24 Februari 2020

Pentingnya Kejelasan Pesan dalam Mencapai Tujuan Kerelawanan


Sudah sunatullah, selagi masih hidup, setiap manusia akan mendapat jatah musibah; entah kapan, berapa lama, berupa apa, dalam lingkup apa, dan seberapa kadarnya. Namun, apapun musibah yang dialami, ia bukan untuk dibandingkan, melainkan diatasi. Setiap manusia berjuang, dan perjuangan mereka tidak selalu kita ketahui.

Beruntung kita tak selalu mengalami musibah bersamaan. Saat sebagian orang tertimpa musibah, sebagian lainnya tidak; saat sebagian orang musibahnya sedang besar-besarnya, sebagian yang lain musibahnya sudah mengecil atau menghilang; saat sebagian orang sedang susah, sebagian yang lain sedang lapang, dan semacam itu. Meskipun demikian, ada juga orang yang sama-sama sedang kesusahan namun tetap berusaha membantu.

Orang-orang mengartikan keikhlasan sebagai tidak mengharapkan balasan, pujian, atau penghargaan. Dan memang, seperti kata psikolog Dedy Susanto, keinginan atau harapan untuk dihargai adalah penyebab utama ketidakbahagiaan. Beberapa orang masih mengeluhkan sulitnya menerapkan keikhlasan, sebagian lagi mungkin berpikir tak masalah bila tidak dipuji, dibalas, atau dihargai, tetapi bila dihina atau diperlakukan buruk setelah mereka berusaha baik itu lain lagi.Tidak dipuji bernilai nol, tidak dibalas juga nol, tetapi dibalas dengan keburukan menjadi minus nilainya.
Saya percaya masih banyak orang baik di dunia ini. Bila mendengar ada orang yang tertimpa musibah, mereka ingin membantu sebisanya dengan harta, pikiran, tenaga, jiwa, dan apapun yang mereka punya. Kadang mereka bergerak sendiri, kadang juga bergabung dengan suatu kelompok, komunitas, atau organisasi, yaitu sebagai relawan atau volunteer.

Masalah timbul ketika niat atau aksi baik kita sebagai relawan tidak sesuai  realita di lapangan, yaitu ketika:
1.    Keahlian atau pemberian kita tidak sesuai dengan kebutuhan atau harapan panitia dan korban bencana,
2.    Orang dengan keahlian atau kualifikasi yang dibutuhkan sedang tidak ada yang mau/bisa membantu.
3.    Relawan dengan keahlian atau kualifikasi yang dibutuhkan ada tetapi jumlahnya masih kurang.

Panitia dan para korban mungkin akan kesal karena bantuan tidak tepat sasaran; baik itu berupa relawan yang malah menyusahkan atau karena barang bantuan yang malah menjadi sampah atau beban. Begitupun para relawan, mungkin sama kesalnya karena tindakan dan pemberiannya tidak dihargai atau direspon dengan memuaskan. Padahal, belum tentu mereka yang menyumbang itu hanya berniat membuang barang atau memberi asal-asalan. Belum tentu pula mereka yang bergabung menjadi relawan itu ingin tampak hebat, terkenal, atau jadi pahlawan. Juga, belum tentu mereka tidak cakap untuk menjadi relawan, mungkin saja kebetulan keahlian mereka tidak cocok dengan musibah/bencana yang ada. Tahanlah diri dari berprasangka atau bertindak tercela karena bisa jadi pesan panitia yang kurang jelaslah penyebabnya.

Coba periksa lagi bagaimana bunyi pesan kita saat mencari sumbangan atau relawan, sudahkah disampaikan dengan jelas dan terperinci? Sudahkah dijelaskan misalnya membutuhkan keahlian apa, syarat apa, kemampuan apa, kondisi seperti apa, benda berupa apa, dibutuhkan berapa, dibutuhkan sampai kapan, dan intinya jelaskan semuanya secara mendetail. Gunakan terutama kata khusus dan sangat spesifik untuk menjabarkannya. Jangan berasumsi semua orang pasti memahami, karena semua orang memiliki urusan/kepentingan dan kebutuhan sendiri dan tidak semuanya berpengalaman atau mengerti mengenai hal-hal terkait musibah/bencana yang sedang terjadi: kondisinya bagaimana, apa yang masih kurang/belum ada, membutuhkan apa, dan sebagainya. Ketika pesan kita tidak jelas tetapi kita menolak uluran tangan relawan dengan ucapan dan tindakan tercela, itu sangat tidak bijaksana.

Untuk meningkatkan peluang orang dan bantuan yang diharapkan sesuai, maka panitia harus jelas dalam menyampaikan pesan, serta mampu mengelola para relawan dan sumbangan dengan baik. Update harus dilakukan berkala agar jika misalnya sumbangan berupa barang tertentu sudah cukup, bisa distop pengirimannya, dan para penyumbang baru akan berganti menyumbang barang lain yang dituliskan oleh panitia.

Masalah ketidaksesuaian antara keahlian dan pemberian para relawan dengan kebutuhan/harapan panitia dan korban merupakan masalah serius. 

Kita tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau negara untuk mengatasi berbagai masalah/musibah dan bencana yang menimpa bangsa kita. Kita membutuhkan dukungan dan kepedulian dari seluruh warga negara Indonesia untuk bahu-membahu dan bergotong-royong mengatasinya. 

Sudah saatnya rakyat semakin aktif bergerak dan tidak hanya berpangku tangan saja. Mungkin saat ini orang lain yang sedang tertimpa musibah, siapa tahu esok kita.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar