31 Desember 2021

Review Sample Buku "Dr. Seth's Love Prescription"

 

Membaca sample buku "Dr. Seth's Love Prescription ini mengingatkanku akan kesalahan-kesalahan cintaku. Sebenarnya sebagian atau seluruhnya sudah tahu tapi kadang kayak lupa sesaat, dan ketika membaca sample ini aku seperti mengalami refleksi kembali. Jadi ingat lagi plus mendapat beberapa pemahaman baru.


Sebagai sample buku, ini sudah bagus menurutku. Gambaran isinya sudah bisa terlihat jelas pada daftar isi, meskipun tidak ada halamannya. Sementara isinya sendiri dibuka dengan sesuatu yang menarik, yang tidak bertele-tele bicara hal kosong di awal, dan bisa memicu keingintahuan pembaca untuk membaca lebih lanjut sampai selesai, bahkan mungkin membeli bukunya.


Harganya mihil bingit sih, ratusan ribuan, tapi sepertinya worth it untuk dibaca. Setidaknya dari bab awal yang berisi tentang pola-pola kesalahan umum para jomblowan dan jomblowati saja aku sudah mendapat insight atau pencerahan, plus nyaman saat membacanya. Bahasanya enak gitu, mengalir. 


Buku ini seluruhnya terdiri dari 230 halaman, dengan jumlah halaman sample sebanyak 34 halaman.  Dari 230 halaman buku itu dibagi ke dalam 5 bagian dan 19 chapter serta kesimpulan pada bagian penutupnya. Samplenya sendiri hanya sampai bagian pertama chapter ke-3, yaitu masih seputar relationship repetition syndrome 101 dan ada bagian evaluasi dirinya juga.


Kesan awalku sih sepertinya buku ini bagus dan layak untuk dibaca versi full-nya.



Review Buku "Falling in Love"

 



Cinta, topik yang selalu menarik untuk dibahas. Begitu banyak para ahli berusaha menguak tabir rahasia cinta. Mereka ingin tahu apa yang membuat kita jatuh cinta, apa kriteria utama yang harus dicari pada calon pasangan, dan apa yang membuat suatu rumah tangga itu bisa langgeng dan bahagia.

Buku "Falling in Love" ini pun demikian, penulisnya, Ayala Malach Pines tak mau ketinggalan. Begitupun denganku, sebagai pembaca, yang juga tak mau ketinggalan membaca versi baru yang ada. 

Membaca buku ini akan membuatmu mendapat 2 keuntungan sekaligus karena selain lulusan psikologi sosial Ayala juga lulusan psikologi klinis. Kelihatan bahwa buku ini dibuat dengan niat banget. Halamannya tuebel dan isinya full riset. Setiap pernyataan atau hampir setiap pernyataan itu disertai dengan hasil riset. Begitupun cara menulisnya, yang masih ala-ala buku ilmiah banget, setiap pernyataan diakhiri dengan tanda kurung bertuliskan sumbernya.

Sebagai buku bacaan, aku tidak tahu ini sebenarnya targetnya siapa. Orang umum atau akademisi? Sepintas dari judulnya seperti untuk kalangan umum, tapi ini buerat banget dan sangat melelahkan dan membosankan dengan format yang sangat ilmiah, layout dan tulisan yang seperti itu, dan halaman yang tuebel banget. 

Karena rasa kepo-ku yang tinggi akan jawaban "seputar cinta" yang ingin kudapatkan, kupaksakan diri untuk membacanya. Menarik sebenarnya, terutama mungkin dari awal sampai pertengahan. Kemudian makin ke belakang makin berat dan membosankan karena berisi segala macam teori cinta berdasarkan ilmu ini dan itu, dan kuputuskan untuk ku-skip aja. Aku baca intinya saja sambil membaca kesimpulannya. Ya, pada akhir tiap bahasan dan pada akhir buku tersebut ada kesimpulannya, berdasarkan berbagai teori tadi penulis memberikan saran apa yang harus dicari/dilakukan saat mencari jodoh.

Kesimpulan dan saran tersebut adalah jalan pintas bagi orang-orang dari kalangan umum sepertiku. Karena bagiku, buku ini suwuper berat. Dia lebih cocok untuk orang psikologi, akademisi, atau keperluan ilmiah yang butuh sumber jelas, lengkap, dan sumber tersebut mudah dilacak. Karena nyaris per kalimat ada sumbernya.

Kalau dari bagian depan sampai tengah adalah teori-teori dari ahli/keilmuan lain, bagian paling akhir adalah bagian yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi penulis berdasarkan kasus-kasus yang pernah ditanganinya. Dan ini pun masih lumayan membingungkan. 

Secara isi, aku suka buku ini. Memberikan aku banyak tambahan ilmu pengetahuan tentang cinta dan jodoh dari segi ilmiah. Di sini pembaca akan dituntun untuk melakukan cara cepat bertemu jodoh, bagaimana urutan langkah yang harus dijalani. Dan ternyata, apa yang diyakini orang sebagai kriteria utama yang dicari oleh masing-masing gender itu selama ini salah dan hanya mengikuti stereotip gender saja. Itu adalah salah satu hal menarik di sini, di samping ada banyak hal menarik terkait gender lainnya, yang kupercaya (tetapi jarang diketahui/diikuti orang lain).

Buku-buku bule itu punya keunikan. Biasanya riset-riset di barat itu hasilnya diambil dengan cara membohongi subyek yang sedang diteliti tersebut. Jadi, subyek itu tidak sadar kalau yang diteliti adalah tentang X, sehingga dia tidak bisa membuat-buat hasilnya/berbohong. Jadi, hasilnya bisa lebih akurat. Hal ini juga yang kemudian bisa menguak kesalahan pada mitos-mitos umum di masyarakat yang ternyata hanyalah stereotip gender. 

Namun, meskipun di dalam buku ini sudah dijelaskan teori-teorinya setebal itu dan disertai saran-saran pencarian jodohnya, proses pencarian jodoh itu sendiri masih sangat rumit dan aku pun masih bingung sebenarnya kesimpulan akhirnya itu apa? Pembaca itu harus mencari jodoh yang gimana. Dan buku ini tidak sendiri. Buku-buku semacam ini itu masih menyisakan cinta yang misterius, yang masih belum tersingkap penuh tabirnya. Setidaknya bagiku, masih menyisakan "lubang" yang belum sepenuhnya kupahami. Secara teori sih lumayan paham, tapi prakteknya yang susah, tidak sederhana, yang kuistilahkan sebagai ada "lubang" di dalamnya.







29 Desember 2021

Review Buku "The 22 Immutable Laws of Marketing"

 



"The 22 Immutable Laws of Marketing" ini adalah buku yang didedikasikan oleh penulisnya untuk mematahkan mitos-mitos dan kesalahpahaman-kesalahpahaman di bidang pemasaran (marketing). Isinya tentang cara meraih posisi puncak (atau 3 besar) dan apa saja yang menyebabkan terjadinya pergeseran posisi pada anak tangga pemasaran. 


Buku ini menarik dan sangat sistematis. Ia ditulis dalam bentuk poin-poin, di mana 1 poin mewakili 1 hukum. Ke dua puluh dua poin ini bisa langsung kita lihat dengan jelas pada daftar isi, walaupun daftar isinya tersebut tidak memuat halaman untuk masing-masing kontennya. Aku suka daftar isi model gini yang bisa berfungsi sebagai jendela untuk ngintip isi bukunya (hanya perlu ditambah halaman).


Siapakah Al Ries dan Jack Trout sehingga berani membuat hukum-hukum marketing seperti yang tercantum di dalam buku ini? Agak misterius sebenarnya. Kalau biasanya dijelaskan penulis adalah seorang lulusan jurusan ini, universitas ini, bekerja sebagai ini, di kantor ini dan negara ini, penulis buku "The 22 Immutable Laws of Marketing" ini tidak. Mencari identitasnya pun susah. Pada bagian depan hanya dijelaskan tentang fungsional pekerjaannya, sedangkan pada bagian belakang hanya dijelaskan bahwa kedua penulis tersebut adalah ahli strategi pemasaran (marketing strategist) yang mungkin terbaik di dunia.

Sebagai orang yang tidak berlatarbelakang ekonomi, buku ini cukup berat bagiku. Kalau disebut sebagai hukum, isinya membingungkan, karena setahuku hukum itu tidak berubah, tetapi nyatanya di dalam buku ini hukumnya berubah-ubah karena berlaku pula hukum yang satunya dan yang lainnya lagi. 

Itulah, aku jadi bingung dan tertatih-tatih membaca atau memahaminya walaupun sebenarnya buku ini ditulis straight/to the point. Yang lebih menyulitkan lagi adalah bahasanya yang cowok banget: sangat teknis, memuat banyak data dan angka, riset-riset pemasaran. Dengan kata lain, buku ini lebih ramah cowok. Ini bahasa mereka. Mungkin akan lebih enak dibaca, lebih mudah dipahami, dan lebih ramah cewek kalau datanya dibuat dalam bentuk tabel dan contoh brandnya dikurangi. Karena terlalu banyak nama brand dan contoh pergeseran posisi brand yang dimuat malah memusingkan pembaca. Menurutku, yang penting ada contohnya dan bisa membuat jadi paham ya sudah, tidak perlu terlalu banyak.

Buat yang background-nya bukan ekonomi, cewek, dan mungkin keahlian (kecerdasan terkait data)-nya kurang/biasa saja, ya perlu energi ekstra untuk memahaminya. Meskipun, aslinya buku ini itu penting, bermanfaat, menarik, pemilihan jenis dan ukuran font serta layout-nya juga lumayan enak dibaca, dan isinya to the point sehingga (seharusnya) orang-orang yang sibuk tidak boros waktu untuk membacanya. Bahasan per poinnya pun singkat-singkat kok, enak dibacanya (cuma ya itu, full data), tapi meskipun bentuk listicle (per poin) bacanya lebih baik urut karena masih berhubungan dengan bahasan sebelumnya. 


So, intinya ini lebih cocok buat cowok. Buat cowok yang tertarik dengan dunia pemasaran, buku ini layak untuk menjadi teman baca kamu. 

27 Desember 2021

Review Buku "Help! I'm Living with A Boy"

 


Buku ini sungguh tak bisa kulukiskan dengan kata-kata. Masya Allah! Luar Biasa! Penulisnya seperti kembaranku. Banyak pikiran kami yang sama tentang isu-isu yang dibahas di buku ini. It's amazing akhirnya ketemu orang yang ngertiin pikiranku. Wow banget. Bener, isu-isu yang ada di dalam buku ini adalah apa yang ngganjel di hati dan pikiranku.


Buku tersebut berjudul "Help! I'm Living with A Boy", sedangkan penulisnya adalah Betty Mc. Lellan, seorang psikoterapis feminis (feminist psychotherapist) dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. 


Tak heran kalau pemikiran semacam dia dilabel feminis, tapi aku, yang punya pemikiran serupa, cuek saja. 


Sejauh aku baca macem-macem buku, terutama psikologi, komunikasi, dan semacamnya, orang-orang semacam Betty ini jarang kutemui. Aku begitu senang mereka ada dan karya-karyanya lolos terbit, bahkan buku Betty ini diterjemahkan ke dalam 12 bahasa. Kalo di Indonesia mah boro-boro lolos dari meja redaksi/penerbit.


Kehidupan pria itu penuh drama (hal ini sering dikaitkan dengan evolusi, kemampuan untuk survive, dll). Mereka bukan kaum yang polosan, ada banyak permainan (mind games dan manipulasi) di dalamnya. Meski demikian, wanitalah yang lebih sering dilekatkan pada predikat tersebut, lalu dilabel "Drama Queen."


Kalau kamu sepertiku, mungkin kamu sama muaknya denganku. Betapa banyaknya hal-hal semacam itu di masyarakat. 


Kalau kamu pengikut setia blogku, kamu mungkin sudah tahu beberapa di antaranya (beberapa contohnya). Misalnya tentang berita "Seorang ayah memp*rkosa anaknya, ibunya tau tapi diam saja." 

Di sini ayah dan ibunya sama-sama salah, tapi yang disorot pada berita tersebut adalah ibunya, sedangkan ayahnya sebagai pelaku/p*merkosa malah disamarkan. 


Kemudian ada lagi berita pasangan berzina, yang ceweknya ini (sepertinya) p*lacur. Lagi-lagi yang disorot pada berita tersebut adalah ceweknya. Disorot, diulas habis-habisan, dan dihukum oleh warga. Sementara cowok pasangan zinanya bersih, tak tersentuh hukuman dan sama sekali tak dibahas di media. 

Gaya bahasa dan angle berita itu sangat pro pria.


Lalu masih ingatkah kamu dengan santernya isu jumlah cowok yang katanya lebih sedikit dari cewek dan dikait-kaitkan dengan isu poligami dan cewek harus nerima jodoh "sembarangan"? Nyatanya apa? Pemerintah mengeluarkan data sebaliknya, yang bisa membungkam isu-isu hoaks semacam itu. Berdasarkan data dari pemerintah, secara umum jumlah pria masih lebih banyak dari wanita.


Ada pula tentang gaya bicara. Cewek selalu dicap cerewet, padahal telah terbukti tidak. Profesor linguistik, Deborah Tannen, pernah membantah hal ini di dalam bukunya "Kamu Memang Nggak Bakal Ngerti". Begitupun pada buku "Help! I'm Living with A Boy" ini, Betty menunjukkan bahwa Dale Spender juga mengangkat isu yang sama: jika wanita berbicara akan dianggap cerewet/terlalu banyak bicara, menggosip, bicara omong kosong, mengomel, terlalu emosional, bahkan tidak logis.


Rasanya segala sesuatu pada wanita itu dibesar-besarkan/dikecil-kecilkan oleh pria agar sesuai dengan tujuannya. 


Sebagaimana pada yang kuamati pada umumnya dan juga kualami, akan ada serangan-serangan pada cewek-cewek yang mengangkat isu gender semacam ini, mulai dari meminta versi yang sama (di mana cewek yang buruk/berbuat kesalahan), melecehkan, merendahkan, sampai dengan hal-hal lain. Jika Deborah Tannen menjelaskan di dalam bukunya bahwa dia dan proses pengerjaan bukunya itu direndahkan para pria, Betty Mc. Lannen pun mengalami tekanan dari pria untuk membuat buku versi cewek childish. Dan ini biasa you know, sudah sering kuamati di mana-mana. Kalau cowok ngomong tentang cewek, ya cewek aja isinya, atau setidaknya tentang kejelekan-kejelekan cewek tok. Beda kalau cewek yang ngomong/nulis, hampir selalu bawa kedua gender: kalau ngomong tentang cewek/cowok akan berujung bahas keduanya. Seolah-olah berimbang.

Contoh:

Cowok ngomong tentang suami istri: 

Istri yang baik adalah istri yang gini gitu. Istri yang nggak gini gitu itu jelek. Apaan istri kayak gitu. 

(Kalau bahas kebaikan cewek akan bahas kejelekan/keburukan cewek juga. Kalau bahas kejelekan cowok akan bahas kejelekan cewek juga. Kalau bahas kejelekan cewek akan bahas kejelekan cewek tok.)


Cewek ngomong tentang suami istri:

Tugas suami adalah gini gitu, tapi istri juga harus ngelakuin ini itu. Suami yang nggak gini gitu itu buruk, tapi ada juga istri yang buruk/ada juga suami yang berbuat gitu karena istrinya nggarai duluan (Ada penghalusan atau menyalahkan diri/kaum sendiri atau apa gitu lho). Sulit kujelaskan dengan contoh maupun kata-kata, tapi kalau ketemu orang ngomong ya aku ngenali gayanya, yang umumnya sama.


Nah, Betty ini juga mengalami tekanan dan dijelaskan juga di dalam bukunya, sehingga dia harus berusaha melawan ketakutannya tersebut, meski akhirnya dia juga melahirkan buku serupa versi cewek childish. 


Buku "Help! I'm Living with a Boy" ini dibuka dengan pembukaan yang menarik.

"Saat menikah aku membayangkan akan menikah dengan seorang pria lalu kami mengasuh anak-anak bersama. Tapi ternyata, bertahun-tahun aku hidup sendiri dengan 4 orang anak, yang 3 adalah anak-anakku dan yang satu adalah suamiku yang kekanakan/childish."


Sepanjang aku membaca berbagai buku, pembukaan ala ini adalah suatu gebrakan yang sangat menarik dan powerful.


Betty mengemas bukunya dengan sangat apik. Dia membahas berbagai masalah tentang suami childish itu per masalah dan tiap masalah langsung diakhiri dengan solusinya. Bahasanya juga enak, sederhana dan mengalir, bukan bahasa yang spektakuler dan sok canggih. Font-nya juga lumayan enak dibaca. Selain itu, buku ini disusun per bahasan, singkat dan jelas dan bisa dibaca tanpa urut. Misal kamu punya masalah dengan ke-childish-an suami pada hal tertentu, kamu bisa langsung menuju ke bahasan itu, tanpa perlu membaca urut atau membaca masalah ke-childish-an lainnya dulu.


Buku "Help! I'm Living with a Boy" ini adalah buku yang sangat mencerdaskan wanita. Banyak wanita tidak tahu tentang isu-isu gender ini dan setelah membaca buku ini semoga pikiran mereka lebih terbuka.


Menariknya lagi, aku sudah membaca banyak sekali buku dengan berbagai tema/topik, and you know, yang namanya toksik, orang sulit (difficult people), mental disorder, abusive, ego-egoan, dan cowok childish itu sama, serupa, tumpang tindih, sebelas duabelas, yah gitu-gitulah. Seperti buku Betty, "Help! I'm Living with A Boy" ini yang ternyata isinya tentang cowok abusive. Dan lucunya aku juga baru nyadar, iya juga ya, sama ternyata.


 


25 Desember 2021

Review "The Science of Siblings"

 


"The Science of Siblings" ini adalah edisi spesial dari TIME yang diadaptasi dari buku Jeffrey Kluger yang berjudul "The Sibling Effect: What the Bonds among Brothers and Sisters Reveal about Us."


Aku tidak tahu ini buku atau majalah (sepertinya majalah TIME edisi khusus), yang jelas penulisnya sama, Jeffrey Kluger, editor majalah TIME dan Time.com.


Awalnya, kupikir majalah ini isinya akan membosankan, tapi ternyata aku salah. Jeffrey berhasil mengemasnya dengan cara menulis yang menarik dan dibantu dengan beberapa gambar pelengkap yang berfungsi untuk membuat rentang perhatian otak tetap terjaga.


Majalah ini berisi segala hal tentang saudara. Jika biasanya orang menghubungkan hubungan antara suami dan istri dengan hubungan antara anak dan orangtua, majalah ini berusaha mengungkap peran saudara di dalamnya.


Ada banyak hal yang dibahas di sini, mulai dari pengaruh urutan kelahiran terhadap sifat, pertengkaran antar saudara, perceraian, karir, kesuksesan atau kegagalan dalam kehidupan, sampai dengan terorisme, narkoba, kehamilan, dan perilaku berisiko. 

Di dalamnya juga dimuat hubungan saudara dengan teori h*mos*ksual (g*y dan l*sbian), yang secara pribadi tidak kusepakati. 


Anak dengan segala urutan kelahiran dibahas di sini. Lengkap dari anak pertama, anak tengah, anak terakhir, anak tunggal, sampai dengan anak kembar. 


Namun, sebagaimana banyak terdapat dalam tulisan lain yang pernah ada, anak pertama dipandang lebih banyak positifnya daripada anak tengah maupun bungsu, sedangkan anak tengah adalah yang paling misterius (dan cenderung dihubungkan dengan hal-hal negatif) dari ketiga urutan kelahiran tersebut.


Penulis secara khusus juga menyoroti hubungan antara presiden-presiden Amerika dengan saudaranya, yang mana anak pertama menjadi presiden Amerika sedangkan saudaranya gagal/kurang berhasil, misalnya presiden Teddy dengan saudaranya Elliot Roosevelt. Teddy menjadi presiden sedangkan Elliot tak lebih hanya seorang problem maker. Elliot tak henti-hentinya dirundung masalah, mulai dari alkoh*l, m*rfin, depresi, sampai akhirnya mati karena masalah-masalah tersebut.


Intinya, majalah ini menjelaskan tentang berbagai pengaruh positif maupun negatif dari saudara. 


Peran saudara itu penting terhadap saudaranya dan ada polanya sehingga tidak boleh diremehkan. 




23 Desember 2021

Review Buku "Get Great Trips for Free"

 



Pernah tidak kamu membayangkan, "Wah enak banget ya jadi travel writer. Kerjanya ngelencer kemana-mana. Gratis lagi."


Atau mungkin kamu tipe orang luaran. Kamu suka menulis tapi kamu berpikir menulis itu kerjanya di dalam doang dan membosankan. 


Kalau kamu pernah berpikir seperti itu, kamu menulis itu ada banyak cabangnya. Kalau kamu tipe orang luaran, suka travelling/bepergian, suka alam bebas, mungkin kamu bisa memilih niche seputar wisata ini dan bekerja sebagai travel writer/travel blogger.


Dari mana kamu memulainya? Kamu bisa membaca buku "Get Great Trips for Free" ini. Di dalam buku tersebut, Linda Ballou, penulisnya, telah memberikan panduannya step by step dengan lumayan jelas. Mengapa kubilang lumayan? Karena ada beberapa bagian yang belum kupahami dan karena itu di luar negeri. Kecuali kamu memakai/memahami bahasa Inggris atau mau travelling ke luar negeri mungkin bisa langsung mengadopsi isinya penuh tanpa terkecuali. 


Buku ini bagus dan cukup daging untuk ukuran buku yang hanya setebal 31 halaman, tetapi aku lebih suka kalau bentuknya listicle/berupa point-point, lebih sistematis, dan diberi gambar tempat wisata dan contoh tulisannya langsung tanpa harus meng-klik website dia dulu. Selain itu, di situ juga ada contoh surat penawaran kerja sama, aku tidak tahu apakah itu berlaku umum (tinggal dimodifikasi atau bagaimana) dan bagaimana cara menemukan orang-orang penting untuk dihubungi tersebut beserta kontaknya. Aku kurang paham sudah dijelaskan atau belum oleh Linda karena bahasa Inggrisku minim. Dan satu lagi, judulnya susah untuk diucapkan. 


Tapi buku ini beneran bagus, singkat dan padat dan akan memberimu banyak info penting yang kamu butuhkan, yang kalau pada buku lain mungkin bukunya akan jadi tebal sekali (lebih tebal dari buku ini). Dan jangan kaget ya karena dia akan membuka matamu bahwa menjadi travel writer/travel blogger itu bukan tentang hepi-hepi saja. Siapkan juga effort-nya.


22 Desember 2021

Review Sample Buku "Self Discipline of Writers"

 



Aku baru menyadari setelah selesai membaca sample buku "Self Discipline for Writers" ini, bahwa isinya bukan sesuatu yang baru buatku. Aku pernah mendapatinya pada pelatihan menulis online di grup WA yang pernah kuikuti. Nyaris persis. Entah siapa yang duluan, penulis buku ini atau guru menulis di WA tersebut. Atau malah bukan keduanya? Mungkinkah kebetulan sama? Itu tak jelas bagiku, apalagi buku ini tak memuat tahun pembuatannya. 

So, buatku ini isinya penting tapi nggak baru. 

Buat penulis pemula isinya cocok karena dia menulis sesuatu yang dasar sekali. Itu untuk sample-nya ya, 2 bab pertama saja.

Jumlah halaman utuhnya sendiri sebenarnya ada 46, tapi isinya hanya sekitar 34 halaman. Pada 12 halaman awalnya belum memuat isi. Sementara itu, prolognya pun 5 halaman. Menurutku prolognya kepanjangan untuk ukuran short book semacam itu. Semakin singkat suatu buku seharusnya semakin padat berisi. 

Sebagai penulisnya, Martin Meadows cukup kompeten untuk mengajarkan tema "self discipline" ini karena riwayatnya yang punya beberapa buku yang termasuk ke dalam long term best sellers di Amazon. Dan isi buku ini pun masih bau-bau Amazon. 

Dia adalah penulis yang realistis dan tidak alergi uang. Karena sebagai suatu pekerjaan, sudah selayaknya penulis memperhitungkan reward yang layak bagi pekerjaan profesionalnya. Jadi, dia memasukkan unsur finansial juga ke dalam isi buku ini.

Isinya bagus. Bahasanya pun santun dan tidak memaksa. Dia hanya menawarkan suatu cara sebagai opsi sambil menunjukkan konsekuensi yang mungkin timbul jika pembaca memilih opsi yang lain.

Meski isinya bagus, entah kenapa buku ini masih kurang enak kubaca. Selain layoutnya yang nggak enak, masih ada sesuatu yang terasa ngganjel pada daftar isi dan isinya yang entah apa. Mungkin masih kurang padat plus aku nggak bisa meraba-raba isi bagian buku yang tersisa. Bahasa pada daftar isinya masih kurang sederhana atau kurang clear dalam menggambarkan isinya mungkin ya. Trus mungkin margin kanan-kiri dan spasi serta seputar font dan pemotongan tulisan ke bagian berikutnya itu masih nggak pas untuk aktivitas baca yang enak buat mata dan konsentrasi otak.  Masih kurang sreg pokoknya. 



Review Sample Buku "Write Faster"

 


Masih dengan tema serupa dengan artikel reviewku sebelumnya, kali ini aku mau mereview sample buku "Write Faster".


Buku "Write Faster" ini singkat banget, cuma 53 halaman. Samplenya ada sekitar 14 halaman. Lumayan lah ya.


Menurut pengakuannya, Jake Ransal ini bisa menghasilkan  100 buku dalam 6 bulan meskipun ia punya kesibukan melakukan part time job dan berbagai aktivitas lainnya.


Sepintas sepertinya lebih sibuk penulis yang kureview sebelumnya karena dia pekerja tetap dan berada di level managerial tapi aku ga tau pasti ya karena part time job ini kan implisit, tidak jelas part time-nya sesibuk apa.


Dalam 14 halaman sample buku itu hanya termuat 2 bab dan itu nyaris tidak menyinggung mengenai teknik menulis cepatnya sama sekali. Bab ke-1 tentang "Time is money" dan bab ke-2 tentang "Quantity versus quality." Malahan, bab ke-2 itu isinya seputar hal-hal teknis terkait Amazon dan Kindle, yang masih berhubungan dengan penulisan/perbukuan tentunya, juga tentang review-review yang dilakukannya terhadap tulisan penulis lain. Di sini, kamu bisa menemukan keuntungan dengan mengetahui kesalahan-kesalahan umum para penulis buku dan teknik-teknik penulisan/perbukuan yang berhubungan dengan Amazon dan Kindle, karena dia ternyata juga top reviewer di Amazon dan seorang ilustrator pro juga.


Sementara 2 bab belum terlalu menyinggung tentang menulis cepat, daftar isinya pun tak bisa memberiku gambaran yang jelas. Dengan kata lain, membingungkan. Kalau biasanya semakin ke halaman belakang itu kelihatan kan dibangun dari awal ke akhirnya pada daftar isi, ini nggak kelihatan. 

So, tbh, I don't know. Masih blank. Isinya bagus tapi apakah dia menjawab cara untuk write faster nah itu yang aku nggak tahu. 



Review Sample Buku "Be A Writing Machine"

 



Para penulis pasti pernah ngalamin yang satu ini, yaitu momen ketika orang ngeremehin pekerjaan menulis. 

"Iya kamu kan (gini gitu- baca: dianggap nganggur), lha aku sibuk. Mana sempat (nulis)."

Atau mungkin kamu sendiri yang udah lama pengen jadi penulis katanya tapi nggak nulis-nulis karena alasan nggak punya waktu.

Kalau beneran pengen jadi penulis dan pengen punya waktu, nih baca buku "Be A Writing Machine." Di tengah kesibukannya yang bejibun dia bisa sangat produktif menulis, baik fiksi maupun non fiksi. Dia bukti nyata lho kalau orang super sibuk pun bisa menghasilkan banyak karya. Dan karyanya bagus, nggak asal-asalan. Setidaknya kunilai dari sample buku ini yang bahasanya itu sangat bersahabat, huenak dibaca, dan seperti ngobrol langsung dengan pembaca. Katanya sih, dia terinspirasi dari karya penulis lain (lalu mungkin dia mempelajarinya).

Buku ini menurutku humanis dan humble, ada sisi inspirasi dan motivasinya dari potongan kisah hidup M.L. Ronn (Si Penulis) juga dan yang terpenting dia kasih bocoran strategi-strategi dia sehingga bisa jadi super produktif.

Jadi, kesanku terhadap sample buku "Be A Writer Machine" ini bagus dan sangat layak dibaca. 
 


Review Buku "50 Book Promotion Ideas"

 



Sebagai penulis, judul buku "50 Book Promotion Ideas" ini sangat menyolok buatku. Seperti ngawe-awe/melambai-lambai minta dibaca. Yah kali aja nemu suatu strategi promosi buku yang kuminati dan bisa kucoba.

Buku ini bukan buku sembarangan. Dia nggak cuma membahas tentang cara memasarkan buku, tapi dia sendiri adalah sarana promosi juga. Dalam buku yang termasuk super snack book (buku yang sangat singkat) ini, dia bisa mempromosikan banyak penulis lain, sekaligus blog, website, podcast, atau media-media lain yang terkait dengan writing, marketing, atau publishing. 

Jadi, buku "50 Book Promotion Ideas" ini adalah bentuk riil yang bisa kamu contoh untuk promosi juga. Sangat kreatif, bukan?

Di sini kamu akan mendapatkan 50 ide pemasaran buku baik yang gratis maupun berbayar. Selain itu, penulis juga menyertakan pula podcast-podcast milik self publisher sukses yang menyediakan support dan training untuk mendukung pembelajaranmu, yaitu pada bagian paling akhir buku ini.

Buku ini agak aneh sih, nggak terlalu mengikuti struktur penulisan buku pada umumnya, misalnya nggak ada daftar isinya. Ini lebih seperti artikel panjang. Tapi kalau kamu seperti aku, yang suka bacaan to the point, dan mengingat halaman buku ini yang sedikit banget, itu nggak masalah sama sekali. Yang jadi masalah malah teknik promosinya yang kurang dideskripsikan dengan detail sehingga kurang jelas untuk dipraktekkan.

Buat penulis dan penerbit, terutama yang melakukan self publishing, lumayan banget bisa dapat ide-ide tambahan untuk promosi dengan membaca buku ini.




19 Desember 2021

Review Buku "Catch Him and Keep Him"

 

Jika berbicara tentang hubungan/interaksi pria dan wanita, aku sering sekali ketemu ajaran/pandangan serupa yang ada di dalam buku "Catch Him and Keep Him" ini. 

Apakah itu?

Buanyak sekali orang -baik melalui buku atau video- yang mengajarkan atau menjelaskan betapa wanita yang harus memulai atau bekerja keras di dalam sebuah hubungan.

Alasannya klise, lagi-lagi karena wanita dianggap dominan perasaan atau karena cowok secara alami nggak peka, atau hal-hal semacam itu.

Secara halus, penulis juga seperti menganggap para wanita itu bodoh karena terlalu memperturutkan perasaannya. Sedangkan pria bisa langsung mengenali wanita potensial untuk jangka panjangnya (untuk diperistri) dengan cepat. 

Beberapa pria di dalam buku-buku karya mereka malah terang-terangan menyuruh wanita itu berpikir ala pria, misalnya Steve Harvey dalam "Act Like A Lady, Think Like A Man."

Singkatnya, semua para pria tersebut itu mo ngomong gini, mereka itu beda denganmu, nggak ngertiin kamu, kamu makhluk yang lebih peka dan lebih perasa jadi kamu yang harus ngikuti pendekatan ala gender mereka. Gitu. Paham?

Sementara penulis menjelaskan selingkuh/suka fisik/s*ks adalah biologis/alamiahnya pria, takut berkomitmen adalah alamiahnya pria, bisa nges*ks tanpa butuh perasaan/komitmen adalah alamiahnya pria, pada buanyak sekali buku atau video (dari pengajar pria maupun wanita) mengajarkan hal-hal yang rumit terhadap wanita. Seperti semua beban perubahan itu diletakkan pada pundak wanita dan wanita yang harus menginisiasi atau mendahului (dan kalau beruntung, pasangannya gantian akan memberikan treatment manis padanya). Ada buanyak sekali aturan untuk berbicara maupun bersikap terhadap pasangan pria kita, sementara pria-pria tersebut bisa bebas berucap atau bertindak karena mereka nggak peka atau hanya karena mereka pria (biasanya dihubungkan dengan ego).

Selain itu, ada juga yang unik di dalam buku ini. Bertentangan dengan keyakinan umum, penulis menjelaskan bahwa pria suka melakukan kode-kodean. Bukankah kamu sering dengar kalo wanita yang suka diolok-olok karena melakukan kode-kodean? Tak dijelaskan apakah itu hanya pria atau itu menunjukkan kedua gender sama-sama melakukan kode-kodean. Dan lagi-lagi, kamu para cewek, dituntut untuk paham kodenya (atau secara implisit dianggap bodoh, kalo gagal baca kodenya).

Kalau kuamati, buku-buku atau coaching relationship juga demikian, lebih menyasar pihak wanita. Aku pernah baca di mana gitu ya, kalo targetnya pria nggak akan laku. Satu lagi, buku-buku relationship dengan target pria, biasanya gak jauh-jauh dari selangkangan: cara ngajak cewek tidur denganmu, cara menjadi bad boy dan digilai cewek, cara ngajak cewek muda tidur denganmu walo umurmu udah tua banget, gitu-gitu deh.

So, aku ga suka buku ini dan ajaran yang serupa dengannya. Itu bikin aku mikir betapa mbencekno makhluk bernama pria ini dan betapa mereka hanya bisa nyusahin hidupku dan bikin aku males nikah. Sementara ini aku masih berpikir apakah itu pendapat ataukah kebenaran? Adakah perkecualiannya? Pria yang manis dan tidak seperti apa yang mereka katakan?

Baca buku ini aku ga terlalu dapat apa-apa selain rasa sebal, serupa dengan salah satu buku karya penulis pria yang juga pernah kuulas di blog ini.



18 Desember 2021

Review Buku "Building Great Sentences"

 

Kalau kamu sudah mengikuti blogku lama, mungkin kamu sudah tahu kalau penyebab ketertarikanku dalam memilih suatu buku untuk kubaca/kureview itu bermacam-macam. Kadang aku tertarik dengan judulnya, kadang aku penasaran dengan gambar covernya, kadang aku ingin tahu kenapa suatu buku itu bisa mengubah hidup seseorang, kadang karena melihat postingan penulisnya, kadang karena label best seller atau award-nya, kadang karena desain atau layout atau yah pokoknya terkait dengan isinya yang enak dibaca, ada juga yang karena penulisnya, tulisan pada sampul belakangnya, pengen aja ganti suasana, atau bahkan random. Banyak banget pokoknya dan sulit untuk menyebutnya satu persatu. 


Nah, kalau buku "Building Great Sentences" ini kupilih karena selain tertarik dengan judulnya, daftar isinya itu bagus. Jadi gini ya, gak semua buku itu daftar isinya bagus. Ada yang asal-asalan, ups ... alakadarnya maksudnya. Buku "Building Great Sentences" ini beda, daftar isinya itu sudah memuat poin-poin penting yang akan dibahas pada bagian isinya. Ini kan buku tentang menulis, isinya tentu cara membuat tulisan yang baik, dan itu sudah tercermin di dalam daftar isi buku tersebut.


Terkait kepenulisan, aku pernah membaca beberapa buku karya penulis senior luar negeri, isinya cenderung berbantah-bantahan, disertai dasar dari pendapat masing-masing. Buku ini pun demikian, misalnya terkait panjang pendeknya kalimat. Brooks Landon termasuk penulis yang suka berpanjang-panjang. Alasannya, karena bisa lebih rinci/detail. Di situ dia menyinggung buku "The Element of Style" milik Strunk and White yang cenderung mengajarkan sebaliknya, simple and direct. Jadi, Strunk and White beda dengannya, tulisannya cenderung pendek-pendek. Namun, bagi Brooks Landon, sebenarnya mereka tidak bertentangan karena simple bukan berarti simplistic dan direct tidak berarti short, yang penting tiap kata atau bentukan itu punya fungsi dan kamu tahu tujuannya kenapa memasangnya pada kalimat atau tulisanmu.


Membaca itu aku jadi ingat pengalaman pelatihan menulis yang pernah kuikuti, yang mana di sana juga guru-gurunya memaksa harus memakai kalimat yang singkat. Agar tidak melelahkan, paparnya. Padahal, itu mungkin lebih berupa kesukaan/gaya selingkung aja, yang penting ketatnya aturan penulisan tetap diperhatikan.


Kemudian ada penulis senior lain asal Indonesia yang bahkan menyebut pengulangan kata sebagai dosa. Padahal, menurut Brooks Landon, itu tidak apa-apa, misalnya penggunaan "Dan" secara berulang di dalam kalimat, itu ada yang dapat berfungsi untuk membangun kekuatan emosional dan polisindenton. Terkait hal tersebut, aku pun pernah menemukan di dalam buku aturan bahasa Indonesia, seingatku ada majas (atau aturan tertentu) yang memberi nama pada kasus pengulangan semacam ini, dan itu tidak apa-apa. Menurut kesimpulan pribadiku, mungkin itu artinya hal tersebut kasuistik atau liat-liat sitkonnya, bukan larangan mutlak.


Kemudian tentang penggunaan "but" (tapi) di awal kalimat, ternyata Brooks Landon ini juga tidak alergi dengannya. Sama dengan Strunk and White, dia fine-fine aja dengan penggunaan kata "but" di awal kalimat. Dan aku pun sependapat dengan mereka, suka dengan bolehnya penggunaan kata "tapi" pada awal kalimat.


Isi dari buku "Building Great Sentences" ini seingatku tidak baru. Aku pernah membaca tulisan serupa pada buku lain, tapi aku tidak yakin buku yang mana, mengingat banyak sekali buku yang pernah kubaca. Mungkin karena temanya serupa, tentang panduan menulis dari dasar.


Buku ini ditulis dengan gaya bahasa formal yang halus dan berkelas, seperti buku yang aku juga lupa judul dan nama penulisnya, tapi yang jelas mereka itu sama-sama senior dan menjadi pengajar menulis formal di universitas. Mungkin yang backgroundnya begitu memang gaya menulisnya cenderung begitu. Meski demikian, pada buku mereka berdua, aku tetap sulit memahami. Entah karena bahasa Inggrisku yang minim atau karena ketidakmampuanku dalam memahami teori-teori atau dasar-dasar menulis yang mereka sampaikan. Mungkin penulis yang berasal dari jalur formal lebih mudah untuk memahami poin-poin dari ajarannya, sementara aku kan cenderung otodidak (atau aku cuma cari-cari alasan?). Ah entahlah, yang jelas aku masih kurang mampu memahami isi dari buku-buku tersebut. Bagiku pribadi, buku-buku itu termasuk buku berat, membacanya harus dalam kondisi fresh, konsentrasi penuh, dan pelan-pelaaan banget (dan semoga dengan cara ini berhasil paham).

Yah, gitu deh. Itu kalo aku lho ya. Kalau kamu belum tentu sama. Coba aja baca sendiri.

Review Buku "Unlock It"

 

Buku "Unlock It" ini adalah karya Dan Lok.

Aku mendapatkannya karena aku sempat mengikutinya secara khusus.

Buku ini dibuka dengan kisah perjalanan Dan Lok menuju sukses. Kalau kamu juga pernah mengikuti dia sepertiku, kamu mungkin sudah tak asing dengan cerita-cerita tersebut. Dia sudah pernah menceritakannya di medsosnya ataupun melalui newsletter email.

Saat aku membaca bukunya, nyata banget terlihat kepiawaiannya dalam bermain kata. Cocok dengan backgroundnya sebagai high income copywriter. Isinya itu tap tap tap, poin demi poin langsung dibahas dengan jelas (clear), cenderung daging semua tapi tetep enak dibaca. 

Jadi, dia itu menggabungkan pengalaman bisnisnya dengan kelihaian menulisnya. Dia langsung membahas hal-hal penting dalam bisnis dan mitos-mitos/kesalahan-kesalahan umum para pebisnis pemula.

Tak terkecuali diriku, pernah melakukan banyak sekali kesalahan yang disebut di dalamnya. Andai saja aku mengetahuinya lebih awal, tentu banyak kebodohan dan kerugian yang bisa kuhindari. Yah, begitulah, di tengah derasnya arus informasi, setiap orang berbicara, dan aku bingung mana yang benar. Juga, mana yang manjur/cocok untukku. Itu membutuhkan keahlian tersendiri untuk memilahnya.

Buku ini dibagi dalam beberapa bab. Menariknya, bab 4 tidak ada (dikosongi), karena menurut budaya Cina angka 4 itu membawa kesialan. Artinya, Dan Lok masih percaya hal-hal seperti itu.

Membaca bagian awalnya membuatku mendapat banyak insight/pemahaman baru. Rasanya pikiranku jadi lebih terbuka. Di antara buku bisnis yang efeknya seperti ini adalah bukunya Harv Eker. Aku lupa judulnya, tapi tentang miliuner-miliuner gitu deh. Aku pernah baca 2 buku Harv Eker semuanya bagus, itu isinya prinsip-prinsip dalam berbisnis/menjadi miliuner, seperti buku Dan Lok ini.


Setelah bagian sejarah Dan Lok hingga menjadi miliuner, bagian tengah buku ini berisi kesalahan-kesalahan umum pebisnis pemula, diikuti dengan adopsi teknik dari buku-buku/ahli-ahli lain yang sudah dipersonalisasi dikit-dikit (diubah menjadi ala Dan Lok). Kemudian ada bagian yang berisi kategori-kategori umum masyarakat dalam bekerja/mencari uang. Kamu disuruh melakukan refleksi diri termasuk yang mana. Setelahnya adalah solusi dari masing-masing kategori tersebut, dan ditutup dengan mengulas teknik menjual tiket-tiket mahal secara lumayan mendalam. 

Buku "Unlock" ini dibagi dalam poin-poin yang enak untuk daya konsentrasi otak (sesuai dengan durasi kemampuan otak dalam berkonsentrasi), meskipun bisa makin nyaman lagi dibaca kalau jenis font-nya mungkin diganti dengan yang lebih enak dibaca. 

Bagian awal sampai tengah itu mudah dipahami, sedangkan bagian akhir (solusi sampai teknik menjual tiket-tiket mahal) itu kurang mampu kupahami.

Secara keahlian menulis, tulisan-tulisan di dalam buku ini sebenarnya halus, tetapi muatannya kasar. Pada beberapa bagian terdapat kata-kata yang kurang santun.

Jadi, buku ini aslinya bagus tapi banyak bagian yang kurang kupahami dan memuat beberapa kata yang kurang santun.

17 Desember 2021

Review Buku "The Asshole Survival Guide"

 

Asshole/bajingan/orang-orang brengsek itu ada di mana-mana. Berinteraksi dengan mereka itu bisa menimbulkan berbagai dampak negatif, mulai dari menimbulkan kesusahan-kesusahan sehari-hari, susah tidur, sakit fisik, sakit mental, atau bahkan yang lebih parah lagi.


Oleh karena itu, banyak orang meminta tolong pada Robert I. Sutton ini untuk mengatasi para asshole/bajingan tersebut, lalu terciptalah buku "The Asshole Survival Guide" ini .


Membaca buku ini aku merasa kurang nyaman, terutama pada halaman-halaman awal, yaitu terkait dengan bahasanya dan adanya ambiguitas. Menurutku, ada bagian-bagian yang membingungkan atau kurang clear, termasuk mengenai posisi penulis itu sebenarnya di mana. Misal aku korban asshole, kalau kisahku tidak sesuai dengan kriteria asshole yang dia miliki, bisa-bisa aku yang dianggap asshole oleh dia. Itu salah satunya.


Semakin ke tengah dan ke belakang, buku ini semakin nyaman dan enak (mendingan). Yah walaupun tetap terasa bertele-tele untukku pribadi, tetapi menurut penulis tersebut, tujuannya agar pembaca (korban asshole) merasa tidak sendiri (banyak orang juga mengalaminya) atau agar para korban asshole tidak merasa dirinya rusak. 


Ada banyak alternatif untuk mengatasi para bajingan, mengingat bajingan itu sendiri banyak macamnya serta punya banyak cara brengsek untuk menyakiti. Selain itu, penanganan bajingan itu juga disesuaikan dengan apakah perbuatan brengseknya itu sementara/menetap, apakah kebrengsekan itu dilakukan oleh individu/sistem, seberapa kekuatanmu, seberapa kadar penderitaanmu, dll. Dari situ kemudian Robert memberikan cara-cara alternatif, apakah berupa manipulasi pikiran atau cara-cara lain yang secara pribadi mungkin bisa dikelompokkan ke dalam fight, flight, atau freeze atau semacam itu lah ya. 


Penulis memberikan panduan kapan kamu cuma harus bermain pikiran/mengendalikan emosimu sendiri, kapan kamu harus menjauh, kapan kamu harus resign, dan kapan kamu harus melawan. Semua itu disertai dengan alternatif caranya masing-masing/strateginya. Misalnya kamu pilih menjauh (flight), bentuk menjauh berupa apa saja yang bisa kamu lakukan itu dijelaskan juga di dalam buku ini.


Sepengetahuanku, Robert ini menulis 2 buku tentang Asshole, tetapi aku belum tau bedanya apa karena aku belum baca yang satunya.


Overall, tips-tipsnya bagus dan applicable, cuma feel-nya aja yang kurang nyaman dan ada beberapa bagian yang agak membingungkan. Selebihnya ini bermanfaat banget dan dapat menambah wawasan. 





16 Desember 2021

Review Buku "You'll Get Through Anything"

 


Buku "You'll Get Through Anything" ini adalah tipikal buku yang kusukai. Isinya daging banget, to the point, nggak bertele-tele.


Di dalam buku ini Patrick E. Masters mengajarkan cara-cara mengatasi negativitas yang telah terbukti berhasil saat dipraktekkannya sendiri. Negativitas itu membawa banyak kerugian di berbagai bidang dan akan menghambat kemajuanmu. Pada covernya tertulis mengatasi negativitas, mengendalikan pikiranmu, mengatasi ketakutan dan masa lalu yang menyakitkan, serta meraih kemampuan potensialmu karena itu semua masih berhubungan atau memiliki akar permasalahan yang sama. 


Di sini, dia memberi arti istimewa pada angka 7. Hampir semua bahasannya dipecah ke dalam 7 poin, misalnya: 7 cara untuk menekan rasa sakit, 7 cara untuk meraih potensi maksimalmu, yah gitu-gitu lah. Dan cara-cara yang ditawarkan itu terkesan sederhana, cuna memang perlu latihan dan kedisiplinan.

Buku ini enak dibaca bagi yang cuma punya waktu sedikit dan suka yang to the point. Jadi, nggak perlu berlama-lama baca buku tapi bisa segera action/dipraktekkan gitu ya, biar perubahannya juga bisa segera terwujud.






15 Desember 2021

Saat Pikiranmu Menjadi Musuhmu

 

Ini ke sekian kalinya aku membahas tentang otak dan pikiran. Pikiran itu seperti setir sedangkan pengemudinya bisa kamu sendiri atau orang lain.


Hanya dengan berpikir sesuatu yang salah, orang itu bisa sakit, bisa terjerumus ke dalam perbuatan dosa, bisa murtad, dan lain-lain.


Pikiran pula yang membedakan seseorang itu wajib sholat atau tidak. Orang gila, selama masih gila, tidak wajib sholat. Padahal, orang yang cacat, sakit keras, atau dalam peperangan pun tetap diwajibkan sholat. Bahkan, posisi sujud, yang dikatakan posisi terdekat antara hamba dengan Tuhannya, memiliki manfaat sampingan berupa mengalirnya darah ke bagian otak tertentu, yang artinya baik untuk kesadaran, daya ingat, serta kecerdasan, yang lagi-lagi tak jauh-jauh dari pikiran.


Di dalam buku "Highly Happy Marriages", penulisnya menyimpulkan, pikiranlah yang menimbulkan perasaan, lalu perasaan menerjemahkan dirinya menjadi perbuatan. Jadi, kalau pikiran kita salah, perbuatan kita akan salah.


Terkait dengan hal ini, buku-buku tentang abuse pun menjelaskan, orang narsis (baik narcissist trait maupun NPD) atau orang yang controlling adalah orang-orang yang mengalami kesalahan berpikir. Mereka melakukan pendekatan terbalik, sehingga hasilnya malah jauh dari harapan. Hal itu pulalah yang menyebabkan para narsis ini nyaris nggak mungkin ditemukan sedang melakukan terapi. Mereka merasa dirinya benar. Kalaupun melakukan terapi itu hanya manipulasi/modus. Kalau dia ke terapis itu biasanya dia yang berpikir bahwa orang-orang di sekitarnyalah yang bermasalah, misalnya pasangannya.


Terlepas dari hal itu, pikiran/otak kita juga punya kelemahan, seperti disinggung di dalam buku "Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat" atau bahkan melakukan kesalahan massal, seperti yang telah dibuktikan oleh penulis buku "Factfulness" di dalam buku tersebut, bahwa apa yang diyakini oleh masyarakat umum bisa saja salah.


Oh ya kamu juga mungkin sudah baca berita santer tentang oknum ustaz yang telah memperkosa banyak santrinya, itu juga berawal dari pikiran. Kasus semacam itu, kasus nabi palsu yang punya pengikut, aliran-aliran sesat, geng-geng sesat, orang yang malu menjadi tidak malu, dll semuanya itu berawal dari kontrol pikiran atau cuci otak atau reframing.


Nah, dalam dunia percintrongan, ada beberapa hal umum yang biasa digunakan oleh para bajingan, badboy, atau fuckboy, di antaranya adalah mengajak minum miras/mencekoki dengan miras agar kesadaran cakornya (calon korbannya) hilang. 

Hal lainnya adalah eskalasi/perbuatan buruk yang makin meningkat. Misalnya, berawal dari dirty talk/ngomong m*sum lalu makin meningkat ke perbuatan-perbuatan m*sum yang lebih jauh. Kamu mungkin pernah atau sering nemuin/denger ada cowok/segerombolan cowok ngomong m*sum. Mungkin kamu anggap biasa karena cowok memang m*sum, mereka uda biasa gitu. Tapi dari hal-hal semacam itulah kemudian meningkat dan meningkat menjadi kem*suman yang lebih tinggi, misalnya affair alias perselingkuhan, ML, dan lain-lain. 

Di sini aku sebenarnya mempertanyakan juga ya, cowok suka ngaku-ngaku pemimpin itu bisa nggak mimpin itu nggak istri/pasangannya doang gitu lho, tapi juga ke cowok-cowok yang ucapan atau perilakunya nggak bener gitu lho. Bisa dan berani nggak? Jangan malah ikut-ikutan. Begitupun ke cewek lain atau ke dirinya sendiri (memimpin dirinya sendiri). 


Pikiran ini puenting banget ya untuk dikontrol, biar nggak jadi bumerang/musuh. Ya memang kadang-kadang pikiran kita bias, tapi setidaknya kita selalu selektif, update ilmu, dan sangat hati-hati untuk meminimalkan sisi negatifnya. Lakukan learning, unlearning, relearning. Pokoknya, terus evaluasi pikiran-pikiran dan keyakinan-keyakinanmu. 

 



14 Desember 2021

Review Buku "Highly Happy Marriages"

 



Pertama milih buku "Highly Happy Marriages" ini agak random sih dari judulnya tapi karena layoutnya enak iseng aja aku pilih. Suerr walopun dibaca pas pikiran lagi bundel or gak fresh penuh ini tetep enak dibaca. Huwenak. Paduan dari tulisannya yang mengalir dan bersahabat, layoutnya yang enak untuk mata, plus tempat-tempat peralihan babnya yang potongannya cukup pas untuk daya konsentrasi otak itu bikin buku ini enak untuk dibaca. Ini full tulisan, ga ada gambarnya tapi tetep enak. Ini juga gak main tulisan yang terlalu divisualkan kayak gimana gitu yang bikin jadi ala komik yang bikin menuh-menuhin halaman. Ini murni tulisan tok, tapi tetep enak dibaca.


Bagusnya lagi, tiap-tiap babnya itu membahas poin-poin yang memang krusial bagi rumah tangga, hal-hal yang biasa jadi masalah bagi pasangan suami istri. Dibahas dengan ringan tapi tuntas.


Sesuai dengan kata-kata pembuka dari Shaunti Feldhahn, buku ini berisi solusi-solusi sederhana, hal-hal yang sepertinya remeh tapi berdampak besar bagi terwujudnya happy and long lasting marriage. Sebagian solusi di dalamnya mungkin orang sudah tau, tapi cuek/menyepelekan/nggak dipraktekin gitu lah ya. Sebagian sisanya sempat membuatku tersenyum-senyum sendiri, terutama pada bagian cara pasangan happy marriage agar cepat berbaikan kembali.


Happy marriage itu didapat dari usaha (nggak otomatis/ujug2) dan kemauan pasangan untuk bertemu "di tengah-tengah".

Berbagai masalah baik itu sifat pasangan, waktu, orang luar, konflik, dan masalah-masalah lain yang sering terjadi dalam rumah tangga dibahas di sini.


Ini buku umum sebenarnya tapi karena penulisnya Kristen dan responden-respondennya juga Kristen, pada beberapa bagian disisipkan ajaran mereka.


Overall, buagus sih, tapi .... ada tapinya ya, ini itu mikirnya positif aja gitu. Pandangan ini bertentangan dengan ajaran-ajaran yang mengajarkan tentang pencegahan perilaku abusive. Kalau kamu sering baca/nonton/denger ajaran tentang anti abuse, ajaran positif full seperti itu sangat berisiko alias sangat berbahaya. Termasuk jika pasanganmu ternyata orang yang mengalami mental disorder, misalnya narsis (narcissist trait/NPD). Atau bahkan jika kamu sendiri merasa kamu adalah korban abuse, mungkin juga kamu akan merasa perasaan/pengalamanmu tidak divalidasi (mengalami invalidasi). Terkait dengan itu, buku ini memberikan sudut pandang lain karena menurutnya kasus-kasus khusus semacam itu rare alias jarang.


Pada akhirnya, semua kembali ke pembaca. Kamu termasuk yang mana? 











12 Desember 2021

Kesabaran itu hanya untuk yang Pertama

 

Key, hari ini aku mo bahas tentang "Kesabaran itu hanya untuk yang pertama."

Tulisan ini bukan kebenaran tapi hanya kesimpulan-kesimpulanku berdasarkan puzzle-puzzle yang kususun dari berbagai ilmu pengetahuan atau sumber yang pernah kuindra. Jadi aku berusaha membuat benang merah/korelasi antara sumber agama dan sumber umum, yang kadang otakku membuat asosiasi dengan sendirinya (otomatis) gitu.

Tulisan ini dan tulisan-tulisan yang ada di dalam label "pemikiranku" (yang ada di bagian kanan atas blog ini) adalah tulisan yang sisi pendapat dan subyektifitasnya itu kuanggap lebih kuat dibandingkan tulisan-tulisanku yang lain di dalam blog ini. Kuwarning dulu bahwa ini opini, bukan rujukan yang pasti benar.


Nah, beberapa waktu ini ada peristiwa pemicunya dan sepertinya ada hubungannya. Minimal bisa dihubung-hubungkan lah ya.


Kesabaran itu kan ada 3:

1. Kesabaran dalam mentaati perintah Allah

2. Kesabaran dalam menjauhi larangan Allah

3. Kesabaran dalam menghadapi musibah


Nah, kenapa kesabaran itu dikatakan hanya pada saat yang pertama? Apa istimewanya "saat pertama" itu?

Mungkin jawabannya ada pada buku "Predictably Irrational" kemarin. Keputusan pertama itu sangat krusial karena bisa berefek jangka panjang dan menentukan keputusan-keputusan berikutnya. Setelah beberapa keputusan di awal, orang akan cenderung bertindak berdasarkan kenangan. Itu kenapa tindakan-tindakan tersebut lama-lama akan menjadi habit/kebiasaan atau akan berlangsung secara otomatis (autopilot). Lalu jika kamu sudah sampai di tahap ini, terjadinya peningkatan (ekskalasi) pun mungkin akan sulit kamu sadari. 


Pembuatan keputusan ini berawal di pikiran ya, sehingga tak heran banyak juga orang yang bisa mengubah kebiasaannya dengan pikiran juga, misalnya dengan informasi/ilmu baru yang mengubah mindsetnya, latihan yang disengaja (merusak automasi/autopilot), journaling, atau motif yang kuat. 


Pernah ada kisah seorang perokok berat ditunjukkan gambar paru-paru (milik orang lain) yang rusak berat oleh dokternya, lalu seketika itu juga dia langsung berhenti merokok karena takut paru-parunya akan menjadi seperti itu.


Masih dengan keputusan yang pertama, di dalam Islam kita akan menemui proteksi-proteksi yang sangat ketat, yang sejak awal berfungsi mencegah. Misalnya zina, jangankan zina k*lamin, sentuhan kulit dengan bukan mahram aja nggak boleh kok. Jangankan bertindak m*sum, ngomong m*sum aja nggak boleh kok.


Jadi, ketika kita melakukan dosa, itu kan akan muncul 1 titik hitam di hati dan setiap (atau dosa tertentu saja?) cenderung membawa/memudahkanmu pada dosa-dosa yang lain. Itu akan jadi seperti lingkaran setan.

Makanya, sungguh kemurahan Allah yang sangat besar bahwa 1 dosa dihitung 1, sedangkan 1 kebaikan pahalanya bisa sampai tak terhingga atau bahkan sesuka Allah gitu ganjarannya apa/seberapa. 


Kita juga diingatkan kan akan bahaya hal-hal yang samar/meragukan, bid'ah, atau menyerupai kaum yang lain. Kalau kamu langsung disuruh berubah drastis seperti mereka, kemungkinan besar kamu nggak akan mau, tapi kalo berubahnya pelan-pelan atau sedikit-sedikit, maka tanpa sadar kamu udah ngikutin mereka bahkan hingga sampai masuk ke lubang biawak. Kamu nggak nyadar udah makin persis sama mereka dan ketika kamu udah nyadar pun kamu belum tentu mampu untuk kembali.


"Mencegah lebih mudah daripada mengobati" itu juga berlaku untuk konteks ini. 


Kesabaran itu hanya untuk yang pertama. Ketika kamu kehilangan "yang pertama", makin sulit bagimu untuk bersabar dan kamu semakin berisiko menuju kerusakan yang lebih besar. Cegah sesuatu yang buruk itu seawal mungkin, sebisanya. 




11 Desember 2021

Review Buku "Predictably Irrational"

 



"Predictably Irrational." 

Buku ini masuk ke dalam daftar tunggu buku yang ingin kubaca karena aku kepo. Dia masuk ke dalam daftar rekomendasi buku terbaik yang kata pemostingnya mampu mengubah hidup dia, jadi aku penasaran isinya, meskipun secara judul aku ga punya gambaran apa isinya.


Nah, ternyata sodara-sodara, ini itu isinya tentang cara berpikir manusia yang ternyata sangat tidak rasional dalam membuat keputusan. Lucu kan ya? Bukankah selama ini banyak orang terlalu menghina-hina yang berperasaan/baper, terlalu mengagung-agungkan dirinya logis/rasional/pandai, dan semacamnya, tetapi ternyata manusia itu sangat nggak rasional, keputusannya itu banyak dipengaruhi oleh hal-hal yang nggak banget, bahkan mungkin bisa dikatakan bahwa manusia itu bodoh. Banyak keputusannya itu yang bisa dimanipulasi.

Kalau di buku ini misalnya tentang permainan harga, tentang kemiripan dan ketidakmiripan sesuatu, tentang betapa pentingnya keputusan pertama karena efeknya akan tahan lama dan mempengaruhi keputusan-keputusan selanjutnya, tentang pentingnya adanya aturan/ikut campur pemerintah dalam pasar bebas, dan masih banyak lagi.

Isinya itu sangat menarik dan fresh, mengandung kebaruan. Cuma ya itu, seperti umumnya buku yang dihasilkan oleh orang-orang berpendidikan sangat tinggi, buku ini formal banget, bahasanya berat bagiku, cara penulisannya juga masih bergaya ilmiah banget, gitu-gitu deh. Trus pemilihan jenis/ukuran font, spasi, atau pokoknya yang berhubungan dengan layout gitu masih kurang nyaman dibaca. Kalau kamu bacanya dalam kondisi pikiran bundel atau nggak fresh penuh gitu kayaknya agak males-malesi ya. Mbliyur liatnya. Nggak ramah mata gitu lho. Itu sayang banget untuk buku yang isinya sebagus ini. 

Kalo aku pribadi sih menyebut isi buku ini psikologi bisnis atau psikologi perilaku tapi ternyata menurut Dan Ariely, penulisnya, ilmu ini itu namanya behavioral economics.

Kalau kamu pernah baca buku "Neuromarketing" atau "Buyologi" isinya (isi buku "Predictably Irrational" ini) ya semacam itu. Ketiga judul tersebut semuanya bagus dan kurekomendasikan, mungkin karena secara pribadi aku juga suka ilmu-ilmu seperti itu. Menarik banget.

Oh ya, buku ini tuebel ya, tiga ratusan halaman. Kuat-kuatin aja deh bacanya. Gak papa dicicil aja soalnya isinya bagus. New York Times Best Seller lho. Sayang kalau dilewatkan.



10 Desember 2021

Review Buku "Option B"

 


Aku menggambarkan "Option B" sebagai buku yang sangat luar biasa. Bahkan, sebelum aku menyadari kalau Sheryl Sandberg, penulisnya ini, adalah number 1 New York Times Best-Selling Authors (baru nyadar waktu posting cover bukunya di artikel ini, di bagian awal-awal yang sempat kubaca dan kuingat cuma Sheryl itu penulis dan Adam itu psikolognya). 


Tapi sih ya, sebagai orang yang hobi baca plus penulis juga, aku bisa bedain lah ya mana tulisan expert dan mana yang tidak. 


"Option B" ini buku yang sangat berperasaan. Sheryl mampu menggugah emosi pembaca sampai yang terdalam. Dia mengajarkanmu cara berperasaan, berempati, dan terhubung dengan orang lain secara intim. Intimacy dan closeness itu dapat banget di buku ini. Yah walaupun isinya nggak sesuai ekspektasiku, yang mungkin lebih logis. Aku mencari sesuatu seperti opsi lain apa yang tersedia, cara memilih opsi, kapan saatnya tetap di opsi A atau pindah ke opsi B, dan semacamnya.


Tetapi membaca buku ini bukannya tidak berarti, aku malah merasa perasaanku ikut terbawa. Kisah-kisah jujurnya tentang pikiran dan perasaannya yang terdalam akan pengalaman-pengalaman hidupnya itu membuatku merasa nggak sendiri, seperti melihat kebenaran orang lain. Keberanian dia untuk bercerita tentang hal-hal yang vulnerable ditambah dengan kepiawaian penulisnya dalam merangkai kata membuat buku ini begitu humanis. 


Apa ya? Buku ini itu semacam biografi atau novel gitu lah ya isinya atau cara menulisnya. Sangat ekspresif, dramatis, dan humanis. Dari gaya menulisnya, Sheryl sepertinya ahli menulis fiksi juga. Di sisi lain, karena ditulis dengan gaya novel dan sangat detail dalam mendeskripsikan perasaan dan hampir apa saja, aku mudah lelah dan bosan. Kecepatannya dalam menuju hal-hal inti/poin-poinnya itu terlalu lambat bagiku, yang umumnya lebih suka ke-to the point-an non fiksi. Seperti bertele-tele. Tapi itu hanya masalah selera pribadi ya.


Jadi, apa sih isi buku ini? Isinya itu Sheryl bersedih dan sangat hancur atas meninggalnya suaminya, lalu dia bertemu Adam Grant, yang psikolog ini, yang kemudian menginspirasi dan membangun Sheryl untuk bangkit kembali. Di titik itu Sheryl memperoleh kesadaran yang baru akan makna connectness dan empati dengan sesama, lalu dia semakin menumbuhkan dan menebarkan kesadaran itu pada orang lain. Semua ini dihubungkan dengan berbagai pengalaman hidupnya sehingga kadang isinya terkesan meloncat-loncat.


Sheryl nggak malu atau jaim cerita tentang perasaan-perasaannya saat terjadi pergulatan di hidupnya dan hal-hal humanis seperti ini dalam jurnalistik/psikologi/marketing sangat disukai orang lain karena manusia itu cenderung kepo dengan sesuatu yang berhubungan dengan manusia yang lain. 


Kalau kamu sedang butuh dukungan perasaan, psikologis, atau emosional, misalnya saat kamu sakit, gagal, kehilangan orang yang kamu sayangi, dan semacamnya kamu cocok banget baca buku ini. Buku ini akan sangat menghiburmu, berempati padamu, mendukungmu, sekaligus menginspirasi dan memotivasimu untuk bangkit, berbahagia kembali, dan bisa menjalani hidupmu lagi dengan opsi B/opsi yang baru.

Membaca buku ini sangat menyentuh hatiku. Sungguh. 

Di era orang-orang semakin banyak yang dingin dan diskonek seperti saat ini, kita butuh orang-orang yang lebih berperasaan dan berpemahaman tinggi seperti Sheryl ini. 



08 Desember 2021

Review Buku "Eight Dates"

 


Buku "Eight Dates" ini sengaja kucari berdasarkan nama penulisnya, yaitu John Gottman. Jadi, untuk buku ini aku nggak random. Aku sudah denger-denger kabar tentang kepiawaian John Gottman ini, baik dari nonton videonya atau dari sumber lain.

Dan aku merasa amazing gitu, dengan fokus dan usaha kerasnya itu John Gottman terkenal sangat ahli dalam memprediksi apakah suatu pasangan itu akan tetap menikah dan bahagia, tetap menikah tetapi tidak bahagia, atau berakhir dengan perceraian. Nggak lama, dia cuma butuh waktu 15 menit untuk menghasilkan prediksi yang 94% akurat. 


Dari situ aku nyari mungkin ada buku karyanya yang bisa kubaca dan kugali lebih dalam ilmunya. Lalu ketemulah buku "Eight Dates" ini.


Judulnya kencan/pacaran, tetapi bisa digunakan secara umum, baik untuk cari jodoh, maupun untuk yang sudah punya pacar atau bahkan sudah menikah.


Di sini John Gottman dan istrinya menekankan pentingnya kuantitas dan kualitas percakapan dalam suatu hubungan. Bagian terbesar dari sukses atau gagalnya hubunganmu tergantung percakapan yang kamu lakukan/miliki dengan pasanganmu. 


Banyak hal yang diajarkan di sini, tidak hanya tentang melontarkan pertanyaan yang ujungnya terbuka (yang jawabannya tidak "yes/no" saja) tetapi juga seni mendengarkan, memahami, membahagiakan pasangan, mindset ke-kita-an, dan yang terpenting adalah membuka perasaan, kebutuhan, keinginan, dan impian terdalam dari pasangan kita.


Untuk menuju ke sana, setiap pasangan perlu memprioritaskan hubungan mereka salah satunya dengan rutin melakukan kencan malam dan melakukan deep talk (pembicaraan mendalam) di dalamnya. Masalah sibuk kerja, anak, dll harus dicari solusinya jangan sampai mengganggu kencan rutin ini. Tapi jangan khawatir, solusinya juga sudah disertakan di dalam buku ini. 


"Eight Dates" maksudnya adalah 8 kencan dengan 8 topik pembicaraan yang berbeda-beda pendorong intimacy. John Gottman memberi penekanan pada 8 hal utama ini berdasarkan pengalamannya bertahun-tahun di bidang percintaan, sebagai faktor pendukung long lasting relationship plus happily ever after. Jadi, kencanmu itu terencana. Pertanyaannya juga sudah dirancang khusus untuk membuat pasangan menjadi lebih terbuka dan intim, closeness. 


Kamu pasti pernah kan lihat pasangan yang udah nikah tapi pernikahannya garing/dingin, kehilangan spark-nya, orang pacaran yang bosenan dan ganti-ganti pacar terus atau pacaran/berumahtangga bertahun-tahun tapi nggak bener-bener kenal pasangannya, nggak ada intimacy dan closeness sama sekali, dll. Nah, buku ini mengajarkanmu cara untuk mengatasinya. 


Hubungan yang sehat, indah, bahagia, dan awet itu diupayakan. Nggak otomatis terjadi. Ada kesediaan dari masing-masing diri untuk belajar terus untuk lebih mengenali pasangannya dan terus bertumbuh menjadi lebih baik baik secara pribadi maupun sebagai pasangan/1 tim. Nggak ada jaim-jaiman, ego-egoan, gengsi-gengsian, dan semacamnya. Bahkan, dengan percakapan yang baik, konflik pun nggak jadi masalah. Membaca beberapa contoh hubungan dalam buku tersebut itu sungguh indah, seperti melihat pasangan yang telah memiliki keintiman yang sempurna/paripurna. 

Kamu juga pengen seperti itu, bukan? Baca buku ini dan coba praktekkan apa yang diajarkan di dalamnya.