01 Februari 2020

Cara Enak Kerja Ala Pemalas


Cara Enak Kerja Ala Pemalas

 Pemalas
Sumber gambar: Lifehack.org (ditambah bingkai)

Malas positif, emang ada?

Malas positif adalah istilah saya sendiri bagi orang-orang yang berusaha bekerja cerdas, bukan bekerja keras. Orang-orang model begini berusaha mencari cara kreatif/sistem yang lebih baik agar bisa mendapatkan uang dengan lebih ringan dan mudah. Mereka menyadari bahwa menjadi sangat sibuk itu tidak selalu produktif, tergantung apa kesibukannya. Apalagi, terkadang kesibukan itu bukan pertanda orang itu bekerja dengan baik. Orang bisa menjadi terlalu sibuk jika kurang bisa memanajemen waktu/menentukan prioritas. Sering juga terjadi di luar sana, pekerja menjadi sangat sibuk padahal kompensasi yang didapat dari tempat kerja tidak sesuai dengan beban kerjanya. Faktor-faktor inilah yang membuat sebagian orang terdorong untuk mencari cara yang lebih kreatif dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Beberapa waktu lalu sebuah video sempat melintas di hadapan saya. Seorang pekerja memuntahkan unek-uneknya kepada Presiden Jokowi, betapa susah payahnya dia melamar pekerjaan kemana-mana sampai uangnya habis. Dari bicaranya yang meledak-ledak terdengar nada keputusasaan dan stres yang teramat sangat di dirinya. Sambil diamini beberapa pria lain yang senasib, dia mengharap perubahan.

Fenomena semacam ini juga dialami oleh banyak orang di luar sana, termasuk saya sendiri pernah menjadi korbannya. Mencari pekerjaan itu begitu menantang, bahkan menjadi “pekerjaan” baru bagi para pengangguran dan mereka yang ingin beralih ke karir yang lebih baik. Capek itu pasti, capek tubuhnya dan “capek” uangnya. Bagaimana tidak, untuk fotokopi, cetak (print), afdruk foto, serta transportasi menuju ke lokasi semua perlu biaya. 

Belum lagi dengan tantangan ke dua yang harus dihadapi, yaitu HRD (atau pimpinan langsung) dan tes wawancara, yang biasanya membutuhkan kepribadian serupa mereka (HRD/pimpinan) dan keahlian berbicara. Jika Anda introvert seperti saya, yang tidak suka berbicara dan tidak suka berbohong (atas nama jawaban diplomatis), Anda bisa sulit menembusnya.

Tantangan lain yang bisa dihadapi adalah tentang bidang kerja. Bidang kepenulisan misalnya, masih jarang dijumpai dibandingkan dengan bidang lainnya. Bekerja sebagai seorang penulis masih asing di Indonesia ini dan dianggap sebagai anak tiri. 

Nah, beruntungnya ada orang yang tanggap menyikapi kebutuhan ini. “Kalau memang lowongan pekerjaannya susah didapat ya kita buat saja sendiri,” mungkin begitu pikir mereka. Akhirnya muncullah situs-situs freelancer.


Menjadi Freelancer 

Jika yang Anda butuhkan adalah penghasilan, tanpa terlalu mempedulikan jabatan atau kekerenan di masyarakat, Anda bisa mencoba menjadi freelancer.

Zaman sudah berubah dan kita tidak selalu harus bekerja di luar, tidak selalu harus melalui HRD (interview), ataupun mencari klien dan customer untuk produk dan jasa kita. Kita cukup meletakkan produk dan jasa kita pada website freelancer dan biarkan klien yang datang mencari kita.

Kalau Anda pernah mendengar tentang istilah “daya ungkit”, Anda mungkin memahami bahwa menjual pada blog atau website kita sendiri itu membutuhkan usaha lebih. Kita harus memasarkan sendiri dan melakukan segalanya sendiri, dan tidak semua orang bisa. Boro-boro jualan, blog atau website pribadi saja kadang sepi kok. Iya, nggak? Jika Anda termasuk yang demikian, Anda membutuhkan pengungkit, ya semacam situs freelancer ini. Dengan berjualan di situs freelancer, merekalah yang memasarkan dirinya, lalu sisanya serahkanlah pada persaingan bebas (konsumen yang memilih). Kita tidak perlu pusing-pusing memikirkan pemasaran dan mencari klien/customer ke tempat yang jauh. Tugas kita hanya menunggu orderan dan menangani orderan yang masuk dengan baik.

Cara Enak Kerja Ala Pemalas

Pokoknya enak deh bekerja sebagai freelancer. Yang masih bingung untuk ikhtiar mencari rezeki atau mencari tambahan rezeki, jadi freelancer aja. Siapa tahu jodoh rezeki Anda ada di sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar