29 April 2020

Mengatasi Sampah Makanan Sisa Melalui Komunikasi Efektif dalam Keluarga


Mengatasi Sampah Makanan Sisa Melalui Komunikasi Efektif dalam Keluarga
Sampah sisa makanan (https://naturschutz.ch/)

Sampah sisa makanan (food waste) menempati 60% produksi sampah di Indonesia1. Menurut Badan Ketahanan Pangan Kementan dan sumber lain, Indonesia menyampah 1,3 juta ton food waste per tahun, dengan 113 kilogram per tahun berasal dari rumah tangga. Dari jumlah tersebut, masing-masing orang rata-rata menyampah 28 kg per tahun, terutama dalam bentuk sayuran 7,3 kg, buah-buahan 5 kg, tempe-tahu-oncom 2,8 kg, umbi dan jagung 2,4 kg serta beras 2,7 kg. Tak heran bila akhirnya Indonesia dinobatkan menjadi negara penyumbang food waste terbesar ke dua di dunia.2

Pemborosan dan pemubaziran pangan ini membutuhkan perhatian serius. Robert Malthus telah mengingatkan, “Laju pertumbuhan penduduk itu seperti deret ukur, sedangkan laju pertumbuhan pangan seperti deret hitung.” Ketahanan pangan dapat terancam bila kita ceroboh mengelolanya atau menerapkan gaya hidup yang salah. Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015 jumlah penduduk Indonesia pada 2020 sebesar 269,6 juta jiwa3, meningkat dari tahun 2019 yang hanya 266,91 juta jiwa4. Sementara itu, meskipun Kementan menginformasikan kenaikan luas sawah menjadi 7.463.948 hektare (ha)5, namun LIPI memprediksi krisis pangan akan terjadi 10 hingga 20 tahun lagi akibat terjadinya krisis petani.6 Apalagi, menurut Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP), Kementerian Pertanian (Kementan) Agung Hendriadi (8/11/2019), saat ini status dari 789 Kecamatan di Indonesia masih rentan rawan pangan, yang artinya kebutuhan kalori yang masuk belum memenuhi 70% dari Angka Kecukupan Gizi (AKG).11
 
Sementara itu, Global Hunger Index (GHI) masih menempatkan tingkat kelaparan dan kekurangan gizi di Indonesia dalam kategori serius, yaitu dengan skor 20,1. Skor ini masih lebih tinggi dari negara-negara lain di Asia Tenggara, meskipun indeks kelaparan di Indonesia terus menurun. Bahkan, dalam laporan tersebut Indonesia hanya mampu menempati peringkat 70 dari 117 negara. 12

Di dunia, FAO dan WHO telah melaporkan angka kelaparan dunia melalui “The State of Food Security and Nutrition in the World.” Pada 15 Juli 2019, PBB memperingatkan, angka kelaparan dunia telah meningkat 3 tahun berturut-turut. Pada 2018 saja angka kelaparan dunia sudah melebihi 821 juta orang, itupun belum termasuk masalah malnutrisinya.7

Ironisnya, saat pada satu sisi masyarakat kelas atas dan menengah banyak memboroskan dan menyia-nyiakan makanan, pada sisi lain masih banyak orang yang kelaparan dan kekurangan gizi. Muhhamad Farish Irsyad Nor Sukaimi (10) dan Nur Farah Insyirah (12) misalnya, kakak beradik dari Malaysia yang terpaksa harus mengais-ngais tong sampah Sekolah Kebangsaan Gong Pasir agar bisa makan.8 Ada pula bocah di Jalan Raya Kuta, Bali9 dan bocah-bocah di Maracaibo, Venezuela yang juga terpergok mencari makan dengan mengais sampah.10

Food waste ini harus segera diatasi meskipun berupa sampah organik yang bisa membusuk dan terurai, karena mengatasi food waste berarti:
  1. Menurunkan laju stunting (kekerdilan) dan obesitas,
  2. Menurunkan jumlah bayi lahir dengan berat badan rendah,
  3. Meningkatkan perdamaian dan stabilitas,
  4. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi global dan produktivitas,
  5. Membantu mengatasi kelaparan global,
  6. Mengurangi emisi gas rumah kaca
    Sampah organik mengeluarkan gas metan ke atmosfer. Gas metan efeknya 21 kali lebih dahsyat dari CO2 dalam menyebabkan efek rumah kaca, pendorong pemanasan global.
  7. Mencegah sumber daya alam agar tidak cepat habis

Setiap orang dapat berpartisipasi dalam menekan laju food waste, karena food waste dapat berasal dari restoran, hotel, usaha katering, perusahaan, maupun rumah tangga. Penerapannya bisa dimulai dari kebiasaan-kebiasaan sederhana pada diri dan rumah masing-masing, seperti:

  1. Tidak berlebihan dalam membeli bahan atau produk makanan,
  2. Memperhatikan tanggal kedaluarsa bahan atau produk makanan maupun umur simpannya,
    Terkadang setelah membeli bahan atau produk makanan kita langsung menyimpannya dan tidak kunjung mengkonsumsi atau menggunakannya. Saat kita mengeceknya lagi ternyata ada yang terlanjur basi, rusak, atau kedaluarsa sehingga tidak layak dikonsumsi.
  3. Menyimpan makanan dengan benar,
    Kesalahan dalam menyimpan buah-buahan dan sayur-sayuran misalnya, dapat menyebabkan bahan-bahan tersebut terlalu cepat matang dan cepat busuk.
  4. Memasak makanan sesuai porsi yang dibutuhkan (tidak berlebihan),
  5. Makan hanya pada saat lapar dan berhenti saat sepertiga volume perut sudah terisi,
  6. Sedekahkan kelebihan makanan pada manusia lain atau hewan/ternak,
  7. Mengolah sisa makanan menjadi makanan atau produk lain,
    Orang Jawa biasa mengolah nasi sisa menjadi kerupuk puli atau menjemurnya menjadi karak/intip.
  8. Mengolah sisa makanan menjadi kompos,
  9. Jika sisa makanan dari hajatan berlebihan, kita bisa memanggil organisasi pengumpul makanan, seperti Food Bank dan Food Cycle untuk disalurkan pada masyarakat yang membutuhkan,
  10. Menerapkan komunikasi yang efektif dalam keluarga


Mengkomunikasikan Kebiasaan Makan pada Keluarga

Makanan bisa menjadi berlebih atau tidak termakan karena berbagai sebab. Meskipun tampak sederhana, dampaknya bisa serius. Contoh sederhana adalah ketika ibu memasak seperti biasa sedangkan bapak membawa oleh-oleh makanan dari luar tanpa mengabarkan sebelumnya. Masakan ibu bisa tidak termakan karena anggota keluarga sudah kenyang memakan oleh-oleh dari bapak. Contoh lain adalah ketika ada anggota keluarga yang diundang untuk makan di luar/kantor/resepsi tetapi tidak menyampaikannya sebelumnya, porsi normal sajian di rumah pasti menjadi berlebihan. Hal serupa juga terjadi jika ada anggota keluarga yang akan berpuasa namun tidak mengatakan sebelumnya.

Kebiasaan lain yang juga sebaiknya dihindari adalah memaksakan anggota keluarga lain untuk memakan makanan pantangannya, padahal mereka sedang diet, alergi, pantang karena sakit tertentu, tidak suka atau tidak selera untuk memakannya, dan semacamnya. Kita sudah tahu bahwa mereka kemungkinan besar tidak akan mengambilnya namun kita tetap memaksa, sehingga menyebabkan food waste. Sebaliknya, mereka yang sedang diet, alergi, atau sakit hendaknya mengkomunikasikan makanan apa saja yang boleh mereka makan agar kita tidak sia-sia saat menyajikan makanan. Selain itu, kita juga sebaiknya mengingat dan mengenali makanan apa yang disukai dan tidak disukai oleh masing-masing anggota keluarga.

Para ibu sering mengeluh tubuhnya menggemuk karena menghabiskan makanan anak-anaknya. Namun, ketika sudah sakit, bosan, atau tidak mampu lagi memakannya, food waste akan tetap terjadi. Oleh karena itu, setiap anggota keluarga, terutama ibu, harus memperkirakan dengan baik berapa porsi makanan yang tepat untuk diri dan keluarganya, selain juga memperhatikan faktor-faktor lain di atas.

Menurut BPS, seperti dikutip IKEA dalam siaran persnya, pada 2020 sampah rumah tangga dari 384 kota di Indonesia menggunung 80,235 ton setiap harinya, dengan 70 hingga 80 persen bersumber dari sampah organik dapur. Oleh karena itu, dengan menurunkan angka food waste rumah tangga, berarti kita menekan angka food waste dunia berikut semua dampak buruknya.13


Sumber:

  1. https://katadata.co.id/analisisdata/2019/11/26/kelola-sampah-mulai-dari-rumah
  2. https://mediaindonesia.com/read/detail/282977-wow-1-orang-indonesia-hasilkan-sampah-makanan-300-kg-per-tahun
  3. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/01/02/inilah-proyeksi-jumlah-penduduk-indonesia-2020
  4. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/01/04/jumlah-penduduk-indonesia-2019-mencapai-267-juta-jiwa
  5. https://industri.kontan.co.id/news/kementan-catat-total-luas-lahan-baku-sawah-saat-ini-sebesar-746-juta-hektare?page=all
  6. https://www.liputan6.com/news/read/3968578/indonesia-terancam-krisis-pangan-begini-cara-mengatasinya
  7. http://www.koran-jakarta.com/angka-kelaparan-global-semakin-memburuk/
  8. https://pop.grid.id/read/301636888/mengiris-hati-dua-anak-kepergok-mencari-makanan-di-tong-sampah-karna-sang-ibu-tak-punya-uang?page=all
  9. https://medan.tribunnews.com/2018/07/20/bocah-mengais-tempat-sampah-untuk-cari-makan-dan-minum-situasi-miris-saat-anak-seusia-melihat-lihat
  10. https://solo.tribunnews.com/2019/03/25/venezuela-krisis-pangan-anak-anak-mengais-sampah-untuk-mencari-makan
  11. https://pilarpertanian.com/kementan-tegaskan-tidak-benar-22-juta-penduduk-alami-kelaparan-kronis
  12. https://www.kompas.com/tren/read/2019/12/03/163603665/riset-indeks-kelaparan-global-indonesia-dalam-kategori-serius
  13. https://gaya.tempo.co/read/1043157/kontak-mata-dengan-bayi-tingkatkan-kecerdasan-otak


02 April 2020

21 Hal yang Harus Diperhatikan agar Terhindar dari Penipuan Online di Instagram


Penipuan ada di mana-mana. Waspadalah! Penipu tidak hanya beroperasi di dunia nyata/offline, tetapi juga dunia maya (online). Yah, kalau kita amati di mana-mana orang sibuk berjualan. Pada tempat atau momen apapun biasanya akan ada orang yang menawarkan dagangannya. Termasuk media online tentunya, yang mungkin semula ditujukan untuk chat atau ngobrol akhirnya bermetamorfosis menjadi tempat promosi dan transaksi barang dan jasa.



Sudah jatuh tertimpa tangga, peribahasa ini tepat untuk menggambarkan nasib orang susah yang semakin susah setelah menjadi korban penipuan. Saya sendiri sih alhamdulillah tidak pernah tertipu yang semacam itu (barang tidak dikirim atau semacamnya), walau sudah lama membeli via online, ada yang mahal malah. Paling-paling tertipunya saya tentang barang yang tidak persis dengan katalog atau barang cacat. Yah pokoknya saya banyak-banyak bersyukur karena sejauh ini selamat dan berharap tidak akan pernah tertipu selamanya. Apalagi karena saya tidak bisa naik motor, pergerakan saya terbatas dan akan sangat tidak praktis, efektif, atau efisien jika saya harus belanja offline.

Banyak kabar penipuan telah melintas sambil lalu di kehidupan saya, namun keanehan itu semakin tampak ketika saya mencari informasi (search/browsing) tentang pinjaman online ilegal (pinjol ilegal). Tindakan tersebut dilatarbelakangi oleh 2 hal, yaitu ingin menolong seseorang yang terjebak pinjol ilegal dan ingin mengikuti lomba menulis artikel tentang bunuh diri (yang ternyata penyelenggaranya lupa menulis bahwa lombanya hanya untuk jurnalis). Jadi, saya ingin menolong kenalan saya, saya takut dia bunuh diri, dan saya juga ingin menolong korban-korban pinjol ilegal lain dari berpikir bunuh diri karena putus asa. Nah, karena setiap aktivitas kita di internet itu akan terlacak (bisa di-tracking), maka iklan Instagram (Instagram ads) di beranda saya berganti pinjol semua. Menariknya, mereka ini sangat ganjil dan saya yakini penipu (nanti akan saya jelaskan lebih lanjut). Saya pun heran, mengapa iklan-iklan penipuan bisa lolos/muncul sebagai iklan resmi/promoted ads. Pasti korbannya akan semakin banyak. Detik itu juga saya langsung melaporkan beberapa di antaranya (entah berhasil ditindak/tidak) sekaligus membuat postingan peringatan (warning) di IG saya. Kasihan kan orang sudah kesulitan keuangan malah ditipu, tambah bingung nanti mereka.

Saya jadi ingat momen di masa lalu yang so sweet so sweet gimana gitu. Waktu itu ada seorang pria yang PDKT saya dan ingin memberi hadiah. Dia mau membeli baju via online, tanya-tanya saya saya suka/memilih yang mana. Sejujurnya saya tidak suka semuanya, modelnya bukan selera saya, tapi terpaksa saya pilih salah satu agar dia tidak kecewa. Malangnya, ternyata online shop (olshop)-nya itu penipu. Kesal dong dia, apalagi dia bukan orang berada. Dan suasana pun jadi tidak enak, saya jadi serba salah.

Sudah ya curcolnya, lanjut ke cerita beberapa hari lalu, saat saya penasaran dengan iklan IG ads, kok lumayan bagus dan murah. Klik klik klik, saya simpan, tapi  dilihat doang, karena belum butuh. Belum se-pengen itu. Trus muncul lagi iklan serupa, lagi dan lagi, semua saya simpan, tetap tidak beli. Lalu beberapa hari setelahnya muncul postingan AbahRaditya tentang ciri-ciri penipu di Instagram, tiba-tiba saya ingat kasus pinjol online ilegal tadi dan beberapa ciri yang tidak ditulis olehnya. Tak lupa saya baca juga komentar-komentar di sana satu per satu untuk menambah wawasan, dan saya pun kembali bersyukur karena toko-toko yang produknya saya simpan tadi ternyata penipu. Saya cek ulang satu per satu dan memang ada indikasi ke sana. Batin saya pun berseru, “Alhamdulillah, slamet gak ketipu.”

Oke, langsung saja saya jelaskan bagaimana cara meminimalkan risiko dari menjadi korban penipuan di Instagram.

Untuk menurunkan risiko menjadi korban penipuan online di Instagram, perhatikan hal-hal berikut:
1.         Akun yang diiklankan Instagram (iklan berbayar) belum tentu aman dan terpercaya.
Penipu juga bayar/keluar modal untuk promosi/membuat akun bisnis. Tulisan profil pemilik juga terkadang meyakinkan, bahkan foto-fotonya terkadang tampak seperti nyata (real pict). Jangan mudah percaya, termasuk walau pemilik akun tersebut menggunakan label-label agama, misalnya ada kata "Syariah"-nya (Saya pernah menemukannya pada salah satu pinjol di IG). 
Jangan cuma lihat "casing"/"label"-nya, teliti secara menyeluruh dan mendalam.

2.        Keanehan pada komentar dan like:
1.     Komentar akan dimatikan/dibatasi,
2.    Tidak ada/sedikit yang komen/like padahal pengikut/followernya banyak,
3.    Komentar tidak dibalas/nyaris tidak pernah dibalas.
4.    Follower banyak, yang like banyak, tapi yang komen sedikit.

3.        Postingannya banyak dengan durasi upload per hari sangat banyak.

4.        Postingan yang menge-tag tokonya tidak ada, padahal follower dan kiriman banyak.

5.  Waspada jika transaksi langsung diarahkan ke Whatsapp/WA-nya
Jika tertulis “Tidak menerima komen/DM, langsung WA saja (dengan adanya link WA di profilnya)” atau semacamnya, kita perlu hati-hati.

6.   Masuklah pada akunnya, lalu klik tanda “titik tiga” pada pojok kanan atas (namun entah mengapa tidak semua akun memiliki tanda ini). Klik tanda “titik tiga” tersebut, lalu pilih “tentang akun ini”. Jika tokonya sering ganti nama, apalagi dalam waktu singkat dan berbeda jauh usahanya, maka perlu diwaspadai.
Meski demikian, anehnya tidak semua akun memiliki tanda “titik tiga” ini, sedang akun yang memiliki tanda “titik tiga” ini pun tidak semuanya memiliki pilihan “tentang akun ini”.






SS ini saya maksudkan hanya untuk menyoroti isi peraturannya. Abaikan nama akunnya/cek sendiri asli atau palsunya.


7.        Testimoni
Ada sih foto-foto testimoni, tapi... itu mungkin curian juga, Foto-foto tersebut TIDAK menunjukkan data penjual dan pembeli dengan jelas. Kita tidak akan menemukan nama toko pada bungkus paketnya, nama toko dan pembeli pada WA-nya, nomer rekening penjual, dan sebagainya.
Namun, tetap masih bisa diakali penipunya, mengingat sudah banyak tersebar resi-resi atau bukti transfer palsu yang biasa digunakan oleh penipu yang berkedok sebagai pembeli (bisa digunakan juga untuk penipu yang berkedok sebagai penjual). Jadi, hati-hati saja.


Bungkusnya berlabel merek dan ada nama IG-nya (asli)

Bungkusnya berlabel jadi merek atau toko ini benar2 ada.
Lalu kita tinggal cari tau benar tidak nama akun IG nya itu, dan ternyata pada bungkus ini juga diberi nama akun IG-nya sekalian.


Pada profil dicantumkan nama dan nomer rekening. Ini gunanya kalau ada chat wa testimoni biasanya kan pembeli itu transfer dan kirim foto bukti transfernya ke wa. Lalu tidak ada percakapan lagi. Percakapan setelahnya itu misalnya "Kakak barangnya sudah sampai. Bagus banget. Suka deh." Tepat di bawah bukti transfer tadi. Jadi kita bisa melihat transaksi itu benar. Barangnya benar dikirim.


8.        Bukti transfer
Kalau bukti transfer mungkin saja benar, kan memang pembelinya transfer uang ke dia. Cuma, kita TIDAK BUTUH bukti transfer untuk melihat toko itu penipu/bukan.

9.        Bukti kirim
Sama seperti pada testimoni, bukti kirim juga tidak menunjukkan nama toko pengirim dengan jelas, baik itu pada bungkus paketnya, resinya, label alamatnya, chat WA-nya, atau lainnya.


Pada resi terlihat jelas toko pengirimnya (asli)


Ada daftar resi seperti ini tapi cek dulu dengan memasukkan nomer resinya ke web ekspedisinya (asli)

10. Penipu umumnya terburu-buru (memburu agar calon korban cepat membeli/membayar)
Waspada dengan kata-kata “no keep”, “no cancel”, “siapa cepat dia dapat”, dan semacamnya.

11.       Punya toko di e-commerce, semacam Shopee, Bukalapak, Tokopedia, Lazada, dan sebagainya tidak menjamin bahwa dia aman/terpercaya.



12.      Perhatikan nama toko dengan seksama, apakah ada tanda titiknya, underscore-nya, dash-nya, angkanya, dan sebagainya.

13.      Lebih aman jika kita berbelanja barang yang ready stock dan real pict, bukan katalog, P.O., dropship, atau lainnya.
Terutama karena penipunya pun ada yang membuka lowongan reseller/dropshipper. Jika kita tertipu, siapa yang akan bertanggungjawab?

14.      Harga terlalu murah
Seperti kisah saya di atas, saya tertarik karena harganya lumayan murah dan barangnya lumayan bagus.

15.      Akunnya masih baru
Akunnya masih baru, postingan masih sedikit, nama toko alakadarnya, dan terdapat banyak akun yang serupa namanya.

16.      Tidak mau didatangi tokonya
Alamat realnya tidak jelas, tidak mau didatangi tokonya, dan tidak bisa COD.

17.      Tidak bisa mengirimkan foto/video barang dengan nama kita,

18.      Menolak melakukan video call untuk melihat barangnya secara langsung,

19.      Kurang menguasai produk
Product knowledge penjualnya sangat rendah.

20.     Banyak alasan mengapa barangnya tidak kunjung sampai
Alasannya misalnya barang tertahan di Bea Cukai dan butuh biaya tambahan untuk menebusnya. Anehnya, kadang malah masih minta uang tambahan, marah-marah, minta nomer rekening, menyuruh ke ATM, menyuruh menyebut kode tertentu, dan sebagainya. Dia akan memburu, memaksa korban agar segera melakukan perintahnya, mengancam, serta marah-marah. Biasanya mereka tidak bekerja sendiri, tetapi memiliki tim/partner supaya lebih kelihatan meyakinkan. Biasanya bicaranya juga cepat, tidak jelas (mungkin mulutnya ditutupi saputangan), dan memburu (ngoyok, Jawa-red). Perintah yang memburu ini seringkali membuat korban bingung dan ingin segera menuruti perintahnya. Sayangnya, penipu akan segera kabur/menghilang begitu tujuannya tercapai, dan nomernya tidak aktif lagi.

Terkadang, memang ada barang yang dikirim, tetapi asal-asalan/barang yang buruk, bisa berupa produknya yang berbeda (misal beli HP dikirim batu), produk ori jadi produk KW, jumlah produk kurang dari yang semestinya, dan sebagainya.

21.Lebay menunjuk-nunjukkan trusted, padahal tidak relevan dengan bukti-bukti.
Misalnya: Dia memposting terdaftar di OJK, mengatakan dirinya trusted dengan cuma posting foto bertuliskan OJK (tanpa ada dirinya/nama usahanya). Contoh lain, misalnya mengatakan dirinya aman dan terpercaya dengan memposting foto/logo polisi online, padahal lolos situs Polisi Online tidak seperti itu indikasinya. Contoh lagi, penipu juga bisa ngomong penipu/posting tertipu, atau semacamnya. Cek selalu ya, jangan langsung percaya.


Cara kerja Polisi Online itu dg memasukkan link website kita pada situs tersebut. Kalau lolos akan ada tulisannya lolos, bukan dg memasang logo Polisi Online artinya toko tersebut terpercaya. 

Yah, sementara itu dulu ya. Waspada saja, bukan berarti kalau memuat satu atau lebih di antaranya pasti penipu. Karena misalnya harga, penipu bisa saja menjual dengan harga sama atau bahkan lebih mahal. Atau sebaliknya, bisa saja ada penjual jujur yang membeli dalam partai besar lalu menjual dengan harga murah.

Dan, perlu diingat, apa yang tertulis di atas itu bisa tidak relevan lagi setelah beberapa waktu kemudian, karena para penipu juga akan semakin canggih dan akan memperbarui/mencari teknik/strategi lainnya.