26 Februari 2021

Fakta Mengerikan Ini Bikin Kamu Gak Bakal Memuja Bad Boy Lagi

Bad boy

Baca ini dijamin kamu langsung bergidik dan pensiun, tobat jadi pengagum dan penggila bad boy. Kamu tau nggak siapa yang kamu hadapi/kagumi itu? Horor tauk.

Udah jelas-jelas ada kata "BAD"-nya, kok kamu nggak nyadar-nyadar juga sih.

Sabar ya. Aku mo cerita yang lain dulu. Sejarahnya.

Aku mo cerita tentang sekolah dulu ya, alias dunia pendidikan kita. Kalo ortu pegel anaknya nakal maka akan diserahin ke sekolah. Seolah-olah sekolah itu tempat sulapan, bengkel reparasi ajaib, semua yang nakal-nakal atau berkasus wuzzz langsung sembuh begitu masuk "kotak ajaib" tersebut. Sebaliknya, pihak sekolah juga sering mengembalikan anak nakal pada ortunya. Ortunya sendiri walau "titip" anaknya ke sekolah dan nyadar anaknya nakal tapi tetep aja suka mengintervensi sekolah dan susah diajak kerja sama. 

Kita sering mendengar orang melakukan pembenaran, "Itu nggak nakal, tetapi banyak akal." Ada juga orang-orang lain yang menyalahgunakan, mentang-mentang sekolah sudah menjadi inklusi/harus mau menerima anak berkebutuhan khusus, mereka memasukkan anak yang mental illness/mental disorder, yang termasuk ke dalam kategori mental illness/mental disorder berbahaya.

Nah, lo, itu kan kebutuhan yang "amat sangat super khusus sekali". Harusnya dibawa ke terapis, bukan ke sekolah. CATET!

Kalau kamu pikir itu hanya yang tantrum-tantrum saja, kamu salah.

Aku bahas yang paling menyolok aja ya. Anak yang nakalnya tidak wajar. Buandel banget, suka membangkang, melanggar aturan, suka ngebut, dan kenakalan-kenakalan lain seringkali didiagnosa dengan antisocial personality disorder alias psikopat atau sosiopat. Dan ini adalah cikal bakal dari bad boy. Dengan kata lain dia "bad boy versi kecil".

Jadi, bad boy yang kamu puja-puja itu adalah psikopat. Psikopat itu tidak harus tentang bunuh-membunuh ya. Untuk ke-danger-an lebih lengkapnya, kamu cari tau sendiri aja ya. Pelajari lebih detail tentang psikopat.

Kalau kamu memilih bersama dengan bad boy, bersiaplah untuk kehidupan yang penuh drama, dan bahkan bahaya. Di dalam buku "How to spot a dangerous man before you get involved" disebutkan 8 kelompok besar pria berbahaya. Nah, bad boy yang notabene psikopat ini bisa masuk ke dalam beberapa atau mungkin hingga ke dalam 7  kelompok pria berbahaya tersebut sekaligus/paket kombo. Modar modar kamu. Akan tetapi, andai dia hanya masuk ke dalam 1 kelompok saja/psikopat saja, itu sudah danger banget. Apalagi, kalau kombo-kombo an. 

Bad-nya itu kan bisa kekerasan/abuse, pemberontakan, playboy, maniak s*ks, penguras hartamu, kecanduan miras/n*rkoba, dll. 

Soro kamu kalo sama dia. Kamu punya pasangan ingin bahagia kan? So, jangan pilih yang horor dong!

Kalian yang guru juga pasti sudah tahu kalo ada murid-murid yang anehnya banget2.

Ada murid yang kuduga demikian. Dia berkawan/saling membantu dengan sesamanya (sesama bad boy), dia ngincer bad girl dan good girl yang self esteem-nya rendah (untuk kasus murid tersebut), dia ikut balap liar, teman-temannya itu bad boy-bad boy yang minum miras, tapi dia juga ganteng, charming, lucu, dan punya daya tarik tinggi. Sempat temannya membocorkan kalau dia ini main game GTA. Aku baru tahu kalau pemain game itu berperan sebagai penjahat. Temannya cerita, game yang dimainkan adalah game tentang memukuli guru (dia yang berperan sebagai pemain yang memukuli guru).

Bayangkan!

Pada kasus lain ada anak yang suka memberontak, pemarah, berbohong (bahkan sampai berbohong ibunya meninggal dan kebohongan ganjil lainnya), dan tidur melulu. Aku curiga jangan-jangan dia pakai n*rkoba cz aku pernah kenalan sama pemakai g*nja yang (ngakunya) sudah tobat, dia dulu begitu. Katanya nggak ada gurunya yang tahu, cuma tidur aja gitu di kelas. Nggak ada yang curiga. Tapi aku kan nggak punya bukti ya dan mungkin aku malah dianggap aneh. Aku cuma menyimpan tanda tanya sendiri, tanpa bilang siapa-siapa. Baru dugaan ya, takutnya gitu, tapi belum tentu benar.

Ada banyak ya yang aneh. Intinya, sejak kecil seringkali sudah kelihatan. Bahkan, sering-seringnya ortunya juga "aneh"/mirip anaknya, tetapi nggak selalu.

Suatu hari murid-muridku yang SMP main sepak bola. Untuk ke kantor, aku harus melewati mereka. Nah, bolanya itu mengarah ke arahku. Menurut pengakuan murid SD-ku yang ikut klub sepak bola. Si penyepak itu seperti niat mengenaiku, untung adiknya murid SD-ku yang juga muridku dan juga ikut klub sepak bola, menelaknya. Ditendang sama dia yang waktu itu kelas 1 SD kalau nggak salah. Itu menurut dia. Aku woles aja. Masa iya sih? Aku mikirnya kebetulan aja alias nggak sengaja.

Aku jadi ingat juga kebiasaan aneh guru-guru tertentu, salah satunya adalah guruku dulu. Murid ternakal malah dijadikan ketua kelas. Itu danger banget, sangat berisiko.

Ada juga kebiasaan mencampur antara murid yang baik dan yang nakal. Itu juga bahaya, jadi penyakit/sangat mengganggu. Aslinya mereka itu tempatnya bukan di sekolah tetapi di klinik-klinik terapis kesehatan mental.

Sekarang kamu sudah tahu murid yang nakal banget itu psikopat. Kamu harus mewaspadai orang dekatnya juga, misal ortunya, walau nggak selalu. 

Dan kamu juga harus mewaspadai versi besarnya dia. Dialah bad boy yang dipuja-puja dan digilai banyak wanita. Dialah bad boy sang psikopat.


Dikutip dari buku 

"How to spot a dangerous man before you get involved"



Kenapa aku bikin artikel ini? Terutama karena di Youtube itu bad boy masih banyak dicari. Begitupun ketika aku melakukan survei kecil-kecilan, masih ada yang memilih bad boy. 





Selain itu, aku juga ingin membuka mata para guru, tentang siapa yang mereka hadapi di sekolah.

Psikopat ini termasuk personality disorder yang bersifat patologis. Jadi, hati-hati ya!



22 Februari 2021

Review Buku "Working On Yourself Doesn't Work"


Judul buku: 

Working On Yourself Doesn't Work, 3 Simple Ideas That Will Instantaneously Transform Your Life.

Penulis: Ariel & Shya Kane

Penerbit: Mc Graw Hill

Tahun: 2009

Jumlah hal.: 162 halaman


Membaca buku ini awalnya mengingatkanku pada Coach Reza, dokter sekaligus coach yang mengajarkan tentang hidup nyantai dan enak tetapi sukses. Coach Reza menentang segala yang berbau kerja keras, berjuang, dan hal-hal yang susah-susah semacam itu. Sama seperti buku ini, penulisnya menentang pendapat umum bahwa kita butuh keras terhadap diri sendiri untuk mengubah kondisi yang tidak diinginkan.

Sebaliknya, jika kamu tidak menghakimi dirimu untuk kebiasaan-kebiasaan burukmu, kamu tidak akan stagnan atau terlena di hidupmu.

Ariel dan Shya Kane telah menempuh proses yang panjang sebelum akhirnya sampai pada kesimpulan tersebut. Perjalanannya sungguh berliku dan menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan biaya. Pasangan tersebut sudah membaca banyak sekali buku, mengikuti banyak seminar dan pelatihan, mempraktekkan berbagai hal, bahkan sempat "meninggalkan keduniawian". Namun, mereka tetap tak menemukan arti kehidupan. Sementara itu, berbagai usahanya tadi telah menggerogoti kekayaan mereka dan membuat mereka berada di titik nyaris "tidak punya apa-apa". 

Saat kembali ke kehidupan normal untuk memperbaiki hidup, tiba-tiba momen "AHA" itu muncul. Mereka berdua merasa tercerahkan, dan perubahan itu terlihat serta terasa oleh teman-temannya, yang kemudian kepo bertanya apa rahasianya.

Lalu mereka pun mengajarinya. Ariel dan Shya Kane menerapkan 3 prinsip sehingga kehidupannya bisa tercerahkan. Penjabaran dari 3 prinsip itulah yang dimuat di dalam buku ini, termasuk penjelasan-penjelasan ilmiahnya.

Kalau dilihat dari proses perjuangannya dalam belajar, asosiasiku jadi mengarah pada sejarah Nabi Ibrahim saat mencari tahu tentang Tuhan. All out banget gitu, bahkan penulis ini sampai over atau habis-habisan demi memuaskan rasa ingin tahunya atau menemukan jawabannya. 

Dan yang tak kalah menarik adalah aura mereka sebagai pasangan kekasih. Sepanjang aku membaca, auranya itu kental banget. Aku sampai gagal fokus, jadi lebih fokus ke so sweet-nya mereka daripada isi pembelajaran yang ditekankannya. Aku merasa mereka ini seperti soulmate, bahkan sejak mereka mencari arti hidup sama-sama. Kok bisa gitu lho 2 orang itu punya pikiran yang sama, sama-sama menempuhnya, bahkan dengan "gilanya" mempertaruhkan hampir semuanya. Lalu dengan deskripsi dari contoh-contoh perbuatan mereka seperti aku bisa merasakan atau memvisualisasikan betapa mereka saling menyayangi dan betapa dekatnya mereka satu sama lain.

Bagaimana pun, perspektif buku ini itu unik. Aku tak bisa mengatakan apakah cara mereka bekerja atau tidak untukku karena memang baru. Kadang kan sesuatu yang baru itu terasa aneh gitu kan ya, tapi di sepanjang isi buku ini mereka juga menyertakan kisah-kisah sukses terkait prinsip mereka tersebut. Jadi kalau kamu penasaran kamu bisa baca sendiri dan langsung praktek aja gitu.



21 Februari 2021

Daftar Buku Bagus yang Pernah Kubaca


List buku-buku bagus untuk dibaca (kurekomendasikan).


Buku berbahasa Inggris:

1. Why does he do that?

2. Out of the fog

3. How to spot a dangerous man before you get involved

4. Reflection of a man

5. The one thing

6. Switch

7. Factfulness

8. It's not you, it's him

9. It was the best of sentences, it was the worst of sentences

10. The 5 second rules

11. The power of habit

12. Tiny habits

13. Love me, don't leave me

14. Manipulation

15. Ignore the guy, get the guy

16. You lost him at hello

17. The emotionally absent mother

18. Higher unlearning

19. The compound effect

20. Never chase men again

21. The 12 week year

22. The magic question



Buku berbahasa Indonesia:

1. Hiburlah dirimu dengan sholat

2. Orang-orang yang setia

3. When friendship hurts

4. Cassanova syndrome

5. Quiet

6. Mind over money

7. Nothing to lose

8. The single woman: life, love, and a dash of sass


Ntar mungkin kalo ingat atau ada tambahan di-update lagi.


20 Februari 2021

Cara Mengenali Pria Sholeh Palsu dalam Online Dating, Nomer 1 Kamu Mungkin Nggak Nyangka Banget

Online dating sebenarnya sama aja ya dengan offline dating. Nggak jauh beda. Kita menghadapi orang yang sama, cuma di belakang layar.

Sebelumnya aku mo nekanin ini kan blogku ya tentu aja versi aku. Aku tuh sering banget ketemu orang yang yaah mungkin menganggap/dianggap sholeh tapi nggak memenuhi standar sholeh versiku. Bagiku ganjil gitu, misalnya tentang integritas, komprehensif, keteladanan, kesantunan, dll.

Bukan rahasia lagi sih, bagiku banyak orang bermain-main dengan dalih atau label agama.

Kamu perlu punya standar yang sangat tinggi di sini dan nggak perlu tolah-toleh dengan standar orang lain. Tanyakan pada dirimu sendiri, "Apa orang yang (beneran) sholeh akan melakukan hal-hal tersebut?"

Itu adalah kompas moral dan kompas agamamu.

Ketika kamu mencantumkan kriteria sholeh atau tampak seperti sholeh, bersiaplah untuk didatangi 2 macam orang sholeh:

1. Orang yang asli sholeh,

2. Orang sholeh palsu,

Begitu pun saat kamu mencari orang dengan kriteria sholeh yang kamu maksud, kamu bisa bertemu dengan 2 macam tadi.

Nah, ada beberapa indikator yang mungkin bisa memudahkanmu untuk memilahnya. 

Kamu harus sangat waspada kalau dia memiliki salah satu atau beberapa ciri di bawah ini. Ini warning buatmu.

1. Pamer/memilih foto yang mengindikasikan kesolehan (misal foto haji, foto di masjid, dsb), atau santunan sosial (volunteer, bantuan sosial, donor darah, dsb)


2. Kamu menemukan hal-hal porno dalam akunnya atau orang/akun yang di-follow-nya. Meskipun tidak porno, tapi kalau konteksnya aurat yang terbuka (p*ntat, p*yudara, dsb) kamu perlu cut dia.

Pria yang beneran sholeh akan sangat menjaga matanya, lisannya, tulisannya, dsb.


3. Tidak sinkron antara kata-kata dan perbuatannya (pembohong/berbohong, tidak amanah, curang, menipu, dsb). Atau tidak sinkron antara kata-kata yang satu (baik via verbal atau tulisan) dengan kata-kata yang lain, atau tidak sinkron antara tindakan yang satu dengan tindakan yang lain.

Contoh:

a. Umur yang tertulis pada profil 25 tapi pas chat sama kamu bilangnya 30. 

b. Pertama kenalan itu ngaku perjaka, lama-lama kamu tahu kalau dia duda atau bahkan suami orang. Pada titik kamu tahu dia berbohong, kamu harus tinggalin dia. No excuse.

c. Profilnya lebay nulis tentang ibadah, nulis kriteria itu "yang penting akhlaknya", atau nulis cuma "muslim", atau kosong/ga diisi, atau "ga ada kriteria", dan semacamnya, tapi pas kamu ngobrol, bahkan dia belum tahu kamu sholehah apa nggak sudah ditolak duluan.


4. Mudah berkata/bersikap kasar (yang kadang sampai berlebihan banget), terutama saat marah.


5. Menetapkan standar kebaikan/moral yang hanya berlaku untukmu, tidak berlaku untuk dia atau orang lain.


6. Ada postingan-postingan yang bertentangan dengan agama atau norma-norma di masyarakat,


7. Kehidupannya misterius, kamu hanya tahu sedikit tentang dia atau bahkan dia akan marah kalau ditanya.


8. Kamu tidak merasa aman/nyaman di dekatnya

Ada perasaan aneh, was-was, feeling nggak enak, dsb.


9. Lebay nanya tentang sholatmu,

Kamu malah harus hati-hati. Sering-seringnya yang model gini itu scammer, narsis, atau orang tipe controlling/abuser.


10. Nunjuk-nunjukin tentang tahajud dia

Jadi gini ya, okelah dia tahajud tapi nggak untuk kontak kamu malem-malem kan? Ngobrol itu ya di jam normal. 


Itu ya 10 indikatornya. Pokoknya kalau kamu nemu 1 aja misalnya, kamu harus cek dia lebih lanjut.

Kamu harus ingat, kenalan itu tentang kamu ingin tahu dia juga, kamu menilai dia pantas jadi suamimu apa nggak, bukan tentang ngebet nikah atau cepet-cepetan nikah.

Di antara parameter yang paling mudah dikenali adalah "trusted" dan "integrity". Dia bohong apa nggak. 


Sholeh asli itu tentang integritas, keteladanan, komprehensif, kesinambungan, kesantunan/kelembutan, kehati-hatian, rasa takut pada Allah (takut berbuat dosa), ketaatan/ketundukan pada Allah, dan hal-hal semacam itu. Luar dan dalam dirinya itu akan mencerminkannya dan kita mungkin akan merasa aman/selamat baik dia dekat ataupun jauh.


19 Februari 2021

Review Buku "How to Spot A Dangerous Man Before You Get Involved"

 


Judul Buku: 

How to Spot A Dangerous Man Before You Get Involved

Penulis: Sandra L. Brown, M.A.

Penerbit: Hunter House Publishers

Jumlah hal.: 368 halaman


Hubungan yang sehat dan sukses berawal dari pemilihan pasangan yang tepat. Untuk memperoleh pasangan yang tepat kita harus tahu pasangan yang salah dulu, terutama yang berbahaya bagi kita. Bagaimana pun keamanan kita adalah yang utama.

Sandra Brown mengelompokkan pria berbahaya menjadi 8 jenis. Berbahaya di sini mencakup membahayakan keuangan, kehormatan, kewarasan, kebahagiaan, sampai keselamatan pasangannya. Masing-masing jenis tadi diuraikan lagi ciri-cirinya apa, penyebabnya apa mereka bisa menjadi demikian, apa yang membuat mereka punya daya magnet dengan korbannya, alasan-alasan yang suka dibuat-buat korbannya sehingga enggan berpisah dari mereka, serta contoh kasus dari korban-korbannya saat bucin dan saat sudah tercerahkan. 

Tak lupa pula buku ini dilengkapi dengan lembar kerja berupa buku terpisah yang ditulis oleh penulis yang sama. Judulnya "How to Spot A Dangerous Man Before You Get Involved Workbook."

Judulnya sama, cuma ditambah "workbook" aja.

Buku ini tebal ya, 368 halaman, tapi sangat layak kamu baca. Ada banyak contoh kasusnya yang bisa bikin kamu makin clear seperti apa sih masing-masing tipe pria berbahaya tersebut.

Ada bagian khusus berupa bahasan self defense. Biasanya orang kan suka ngeyel kalau diberi tahu. Nah, itu dia tulis dulu eyelan-eyelan yang umum sebelum kamu ikutan ngeyel juga.

Buku ini bagus banget. Wajib dibaca buat kalian yang bucin. Kan banyak orang tuh yang terjebak pada pola hubungan salah yang sama/serupa tapi nggak nyadar-nyadar gitu. Atau terjebak pada pria berbahaya tipe satu ke pria berbahaya tipe lainnya. Mereka punya blind spot. 

Nah, buku inilah yang bisa mencerahkan mereka agar mengenali aneka tipe pria berbahaya lalu memutus siklusnya.

Setelah itu potensi hubungan yang lebih sehat akan lebih mudah terwujud.


Dicari Sahabat Plus Plus

Label teman atau sahabat menjadi begitu murahnya bagi sebagian pria.
Tak terhitung berapa kali aku diajak kenalan oleh suami atau pacar orang yang sebagian di antaranya bermoduskan sahabat saja.
Yah, di usia sekian aku semakin sering mengalami pelecehan, dianggap sangat nggak berharga dan bisa diapain aja.
Aku nggak se-desperate itu ya mau berurusan sama laki orang.
Aneh-aneh pula, ada yang butuh partner p*tting atau lainnya.
Ya pikirlah dengan otak yang waras, ngapain cowok nyari sahabat cewek? Udah punya pasangan pula.
Itu modus banget untuk membuat terlanjur cinta. Awal dari bibit-bibit perselingkuhan, abuse, atau hal-hal semacam nikah s*ri, istri s*mpanan, p*ligami, dan semacamnya.
Pacar beda lokasi, nyari pacar lain untuk pemuas n*fsu.
Kurang puas dengan istri, nyari cewek lain.
Ya memang ga jelas-jelas nulis Fr*end with benefit, TTM, atau yang serupa, tapi yo podho ae, intine itu.
Sahabat/teman modus.
Kalo kamu laki yo nyario sahabat laki.
Kalo mau sahabat cewek yo sahabatan sama istrimu.
Ojok alasan sahabat gawe s*lingkuh.
Nggak banget gitu loh.

17 Februari 2021

Review Buku "The Love Compatibility Book, The 12 Personality Traits that Can Lead You to Your Soulmate"

 



Judul buku: 

The Love Compatibility Book, The 12 Personality Traits that Can Lead You to Your Soulmate

Penulis: Edward Hoffman & Marcella Bakur Weiner

Penerbit: New World Library, California

Tahun terbit: Januari 2003

Jumlah hal.: 209 halaman


Hingga kini aku masih mempercayai tentang konsep soulmate. Untuk itu, aku masih mengikhtiarkan untuk mempelajari apa hal terpenting untuk menemukan soulmate-ku.

Aku sudah mempelajarinya dari berbagai sumber, tetapi tak ada salahnya aku mengetahui persepsi yang ditawarkan oleh buku ini.

Buku ini adalah buku relationship untuk menemukan soulmate berdasarkan keintiman. 

Menurut penulis buku ini, keintiman itu dibangun dengan 12 faktor utama. Buku ini menguraikan masing-masing faktor itu, mengapa 12 faktor ini penting bagi keintiman dan long lasting relationship (hubungan jangka panjang), ada tesnya juga untuk mengukur tinggi rendahnya masing-masing faktor tersebut pada dirimu maupun pasangan, apa efeknya jika hasilmu dan pasangan berbeda, dan bagaimana cara mengolah hasil tes tadi untuk menemukan soulmatemu. 

Penulis buku ini memiliki perspektif yang berbeda dalam menilai kepribadian manusia. Apa-apa yang biasanya dianggap ahli lain sebagai tidak normal/mental illness atau mungkin kelekatan (attachment) hanya dipandangnya sebagai keunikan pribadi. Bukan tentang healthy atau illness. 

Secara pribadi, sebelum membaca buku ini pun, aku punya pemikiran sekian persen yang mengarah ke sana. Nggak jauh-jauh, aku sebagai introvert saja sering dianggap kelainan/aneh dan dicap macam-macam.

Konsep dari buku, kita hanya mencari yang cocok. Kurang lebih dia berpendapat, orang yang menganggap kita kelainan hanyalah orang yang berbeda dari kita atau bahkan sekadar tidak cocok.

Kita tinggal mencari yang cocok.

Dengan pengalaman penulisnya selama 40 tahun di bidang tersebut, uraian yang diberikan sangat jelas, urut, dan spesifik/rinci.

Hanya kekurangannya, mungkin kalau kamu tak bisa membuat calonmu bersedia mengisi juga isiannya, asumsimu tentang dia belum tentu tepat.

Misal nih ya, aku menduga-duga ngisiin form tentang dia berdasarkan cara pandangku terhadap dia atau pengamatanku tentang dia. Nah, itu belum tentu tepat.

Buku ini sangat tepat buat kamu yang punya pasangan yang kooperatif mau ngisi juga seluruh isiannya.

Namun, itu bukan berarti buku ini tidak bermanfaat untukmu pribadi. Kamu akan bisa lebih mengenal dirimu melalui buku ini.


16 Februari 2021

Membongkar Modus di Seputar Poligami


Sumber: IG kajianfiqhpernikahan.id

Milik ustaz Ahmad Tarigan

(Utk pot. videonya bisa dengerin di IG tsb, untuk utuhnya bisa ikut kursus beliau)


 Wanita Selalu Salah

Wanita selalu salah (baca: disalahkan). Bahkan, sekali-kalinya dia memprotes, kalimat “Wanita selalu benar”-lah yang akan mereka dapati. Sehingga, mungkin seumur hidupnya wanita harus menerima dirinya sebagai pihak yang salah dan penuh kekurangan di mana-mana.

Mulai dari sifat wanita yang konon dominan perasa (dan disamakan dengan bodoh), sampai dengan penyerupaan wanita sebagai tulang yang bengkok dan kodratnya sebagai makmum. Sebagai tulang yang bengkok, siapapun wanitanya pasti lebih buruk dari pria, siapapun prianya. Begitupun sebagai makmum, siapapun wanitanya harus tunduk pada siapapun prianya. Seolah-olah semua kualitas wanita di bawah pria dan semua kualitas pria di atas wanita (generalisasi).


Para pria dan ustaz-ustaz sering menyampaikan dualisme. Pada akun-akun Instagram misalnya, setiap ada postingan video pengantin wanita malu-malu seperti tak pernah tersentuh pria, pria-pria pada memujanya dan menginginkan wanita seperti itu. Ironisnya, saya pernah menemukan ceramah ustaz menyuruh wanita dengan hinanya, “Istri itu harus agresif pada suami, seperti PELAC*R.” Ya kali wanita yang sangat pemalu jadi agresif, seperti pelac*r pula. Menyakitkan sekali dibandingkan, apalagi dengan wanita seperti itu. Sangat kekanakan, masa tidak tahu hidup itu pilihan. Jangan nyuruh-nyuruh wanita pemalu jadi seperti itu, sekalian saja Anda menikah dengan PELAC*R, dan lupakan tentang wanita yang malu-malu. Mereka memiliki paket yang berbeda.

Pada kasus-kasus lain kita mungkin akan menemukan istri-istri itu akan dicap buruk jika suaminya itu sakit atau mandul lalu istri tersebut minta cerai. Begitupun jika dirinya (istri) berselingkuh. Sementara jika suaminya yang berselingkuh, sakit, atau mandul, hal itu akan dibesar-besarkan sebagai “istri nusyuz” atau suami bisa memilih bercerai atau poligami. Sialnya, nama suami tetap bersih, dibilang jatahnya 4, kalau suami yang naksir wanita selain istrinya boleh sedangkan kalau wanita lajang yang naksir suami orang tidak boleh, atau dalih-dalih lain semacam agar memiliki keturunan, mencari wanita yang subur rahimnya, biar bisa “tersalurkan” (seolah hanya suami yang butuh), dan lain-lain.

Setiap kali terjadi perselingkuhan, tak lupa istri langsung dituduh tidak memberikan servis maksimal (Para wanita, baca lebih lanjut buku Cassanova Syndrome ya).


Ketika kita dihadapkan pada pernikahan pun demikian, wanita yang selalu dihina-hina dengan “sosok perasa”-nya, tiba-tiba berpikir pun tidak boleh. Kalau pada urusan umum dibilangnya begini,”Wanita itu lemah akalnya, pakai pikiranmu.”

Sedangkan pada urusan mencari jodoh, tiba-tiba menjadi begini:

“Nggak usah pake logika, serahkan saja sama Allah.”

Luwucu.


Lebih lanjut tentang standar ganda pria, pria membantu sesama pria (walau pria asing sekalipun), dll bisa kamu baca lebih pada buku di atas

 

 

Nggak papa menikah dengan pria yang gini gitu, serahkan saja pada Allah (dan kamu tinggal nikah doang, nggak usah mikir), lalu wanita pun dihina-hina dengan kata “terlalu pilih-pilih”, “matre”, atau lainnya jika tak mau.

Begitupun ketika wanita menerima pria yang kurang mapan secara ekonomi, masih dibebani bekerja (dengan porsi yang lebih besar pula), menanggung urusan rumah juga, ikut nanggung utang suami (yang sudah ada sejak sebelum menikah), nanggung keluarga suami, masih diakhirkan dari ortu dan keluarga suami (yang aslinya kalau suaminya ekonominya baik nggak perlu lah ada pertanyaan istri atau ibu/ortu suami dulu), harus mengutamakan keluarga suami, itu pun masih dikata-katai nggak bersyukur dan nggak mampu mengelola keuangan (jika keuangan keluarga masih kurang), plus menanggung pro-kontra di masyarakat tentang ibu bekerja, (termasuk dari ustaz itu sendiri yang nyuruh nerima pria bagaimanapun keadaannya).

Bila dirunut akan seperti ini:

1.    Ajaran/pemahaman ustaz (saya garis bawahi ya karena menurut saya itu tentang pemahaman ustaznya dan bukan ajaran Islam yang sesungguhnya) tentang “Nikah saja, tidak perlu memikirkan ekonomi” dan “menyelamatkan pria dari zina dengan memudahkan (baca: mengabaikan) urusan perekonomiannya (menyelamatkan pria dengan mengorbankan wanita you know).”

Jadi, pria-pria yang berekonomi rendah atau bahkan pengangguran nekat saja menikah. Serahkan saja sama Allah (agamis palsu).

Ada juga tentang sosialisasi jumlah laki-laki yang semakin langka, risiko sulit hamil di usia tertentu, hinaan atas wanita-wanita yang belum menikah di usia tertentu/punya kriteria tertentu, sosialisasi poligami dan pernikahan-pernikahan yang “tidak normal”/tidak sebanding (misalnya mbah-mbah dapat gadis yang jauh sekali umurnya, duda menikahi gadis, wanita-wanita yang dengan sukarela dipoligami, dll yang cuci otak banget/manipulatif), baik itu dari ustaz atau pengurus birjo-birjo/birta-birta (biro taaruf), atau penulis-penulis berita, atau mungkin orang-orang lain.

 

2.    Wanita nggak boleh punya kriteria

Kriteria apa pun akan dihina-hina apalagi kalau prianya tidak memenuhi. Yang boleh mungkin nulis yang gampang-gampang menurut mereka, misalnya muslim (bagi kebanyakan orang, muslim dianggap cuma label, tidak memahami bahwa muslim itu banyak syaratnya/membawa implikasi tertentu), dan sholeh (banyak pria yang maju ngaku-ngaku/menganggap dirinya sholeh padahal nggak sama sekali).

Sholeh itu sendiri abstrak ya, kurang spesifik, standar sholeh seseorang itu bisa saja berbeda.

 

3.    Pria sih kriterianya suka-suka gue dong

Berbeda dengan wanita, pria yang notabene pihak yang aslinya menanggung kewajiban penuh dalam memberi nafkah, mayoritas malah mencari istri yang bekerja, kadang ditetapkan jenis pekerjaannya harus apa (kadang ditulis secara eksplisit, kadang tidak), kadang juga mengejar ingin tahu gaji/pendapatannya berapa/kisaran berapa, mencari wanita dengan keahlian khusus untuk membantu dia, dan sebagainya.

Dalam maksimal mungkin sepuluh pertanyaan awal (biasanya tidak sampai sepuluh), dia akan tanya pekerjaan wanita (jika wanita tersebut tidak menulis pekerjaannya di CV/biodatanya).

Di sini, pekerjaan/keahlian wanita menjadi wajib dan anehnya, lagi-lagi wanita yang dicap buruk karena tidak bisa memenuhi hal tersebut.

Ibu dan Om saya pernah bilang, “Cowok zaman sekarang itu nyari cewek yang bekerja.”

Nah, lo, jadi wajib. Itu tugas/kewajiban siapa coba?

Dan kalaupun wanitanya bekerja, bisa tidak prianya itu bicara baik-baik. Akui kalau itu kelemahan dia dan mintalah bantuan dengan cara yang baik, bukan tetap bernada sok dan otoriter. Bener-bener deh ya, semua kekurangan kok dilimpahkan ke wanita.

Kontras ya, saat wanita disuruh nurun-nurunin kriteria (dan bukan prianya yang berusaha menaikkan kualitasnya), pria sangat ribet masalah umur, fisik, kekayaan, bisa hamil atau tidak, dan lain-lain.

Dalam sebuah buku (atau artikel? kayaknya buku deh ya) taaruf yang ditulis oleh ustaz/comblangnya sendiri (pemilik biro taaruf), ustaz tersebut malah bilang, rata-rata pria mencari wanita anak tunggal dari ortu yang kaya.

Nah, lo. Tahu juga kan aslinya?

Lalu kenapa wanita yang diperlakukan demikian?

Mungkin jawabannya seperti pada buku What Men Don’t Want Women To Know karya Smith and Doe, di antara sesama pria ada semacam perjanjian tidak tertulis untuk saling membantu.

 

4.    Wanita nggak boleh ada harganya (asal saja lah buat formalitas biar semua pria mampu walaupun nggak sekufu). Mahar atau resepsi itu yang mudah-mudah gitu lho saya (pria yang tidak sekufu/ekonominya lebih rendah dari wanita/keluarga wanita) kan juga pengen punya istri yang cantik sekaligus kaya, seksi, solehah, dan nurut (termasuk mau dipoligami).

INGAT YA, masalah mahar, resepsi, atau “dulu mana ortu suami atau istri” itu adalah masalah tidak sekufu. Pria itu tidak sekufu denganmu dan sudah tidak mampu secara finansial sejak awal, jadi wajar kalau ke belakangnya juga seret/berdarah-darah.

 

5.    Membenci ortu wanita yang pastinya tahu asam garam berumah tangga, memberikan anaknya harga yang pas dan menghindarkan anaknya dari bucin.

Ortu wanita ini akan dibenci dan ikut dikata-katain matre dan sebagainya.

 

6.    Anggaplah masalah per-ortu-an sudah diselesaikan oleh Si Wanita atau murobbi’-nya/perantara taaruf/comblangnya, eh setelah menikah suami ini mengakhirkan istri dan anaknya:

a.       Padahal gajinya sedikit, eh ibu suami dulu katanya (ortu istri mah lewat, lupa dulu udah diizinin nikah sama anaknya; wong istri dan anaknya aja nasibnya nggak jelas kok),

b.      Trus bayar-bayar utangnya (plus minta bantuan dana istri juga ya),

c.       Trus menyekolahkan atau menanggung saudara-saudaranya,

d.      Belanja itu kurang, udah istri dan anaknya ngempet laper gitu, pusing muterin uang belanja juga, eh dibilang nggak pinter ngatur keuangan, nggak bersyukur, nggak sholehah, dll,

e.       Udah gitu kan istrinya juga bekerja, nggak bisa full dong ngurus rumah, masih dimarah-marahin nggak becus ngurus rumah plus nggak dibantu ngurus rumah dan anaknya.

f. Kalau uang harian kurang, istri minta suami pun dimarahi, begitu pun utang juga dimarahi. Lalu istri mungkin utang diam-diam dan ga tau deh yang nyaur istri juga kayaknya.

 

7.    Mahar yang secuil itu pun masih diincer juga

Ada ustaz/kiai yang mengajarkan, pinjamlah mahar istrimu karena itu berkah.

 

8.    Karena miskin setelah nikah tinggal sama ibu/keluarga suami, eh masih juga tidak bisa memberikan keamanan dan kenyamanan pada istrinya (lagi-lagi ortu dan saudaranya dulu) dan masakan seuprit dari uang belanja seuprit itu masih bingung harus berbagi dengan keluarga suami, plus kalau ada masalah apa-apa suaminya nggak ngereken, lebih membela ortu dan saudaranya.

 

9.    Karena kecapekan, ngurus kerjaan serta rumah dan anak (dan mungkin juga ortu dan saudara suami juga) dan nggak dibantu suami pula, mungkin istri nggak berenergi atau nggak mood atau nggak hot gituan/ML, eh dibilang kayak gedebog, nggak agresif kayak p*lacur, dll.

 

10.    Karena terbiasa hidup mudah/ringan, enak, dan kaya; istri jadi dikatain manja, malas, lemah, lebay, dll padahal dari awal gaya hidupnya udah beda. Lakinya yang maksa.

 

11.    Karena istrinya kaya dan sukses karirnya, gaji/pendapatan lebih tinggi dari suami, lalu suami minder/iri, berusaha menjatuhkan/merendahkan/mengecilkan usaha istrinya. Kadang malah suami jadi malas dan nggak kerja karena bergantung pada istrinya. Selain itu, istri juga akan diprotes karena kerja melulu, nggak becus ngurus rumah, nggak peduli keluarga, dll.

 

12.    Setelah nikah ternyata istrinya subur, hamil terus, eh suaminya nggak bisa membiayai. Sementara kalau disuruh KB, istri juga jadi gemuk, eh dibilang kayak Gardu Ronda (nih asli ya ada yang ngomong gitu).

 

13.    Misal sudah nggak sanggup lalu memilih memakai pembantu. Istri akan dikatain istri apa tuh anak kok dititipkan ke pembantu, pembantu itu membawa mudharat lebih baik anak diurus sendiri. Akhirnya anak diurus ibu istri/mertua dan masih juga salah. Kok diurus neneknya sih?

 

14.    Harta setelah menikah dicampur, padahal harta suami aslinya nggak jelas (baca: nggak punya apa-apa) eh begitu cerai atau meninggal ngeributin gono-gini.


15. Pas nikah prianya sudah minim uang, meninggal pun ga mewariskan harta malah mewariskan utang, yang mungkin juga suami ini ngutangnya diam-diam. 

 Kenalan wanitaku yang bekerja sebagai notaris atau entah apa aku lupa pernah cerita, dia pernah nangani kasus entah suaminya cerai/mati yang jelas perpisahan dengan Sang Suami tersebut malah meninggalkan utang bagi mantan istrinya. Padahal, itu utang suaminya.

16.    Setelah suami kaya atau istri ternyata sakit/mandul/kurang hot, dan sebagainya, eh suaminya poligami.

 

Ada juga suami yang tega menjual istri/anaknya demi memenuhi kebutuhan keuangan keluarga, membunuh diri sendiri/sekeluarga, bundel/buntu karena ternyata nggak instan jadi kaya lalu mabuk-mabukan atau mengkonsumsi narkoba, menjadi gila, menjadi gig*lo, mencari rezeki dari jalan haram/tidak halal (misalnya curang), berj*di, pes*gihan, dan lain-lain.

 

Kamu nggak salah apa-apa kok wanita. Kamu hanya salah kelamin. Kamu jadi “tumbal” karena kamu wanita. Diperes terooos sampai kalo santen itu tinggal beningnya, diinjak teroooos sampe sekeset-kesetnya. Semua asetmu akan diincar sampai kamu nggak punya aset sama sekali bahkan untuk dirimu sendiri dan itupun kamu tetap salah (baca: disalahkan). Mungkin kalau kamu mati sekalipun, kamu tetap salah, kenapa kamu mati duluan, laki dan anakmu jadi nggak ada yang ngurus lagi.

 

 

Wanita Tak Boleh Punya Kriteria

 


Pokoknya, wanita itu serba salah dan memang diposisikan demikian. Apalagi, jika wanita itu sudah berusia 30 tahun ke atas. Pria seumuran mencari wanita yang jauh lebih muda, yang muda cari yang sepantaran juga, dan yang lebih miris berita-berita tentang mbah-mbah menikahi gadis dan poligami terus di-blow up, sehingga mbah-mbah lain kepengen juga mendapatkan istri yang pantesnya jadi cucunya (mbah-mbah tua ya, bukan pria muda yang kebetulan sudah punya cucu)

Jadilah mayoritas pria menghina-hina dan seolah yang tertinggal hanya opsi duda, poligami, dan pria-pria yang tidak ori (pernah zina). Duda ini pun banyak juga yang mbah-mbah yang seolah tidak sadar akan umurnya.

Bahkan, pria yang sudah duda cerai berkali-kali pun (bapak2 ya, tua, dan ga ganteng juga) anehnya merasa super dan lebih baik daripada gadis 30an tahun yang belum pernah menikah. Wong pernikahan gagal aja bangga. Itu pun masih sambil menjelek-jelekkan semua mantan istrinya di depanku. Mungkin maksudnya PDKT aku sambil merendahkan aku, meskipun saat itu urusanku dengannya bukan tentang PDKT/cinta. Nggak ada urusan sebenernya, dia bukan orang yang kutuju, tetapi kebetulan ada dia. Apes banget gitu ga ada angin ga ada hujan dihina-hina sebegitu rupa. Oleh orang asing pula dan ga ada urusan pula.

Contoh lain itu ketika aku hanya menetapkan kriteria yang sangat minim, “belum pernah menikah dan tidak pernah berzina.” Itu pun masih dikatakan ketinggian. Itu yang halus ya, yang kasar malah nyerang aku rame-rame dan bully aku. Which is lingkungan di sana sepertinya adalah sarang orang-orang yang pernah berzina.

So, jika kamu berzina, nggak usah heran kalau kamu dibully orang, cz orang yang nggak berzina pun juga akan dibully di lingkungan orang-orang yang berzina. Itu bagian dari konsekuensi agar para pelaku zina berpikir ulang sebelum benar-benar berbuat zina.

 

 

Penyelewengan Poligami di Masyarakat

 

Di mana-mana, jika ada orang bahas poligami, sekelompok orang akan meradang. Sebagian nyinyir berkata-kata buruk tentang Nabi Muhammad dan poligaminya, sebagian lagi membela poligami mati-matian dan melekatkan poligami pada Islam dan Nabi Muhammad.

Ingat, poligami itu bukan (monopoli) Islam atau Nabi Muhammad. Bukan milik Islam. Justru Islam dan Nabi Muhammad itu membatasi jumlahnya karena poligami orang-orang yang lain itu jumlahnya seperti tak terhingga.

Poligami orang-orang saat ini lebih dikarenakan alasan nafsu atau alasan-alasan lain yang dibuat-buat, seperti istri mandul/sakit, alasan poligami sunah/wajib, atau alasan jumlah wanita di Indonesia yang lebih sedikit daripada pria.

Nyatanya, jumlah pria di Indonesia masih lebih banyak dari wanita. Asal tidak zonasi, jumlahnya masih cukup. Hanya saja, aku tidak tahu pasti mengenai persebaran umurnya dan statusnya (perjaka atau duda). Dirjen Dukcapil, Zudan Arif Fakhrulloh merinci jumlah total penduduk Indonesia per tanggal 30 Juni 2020 sebanyak 268.583.016 jiwa, dengan 135.821.768 pria dan 132.761.248 wanita. (ini saja belum bener-bener banyakan pria udah digembar-gemborkan poligami, ndanio kalo udah lebih banyak beneran)

 

Biasanya, ustaz-ustaz taaruf/biro jodoh (birjo) begitu meyakini berlebihnya jumlah wanita dibanding pria ini, dari anggota-anggotanya (member-member) yang mereka tangani.

Namun, di sini bisa terjadi beberapa kesalahan pemikiran:

1.    Kemungkinan ustaz-ustaz itu berada pada zona yang mayoritas wanita,

2.    Tidak semua lajang ikut taaruf/birjo,

3.    Tidak semua lajang yang ikut taaruf/birjo, ikut taaruf/birjo mereka,

4.    Tidak semua lajang mendaftar taaruf/birjo tersebut.

Sudah bukan rahasia lagi kalau banyak juga pria yang “nggak modal”, nggak mau daftar tapi ngintip doang dan langsung ngontak member yang diincarnya,

5.    Tidak semua lajang mencari yang satu zonasi,

 



Begitu maraknya pria berpoligami sebagai ajang coba-coba. Jika memang itu sunnah, maka itu adalah sunnah yang mungkin akan sangat digemari pria (favorit pria), dengan dalih bisa s*ks dengan lebih banyak wanita. Apa pun masalahnya sepertinya solusi yang terpikir tak jauh-jauh dari poligami. Mungkin mereka tak sadar kalau poligami itu sangat berat dan kompleks. Kompleksnya keluarga poligami ini pernah disinggung di dalam buku Cassanova Syndrome. Tak heran jika akhirnya banyak rumah tangga poligami yang gagal atau sukses (tetapi palsu), misalnya di Sidoarjo dulu ada kampung poligami/desa Wayoh (Wayoh dari bahasa Jawa artinya poligami/beristri banyak).

Di TV dulu juga pernah ada pria berpoligami dengan cara memelet dan tujuannya 2, yaitu nafsu/s*ks dan harta (materi/matre). Istrinya banyak dan suka gonta-ganti istri.

 

Di dalam prakteknya, terdapat beberapa modus poligami yang umum dilakukan:

1.    Alasan bahwa hukum poligami itu sunnah/wajib,

2.    Istri mandul/tidak punya keturunan,

3.    Istri sakit/memiliki gangguan dalam berhubungan s*ksual,

4.    Beda lokasi dengan istri, daripada berzina katanya,

5.    Khilaf,

6.    Istri nusyuz/tidak melaksanakan kewajiban dengan baik,

7.    Tidak bercerai, tetapi selingkuh/poligami,

8.    Boleh menikah lagi tanpa seizin istri,

9.    Kalau pria baik datang melamar wajib diterima agar tidak terjadi fitnah,

10.    Menyelamatkan wanita (agar semua wanita kebagian pria/bisa “mencicipi” pernikahan),

11.    Karena pria baik-baik, berkualitas, dan lajang sudah langka karena sudah pada menikah, sisanya adalah pria-pria yang tidak baik atau LGBTQ.

 

Nah, itu adalah modus-modus umumnya.

 

Dan kamu sebaiknya memperhatikan hal-hal ini pula yang bisa membuat penyalahgunaan/penyelewengannya bisa meluas:

1.    Tentang pernikahan Nabi Muhammad dengan Aisyah

Di kalangan orang yang tidak suka dengan Islam/Nabi Muhammad, pernikahan ini membuat Nabi Muhammad dikatai buruk karena menikahi anak kecil.

Meskipun, aku pernah membaca umur Aisyah saat menikah sendiri masih menjadi perdebatan, umur berapa aslinya.

Tapi anggaplah umurnya benar 9 tahun. Ini akan membuat poligami bisa dilakukan pula terhadap anak-anak kecil.

Kapan hari sempat ada berita kan pelajar belum lulus sudah poligami, langsung nikah 2 sekaligus pula.

 

2.    Boleh tanpa izin istri,

3.    Bagi yang berpendapat poligami sunnah/wajib,

4.    Jumlah wanita yang dipoligami maksimal 4,

5.    Bisa menikah jarak jauh,

Aku pernah lihat ada yang nikah jarak jauh. Kalau memang itu sah, berarti ini lebih bahaya lagi.

6.    Nikah s*ri,

7.    Anjuran menikahi perawan,

8.    Adanya online dating dan medsos yang memudahkan terjadinya poligami,

9.    Maraknya mahabbah-mahabbah online dan ilmu-ilmu hitam pemikat,

10.    Mahar murah dan resepsi sederhana,

11.    Adanya persaingan tidak sehat/menjelek-jelekkan pria ganteng/kaya pasti buruk dan nggak setia, kekayaan nggak jaminan bahagia, dll. Sebaliknya, membaik-baikkan pria jelek/miskin seolah mereka pasti baik, sholeh, setia, dll.

12.    Di masyarakat, solusi dari zina adalah menikah (dinikahkan)

13.    Mengincar calon istri yang mapan/bekerja,

14.    Suami tidak harus memberitahukan/memberikan seluruh gaji/pendapatannya kepada istri.

 

Wih, angin segar tuh buat cowok-cowok. Bayangkan gimana hasilnya gabungan dari poligami dengan hal-hal di atas.

Biarpun miskin, jarak jauh, nggak izin istri, dan nggak modal pokoknya bisa nikahin yang kinclong-kinclong dan perawan, lebih muda, maksimal 4 pula.

Di tengah tekanan lingkungan terhadap wanita, isu kemandulan, isu kelangkaan pria, dan sosialisasi-sosialisasi buruk tentang wanita yang ingin suami dengan finansial yang cukup atau lainnya, adanya modus-modus di atas plus 14 poin pendukung tadi, menjadi semakin “enak di elo dan ga enak di gue” dong (enak di pria dan ga enak di wanita).

 

Mengapa kusebut penyelewengan?

 


Misal tentang isu kemandulan. Mereka ngakunya nyunnah ya, padahal Rasulullah poligami bukan karena istrinya mandul. Istri Rasulullah yang punya anak malah istri yang pertama saja, yaitu Khadijah.

Tentang tidak punya anak atau sakit, kenapa tidak berpikir tentang terapi, adopsi, dan sebagainya.

Tentang keluhan-keluhan dengan istrinya, kenapa tidak konsul ke terapis atau sekalian bercerai? Kenapa malah selingkuh?

Kalau kamu niat baik-baik, kenapa nikahnya kucing-kucingan dari istri sebelumnya?

Bahkan misalnya beda libido/suami hipers*ks, kenapa tidak dibicarakan sejak sebelum menikah?

Penyelewengan lain adalah tentang kebohongan, ketidakadilan, kecurangan, pelampiasan nafsu, dan bahkan mungkin pula kezaliman berkedok agama.

 

Poligami yang terjadi saat ini terutama ada 2 model:

1.    Nikah dengan berapa wanita sekaligus atau beda waktu sedikit,

Ini biasanya terjadi pada pria yang tidak mampu membuat keputusan/nggak bisa milih. Jadi, mau keduanya. Memang sebelum nikah dia mendekati lebih dari 1 wanita. Kadang terjadi penipuan di sini. Jadi, modusnya itu membuat wanitanya terlanjur cinta.

 


2.    Nikah lagi setelah sudah beristri

Ini seringkali diikuti dengan kebohongan saat dia menikah lagi atau memberikan jatah ke istri yang lainnya. Di sini modusnya biasanya pas ketahuan sudah terlanjur menikah, istrinya sudah sama-sama hamil, dan sebagainya.

 

Di saat ada isu-isu yang terus memojokkan wanita seperti dalam bahasan “wanita selalu salah” di atas ditambah dengan modus dan pendukung poligami ini, lengkap sudah penderitaanmu wahai wanita.

Sadar gak sih, kamu diarahkan ke sana. Dijejalkan berulang-ulang dalam berbagai bentuk hingga kamu mulai ragu “Masa iya sih?” lalu kamu pun mulai ikut meyakininya.

Intinya gini ya, untuk mereka yang ngaku nyunnah, apakah “nyunnah”-nya itu mengandung dosa/bahkan melanggar yang wajib atau tidak, membuat kewajiban-kewajibannya terbengkalai atau tidak, mengandung mudharat atau tidak, dan sebagainya. Jangan sampai cuma ingin menjadi playboy dengan cap baik dan halal/resmi saja. Yang aslinya dia itu nggak baik tapi modus aja.

Ini abuse terhadap wanita.