30 Oktober 2020

Keluarga: Tempat Memberi yang Terburuk, Mengharap yang Terindah

Pada zaman pdkt dengan taaruf marak seperti saat ini, ada juga lho ustadz yang tidak setuju. Saya pernah lihat videonya. Gak main-main, nggak setujunya itu ngomongnya sangat kasar. Yang intinya tentang harga diri lelaki.
Harga diri apa ya maksudnya?
Mungkin nggak pernah ngamati kali ye, model CV taaruf cowok itu kayak apa dan perilaku taaruf mereka itu bagaimana.

Biar saya jelaskan sebagian (sisanya rahasia):
1. Cowok itu suka ga pake foto, pake pun kadang foto jadul, foto buram, foto yang wajahnya nggak keliatan, abstrak, foto dengan penghalang misal masker atau diburam-buram tiru-tiru cadar pada wanita (iri dia), dan foto-foto nggak jelas lainnya.

2. Foto cowok itu banyak yang asal-asalan, tidak dalam kondisi ganteng maksimal. Foto dan backgroundnya itu nggak banget deh.

3. Banyak bagian dari CV cowok yang nggak diisi atau diisi asal-asalan. 

4. Isi CV cowok itu implisit-implisit, yang intinya penipuan or ga jujur dengan kondisi sebenarnya. Pake kata-kata ambigu.

5. Ikut taaruf pun akun cowok itu modus-modus: diprivat-privat, akun kloningan, akun ga ada isinya/dikit isinya, akun tidak ditemukan, dll.

Dan masih banyak lagi modus-modus lain yang tidak akan saya jelaskan satu persatu. Intinya, kamu itu ngakunya baik-baik, niat nikah, tapi modusnya segambreng. Penipuan di mana-mana. Itu untuk jadi istrimu, bakal keluargamu.

Lalu saat komunikasi atau ketemuan, misal prianya sendirian tanpa perantara, itu omongan dan sikapnya juga gak karuan, kasar. Plus kalau ditanya seputar kualifikasi udah sensi sana-sini bikin makan ati.

Bandingkan dengan ketika pria melamar pekerjaan: surat lamaran pekerjaan dan CV dibuat sebaik mungkin, waktu wawancara/interview penampilannya baik, ditanya terkait kualifikasi bersedia menjawab dengan baik, foto dipilih yang ganteng maksimal, performa terbaik, bicaranya sopan dan kelakuannya juga sopan. Bila tak sesuai kualifikasi pun ya menerima kalau ditolak, sedangkan jika lolos ya bekerja sebaik mungkin untuk perusahaan itu dan mematuhi aturan-aturannya.

Ada juga hubungan antara orangtua dan anak.
"Sayang anak orang lain, kalau anakku sendiri sudah ku ... hhh," sambil getem-getem. 

Pernah nggak denger atau bilang semacam itu? 
Lebih ramah pada anak orang lain daripada anak sendiri.

Atau seperti ini. Rumah mau kedatangan tamu, maka segala hal terbaik (melebihi perlakuan pada keluarganya) disiapkan untuk tamunya. Jadi, perlakuan terhadap tamu lebih istimewa daripada keluarga.

Bagaimana dengan yang satu ini:
Pemberian atau servis terhadap tetangga atau orang lain lebih pol-polan daripada terhadap keluarga sendiri.
Kalau mau ngasih apa-apa itu orang lain dapat yang lebih besar, lebih banyak, lebih enak, dll. Orang lain dulu pokoknya, keluarga mah ntar aja kalau masih sisa, ntar aja yang kecil-kecil, dsb.

Trus ada juga kayak gini:
"Aku kalo sama keluarga dan sahabat itu beda (lebih blak-blakan alias vulgar dan sarkas), soalnya mereka itu kan sudah memahami aku."

Nah, lo. Jadi, terhadap keluarga dan sahabat perlakuannya itu lebih tidak manis, lebih tidak sopan, lebih kasar.

Ada juga bapak-bapak pas ditelpon bosnya bilang "Iya bos, iya bos," sambil manggut-manggut dengan suara rendah dan lembut, tapi saat sama istri dan anaknya malah berubah horor. Meminjam istilah seseorang, "Iya dia bijaksana tapi tidak bijaksini." Hahaha....

Suami bekerja, istri bekerja pas keluar rumah ganteng/cantik maksimal. Badan tegap, perilaku berwibawa, suara se-ramah dan se-menyenangkan mungkin. Pulang-pulang sudah ote-ote, singletan doang, koloran, dasteran, kucel-kucelan, bahu turun, nggak konek diajak ngomong, asal-asalan dalam berinteraksi dan berkomunikasi serta tinggal boboknya. Lalu mereka bertanya, "Kenapa perasaanku sekarang beda sama dia?"

Buwuh/acara keluar juga gitu. Rapi dan berpenampilan baik. Atau gak usah ke luar deh, misal aja pas ada tamu, penampilannya jadi baik toh? Katanya menghormati tamu. Tapi dengan keluarga? Nggak menghormati keluarga? 

Jadi sekarang tanya aja deh sama diri masing-masing. Kamu mengutamakan keluarga?
Ah, yang bener?

Berdamai dengan Alam Lain

Sebagai makhluk dari alam yang berbeda, tanpa sadar manusia sering menyakiti jin. Selain karena jin memang tak dapat dilihat oleh manusia, manusia tersebut memang kurang ilmunya. Meskipun perkabaran mengenai jin sebagian telah diungkap dalam Al Quran atau hadits, tetapi masih ada saja yang belum tahu atau tidak mau mengambil pelajaran. 

Sulit memang. Kadang-kadang kita hanya menebang pohon (misal bambu atau randu), eh ternyata jinnya marah. Kadang juga hanya berfoto selfie (swafoto) dengan naik ke atas batu besar, eh ternyata di sana ada jin yang sedang semedi. Bahkan, hanya dengan membakar rumput atau BAK di WC juga bisa diganggu jin.

Gangguan dari jin tersebut bisa berupa macam-macam, misalnya:

1. Kesurupan,

2. Gatal-gatal yang sulit sembuh,

3. Perceraian,

4. Susah jodoh,

5. Step/kejang-kejang, serta

6. Keguguran.


Untuk menghindarinya, jauhi larangan-larangan ini:

1. Membuang air panas sembarangan, misalnya air rebusan mie.

Membuang air panas ke wastafel, WC, selokan, dll berisiko menyakiti/membunuh jin di dalamnya serta hewan lain, misalnya semut.

Lebih baik campur air panas dengan air dingin dulu agar hangat, atau biarkan air panasnya dingin dulu baru dibuang.


2. Melempar sampah sembarangan

Konon ada jin yang berhubungan dengan ini, namanya jin jurig jarian.


3. Kencing sembarangan, misalnya mengencingi tulang atau lubang di tanah.

Lubang di tanah tidak boleh dimasuki air, apalagi dikencingi, ditutup, atau dicolok-colok, terutama lubang sarang ular.

Tidak dijelaskan lebih lanjut mengapa lubang tanah berhubungan dengan jin. Yang pasti, selain jin, lubang di tanah juga rumah hewan, seperti semut, yuyu, tikus, jangkrik, rayap, dan kelinci.

Karena kita tak tahu pasti aktivitas apa saja yang mengganggu atau mencelakai jin, maka sebaiknya setiap hendak melakukan apa pun minimal bacalah selalu taawudz (Audzubillahiminasysyaithaanirrajiim) dan basmalah (Bismillaahirrahmaanirrahiim). Apalagi, membaca basmalah tiap hendak melakukan sesuatu itu akan membuat aktivitas kita menjadi dirahmati Allah. 

Tak semua jin itu jahat, ada jin yang baik, ada pula jin muslim. Mereka tidak mengganggu tetapi tinggal di tempat kita, alamnya saja yang beda. 

Sudah banyak manusia yang sakit atau mati gara-gara balas dendam jin atas perbuatannya. Jangan sampai keburukan yang sama menimpa Anda.

Berhati-hatilah agar kita tidak menyakitinya atau mencari gara-gara, walaupun tanpa sengaja.


29 Oktober 2020

Setitik Cahaya di Ujung Sana

Di dunia ini, teori terkadang hanyalah teori. Sementara pendapat setiap orang sering kali hanyalah sebatas kacamata orang itu sendiri: pengalamannya, pengamatannya, pengetahuannya, bahkan lingkungan orang itu sendiri. Kamu perlu memperhatikan, tetapi tetap mengujinya satu persatu mana yang bekerja untukmu. 

Jangan percaya kalau orang berkata "Harus pakai ini agar sukses", "Kamu tidak akan sukses kalau tidak seperti ini," dan sebagainya. Yang biasanya bicaranya pun sambil kasar, menyindir, merendahkan, atau menghina.

Bertahun-tahun aku melahap buku-buku atau sumber-sumber lain, ada banyak sekali variasi aturan dan cara untuk menuju ke suatu tujuan. Tidak satu, banyak. Dan meski kadang aneh atau dipertentangkan nyatanya mereka itu bisa sukses dengan caranya masing-masing.

Biasanya, akan ada perkecualian. Dan jangan lupa, di atas segalanya ada Tuhan, yang tinggal berkata "Kun" maka jadilah dia (terwujud harapannya). Dan masih ada Tuhan yang malu jika tidak mengabulkan doa hamba yang meminta kepada-Nya.

Bila impianmu tinggi, tak serta merta dianggap tingginya sama oleh orang lain. Mereka yang tidak melihat dari kacamatamu sering kali menganggapnya terlalu tinggi, bahkan mustahil. Sementara orang lain sebaliknya, menganggap impianmu sama tinggi dengan mereka atau bahkan biasa saja/lebih rendah.

Mereka semua mempengaruhimu sehingga kamu mengalami distraksi/gangguan dan mungkin mulai mempertanyakan diri.

Terdapat 2 hal utama terkait mimpi yang dianggap tinggi:

1. Seberapa keras usahamu,

2. Seberapa cerdik kamu.

Barangkali ada opsi ke-3, yaitu seberapa beruntung kamu. Itu karena kadang-kadang orang lain tidak melihat usaha kita di belakang layar. Tentu saja, selalu berusahalah untuk melibatkan Tuhan.

Di sini, aku tak melulu bicara tentang kesabaran, kegigihan, konsistensi (perseverance/grit), karena memang ada hal lain yang juga berpengaruh, misalnya mendapatkan guru/ilmu pengetahuan yang tepat/cocok (bisa melalui media apa saja) dan yang tak kalah pentingnya adalah evaluasi dan kemampuan untuk berbeda dan kemampuan untuk bangkit kembali dan bertahan sampai akhir (pantang menyerah).

Hari ini kutuliskan ini di blogku karena aku seperti mendapatkan sesuatu yang baru: harapan baru, hasil yang baru, ledakan kemajuan dari momen yang bertahun-tahun seperti stuck, dan intinya aku ingin berbagi pengalaman hidup bahwa kamu harus hati-hati dengan belief-mu, harus hati-hati memilih teori atau pendapat yang kamu ikuti, dan apa-apa yang kamu indera. 

Perjalananku sangat panjang dan melelahkan. Bila kudeskripsikan dengan lebay itu laksana kamu berjalan tak tentu arah, hanya berbekal tujuanmu, dan di sepanjang jalan kamu dilempari batu dan t*i, menginjak duri, diolok-olok dan dinyinyiri, bahkan dihina-hina, dikatakan mustahil terwujud, dipingpong, disebut hanya pantas dapat yang buruk, dan lain-lain.

Aku ingin kamu lebih percaya pada Allah dan pada dirimu sendiri untuk mewujudkan mimpimu. Mencari cara-cara dan orang-orang yang tepat untuk membantumu, gagal dengan lebih baik dari waktu ke waktu. Seperti kata Thomas Alva Edison, kamu itu tidak gagal, kamu hanya menemukan cara yang tidak berhasil tetapi semakin mendekatkanmu pada tujuan. 

Tidak ada yang sulit bagi Allah.

Sering kali, pendapat dan pemikiran orang lain adalah tentang diri mereka sendiri. 

Semoga apa yang kudapat hari ini semakin ber-progress, sesuai harapan atau lebih baik dari harapan. Dan semoga kalian semua mampu menjaga harapan dan menemukan jalan menuju impian. 

Milikilah harapan walaupun kecil, sehingga kamu tidak akan b*nuh diri di dunia yang pahit dan memang melelahkan ini.



27 Oktober 2020

Tubuhmu Milik Siapa?


Tubuhmu milik siapa?
Jika kamu tanyakan pada banyak orang, jawabannya pasti beda-beda. Namun, siapa yang mengira jika salah menjawabnya bisa fatal, bahkan bisa berujung kematian.

Saya tuliskan saja ya 4 jawaban/pernyataan ter-umum:

1. Milik orangtuanya/ibunya


Terutama pria, disebut-sebut milik ibunya.
Orangtua merasa memiliki kita karena telah mengandung atau merawat kita. Akan tetapi, benarkah demikian?


Wrong. 


Penghormatan walaupun sangat besar tetap tidak mengubahnya menjadi kepemilikan. Malahan, hubungan semacam ini sering juga dijadikan dalih/modus bagi pria yang sebenarnya anak mama atau memiliki hubungan tidak sehat dengan ibunya. Ibu (ortunya) bisa sangat ikut campur dalam hidup dan pernikahan/rumah tangga anaknya secara berlebihan.


Kalau kamu milik ortu/ibumu, maka kamu berada dalam kendali/kontrol ortu/ibu, yang artinya juga kamu bisa diapa-apain sesuka mereka.


Para ustadz sering berlebihan dalam hal ini, terutama dalam konteks jodoh. Saya pernah mengingatkan salah satunya, tetapi mereka (entah dia entah admin yang menjawab di grup itu) menolak.


Itu fatal banget karena banyak ayat dengan tegas mengatakan bahwa semuanya itu milik Allah.

Contoh ayat-ayatnya bisa dibaca di web ini:

https://khotbahjumat.com/4886-kepunyaan-allah-lah-langit-dan-bumi.html


2. Milik pasangan/suami

Lagi-lagi masih terkait urusan asmara. 

Para muslimah dijejali paham bahwa istri itu milik suami, sedangkan suami itu milik ibunya. 

Jawaban perihal ini pernah dijelaskan dengan baik oleh motivator Indonesia, Mario Teguh, dalam acara Golden Ways-nya. Kalau milik kita, itu artinya bebas kita apa-apain. 

Pernah dengar kata pasangan posesif? Ya itu karena merasa memiliki. Makanya ada suami yang menampar, memukul, mengekang, atau memperlakukan seenaknya itu karena dia merasa memiliki.

Jadi, masih meyakini istri milik suami? 

3. Milik majikan

Ini juga sering kan kita jumpai. Majikan merasa memiliki pekerjanya karena merasa telah menggaji mereka. Tak heran jika ada cerita ART disiram air panas, disetrika, pekerja disiksa, dan lain-lain.

Ketiga hal di atas salah karena jika kita milik orang lain, orang lain itu tidak perlu melakukan apa pun terhadap kita. Tapi kita tidak, kan? Kita juga punya hak dari orang lain: suami, ortu/ibu, majikan, dll, yang kalau dibalik suami, ortu/ibu, majikan, atau orang lain juga punya kewajiban kepada kita.

Lalu bagaimana? Apakah kita milik diri sendiri?

4. Milik diri sendiri

Keyakinan ini juga populer. Bahkan, makin disosialisasikan sepertinya.


Akan tetapi, tahukah kamu kalau keyakinan ini juga fatal?


Ia berhubungan erat dengan berbagai hal/dosa, seperti:

a. Keperawanan,
b. Seks bebas,
c. Foto bugil atau tindakan menampakkan aurat,
d. Operasi plastik (Oplas),
e. Ganti kelamin,
f. Lgbt,
g. Tato
h. Miras dan narkoba
i. Tindik/piercing
j. Makan/minum berlebihan
k. Makan minum yg haram
l. Over kerja tanpa istirahat
j. Over ibadah
k. Over nges*ks, dll.

Apa pun bisa dan boleh kita lakukan pada diri sendiri karena merasa tubuh dan diri kita itu milik kita 


Tindakan menyakiti diri, merusak diri, mempermalukan diri, membahayakan diri, dll juga bebas kita lakukan karena merasa milik kita sendiri.

Dan tahukah kamu, di mana pernyataan otoritas terhadap diri sendiri itu banyak ditemukan?

1. Dalam konteks kep*rawanan

Artinya, terserah kamu mo nges*ks walo belum nikah asal tau konsekuensinya. Wong itu tubuh2mu sendiri. Itu paham yang dianut oleh mereka yang mungkin sudah tidak p*rawan alias menganut s*ks bebas atau minimal pendukungnya, walau bukan pelakunya.

2. Kata-kata itu diajarkan di sekolah khusus untuk menjadi bad boy, sebuah reframing untuk menaklukkan wanita korbannya. Jadi, ada ya "sekolah"-nya. Dan namanya bad boy tujuannya ya pasti selangkangan alias ngajak t*dur.

3. Hayo tebak di mana lagi?

Kata-kata itu digunakan oleh wanita-wanita yang berfoto b*gil dengan alasan meningkatkan rasa PD karena sepertinya mengalami body shaming. Atau mungkin juga tidak body shaming tetapi orangnya saja yang tidak PD dengan tubuhnya. Jadi mereka foto polos rame-rame (secara terpisah) untuk dikagumi body-nya apa adanya.

Dari sini kamu tahu kan, bahaya banget kalau menganggap tubuh kita sendiri itu milik orang lain atau bahkan milik kita.

Kita itu tak punya apa-apa, semua hanya titipan.


Diri kita termasuk tubuh kita itu milik Allah.
Bukan milik pasangan, bukan milik ortu, juga bukan milik kita sendiri.


Milik Allah. Artinya harus tunduk pada aturan-aturan Allah.

Jangan salah lagi ya. Tubuh kita itu milik Allah. Milik Allah.
Oke.





26 Oktober 2020

Ide-Ide Self Care Murah Meriah

 Pada berbagai buku kutemukan, stres pada manusia mengalami tren peningkatan. Mereka berjalan semakin cepat, apa-apa seperti terburu-buru dan berlomba-lomba, dan banyak mencurahkan perhatiannya untuk bekerja. Mereka seolah berlomba untuk meraih predikat yang paling sibuk, bahkan mungkin malu kalau tidak sibuk atau merasa bersalah saat bersantai atau beristirahat.


Mungkin kamu pernah mendengar, kalau orang lama tak berkabar, pertanyaan yang terlontar biasanya adalah "Sibuk apa sekarang?"

Lalu mereka berlomba-lomba menceritakan kesibukannya yang bejibun banyaknya.


Pokoknya sibuk, entah sibuk yang produktif atau sibuk karena tidak pandai mengatur waktu.


Tidak salah sih, karena memang manusia diciptakan dengan susah payah. Sejak Nabi Adam diturunkan dari surga, ya apa-apa kita harus lebih dulu berusaha. Tapi yang kumaksud, mbok yao sibuknya itu jangan berlebihan. Tubuhmu juga punya hak untuk istirahat atau self care: istirahat fisik serta istirahat mental.


Apalagi, saat pandemi Corona begini, banyak orang makin stres. Jadi, kebutuhan untuk self care juga meningkat. Yang gratis atau murah meriah terutama, karena kantong-kantong mereka banyak yang sedang krismon atau gersang.


Kita butuh, butuh banget pengendalian diri agar tetap "waras".


Yuk, intip ide-ide self care gratis atau hemat biaya ala aku berikut ini:


1. Memasak makanan murah,

2. Berkebun,

3. Membuat puisi,

4. Menulis,

5. Menggambar,

6. Mewarnai,

7. Dansa/menari,

8. Senam,

9. Berlatih bela diri,

10. Jogging,

11. Bersepeda,

12. Off sosmed (puasa medsosan)

13. Kreasi make up,

14. Merapikan barang/ruangan (bersih-bersih),

15. Bermain game,

16. Kreasi minuman (jus, sirup, dan sebagainya),

17. Tidur,

18. Mengaji,

19. Membaca buku,

20. Me time (menyendiri),

21. Perawatan tubuh (luluran atau lainnya),

22. Ikut kajian/ke masjid,

23. Positif self talk,

24. Menulis 5 hal yang disyukuri tiap hari,

25. Hindari toxic people (orang-orang toksik/beracun),

26. Minum teh relaksasi dan lain-lain,

27. Menonton film, motivasi, komedi/tayangan lucu, dan sebagainya,

28. Tidak membandingkan diri dengan orang lain,

29. Menjahit,

30. Mengelilingi diri dengan hal-hal baik dan indah,

31. Duduk-duduk di taman/tempat indah/bersama orang dekat,

32. Mendekorasi kamar,

33. Fotografi/memotret,

34. Makan es krim,

35. Tertawa,

36. Menangis,

37. Menulis diary, 

38. Pergi ke luar,

39. Menonton bioskop sendiri,

40. Rekreasi sendiri,

41. Membuat kerajinan tangan,

42. Menetapkan hari khusus ibadah,

43. Menghubungi/menghabiskan waktu bersama orang-orang yang menyenangkan,

44. Berbelanja secara terukur,

45. Bermain bersama hewan peliharaan,

46. Berolahraga, dan lain-lain.


Ada banyak hal menarik di dunia ini, daftar di atas hanyalah untuk inspirasi. Setiap orang itu unik. Jadi, mereka perlu menemukan apa yang sekiranya bekerja untuk dirinya sendiri.


Bekerja itu perlu, tetapi tanpa beristirahat atau self care yang cukup kita bisa bosan, menurun produktivitasnya, bahkan sakit atau meninggal.

Yuk, self care dulu! Nanti baru kerja lagi.



24 Oktober 2020

Alternatif Pendapatan Online bagi Blogger yang Perlu Diwaspadai

Kamu moralis? Anti maksiat? Membenci judi, pornografi, game online p*rno, LGBT, dan semacamnya tetapi kamu blogger yang sedang mencari pemasukan, pemasukan tambahan, atau alternatif dari Google Adsense? Perhatikan baik-baik hal-hal berikut ini.

Bertahun-tahun saya telah menjadi blogger, tentu sudah banyak hal yang saya coba, termasuk mencari berbagai sumber pendapatan terkait dengan blog saya. Menggunakan iklan online adalah salah satunya. Ada banyak ya jenis/tipe iklan dan namanya. Tipe iklannya misalnya popup, popunder, interstitial ads, native ads, banner/widget, link shortener/pemendek link, dan sebagainya; sedangkan nama iklannya misalnya Popads, Popcash, Adf.ly, Short.est, Yllix, dan sebagainya. Sudah banyak sekali yang saya coba, riset, amati, dan evaluasi dan tak mungkin saya ingat semuanya atau saya tulis satu persatu. Saya sampaikan intinya saja, nanti kamu yang mengecek sendiri tiap-tiap iklan yang kamu pilih itu.


Contoh iklan berisi judi

Ada banyak sekali testimoni atau review dari blogger-blogger yang ngakunya pakai iklan-iklan tersebut, saya jadi merasa perlu untuk membuat ulasan tandingan. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya tentunya. 
Saya dulu juga pasang lho dan kenapa saya akhirnya sebisa mungkin melepasnya (saya tidak pandai Javascript, jadi kalo sudah nyampur nggak selalu terdeteksi lagi/bisa merusak blog), itu karena iklan-iklan tersebut disusupi hal-hal tidak baik yang saya sebutkan di atas. Ada judi, unsur s*ksual, p*rnografi, game-game online yang auratnya terbuka banget atau mengandung sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai saya, dan maksiat-maksiat lainnya. Sialnya, poin iklan yang sangat besar justru berasal dari maksiat-maksiat yang sadar atau tidak telah ikut kita sosialisasikan tadi.

Ada penyedia iklan yang menyediakan opsi filter tetapi sengaja melanggarnya, ada juga yang memang tidak bisa difilter. 
Kamu dibohongi. Kamu ngaku soleh, anti judi, anti p*rno, tetapi kamu ikut menyebarkannya. Kamu ingin blogmu menyebarkan kebaikan, eh tapi di situ kamu juga ngiklanin produk-produk atau jasa-jasa yang mengandung keburukan.

Bagi blogger-blogger tertentu itu seperti pertentangan batin. Bagaimana tidak, ngeblog pun butuh biaya dan memang kita harapkan untuk mendatangkan keuntungan yang besar. Bagi blogger-blogger semacam itu, semoga dimudahkan untuk mendapatkan rezeki yang lebih baik (halal) dari jalan lain.

Pernah juga saya menemukan blog/web judi menggunakan cara lain untuk mengangkat ratingnya/peringkatnya di Google search. Kalau tidak salah dengan mengadakan event review untuk blogger. Jadi blogger-blogger sejumlah sekian orang pertama disuruh mereview tentang blog/web judi tadi plus menanamkan link blog/web judi tadi pada blognya. Tidak pakai disaring, siapa pun blogger tersebut bisa ikut, rewardnya juga lumayan dibanding kebanyakan. Karena namanya tidak eksplisit mengandung kata "judi", maka info event itu pun akhirnya ikut disebar oleh blogger-blogger yang sebenarnya anti judi. Bahkan, tidak menutup kemungkinan ada yang tertipu dengan ikut eventnya.

Ada pula model iklan lain yang berupa penipuan tombol download. Jadi kalau kita mau download sesuatu kita bisa bingung karena tombol downloadnya banyak. Mana tombol download yang benar-benar untuk konten yang kita harapkan? Jenis iklan Ini juga nggak bagus ya, menipu orang. Kalau bisa dihindari deh.

Yah, itulah beberapa alternatif pemasukan online yang perlu diwaspadai. Jangan sampai kita memakainya, bahkan ngajak-ngajak orang lain untuk ikut. Sedapat mungkin atau kalo nggak kepepet banget berusahalah mencari sumber pendapatan yang lebih baik, lebih halal, sehingga semoga lebih berkah juga. 










Manfaat Salam Ala Islam dalam Online Dating



Mengucapkan salam mengandung banyak hikmah dan manfaat. Di antaranya karena memuat doa di dalamnya dan bisa membuat sesama muslim saling berkasih sayang (memperkuat rasa kasih sayang di antara mereka). Semakin panjang/lengkap salamnya, semakin banyak doanya. Yang artinya, semakin banyak kebaikan yang akan diterima oleh kedua belah pihak tersebut: yang mendahului mengucap salam dan yang menjawab salam itu. Ganjaran itu otomatis karena menjawab salam wajib hukumnya dan menjawab salam dengan lebih panjang/lebih baik sangat diutamakan. 




Sayangnya, dewasa ini menyebarkan salam semakin dianggap kuno, kaku, tidak gaul, dan boring alias membosankan. Suatu basa-basi yang basi banget. Mending langsung menyapa dengan "Hai", atau bahkan langsung masuk ke pokok pembicaraan, misalnya: 

"Mbak, kamu besok gini gitu, nggak?"

"Gimana kabarmu, Dik?"

dan sebagainya.

Jadi, salam itu sudah mulai luntur. Orang Islam sendiri malu menerapkan salam sebagai bagian dari ajaran agamanya.
Saya pribadi bahkan pernah dikenali seseorang hanya karena sayalah satu-satunya yang memulai chat dengannya dengan mengucap salam.

Yang lebih menarik lagi, saya menemukan manfaat khusus salam bagi dunia perkencanan/percintaan (dating, terutama online dating). Urusan asmaramu bisa  teridentifikasi dengan lebih jelas dan kamu bisa lebih selamat kalau memperhatikan panduan-panduan salam di bawah ini:

1. Calon/lawan jenis menyapamu tanpa mengucap salam.

Artinya:

a. Dia memang tidak biasa mengucap salam dalam keseharian (tidak mengamalkan),

b. Dia kurang berprinsip, malu dianggap berbeda dari yang lain, takut dianggap nggak asyik, mudah terpengaruh sekitar,

c. Dia non muslim,

d. Dia orang yang error (tidak baik),
 
e. Dia menganggap "Assalaamu'alaikum" hanyalah salam untuk Arab. Dia lebih suka memakai "Good morning", "Selamat pagi", atau lainnya.




2. Lawan jenis tidak mau menjawab salammu

Artinya:

a. Dia tidak tahu bahwa menjawab salam wajib hukumnya (ilmu agamanya kurang),

b. Dia sengaja melanggar/mengabaikan meskipun tahu hukum dari menjawab salam.
Poin ini terutama jika dia balas pesanmu dengan langsung bercakap-cakap denganmu. Hanya saja dia tidak menjawab bagian pembukanya (tidak menjawab salammu).

c. Dia non muslim

d. Dia tidak tertarik padamu

e. Pria error/bukan pria baik-baik


3. Lawan jenis salah dalam mengucap atau menjawab salam

Artinya:

a. Ilmu agamanya kurang baik,
b. Dia sengaja mengolok-olok,
c. Dia meremehkan pentingnya salam/kebaikan dari salam itu sendiri
d. Dia orang yang selebor/sembrono/ceroboh, atau tergesa-gesa



4. Lawan jenis mengucap atau menjawab salam dengan singkat atau asal-asalan,

Artinya:
Bisa jadi dia pemalas, nggak niat, aslinya nggak biasa salam/terpaksa, sedang sibuk, tergesa-gesa, meremehkan pentingnya salam, atau sekadar untuk kepraktisan.

Saya pribadi tidak terlalu mempermasalahkan (kadang saya juga melakukannya), sepanjang singkatannya benar atau artinya tidak melenceng, tetapi tetap saya perhatikan/amati.

Kan ada tuh salam yang artinya jadi melenceng, misalnya singkatan "Askum", yang artinya celakalah kamu. Nggak jadi dapat doa baik, malah dapat doa buruk.

5. Jika lawan jenis menyapamu tanpa didahului salam lalu misal kamu ingatkan agar salam dulu tiap hubungi kamu, reaksinya akan terbagi menjadi:

a. Menghilang untuk selamanya,

b. Menghilang sementara lalu muncul lagi dan tetap meneruskan kebiasaannya tanpa salam,

c. Menjawab yang nggak nyambung (ngomong sendiri yang nggak jelas). Kalau di online dating dia ini robot/bot. Jadi, di dunia kencan online itu nggak semuanya orang, ada yang robot/mesin.

d. Menerima dan menjawab dengan woles. Misalnya: "Iya". Tapi tetap tak mau menjawab salam. Langsung melanjutkan percakapan berupa apa saja, yang jelas bukan "Wa'alaikumsalam".

e. Ngeles/mengelak/beralasan sudah menjawabnya tanpa ditulis (menjawab dalam hati atau menjawab dengan lisan), yang mana kamu nggak akan tahu dan nggak akan bisa membuktikan dia menjawab beneran apa nggak.



f. Menerima saranmu tapi hanya saat itu. Saat itu dia akan menjawab salam, tetapi lain kali dia menghubungimu lagi kamu harus tetap mengingatkannya berkali-kali,

g. Menerima diingatkan lalu setelahnya berubah permanen. Dia akan memperhatikan salam setiap berinteraksi denganmu.
Ini adalah indikasi awal lawan jenis yang tidak keras hati, mau diingatkan dan mau memperbaiki diri.

h. Bereaksi negatif (abusive), misalnya ngomel-ngomel, menghina, menyerang, berucap kasar, dan sebagainya. 

6. Lawan jenis menyapamu dengan salam, tetapi tidak sinkron dengan foto profilnya, isi profilnya, ucapan/tindakannya (akhlaknya) padamu, ibadahnya, dan lain-lain.

Artinya: pencitraan. Jadi dia itu hendak mengesankan baik, padahal aslinya bukan orang baik-baik. 

Seorang playboy/player pernah keceplosan membocorkan rahasianya, "Saya punya seperangkat alat untuk menaklukkan wanita target saya. Jadi, saya sesuaikan, kalau mau mengincar wanita jenis ini saya gunakan cara yang ini, kalau mau mengincar wanita jenis itu saya gunakan cara yang itu."

Begitu.


Tampaknya sederhana ya, salam doang. Tetapi dari salam kamu bisa menyaring lebih lanjut siapa-siapa yang hendak kamu kenali lebih dalam, siapa-siapa yang kamu beri kesempatan untuk menuju tahap selanjutnya, termasuk siapa-siapa yang abusive/berpotensi abusive dan horor.

Ini adalah manfaat sampingan dari salam dalam dunia percintaan/asmara.

Jadi, biasakanlah untuk mengucapkan salam:

Assalaamu'alaikum
Assalaamu'alaikum wa rahmatullah
Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Dan biasakan pula untuk menjawab salam:

Wa'alaikumsalam
Wa'alaikumsalam wa rahmatullah
Wa'alaikumsalam wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

Ada pahalanya, ada doa kebaikannya, ada juga manfaat sampingannya. Mengapa tidak diamalkan? Mengapa malu? Seharusnya kita malah bangga dan merasa beruntung dengan adanya salam ini.




21 Oktober 2020

Waspadai Saran Seperti Ini Saat Kamu Mencoba Kosmetik atau Obat-Obatan

Saya menemukan hal ini berulang kali. Banyak orang sudah menjadi korban. Saya sendiri pun pernah mengalaminya. Namun, karena pada dasarnya saya pemikir, hal itu menyisakan rasa skeptis di hati. Bahkan, saya cenderung menolak, meskipun "saran" itu dijejalkan dengan pemaksaan, hinaan, dan terkadang menyangkut pautkan dengan agama. Kalau sudah menyangkut agama maka jatuhnya nggak akan jauh-jauh dari "Kamu dosa, kamu buruk, kamu salah, kamu menyimpang dari agama", dan semacamnya, termasuk "Kamu bodoh" tentunya, karena disampaikan dengan tawa mengejek dan body language serta tone yang mendukung ke sana.


Jadi gini, jika kita sudah berhubungan dengan obat-obatan dan produk kecantikan kita akan sering menemukan orang (terutama penjual or salesnya dong) bilang "Gak pa pa Mbak/Mas, reaksi awalnya memang gitu, diteruskan aja nanti lama-lama kan (kelihatan hasilnya, misalnya wajah jadi glowing)". Padahal, yang punya muka udah gatel-gatel, udah jerawatan di mana-mana, udah tubuh gak enak banget habis minum obatnya, dan lain-lain tapi disuruh nerusin. Mo nunggu ancur banget apa baru berhenti? Nunggu mati dulu?


Trus ada juga namanya invalidasi. Kita itu gak cocok dengan produknya tapi salesnya itu bilang "Ah, nggak mungkin, orang lain semua cocok kok." Seolah kita atau wajah dan badan kita itu bohong. Tentu saja untuk menyelamatkan mukanya dari rasa malu. Ya namanya kondisi orang beda-beda ya, nggak bisa disama-samain. Apalagi misal kasusnya alergi obat gitu dipaksa terus diminum, waduh dah nggak tau deh errornya kayak apa itu yang minum jadinya.


Saya masih sering menemukan ini di marketplace atau komen-komen di review produk gitu banyak orang meyakininya/ketipu.


Jangan ya. Sayangi dirimu. Percayai efek yang dirasakan oleh wajah dan tubuhmu. Percayai sinyal-sinyal tubuhmu sendiri. Percayai dirimu. Jangan sampai udah nggak cocok tapi kamu malah nambah, beli lagi kosmetik atau obatnya. Itu sangat berisiko dan kamu yang akan nanggung sendiri akibatnya. Yang ngomong mah biasanya tinggal ngeles aja. 


Lain kali kamu ketemu kayak gitu lagi, ingat-ingat tulisan saya ini. 


15 Oktober 2020

Beda Situs Kencan Indonesia dan Bule


Hhh ... udah lama banget rasanya aku pengen nulis ini. 
Tiba-tiba ada hal yang mengingatkanku lagi.
Curcol nih ya ceritanya.

Aku mau bandingin or lebih tepatnya kasih pencerahan buat cowok-cowok Indonesia terutama yang amat sangat gak manis banget.

Key, dating site luar negeri atau bule yang kujadikan contoh di sini adalah Dating.com. Situs itu sangat amazing dan wow banget pokoknya. Kalau yang Indonesia nggak usah sebut nama ya, rata-rata sama. Mau birjo kek, biro taaruf kek, situs pertemanan kek isinya gitu-gitu aja.

Kamu ya kalo datang ke situs Dating.com wow rasanya itu kayak diperebutkan mati-matian oleh banyak pria. Cowok-cowok itu usahanya pol-polan buat ngedapetin hati kamu.

Biar gak makin penasaran ini ya kutulisin satu-satu bedanya yang drastis banget:

1. Foto profil
Fotonya bok ganteng-ganteng maksimal. Nggak ada tuh foto muka jelek, penampilan kusam, foto tiduran doang dengan wajah kayak belum mandi atau foto dengan background berantakan banget barang-barang yang berserakan di mana-mana. 
Fotonya oke banget, bahkan mungkin melebihi foto untuk ngelamar kerja. Kamu lebih berharga dari pekerjaannya dia. Kamu pantas lihat foto yang lebih baik. 
Fotonya dipilih yang bagus, banyak juga yang senyum.

2. Isi profilnya
Kalau orang Indonesia or dating site Indonesia isinya biasanya cuma tuntutan. Cewek yang saya cari begini begitu. Cara nulisnya itu juga nilai rasanya kasar kalau dibaca. Atau lebih parah lagi banyak yang bohong, palsu, jadul, atau gak diisi. Itu pun masih diprivat-privat, dirahasiakan. Curang juga. Ruwet pokoknya musuh cowok Indonesia itu.
Kalo di Dating.com cowok-cowoknya itu menawarkan hal-hal yang indah, tidak hanya menulis kriteria cewek yang dicari. Dan banyak lho yang nulis gak peduli umur dan fisik, lebih peduli tentang kecocokan/kompatibilitas. 

3. Sapaannya
Sejauh aku berinteraksi dengan mereka, cowok-cowok di Dating.com itu menyapa dengan ramah. Nggak seperti cowok-cowok Indonesia yang kasar-kasar hanya karena mungkin menganggap jumlah cewek lebih banyak dari cowok, umur terlalu tua menurut mereka, wajah nggak cocok menurut mereka, respon yang nggak sesuai harapan mereka, yah pokoknya bayangkan tentang segala sesuatu yang jauh dari kata manis. Kuasar pol. Bahkan untuk sesuatu yang hanya permulaan/pdkt. Mungkin mereka terlalu naif menganggap orang ngajak kenalan itu langsung jatuh cinta dan pasti mau sama mereka. 

4. Isi percakapannya
Di Dating.com itu ada notif, pesan, dan inbox. Notif ini mungkin robot yang bikin tapi kata-katanya juga manis-manis sih. Yah intinya itu pokoknya baik notif, pesan, atau inbox isinya ada perkenalan yang manis lalu ada action ngajak ketemuan. Kalo di Indonesia ngobrol doang bisa mbulet entah apa aja dan gak tau ketemunya kapan, plus ghosting juga, tiba-tiba ngilang.

Nggak tau ya, auranya itu enak banget gitu lho di Dating.com. Kayak bener-bener diinginkan, dirayu, diperebutkan, diperlakukan dengan baik. Gitu-gitu. Isinya manis-manis. Moodku sering membaik hanya dengan baca-baca di sana. 

Yah gitu deh. Beda banget kan sama perlakuan cowok Indonesia dan situs kencan Indonesia. Nggak menghargai blas-blas'o.
Kenalan tok aja auranya nggak enak. Mbaca tok atau liat fotonya tok auranya udah gak enak. Yang terbayang hanya beban dan betmut.

Mbuh kah.

Diperbaiki ya!
Sip 👍

14 Oktober 2020

Rumah Sakit Terancam Penuh karena Corona, Terapkan Cara Berwick Ini

 

Kasus positif Covid 19 di Indonesia menunjukkan tren peningkatan, dari total 203.342 orang pada 9 September 2020 menjadi 344.749 pada 14 Oktober 2020.

Tren peningkatan ini sempat menyebabkan masyarakat di 6 kabupaten/kota di Jawa Timur kembali ada di zona merah, 26 kabupaten/kota ada di zona oranye, 6 kabupaten/kota ada di zona kuning, serta tak satu pun kabupaten/kota yang ada di zona hijau.

Di Jakarta, masyarakatnya pun mengalami hal serupa. Gubernur Jakarta Anies Baswedan bahkan sampai mencemaskan memburuknya kasus Covid di Jakarta kini dibandingkan saat awal munculnya kasus Covid di Indonesia. Untuk menekannya, Anies terpaksa menerapkan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar penuh di Jakarta, sekaligus mewajibkan seluruh perkantoran di sana untuk bekerja penuh dari rumah (yang sempat menjadi polemik/dihebohkan).

Masyarakat resah, begitu pun 59 pemimpin negara lain sampai ikut menolak warga Indonesia datang ke negara mereka. Namun, hingga kini masih sulit untuk mengharapkan masyarakat Indonesia mengubah gaya hidupnya. Masih banyak dari mereka yang mengabaikan protokol kesehatan. Padahal, semua orang telah lelah, terutama para tenaga kesehatan. Sudah 10 bulan sejak pemerintah Cina mengumumkan munculnya Covid 19 di Wuhan Desember lalu, kehidupan kita baru mencapai tahap new normal. Hanya sebagian orang yang bisa menyikapinya secara positif, meskipun di antara mereka yang positif tadi pun masih ada yang sangsi akan keberadaan virus Corona.

Mengingat semakin sulitnya kita mengandalkan perubahan gaya hidup untuk mengatasi virus ini, masyarakat jadi semakin berharap pada vaksin. Mereka menganggap penemuan vaksin dapat segera mengakhiri kasus Corona di dunia. Alhasil, banyak negara berlomba menjadi penemu pertama vaksin Corona.

Namun, jangan lupa, penerapan vaksin masih menuai pro dan kontra. Sebagian masyarakat tetap akan menolak vaksin meskipun vaksin tersebut benar-benar ampuh sekalipun. Apalagi, baru-baru ini relawan yang bekerja untuk AstraZaneca dan Universitas Oxford telah didiagnosis mengalami myelitis transversal akibat vaksin yang diujikan padanya. Hal ini tentu akan membuat mereka tetap memiliki alasan kuat untuk menolaknya.

Kita membutuhkan solusi pendukung, selain penerapan protokol kesehatan dan vaksin. Jika tidak, para tenaga kesehatan akan semakin banyak yang tumbang. Begitu pun rumah sakit, akan semakin kewalahan. Untuk itu, kita bisa meniru cara Donald Berwick. Dikutip dari buku Switch, Berwick, seorang dokter dan CEO dari Institute for Healthcare Improvement (IHI) telah berhasil mengubah wajah perawatan kesehatan. Pada 2004, Berwick, memiliki beberapa ide untuk menyelamatkan sejumlah besar nyawa. Para peneliti di IHI telah menemukan bahwa tingkat "cacat" dalam perawatan kesehatan sebesar 10%. Kerusakan ini sangat tinggi, banyak industri lain telah berhasil mencapai kinerja pada tingkat kesalahan 0,1% (dan seringkali jauh lebih baik).

Berwick tahu bahwa tingginya kecacatan medis artinya puluhan ribu pasien meninggal sia-sia tiap tahunnya. Namun, ia tak punya otoritas untuk memaksa perubahan apa pun di industri, sementara IHI hanya punya 75 karyawan. Lantas, apa tindakan Berwick untuk mengubah semua itu?

Pertama, dalam pidatonya 14 Desember 2004, Berwick menetapkan target, maksimal 14 Juni 2006 pukul 9 pagi-18 bulan dari hari itu mereka harus sudah menyelamatkan 100 ribu nyawa.

Ke dua, Berwick memotivasi dan membuat para pendengarnya merasa perlu untuk berubah. Banyak di antara hadirin yang sudah mengetahui faktanya, tetapi mengetahui saja tak cukup. Jadi, Berwick membawa serta ketua Asosiasi Rumah Sakit Negara Bagian Carolina Utara dan ibu dari gadis yang terbunuh akibat kesalahan medis untuk ikut berpidato di sana. Selain itu, Berwick juga berhati-hati dalam memotivasi orang yang tak hadir di sana. Dia tidak menantang orang untuk "merombak pengobatan", tetapi untuk menyelamatkan 100 ribu nyawa.

Ke tiga, Berwick membentuk “jalan”. Dia mempermudah rumah sakit untuk menerima perubahan, di antaranya dengan membuat formulir pendaftaran satu halaman, petunjuk langkah demi langkah, pelatihan, kelompok pendukung, dan mentor. Dia sedang merancang lingkungan yang memungkinkan administrator rumah sakit untuk melakukan reformasi. Berwick juga tahu bahwa perilaku itu menular. Dia menggunakan tekanan teman sebaya untuk membujuk rumah sakit agar bergabung dalam kampanye. (Rumah sakit saingan Anda baru saja mendaftar untuk membantu menyelamatkan 100 ribu nyawa. Apakah Anda benar-benar ingin mereka bermoral tinggi?).

IHI sendiri pun mengusulkan 6 intervensi spesifik untuk menyelamatkan nyawa, misalnya meminta rumah sakit mengadopsi serangkaian prosedur yang terbukti untuk menangani pasien dengan ventilator, untuk mencegah mereka terkena pneumonia, penyebab umum kematian yang sia-sia. (misalnya meminta kepala pasien diangkat 30-45 derajat untuk mencegah sekresi mulut masuk ke tenggorokan).

IHI memudahkan rumah sakit untuk bergabung, dengan hanya menggunakan formulir satu halaman yang ditandatangani CEO rumah sakit. Dua bulan setelah pidato Berwick, lebih dari seribu rumah sakit telah mendaftar, tim IHI membantu rumah sakit tersebut menerima intervensi baru. Anggota tim menyediakan penelitian, panduan instruksi langkah demi langkah, dan pelatihan. Mereka mengatur panggilan konferensi bagi para pemimpin rumah sakit untuk berbagi kemenangan dan perjuangan satu sama lain. Selain itu, mereka juga mendorong rumah sakit dengan kesuksesan awal untuk menjadi "mentor" bagi rumah sakit yang baru saja ikut kampanye.

Meskipun banyak dokter jengkel dengan prosedur baru yang mereka anggap menyesakkan, tetapi rumah sakit yang mengadopsi menunjukkan sukses besar, sehingga mereka menarik lebih banyak rumah sakit untuk bergabung dalam kampanye itu.

Hasilnya, 18 bulan kemudian, tepat pada 14 Juni 2006 pukul 9 pagi, Don Berwick dan tim IHI telah berhasil meyakinkan ribuan rumah sakit untuk mengubah perilaku mereka, dan secara kolektif, mereka telah menyelamatkan 122.300 nyawa.

Strategi ini menarik. Kita dapat mengadopsinya untuk mengantisipasi penuhnya rumah sakit akibat membludaknya pasien Corona.

13 Oktober 2020

Penyebab Hampa, Kosong, Mati Rasa

 Numb

Hampa

Kosong

Mati rasa

Monoton

Tak berwarna

Bosan


Itu adalah kata-kata yang menggambarkan perasaan kosong dan datar-datar saja.


Di luar sana terdapat perbedaan atau pertentangan pendapat tentang numb ini, ada yang mengatakan memang kosong ada yang mengatakan kewalahan (overwhelm). 


Nah, bagaimana menurut saya?


Numb adalah kondisi yang terjadi karena:


1. Sebagian atau seluruh diri yang asli dari orang tersebut telah dihapus secara sadar atau tidak sadar, dengan paksaan atau tanpa paksaan.

Dia kehilangan kebebasan untuk mengekspresikan dirinya yang asli sepenuhnya. 


Hal ini membuat orang tersebut konslet, tidak sinkron antara:

a. Pikiran dengan perbuatannya

b. Pikiran dengan ucapannya

c. Ucapan dengan perbuatannya

d. Perasaan dengan perbuatannya

Misalnya dia terpaksa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya karena dipaksa bosnya, akhirnya dia tidak bisa enjoy dengan pekerjaannya. Tidak bergairah.


Contoh lain: pemilihan jurusan yang terpaksa, pekerjaan yang terpaksa, pernikahan yang terpaksa, pura-pura bahagia padahal sedang sedih, dan lain-lain.


2. Adanya standar ganda 

Ada orang-orang toksik atau narsis yang suka menerapkan standar ganda. Melakukan atau tidak melakukan sesuatu kamu tetep salah.


Misalnya gini: 

a. Baju harianmu dikatain jelek, tapi kamu juga ga boleh pakai baju yang lebih bagus katanya buat pergi, padahal dipakai buat pergi juga ga boleh katanya terlalu jelek.


b. Baju harianmu itu butuh disetrika tapi disetrika itu ga boleh katanya ngabisin listrik aja. Akhirnya kamu pake baju acak-acakan, gak rapi, dan dikata-katain.


c. Kamu dikatain gak mau bantu, pemalas, padahal tiap kamu bantu mereka mereka selalu gak puas dan nyari-nyari kesalahanmu dan gak mau dibantuin. 


Jadi kamu ada pada kondisi gak jelas, lakukan apa nggak ya? Akhirnya nol (0) netral, alias numb tadi. 


3. Tidak mendapat reward/apresiasi yang diinginkan/diharapkan.

Kebanyakan orang melakukan sesuatu dengan harapan atau tidak ikhlas. Ketika apa yang kamu lakukan diabaikan/dicuekin atau bahkan dihina-hina dan disalah-salahkan, keinginan untuk melakukan lagi menurun. Padam. Males. Tidak ada imbalan yang membuat kamu kecanduan/ketagihan untuk melakukannya lagi.


4. Kamu kehilangan dirimu sendiri karena terlalu suka menyenangkan orang lain dan terlalu peduli kata orang lain, padahal dirimu sendiri lebih butuh kamu senangkan dan kamu pedulikan.


5. Kamu bersama orang toksik atau palsu atau berada di lingkungan yang toksik. 

Jadi, kebutuhan emosionalmu nggak terpenuhi. Kamu merasa sendiri dan merasa nggak ada yang ngertiin kamu.


6. Kamu bersama orang yang tidak cocok dengan kamu atau berada di lingkungan yang tidak cocok denganmu atau tidak secara alami cocok denganmu.


7. Kamu diasuh oleh orangtua atau pengasuh yang toksik.

Kamu jadi kehilangan kebebasan dan takut mencoba hal-hal baru. Jadi bosen, gak kreatif, hidup seperti dalam penjara.


Trus solusinya apa?

Menemukan kembali dirimu yang asli, dirimu yang hilang, hal-hal yang membahagiakan kamu. Segala sesuatu yang kamu banget. Lalu menjadi dirimu sendiri.











09 Oktober 2020

Lepaskan Kelekatan pada Dunia, Nyalakan Harapan

 

Sadar atau tidak, manusia sering terlalu melekat pada seseorang atau sesuatu yang bersifat keduniawian, misalnya usahanya sendiri atau harapannya pada orang lain dan pada pekerjaan, kepandaian, kekayaan, atau apa pun selain Tuhan. Seolah mereka lalai atau lupa jika terlalu berharap dan bergantung pada makhluk akan membuatnya rentan kecewa.

Mungkin kita sudah familiar dengan orang-orang yang selalu melihat ke “luar” dan seolah hanya akan menemukan solusi di luar sana, yaitu pada segala sesuatu yang belum dimilikinya atau yang berada nun jauh di sana. Bisa jadi, hal yang demikian itu dipicu oleh perasaan enggan, gengsi, tidak keren, pikiran yang terlalu rumit, atau sekadar susah melihat tengkuknya sendiri.

Melihat ke “luar” banyak sekali macamnya, misalnya bila sedang bete ada orang yang melampiaskannya dengan makan atau berbelanja; bila stres mereka malah bepergian, bila menginginkan perasaan hebat mereka akan menaklukkan gunung tinggi, dan agar merasa atau dianggap bekerja mereka harus bekerja di kantoran dan di luar rumah. Jarang sekali ada orang yang mencari solusi dengan memanfaatkan apa yang ada dan berbahagia hanya dengan melakukan hal-hal sederhana.

Nah, kemunculan virus Corona membuat gerak-gerik kita semakin dibatasi dan memaksa kita untuk menerapkan kebiasaan baru di dalamnya. Pada saat banyak di antara kita yang di-PHK, susah keluar rumah, susah mencari sumber penghidupan di luar sana, dan susah menghibur diri di luaran, kita dipaksa untuk lebih memberdayakan apa yang ada di dalam, yaitu diri kita, milik kita, di rumah kita, dan aktivitas produktif yang masih bisa kita lakukan sembari tetap menjaga kesehatan. Saat ini pun saya berada dalam kondisi tersebut. Les privat saya dihentikan, royalti tidak jelas, buku-buku sulit sekali menembus penerbit, dan lomba menulis pun makin sulit saya menangkan. Dalam ketidakpastian hidup, saya terus berusaha untuk melepaskan atau mengurangi kelekatan saya pada hal-hal duniawi. Saya latih diri saya agar tak terlalu berharap dan bergantung pada makhluk atau segala sesuatu selain Tuhan.

Selama itu saya tak serta merta menjadi kuat, saya masih sering menangis dan memang saya mengizinkan diri saya untuk menangis, takut, ataupun bersedih. Saya hanya membatasi durasinya agar tidak berlama-lama. Tak lupa pula saya mengikuti akun-akun yang indah dan suportif serta mencekoki diri dengan segala bacaan dan tontonan dan orang-orang yang akan meledakkan efek tersebut, sekaligus menghindari orang-orang atau akun-akun yang memicu efek sebaliknya. Selain itu, saya juga beruntung masih memiliki tempat bercerita. Sembari tetap melakukan berbagai upaya peningkatan diri dan mencoba berbagai peluang yang ada, hal-hal di atas tadi sangat membantu saya.

Kebetulan juga, saya sempat berkenalan dengan seorang pria yang lebih sukses dan lebih mudah hidupnya setelah keluar dari kantornya dan berwirausaha. Pertemuan itu seolah menjadikan bukti semakin terpampang nyata di hadapan, bahwa rezeki seseorang tidak ditentukan oleh masa Corona atau tidak, bekerja dari rumah atau di luar rumah, bekerja ikut orang atau berwiraswasta, atau semacamnya. Alhamdulillah saya sendiri pun masih mendapat rezeki walau masih dalam masa pandemi dan berada di rumah saja. Saya percaya, bila Allah menghendaki, maka Ia tinggal berkata “Kun” (jadilah), maka jadilah dia.

Hingga detik ini pun saya masih terus berproses, masih memendam harapan. Benar, harapan, yaitu suatu pijar yang membuat jiwa seseorang tetap “hidup”, menjadi layaknya sebuah nyawa sekaligus penggerak. Dengan harapan, saya mengizinkan diri saya untuk bersedih dan lelah, tetapi tidak menyerah. Harapan pulalah yang terkadang mengingatkan saya akan kematian sebagai  pembatas antara kesenangan dan kesedihan sehingga saya tidak kehilangan arah.

Yah, begitulah dunia, tempat kita akan diuji dengan beraneka rupa dan harus selalu menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada. Oleh karena itu, kemampuan untuk bisa menggantikan kebiasaan apapun yang menghalangi, negatif, atau tak relevan lagi mutlak diperlukan. Cari dan temukanlah caramu sendiri yang cocok dan bekerja untuk dirimu. Cari terus sampai ketemu agar menjadi indah masa depanmu.

 

06 Oktober 2020

Renungan dari Janda Bolong

 Janda bolong.

Apanya yang bolong?

Apakah itu bahasa daerah suku lain yang kebetulan sama pengucapan dan tulisannya (homofon homograf) dengan suku yang saya tahu?

Atau ... ya memang artinya seperti yang saya pikirkan.


Kapan hari saya merasa aneh melihat judul berita mengandung kata "Janda Bolong". Ternyata nama sebuah tanaman dengan daun berlubang, yang sedang ngetren.

Apakah penamaan "Bolong" itu karena lubang tadi?

Saya tidak tahu.

Tapi, lagi-lagi dikait-kaitkan dengan genderisme.

Mengapa janda?

"Janda Bolong" apakah gabungan antara "Janda" dan "Sundel Bolong"?

Jangan-jangan besok-besok akan muncul juga tanaman bernama "Janda Gatel", "Janda Pocong", atau lainnya.

Ada tanaman "Janda Bolong", ada "Lidah Mertua", entah siapa yang memberi nama kok nama dari Indonesia itu jelek-jelek dan abusive.

Pikirkan bagaimana perasaan janda atau mertua atau siapa pun yang terkait dengan nama jelek buatan Indonesia.

Atau, apakah kita akan bangga jika ditanya orang nama tanamannya apa lalu kita jawab dengan nama jelek-jelek tersebut.

Terselip rasa syukur di hati saya bahwa nama internasional itu memakai nama latin, bukan nama Indonesia.

Nama dari Indonesia itu tidak sopan, jelek, abusive (kasar), dan menyinggung, seperti 2 nama yang saya contohkan tadi.

Tolonglah yang kasih nama "Janda Bolong" itu, yang mengizinkan/membiarkan/merasa biasa saja, serta yang mempopulerkannya/memasyarakatkannya, merenunglah, apakah nurani kalian sudah bolong juga? Sehingga perlu ditambal. Agar lebih berempati kepada orang lain dan memilih nama-nama yang baik saja sebagai identitas tanaman.


05 Oktober 2020

Cara Mengatasi Krisis Energi dan Membuat Hidup Lebih Sehat


Saya kesal dengan solusi yang tampak berbelit-belit dan aneh di Indonesia.

Misalnya adanya pabrik minuman keras dan rokok, kenapa itu dibolehkan berdiri sementara setiap hari kita sibuk kampanye dan merazia miras dan rokok tersebut, sibuk mengatasi kecelakaan yang ditimbulkannya, orang-orang yang sakit karenanya, zina atau perk*saan yang ditimbulkannya, dan sebagainya.

Sebenarnya pemerintah juga tahu pendirian pabrik itulah masalah utamanya.

Termasuk tentang masalah kesehatan di Indonesia. Tiap datang ke puskesmas atau rumah sakit pengunjungnya pasti membludak. Pendirian rumah sakit pun semakin banyak di mana-mana. Ya kalau dianggap pemerataan fasilitas kesehatan iya juga, tapi jangan lupa fokus utama kesehatan di Indonesia adalah membuat masyarakat sehat (tidak sakit), bukan menyembuhkan.

Diakui atau tidak makanan sehat lebih mahal daripada makanan yang tidak sehat. Lalu sepanjang waktu kita bergelut dengan penyakit-penyakit gaya hidup sebagai penyebab kematian tertinggi, yang jantung lah, diabetes (kencing manis) lah, hipertensi (darah tinggi) lah, obesitas (kegemukan) dan stunting (kekerdilan) lah, dan sebagainya.

Coba setidaknya pemerintah merenungkan dan memperhatikan hal ini, mengapa makanan sehat dan gaya hidup sehat itu lebih mahal di Indonesia?

Mengapa:

1. Makanan organik lebih mahal dari non organik?

2. Minyak kelapa (yg lebih sehat) 2-3 kali lipat lebih mahal dari minyak kelapa sawit?

3. Garam Himalaya atau garam laut yg lebih kaya nutrisi lebih mahal dari garam biasa atau garam beryodium?

4. Gula aren dan gula batu lebih mahal dari gula pasir?

5. Buah-buahan dan jus lebih mahal dari mamin yang tidak sehat.

6. Telur ayam kampung lebih mahal dari telur leghorn.

7. Sapi pemakan rumput (sepertinya juga)  lebih mahal dari pemakan makanan pabrik.

Dan semacamnya.

Bisakah kalian mengatasi itu dulu? Setidaknya bertahap.

Serupa dengan itu, saya tak akan membahas panjang lebar tentang energi, baik itu definisi, jenis-jenis, sumber, dan lain-lain. Itu sudah banyak dibahas oleh orang lain.

Saya akan langsung masuk pada solusinya saja. Saya yakin pemikiran saya ini berbeda dengan pemikiran-pemikiran atau solusi-solusi yang pernah ditawarkan orang lain yang biasanya berkisar pada penemuan sumber energi baru, alat-alat, dan lain-lain.

Pernah tidak saat Anda mau membeli barang Anda memperhatikan spesifikasi dan harganya? Pastinya. Ya, kan?

Nah, itu maksud saya, jika uang kita hanya sedikit, kita tidak akan mampu membeli barang-barang yang hemat energi.

Kadang juga mah kita nggak ngitung soal energi-energian. Bodo amat yang penting kita bisa dapat barang yang kita butuhkan buat kita di rumah.

Jadi, kalau kita ingin ketahanan energi meningkat. Ya secara teori baliklah hal itu. Jadikan barang-barang dan alat-alat yang hemat energi itu murah. Gimana caranya/teknisnya? Silakan dipikirkan. 

Bukankah kalian punya pakar di bidang masing-masing? 


(Strategi serupa bisa diterapkan juga untuk berbagai hal lain, silakan direnungkan sendiri kemudian diterapkan pada hal itu juga)