14 Februari 2020

Renungan dan Refleksi Kehidupan


Kehidupan manusia itu tentang label, definisi, dan persepsi (prasangka/asumsi). Orang lain dan mungkin diri kita suka membuat ketiganya. Banyak hal dianggap menetap/permanen padahal itu hanyalah label-label yang disematkan orang lain. definisi pun demikian, banyak hal yang awalnya “kosong/nol/netral” lalu didefinisikan ini itu oleh orang yang berbeda-beda sehingga memiliki arti yang berbeda bagi masing-masing orang tersebut. Sedangkan persepsi dipengaruhi oleh pengalaman, pengamatan, segala yang kita indera (misalnya bacaan atau tontonan), kedalaman ilmu pengetahuan kita, serta lengkap tidaknya informasi yang sampai kepada kita. Persepsi berhubungan juga dengan sudut pandang.

Banyak persepsi salah yang terjadi di masyarakat, misalnya:
1.    Semua orangtua suci dari dosa, pasti anaknya yang salah,
2.    Dokter pasti sehat dan menjalani gaya hidup sehat,
3.    Guru pasti pintar dan bermoral,
4.    Ustaz, kyai, santri, orang-orang yang bekerja di tempat-tempat berlabel agama, lulusan sekolah agama, dll pasti baik dan benar agama (teori dan penerapan) dan akhlaknya,
5.    Orang kaya pasti jahat dan buruk perangainya dan pasti hidupnya enak,
6.    Orang ganteng/cantik pasti buruk perangainya,
7.    Orang sukses pasti sombong,
8.    Orang yang banyak bicara/suka tampil pasti ahli dan pandai menyenangkan,
9.    Orang pendiam itu pasti sombong dan tidak suka bergaul,
10.      Murid/alumni sekolah favorit pasti pintar, dsb.

Kita harus memahami bahwa label-label itu bisa dilepas, definisi bisa kita buat sendiri, dan persepsi bukanlah kebenaran. Berhati-hatilah dalam memasukkan label-label dan definisi-definisi ke otakmu. Segala sesuatu perlu dicek dulu kebenarannya (sebisa kita), pisahkan antara fakta dan opini, dan definisikan dirimu sendiri dengan definisi terbaik. Jangan menerima definisi buruk orang lain tentang kamu (kamu lebih tahu tentang dirimu), karena apa yang kamu pikirkan dapat mempengaruhi dirimu, keputusanmu, dan hidupmu. 

Baik label/definisi maupun persepsi akan menentukan responmu terhadap sesuatu. Kalau kamu merasa dirimu serba tahu/paling pandai, kamu akan sulit belajar. Kalau kamu merasa paling benar, kamu akan sulit berubah pikiran.

Ingatkah kamu akan kisah Musa dan Khidhir? Musa merasa dirinya paling pandai dan menganggap tindakan-tindakan Khidhir sebagai suatu keburukan/kejahatan, padahal dia tidak tahu sama sekali. Itu kelas Nabi ya, apalagi kita?

Ada satu (hadits?) yang kurang lebih isinya begini, “Jangan katakan Si A itu baik, tapi katakan setahu saya Si A itu baik”. Pada (hadits?) lain berbunyi yang intinya “Dari mana kamu tahu dia akan masuk surga, bahkan sebenarnya dia tercatat sebagai penghuni neraka (dan banyak lagi (hadits?) yang isinya semacam ini). Dan jangan lupa pula tentang (hadits?) yang intinya berbunyi “Sebagian besar prasangka itu dosa”. Artinya, berhati-hatilah dalam berprasangka.

Kita tidak tahu sesuatu melainkan sedikit, maka kembalikanlah segala sesuatu hanya kepada Allah. 

Hidup ini adalah kesempatan untuk beribadah dan beramal, jangan sia-siakan dengan perbuatan yang akan menghambat jalan kita “pulang”. 

Pikirkanlah dan jadikanlah renungan harianmu, yaitu renungan pagi dan renungan malam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar