26 Februari 2019

Kampanye Minim Isu Lingkungan, Ada Apa dengan Capres Kita?


Kampanye Minim Isu Lingkungan, Ada Apa dengan Capres Kita?

Tiga Masalah Terbesar Dunia di Masa Depan

Tiga masalah terbesar dunia di masa depan telah dirumuskan oleh Yuval Noah Harari, salah seorang dari 100 pemikir teratas dunia tahun 2018. Masalah tersebut adalah perang nuklir, perubahan iklim, dan gangguan teknologi. Berkaitan dengan itu, dia pun memberikan sebuah tantangan untuk para calon pemimpin di masa depan, mampukah menjawab 4 pertanyaan ini:
1.    Jika Anda terpilih, tindakan apa yang akan Anda ambil untuk mengurangi risiko perang nuklir?
2.    Tindakan apa yang akan Anda ambil untuk mengurangi risiko perubahan iklim?
3.  Tindakan apa yang akan Anda ambil untuk mengatur teknologi yang mengganggu seperti AI (kecerdasan artifisial/buatan) dan bioteknologi?
4.  Bagaimana Anda melihat dunia 2040? Apa skenario terburuk Anda, dan apa visi Anda untuk skenario terbaik?

Di antara kedua calon presiden, siapa yang telah menjawab keempat pertanyaan tersebut dengan baik? 

Setahu saya, sejauh ini tidak ada capres yang menyinggung tentang perang nuklir. Isu tentang lingkungan hidup hanya dibahas 25 kali oleh kubu Jokowi-Ma’ruf, dan 16 kali oleh kubu Prabowo-Sandi. Sedangkan masalah gangguan teknologi, meskipun Yuval juga menyinggung tentang hoaks, tetapi yang dimaksud lebih mengarah kepada AI, penjajahan/peretasan data, dan bioteknologi. Dalam hal hoaks, kubu Jokowi yang lebih memperhatikan, yaitu sebesar 75 kali dibahas, dibandingkan dengan kubu Prabowo yang hanya 10 kali. 

Kampanye Minim Isu Lingkungan, Ada Apa dengan Capres Kita?
 Grafik kampanye capres 2019 berdasarkan isu yang diangkat di media sosial

Lalu bagaimana dengan tahun 2040? Pada tahun tersebut Inggris dan Perancis sudah melarang mobil berbahan bakar bensin atau solar. Kendaraan harus sudah nol emisi. Hal itu disebabkan British Petroleum (BP) memperkirakan bahwa gas akan menyalip minyak sebagai sumber energi utama dunia, sedangkan IMF memprediksi mobil listrik akan mulai mendominasi pada tahun tersebut.

Di Indonesia sendiri, capres dengan nomer urut 2, telah meramalkan skenario terburuk bahwa Jakarta akan tenggelam pada 2025. Menurut Ilmuwan Prof. Wayan Suparta, hal itu bisa jadi benar, tapi hanya akan menimpa Jakarta Utara. Itupun jika kecepatan penurunan tanah mencapai 20 hingga 25 sentimeter per tahun ditambah penggunaan air tanah yang berlebihan. Lucunya, tak diketahui dengan pasti apa tindakan konkretnya selain seperti hanya menebarkan teror (ketakutan). Bisa dilihat bukan, grafik menunjukkan isu lingkungan hanya diusung 16 kali oleh kubu Prabowo. Selain itu, dia juga tidak menunjukkan apa skenario terbaik dari pemerintahannya pada Indonesia di masa mendatang.

Berbeda dengan paslon 2, paslon 1, lebih memfokuskan pada skenario terbaik. Jokowi menyatakan, ekonomi Indonesia akan menjadi terbesar ke-4 di dunia pada 2040-2045. Pernyataan ini tanpa dibarengi dengan apa skenario terburuk yang bisa terjadi, sehingga terkesan over optimis. 

Lebih jauh mengenai isu lingkungan, terutama perubahan iklim akan dijelaskan sebagai berikut.


Isu Lingkungan dan Perubahan Iklim

Sebagaimana pernyataan Yuval Noah Harari, isu lingkungan hidup terutama mengenai perubahan iklim sangat penting bagi masa depan. Masalah ini benar-benar serius. Laporan baru utama dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), dirilis di Korea pada 8 Oktober 2018, menyatakan “Suhu global rata-rata sekarang 1.0 °C di atas tingkat pra-industri. Peningkatan itu sudah menyebabkan cuaca yang lebih ekstrem, naiknya permukaan laut, dan berkurangnya es laut Kutub Utara, dan merusak ekosistem daratan dan laut yang tak terhitung jumlahnya. Peningkatan 1,5° C, kemungkinan pada tahun 2040, akan memperburuk keadaan. Peningkatan 2,0° C akan jauh lebih buruk dari itu. Hanya perubahan sosial-ekonomi dan politik-diplomatik radikal yang dapat menghentikan bencana. Para ilmuwan iklim terkemuka di dunia telah memperingatkan bahwa hanya selusin tahun yang tersisa untuk pemanasan global yang dijaga agar tetap maksimal 1,5C. Di luar itu, efek yang tidak dapat dibalikkan akan mulai bergerak: bahkan setengah derajat akan secara signifikan memperburuk risiko kekeringan, banjir, panas ekstrem, dan kemiskinan bagi ratusan juta orang.”

