07 Februari 2021

Membongkar Mitos tentang Ego Pria

 


Aku jengah. Di mana-mana pria menginginkan ketundukan total wanita, dengan alasan pria itu pemimpin bagi wanita.

Mereka menghendaki para wanita menjadi keset se-keset-kesetnya, dengan alasan/dalih ego.

Pria terkenal sebagai makhluk egois dan dimaklumi untuk menjadi demikian. Kamu harus nurut, Wanita, cz kamu bawahan, cz itu alamiahnya pria, dll yang bullshit banget.


Di mana-mana juga, ceramah-ceramah dan ajaran-ajaran tentang cinta dari coach-coach cinta banyak mengajarkan untuk mengelus ego pria, membesar-besarkan ego mereka, dan semacamnya.

Kamu harus menyanjung mereka setinggi-tingginya, merendaaah banget, lembut dan hati-hati banget, dipikir banget, menyervis sebaik mungkin, sementara pria bisa berucap dan bertindak semaunya, seenak udelnya.

Aku mau nunjukin ke kamu kalau semua itu hanyalah mitos.

Mayoritas coach cinta berjenis kelamin pria, backgroundnya adalah BAD BOY, PLAYER, BAJUL, dan semacamnya.

Itu membuat ajarannya bias. Ajaran terbaik mereka mungkin adalah mengenali ciri-ciri orang seperti mereka dan tips untuk menghindarinya.








Mitos tentang Ego Pria


Apa yang kamu pahami sebagai ego dan alamiahnya pria itu sebenarnya adalah perilaku abusive.

Kamu bisa mempelajari lebih dalam tentang abuser/pelaku kekerasan ini di dalam buku "Why Does He Do That, inside the minds of angry and controlling men," karya Lundy Bancroft.

Kita sering diajarkan untuk merendaaah banget (baca: harus bersedia diinjak-injak atau dietrek-etrek) dan semakin prianya kasar atau berselingkuh, pasangan wanitanya yang semakin dicurigai plus disuruh menjadi semakin lembut, semakin baik servisnya, dll, yang sadar atau tidak nyalahin ceweknya pasti kasar, nggak baik, dan asal-asalan servisnya. 

Kita juga sering dicekoki kan dengan pemikiran, "Dia nggak mungkin gitu kalau kamu nggak mulai duluan." 

Well, abuser berbuat abuse adalah karena dirinya sendiri, bukan karena kamu.

Selain buku "Why Does He Do That" kamu juga bisa membaca buku karya penulis Indonesia, "Cassanova Syndrome". 


Berperilaku abusive itu memberikan banyak keuntungan bagi abuser. Enak sekali mereka sudah berbuat seenaknya tetapi malah diservis habis-habisan dan lebih maksimal. Ini adalah salah satu dari beberapa manfaat mereka menjadi abuser/melakukan tindakan abusive (baca keuntungan mereka selengkapnya di "Why Does He Do That" hal. 169-178).

Abuser ini tidak selalu tampak dari luar, malah sering-seringnya punya wajah ganda: di luar baik, tetapi saat bersamamu/orang-orang tertentu saja mereka menjadi abusive/horor. Jadi, ketika kamu cerita dia ngasarin kamu dan semacamnya, nggak ada yang percaya, kamu yang akan dibilang nggak baik, jahat, gila, nggak bersyukur, dll.

Kamu harus bisa membedakan antara pria (yang sehat dan baik) dengan yang abusive. Jangan melihat label-label atau casing saja. Abuser berkedok agamis/religius juga banyak.


Sering dengar habis tukaran/berkonflik disuruh nges*ks aja sebagai solusi? Kamu sudah kemakan taktik abuser ini.


Ada banyak mitos terkait pria abusive (angry and controlling men) ini, kamu bisa baca selengkapnya di buku "Why Does He Do That", tentu agar bisa menghindarinya dan tidak terjebak oleh manipulasi/akal-akalan pria tersebut, yang aslinya abuser. Jangan terlalu yakin kamu tahu tentang pria sebelum membaca buku ini.

Saat kamu hai cewek-cewek diajarkan untuk mengelus ego pria, mereka mungkin cuma "waras" sesaat, tetapi akan balik lagi, karena mereka "bukan pria", tetapi "ABUSER".

Malahan, mereka suka dan kayak ketagihan, sehingga abuse kamu lagi agar semakin dielus egonya.

So, lain kali kamu dengar masalah ego-egoan dari pria, kepatuhan, kepemimpinan (khusus ini harus hati2, ada bedanya), "laki kok", dan semacamnya, sebenarnya kamu sedang berhadapan dengan pria angry dan atau controlling. Waspada, dia "bukan pria", tetapi "ABUSER" berwajah pria.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.