06 Januari 2020

Zona Bebas Berperasaan


Zona Bebas Berperasaan

 Kasih sayang
Sumber: Fimela.com

Dilarang memiliki perasaan, tetapi harus memiliki perasaan. Dilema hidup manusia yang sejak dulu memang sudah tidak jelas. Ketika kecil, anak-anak sering dilarang menangis, “Sudah diam, jangan cengeng!” Dilarang juga marah atau memiliki perasaan lainnya. Terutama anak laki-laki, seolah berada di luar spesies manusia, menangis menjadi haram hukumnya.

Anak-anak pun tumbuh dewasa sambil memendam perasaan. Dengan sadar atau tidak saling kode-kodean. Baik pria maupun wanita ingin pihak lainnya menjadi dukun seketika, yang tiba-tiba saja bisa membaca pikiran atau hatinya. Atau, setidaknya menjadi ahli bahasa tubuh. Dan mereka tinggal membatin, “Tebak saja deh dari gerakan dan ekspresiku, atau nada bicaraku”.

Jangankan membaca lawan jenis, membaca yang sejenis saja kita akan sering terjatuh pada asumsi dan sok tahu. Wajar bukan jika laki-laki menjadi susah membaca perempuan, atau perempuan susah membaca laki-laki? Toh, membaca diri sendiri pun mereka belum tentu mampu.


Apa yang membuat memiliki perasaan dianggap memalukan? Sehingga, para laki-laki menyebut dirinya harus dominan logika dan menyebut laki-laki yang berperasaan cengeng dan cemen orangnya? Juga, apa yang membuat laki-laki menganggap dirinya lebih tinggi dari perempuan karena merasa lebih logis tadi? Atau seringkali menganggap perasaan perempuan sebagai suatu kerendahan dan kebodohan? Sementara manusia itu memiliki keduanya, logika dan rasa.

Sekarang jujur saja, bila perempuan tak berperasaan, apakah laki-laki masih suka? Bukankah dari perasaan itulah perempuan menjadi sosok penyayang, yang diharapkan para lelaki sebagai partner berkasih sayang.

Memang sih logika biasanya dihubungkan dengan sesuatu yang benar. Namun, di dalam buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodoh Amat disebutkan bahwa kebenaran milik kita bisa berubah. Karena kebenaran bagi tiap orang seringkali didasarkan pengalaman. Padahal, pengalaman juga bisa keliru karena setiap orang memiliki kebutuhan, sejarah, serta situasi hidup yang berbeda.

 Otak memiliki setidaknya 2 masalah, yaitu pertama, otak tidak sempurna dan ke dua, otak akan mempertahankan makna yang kita ciptakan apapun yang terjadi. Apapun situasi kita saat ini akan dibuatnya masuk akal berdasarkan keyakinan dan pengalaman kita sebelumnya. Setiap keping informasi baru akan diukur berdasarkan nilai dan kesimpulan kita terdahulu. Akibatnya, otak selalu bias terhadap apa yang kita anggap benar pada saat itu.

Pada saat mengolah pengalaman, pikiran akan memprioritaskan diri untuk menafsirkan pengalaman tersebut agar cocok dengan semua pengalaman, perasaan, dan keyakinan kita sebelumnya. Namun, jika pengalaman kita saat ini bertentangan dengan apa yang kita anggap benar dan masuk akal pada masa lalu, terkadang pikiran akan menciptakan memori palsu agar cocok. Dengan demikian, makna apapun yang telah kita buat dapat kita pertahankan. 

Setiap orang memiliki nilai-nilai tertentu dan melindungi nilai-nilai tersebut. Kita mencoba untuk menghidupinya dan mencari pembenaran atasnya, serta merawatnya. Bahkan, andai kita tidak bermaksud melakukannya, yang terjadi tetap demikian karena begitulah cara kerja otak kita. 

Di dalam buku Mind Over Money disebutkan, pada otak terdapat amigdala. Amigdala berfungsi mengatur respons kita terhadap trauma. Nah, karena jalur neural dari amigdala menuju neokorteks (tempat alasan dan logika berada) lebih kuat dibanding jalur dari neokorteks menuju amigdala, emosi-emosi yang membentuk pikiran akan jauh lebih kuat dibanding pikiran yang membentuk emosi. Inilah mengapa otak emosional menyimpan “kebenaran” yang tanpa sadar sering berbohong tentang sejarah kita.

Disebutkan dalam Descartes Error, neurologis Antonio Damasio pernah mengamati para penderita cedera pada sebagian otak sehingga tidak memiliki emosi. Mereka masih memiliki kemampuan kognitif dan hasil tes untuk mendeteksi masalah psikologis cukup baik. Namun, mereka tidak memiliki respons sesungguhnya dalam berhubungan dengan orang lain serta menjadi obsesif dan impulsif. Mereka tidak dapat membedakan antara pekerjaan minor dan pekerjaan pokok, serta terlibat dalam investasi tipuan, pernikahan gagal, dan berbagai pilihan impulsif yang buruk. 

Bob, salah satu pasien tersebut, tampak tidak memiliki kekhawatiran serta tidak peduli orang lain. Sedangkan kurangnya hubungan dengan diri sendiri maupun orang lain menurut hasil penelitian Gerdes berhubungan dengan pengeluaran atau pertaruhan diri yang membahayakan kesehatan keuangan rumah tangga.

Tak hanya itu, Bob juga sulit mengambil keputusan sederhana. Dalam mengambil keputusan, peran emosi menyangkut 2 hal, pertama, emosi menolong kita memproyeksikan diri ke dalam dunia dan memahami respons-respons orang lain. Tanpa kemampuan merasakan emosi, Bob gagal mengenali petunjuk nonverbal yang ditunjukkan. Ke dua, emosi memproduksi apa yang disebut Damasio Somatic Marker (penanda somatik): “perasaan benar” yang sangat kita andalkan, baik atau buruk, saat mengambil keputusan. Bekerja di bawah kesadaran, penanda somatik merupakan rekaman mental mengenai pengalaman masa lalu yang bertindak sebagai sistem pemandu internal. Penanda somatik membantu kita menuju atau menjauhi pilihan tertentu, berdasarkan berhasil tidaknya pilihan-pilihan tersebut pada masa lalu. Penanda somatik merupakan sumber firasat dan perasaan benar kita.

Kegunaan emosi lainnya adalah membiarkan kita “mencoba” kebiasaan-kebiasaan baru, melalui imajinasi dan visualisasi, yang menolong kita memperkirakan apa yang akan kita rasakan dari hasil sebuah keputusan, sebelum kita mengambilnya. Mengingat sebagian besar kebijaksanaan kita berada di luar kesadaran kita pada satu waktu, emosi kita memberi tahu secara mendalam, bahwa telah/akan terjadi sesuatu yang salah. Artinya, jangan sepenuhnya meninggalkan emosi. Sebaliknya, emosi harus disadari, dipahami, dan diperiksa seobjektif mungkin. 

Emosi/perasaan dan logika tak perlu dibandingkan karena keduanya kita butuhkan. Keduanya membuat hidup kita menjadi lebih sehat, baik, indah, dan bahagia. Para perempuan tak perlu malu menjadi makhluk yang berperasaan, begitupun laki-laki. Demikian pula anak-anak, tidak perlu lagi harus menahan emosi. Mari kita ajarkan kepada anak-anak untuk dapat mengelola dan mengekspresikan emosinya dengan baik dan benar.

Kita tidak bodoh, kita tidak lemah, kita membutuhkan perasaan karena kita manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar