulah aku dengan buku "The Truth about Making Smart Decisions" ini. Sebenarnya secara cover kurang menarik (kayak cover buku teks kuliahan), tapi begitu kuintip isinya ... wow keren banget. Kayak majalah. Susunannya itu enak banget dilihat dan lumayan enak dibaca. Layoutnya bagus penyajiannya. 


Buku ini agak beda dari buku bule kebanyakan yang pernah kubaca. Ini daftar isinya sistematis dan ada halamannya. Isi bukunya sendiri berupa listicle, yang terdiri dari 50 list/daftar kebenaran. Kelimapuluh list tadi kemudian dibagi ke dalam 11 bagian berdasarkan topiknya masing-masing.


Kalau dibandingkan dengan "The Paradox of Choice" dan "Great People Decisions", menurutku "The Paradox of Choice" itu lebih inti (lebih masuk ke cara memilihnya), sedangkan "The Truth about Making Smart Decisions" ini lebih bersifat melengkapi. "Krenthilan"-nya atau hal-hal yang seperti kecil/remeh tapi penting juga dan mungkin sering diabaikan/dilupakan orang. Buku ini juga bersifat umum (nggak seperti "Great People Decisions" yang cenderung lebih cocok untuk HRD dan bos/kantoran), tapi bahasanya juga masih agak berat ya. Masih kurang memasyarakat (kurang awam dan kurang simple). 

Sebenarnya aku kemarin juga sempat ngintip buku decision yang lain yang kayaknya poinnya lebih dapet/lebih pas, tapi karena keterbacaannya nggak enak, tulisannya nggak terstruktur dengan rapi, jadi aku milih yang ramah dan nyenengin di mata dulu.


Oh ya, buku "The Truth about Making Smart Decisions" ini adalah salah satu dari buku "The Truth." Buku "The Truth" ini ada banyak/berseri. Kalau lihat dari bagian belakang buku ini, setidaknya ada 6 buku "The Truth" dengan tema yang beda-beda. 


Terakhir, meskipun judulnya "The Truth", aku nggak tahu itu truth beneran atau opini. 


Jadi, kesimpulannya dia bagus tapi cuma pelengkap dan aku nggak menemukan apa yang kucari di sini. 







26 Maret 2022

Review Buku "Great People Decisions"

"Great People Decisions," why they matter so much, why they are so hard, and how you can master them

Penulis: Claudio Fernandez Araoz


Buku "Great People Decisions" ini sebenarnya agak melenceng dari yang kucari. Tadinya aku kurang teliti, nyari "decision" secara umum eh ngambil yang "people decision." Tapi pas aku nyadar ya udah gak papa lah ya, masih berhubungan. Kalo dipikir-pikir perlu juga people decision.


Ini buku berat banget, bahasanya formal tapi sebagian isinya sederhana/mudah dipahami walaupun formal dan sebagian sisanya berat banget, baik secara keilmuan maupun bacanya yang harus pelan-pelan dan hati-hati. Hal seperti ini biasa/banyak ditemui pada orang-orang yang terlalu pintar atau terlalu tinggi pendidikannya dan semacamnya. Mereka susah menyampaikannya dalam bahasa yang sederhana atau menyederhanakan apa yang diajarkan. Apalagi jika misal yang menulis bukan orang yang berprofesi sebagai penulis dan menulis berbasis pengalaman, biasanya cenderung bertele-tele/tidak padat. Kalau buku ini sih berbasis pengalaman dan referensi, baik interview, riset, buku, atau lainnya.


Buku "Great People Decisions" ini dibuka dengan 4 faktor utama penentu kesuksesan, yaitu genetika, perkembangan, keputusan karir, dan keputusan orang. 


Keputusan orang ini sangat besar pengaruhnya bagi kesuksesan dan kehidupan, misalnya untuk memilih teman, pasangan, klien, merekrut karyawan, sampai dengan memilih dokter dengan keahlian yang tepat. Beruntungnya keputusan orang ini bisa dipelajari. Dan Claudio Fernandez Araoz mengajarkannya di dalam buku "Great People Decisions" ini.


Buku ini sebenarnya tentang positioning (the right man in the right place), yaitu merekrut karyawan yang tepat, menempatkan di posisi yang tepat, membuat mereka bisa bersinergi di dalam sebuah tim, sampai dengan memecat karyawan/pegawai yang tidak tepat. Selain itu, dia juga menjelaskan kecenderungan-kecenderungan kita saat membuat keputusan, kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam membuat keputusan, di mana mencari kandidat yang tepat, kapan harus berhenti mencari, serta bagaimana cara melihat potensi. Tak lupa pula penulis membandingkan seberapa penting IQ, EI (Emotional Intelligence), pengalaman, dan kompetensi dalam mencari kandidat yang tepat. Apa yang perlu dilihat/diutamakan dari calon-calon tersebut.


Uniknya, meskipun ini konteks pekerjaan, tetapi penulis juga menyisipkan pembuatan keputusan dalam konteks memilih pasangan. Cocok lah dengan yang kucari. Aku masih membandingkan berbagai teori dari para ahli tentang apa sih yang harus menjadi fokus kita atau kriteria inti kita dalam memilih pasangan/jodoh. Meski demikian, aku masih nggak paham/merasa abstrak. Paham tapi nggak sepenuhnya. Aslinya sih, variabelnya masih luas. Kayaknya memang nggak bisa disederhanakan deh. Tapi secara umum beberapa ahli tersebut memberikan indikator yang masih ada benang merahnya. Aku pribadi meyakini konsep kepemimpinan di dalam keluarga dan di dalam perusahaan itu masih mirip. Ada kemampuan dasar yang sama yang harus dimiliki oleh orang tersebut. Itu karena kita bicara tentang sifat/kualitas pemimpinnya dan bukan tempatnya. 


Buku ini bagus tapi berat banget. Dia cocoknya untuk orang level tinggi/kalangan intelek. Berat kalau buat orang awam atau yang berpendidikan rendah. Yang paling cocok ya buat HRD atau bos, yang paling berkepentingan dengan positioning ini.

25 Maret 2022

Review Buku "The 80/20 Principle"

"The 80/20 Principle," the secret to achieving more with less

Penulis: Richard Koch


Aku sudah lama tahu tentang prinsip 80/20 ini, yaitu yang terkenal dengan nama prinsip Pareto, sehingga aku sempat menyepelekan buku "The 80/20 Principle" ini sebelum membacanya karena merasa sok tahu. Ternyata, isinya di luar bayanganku. Masih banyak sekali hal yang tidak kuketahui di dalamnya. Bahkan, mungkin aku tidak terlalu tahu selain pengertiannya saja, yaitu 80% hasil/output/reward ditentukan oleh 20% input/orang/usaha/waktu. Gitu doang, sementara penerapannya aku tidak terlalu tahu.


Pada buku "The 80/20 Principle" inilah penerapannya dijelaskan secara meluas dan mendalam, juga mendetail. Di dalam ranah pekerjaan, hubungan (relationship), maupun kehidupan secara umum ternyata prinsip ini bisa diterapkan. Prinsip Pareto ini memiliki beberapa manfaat dan juga tantangan. Tantangan terbesarnya adalah menentukan di mana atau pada bagian apa 20% hal yang menguntungkan ini.


Buku ini bahasanya berat tetapi isinya sangat kaya. Meskipun tidak semuanya kupahami, tetapi aku mendapatkan banyak wawasan dan pencerahan darinya.


Buku ini masih berhubungan banget dengan work less, work smart, produktivitas, efisiensi, efektivitas, dan pokoknya hidup yang mudah, enjoy, dan bahagia.


Intinya kita harus super selektif karena nggak semua hal bernilai sama. Choose wisely. 


Good book.

I reccommend this ("The 80/20 Principle") book. 

24 Maret 2022

Review Buku "The Paradox of Choice"

"The Paradox of Choice," why more is less. How the culture of abundance robs us of satisfaction

Penulis: Barry Schwartz


Ada yang menarik saat pertama kali aku lihat cover buku "The Paradox of Choice" ini. Dia punya sub dari subjudul. Kalau kamu sudah lama ngikutin blogku, kamu mungkin tau kalau pada buku-buku bule ada subjudul itu biasa. Mayoritas atau mungkin semuanya (kayaknya semuanya deh) buku bule ada subjudulnya. Tapi yang ada subnya lagi (sub dari subjudul) seingatku aku baru nemu di buku ini aja. Hal lain yang biasanya kutemui juga di buku bule adalah daftar isinya nggak pake halaman. Dia cuma memuat chapter sekian, bahasan ini, tapi nggak ada halamannya.


Buku ini bukan buku biasa. Dia termasuk top ten book of the year, entah tahun berapa.


Isi buku ini adalah tentang memilih atau membuat keputusan. Ada banyak sekali hal di sekitar kita sementara waktu atau sumber daya kita terbatas, sehingga kita harus pandai-pandai memilih. Dari memilih hal-hal yang sederhana ala emak-emak seperti masak apa hari ini (ini aku sendiri ya bukan isi bukunya), sampai dengan memilih yang berat-berat/penting seperti memilih karir atau jodoh, semua perlu memilih. 


Sayangnya, semakin banyak pilihan kita semakin bingung milihnya dan semakin berisiko mengalami rasa sakit. Jadi, gimana cara milih yang tepat? Itu ada seninya.


Buku ini diawali dengan betapa seringnya kita harus memilih, lalu dijelaskan tentang 3 tipe pemilih, kemudian alasan-alasan kita memilih (yang bahkan kadang tidak rasional), kemudian efek-efek terjadinya sesuatu sebelum kita memilih, tak ketinggalan pula dijelaskan mengenai efek-efek dari pilihan kita, kuesioner kita termasuk tipe pemilih yang mana, dan so pasti cara memilih dengan lebih baik dan tanpa penyesalan.


Buku ini masih kugolongkan berat tapi bagus. Hanya saja, menurutku bab 1-nya yang memuat macam-macam hal yang harus dipilih lebih baik dihilangkan atau disederhanakan cz terlalu buang-buang waktu, trus pada bagian-bagian lainnya akan sangat membantu kalau poin utamanya disorot/diberi penekanan misal dikotaki/di-bold. 


Buku ini juga menarik karena saat membacanya itu aku berpikir, misalnya menikah. Menikah itu menutup pilihan kita untuk lirak-lirik lagi, tapi ternyata pembatasan pilihan itulah yang akan menghindarkan kita dari penderitaan karena pilihan yang tanpa batas. Sesaat aku teringat juga akan konsep "the one"/"the right one" yang dulu pernah kuyakini tapi juga telah kutinggalkan setelah aku melakukan unlearning dan relearning. Konsep "the one" juga dapat menyebabkan derita akibat pilihan tanpa batas seperti ini. 


Hal lain yang juga menarik adalah tentang bahaya berandai-andai/menyesal. Ya, aku ingat hadits tentang itu saat membaca buku ini. Ada penjelasannya juga di sini. Secara terpisah aku juga pernah sih mengulasnya pada artikel lain di blog ini.


Kemudian yang paling mancep ya yang satu ini, memilih itu butuh waktu. Waktu untuk memilih akan mengurangi waktu untuk hal-hal lain di hidupmu, misalnya waktu untuk keluarga, untuk teman, dll. Jadi, hati-hati.


Akhir-akhir ini aku sudah sedikit berbenah. Aku sudah merapikan beberapa hal, aku sudah "tega" membuang buku-buku yang jelek/berat/nggak cocok/susah kupahami, aku sudah bisa membaca meloncat (nggak urut) atau bahkan membaca intinya saja (nggak harus semua/selesai), pokoknya aku sudah menyederhanakan beberapa hal, membuang beberapa hal, dan punya dasar pilih yang lebih kuat atas beberapa hal. Memilih dan membuat keputusan itu masih menjadi ranah yang bermasalah bagi diriku. Sekarang sedikit demi sedikit aku sudah bisa memilih dengan lebih baik.


So, apa pendapat finalku tentang buku ini? Bagus tapi berat. Masuk lah ya rekomendasiku.



23 Maret 2022

Review Buku "Wabi Sabi Love"

"Wabi Sabi Love," the ancient art of finding perfect love in imperfect relationship

Penulis: Arielle Ford


Lagi-lagi istilah Jepang. Aku kagum betapa sering filosofi Jepang diikuti/dijadikan contoh oleh orang-orang, seperti kemarin ada istilah Kaizen, ada juga Ikigai, dan sekarang Wabi Sabi. 


Bagi yang belum tahu, Wabi Sabi adalah seni melihat kesempurnaan dalam ketidaksempurnaan. Mungkin nggak semua orang tahu Wabi Sabi. Jadi, judul ini kurang menjual. Untung ada penjelasan pada subjudulnya.


Buku "Wabi Sabi Love" ini berisi tentang resep-resep untuk membangun dan mempertahankan cinta serta merekatkan keintiman (intimacy) di dalamnya. Pada beberapa hal, seperti ada nada kepasrahan berlabel penerimaan atau pembauran diri (adaptasi). Tetapi pada kebanyakan isinya aku suka/setuju dengan resep-resep mereka. Hal terbesar yang tak kusetujui terutama tentang s*ks. Itu pun sebenarnya ajarannya bagus, cuma karena budaya mereka yang membolehkan melakukannya di luar nikah, itu jadi big big NO.


Secara umum, buku ini isinya bagus, tapi mungkin terlalu idealis. Aku memandang hal-hal indah di dalamnya bisa tercapai tapi bersyarat, yaitu pasanganmu harus tepat. Tepat di sini artinya bukan abuser, sehat mental, dan dia juga bener-bener ingin all out mencintaimu dan terus belajar untuk memahamimu demi bisa memperlakukanmu dengan lebih baik. Ada bagian-bagian di dalam buku ini yang seperti terlalu berasumsi akan balasan otomatis, bahwa jika kamu manis-manisin dan baikin pasanganmu duluan dia akan balas manis-manisin dan baikin kamu. Lalu ada juga bentuk kepasrahan lain (yang bagiku seperti kurang komunikasi, nggak enak gitu) yaitu kamu memperlakukan dia dengan baik lalu dia akan memperlakukanmu dengan baik juga ala dia (walaupun nggak sesuai harapanmu/keinginanmu).


Seperti buku-buku serupa lainnya, kamu harus hati-hati nerapin yang ginian, agar gak terjatuh pada abuser. Isinya (mayoritas) bagus, walau beberapa biasa/klise (udah banyak di buku serupa) ada juga tambahannya. Asal kamu melakukannya pada calon/pasangan yang tepat, ini lumayan bagus untuk diterapkan.


Tapi, buku ini dominan story telling dan ditulis dengan lempeng banget. Which means keterbacaannya nggak enak. Dia sangat melelahkan untuk dibaca.


Selebihnya, pilihan ada di tanganmu.