21 Februari 2020

Tempat Servis HP yang Bagus di Sidoarjo


Sampai juga aku di sini, di tempat servis HP satu-satunya yang terjangkau sepeda pancal, kendaraanku. Aku terpaksa, tanpa ojol, tanpa tersedia transportasi umum lain, tanpa bisa naik motor, dan tanpa ada yang mengantar, hanya tempat servis itu yang terjangkau. Angel Cellular namanya, yang ternyata servisnya se-Angel namanya. 

Aku tergesa-gesa ke sana, membawa Sony Xperia E4, salah satu handphone-ku yang mendadak rusak pasca kusiarkan kemenangan sebagai salah satu dari 10 finalis terbaik lomba Resolusi Breakrow. Sony Xperia E4, bersama SPC S10-ku tiba-tiba mati, dan kuduga karena mata ‘ain. Tidak tanggung-tanggung, keduanya seperti langsung rusak parah, yang jika diservis tukang servisnya akan berkata, “Lebih baik ganti yang baru saja”.

Sesuai dugaan, ibu berusaha menghubungiku untuk memesan ojol, dan gagal karena smartphone-ku rusak semua. Itupun aku sudah memaksakan diri ke tempat servis meski sedang tak enak badan, ngebut, siapa tahu HP-nya bisa “sembuh” di hari itu dan bisa kupakai untuk memesankan ojol ibu serta untuk foto-foto saat rekreasi esok harinya.

“Bisa ditunggu, Mbak,” kata tukang servisnya, yang belakangan kuketahui namanya Rafi.

Satu jam, dua jam, Rafi mulai panik, keringatnya mengucur sejagung-jagung di pelipis. Aku sampai selesai dari makan bakso di warung sebelah, tapi servisnya belum selesai juga. 

“Ditinggal saja, ya, Mbak, nanti saya coba lagi. Nanti malam aja pean balik lagi,” saran Rafi. 

Gantian aku yang panik, bagaimana cara ibu dan kakak pulang? Apakah ada om atau saudara lain yang bisa memesankan ojol di sana?

Sesampai di depan rumah, dari kejauhan kulihat wali murid lesku sedang berada di halamannya. Kuberanikan diri ke sana, setelah mencoba dulu ke tetangga kiri rumah dan gagal karena orangnya tak keluar-keluar juga. Beruntung juga beberapa hari lalu kakak titip isikan pulsa, jadi aku punya nomer kakak di luar HP. Aku pun menghubungi kakak, yang ternyata sudah sampai rumah.

Beberapa hari kemudian, kuhubungi lagi tukang servisnya. 

Nggak bisa, Mbak, yang rusak IC-nya,” paparnya. 

Aku sempat kecewa, karena bagiku servis yang hasilnya bagus itu harus memenuhi 2 kriteria, bisa sembuh dan berfungsi seperti sedia kala, atau kalau tidak sembuh ya tidak bayar apa-apa. Biaya 100 ribu itu mahal bagiku, apalagi untuk gawai yang tetap “rusak jaya”.

Tapi, tanpa kuduga, ternyata aku tak dibolehkan membayar apa-apa.

“IC-nya, Mbak, yang rusak,” jelasnya.

“Ini, Pak,” kusodorkan 2 lembar uang lima puluh ribuan padanya.

Nggak, Mbak. Wong nggak bisa.” 

“Tapi kan kemarin Bapaknya sudah berusaha keras,” aku tetap menyodorkannya. Meski hatiku berteriak ‘hore’, tapi kan aku juga berperasaan, tak tega melihat usaha kerasnya digratiskan.

Nggak, Mbak. Di sini memang gitu,” keukeh-nya. 

Fiuuuuh ... alhamdulillah, batinku bersorak gembira. Tempat servis ini memang se-Angel namanya, keren banget; sudah servisnya bisa ditunggu, selesainya cepat, bayarnya hanya kalau berhasil, orangnya pun terbilang ramah (untuk ukuran/standar orang teknik yang biasanya kaku dan serius).

Aku benar-benar salah, lho. Tadinya kupikir lokasinya yang berada di pinggir jalan raya pasti membuat ongkos servisnya mahal karena mungkin kena biaya sewa, apalagi tempatnya dekat pasar. Belum lagi dengan pegawai-pegawainya yang banyak, kupikir penyervisnya pasti bekerja pada orang lain, sehingga biaya servisnya akan bertambah. Beda jika tempat servis itu rumahnya sendiri dan diservis dirinya sendiri, tak perlu ada biaya sewa dan biaya untuk disetor pada bosnya. Tapi nyatanya aku salah, tahu begitu dulu aku tak perlu ke tempat servis “sebelah”, yang lebih pelosok, lebih jauh, dan lebih tidak profesional serta tidak ramah.

Pengalaman pertamaku di Angel Cellular ini sudah cukup memuaskan. Semoga ke depannya tetap demikian atau bahkan ditingkatkan. Ingat, ya, Angel Cellular, 2 rumah sebelum apotek K-24, arah dari Sedati Agung menuju Pasar Betro. 

Good luck!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar