03 September 2021

Review Buku "I Thought I Was The Crazy One"

 


Pertama kali lihat covernya, buku "I Thought I Was The Crazy One" karya Amorah ini tampak aneh dan gambarnya itu abstrak yang provokatif. Ada gambar seperti p*yudara yang membuatku agak annoying lihatnya. 

Judulnya sendiri juga unik, pake gaya bahasa "aku" (orang pertama) gitu, setahuku jarang judul buku non fiksi yang kayak gini.

Pada bagian awal pembaca di-warning ati-ati dengan calon yang begini atau yang melakukan begini begitu. Font yang dipilih dan layout-nya itu enak banget gitu buat dibaca. Sebagai orang yang suka baca to the point, yang model gini ini aku banget. Bagian ini cukup banyak ya, mungkin sampai setengah buku atau lebih, ya karena layout-nya yang membuatnya jadi berhalaman-halaman gitu (tapi gak papa cz bikin lebih enak dibaca).

Selanjutnya buku ini membahas tentang tipe-tipe toksik utama, yaitu NPD (Narcisstic Personality Disorder), APD (Antisocial Personality Disorder), dan BPD (Borderline Personality Disorder), ciri-ciri mereka, kesulitan di dalam mengenalinya, perbedaan utamanya, dan cara-cara untuk menanganinya. Bagian ini lumayan ilmiah dan kayak buku kuliahan gitu deh, beda sama bagian sebelumnya yang termasuk bahasan populer.

Bagus tapi bagiku pribadi solusinya agak abstrak, nggak terlalu praktis atau applicable. Dia lebih ke panduan atau garis besar aja.

Bagian terakhir kusebut sebagai bagian pembuka pikiran dan jiwa. Bagian ini akan membuatmu menjadi open mind. Isinya tentang esensi dari relationship itu sendiri, tentang dirimu dan orang lain (entah pasangan, teman, atau lainnya). 

Secara keseluruhan, buku ini sangat kaya dan mencerahkan tetapi saat aku baca kayak ada kekurangan dalam kesatuan atau koherensinya, ada beberapa bagian yang kayak ditempel-tempel aja, belum ada penghubung/pengaitnya (Atau perasaanku aja ya? Mungkin aku yang ga teliti atau ga fokus bacanya). 

Meskipun ada beberapa bagian yang aku nggak setuju dengan isinya dan termasuk fatal (nggak sesuai value-ku/nilai-nilaiku), tetapi overall buku ini bagus banget dan sangat kurekomendasikan buat kamu yang nyari/suka buku tentang relationship secara umum (termasuk percintaan) atau buku tentang psikologi (orang-orang toksik atau self development).

Sebagai catatan dan sebenarnya udah pernah kusinggung di tulisanku sebelumnya, orang-orang ahli (para expert) di bidang mental disorder/orang-orang toksik itu kebanyakan masih bingung dan nggak terlalu ngurus bedanya, mirip-mirip dan saling tumpang tindih. Toksik ya toksik aja gitu, nggak penting bagi kita yang awam untuk sampai mengkategorikan dia masuk ke dalam golongan toksik yang mana. Yang penting kita bisa mengenali perilaku toksik itu seperti apa, orang toksik itu kayak gimana, menjauhinya, atau meminimalkan efeknya (mengamankan diri kita sendiri).

Baca deh. Worth it kok. 

Mencoba Memahami Pola Pikir "Psikopat" sebagai Fuck Boy

 

Kalau kamu berpikir bahwa psikopat hanyalah pembunuh atau orang yang menyiksa fisik orang lain dengan sadis seperti di pilem-pilem, segera singkirkan pikiran itu. Psikopat, sosiopat, atau Antisosial Personality Disorder (APD) (pokoknya rumpun ini) itu bisa tampak seperti orang biasa, bahkan bisa berfungsi biasa seperti orang normal: bisa punya pendidikan tinggi, kedudukan tinggi, menarik, atau lainnya.

APD/psikopat ini ada banyak macamnya, salah satunya yang berhubungan dengan s*ks ini (fuckboy).

Pada sebuah buku psikologi penulisnya menempatkan bad boy sebagai orang-orang dengan gangguan APD, alias bad boy adalah psikopat. 

Sebagai info buatmu pengagum bad boy; bad boy, fuck boy, ataupun playboy adalah psikopat.

Psikopat itu sangat manipulatif. Sehubungan dengan aksi hookup/ML-nya, ada beberapa trik yang pernah dibocorkan pelakunya, saya amati sendiri, atau saya dapat dari sumber-sumber lain.

Beberapa aksi mereka untuk mengakali konsekuensi/efek dari perbuatannya di antaranya adalah sebagai berikut: 

1. Menumpangi "benih" pria lain

Jadi, dia menarget wanita-wanita hamil sebagai korbannya agar dia nggak perlu menikahinya/bertanggung jawab kalau wanita tersebut hamil. Wong wanitanya udah hamil duluan kok sebelum dia nges*ks dengannya.


2. Menumpangi "tindakan" pria lain, baik itu menyasar istri orang atau perempuan yang perempuan yang pernah zina/pernah melakukan hubungan suami istri dengan laki-laki lain.

"Wong kamu juga 'tidur' dengan pria lain kok, apa buktinya kalau itu anakku?"


3. Menyasar cewek-cewek lugu yang sekiranya belum pernah berhubungan s*ksual.

Dia merasa lebih aman dari risiko penyakit s*ksual (PMS/Penyakit Menular S*ksual)


4. Cek lab dulu sebelum berhubungan b*dan

Seriusan ada model gini. Kamu yang mo nikah aja mungkin masih takut-takut ya minta or ngajak calonmu cek lab dulu. Kalo fucek yang satu ini mah kagak, kalo dia mo ML ma tuh cewek, tuh cewek di screening dulu, disuruh cek lab dulu biar tau mengidap PMS apa gak. Baru mereka cuz lanjut.


5. Berdalih dilakukan suka sama suka

"Ngapain tanggung jawab wong kami suka sama suka kok, sama-sama mau melakukannya dengan senang hati."


6. No prostitute

Menurut dia, nges*ks dengan p*lacur itu rawan kena PMS, jadi dia punya "pacar" (pemuas n*fsunya) itu entah 1 atau beberapa orang. Ngakunya sih lebih safe gitu deh.


7. Nges*ks saat ceweknya haid atau mungkin juga lewat an*l (an*s).

Lagi-lagi biar nggak hamil.


8. Menyuruh minum pil KB atau aborsi, dan masih banyak lagi.


Kalau kamu amati, ada perilaku manipulatif untuk mengakali risiko hamil, tanggung jawab, perasaan berdosa atau bersalah dari korbannya, dll. 

Ketika kamu kampanye, "Jangan nges*ks sebelum nikah nanti hamil!" ----> Mereka jawab, "Tenang, aku punya penangkalnya."


Ketika kamu kampanye, "Jangan free s*x nanti kena PMS!" ---> Mereka juga jawab, "Gampang, nanti kuatasi."


Ketika kamu kampanye, "Jangan ML sebelum nikah nanti dosa!" ---> Mereka jawab, "Tubuhmu adalah milikmu. Kamu bebas mengeksplorasi tubuhmu. Nges*ks itu adalah pleasure, tanda kasih sayang terhadap pacarmu, dan untuk mengetahui kecocokan/compatibility kalian dalam masalah r*njang tersebut. Kalo nggak dicoba mana tau. Nanti kamu gak puas gimana setelah nikah?"


Ketika kamu bicara tentang rasa malu ---> Mereka jawab, "Gampang nanti kunikahi dulu trus kuceraiin, or aborsi aja, atau pake pil, apa gitu. Easy. Gitu aja kok repot."


Banyak banget ya dan dari waktu ke waktu alasan atau modusnya atau solusi mereka mungkin akan semakin kreatif.

Jadi, kampanye kalian juga harus kreatif dan dibantu didoakan juga. Yah walaupun kita tidak dituntut untuk bertanggungjawab terhadap hasil dari seruan kita kepada kebaikan tetapi agar kita bisa lebih punya harapan dan peluang keberhasilan yang lebih tinggi atas kampanye kita, terutama ditujukan pada cakornya (calon korban/orang yang berpotensi tinggi sebagai targetnya ya), cz kalo psikopatnya ya bukan tandinganmu/bukan ranahmu, dan nyaris impossible untuk berhasil.

So, gitu aja, stop ngefans sama bad boy dan fucek2an. Mereka danger you know. 





29 Juni 2021

Mengerikan, Banyak Rasionalisasi Dosa Seputar Zina

Ingat janji Iblis dahulu, dia akan gigih mencari cara untuk menyesatkan manusia dari berbagai arah sampai hari kiamat tiba.

Kalau kamu mudah menyerah dan putus asa, kamu kalah.

Salah satu cara yang bisa digunakan oleh iblis dan bala tentaranya adalah rasionalisasi. Mereka mencari celah atau sisi kelogisan/ilmiah di dalamnya.

Aku juga pernah cerita tentang psikopat dan semacamnya ya. Mereka ini adalah golongan yang bisa sangat cerdas/pintar sehingga dengan kemampuan keilmuan, berbicara/berdebat/persuasi/berargumentasi, atau bahkan memikat hati orang lain dia bisa mudah memiliki pengikut/menyebarkan sesuatu.

Dalam hal ilmiah, kita butuh riset atau minimal studi literatur dan itu bisa membutuhkan banyak tenaga, waktu, dan terutama biaya. Banyak hal yang menggangguku dan ingin kubahas tetapi aku punya keterbatasan sehingga aku menyinggungnya sedikit saja.

Kamu mungkin nggak asing dengan kata c*li/on*ni, berapa rasionalisasi di dalamnya. Begitupun tentang aktivitas s*ksual, nonton b*kep, lg*t, m*ras, n*rkoba, atau c*uman, masing-masing dari aktivitas atau pelaku tersebut punya rasionalisasi sendiri. 

Kalau kamu sekadar bilang, "Oh, itu nggak penting buatku." Mungkin kamu/agamamu akan dianggap tidak rasional, bodoh, atau tertinggal (primitif). Ya meskipun bagimu pribadi mungkin tidak penting, tetapi orang yang bisa memberikan pijakan logika atau ilmiah di dalamnya itu kuamati jadi banyak memiliki pengikut, menang jika berkasus dengan mereka, dan mampu mengubah sebagian orang yang yakin menjadi ragu atau berpaling.

Miris sekali gitu ketika aku menemukan ada yang ngomong "Nonton film p*rno tidak membuat orang menjadi bodoh."

Atau "C*umlah pasanganmu untuk mencari tahu dia jodohmu atau bukan (untuk mengetahui kecocokan kalian)"

Atau "Nges*kslah dulu dengan pacarmu agar kamu tahu kecocokan kalian dalam hal s*ksual, agar kamu tahu dia bisa muasin kamu atau tidak, bisa hamil/punya anak atau tidak, fr*gid/tidak, dsb."

Gak ketinggalan juga yang satu ini, "C*wek/pacar yang pinter ngasih bl*w job, akan dapat nilai plus di mata cowok. (Jadi berlatihlah dan berikan servis bl*w job sebaik mungkin pada pacarmu dan lakukan sesering mungkin padanya biar kamu bisa memenangkan hatinya)"


Atau ini:

"Tubuh tubuhmu sendiri kok, milikmu, terserah kamu mau ngapain."


Atau yang "sekadar" gini:

"Kontak fisiklah saat pdkt agar dia dekat/closeness sama kamu."

"Buat apa pacaran kalau nggak p*lukan/c*uman/lebih."

Bagaimana juga dengan yang parah kek gini:

"Berc*umanlah dulu dengan calon/pacarmu, kalau ada t*gangan/t*rangsang banget berarti kalian jodoh, dan gak papa lanjut aja "disalurin"/ ML."

"Gpp 'berbuat' asal sama-sama tau risikonya."

"Nges*kslah dulu sering-sering sebelum nikah agar saat nikah nanti kamu sudah expert."


Busyet dah bahkan artikel yang kayak gitu lolos lho di majalah online umum Indonesia. 

Dan yah masih banyak yang lainnya.

Tentang nonton b*kep pun ada yang beralasan untuk edukasi s*ksual.

Aku sejak dulu itu kepo, tiap cowok ketika beranjak dewasa itu kan pasti mimpi b*sah, dan aku pernah wawancarai salah satunya, katanya itu nggak sekadar melihat orang lain g*tuan, tetapi mimpi b*sah itu mereka sendiri yang g*tuan dengan lawan jenis. Which mean, secara otomatis gak perlu diajari pun semua pria bisa.

Nah, aku juga sering baca/dengar "Tiap cowok pasti punya atau bahkan mengoleksi foto-foto seksi di HP atau laptopnya dan pasti pernah/sering nonton b*kep."

Itu masih tanda tanya bagiku, itu pendapat atau fakta ketika dia bicara tentang semua pria.

Tetapi suatu hari tanpa sengaja aku menemukan sesuatu yang mungkin merupakan bagian kecil dari jawabannya, "Biar cepat selesai/tuntas katanya."

Maksudnya kurang lebih gini, ada masa-masa di mana libidonya itu naik, entah karena rajin olahraga, makan makanan yang ternyata peningkat libido, nggak sengaja terpicu sesuatu dari luar (misal temannya cerita ng*res atau dia habis ketemu cewek yang m*rangsang, entah berpakaian terbuka/seksi/genit/agresif, atau lainnya) lalu libidonya naik/t*rangsang dan membuat pikiran serta tubuhnya itu nggak enak/error karena belum "tersalurkan"/keluar. Jadi, dia membantu pelepasannya agar bisa er*ksi/org*sme/keluar cairan-cairan tadi dengan nonton foto-foto s*ksi/terbuka auratnya atau nonton film-film p*rno.

Menurut pengakuan salah satu pria yang kuindikasikan b*dboy, kalau belum tersalurkan itu rasanya seperti ada jarum-jarum di kepalanya. 

Tapi intinya ya, terlepas dari alasan atau rasionalisasinya, dosa itu tetep dosa.

Bagi yang nggak tahu sisi ilmiahnya cukup sami'na wa atho'na terhadap ajaran-ajaran agama, sementara bagi yang tahu atau mau berusaha tahu akan sisi ilmiahnya ya cari tahulah lalu patahkan semua bentuk rasionalisasi dosa. 

Semoga kita semua dijauhkan oleh Allah dari dosa dan semoga Allah berkenan untuk mengampuni dosa-dosa kita dan menutup aib kita. Aamiin.




28 Juni 2021

Dunia Tanpa "Pelacur Pria", Tapi Boong

Untuk ke sekian kalinya aku kembali mendapati pria melontarkan kata-kata itu, kata p*lacur, l*nte, dan sebagainya.

Aku marah, hasrat hatiku ingin berkata kasar, tapi soal kekasaran merekalah jagonya, yang mungkin sudah terbiasa ngomong kasar, terbiasa berulah/cari gara-gara, atau mungkin dekat dengan lingkungan seperti itu (baca: mungkin pemakai jasa p*lacur). Aku ingin mencari cara yang lebih baik dan lebih elegan serta (harapannya) lebih manjur. Selama ini aku sudah mencoba beberapa cara tetapi belum berhasil. Rupanya, mungkin orang cuek kalau bukan mereka sendirilah korbannya, ada juga orang-orang lugu pemuja prasangka baik, dan sebagian lagi karena keahlian pelakunya dalam menggunakan beragam teknik manipulasi. Which mean, alih-alih mendapat dukungan dan berhasil memuluskan rencanaku aku kalah dan gak dipercaya, gagal.

Aku pertama dikatain p*lacur saat SMP kelas 1, oleh teman priaku sendiri. Maksud dia bercanda karena pengen tahu marahku gimana karena aku terlalu pendiam. Waktu itu aku ga marah dan balas mengatainya rascal/berandalan, yang waktu itu kuartikan sebagai pemakai p*lacur. Tapi lambat laun aku menyesalinya kenapa aku nggak murka, terutama ketika saat mencari jodoh aku sering dikatain p*lacur oleh berbagai pria, selain itu aku juga menemukan kata p*lacur ini sering digunakan sembarangan, seenak lambene atau seenak udele, oleh pria.

Aku tuh heran ya kenapa p*lacur itu hanya disematkan untuk wanita, sementara dunia pria itu bersih. Kalau menyebut p*lacur pasti perempuan, begitu pun berbagai variasinya.

Wanita tuna s*sila (pria juga ada, tapi kenapa wanita yang lebih disorot? Penggunaan tuna s*sila itu sendiri seperti hanya melekat pada wanita).

Wanita p*nggilan (pria juga ada, tapi lagi-lagi wanita yang lebih disorot)

Begitupun mungkin istri s*mpanan, wanita m*rahan, dan istilah-istilah semacamnya.

Laki-laki juga ada toh? Tapi mereka seperti "bersih" tak tersentuh.

Sebagaimana ketika berzina, wanita pun yang lebih diubek-ubek masalah virg*nitasnya, model/penampakan organ-organ reproduksinya, bodinya, kemampuannya untuk memiliki keturunan, dll.

Suatu hari aku menemukan sebuah berita perz*naan di sebuah koran online. Hebatnya, yang ditonjolkan hanya p*zina wanitanya, yang dihukum juga dia, yang muncul namanya juga dia, sementara p*zina prianya "bersih". Itu mereka berz*na kan sama-sama melakukan tetapi pihak prianya sama sekali tidak muncul di koran tersebut dan sama sekali tidak dihukum warga. Penasaran, aku coba membaca versi di koran online lainnya, tetapi sama saja.

Dan hal-hal semacam ini bukanlah diskriminasi gender satu-satunya yang kutemui. Pada berbagai berita, isi buku, ceramah, atau lainnya penggunaan istilah untuk perempuan seringkali lebih kasar, dengan kata lain "gak aturan", minimal akan ada penghalusan untuk gender pria, baik pria itu sebagai pelaku kriminal, pez*na, atau ketika masalah s*ksual itu diangkat dan melibatkan kedua gender.

Kembali pada masalah slut-shaming dan mudahnya cowok-cowok dalam menyebut kata p*lacur, membuat aku kepo mencari arti kata p*lacur di KBBI, yang ternyata memang hanya untuk jenis kelamin wanita, dan aku semakin kecewa ketika membaca artinya, lagi-lagi berbeda nilai rasa antara arti p*lacur (untuk gender wanita) dan g*golo (untuk gender pria). G*golo diartikan dengan lebih halus dan secara implisit masih menyorot wanita (pengguna jasa g*golo) sebagai pihak yang lebih bersalah.

So, kamu masih percaya kata-kata pria bahwa "Wanita selalu benar?" Saat realitanya kaum wanita itu malah lebih sering atau bahkan selalu disalahkan.

Kamu tahu nggak betapa mudahnya para lelaki itu menyebut kata p*lacur, perempuan m*rahan, dan semacamnya?

Ada nih ya cowok bermasalah nggak deal maharnya dengan calonnya, anggap aja maharnya ketinggian buat dia, gitu ngatain calonnya p*lacur.

Ada oknum ustadz ceramah tentang hubungan suami istri, bilang "Istri harus agresif seperti p*lacur."

Ada cowok nyetatus di FB, mencitrakan dirinya soleh, tapi kayaknya sering ditolak cewek, di akhir statusnya dia menyebut kata p*lacur, tetapi sebagai upaya penghalusan dia mengadu domba antar cewek, dengan istilah t*roris dan p*lacur, dan memberi tanda tanya pada akhir kalimatnya.

Dan yang juga tak terhingga tentu saja pengalamanku sendiri, ketika aku menolak dengan menyampaikannya, ketika aku menolak dengan mencuekinya, ketika aku hanya mencari pria yang tidak pernah zina, ketika aku tidak mau dihubungi tengah malam, bahkan ketika mereka menganggapku sudah berumur tetapi belum menikah. Dibilang p*lacur lah, l*nte lah, m*rahan lah, munafik lah, sok suci lah, dll.

Kalau sekarang semakin banyak orang yang berz*na itu memang fakta, tetapi ketika sedikit-sedikit kamu ngomong p*lacur, apalagi pada orang yang tidak m*lacur dan tidak berz*na, itu sudah beda urusannya.

Sebagai pengingat, bagi yang muslim, menuduh zina itu membutuhkan 4 orang saksi, sementara p*lacur itu adalah pez*na, orang yang sengaja menjual jasa yang berhubungan dengan perz*naan, dan kemungkinan besar dia sudah berkali-kali berz*na (pez*na, bukan sekadar pernah atau 1 kali berz*na).

Jadi, ketika kamu ngomong p*lacur pada orang yang bukan p*lacur, itu kemungkinan telah jatuh tuduhan z*na berkali-kali, yang tiap kalinya kamu tidak pernah menyertakan 4 saksi.

Apalagi kalau sebutannya ditambah kata m*rahan (misal: p*lacur m*rahan), kamu memberikan tuduhan tambahan padanya, terlepas dari arti "m*rahan" versimu itu apa.

Akhir kata, aku punya 5 keinginan:

1. Setiap orang, terutama pria, harus sangat berhati-hati dalam menggunakan kata "p*lacur",

2. Aku ingin orang yang menggunakan kata "p*lacur" sembarangan bisa dipidanakan dan dihukum seberat-beratnya karena kata tersebut mungkin adalah cacian/tuduhan terburuk bagi wanita,

3. Adil-lah dalam bersikap, dalam berucap, menghukum, dan dalam penggunaan kata bagi kedua jenis gender,

4. Didiklah diri kalian, anak-anak kalian, dan orang dekat kalian agar tidak berzina, tidak menjadi pezina/p*lacur/g*golo, dan tidak mudah melakukan slut-shaming/menyebut p*lacur, l*nte, wanita m*rahan, dsb pada perempuan secara umum, terutama pada perempuan baik-baik (yang tidak berzina, bukan pezina, dan bukan p*lacur). 

5. Untuk konteks-konteks agama, yang mungkin memang berhubungan dengan hal tersebut/ada dalilnya, hendaknya disampaikan dengan bijak, halus, dan sangat hati-hati.

Okey, semoga keinginanku ini bisa terwujud. Ada di antara kalian yang mau dan mampu untuk bantu aku, dan semoga ke depannya masalah ini akan menjadi lebih baik (menurun/tidak ada lagi). 


05 Juni 2021

Kesadaran yang Hampir Terlambat

 Ada hal-hal tertentu dalam hidup yang harus kupelajari dalam cara yang berat. Baru beberapa tahun terakhir ini aku menyadarinya, dan itu membuatku merasa sangat bodoh dan malu terhadap diriku sendiri.

Aku telah membuang-buang banyak uang, waktu, dan tenaga dengan sia-sia di hidupku.

Aku ingin mencegahmu dari mengalami kebodohan serupa atau tidak berlama-lama di dalamnya sepertiku.

Ini pelajarannya:

1. Jangan setia pada sesuatu yang salah, baik itu orang, organisasi, tempat kerja, atau apa pun. Setialah pada nilai-nilai dan kebenaran saja.


2. Jangan setia sebelum waktunya,

3. Di dalam setiap monopoli atau banyaknya demand/permintaan terhadap sesuatu itu ada potensi kesewenang-wenangan/kezaliman, bukalah opsimu sebanyak-banyaknya agar tidak terjebak dalam monopoli atau kesewenang-wenangan orang lain, sehingga opsi dan demand terhadapmu pun banyak. Kamu juga bisa memilih untuk mendapatkan yang terbaik.


4. Nama besar dari sesuatu tidak menjamin sesuatu itu baik. Segalanya itu subyektif, lihatlah perlakuan mereka terhadapmu. Meski banyak orang bilang mereka baik, tetapi kepadamu tidak, ya berarti mereka tidak baik. Apa yang kamu alami maupun standarmu itu valid.


5. Harapkan yang terbaik, tetapi bersiaplah untuk kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Milikilah fleksibilitas atau kemampuan beradaptasi terhadap perubahan apa pun. 


6. Terkadang kehidupan melemparkan "kotoran" ke wajahmu. Kamu boleh sedih ataupun marah, tetapi jangan lama-lama. Segeralah membersihkan kotoran itu lalu melanjutkan hidupmu kembali.


7. Ada orang-orang atau hal-hal yang tidak untuk selamanya. Memilih apa yang juga memilihmu terkadang dapat memudahkan hidupmu. Semua orang dan semua hal saling memilih, pastikan kamu dan dia saling memilih satu sama lain.


8. Investasi terbaikmu harus kamu tujukan pada dirimu sendiri, bukan passive income, anak, pasangan, atau apa pun.


9. Kemampuan indera-indera kita itu terbatas, tak semua yang kamu indera itu nyata. Perhatikan apa yang kamu indera dan apa yang tidak kamu indera.


10. Selektiflah akan segalanya. Lakukanlah learning dan unlearning sepanjang waktu. Hidup kita bukan tentang segalanya, tetapi tentang hal-hal yang teristimewa dan terpenting saja.


11. Sahabat terbaikmu adalah amalmu.


12. Yang paling peduli padamu dan sayang kamu adalah Allah dan Rasulullah.


13. Tidak semua orang/hal akan memilihmu, tetapi kamu harus selalu memilih dirimu sendiri. Perlakukan dirimu sebaik-baiknya. Dirimu adalah aset terbesarmu.


Dan aku nulis sebanyak ini itu aslinya berawal dari terlambatnya aku menyadari adanya lowongan pekerjaan yang bisa tutup sewaktu-waktu, bahkan dengan segera setelah diposting/dipublikasikan atau setelah mendapat kandidat yang tepat. Padahal, aku melamar sampai buanyak gitu lho. Sering juga dulu pinjam koran Jawa Pos Sabtu milik tetangga, lalu aku melamar untuk loker di Sabtu itu dan Sabtu sebelumnya, dan mengirimkan lamaran pekerjaan itu bahkan hingga seminggu setelah loker Sabtu terbaru itu dipasang. 

Dan itu banyak sekali. Mungkin sudah ratusan. Itu pun belum termasuk yang dari web atau sumber lain. Selain itu, aku juga percaya deadline yang tertulis pada lowongan-lowongan tersebut. 

Ketika aku kemudian menemukan di Jobstreet, IG, ataupun FB ternyata lowongan-lowongan itu bisa kilat banget hilangnya/terisinya, di situ aku merasa "Apa yang telah kulakukan selama ini? Bodoh banget. Kenapa aku baru nyadar/tahu?"

Tapi ya sudah terlanjur terlambat tahu, daripada nggak tahu sama sekali. Cuma, penyesalan itu ada dan besar.

Kecepatan dan ketepatan itu penting. CATET.

01 Juni 2021

Review Buku "How to Deal With Emotionally Unavailable Men"

 


"Emotionally Unavailable Men"/pria yang tidak tersedia secara emosional selalu menjadi topik yang menarik bagi saya. 

Termasuk sering juga saya bertemu atau berinteraksi dengan mereka, sehingga sempat membuat saya berpikir apakah saya juga emotionally unavailable atau apakah kami punya daya magnet bagi satu sama lain.

Buku ini menjawab dengan jelas pertanyaan-pertanyaan tentang hal terpenting yang sangat ingin diketahui orang-orang tentang pria yang tidak tersedia secara emosional: apa ciri-cirinya, kenapa bisa seperti itu (apa penyebabnya), apa yang tidak disukainya, bahkan bagaimana menjadi menarik di mata mereka dan menjadi sosok ideal di mata mereka.

Kalau dibilang buku, ini tipis sekali dan tidak terlalu mengikuti sistematika penulisan buku, tetapi kalau yang kamu butuhkan cuma isinya/intinya, ini enak dibaca karena bahasannya to the point. Singkat, padat, jelas, dan praktis.


17 Mei 2021

Waspada, Mental Pengemis Semakin Membudaya

 

Hidup tak selamanya indah, pun tak semua orang bisa sukses di dalamnya. Sebagian orang masih berusaha bekerja, tetapi sayang sebagian sisanya bermental peminta-minta. 

Ya, sudah bukan rahasia kalau tak semua pengemis memang tak berpunya. Ada yang memang bermental demikian, memang pekerjaannya. Bahkan, sederet nama pengemis sudah tak tanggung-tanggung lagi kekayaannya, sudah menjadi miliuner atau bahkan triliuner.

Aku terkejut mendengar kisah seorang tamuku waktu silaturahmi hari raya Idul Fitri kemarin. Momen unjung-unjung berubah menjadi horor. Dia jadi takut membuka pintu rumahnya karena anak-anak kecil pengharap uang saku hari raya naudzubillah jumlahnya. Ada 50 lebih, tak dikenal, dan kalau dibiarkan masih akan menambah pasukannya entah menggemuk menjadi berapa.

Di sekitarku sendiri tahun lalu ada, tetapi tidak seheboh itu. Bahkan, anak Kristen pun ikut, seolah meminta "jatah".

Masih tentang mental pengemis, dia pun bercerita tentang pengemis-pengemis yang membludak jumlahnya di pemakaman-pemakaman di seputar Ramadhan atau hari raya Idul Fitri. Dan mereka pun memaksa agar semuanya diberi dan sama rata.

Seketika aku teringat pengalamanku sendiri beberapa tahun lalu saat belajar mengaji di Masjid Al Falah Surabaya. Mengerikan, pengemisnya bejibun, menyambut para jamaah yang keluar masuk di sana, sambil memaksa. 

Aku tak yakin kalau semua pengemis di segala tempat tadi benar-benar tak berpunya. Mental-mental pengemis seperti ini sangat memalukan dan harus dibasmi, jangan sampai mencoreng Islam. Padahal, Islam sendiri menyukai orang yang mampu memelihara diri dari meminta-minta.

Akan tetapi, mengapa mental-mental pengemis ini masih subur saja dan ikut menjadi budaya tahunan di negara kita?


11 Mei 2021

Cara Membedakan Kapsul Buah Makassar Asli dan Palsu

Kamu pengguna kapsul Buah Makassar? Sudah tahu belum kalau ada yang palsu? Bisa nggak kamu membedakannya?

Nah, kapan hari aku kan beli di tempat baru karena di tempat biasa habis dan sudah lama tidak berjualan. Aku gambling nih ceritanya karena harga di tempat baru murah banget, apalagi online, aku nggak tahu ori nggaknya. Tapi ibu sempat bilang gpp, kalo nggak ori ya nggak diminum atau dibuat percobaan aja dan dihentikan kalau nggak cocok. Akhirnya beli deh.

Entah intuisi, blink, atau apa namanya, waktu produknya benar-benar datang, kami merasa ada yang janggal. Sepintas aku merasa penampakannya kok lebih burem dan beda pegangannya.

Ternyata ibu pun merasakan hal yang sama. Bedanya, ibu merasa isinya cuma sedikit.

Lalu ibu membandingkan dengan produk dari toko yang biasa dibeli karena stoknya sudah ada lagi, dan benar feeling kami.

Aku nggak tahu apa itu namanya intuisi karena feeling itu ada karena ada pembandingnya. Kami sudah pernah mengindera produk sebelumnya.

Oke, langsung saja ya ini bedanya:


Buah Makassar asli/original:

1. Ukurannya lebih kecil, pxlxt = 6,5 cm x 6 cm x 6,5 cm,



2. Hologram perekat tutup atas dan depannya ada tulisan "ORIGINAL"-nya (besar) dan "ASLI" (kecil)



3. Pada seluruh sisi kemasan/dusnya itu penuh dengan hologram bertuliskan "ORIGINAL"

4. Sachet di dalamnya juga full hologram bertuliskan "ORIGINAL"



5. Kapsulnya berwarna merah dan putih





6. Cara menulis expired date-nya seperti ini:



7. Warna dusnya lebih gelap

8. Harganya jauh lebih mahal


Sekarang yang palsu ya:

1. Ukurannya lebih besar, pxlxt = 7,5cm x 6,5cm x 7cm



2. Hologram perekat tutup atas dan depannya ada tulisan "AM" (besar) dan "ASLI" (kecil)




3. Pada seluruh sisi dusnya tidak ada hologramnya

4. Sachet di dalamnya tidak ada hologramnya, tapi ada tulisan "original"-nya.




5. Kapsulnya berwarna merah dan putih (sama)


6. Cara menulis expired date-nya seperti ini:



7. Warna dusnya lebih terang


8. Harganya jauh lebih murah (tapi nggak jaminan ya, bisa aja dimahalin kalo mau)


Nah, itu ya bedanya. Hati-hati, kita beli kan ingin sehat, jangan sampai malah jadi sakit.

09 Mei 2021

Review Buku "The Luck Factor"

 


Orang beruntung dan orang sial. Benarkah ada orang yang bawaannya sering beruntung atau sering sial?

Sepertinya hidup tidak adil ya kalau ada yang semacam itu. Richard Wiseman, seorang psikolog yang memang tertarik dengan hal-hal yang unik/di luar bidang yang disukai psikolog lain pun penasaran untuk menelitinya.

Ternyata, memang ada penyebabnya mengapa beberapa orang tampak lebih beruntung sementara yang lainnya tidak. 

Buku ini diawali dengan tes untuk mengukur poin keberuntunganmu. Kalau poinmu rendah kemungkinan besar kamu akan sering sial, tetapi jangan khawatir karena di sana disediakan pula solusinya. Kamu hanya perlu mengikuti saran tersebut dan rajin melatih serta menerapkannya.

Menariknya lagi, buku ini seakan seperti rangkuman konsep keberuntungan dalam menerapkan perintah-perintah dan larangan-larangan dalam agama Islam jika kamu ingin mendapatkan penjelasannya secara ilmiah. Meski terdapat di dalam agama Islam, konsep ini berlaku secara umum/universal sehingga siapapun yang menerapkannya bisa beruntung di dunia. Sementara untuk di akhirat, sebenarnya prinsipnya sama, cuma ada beberapa aturan tambahannya.

Di antara hal-hal yang mungkin masuk ke dalam bahasan buku ini misalnya kepercayaan pada ramalan, berjudi, larangan sedih berlebihan ketika orang yang disayangi meninggal, konsep "jiwa yang tenang", dan masih banyak lagi kalau kamu punya input agama banyak dan kemampuan untuk mengintegrasikan mereka dengan isi buku ini. Banyak yang masuk/tercakup. Aku hanya menuliskan contoh yang agak implisit, contoh yang eksplisit mungkin kamu sudah bisa menemukan sendiri.

Buku ini adalah buku Richard Wiseman ke tiga yang kubaca. Pertama, "59 detik", buku ini sangat excellent bagiku, bagus banget dan berkesan banget. Buku ke duanya adalah "Lupakan Berpikir Positif, Saatnya Bertindak Positif" (aku lupa judul pastinya). Buku ke dua ini pun tak kalah bagusnya. Jadi, aku penasaran dengan buku-bukunya yang lain, sampailah aku pada buku ke tiganya ini, "The Luck Factor". Setelah membaca 3 bukunya yang bagus semua, kiranya aku bisa menyimpulkan bahwa nama Richard Wiseman adalah jaminan mutu. Karya-karyanya pasti bagus. 

Buku-bukunya sangat menarik dan ilmiah, tetapi cara penulisannya cukup luwes dan bergaya populer. Khusus untuk para penulis yang ingin mengubah karya ilmiahnya ke dalam bentuk buku, boleh banget lah ya ngintip cara Richard menulis/menyusun buku ini.

08 Mei 2021

Review Buku "How to Live With A Huge Penis"

 


Pertama ketemu judul buku ini aku kaget. Betapa tidak, biasanya cowok-cowok itu kalau nggak insecure masalah ukuran yang kekecilan ya sebaliknya bangga banget atau bahkan sampai ekshibisionis kalau merasa ukuran "organ pribadi"-nya itu gede.

Mungkin keyakinan itu berawal dari film p*rno atau asumsi mereka sendiri kalau cewek itu suka cowok dengan anu besar, semakin besar semakin disukai/semakin memuaskan, dan semacamnya. 

Aku lebih kaget lagi setelah baca isi buku ini, betapa menderita atau tersiksanya pemilik huge p*nis/OMG (Oversize Male Genitalia) dan pasangannya ini. Bisa sih berhubungan s*ksual tetapi berbeda, perlu perlakuan khusus. Tapi deritanya nggak cuma itu, ngenes pokoknya, melas banget. Baca ini mungkin akan bikin kamu terbawa perasaan.

Nah, berapa panjang dan diameter p*nis saat er*ksi yang digolongkan ke dalam OMG, seberapa menderita mereka, apa saja penderitaan mereka dan pasangannya, bagaimana cara mengatasi atau meminimalkan penderitaan psikologis dan fisik mereka dan pasangannya sehingga mereka bisa hidup "normal"/lebih baik, beberapa sisi menguntungkan dari memiliki p*nis raksasa, dan sejarah orang-orang terkenal yang memiliki masalah serupa dibahas di dalam buku ini. Kamu juga mungkin kepo kan ada nggak versi cewek yang menderita OMG? 

Hhmm, mulai sekarang kamu harus unlearning ya, nggak perlu gede-gedean "itu" lagi. Ukuran biasa aja gpp. Etapi ukuran biasa itu seberapa? Nah, untuk skala-skala ukuran panjang dan diameter p*nis saat er*ksi, mulai dari yang mikro (mikrop*nis), rata-rata, sampai yang OMG juga disertakan di dalam buku ini. Cari dong bukunya biar kamu tahu termasuk kelompok yang mana.

Membacanya mungkin akan membuatmu lebih ramah dan empati kepada para pemilik/penderita OMG sekaligus bikin kamu nggak obsesi lagi untuk besar-besaran "burung". Mensyukuri milik sendiri dan nggak kepo dengan milik "tetangga" sampai harus megang atau ngintip "punya mereka". 

Sepanjang alat k*laminmu bisa berfungsi dengan baik ya udah, nggak usah ribet banding-bandingin ukurannya.

Review Buku "Tribe of Mentors: Short Life Advice from the Best in the World"

 



Huft. Ini judulnya short life advice tapi nggak short sama sekali. Halamannya buanyak, 641 halaman. So, ini tebel banget. Yang short itu saran-saran dari para ahli di dalamnya. Ya aslinya ada yang short dan ada yang long, tapi setidaknya satu orang ahli nggak sebuku juga sarannya. Masih termasuk pendek.

Ini penulisnya, Timothy Ferriss, niat banget nulisnya, sampai menginterview 131 orang yang sukses di bidangnya masing-masing (kalau aku nggak salah hitung).

Ada 11 pertanyaan umum yang diajukan, tetapi nggak semua responden tadi mendapat rata sebelas-sebelasnya. Pertanyaannya bagus-bagus. Aku jadi ingat waktu baca buku "Resep Cepat Kaya", salah satu resepnya adalah "Ajukan pertanyaan yang lebih baik". Kalau nanyanya salah, jawabannya juga salah atau gak mengena. 

Nah, pada buku "The Magic Question" itu ada contoh pertanyaan-pertanyaan bagus tetapi ditujukan untuk diri sendiri. Kalau di buku "Tribe of Mentors" ini adalah contoh pertanyaan-pertanyaan bagus yang ditujukan untuk orang lain. 

Aku nggak telaten baca setebel itu semuanya. Jadi, aku terutama lebih menyoroti jawaban dari pertanyaan "Rekomendasi buruk apa yang kamu dengar di profesimu atau area keahlianmu". Itu yang kubaca dari awal sampai akhir. 

Dari situ aku mendapat beberapa pemahaman baru tentang cara menyaring saran, quotes, dan lain-lain yang mana yang sekiranya benar atau bisa kuikuti dan mana yang tidak.

Kadang-kadang aku juga membaca jawaban dari 2 pertanyaan lain, yaitu saran untuk mahasiswa dan saran saat kita kewalahan/kehilangan fokus.

Buku ini kaya. Kamu bisa dapat banyak jawaban berharga dari 131 ahli sekaligus yang sukses di bidang masing-masing. Cara penyusunannya biasa, yaitu ahli 1 ditanyai lalu di bawahnya langsung ada jawabannya, lalu ahli 2, dst, tidak diolah. Jadi, langsung hasil dari tanya-jawab/wawancara itu yang ditulis.

Memang sih halamannya banyak banget, tapi sebenarnya bacanya bisa dicicil kok, atau bisa langsung kepoin jawaban dari ahli mana yang kamu tuju.

Layak dibaca.

07 Mei 2021

Review Buku "The Science Behind Long-Lasting Marriage"

 



"The Science Behind Long-Lasting Marriage" ini adalah snack book, yang snack banget, alias halamannya sedikit. 

Meski demikian, isinya mampu meng-capture atau memuat hal-hal penting yang membuat pernikahan itu bisa tahan lama/langgeng dan bahagia.

Aku nggak bisa mengatakan isinya baru karena aku sendiri sudah mempelajari dari banyak sumber sebelumnya, tetapi sebagai manusia kan aku sering lupa dan terdistraksi/kehilangan fokus gitu ya, jadi dengan menjejalkan diri dengan info-info serupa seringkali bisa menjadi pengingat diri, oh aku harus fokus lagi dengan poin-poin penting yang itu, gitu. Nah, saat membaca buku ini aku membuat beberapa catatan dan ada yang relate banget denganku tetapi sempat kulupakan/kuabaikan dan aku jadi ingat lagi.

Buat kamu yang mungkin jarang atau nggak pernah baca buku serupa (tentang relationship/pernikahan) atau nggak pernah mendapatkan informasi semacam itu dari sumber lain, buku ini termasuk cukup baik dalam menyarikan faktor-faktor utamanya saja. Pada beberapa halaman sih ada beberapa bagian yang seperti diulang-ulang terus, maksudnya sebagai penguatan/penekanan, tetapi bagiku bikin sedikit kurang nyaman, bosan, dan bertele-tele. Lalu, meski judulnya science, kayaknya sisi science-nya kurang kuat deh.

Tapi secara keseluruhan buku ini bagus. Orang kan banyak yang masih bingung apa sih faktor utama yang harus dicari dari calon pasangan dan apa yang bikin rumah tangga langgeng dan bahagia, nah itu dibahas di sini.

Poin terbaik dari buku ini bagiku adalah buku ini ditulis secara berimbang alias fair/adil, bijak gitu. Dia netral, tidak ditulis untuk gender tertentu dan tidak berupa tuntutan, tetapi lebih ke refleksi diri/refleksi bersama. Banyaaaak banget buku pernikahan itu yang bacanya aja itu bikin mbencekno, yang berat sebelah lah, nyalah-nyalahin satu pihak lah, nggak ngertiin cewek/istri lah, dll yang umumnya pro cowok/suami. Jadi, ini beda. 


06 Mei 2021

Review Buku "Confident You: An Introvert's Guide to Success in Life and Business"

 


Di dunia yang didominasi ekstrovert dan tampak lebih menguntungkan bagi ekstrovert, para introvert memiliki tantangan-tantangan tersendiri agar bisa beradaptasi dan sukses di dalamnya.

Tak jarang label-label buruk disematkan pada introvert karena kepribadian introversinya, mulai dari bodoh, tidak care/apatis/cuek, sampai dengan tidak normal harus diterimanya.

Saya pribadi bahkan pernah beberapa kali menemui gangguan mental kerap ditujukan pada pribadi-pribadi yang introvert, termasuk dianggap antisosial.

Akan tetapi, beberapa situasi kerja/bisnis memang membutuhkan introvert untuk sesekali lebih sosial. Nah, tantangan-tantangan semacam itulah yang kemudian dibahas di dalam buku ini sekaligus diberi solusinya. Total ada 15 tantangan yang diulas di sini dan menurut saya itu cukup membantu bagi para introvert untuk meniru atau mengadopsi caranya.

Buku ini dibuka dengan pemahaman tentang introversi dan bahwa orang introvert itu tidak satu jenis/seragam, tetapi bermacam-macam. Penulis mengikuti MBTI jadi ada 8 jenis kepribadian introvert. 

Intinya para introvert itu harus mengenali dirinya sebaik mungkin, dia termasuk MBTI mana kemudian kelebihan dan kekurangannya apa, dan apa hal yang paling menantang baginya serta solusinya.

Buku ini ditulis oleh 2 introvert yang menurut MBTI beda jenis introvertnya. Isinya singkat dan to the point, cocok buat kamu yang nggak suka bacaan bertele-tele sekaligus mungkin bisa cepat kamu praktekkan biar bisa cepat juga dapat manfaatnya.


05 Mei 2021

Review Buku "In Sheep's Clothing"


Buku ini bagus dan best seller. Kalau kamu biasa baca buku tentang narsis, psikopat, abuse, manipulasi, dan semacamnya, kamu mungkin menemukan banyak buku yang nggak peduliin beda narsis, psikopat, dsb, yang penting ditunjukkan gejala umum orang yang berbahaya itu seperti apa. Penyederhanaan semacam itu bisa merupakan keuntungan dan bisa juga tidak. Buat kamu yang pengen tahu lebih detail beda pastinya, disampaikan dengan cara sederhana dan nggak kayak buku kuliahan banget, buku "In Sheep's Clothing" ini cocok buat kamu, tetapi kamu perlu bikin oret-oretan/catatan biar lebih paham karena itu nggak berbentuk bullet/poin, tetapi paragraf-paragraf.

Kemampuan penulisnya dalam membedakan masing-masing golongan toksik atau mental disorder tadi menurutku cukup menjadi bukti nyata kepakarannya. Dia bisa menyampaikan perbedaan-perbedaan tersebut secara sederhana, nggak pakai DSM dan semacamnya. Kamu nggak perlu mengingat sebanyak itu yang ruwet banget.

Contoh kasus ada, begitupun dengan solusi. Namun, aku tidak tahu apakah solusi-solusinya itu cukup aplikatif untuk mengatasi masalah manipulasi ini atau lebih sekadar teori tetapi susah dipraktekkan atau tidak tahu akan sukses atau tidak untuk dipraktekkan.

Tetap butuh keberanian dan hal-hal lainnya agar berhasil. 

Untuk cara penulisan maupun strukturnya aku lebih suka "The Emotionally Absent Mother" , sedangkan yang lebih enak dan lebih jelas lagi penjelasannya itu aku suka buku semacam "Why Does He Do That", di situ penulisnya seperti sangat logis dan sangat memahami manipulasi/abuse yang terjadi. Semacam detektif gitu, jadi pembacanya itu bisa dapat clear sekaligus clarity.

Overall, bagus. Silakan dibaca. Cocok jadi teman untuk dibaca dengan buku "Why Does He Do That" dan "Manipulation (karya Sarah Nielsen)".


26 April 2021

Review Buku "7 Keajaiban Rezeki"



Buku "7 Keajaiban Rezeki" ini mega best seller. Fenomenal. Meski demikian, aku tidak suka buku ini. Dulu aku juga pernah seperti itu, meskipun orang-orang suka, aku tidak. Ada penulis lain yang nggak terima kalau aku nggak menilai sama buku-buku yang disukai oleh mayoritas pembaca lain. Tapi kan itu hakku. Yang ditanya aku ya pendapatnya subyektif sesuai yang kurasakan.

Kembali ke buku "7 Keajaiban Rezeki" ini aku sudah sampaikan tadi kalau aku termasuk yang tidak suka. Terlepas dari banyaknya yang berhasil setelah menerapkannya sekalipun, aku tetap tidak suka.

Buku ini isinya sebenarnya biasa, tidak baru, cuma penulisnya pandai mengolahnya. Sesuai dengan branding Ippho Santosa "otak kanan" dan penjelasan di dalam bukunya sendiri, buku ini ditulis dengan sangat tidak terstruktur. Sangat kacau. Dia melompat-lompat dari satu bahasan ke bahasan lain yang jauh banget bedanya. Bikin aku dan mungkin orang-orang yang disebutnya dominan/kelompok "otak kiri" pusing bacanya. Ya memang di buku ini penulisnya jadi terlihat berwawasan sangat luas tapi bahasannya melantur ke mana-mana.

Tidak cuma itu, di dalamnya juga banyak memuat "cocoklogi" alias nyocok-nyocokin sekenanya. Dan kalau kamu termasuk golongan kiri, maka di sepanjang buku ini penuh hinaan dan sindiran bagimu. Apa-apa yang dipandangnya lucu/humor, nggak lucu blas buatku. Nylekit alias menyakitkan hati. Guyonan yang nggak sehat.

Ini menurutku buku agama yang dikemas populer, tetapi aku nggak suka cara yang digunakannya itu, yang bagiku tidak santun.

Aku pribadi pun bukan termasuk orang yang suka menggolong-golongkan otak kanan, kiri, dsb karena kita butuh kedua bagian otak tersebut dan keduanya pun bekerja sama di dalam otak kita. Dan tidak benar bahwa otak kanan segitu baiknya dan hanya memuat yang baik-baik saja, begitupun sebaliknya, tidak benar pula otak kiri seburuk itu dan hanya memuat yang buruk-buruk saja.

Terlepas dari buku ini yang mega best seller atau pendapat mayoritas orang yang mungkin positif terhadap buku ini, buat aku pribadi "no".


23 April 2021

Review Buku "Think Straight"




Sebelum bahas buku ini aku mau cerita dikit ya. Aku tuh merasa lucu, sebagian orang berkata, "Orang-orang itu kakean (kebanyakan) mikir/merencanakan, kurang action atau execution." Sebagian lain lagi bilang, "Orang-orang itu males mikir. Mereka pengen kamu yang mikir buat mereka."

Nah, lo, sebenernya orang-orang itu kakean mikir atau males mikir?

Mungkin isi buku ini bisa menengahinya. Orang-orang mungkin memang mikir, tetapi mikir apa dulu nih? Mikirnya bermanfaat apa nggak? Mikirnya berkualitas apa nggak? Itu pembedanya.

Beneran nih buku keren banget. Sudah isinya positif, nulisnya enak, sepanjang membacanya pun aku jadi tertegun dan banyak merenung. Penulisnya mengajarkan cara berpikir yang keren abis. Untuk ajarannya sendiri aku nggak yakin kalau baru, beberapa sama dengan buku-buku sejenis, tetapi untuk jumlah halaman yang sangat minim dia padat berisi, langsung menuju ke poin-poin pentingnya, dan bisa menggugah. 

Isinya singkat banget, bahkan beberapa halamannya tidak terisi penuh, tetapi justru itulah yang membuat enak dibaca, dengan bahasan-bahasan pendek per bagian-bagiannya.

Cara berpikir yang dijelaskan di dalam buku inilah yang berhasil membantu penulisnya menata kembali hidupnya setelah berada di titik yang terendah.

Setelah kemarin membaca buku "The Magic Question" yang membawa aura positif pada diriku, membaca buku "Think Straight" ini juga mendukung aura positif itu gitu loh. Baca 2 buku itu baik untuk menata ulang mindsetmu sehingga bisa lebih positif memandang hidup dan lebih berfokus pada solusi (lebih solutif/berorientasi pada solusi).

Kalau menurutku sih, cara mereka mengajar juga enak. Nggak bikin betmut-betmut atau perasaan negatif di diri.

Sesuai judulnya, buku ini tentang memperbaiki cara berpikir. Dengan pikiran yang lebih jernih, benar, dan terarah nantinya kamu akan membawa pikiran yang sudah lebih tertata tadi mewujud ke dalam action/tindakan yang lebih tepat pula. Jadi, tetep tidak berhenti pada berpikir saja. Untuk memperbaiki tindakanmu, perbaiki dulu pikiranmu. Gitu.



20 April 2021

Beraninya Kamu Menjamin Poligami sebagai Syarat Masuk Surga

 

Apa jadinya jika surga hanya seharga poligami? Barangkali para wanita akan berbondong-bondong bersedia dipoligami, sementara para pria bersorak kegirangan. Meskipun tidak enak-enak banget atau tidak enak sama sekali, tetapi kalau tiket surga hanya poligami, ya kenapa tidak? Tidak perlu susah-susah melakukan ibadah lain, tidak perlu takut dosa, tidak perlu mampir dulu ke neraka, bahkan tidak perlu mencicipi siksaan-siksaan dulu. Dosa kita langsung nol. Otomatis. Poligami mah jadi keciiil. Enteng.

Memang ada yang bilang begitu? Ada. Tidak persis sih, tetapi ada dan tidak cuma seorang. Banyak. Saya sering menjumpainya. Beberapa pria begitu berlebihan dalam menyikapi poligami atau tepatnya berusaha mencuci otak (brainwashing) atau memanipulasi dengan ujaran-ujaran tentang itu. Mereka bilang, “Wih, calon penghuni surga, nih,” atau “Masya Allah, wanita salihah,” atau perkataan serupa, “Hanya wanita yang ikhlas yang mau dipoligami.”

Tiba-tiba saja tiket surga, kesalihan, dan keikhlasan mengalami penurunan dan penyempitan makna menjadi tentang poligami saja. Asal wanita mau dipoligami berarti dia salihah, berarti dia ikhlas karena mau berbagi suami, dan pasti masuk surga. Begitu saja. Simple, bukan?

Ck...ck...ck..., sungguh kelewatan. Terlepas dari hukum poligami sendiri yang masih menjadi perdebatan/mengandung perbedaan pendapat di kalangan para ulama, saya pikir tindakan pria-pria tersebut berlebihan. Hanya karena mereka ingin berpoligami atau mengikuti pendapat sebagian ulama yang mungkin mengatakan hukum poligami adalah wajib, bukan berarti mereka bisa berbicara seenaknya. Surga itu mahal dan hanya bisa digapai dengan rahmat Allah. Kemudian untuk menggapai rahmat Allah tersebut kita berikhtiar untuk menjadi hamba-Nya yang salih/salihah, melaksanakan kebajikan dan menjauhi dosa, dan sebagainya, bukan tinggal bersedia dipoligami lantas otomatis salihah dan menjadi calon penghuni surga.

Kita harus sangat berhati-hati berbicara tentang poligami karena Islam sangat disorot terkait poligaminya (diolok-olok), meskipun sebenarnya poligami bukanlah monopoli Islam. Orang selain Islam juga berpoligami. Malahan, Islam hanya membatasi jumlahnya. Betul bahwa poligami itu ada dan dibolehkan di dalam Islam. Betul pula bahwa Rasulullah itu berpoligami. Akan tetapi, poligami-poligami yang ada sekarang ini telah banyak diselewengkan oleh pelakunya dan oleh orang-orang tertentu. Hal ini tentu akan berakibat buruk bagi wanita, bagi citra Rasulullah, dan bagi Islam itu sendiri. Poligami-poligami yang ada tidak lagi mendatangkan kebaikan atau keharmonisan, melainkan celaan, cibiran, perceraian, dan lain-lain.

Mereka yang berpoligami biasanya berdalih kesalihan, meskipun tidak selalu. Ada juga yang berdalih penyakit atau lainnya. Mereka yang berdalih kesalihan biasanya mencitrakan dirinya salih atau mencitrakan bahwa wanita yang mau dipoligami itu salihah. Terkadang bahkan ada yang seperti bilang, “Kamu dosa lho kalau tidak mau dipoligami.” Anehnya, di antara berbagai kewajiban atau sunah, yang ditonjolkan malah poligaminya. Tidak jelas apakah mereka melaksanakan juga kewajiban-kewajiban dan sunah-sunah yang lain dan apakah mereka melaksanakan kebajikan-kebajikan dan menjauhi dosa-dosa. Apakah pendekatan mereka terhadap calon-calon pasangan poligaminya itu benar? Dan apakah ketika mereka mencari calon itu mereka mengutamakan kesalihannya? Atau malah mengutamakan kecantikannya, keseksiannya, kekayaannya, atau lainnya? Mari kita amati lebih saksama.

Poligami-poligami yang ada saat ini itu begitu anehnya. Banyak penyimpangannya. Ada yang memalsukan statusnya dengan mengaku perjaka atau duda, ada yang untuk gaya-gayaan saja (merasa super/hebat karena mampu menikahi banyak wanita), ada yang masih kecil sudah mempoligami, ada yang sering berbohong, ada yang tidak mengurusi istri-istri dan anak-anaknya dengan baik, ada yang menganggap poligami itu tren sehingga dia ikut-ikutan, ada yang miskin tetapi berpoligami, ada yang berpoligami untuk s*ks dan mengeruk harta istri-istri kayanya (dengan pelet), dan berbagai penipuan atau penyimpangan lainnya.

Mungkin Anda juga pernah mendengar suatu kampanye terang-terangan atau terselubung dari kaum pria yang mengatakan bahwa jumlah pria di Indonesia itu sudah langka. Jumlah wanita itu sudah teramat banyaknya. Dengan kata lain, sudah seharusnya wanita berpoligami atau tidak kebagian suami. Begitu terus diulang-ulang di berbagai biro jodoh atau biro taaruf sehingga sebagian orang mungkin menganggapnya sebagai suatu kebenaran. Nyatanya, jumlah pria di Indonesia masih lebih banyak dari wanita. Asal tidak zonasi, jumlahnya masih cukup. Dirjen Dukcapil, Zudan Arif Fakhrulloh merinci jumlah total penduduk Indonesia per tanggal 30 Juni 2020 sebanyak 268.583.016 jiwa, dengan 135.821.768 pria dan 132.761.248 wanita.

Bila Anda belum pernah mendengarnya mungkin Anda pernah mendengar yang satu ini, yaitu saat kaum pria bercanda ingin istri yang bermacam-macam sifatnya/kelebihannya, jadi bisa merasakan istri dengan sifat yang berbeda-beda.

Apakah poligami seremeh itu? Perilaku pra-poligaminya saja buruk, perilaku selama dalam poligami pun buruk, dan entah perilaku misal ada perceraian dari poligaminya. Yang seperti itu mereka masih mengaku nyunnah, masih berani berkata tentang kesalihan. Apa pantas?

Tidak semua wanita antipati terhadap poligami. Sebagian dari mereka sekadar tidak mau dipoligami. Sebagian sisanya mungkin mau dipoligami, cuma ya jangan begitu lah caranya. Gunakan cara-cara yang baik.

Mungkin bagi sebagian pria, berbicara semacam “Wih, calon penghuni surga, nih,” itu biasa saja. Mungkin mereka belum tahu atau mungkin lupa pernah ada kisah percakapan antara 2 orang, yang satu sepertinya lebih alim/baik dan yang satunya sepertinya pernah melakukan dosa besar. Si Alim ini lalu berkata, “Kamu tidak akan masuk surga.” Ternyata Allah menegurnya dan membalik keadaan mereka, “Beraninya kamu mengatakan kalau dia tidak akan masuk surga. Aku telah mengampuninya dan aku memasukkanmu ke neraka.” Kurang lebih begitu, tetapi dengan redaksi saya sendiri. 

Atau pernahkah Anda mendengar kisah Barsisho, seorang pria yang ibadahnya ngetop banget selama ribuan tahun? Ketika malaikat mengaguminya dan menduganya sebagai calon penghuni surga, Allah menegurnya, karena malaikat tidak tahu endingnya/penilaian total dari Allah atasnya. Itu yang ibadah ngepol aja seperti itu. Lha ini malah cuma poligami bisa jadi tiket surga itu gimana ceritanya?

Surga itu adalah hak prerogatif Allah, hati-hatilah berbicara. Terkadang kita tidak bermaksud/berniat buruk tetapi ternyata Allah murka dan mencatatnya sebagai suatu keburukan. Kita tidak ingin bukan mengalami yang demikian?

19 April 2021

Review Buku "The Magic Question"


Buku "The Magic Question" ini menarik dan luar biasa. Pembuatannya terinspirasi dari seminar Tony Robins. 

Cara kerjanya unik, tetapi berhubungan dengan NLP, neurosains, psikologi, dan fisika kuantum.

Dengan menerapkannya, penulisnya, Bart A Baggett, berhasil mendapatkan hal-hal yang diinginkannya melalui jalur khusus, yang mudah, tetapi tidak curang. Bahkan, seringkali tanpa biaya.

Metode yang digunakan di dalam buku ini bekerja berdasarkan cara kerja otak, yaitu dengan melatih otak untuk melihat hal-hal yang positif, berfokus pada solusi, dan membuat pertanyaan yang lebih baik. Karena ternyata pikiran dan niat kita bisa benar-benar mengubah materi fisik. Kita tinggal berfokus pada apa yang kita inginkan.

Magic Question ini bekerja pada sistem otak yang dinamakan RAS (Reticular Activating System). Metode ini diklaim oleh penulisnya lebih efektif daripada papan impian, visualisasi, afirmasi, atau perencanaan tujuan.

Ngomong-ngomong soal pertanyaan yang lebih baik, aku jadi ingat buku lain berjudul "Resep Cepat Kaya". Di situ tertulis, salah satu resepnya adalah dengan mengajukan pertanyaan yang lebih baik. Aku jadi lebih paham maksudnya setelah membaca buku ini.

Buku ini menggunakan pendekatan yang unik, berisi permainan-permainan juga, plus bahasanya sangat friendly dan enak cara menulisnya. Alurnya itu enak. Begitupun kesatuan dan koherensinya itu dapet banget. Mulus dan lancar jaya. 

Tak lupa diberi cara-cara menulis pertanyaan yang tepat dan contoh-contoh pertanyaannya.

Nih buku keren banget pokoknya. Baca sendiri aja deh.

18 April 2021

Review Buku "It's Not Me, It's You"


Ini adalah buku tentang cinta, asmara, atau relationship. Buku ini ditulis oleh Patrick King, seorang dating coach. Namun, aku tidak tahu dia dating coach untuk pria, wanita, atau kedua gender.

Nah, sesuai judulnya, buku ini isinya sesuatu yang dianggap kebenaran oleh penulisnya. Jadi, bukan berisi teknik-teknik untuk ngedapetin inceranmu. Isinya adalah perbaikan persepsi, perspektif, atau keyakinan (belief) dari para jomblowan-jomblowati yang bikin mereka susah dapat jodoh ideal mereka. Banyak orang menyimpan pikiran atau belief yang merusak atau tidak menguntungkan bagi hubungan dan itu harus dibetulkan dulu agar hubungannya lebih sehat dan lebih baik, misalnya konsep adanya "the one" yang ternyata salah.

Sebagai buku yang ditulis oleh cowok, cukup terasa bahwa dia berusaha berimbang dan nggak berat sebelah. Ada effort ke arah sana gitu, walaupun hasilnya ya entahlah proporsional dan berimbang beneran apa nggak. Setidaknya, mending daripada sebuah buku lain yang juga ditulis pria, yang pernah kubaca. Gaya bahasanya pun lumayan, tidak agresif, tidak kasar atau meledak-ledak, dan nggak se-nyebelin yang melulu tentang menyervis cowok. Lumayan ramah untuk dibaca cewek sebagai pemilik jenis kelamin yang berbeda. 

Membaca ini membuatku sedikit punya gambaran tentang pikiran/perasaan cowok yang disampaikan dengan netral bin woles, nggak seperti bahasa cowok-cowok yang nggak kesampaian cintanya lalu marah-marah dan ngomel-ngomel nggak jelas. Meskipun kata "cowok" terlalu umum, setidaknya penulisnya adalah salah satu manusia berjenis kelamin cowok.

Buku ini disusun dengan lumayan enak, terdiri dari beberapa bahasan pendek yang bisa dibaca tanpa harus urut.

Agak unik memang, di saat buku-buku relationship lain membahas sisi "do"/"action"/kesuksesan PDKT-nya, buku ini malah membahas sisi otak (belief)-nya, memaparkan kondisi kedua gender itu kira-kira seperti apa, dan mengajak mereka untuk lebih pengertian atau berempati terhadap satu sama lain.


17 April 2021

Review Buku "Get Momentum"


Tak banyak yang bisa kukatakan mengenai buku ini. Buku ini bagus, tetapi isinya tidak baru. Secara garis besar b. aja seperti buku-buku pengembangan diri lainnya. Cuma cara menulisnya yang beda-beda dan ada modifikasi sedikit pada strateginya.

Menurutku, buku ini cocok untuk kamu yang setengah terencana: nggak bebas banget tetapi juga nggak detail banget rencananya. Rencananya global aja tetapi tetap terstruktur dan bisa membuatmu fokus. Ini bukan tipe semacam kamu bikin rencana tahunan, trus dipecah jadi bulanan, trus dipecah jadi mingguan, dipecah lagi jadi harian lalu jam-jaman. Nggak kayak gitu. Lebih simpel kok.

Kalau kamu tipe orang seperti yang kumaksud, coba aja baca buku ini.

15 April 2021

Review Buku "The Compound Effect"


The Compound Effect adalah buku karya Darren Hardy. Di cover buku yang saya baca sih nggak tertulis best seller, terjual sekian copy, dsb tetapi beberapa pembaca dari luar negeri/bule merekomendasikannya.

Darren Hardy itu praktisi, jadi dirinya sendiri menjadi bukti kesuksesan metodenya. Namun, buku ini lebih kaya dari itu karena selain ditulis berdasarkan pengalaman pribadinya, dia juga mengambil sumber dari interview orang-orang sukses lainnya, CD, dan lain-lain. Selain itu, dia juga menguraikan cara dia menerapkannya serta cara-cara modifikasi yang dilakukan oleh orang lain yang telah disesuaikan dengan diri mereka masing-masing.

Penulis nggak saklek pembaca harus menerapkan persis dia sepenuhnya. Dia cuma menginspirasi dan menunjukkan bahwa dia menggunakan cara "ini" dan cara "ini" bekerja dengan baik untuk dia.

Kalau kamu suka baca buku pengembangan diri, ya nggak jauh beda sih. Seperti modifikasi saja. Kamu akan tau orang-orang semacam Darren ini sangat terencana. 

Compound Effect itu tentang kumpulan efek dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten. Kalau hal kecilnya positif, maka efek jangka panjangnya akan positif; begitupun sebaliknya. Itu baru 1 hal "kecil"/yang kita anggap remeh. Bayangkan kalau hal-hal "kecil" yang negatif itu banyak, efek negatifnya tentu semakin besar.

Buku ini ditulis dengan gaya bahasa dan cara menulis/urut-urutan yang lumayan enak, jadi bacanya juga lumayan enak. Cuma font dan layout-nya nggak begitu enak dibaca. 

Di sini itu lumayan banyak contoh penerapan atau modifikasinya. Saat baca kamu mungkin akan kepikiran cara yang mungkin cocok untuk dirimu sendiri, tetapi misal kamu mau nyontoh persis step by step-nya juga sudah jelas banget.

Di bagian akhir tak lupa penulis mengingatkan untuk action/praktek. 

Meskipun buku-buku semacam ini isinya mirip-mirip, kamu bisa coba dan tentukan metode mana yang paling tepat buatmu.

Sebagai tambahan, Darren Hardy ini sepertinya Family Man juga lho. Jadi, urusan kerjaan dan pasangan/keluarga sama okenya. Mungkin cocok buat kamu yang cari role model orang sukses yang seimbang antara karir dan keluarganya. Tinggal baca buku ini atau kenali penulisnya lebih jauh.


28 Maret 2021

Review Buku "Freelance Confidential"

Dunia freelancing itu berat, tetapi masih banyak orang yang menganggapnya sebagai pengangguran atau tidak bekerja. Baik orang di luar rumah maupun di dalam rumah sering menganggap demikian. Itu menjadi tantangan tersendiri bagi freelancer yang bekerjanya di rumah atau memiliki anggota keluarga yang tidak pengertian.

Aku agak susah mendeskripsikan buku ini, dibilang panduan itu sejak awal penulisnya sudah memperingatkan kalau ini bukan panduan tentang aktivitas freelancing. Jadi antara panduan dan bukan, nanggung gitu lho. Artinya, panduannya itu general aja, nggak spesifik atau mendalam. 

Buku ini isinya penuh data dan diagram tentang kehidupan freelancer, baik full time ataupun part time. Di sana ada gender, jenis pekerjaan freelancing-nya, tingkat kepuasan, beban kerja, pendapatan, korelasi dengan pendidikan, dapat klien dari mana, dan lain-lain. 

Data-data tadi melengkapi penjelasan umum penulis tentang seluk-beluk kehidupan freelancer, seberat apa dan cara survive-nya bagaimana. Lalu di bagian akhir data dan tabel tadi dikumpulkan jadi satu. Sebagai penutup dari buku ini ada link-link yang berhubungan dengan freelancing: tempat cari job, komunitas, contoh portofolio, dan lain-lain.

Ya gitu deh, menurutmu itu panduan, bukan?

Jadi, misal kamu nyari yang lebih teknis semacam gimana cara bikin lead, cold email, surat penawaran, SEO, atau semacamnya nggak ada di sini.



25 Maret 2021

Review Buku "Higher Unlearning"


Mana yang lebih membunuh manusia, rusa atau hiu? 

Kalau kamu menjawab hiu, kamu seperti orang kebanyakan. Yang lebih membahayakan dan mematikan itu rusa.

Ada banyak hal yang mungkin kita yakini padahal salah. Oleh karena itu, kita harus learning, unlearning, dan re-learning setiap waktu. 

Manusia itu suka ikut-ikutan dan pandangan ahli sering dianggap sebagai kebenaran. Kalau kita renungkan, banyak sekali hal yang dulu dianggap tidak mungkin sekarang menjadi mungkin. Ada pula hal yang dulu ditolak akhirnya malah mendapat Nobel.

Terkadang, "hukuman" terhadap orang yang berbeda itu begitu kejam. Dari dihina, diserang, dipenjara, dicopot dari jabatannya, bahkan lebih buruk lagi.

Pernahkah kamu membaca biografi Warren Buffet? Dia sukses karena melawan arus. Berani berbeda tetapi paham dasarnya. Atau, pernahkah kamu membaca buku "Factfulness"? Penulisnya membuktikan kalau apa yang dipikirkan/dikhawatirkan banyak orang selama ini itu salah. Orang-orang terpelajar atau bahkan para ahli pun salah. Atau kamu pernah membaca "Switch" atau "Think Like A Freak" atau lainnya tentang keyakinan yang salah itu? 

Misal semua orang berkata tentang kasus sosial "A" padahal itu bukan masalah sama sekali, mungkin kamu akan dicap nggak berperikemanusiaan, jahat, bodoh, egois, atau lainnya.

Ada fakta psikologi juga bahwa orang lebih suka sama/sependapat daripada dimusuhi/tidak diterima masyarakat. 

Orang-orang yang lantang, "berlabel", ahli, atau bahkan pendapat mayoritas itu juga belum tentu benar lho. Bahkan, ada buku yang mengupas bagaimana setiap pribadi itu berbohong. Otakmu pun kadang berbohong, inderamu berbohong, dan lain-lain.

Jadi, penting banget kita untuk unlearning setiap waktu. Buku ini wah kueren banget. Dibacanya juga enak, formatnya enak, dan kemungkinan akan membuatmu lebih berpikiran terbuka (open mind) bahwa ada hal-hal yang mungkin tidak kamu tahu. Mungkin saja keyakinanmu salah atau sudah jadul/usang. 

Buku ini dibuka dengan kuis lalu jawabanmu dicocokkan dengan bahasan dia satu per satu. Jadi, lebih nyata kelihatan kalau keyakinanmu bisa salah dan kamu perlu unlearning.

Wis pokoknya kamu kudu baca. Enak ini diformat kayak permainan gitu, dibagi per bab pendek, dan halamannya juga sedikit.

Menarik dan penting untuk dibaca.

 


21 Maret 2021

Review Buku "The Emotionally Absent Mother"

Suatu hari aku kepo saat baca cover buku yang intinya tentang rahasia kekayaan sepanjang masa. Kupikir isinya tentang langkah-langkah atau trik-trik sukses/bisnis gitu. Tahunya apa? Isinya full tentang afirmasi-afirmasi positif.

Aku sudah tak asing dengan berbagai buku afirmasi, tetapi masih ada keraguan kuat atas keberhasilannya.

Bob Proctor malah puluhan tahun seingatku khusus mendalami masalah ini. Brian Tracy juga sempat menyinggung tentang afirmasi di bukunya. Bahkan, ada seorang pria di IG yang memposting video testimoni bagaimana dia bisa sukses berkat afirmasi.

Aku masih tetap pada pikiranku, "Masa, sih?"

Kemudian aku juga membaca buku "Mind Over Money" tentang betapa dahsyatnya mindset mempengaruhi seseorang, termasuk kondisi keuangannya. Ada juga buku-buku psikologi tentang anak yang terjebak "mindset miskin" dari keluarganya. Sampai suatu ketika ada penulis buku (relationship kalo ga salah) juga menceritakan kesuksesan metode afirmasi pada kliennya. 

Buku "The Emotionally Absent Mother" ini pun sama, memasukkan afirmasi positif juga sebagai salah satu terapinya (metode healingnya). Buat anak yang ibunya suka berkata negatif atau kasar, kata-kata ibunya itu akan diserap anak sehingga menjadi "kebenaran"/"takdirnya". Itu kalau tidak dipulihkan akan mengganggu berbagai aspek kehidupan Si Anak. Nah, afirmasi positif adalah salah satu solusinya.

Buku ini sangat tipis, cuma 64 halaman, tetapi sangat sistematik, padat berisi, serta ditulis dengan santun dan halus. Isinya terbagi menjadi 2 bagian, bagian pertama itu all about emotionally absent mother (ibu yang tidak hadir secara emosional), ya penyebabnya, efeknya, maupun cara pemulihannya; sementara bagian ke dua itu khusus tentang pemulihan melalui metode meditasi. Pembaca akan dipandu step by step (langkah demi langkah) untuk mengatasi masing-masing efek cabang/efek turunan dari memiliki ibu yang tidak tersedia secara emosional ini. 

Aku bukan pendukung meditasi, jadi aku merekomendasikan bagian 1 buku ini saja.

Yang ingin tahu lebih lanjut baca sendiri ya.