17 Mei 2021

Waspada, Mental Pengemis Semakin Membudaya

 

Hidup tak selamanya indah, pun tak semua orang bisa sukses di dalamnya. Sebagian orang masih berusaha bekerja, tetapi sayang sebagian sisanya bermental peminta-minta. 

Ya, sudah bukan rahasia kalau tak semua pengemis memang tak berpunya. Ada yang memang bermental demikian, memang pekerjaannya. Bahkan, sederet nama pengemis sudah tak tanggung-tanggung lagi kekayaannya, sudah menjadi miliuner atau bahkan triliuner.

Aku terkejut mendengar kisah seorang tamuku waktu silaturahmi hari raya Idul Fitri kemarin. Momen unjung-unjung berubah menjadi horor. Dia jadi takut membuka pintu rumahnya karena anak-anak kecil pengharap uang saku hari raya naudzubillah jumlahnya. Ada 50 lebih, tak dikenal, dan kalau dibiarkan masih akan menambah pasukannya entah menggemuk menjadi berapa.

Di sekitarku sendiri tahun lalu ada, tetapi tidak seheboh itu. Bahkan, anak Kristen pun ikut, seolah meminta "jatah".

Masih tentang mental pengemis, dia pun bercerita tentang pengemis-pengemis yang membludak jumlahnya di pemakaman-pemakaman di seputar Ramadhan atau hari raya Idul Fitri. Dan mereka pun memaksa agar semuanya diberi dan sama rata.

Seketika aku teringat pengalamanku sendiri beberapa tahun lalu saat belajar mengaji di Masjid Al Falah Surabaya. Mengerikan, pengemisnya bejibun, menyambut para jamaah yang keluar masuk di sana, sambil memaksa. 

Aku tak yakin kalau semua pengemis di segala tempat tadi benar-benar tak berpunya. Mental-mental pengemis seperti ini sangat memalukan dan harus dibasmi, jangan sampai mencoreng Islam. Padahal, Islam sendiri menyukai orang yang mampu memelihara diri dari meminta-minta.

Akan tetapi, mengapa mental-mental pengemis ini masih subur saja dan ikut menjadi budaya tahunan di negara kita?


11 Mei 2021

Cara Membedakan Kapsul Buah Makassar Asli dan Palsu

Kamu pengguna kapsul Buah Makassar? Sudah tahu belum kalau ada yang palsu? Bisa nggak kamu membedakannya?

Nah, kapan hari aku kan beli di tempat baru karena di tempat biasa habis dan sudah lama tidak berjualan. Aku gambling nih ceritanya karena harga di tempat baru murah banget, apalagi online, aku nggak tahu ori nggaknya. Tapi ibu sempat bilang gpp, kalo nggak ori ya nggak diminum atau dibuat percobaan aja dan dihentikan kalau nggak cocok. Akhirnya beli deh.

Entah intuisi, blink, atau apa namanya, waktu produknya benar-benar datang, kami merasa ada yang janggal. Sepintas aku merasa penampakannya kok lebih burem dan beda pegangannya.

Ternyata ibu pun merasakan hal yang sama. Bedanya, ibu merasa isinya cuma sedikit.

Lalu ibu membandingkan dengan produk dari toko yang biasa dibeli karena stoknya sudah ada lagi, dan benar feeling kami.

Aku nggak tahu apa itu namanya intuisi karena feeling itu ada karena ada pembandingnya. Kami sudah pernah mengindera produk sebelumnya.

Oke, langsung saja ya ini bedanya:


Buah Makassar asli/original:

1. Ukurannya lebih kecil, pxlxt = 6,5 cm x 6 cm x 6,5 cm,



2. Hologram perekat tutup atas dan depannya ada tulisan "ORIGINAL"-nya (besar) dan "ASLI" (kecil)



3. Pada seluruh sisi kemasan/dusnya itu penuh dengan hologram bertuliskan "ORIGINAL"

4. Sachet di dalamnya juga full hologram bertuliskan "ORIGINAL"



5. Kapsulnya berwarna merah dan putih





6. Cara menulis expired date-nya seperti ini:



7. Warna dusnya lebih gelap

8. Harganya jauh lebih mahal


Sekarang yang palsu ya:

1. Ukurannya lebih besar, pxlxt = 7,5cm x 6,5cm x 7cm



2. Hologram perekat tutup atas dan depannya ada tulisan "AM" (besar) dan "ASLI" (kecil)




3. Pada seluruh sisi dusnya tidak ada hologramnya

4. Sachet di dalamnya tidak ada hologramnya, tapi ada tulisan "original"-nya.




5. Kapsulnya berwarna merah dan putih (sama)


6. Cara menulis expired date-nya seperti ini:



7. Warna dusnya lebih terang


8. Harganya jauh lebih murah (tapi nggak jaminan ya, bisa aja dimahalin kalo mau)


Nah, itu ya bedanya. Hati-hati, kita beli kan ingin sehat, jangan sampai malah jadi sakit.

09 Mei 2021

Review Buku "The Luck Factor"

 


Orang beruntung dan orang sial. Benarkah ada orang yang bawaannya sering beruntung atau sering sial?

Sepertinya hidup tidak adil ya kalau ada yang semacam itu. Richard Wiseman, seorang psikolog yang memang tertarik dengan hal-hal yang unik/di luar bidang yang disukai psikolog lain pun penasaran untuk menelitinya.

Ternyata, memang ada penyebabnya mengapa beberapa orang tampak lebih beruntung sementara yang lainnya tidak. 

Buku ini diawali dengan tes untuk mengukur poin keberuntunganmu. Kalau poinmu rendah kemungkinan besar kamu akan sering sial, tetapi jangan khawatir karena di sana disediakan pula solusinya. Kamu hanya perlu mengikuti saran tersebut dan rajin melatih serta menerapkannya.

Menariknya lagi, buku ini seakan seperti rangkuman konsep keberuntungan dalam menerapkan perintah-perintah dan larangan-larangan dalam agama Islam jika kamu ingin mendapatkan penjelasannya secara ilmiah. Meski terdapat di dalam agama Islam, konsep ini berlaku secara umum/universal sehingga siapapun yang menerapkannya bisa beruntung di dunia. Sementara untuk di akhirat, sebenarnya prinsipnya sama, cuma ada beberapa aturan tambahannya.

Di antara hal-hal yang mungkin masuk ke dalam bahasan buku ini misalnya kepercayaan pada ramalan, berjudi, larangan sedih berlebihan ketika orang yang disayangi meninggal, konsep "jiwa yang tenang", dan masih banyak lagi kalau kamu punya input agama banyak dan kemampuan untuk mengintegrasikan mereka dengan isi buku ini. Banyak yang masuk/tercakup. Aku hanya menuliskan contoh yang agak implisit, contoh yang eksplisit mungkin kamu sudah bisa menemukan sendiri.

Buku ini adalah buku Richard Wiseman ke tiga yang kubaca. Pertama, "59 detik", buku ini sangat excellent bagiku, bagus banget dan berkesan banget. Buku ke duanya adalah "Lupakan Berpikir Positif, Saatnya Bertindak Positif" (aku lupa judul pastinya). Buku ke dua ini pun tak kalah bagusnya. Jadi, aku penasaran dengan buku-bukunya yang lain, sampailah aku pada buku ke tiganya ini, "The Luck Factor". Setelah membaca 3 bukunya yang bagus semua, kiranya aku bisa menyimpulkan bahwa nama Richard Wiseman adalah jaminan mutu. Karya-karyanya pasti bagus. 

Buku-bukunya sangat menarik dan ilmiah, tetapi cara penulisannya cukup luwes dan bergaya populer. Khusus untuk para penulis yang ingin mengubah karya ilmiahnya ke dalam bentuk buku, boleh banget lah ya ngintip cara Richard menulis/menyusun buku ini.

08 Mei 2021

Review Buku "How to Live With A Huge Penis"

 


Pertama ketemu judul buku ini aku kaget. Betapa tidak, biasanya cowok-cowok itu kalau nggak insecure masalah ukuran yang kekecilan ya sebaliknya bangga banget atau bahkan sampai ekshibisionis kalau merasa ukuran "organ pribadi"-nya itu gede.

Mungkin keyakinan itu berawal dari film p*rno atau asumsi mereka sendiri kalau cewek itu suka cowok dengan anu besar, semakin besar semakin disukai/semakin memuaskan, dan semacamnya. 

Aku lebih kaget lagi setelah baca isi buku ini, betapa menderita atau tersiksanya pemilik huge p*nis/OMG (Oversize Male Genitalia) dan pasangannya ini. Bisa sih berhubungan s*ksual tetapi berbeda, perlu perlakuan khusus. Tapi deritanya nggak cuma itu, ngenes pokoknya, melas banget. Baca ini mungkin akan bikin kamu terbawa perasaan.

Nah, berapa panjang dan diameter p*nis saat er*ksi yang digolongkan ke dalam OMG, seberapa menderita mereka, apa saja penderitaan mereka dan pasangannya, bagaimana cara mengatasi atau meminimalkan penderitaan psikologis dan fisik mereka dan pasangannya sehingga mereka bisa hidup "normal"/lebih baik, beberapa sisi menguntungkan dari memiliki p*nis raksasa, dan sejarah orang-orang terkenal yang memiliki masalah serupa dibahas di dalam buku ini. Kamu juga mungkin kepo kan ada nggak versi cewek yang menderita OMG? 

Hhmm, mulai sekarang kamu harus unlearning ya, nggak perlu gede-gedean "itu" lagi. Ukuran biasa aja gpp. Etapi ukuran biasa itu seberapa? Nah, untuk skala-skala ukuran panjang dan diameter p*nis saat er*ksi, mulai dari yang mikro (mikrop*nis), rata-rata, sampai yang OMG juga disertakan di dalam buku ini. Cari dong bukunya biar kamu tahu termasuk kelompok yang mana.

Membacanya mungkin akan membuatmu lebih ramah dan empati kepada para pemilik/penderita OMG sekaligus bikin kamu nggak obsesi lagi untuk besar-besaran "burung". Mensyukuri milik sendiri dan nggak kepo dengan milik "tetangga" sampai harus megang atau ngintip "punya mereka". 

Sepanjang alat k*laminmu bisa berfungsi dengan baik ya udah, nggak usah ribet banding-bandingin ukurannya.

Review Buku "Tribe of Mentors: Short Life Advice from the Best in the World"

 



Huft. Ini judulnya short life advice tapi nggak short sama sekali. Halamannya buanyak, 641 halaman. So, ini tebel banget. Yang short itu saran-saran dari para ahli di dalamnya. Ya aslinya ada yang short dan ada yang long, tapi setidaknya satu orang ahli nggak sebuku juga sarannya. Masih termasuk pendek.

Ini penulisnya, Timothy Ferriss, niat banget nulisnya, sampai menginterview 131 orang yang sukses di bidangnya masing-masing (kalau aku nggak salah hitung).

Ada 11 pertanyaan umum yang diajukan, tetapi nggak semua responden tadi mendapat rata sebelas-sebelasnya. Pertanyaannya bagus-bagus. Aku jadi ingat waktu baca buku "Resep Cepat Kaya", salah satu resepnya adalah "Ajukan pertanyaan yang lebih baik". Kalau nanyanya salah, jawabannya juga salah atau gak mengena. 

Nah, pada buku "The Magic Question" itu ada contoh pertanyaan-pertanyaan bagus tetapi ditujukan untuk diri sendiri. Kalau di buku "Tribe of Mentors" ini adalah contoh pertanyaan-pertanyaan bagus yang ditujukan untuk orang lain. 

Aku nggak telaten baca setebel itu semuanya. Jadi, aku terutama lebih menyoroti jawaban dari pertanyaan "Rekomendasi buruk apa yang kamu dengar di profesimu atau area keahlianmu". Itu yang kubaca dari awal sampai akhir. 

Dari situ aku mendapat beberapa pemahaman baru tentang cara menyaring saran, quotes, dan lain-lain yang mana yang sekiranya benar atau bisa kuikuti dan mana yang tidak.

Kadang-kadang aku juga membaca jawaban dari 2 pertanyaan lain, yaitu saran untuk mahasiswa dan saran saat kita kewalahan/kehilangan fokus.

Buku ini kaya. Kamu bisa dapat banyak jawaban berharga dari 131 ahli sekaligus yang sukses di bidang masing-masing. Cara penyusunannya biasa, yaitu ahli 1 ditanyai lalu di bawahnya langsung ada jawabannya, lalu ahli 2, dst, tidak diolah. Jadi, langsung hasil dari tanya-jawab/wawancara itu yang ditulis.

Memang sih halamannya banyak banget, tapi sebenarnya bacanya bisa dicicil kok, atau bisa langsung kepoin jawaban dari ahli mana yang kamu tuju.

Layak dibaca.

07 Mei 2021

Review Buku "The Science Behind Long-Lasting Marriage"

 



"The Science Behind Long-Lasting Marriage" ini adalah snack book, yang snack banget, alias halamannya sedikit. 

Meski demikian, isinya mampu meng-capture atau memuat hal-hal penting yang membuat pernikahan itu bisa tahan lama/langgeng dan bahagia.

Aku nggak bisa mengatakan isinya baru karena aku sendiri sudah mempelajari dari banyak sumber sebelumnya, tetapi sebagai manusia kan aku sering lupa dan terdistraksi/kehilangan fokus gitu ya, jadi dengan menjejalkan diri dengan info-info serupa seringkali bisa menjadi pengingat diri, oh aku harus fokus lagi dengan poin-poin penting yang itu, gitu. Nah, saat membaca buku ini aku membuat beberapa catatan dan ada yang relate banget denganku tetapi sempat kulupakan/kuabaikan dan aku jadi ingat lagi.

Buat kamu yang mungkin jarang atau nggak pernah baca buku serupa (tentang relationship/pernikahan) atau nggak pernah mendapatkan informasi semacam itu dari sumber lain, buku ini termasuk cukup baik dalam menyarikan faktor-faktor utamanya saja. Pada beberapa halaman sih ada beberapa bagian yang seperti diulang-ulang terus, maksudnya sebagai penguatan/penekanan, tetapi bagiku bikin sedikit kurang nyaman, bosan, dan bertele-tele. Lalu, meski judulnya science, kayaknya sisi science-nya kurang kuat deh.

Tapi secara keseluruhan buku ini bagus. Orang kan banyak yang masih bingung apa sih faktor utama yang harus dicari dari calon pasangan dan apa yang bikin rumah tangga langgeng dan bahagia, nah itu dibahas di sini.

Poin terbaik dari buku ini bagiku adalah buku ini ditulis secara berimbang alias fair/adil, bijak gitu. Dia netral, tidak ditulis untuk gender tertentu dan tidak berupa tuntutan, tetapi lebih ke refleksi diri/refleksi bersama. Banyaaaak banget buku pernikahan itu yang bacanya aja itu bikin mbencekno, yang berat sebelah lah, nyalah-nyalahin satu pihak lah, nggak ngertiin cewek/istri lah, dll yang umumnya pro cowok/suami. Jadi, ini beda. 