Di Indonesia sendiri, kita masih memiliki banyak PR mengenai isu lingkungan. Misalnya terkait dengan degradasi hutan karena ekspansi perkebunan, izin pertambangan dan illegal logging, konflik tenurial, krisis tata ruang, bencana ekologis, reklamasi, sampah plastik, dan pencemaran udara.

Kampanye Minim Isu Lingkungan, Ada Apa dengan Capres Kita?
Visi dan misi paslon 1

Kampanye Minim Isu Lingkungan, Ada Apa dengan Capres Kita?

Visi dan misi paslon 2

Jika merujuk pada visi dan misi dari kedua pasangan calon presiden, isu lingkungan sudah termuat di dalamnya. Pada paslon 1 terdapat pada poin ke-4, sedangkan paslon 2 terdapat pada poin ke-1. Bahkan, secara khusus, Prabowo sebagai capres nomer urut ke-2 juga memberikan beberapa janji yang terkait dengan lingkungan, misalnya membangun kemandirian dalam hal pangan, energi, dan air; serta mendisiplinkan perusahaan besar untuk menghadapi masalah lingkungan (Sains.kompas.com, 18/02/2019). Meskipun, di dalam janji-janjinya masih terdapat banyak keganjilan, misalnya janji untuk memanfaatkan kelapa sawit menjadi biofuel dan biodiesel (kubu paslon 1 pun memberikan janji serupa tentang biodiesel kelapa sawit). Padahal, selama ini perkebunan kelapa sawit masih mendatangkan isu lingkungan hidup yang besar. Selain itu, program Prabowo-Sandi tentang pertambangan yang ramah lingkungan disikapi skeptis oleh Ketua Tim Adhoc Politik Keadilan Ekologis, Khalisah Khalid. Bagi Khalisah, hal itu hanyalah mitos.

Seperti tampak pada grafik sebelumnya, faktanya kedua paslon lebih mengutamakan isu ekonomi dan demokrasi di dalam kampanyenya ketimbang isu lingkungan hidup. Perbandingannya sangat jauh. Jika pada paslon 1 ekonomi disinggung 293 kali dan demokrasi disinggung 341 kali, lingkungan hidup hanya disinggung sebanyak 25 kali. Sedangkan pada paslon 2 ekonomi disinggung 394 kali, demokrasi disinggung 365 kali, dan lingkungan hidup hanya disinggung sebanyak 16 kali.



Video debat calon presiden 2019

Pada debat calon presiden tentang lingkungan hidup, masalah lingkungan juga saya pandang kurang dibahas mendalam. Bahkan, pernyataan-pernyataan Jokowi di dalamnya banyak menuai protes dari masyarakat, karena menganggapnya tidak benar. Kebakaran hutan masih terjadi di mana-mana pada periode yang dimaksud (3 tahun terakhir). 

Komentar para netizen di Instagram atas pernyataan Jokowi saat debat isu lingkungan

Masalah lain juga dijumpai pada tidak selarasnya instruksi Jokowi dengan para pembantu di kabinet dalam hal lingkungan hidup, seperti pada kasus Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. Jokowi sudah menandatangani Inpres No.8 Tahun 2018 tentang moratorium izin perkebunan sawit. Tapi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) justru menerbitkan Surat Keputusan (SK) yang mengizinkan pelepasan area hutan produksi seluas lebih dari 9.000 hektar menjadi kebun sawit.

Pada intinya, masih terdapat banyak “lubang” di dalam visi misi ataupun program-program dari kedua calon. Diperlukan adanya kajian dan perbaikan lebih lanjut agar hasilnya lebih memuaskan. Karena bagaimanapun juga pertumbuhan ekonomi yang mengesampingkan kelestarian alam justru mengakibatkan bencana alam yang akan menjauhkan masyarakat dari kata sejahtera. Alih-alih sejahtera, ia malah akan menimbulkan kesengsaraan. Jangan lupakan pula bahwa kolapsnya Pulau Jawa dan pulau-pulau besar lainnya justru disebabkan oleh laju investasi yang tak terkendali sehingga menyebabkan kerusakan alam.

Namun, pertanyaan yang kemudian muncul adalah bisakah keduanya — pertumbuhan ekonomi dan isu lingkungan — berjalan seimbang? Ataukah hanya teori? Menurut Yuval Noah Harari tidak bisa. Di dalam bukunya 21 Lessons for the 21st Century ia menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak akan bisa menyelamatkan ekosistem global atau memecahkan gangguan teknologi. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi akan menyebabkan krisis ekologi.

Bagaimana dengan pendapat Anda? Setujukah dengan Yuval Noah Harari? Atau apakah Anda memiliki win-win solution atas masalah-masalah ini? Bagaimana agar hal itu tidak terjadi?


Sumber: