21 Oktober 2020

Waspadai Saran Seperti Ini Saat Kamu Mencoba Kosmetik atau Obat-Obatan

Saya menemukan hal ini berulang kali. Banyak orang sudah menjadi korban. Saya sendiri pun pernah mengalaminya. Namun, karena pada dasarnya saya pemikir, hal itu menyisakan rasa skeptis di hati. Bahkan, saya cenderung menolak, meskipun "saran" itu dijejalkan dengan pemaksaan, hinaan, dan terkadang menyangkut pautkan dengan agama. Kalau sudah menyangkut agama maka jatuhnya nggak akan jauh-jauh dari "Kamu dosa, kamu buruk, kamu salah, kamu menyimpang dari agama", dan semacamnya, termasuk "Kamu bodoh" tentunya, karena disampaikan dengan tawa mengejek dan body language serta tone yang mendukung ke sana.


Jadi gini, jika kita sudah berhubungan dengan obat-obatan dan produk kecantikan kita akan sering menemukan orang (terutama penjual or salesnya dong) bilang "Gak pa pa Mbak/Mas, reaksi awalnya memang gitu, diteruskan aja nanti lama-lama kan (kelihatan hasilnya, misalnya wajah jadi glowing)". Padahal, yang punya muka udah gatel-gatel, udah jerawatan di mana-mana, udah tubuh gak enak banget habis minum obatnya, dan lain-lain tapi disuruh nerusin. Mo nunggu ancur banget apa baru berhenti? Nunggu mati dulu?


Trus ada juga namanya invalidasi. Kita itu gak cocok dengan produknya tapi salesnya itu bilang "Ah, nggak mungkin, orang lain semua cocok kok." Seolah kita atau wajah dan badan kita itu bohong. Tentu saja untuk menyelamatkan mukanya dari rasa malu. Ya namanya kondisi orang beda-beda ya, nggak bisa disama-samain. Apalagi misal kasusnya alergi obat gitu dipaksa terus diminum, waduh dah nggak tau deh errornya kayak apa itu yang minum jadinya.


Saya masih sering menemukan ini di marketplace atau komen-komen di review produk gitu banyak orang meyakininya/ketipu.


Jangan ya. Sayangi dirimu. Percayai efek yang dirasakan oleh wajah dan tubuhmu. Percayai sinyal-sinyal tubuhmu sendiri. Percayai dirimu. Jangan sampai udah nggak cocok tapi kamu malah nambah, beli lagi kosmetik atau obatnya. Itu sangat berisiko dan kamu yang akan nanggung sendiri akibatnya. Yang ngomong mah biasanya tinggal ngeles aja. 


Lain kali kamu ketemu kayak gitu lagi, ingat-ingat tulisan saya ini. 


15 Oktober 2020

Beda Situs Kencan Indonesia dan Bule


Hhh ... udah lama banget rasanya aku pengen nulis ini. 
Tiba-tiba ada hal yang mengingatkanku lagi.
Curcol nih ya ceritanya.

Aku mau bandingin or lebih tepatnya kasih pencerahan buat cowok-cowok Indonesia terutama yang amat sangat gak manis banget.

Key, dating site luar negeri atau bule yang kujadikan contoh di sini adalah Dating.com. Situs itu sangat amazing dan wow banget pokoknya. Kalau yang Indonesia nggak usah sebut nama ya, rata-rata sama. Mau birjo kek, biro taaruf kek, situs pertemanan kek isinya gitu-gitu aja.

Kamu ya kalo datang ke situs Dating.com wow rasanya itu kayak diperebutkan mati-matian oleh banyak pria. Cowok-cowok itu usahanya pol-polan buat ngedapetin hati kamu.

Biar gak makin penasaran ini ya kutulisin satu-satu bedanya yang drastis banget:

1. Foto profil
Fotonya bok ganteng-ganteng maksimal. Nggak ada tuh foto muka jelek, penampilan kusam, foto tiduran doang dengan wajah kayak belum mandi atau foto dengan background berantakan banget barang-barang yang berserakan di mana-mana. 
Fotonya oke banget, bahkan mungkin melebihi foto untuk ngelamar kerja. Kamu lebih berharga dari pekerjaannya dia. Kamu pantas lihat foto yang lebih baik. 
Fotonya dipilih yang bagus, banyak juga yang senyum.

2. Isi profilnya
Kalau orang Indonesia or dating site Indonesia isinya biasanya cuma tuntutan. Cewek yang saya cari begini begitu. Cara nulisnya itu juga nilai rasanya kasar kalau dibaca. Atau lebih parah lagi banyak yang bohong, palsu, jadul, atau gak diisi. Itu pun masih diprivat-privat, dirahasiakan. Curang juga. Ruwet pokoknya musuh cowok Indonesia itu.
Kalo di Dating.com cowok-cowoknya itu menawarkan hal-hal yang indah, tidak hanya menulis kriteria cewek yang dicari. Dan banyak lho yang nulis gak peduli umur dan fisik, lebih peduli tentang kecocokan/kompatibilitas. 

3. Sapaannya
Sejauh aku berinteraksi dengan mereka, cowok-cowok di Dating.com itu menyapa dengan ramah. Nggak seperti cowok-cowok Indonesia yang kasar-kasar hanya karena mungkin menganggap jumlah cewek lebih banyak dari cowok, umur terlalu tua menurut mereka, wajah nggak cocok menurut mereka, respon yang nggak sesuai harapan mereka, yah pokoknya bayangkan tentang segala sesuatu yang jauh dari kata manis. Kuasar pol. Bahkan untuk sesuatu yang hanya permulaan/pdkt. Mungkin mereka terlalu naif menganggap orang ngajak kenalan itu langsung jatuh cinta dan pasti mau sama mereka. 

4. Isi percakapannya
Di Dating.com itu ada notif, pesan, dan inbox. Notif ini mungkin robot yang bikin tapi kata-katanya juga manis-manis sih. Yah intinya itu pokoknya baik notif, pesan, atau inbox isinya ada perkenalan yang manis lalu ada action ngajak ketemuan. Kalo di Indonesia ngobrol doang bisa mbulet entah apa aja dan gak tau ketemunya kapan, plus ghosting juga, tiba-tiba ngilang.

Nggak tau ya, auranya itu enak banget gitu lho di Dating.com. Kayak bener-bener diinginkan, dirayu, diperebutkan, diperlakukan dengan baik. Gitu-gitu. Isinya manis-manis. Moodku sering membaik hanya dengan baca-baca di sana. 

Yah gitu deh. Beda banget kan sama perlakuan cowok Indonesia dan situs kencan Indonesia. Nggak menghargai blas-blas'o.
Kenalan tok aja auranya nggak enak. Mbaca tok atau liat fotonya tok auranya udah gak enak. Yang terbayang hanya beban dan betmut.

Mbuh kah.

Diperbaiki ya!
Sip 👍

14 Oktober 2020

Rumah Sakit Terancam Penuh karena Corona, Terapkan Cara Berwick Ini

 

Kasus positif Covid 19 di Indonesia menunjukkan tren peningkatan, dari total 203.342 orang pada 9 September 2020 menjadi 344.749 pada 14 Oktober 2020.

Tren peningkatan ini sempat menyebabkan masyarakat di 6 kabupaten/kota di Jawa Timur kembali ada di zona merah, 26 kabupaten/kota ada di zona oranye, 6 kabupaten/kota ada di zona kuning, serta tak satu pun kabupaten/kota yang ada di zona hijau.

Di Jakarta, masyarakatnya pun mengalami hal serupa. Gubernur Jakarta Anies Baswedan bahkan sampai mencemaskan memburuknya kasus Covid di Jakarta kini dibandingkan saat awal munculnya kasus Covid di Indonesia. Untuk menekannya, Anies terpaksa menerapkan kembali Pembatasan Sosial Berskala Besar penuh di Jakarta, sekaligus mewajibkan seluruh perkantoran di sana untuk bekerja penuh dari rumah.

Masyarakat resah, begitu pun 59 pemimpin negara lain pun sampai ikut menolak warga Indonesia datang ke negara mereka. Namun, hingga kini masih sulit untuk mengharapkan masyarakat Indonesia mengubah gaya hidupnya. Masih banyak dari mereka yang mengabaikan protokol kesehatan. Padahal, semua orang telah lelah, terutama para tenaga kesehatan. Sudah 10 bulan sejak pemerintah Cina mengumumkan munculnya Covid 19 di Wuhan Desember lalu, kehidupan kita baru mencapai tahap new normal. Hanya sebagian orang yang bisa menyikapinya secara positif, meskipun di antara mereka yang positif tadi pun masih ada yang sangsi akan keberadaan virus Corona.

Mengingat semakin sulitnya kita mengandalkan perubahan gaya hidup untuk mengatasi virus ini, masyarakat jadi semakin berharap pada vaksin. Mereka menganggap penemuan vaksin dapat segera mengakhiri kasus Corona di dunia. Alhasil, banyak negara berlomba menjadi penemu pertama vaksin Corona.

Namun, jangan lupa, penerapan vaksin masih menuai pro dan kontra. Sebagian masyarakat tetap akan menolak vaksin meskipun vaksin tersebut benar-benar ampuh sekalipun. Apalagi, baru-baru ini relawan yang bekerja untuk AstraZaneca dan Universitas Oxford telah didiagnosis mengalami myelitis transversal akibat vaksin yang diujikan padanya. Hal ini tentu akan membuat mereka tetap memiliki alasan kuat untuk menolaknya.

Kita membutuhkan solusi pendukung, selain penerapan protokol kesehatan dan vaksin. Jika tidak, para tenaga kesehatan akan semakin banyak yang tumbang. Begitu pun rumah sakit, akan semakin kewalahan. Untuk itu, kita bisa meniru cara Donald Berwick. Dikutip dari buku Switch, Berwick, seorang dokter dan CEO dari Institute for Healthcare Improvement (IHI) telah berhasil mengubah wajah perawatan kesehatan. Pada 2004, Berwick, memiliki beberapa ide untuk menyelamatkan sejumlah besar nyawa. Para peneliti di IHI telah menemukan bahwa tingkat "cacat" dalam perawatan kesehatan sebesar 10%. Kerusakan ini sangat tinggi, banyak industri lain telah berhasil mencapai kinerja pada tingkat kesalahan 0,1% (dan seringkali jauh lebih baik).

Berwick tahu bahwa tingginya kecacatan medis artinya puluhan ribu pasien meninggal sia-sia tiap tahunnya. Namun, ia tak punya otoritas untuk memaksa perubahan apa pun di industri, sementara IHI hanya punya 75 karyawan. Lantas, apa tindakan Berwick untuk mengubah semua itu?

Pertama, dalam pidatonya 14 Desember 2004, Berwick menetapkan target, maksimal 14 Juni 2006 pukul 9 pagi-18 bulan dari hari itu mereka harus sudah menyelamatkan 100 ribu nyawa.

Ke dua, Berwick memotivasi dan membuat para pendengarnya merasa perlu untuk berubah. Banyak di antara hadirin yang sudah mengetahui faktanya, tetapi mengetahui saja tak cukup. Jadi, Berwick membawa serta ketua Asosiasi Rumah Sakit Negara Bagian Carolina Utara dan ibu dari gadis yang terbunuh akibat kesalahan medis untuk ikut berpidato di sana. Selain itu, Berwick juga berhati-hati dalam memotivasi orang yang tak hadir di sana. Dia tidak menantang orang untuk "merombak pengobatan", tetapi untuk menyelamatkan 100 ribu nyawa.

Ke tiga, Berwick membentuk “jalan”. Dia mempermudah rumah sakit untuk menerima perubahan, di antaranya dengan membuat formulir pendaftaran satu halaman, petunjuk langkah demi langkah, pelatihan, kelompok pendukung, dan mentor. Dia sedang merancang lingkungan yang memungkinkan administrator rumah sakit untuk melakukan reformasi. Berwick juga tahu bahwa perilaku itu menular. Dia menggunakan tekanan teman sebaya untuk membujuk rumah sakit agar bergabung dalam kampanye. (Rumah sakit saingan Anda baru saja mendaftar untuk membantu menyelamatkan 100 ribu nyawa. Apakah Anda benar-benar ingin mereka bermoral tinggi?).

IHI sendiri pun mengusulkan 6 intervensi spesifik untuk menyelamatkan nyawa, misalnya meminta rumah sakit mengadopsi serangkaian prosedur yang terbukti untuk menangani pasien dengan ventilator, untuk mencegah mereka terkena pneumonia, penyebab umum kematian yang sia-sia. (misalnya meminta kepala pasien diangkat 30-45 derajat untuk mencegah sekresi mulut masuk ke tenggorokan).

IHI memudahkan rumah sakit untuk bergabung, dengan hanya menggunakan formulir satu halaman yang ditandatangani CEO rumah sakit. Dua bulan setelah pidato Berwick, lebih dari seribu rumah sakit telah mendaftar, tim IHI membantu rumah sakit tersebut menerima intervensi baru. Anggota tim menyediakan penelitian, panduan instruksi langkah demi langkah, dan pelatihan. Mereka mengatur panggilan konferensi bagi para pemimpin rumah sakit untuk berbagi kemenangan dan perjuangan satu sama lain. Selain itu, mereka juga mendorong rumah sakit dengan kesuksesan awal untuk menjadi "mentor" bagi rumah sakit yang baru saja ikut kampanye.

Meskipun banyak dokter jengkel dengan prosedur baru yang mereka anggap menyesakkan, tetapi rumah sakit yang mengadopsi menunjukkan sukses besar, sehingga mereka menarik lebih banyak rumah sakit untuk bergabung dalam kampanye itu.

Hasilnya, 18 bulan kemudian, tepat pada 14 Juni 2006 pukul 9 pagi, Don Berwick dan tim IHI telah berhasil meyakinkan ribuan rumah sakit untuk mengubah perilaku mereka, dan secara kolektif, mereka telah menyelamatkan 122.300 nyawa.

Strategi ini menarik. Kita dapat mengadopsinya untuk mengantisipasi penuhnya rumah sakit akibat membludaknya pasien Corona.

13 Oktober 2020

Penyebab Hampa, Kosong, Mati Rasa

 Numb

Hampa

Kosong

Mati rasa

Monoton

Tak berwarna

Bosan


Itu adalah kata-kata yang menggambarkan perasaan kosong dan datar-datar saja.


Di luar sana terdapat perbedaan atau pertentangan pendapat tentang numb ini, ada yang mengatakan memang kosong ada yang mengatakan kewalahan (overwhelm). 


Nah, bagaimana menurut saya?


Numb adalah kondisi yang terjadi karena:


1. Sebagian atau seluruh diri yang asli dari orang tersebut telah dihapus secara sadar atau tidak sadar, dengan paksaan atau tanpa paksaan.

Dia kehilangan kebebasan untuk mengekspresikan dirinya yang asli sepenuhnya. 


Hal ini membuat orang tersebut konslet, tidak sinkron antara:

a. Pikiran dengan perbuatannya

b. Pikiran dengan ucapannya

c. Ucapan dengan perbuatannya

d. Perasaan dengan perbuatannya

Misalnya dia terpaksa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya karena dipaksa bosnya, akhirnya dia tidak bisa enjoy dengan pekerjaannya. Tidak bergairah.


Contoh lain: pemilihan jurusan yang terpaksa, pekerjaan yang terpaksa, pernikahan yang terpaksa, pura-pura bahagia padahal sedang sedih, dan lain-lain.


2. Adanya standar ganda 

Ada orang-orang toksik atau narsis yang suka menerapkan standar ganda. Melakukan atau tidak melakukan sesuatu kamu tetep salah.


Misalnya gini: 

a. Baju harianmu dikatain jelek, tapi kamu juga ga boleh pakai baju yang lebih bagus katanya buat pergi, padahal dipakai buat pergi juga ga boleh katanya terlalu jelek.


b. Baju harianmu itu butuh disetrika tapi disetrika itu ga boleh katanya ngabisin listrik aja. Akhirnya kamu pake baju acak-acakan, gak rapi, dan dikata-katain.


c. Kamu dikatain gak mau bantu, pemalas, padahal tiap kamu bantu mereka mereka selalu gak puas dan nyari-nyari kesalahanmu dan gak mau dibantuin. 


Jadi kamu ada pada kondisi gak jelas, lakukan apa nggak ya? Akhirnya nol (0) netral, alias numb tadi. 


3. Tidak mendapat reward/apresiasi yang diinginkan/diharapkan.

Kebanyakan orang melakukan sesuatu dengan harapan atau tidak ikhlas. Ketika apa yang kamu lakukan diabaikan/dicuekin atau bahkan dihina-hina dan disalah-salahkan, keinginan untuk melakukan lagi menurun. Padam. Males. Tidak ada imbalan yang membuat kamu kecanduan/ketagihan untuk melakukannya lagi.


4. Kamu kehilangan dirimu sendiri karena terlalu suka menyenangkan orang lain dan terlalu peduli kata orang lain, padahal dirimu sendiri lebih butuh kamu senangkan dan kamu pedulikan.


5. Kamu bersama orang toksik atau palsu atau berada di lingkungan yang toksik. 

Jadi, kebutuhan emosionalmu nggak terpenuhi. Kamu merasa sendiri dan merasa nggak ada yang ngertiin kamu.


6. Kamu bersama orang yang tidak cocok dengan kamu atau berada di lingkungan yang tidak cocok denganmu atau tidak secara alami cocok denganmu.


7. Kamu diasuh oleh orangtua atau pengasuh yang toksik.

Kamu jadi kehilangan kebebasan dan takut mencoba hal-hal baru. Jadi bosen, gak kreatif, hidup seperti dalam penjara.


Trus solusinya apa?

Menemukan kembali dirimu yang asli, dirimu yang hilang, hal-hal yang membahagiakan kamu. Segala sesuatu yang kamu banget. Lalu menjadi dirimu sendiri.











09 Oktober 2020

Lepaskan Kelekatan pada Dunia, Nyalakan Harapan

 

Sadar atau tidak, manusia sering terlalu melekat pada seseorang atau sesuatu yang bersifat keduniawian, misalnya usahanya sendiri atau harapannya pada orang lain dan pada pekerjaan, kepandaian, kekayaan, atau apa pun selain Tuhan. Seolah mereka lalai atau lupa jika terlalu berharap dan bergantung pada makhluk akan membuatnya rentan kecewa.

Mungkin kita sudah familiar dengan orang-orang yang selalu melihat ke “luar” dan seolah hanya akan menemukan solusi di luar sana, yaitu pada segala sesuatu yang belum dimilikinya atau yang berada nun jauh di sana. Bisa jadi, hal yang demikian itu dipicu oleh perasaan enggan, gengsi, tidak keren, pikiran yang terlalu rumit, atau sekadar susah melihat tengkuknya sendiri.

Melihat ke “luar” banyak sekali macamnya, misalnya bila sedang bete ada orang yang melampiaskannya dengan makan atau berbelanja; bila stres mereka malah bepergian, bila menginginkan perasaan hebat mereka akan menaklukkan gunung tinggi, dan agar merasa atau dianggap bekerja mereka harus bekerja di kantoran dan di luar rumah. Jarang sekali ada orang yang mencari solusi dengan memanfaatkan apa yang ada dan berbahagia hanya dengan melakukan hal-hal sederhana.

Nah, kemunculan virus Corona membuat gerak-gerik kita semakin dibatasi dan memaksa kita untuk menerapkan kebiasaan baru di dalamnya. Pada saat banyak di antara kita yang di-PHK, susah keluar rumah, susah mencari sumber penghidupan di luar sana, dan susah menghibur diri di luaran, kita dipaksa untuk lebih memberdayakan apa yang ada di dalam, yaitu diri kita, milik kita, di rumah kita, dan aktivitas produktif yang masih bisa kita lakukan sembari tetap menjaga kesehatan. Saat ini pun saya berada dalam kondisi tersebut. Les privat saya dihentikan, royalti tidak jelas, buku-buku sulit sekali menembus penerbit, dan lomba menulis pun makin sulit saya menangkan. Dalam ketidakpastian hidup, saya terus berusaha untuk melepaskan atau mengurangi kelekatan saya pada hal-hal duniawi. Saya latih diri saya agar tak terlalu berharap dan bergantung pada makhluk atau segala sesuatu selain Tuhan.

Selama itu saya tak serta merta menjadi kuat, saya masih sering menangis dan memang saya mengizinkan diri saya untuk menangis, takut, ataupun bersedih. Saya hanya membatasi durasinya agar tidak berlama-lama. Tak lupa pula saya mengikuti akun-akun yang indah dan suportif serta mencekoki diri dengan segala bacaan dan tontonan dan orang-orang yang akan meledakkan efek tersebut, sekaligus menghindari orang-orang atau akun-akun yang memicu efek sebaliknya. Selain itu, saya juga beruntung masih memiliki tempat bercerita. Sembari tetap melakukan berbagai upaya peningkatan diri dan mencoba berbagai peluang yang ada, hal-hal di atas tadi sangat membantu saya.

Kebetulan juga, saya sempat berkenalan dengan seorang pria yang lebih sukses dan lebih mudah hidupnya setelah keluar dari kantornya dan berwirausaha. Pertemuan itu seolah menjadikan bukti semakin terpampang nyata di hadapan, bahwa rezeki seseorang tidak ditentukan oleh masa Corona atau tidak, bekerja dari rumah atau di luar rumah, bekerja ikut orang atau berwiraswasta, atau semacamnya. Alhamdulillah saya sendiri pun masih mendapat rezeki walau masih dalam masa pandemi dan berada di rumah saja. Saya percaya, bila Allah menghendaki, maka Ia tinggal berkata “Kun” (jadilah), maka jadilah dia.

Hingga detik ini pun saya masih terus berproses, masih memendam harapan. Benar, harapan, yaitu suatu pijar yang membuat jiwa seseorang tetap “hidup”, menjadi layaknya sebuah nyawa sekaligus penggerak. Dengan harapan, saya mengizinkan diri saya untuk bersedih dan lelah, tetapi tidak menyerah. Harapan pulalah yang terkadang mengingatkan saya akan kematian sebagai  pembatas antara kesenangan dan kesedihan sehingga saya tidak kehilangan arah.

Yah, begitulah dunia, tempat kita akan diuji dengan beraneka rupa dan harus selalu menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada. Oleh karena itu, kemampuan untuk bisa menggantikan kebiasaan apapun yang menghalangi, negatif, atau tak relevan lagi mutlak diperlukan. Cari dan temukanlah caramu sendiri yang cocok dan bekerja untuk dirimu. Cari terus sampai ketemu agar menjadi indah masa depanmu.

 

06 Oktober 2020

Renungan dari Janda Bolong

 Janda bolong.

Apanya yang bolong?

Apakah itu bahasa daerah suku lain yang kebetulan sama pengucapan dan tulisannya (homofon homograf) dengan suku yang saya tahu?

Atau ... ya memang artinya seperti yang saya pikirkan.


Kapan hari saya merasa aneh melihat judul berita mengandung kata "Janda Bolong". Ternyata nama sebuah tanaman dengan daun berlubang, yang sedang ngetren.

Apakah penamaan "Bolong" itu karena lubang tadi?

Saya tidak tahu.

Tapi, lagi-lagi dikait-kaitkan dengan genderisme.

Mengapa janda?

"Janda Bolong" apakah gabungan antara "Janda" dan "Sundel Bolong"?

Jangan-jangan besok-besok akan muncul juga tanaman bernama "Janda Gatel", "Janda Pocong", atau lainnya.

Ada tanaman "Janda Bolong", ada "Lidah Mertua", entah siapa yang memberi nama kok nama dari Indonesia itu jelek-jelek dan abusive.

Pikirkan bagaimana perasaan janda atau mertua atau siapa pun yang terkait dengan nama jelek buatan Indonesia.

Atau, apakah kita akan bangga jika ditanya orang nama tanamannya apa lalu kita jawab dengan nama jelek-jelek tersebut.

Terselip rasa syukur di hati saya bahwa nama internasional itu memakai nama latin, bukan nama Indonesia.

Nama dari Indonesia itu tidak sopan, jelek, abusive (kasar), dan menyinggung, seperti 2 nama yang saya contohkan tadi.

Tolonglah yang kasih nama "Janda Bolong" itu, yang mengizinkan/membiarkan/merasa biasa saja, serta yang mempopulerkannya/memasyarakatkannya, merenunglah, apakah nurani kalian sudah bolong juga? Sehingga perlu ditambal. Agar lebih berempati kepada orang lain dan memilih nama-nama yang baik saja sebagai identitas tanaman.


05 Oktober 2020

Cara Mengatasi Krisis Energi dan Membuat Hidup Lebih Sehat


Saya kesal dengan solusi yang tampak berbelit-belit dan aneh di Indonesia.

Misalnya adanya pabrik minuman keras dan rokok, kenapa itu dibolehkan berdiri sementara setiap hari kita sibuk kampanye dan merazia miras dan rokok tersebut, sibuk mengatasi kecelakaan yang ditimbulkannya, orang-orang yang sakit karenanya, zina atau perk*saan yang ditimbulkannya, dan sebagainya.

Sebenarnya pemerintah juga tahu pendirian pabrik itulah masalah utamanya.

Termasuk tentang masalah kesehatan di Indonesia. Tiap datang ke puskesmas atau rumah sakit pengunjungnya pasti membludak. Pendirian rumah sakit pun semakin banyak di mana-mana. Ya kalau dianggap pemerataan fasilitas kesehatan iya juga, tapi jangan lupa fokus utama kesehatan di Indonesia adalah membuat masyarakat sehat (tidak sakit), bukan menyembuhkan.

Diakui atau tidak makanan sehat lebih mahal daripada makanan yang tidak sehat. Lalu sepanjang waktu kita bergelut dengan penyakit-penyakit gaya hidup sebagai penyebab kematian tertinggi, yang jantung lah, diabetes (kencing manis) lah, hipertensi (darah tinggi) lah, obesitas (kegemukan) dan stunting (kekerdilan) lah, dan sebagainya.

Coba setidaknya pemerintah merenungkan dan memperhatikan hal ini, mengapa makanan sehat dan gaya hidup sehat itu lebih mahal di Indonesia?

Mengapa:

1. Makanan organik lebih mahal dari non organik?

2. Minyak kelapa (yg lebih sehat) 2-3 kali lipat lebih mahal dari minyak kelapa sawit?

3. Garam Himalaya atau garam laut yg lebih kaya nutrisi lebih mahal dari garam biasa atau garam beryodium?

4. Gula aren dan gula batu lebih mahal dari gula pasir?

5. Buah-buahan dan jus lebih mahal dari mamin yang tidak sehat.

6. Telur ayam kampung lebih mahal dari telur leghorn.

7. Sapi pemakan rumput (sepertinya juga)  lebih mahal dari pemakan makanan pabrik.

Dan semacamnya.

Bisakah kalian mengatasi itu dulu? Setidaknya bertahap.

Serupa dengan itu, saya tak akan membahas panjang lebar tentang energi, baik itu definisi, jenis-jenis, sumber, dan lain-lain. Itu sudah banyak dibahas oleh orang lain.

Saya akan langsung masuk pada solusinya saja. Saya yakin pemikiran saya ini berbeda dengan pemikiran-pemikiran atau solusi-solusi yang pernah ditawarkan orang lain yang biasanya berkisar pada penemuan sumber energi baru, alat-alat, dan lain-lain.

Pernah tidak saat Anda mau membeli barang Anda memperhatikan spesifikasi dan harganya? Pastinya. Ya, kan?

Nah, itu maksud saya, jika uang kita hanya sedikit, kita tidak akan mampu membeli barang-barang yang hemat energi.

Kadang juga mah kita nggak ngitung soal energi-energian. Bodo amat yang penting kita bisa dapat barang yang kita butuhkan buat kita di rumah.

Jadi, kalau kita ingin ketahanan energi meningkat. Ya secara teori baliklah hal itu. Jadikan barang-barang dan alat-alat yang hemat energi itu murah. Gimana caranya/teknisnya? Silakan dipikirkan. 

Bukankah kalian punya pakar di bidang masing-masing? 


(Strategi serupa bisa diterapkan juga untuk berbagai hal lain, silakan direnungkan sendiri kemudian diterapkan pada hal itu juga)



03 Oktober 2020

Kata-Kata (sok) Religius yg Membahayakan Agama

  


Kita mungkin sering mendengar para wanita berkata "dijilbabin" dulu hatinya.


Mengapa mereka begitu meyakini hal itu, padahal ajaran Islam itu sebaliknya? Menutup aurat (berjilbab) itu wajib bagi muslimah, tidak harus baik dulu hatinya.


Kemungkinan mereka jauh dari sumber Islam yang benar, selain mungkin pernah mendapatkan pernyataan yang salah/abuse dari seseorang . 


Abuse tersebut aslinya bisa tujuannya baik (tetapi yg menyampaikan kurang ilmu, jadinya salah), bisa juga memang dengan niat menghina/mengata-ngatai. 


Namun, tak peduli tujuannya, hasilnya cenderung akan melenceng. Ia malah menimbulkan shame/rasa malu, kesia-siaan, jauh dari Tuhan, atau bahkan jadi pindah agama, tak beragama, atau tak percaya Tuhan.


"Tuhan" bukanlah kata sakti yang bisa menjadi nasehat tertinggi. Orang itu kan ada level-levelnya. Selain itu, dalam kegelapan hidup orang sering mempertanyakan "Tuhan itu di mana? Kenapa nggak nyelametin aku? Kenapa aku sial terus? Ada ta Tuhan itu? Kenapa Tuhan jahat sekali sama aku? Dan sebagainya. 


Dalam kondisi seperti itu jangan katakan "Kamu jauh dari Tuhan", Kamu kurang ini kurang itu (misalnya kurang sholat, kurang sabar, dan sebagainya). Kemungkinan orangnya sudah paham/merasa tetapi tidak mampu mendekat kepada Tuhan makanya minta bantuan kita. Iman itu naik turun kan? Ada juga iman yang ketika turun turunnya banget-banget sampai susah naik lagi.


Kemungkinan lain adalah saran tersebut terlalu abstrak sehingga dia tidak tahu teknik untuk menerapkannya.


Dari sini nasehat/ceramah bisa berguna, bisa juga tidak. Menurut saya, doalah kunci utamanya. Itulah mengapa Rasulullah kalau disakiti seseorang malah mendoakan orang yang menyakitinya (agar mendapat hidayah, membaik, dan sebagainya). Hati pelakunya itu berada di antara kondisi sakit atau mati sehingga perlu (bantuan dengan) didoakan.


Sakit sendiri juga beda-beda, ada sakit parah ada juga sakit sedang atau ringan. Istilahnya itu jadi mendal/nggak ngefek/malah menyakitkan hati jika ujaran/nasehat/ceramah kita salah. 


Saya mau mengingatkan lagi, dunia itu dipenuhi kata-kata yang negatif dan tidak ramah. Orang cenderung lebih banyak mengucapkan kritik dan kata-kata negatif lainnya daripada kata-kata yang positif atau indah dan menyenangkan. Sedangkan untuk mereparasi efek dari 1 kata negatif saja dibutuhkan banyak kata positif. Kalau tidak salah 5 atau 7 kata positif untuk menetralkan efek dari 1 kata negatif. Alih-alih mencela, mengkritik, atau menceramahi, jadikan kata-kata kita berupa saran/ajakan dan lebih baik lagi praktek langsung. Jadi, ketika orangnya di situ misalnya dan kita merasa perlu dia sholat dan ngaji dan kebetulan waktunya sholat orangnya langsung diajak sholat dan ngaji saat itu juga bersama kita. Hal ini sekaligus memutus/mengantisipasi penundaan (procrastination) sebagai kecenderungan manusia dan bisikan setan.


Oh ya tentang setan ini, terutama yang dari jin ya saya punya kisah menarik. Hal itu berhubungan dengan frekuensi. 

Kenalan saya yang indigo telah mengingatkan saya (saya merasa pernah tahu tetapi sebagian plus lupa) tentang hubungan antara jin dan frekuensi ini. 


Dia berkata, "Kalo kita berlebihan terhadap sesuatu atau merasakan emosi tertentu berkepanjangan kita akan menarik jin-jin dengan frekuensi yang sama. Mula-mula jin itu mendekat (tetapi di luar tubuh kita), lambat laun jin itu akan masuk ke tubuh kita dan emosi/hal apa pun yang kita over tadi semakin lebih dan lebih."


Misalnya:

Pemarah, dia marahnya sampai berlebihan/berkepanjangan (bisa levelnya, intensitasnya, frekuensinya, atau lamanya), jadi mungkin sampai berhari-hari juga, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun. Dia berpotensi mendatangkan jin yang pemarah juga. Jin pemarah itu mula-mula mendekatinya, tetapi masih di luar tubuhnya. Mendekat dan menyerap energinya. Lama-lama jin pemarah itu akan masuk ke tubuh orang yang pemarah itu, sehingga orang itu jadi makin pemarah. Makin over/lebay marahnya.


Hal serupa bisa juga berlaku pada emosi lain/hal over lain yang kita lakukan, misalnya:

1. Berbuat curang (bisa diikuti iblis Zailatun atau pasukannya)

2. Pengeluh (bisa diikuti iblis Wawatsin atau pasukannya)

3. Berbuat zalim, menjauhi hal-hal ma'ruf, dan senang berbuat maksiat (bisa diikuti iblis Akwan atau pasukannya)

4. Minum khamr/mabuk-mabukan dan semacamnya (bisa diikuti iblis Hafaf atau pasukannya)

5. Dosa seputar penyanyi/aktivitas bernyanyi, misalnya lagu yang isinya mengajak pada keburukan, lagu ngeres, baju seksi/ketat/transparan/mirip kulit, dan sebagainya (bisa diikuti iblis Wamurah atau pasukannya)

6. Tetap kafir/tetap musyrik/tetap menyembah selain Allah (bisa diikuti iblis Laqwas atau pasukannya)

7. Zina dan maksiat lain yang berhubungan dengan zina (bisa diikuti iblis A'war atau pasukannya)

8. Mengutamakan tidur/maksiat/hal-hal duniawi dibandingkan ibadah (bisa diikuti iblis Al-Wasnan atau pasukannya)

9. Berselingkuh/menyeleweng padahal sudah berumahtangga (bisa diikuti iblis Dasim atau pasukannya)


Misalnya seperti itu. Jangan lupa, kecenderungan manusia untuk berbuat buruk/yang dianggap tidak sesuai itu berasal dari 3, yaitu:

1. Hawa nafsunya sendiri (hawa nafsu yang buruk)

2. Setan (dari golongan jin atau manusia)

3. Mental Ilness (gangguan mental/trauma)


Sudah lebih paham kan ya kenapa orang yang jauh dari Allah susah diajak "balik"/kembali ke jalan yang benar?


Musuhnya bisa dobel, yaitu orang itu sendiri/hawa nafsu yang buruk dan imannya yang sedang lemah plus jin di dalamnya (seingat saya qarin juga mengajak pada keburukan kecuali qarinnya Nabi Muhammad. Jadi qarin plus jin baru yang masuk ke dalam tubuhnya). Serta yang terakhir, trauma. Dia tidak semata-mata harus didekati dengan agama. Ada pengalaman hidup yang mendasarinya.


Kan ada juga ayat Al Quran (saya lupa surat dan ayatnya) yang intinya itu barangsiapa yang jauh dari Allah akan disertakan setan. Allah itu simbol positif, setan itu simbol negatif. Menjauh dari Allah artinya pasti mendekat pada setan. Begitu. 

Lah nol (0) atau netralnya di mana? Nggak ada ta? Mungkin, mungkin lho ya, saya berpendapat nol itu tidak ada, yaitu kondisi kadang-kadang manusia ingat dan kadang-kadang manusia lupa/lalai, tapi ketika ingat itu tak sampai membuat ibadah/amalannya surplus daripada saat dia lupa/lalai. Jadinya mungkin masuk ke dalam "golongan merugi". Bukan tidak bernilai ya, karena kalau dia tidak beribadah sama sekali dia malah bisa masuk "golongan celaka". Orang yang di titik nol ini ndrawasi/mengkhawatirkan, dia menunggu pengaruh yang lebih kuat masuk ke dalam dirinya, yang membuat dia jatuh ke "golongan beruntung" atau malah "golongan celaka".


Baik, kembali ke pokok permasalahan, ada ujaran tertentu yang membahayakan agama, misalnya:


1. Percuma kamu sholat kalau kamu pelac*r,

2. Percuma kamu jilbaban kalau pergelangan tanganmu kelihatan,

3. Percuma kamu jilbaban kalau hatimu belum baik,

4. Percuma kamu sholat kalau kamu masih bermaksiat,

5. Percuma kamu sholat, kamu masih/udah terlalu kotor,

6. Percuma kamu ngaji kalau gitu aja nggak ngerti,

7. Percuma kamu mendalami agama kalau nggak diamalkan,

8. Percuma kamu ustadz tapi nggak bisa mendidik anakmu dengan baik,

9. Suara jelek kok adzan (akhirnya mau adzan aja nunggu orang yang suaranya merdu. Orang jadi bertanya-tanya suaraku merdu nggak, bahkan yang suaranya indah pun tidak selalu PD/merasa indah, berani adzan, atau bisa adzan. Ribet seperti ini akhirnya bisa-bisa malah nggak ada yang adzan),


dan percuma-percuma lainnya.


Jangan begitu karena:

1. Kita itu manusia yang imannya bisa naik turun,


2. Kita tidak tahu akhir kita bagaimana,


Pernah dengar Barsisho? Dia sangat soleh selama seribu tahun tapi meninggal dalam keadaan musyrik dan melakukan berbagai maksiat.


3. Kita tidak tahu amalan kita diterima Allah atau tidak. Kalaupun ada yang diterima, kita tidak tahu yang mana.


4. Kita sendiri lho pendosa, banyak dosanya. Yakin bisa selamat di akhirat?


5. Hasil dari amalan kita itu di tangan Allah, sehingga Nabi sekalipun tidak bisa membuat keluarganya pasti taat dan alim juga,


6. Pena telah kering, segala yang terjadi sudah tertulis di Lauhil Mahfuzh,


7. Perbuatan yang sangat dibenci Allah adalah sombong. Iblis saja karena sombong bisa keluar dari surga dan jadi makhluk celaka. Allah dengan mudah bisa membalik kondisi kita dan orang tersebut, sehingga kita yang jelek dan dia yang baik.


8. Andai kita selamat di akhirat itu bukan karena amalan kita, tetapi karena rahmat Allah,


9. Tidak ada satu perbuatan pun yang tidak diganjar oleh Allah. Perbuatan baik sebesar dzarrah (biji sawi) pun ada hitungan ganjaran kebaikannya di sisi Allah. Sama sekali tidak percuma.


10. Perbuatan baik orang itulah yang bisa jadi rem dari perbuatan buruknya, cantolan bagi perbuatan baik lainnya, bisa lebih mendekatkan dia pada kebaikan,  dan mungkin dia masih berproses untuk menuju ke kondisi yang lebih baik lagi.


Nggak ada yang percuma ya.

Jangan anggap percuma kebaikan. Jangan mengolok-olok lagi.


Beragamalah dengan santun dan indah, apalagi terhadap saudara sendiri, sesama muslim. 



23 September 2020

Berhenti Berbuat Konyol, Covid-19 itu Masalah Serius

 Berhenti Berbuat Konyol, Covid-19 itu Masalah Serius

 

Konyol, dua warga Semarang yang terkonfirmasi Covid-19 kedapatan sengaja hendak menularkan Covidnya pada masyarakat. Kedua ibu itu adalah NA alias Fn dan temannya, LS. Jelas-jelas mereka mengidap Covid tetapi malah sengaja jalan-jalan bebas di mal dan enggan melakukan isolasi mandiri. Beruntung niat jahat itu segera terkuak sehingga dampak yang lebih serius bisa diredam.

Aksi konyol semacam itu bukanlah yang pertama kali terjadi di dunia ataupun di Indonesia. Beberapa aksi serupa pernah terjadi dan tak kalah fatal akibatnya. Agustus lalu, seorang wanita pedagang di pasar menjadi positif Covid karena ulah konyolnya sendiri. Wanita berinisial HL itu mengaku terinfeksi Corona karena telah melumurkan air liur jenazah pasien Covid-19 ke wajahnya. Tak hanya meraupi wajahnya dengan air liur jenazah pasien Covid, ia bahkan mengusir dan mencaci maki petugas medis Batam yang berusaha mengamankannya.



Aksi konyol lain datang dari warga Sorong yang malah takut di-rapid test. Saat hendak dites ia malah berusaha menyogok petugas dan mengungsi ke pulau lain. Ada juga orang yang malah merekayasa hasil tes agar bebas bepergian atau melakukan keinginannya.

Bila pelaku aksi-aksi di atas belum sempat menyesal karena keburu diamankan, bagi Richard Rose penyesalan sudah tak berguna. Richard harus mengaku kalah setelah dihajar virus Corona yang berbulan-bulan sengaja ditantangnya. Aksi ekstrem Richard itu berupa gerakan anti masker.

Pada laman Facebooknya 28 April, Richard masih sesumbar,

“Aku mengatakan, aku tak akan membeli masker dan hingga kini aku masih hidup tanpa membeli dan menggunakan masker sialan itu.”

Tiga bulan Setelahnya, tepatnya 1 Juli, Corona pun datang menghampiri. Richard tumbang, ia dinyatakan positif terinfeksi Corona.

Setelah kena batunya, terpaksa ia menurut. Sambil terus mengomel ia melukiskan penderitaannya.

“Baik, secara resmi aku akan melakukan karantina selama 14 hari ke depan dan aku baru dinyatakan positif terinfeksi Corona. Menyebalkannya, aku baru saja mendapat pekerjaan baru,” curhatnya setelah dinyatakan positif terinfeksi Corona.

“Corona ini menyebalkan, aku kehabisan napas dan hanya bisa duduk di rumah sakit tanpa melakukan apapun,” sambungnya pada 2 Juli.

Tak butuh waktu lama, pada tanggal 4 Juli Richard pun keok. Richard kini tinggal nama, ia hanya sanggup bertahan 3 hari sejak dinyatakan positif Corona.

Kisah Richard ini dicuitkan oleh Payman Benz agar menjadi pelajaran, bukan untuk mempermalukan. 

 





Covid-19 itu masalah serius. Penting bagi kita untuk mengikuti anjuran pemerintah agar selamat.

Semua langkah protokol kesehatan itu penting, bukan untuk dibanding-bandingkan mana yang lebih penting. Memakai masker itu penting, membersihkan tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer atau antiseptik juga penting, jangan ada yang ditinggalkan. Terutama, jangan sampai tidak percaya bahwa Covid itu ada.

Dampak Covid ini sangat luas, bukan hanya menyangkut penderita Covid atau sebagian masyarakat yang menurun pemasukannya, tetapi juga menyangkut kehidupan/nyawa tenaga medis itu sendiri, tenaga kebersihan/pekerja di rumah sakit, penderita penyakit lain, meningkatnya kasus KDRT di rumah terhadap korban, bahkan kesejahteraan hewan-hewan di kebun binatang.

Teman saya yang dokter menjadi burnout (sangat kelelahan) dan ingin pensiun dini, suami teman saya yang tenaga kesehatan ditolak masyarakat sehingga susah pulang, teman kakak saya yang menderita autoimun meninggal karena saking takutnya kontrol ke rumah sakit, bahkan stok-stok obat atau fokus untuk penyakit lain dan anggaran yang sudah dianggarkan untuk kegiatan/program lain ikut termakan untuk mengatasi Covid ini. Kalian tidak tahu kan betapa mengerikannya Covid bagi penderita autoimun, diabetes, penderita kecemasan/gangguan jiwa, dan orang-orang yang dikatakan berisiko tinggi lainnya?

Tolong ya, pahami betapa kacau dan porak-porandanya negeri ini karena Covid. Kita sudah di ambang resesi atau malah sudah resesi, dan jangan lupa utang Indonesia itu masih banyak. Bagaimana jika masih ketambahan bencana lain, yang kabarnya potensi tsunami setinggi 20 meter lah, banjir musiman lah, gempa bumi lah, ancaman virus baru atau resistensi antibiotik lah, atau bahkan ancaman perang dari negara lain yang suka bikin ulah pada Indonesia. Tolong renungkan sejenak!

Buka mata dan pikiran kalian, Covid ini bukan satu-satunya masalah, lho. Masalah TBC saja misalnya, belum tuntas sampai sekarang.

Stop berbuat konyol.

Mau kasus Covid segera kelar, nggak?

Kalau mau, ditunggu kerja samanya. Patuhi semua protokol kesehatan dengan baik.

Ini ya saya kasih gambaran betapa stres dan burnout-nya tenaga medis:

 


Coba renungkan lagi. Kita itu cuma disuruh pakai masker, cuci tangan dengan sabun/hand sanitizer, serta jaga jarak. Bandingkan dengan para dokter dan perawat, bajunya itu lebih bikin gerah dan sumpek, maskernya itu sampai bikin wajah mereka luka-luka, mereka jadi susah makan minum dan BAB/BAK, susah tidur/istirahat, sholat tepat waktu, atau bahkan ganti p*mbalut. Mereka berjam-jam memakai APD atau baju hazmat dan segala macam itu saat menangani pasien Covid (bahkan sempat ada yang kehabisan APD dan seperti bunuh diri karena harus tetap menangani pasien Covid), sementara kita bisa pakai copot masker kalau sedang tidak di keramaian, baju kita biasa tidak dobel-dobel seperti mereka. Belum lagi tentang perasaan bersalah para dokter dan perawat itu karena tidak bisa menyelamatkan nyawa pasien atau tidak bisa menangani mereka semua dengan pelayanan yang sama-sama baik dan maksimal. Dokter-dokter dan perawat-perawat itu juga manusia lho, mereka juga takut Covid, takut mati, bisa lelah dan stres, dan bisa mati juga.

Dalam Tribunnews, seorang dokter bernama Ardiles bahkan terinfeksi virus Corona padahal selalu mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap saat berada di rumah sakit. Ia sendiri heran, ia mengaku tak pernah pergi ke mana-mana, ia hanya menghabiskan waktu di rumah sakit dan di indekosnya. Dari mana Covidnya berasal? Beruntung ia selamat, terlihat dari akun twitternya yang masih bisa mencuit hingga kemarin. Begini potongan cuitan kisahnya.

 





Terakhir, simak video lain dari dokter yang menangani pasien-pasien Covid di ICU bahwa Covid itu bukan hoaks. Covid itu nyata dan sudah memakan banyak korban. Sayangi diri Anda dan keluarga dan dukung pemerintah agar pandemik ini segera berakhir.

 



Sumber:

https://www.tribunnews.com/regional/2020/08/02/viral-kisah-dokter-selalu-pakai-apd-lengkap-tapi-positif-corona-hingga-tak-bisa-cium-parfum

https://www.cnbcindonesia.com/news/20200922110814-4-188481/fix-ri-resesi-ramalan-ngeri-sri-mulyani-ekonomi-q3-negatif

https://www.liputan6.com/regional/read/4361439/tega-wanita-ini-sengaja-jalan-jalan-ke-mal-untuk-tularkan-covid-19-ke-banyak-orang

https://regional.kompas.com/read/2020/08/27/10054461/mengaku-lumuri-wajah-dengan-air-liur-jenazah-pasien-covid-19-pedagang-pasar

https://news.detik.com/berita/d-5144185/warga-balurkan-liur-jenazah-covid-19-ke-wajah-berujung-positif-corona

https://www.insertlive.com/style/20200714204933-19-151617/ikut-gerakan-antimasker-pria-ini-meninggal-usai-dinyatakan-positif-corona