22 Oktober 2021

Review Buku "How to Improve Egg Quality"

 


Masalah keturunan merupakan isu serius bagi kaum wanita. Berat. Berat banget. Tak hanya karena wanita yang bagian mengandung, tetapi juga karena seolah wanita yang lebih disorot kalau sudah bahas masalah ini. Isu s*ks, kehamilan, menopause, dan sebagainya.


Dalam dunia pencarian jodoh saja, tak jarang wanita seperti dinilai hanya sebatas "peternakan". Jika wanita sudah berumur 35 tahun ke atas atau 40 tahunan maka sudah dianggap seperti sampah karena dianggap ga bakal punya anak, performa s*ks kurang, dan segala yang ga jauh-jauh dari itu. Seperti dijadikan isu pamungkas terutama jika kufu/level prianya di bawah Si Wanita, atau jadi hinaan dan abuse jika pria-pria tersebut sakit hati terhadap Si Wanita.


Tak cukup sampai di situ, dalam pernikahan pun andai istri benar-benar tidak bisa punya keturunan, ancaman perceraian atau poligami sering muncul ke permukaan. Masih banyak pria yang menilai wanita hanya sebatas selangkangan dan peternakan.


Itu baru dari sisi pria/suami, dari sisi ibu, mertua, atau sesama wanita pun tetap belum tentu memahami. Apa ya nggak mikir, memang yang ingin punya anak (cucu mereka) itu cuma mereka? Pasangan yang normal pada umumnya kan lebih pengen, sebagai pihak yang berkepentingan langsung. Sementara soal waktu, emang bisa gitu nentuin sendiri?


Dan sepertinya di mana-mana itu akan sama, meninggalkan kepedihan yang teramat dalam. Setidaknya, begitu yang kubaca pada pendahuluan 2 buku tentang upaya kehamilan ini. Dua wanita, dua penulis yang berbeda, dua judul yang berbeda, tetapi dengan kepedihan seputar isu kehamilan ini yang sama mendalamnya. Deep. Begitu menyayat hati dan mungkin sulit untuk dibayangkan bagaimana perjuangan dan penderitaan mereka. 


Namun, ada yang berbeda yang membuatku kemudian memilih buku "How to Improve Egg Quality" ini. Penulis buku ini, yaitu Darja Wagner, akhirnya berhasil punya 2 anak, sedangkan penulis buku satunya tidak. Jadi, hasilnya terlihat lebih nyata untuk buku yang ini.


Membaca buku ini akan membawamu menuju aura yang serius. Begitu seriusnya tentang sel telurmu, umurmu, gaya hidupmu, pola makanmu, dan lain-lain. Ada aura cemas, sedih, harapan, sekaligus motivasi untuk segera bertindak di dalamnya. Dia khawatir dan seolah memaksamu untuk ikut khawatir, bukalah matamu bahwa ini itu serius dan danger banget, apa yang kamu tunggu.


Kalau kamu termasuk orang mentok-an, yang pasrahan mo punya anak syukur nggak punya ya udah, kan punya anak atau tidak itu di tangan Tuhan; kamu mungkin ga cocok dengan pemahaman dan pola pikir penulis buku ini.


Penulis buku ini itu fight sampai akhir, bahkan menjadikan urusan anak ini sebagai prioritas. Dia rajin membaca jurnal-jurnal dan segala referensi yang terpercaya bahkan hingga mungkin ribuan: memilah, membaca, menelaah, dan menerapkannya. Dia juga mendatangi atau berkonsultasi dengan para ahli di bidangnya. Dan sepertinya dia melakukan apa pun hal positif yang diperlukan yang bisa mendukung dia untuk memiliki keturunan.


Membaca buku "How to Improve Egg Quality" ini akan memberimu definisi dari hemat waktu dan biaya, belajar ribuan tahun dan ribuan hal dalam sehari karena kamu tinggal membaca dan mempraktekkannya dari buku yang sangat bergizi dan kaya ini. Penulis sudah memudahkan kamu banget dengan tips-tips strategiknya yang sangat terencana dan terukur, tidak random apalagi gambling. Dia membawa sisi saintifik yang kental di sini. Kamu akan mendapatkan 2 manfaat sekaligus di dalamnya, mengingat dia adalah seorang ahli biologi molekuler dengan spesialisasi pemahaman sel-sel manusia yang haus banget akan ilmu. Gigih banget orangnya sampai serius baca jurnal-jurnal yang bejibun itu dan memilah mana yang esensial banget untuk dipraktekkan. Di samping itu, tentu saja karena dia juga seorang wanita yang saat itu berusia 35 tahun ke atas dan sangat menantikan kehadiran Si Buah Hati.


Buku ini sangaaaat ilmiah. Meskipun penulis sudah berusaha menyederhanakan bahasanya tetapi masih terasa berat. Gaya menulisnya masih khas orang-orang yang mungkin lulusan S2 atau S3 yang biasanya masih kaku banget seperti buku-buku kuliahan. Mungkin agak susah kalau pembacanya itu tingkat pendidikannya kurang. Wong yang pendidikan tinggi pun kalau bukan bidangnya juga mungkin akan kesulitan. Tapi bisa aja sih, mungkin pembaca nggak perlu terlalu memahami ini itunya, yang penting ikuti aja langkahnya. Langsung aja cari misal suplemen ini atau tes itu dan semacamnya. 


Isi buku ini sangat strategik, langsung ke poin-poinnya, nggak random seperti aturan untuk sering-sering "berhubungan" dengan suami atau semacamnya. Banyak hal di dalamnya itu terukur, ada angka-angkanya, yang mungkin bisa membantumu memprediksi dan mengukurnya dengan baik, sekaligus mungkin bisa membuatmu pusing atau bosan. Tapi kalau kamu niat banget hamil, gitu doang mah kecil lah ya. Ga ngefek dibandingkan dengan tekad besarmu. 


Intinya, buku ini itu bagus dan sudah terbukti, setidaknya pada penulisnya sendiri. Punya 2 anak lho. Kalau 1 mungkin kebetulan, kalau 2 berarti kan sudah lebih meyakinkan. Dan ini itu tentang punya anak secara alami. Catet. Alami lho. Recommended banget, kan? 

08 Oktober 2021

Review Buku "The 100 Simple Secrets of Happy People"

 


Aku menggambarkan buku "The 100 Simple Secrets of Happy People" karya David Niven ini sebagai buku yang kriuk dan sangat renyaaah dibaca. Padahal, ini sangat ilmiah lho. Isinya merupakan kesimpulan atau rangkuman dari riset-riset ilmiah. Tapi bacanya itu ringan seringan-ringannya, kayak kerupuk. Ups. Bacanya itu kamu bisa meluncuur dengan halus dari awal sampai akhir dengan tingkat ke-kepo-an dan ketertarikan yang tetap maksimal plus nggak bikin dahi berkerut.

Dia merupakan gambaran sosok ilmuwan idamanku. Nggak seperti "orang-orang pintar" kebanyakan yang suka bicara ndakik-ndakik atau dengan bahasa rumit di kolom opini koran dan semacamnya, yang kalo orang nggak paham dia merasa lebih wah gitu (lebih merasa kamu bodoh dan saya pandai). Atau seperti yang dikatakan Deborah Tannen dalam bukunya "Kamu Memang Nggak Bakal Ngerti", bahwa cowok-cowok itu lebih suka pake bahasa yang "super", biar kelihatan lebih canggih dan smart gitu, David Niven ini bener-bener beda gitu. Kayaknya dalam hal ini dia itu aku banget.


David nggak ujug-ujug (tiba-tiba) seperti itu. Dia terinspirasi dari Harry Gilman, seorang profesor psikologi yang anti mainstream. Harry Gilman ini juga pemikirannya sepertiku, dia memandang apa gunanya kalau hasil-hasil riset itu berputar di kampus saja atau di antara sesama profesor. Jadi, dia itu membuat ilmu pengetahuan yang diketahuinya itu bisa tersebar luas di masyarakat. Di sini dia sadar, dia tidak bisa mengubah orang lain. Jadi, dia hanya menunjukkan dan berharap orang lain bisa melihat apa yang dilihatnya (dilihat oleh Harry Gilman).

Buku ini super duper oke sekali. Isinya penting, cara menyampaikannya sederhana dan menarik, praktis, trus lay out-nya itu meskipun sederhana itu mendukung banget buku ini jadi semakin enak dibaca. Nggak ada gambar-gambar, ini murni tulisan, tetapi kombinasi antara pengaturan spasi, margin, ukuran dan jenis font, dan hal-hal semacam itu bikin buku ini enak dibaca. Seolah memang sudah disesuaikan dengan tingkat fokus seseorang, jarak pandang mata, dsb.

Wis pokoknya uenak pol, lancar jaya bacanya. Apalagi 100 rahasianya ini adalah hal-hal sederhana, yang satu, beberapa, atau bahkan seluruhnya itu bisa langsung dicoba atau dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Buku ini itu ada gandengannya, aku nggak ngamati penulisnya sama apa nggak. Tapi kalo buku yang ini aja udah sebagus ini, mungkin bisa lah ya baca gandengannya juga "100 Simple Secrets of (apa lainnya - ada beberapa)."


07 Oktober 2021

Review Buku "The One Way Relationship"

 


Entah berapa banyak ahli, buku, atau penulis yang telah membahas bahwa narsisme dan orang-orang narsis serta NPD sudah meningkat pesat pertumbuhannya. Buku "The One Way Relationship" karya Neil J. Lavender dan Alan Cavaiola ini salah satunya. Narsis ini banyak sekali di masyarakat dan tidak semua orang mengenalinya. 


Kalau kamu terlibat dalam hubungan dengan narsis, kamu telah terjebak dalam hubungan satu arah. Dan kalau kamu tak mengenalinya, apalagi tak mampu mengatasinya, mereka bisa sangat menyusahkanmu, bahkan bikin sial.


Narsis ada di mana-mana dan bisa menjelma sebagai temanmu, teman kerjamu, sahabatmu, pasanganmu, bahkan keluargamu.


Aku sudah baca banyak banget buku tentang narsis dan semacamnya, dan aku bisa bilang, buku "The One Way Relationship" ini adalah salah satu buku terbaik tentang narsis/abuse (kekerasan) yang pernah kubaca.

Cara menulisnya itu sistematis, jernih, santun, sederhana, praktis, solutif, dan pokoknya beda dengan kebanyakan buku serupa yang pernah kubaca. Seperti punya gabungan antara keahlian bidang narsis itu sendiri dan keahlian menulis serta kehati-hatian dan empati atau kepedulian terhadap pembaca bukunya atau bahkan survivor/korban dari narsis/abuse. 


Beberapa buku lain tentang tema ini itu isinya gitu-gitu aja. Agak useless dibaca buat kamu yang nyari pencerahan atau solusi buat masalahmu karena mungkin kamu sudah tahu satu, beberapa hal, atau bahkan seluruh isinya dari buku lain. Sementara buku ini punya sesuatu yang baru. 


Gaya bahasanya itu terutama, santun banget gitu, Insya Allah tidak akan menyakiti hatimu. Terutama kalau kamu survivor/korban narsis/abuse beneran, kamu mungkin sensi dan udah jenuh dengan kekasaran. Buku ini bahasanya sangat aman dan nyaman bagimu.


Gitu banget ya aku mujinya? Ya emang bagus kok menurutku.


Buat kamu yang terlalu lugu, yang bucin-an, yang over positif thinking, yang mengalami hubungan satu arah, mengalami hubungan yang bikin capek deh, sedang bersama orang sulit, atau mungkin seorang survivor, baca deh buku ini. Insya Allah bermanfaat.


Dari semuanya, yang paling kusuka dari buku ini adalah kesantunan bahasanya. Masya Allah top banget. Tapi isinya juga bagus sih.

Udah ah kelamaan, baca sendiri aja.



Review Buku "Date Scene Investigation"

 


Dari sekian banyak buku yang kubaca, cover buku "Date Scene Investigation" karya Ian Kerner ini termasuk salah satu yang sangat menarik. Daya pikat utamanya bagiku adalah covernya yang langsung memuat poin-poinnya. Sekali lihat itu langsung bikin kepo. Judulnya juga menarik sih, tapi aku gak terlalu paham sih. Agak aneh gitu buatku. Feeling strange.

Oke, singkat kata aku jadi baca deh bukunya. Konsepnya sebenarnya kreatif ya, dari judul, cover, maupun cara mengemas isinya. Disusun ala-ala detektif atau FBI gitu lho.

Ada 10 kasus asmara di sini yang sekaligus mewakili 10 topik yang berbeda. Penulis berperan layaknya detektif dengan merunut sifat dan sejarah dari individu yang berpasangan tersebut, bagaimana progress-nya, dsb sampai bagaimana cara dia mengambil kesimpulan plus bagaimana ending-nya. Ada pasangan yang akhirnya bisa membaik hubungannya dan ada yang tidak. Ini lebih ke studi kasus dan bagaimana kamu belajar dari pengalaman/kesalahan orang lain. 

Aku pribadi kurang enjoy bacanya, ga tau kalo orang lain. 


06 Oktober 2021

Mungkin Kamu Belum Tahu

Mungkin kamu belum tahu, banyak hal di dunia ini bersifat 2 arah atau lebih, bisa didekati dari berbagai sisi, atau bersifat saling mempengaruhi.

Misalnya ada seseorang yang stroke karena gangguan pada otaknya. Dari sini otak yang rusak/terganggu menyebabkan gangguan pada bagian tubuh lainnya, kan? Nah, di situ proses pemulihannya bisa dibalik, anggota tubuhnya dipulihkan sehingga menunjang pemulihan otaknya.

Pada berbagai buku yang berhubungan dengan mind, body, and soul juga gitu. Pendekatan mind dapat memperbaiki body and soul, juga sebaliknya.

Kamu mungkin juga pernah baca, kalau lagi stres orang itu cenderung makan makanan dengan rasa apa atau jenis apa. Sebaliknya, kalau kamu salah makan kamu juga bisa stres atau mengalami mood tertentu dan gangguan kesehatan tertentu.

Kalau kamu stres kamu bisa sakit. Sebaliknya, kalau kamu sakit kamu juga bisa stres.

Di dunia kesehatan itu ada banyak pendekatan. Ada yang melalui pendekatan otot, ada yang getah bening, ada yang gusi/mulut, ada yang telinga, ada yang enzim, ada yang hormon, dsb. Mungkin ada gangguan yang spesifik lebih cocok dengan pendekatan jenis tertentu, tetapi pada yang lain perbaikan pada yang satu akan mendukung perbaikan pada yang lain. 

Begitupun ketika ada orang divonis komplikasi, kelihatannya serem ya karena gangguan pada bagian tubuh yang satu menyebabkan gangguan pada beberapa bagian tubuh yang lain, tetapi saya menduga/saya yakin hal itu juga berarti kebalikannya. Karena tubuh itu merupakan suatu sistem, pemulihannya juga bisa dari pendekatan mana saja. Kamu perbaiki saja salah satu bagian yang berhubungan dengan komplikasi tadi, maka bagian lain juga akan membaik.

Trus aku juga mo ngomongin soal gen yang selama ini masih simpang siur di masyarakat. Sama aja. Jadi, makananmu bisa mempengaruhi gen, gen juga bisa mempengaruhi apa yang kamu makan. Pikiran atau keyakinan atau kebiasaanmu bisa mempengaruhi gen/ekspresi gen, begitupun sebaliknya.

Trus ada juga nih cowok pura-pura jadi cewek, akhirnya karakternya terpengaruh. Cewek juga ada yang gitu, malah dibikin buku seingatku. Cewek ini nyamar jadi cowok lalu akhirnya mengalami gangguan kepribadian atau apa ya istilahnya, ya pokoknya gitu deh. Itu kenapa kamu melakukan sesuatu, memakai sesuatu, atau berpikir sesuai dengan gender-mu. 

Makanya wanita ga boleh menyerupai laki-laki, begitupun sebaliknya.

Dalam ranah yang lebih luas, saya juga berpikir larangan untuk menyerupai suatu kaum karena yang menyerupai akan termasuk golongannya itu sedikit banyak juga bisa berhubungan dengan ini, meskipun tidak sepenuhnya.

Saya juga pernah baca di sebuah tabloid, para artis stres ketika disuruh berperan misalnya jadi pemarah. Terpengaruh perannya. Jadi error gitu deh.

Pokoknya banyak contoh pendekatan 2 arah atau lebih yang seperti itu.

Saya tutup aja tulisan ini dengan sebuah buku yang juga masih berhubungan banget dengan ini, judulnya "Lupakan berpikir positif, saatnya bertindak positif." 

Di situ, penulisnya menunjukkan pendekatan yang berbeda dari pendekatan yang marak sebelumnya. Langsung aja bertindak positif, maka akan terjadi perubahan positif. 

So, ada banyak jalan menuju Roma. Kamu bisa milih, kamu juga harus hati-hati karena ada banyak hal yang saling mempengaruhi atau bersifat imbal balik seperti itu. 


 

05 Oktober 2021

Review Buku "How to Avoid Falling in Love with A Jerk"




Jerk itu musuh banget buat para jomblo. Meskipun, yang nggak jomblo juga nggak aman juga darinya. Jadi, buku "How to Avoid Falling In Love With A Jerk" karya John Van Epp ini penting banget untuk dibaca.

Lihat deh dari judul dan covernya aja udah menarik. Dan wuih kamu akan ketemu hal yang lebih menarik lagi begitu udah baca isinya.

Isinya apa tho? 

Isinya itu cara-cara logis dan terencana untuk mendapatkan jodoh idamanmu. Dimulai dengan pengertian JERK itu sendiri sampai dengan step by step yang harus kamu lakukan untuk menghindari jerk ini.

Aku pribadi bukan termasuk orang yang gambling/random dalam mencari jodoh atau penganut paham "Siapapun yang melamar duluan adalah jodohku." 

Meski demikian, buku detail ini nggak mudah untuk diterapkan. Butuh effort banget.

Membaca buku ini kamu akan diajari mengenai apa saja faktor yang berpengaruh dalam menemukan soulmate-mu, apa faktor yang bisa membingungkanmu, macam-macam jerk, bagaimana step by step caramu menerapkan isi buku ini sekaligus cara mengevaluasinya.

Ada lho orang yang aslinya nggak jerk tapi kemudian menjadi jerk. Ada jerk yang diniati dan ada yang tidak. Ada pula jerk yang nggak akan kelihatan sampai waktu/momen tertentu tiba. Nah, lo, bahaya banget kan.

Oh ya, ada poin dalam buku ini yang kugarisbawahi banget, yaitu tentang kohabitasi/kumpul kebo dan s*ks sebelum menikah. Di sini dijelaskan statistiknya, bahaya dan kerugiannya, serta sisi-sisi logis/rasionalnya kenapa hal itu buruk baik saat sebelum menikah maupun sesudah menikah. 

Aku suka sih dengan isi buku ini, terutama dalam step by step planningnya, tapi aku nggak sepenuhnya menyukai isinya. Ada yang nggak cocok dengan diriku/pemikiranku.

Bukunya sangat ilmiah ya, jadi daging banget. Tapi tenang, dikemas populer kok.

Buat kamu yang sedang cari jodoh terutama, aku sangat merekomendasikan buku ini, biar kamu nyarinya pake otak juga, ga cuma pake hati. Karena, modal cinta doang itu nggak cukup.