06 Mei 2021

Review Buku "Confident You: An Introvert's Guide to Success in Life and Business"

 


Di dunia yang didominasi ekstrovert dan tampak lebih menguntungkan bagi ekstrovert, para introvert memiliki tantangan-tantangan tersendiri agar bisa beradaptasi dan sukses di dalamnya.

Tak jarang label-label buruk disematkan pada introvert karena kepribadian introversinya, mulai dari bodoh, tidak care/apatis/cuek, sampai dengan tidak normal harus diterimanya.

Saya pribadi bahkan pernah beberapa kali menemui gangguan mental kerap ditujukan pada pribadi-pribadi yang introvert, termasuk dianggap antisosial.

Akan tetapi, beberapa situasi kerja/bisnis memang membutuhkan introvert untuk sesekali lebih sosial. Nah, tantangan-tantangan semacam itulah yang kemudian dibahas di dalam buku ini sekaligus diberi solusinya. Total ada 15 tantangan yang diulas di sini dan menurut saya itu cukup membantu bagi para introvert untuk meniru atau mengadopsi caranya.

Buku ini dibuka dengan pemahaman tentang introversi dan bahwa orang introvert itu tidak satu jenis/seragam, tetapi bermacam-macam. Penulis mengikuti MBTI jadi ada 8 jenis kepribadian introvert. 

Intinya para introvert itu harus mengenali dirinya sebaik mungkin, dia termasuk MBTI mana kemudian kelebihan dan kekurangannya apa, dan apa hal yang paling menantang baginya serta solusinya.

Buku ini ditulis oleh 2 introvert yang menurut MBTI beda jenis introvertnya. Isinya singkat dan to the point, cocok buat kamu yang nggak suka bacaan bertele-tele sekaligus mungkin bisa cepat kamu praktekkan biar bisa cepat juga dapat manfaatnya.


05 Mei 2021

Review Buku "In Sheep's Clothing"


Buku ini bagus dan best seller. Kalau kamu biasa baca buku tentang narsis, psikopat, abuse, manipulasi, dan semacamnya, kamu mungkin menemukan banyak buku yang nggak peduliin beda narsis, psikopat, dsb, yang penting ditunjukkan gejala umum orang yang berbahaya itu seperti apa. Penyederhanaan semacam itu bisa merupakan keuntungan dan bisa juga tidak. Buat kamu yang pengen tahu lebih detail beda pastinya, disampaikan dengan cara sederhana dan nggak kayak buku kuliahan banget, buku "In Sheep's Clothing" ini cocok buat kamu, tetapi kamu perlu bikin oret-oretan/catatan biar lebih paham karena itu nggak berbentuk bullet/poin, tetapi paragraf-paragraf.

Kemampuan penulisnya dalam membedakan masing-masing golongan toksik atau mental disorder tadi menurutku cukup menjadi bukti nyata kepakarannya. Dia bisa menyampaikan perbedaan-perbedaan tersebut secara sederhana, nggak pakai DSM dan semacamnya. Kamu nggak perlu mengingat sebanyak itu yang ruwet banget.

Contoh kasus ada, begitupun dengan solusi. Namun, aku tidak tahu apakah solusi-solusinya itu cukup aplikatif untuk mengatasi masalah manipulasi ini atau lebih sekadar teori tetapi susah dipraktekkan atau tidak tahu akan sukses atau tidak untuk dipraktekkan.

Tetap butuh keberanian dan hal-hal lainnya agar berhasil. 

Untuk cara penulisan maupun strukturnya aku lebih suka "The Emotionally Absent Mother" , sedangkan yang lebih enak dan lebih jelas lagi penjelasannya itu aku suka buku semacam "Why Does He Do That", di situ penulisnya seperti sangat logis dan sangat memahami manipulasi/abuse yang terjadi. Semacam detektif gitu, jadi pembacanya itu bisa dapat clear sekaligus clarity.

Overall, bagus. Silakan dibaca. Cocok jadi teman untuk dibaca dengan buku "Why Does He Do That" dan "Manipulation (karya Sarah Nielsen)".