08 September 2018

Mengenal Sisi Gelap Lomba Blog dan Lomba Menulis


Mengenal Sisi Gelap Lomba Blog dan Lomba Menulis


Hmm... kali ini aku akan cerita sama kamu soal hal-hal yang nggak nyenengin terkait lomba blog dan lomba menulis. Yah, gimana-gimana nulis itu nggak gampang, perlu usaha. Apalagi ini kompetisi ya, pastinya sungguh-sungguh dong. Aku sih gitu, nggak tau kalo kamu. Aku nggak pengen aku atau kamu hanya akan dijadikan “penggembira” alias dimanfaatkan doang. 

Langsung aja ya, ini kutulis berdasarkan pengalaman-pengalamanku. Buat pelajaran dan antisipasi bersama. Nih dia modus-modusnya:

1.   Tidak ada pengumuman pemenang.

2. Ada pengumuman tapi tidak diinfokan ke peserta/pemenang.
Secara kebetulan ada koneksi yang membuat aku tahu kalau menang. Trus aku ambil deh hadiahnya di lokasi. Hadiahku ditukar dan di sana, mereka bilang sudah berusaha hubungi aku. Tapi aku ga merasa dihubungi. 

3.   Juara palsu/fiktif.
Alias juaranya adalah bolo dewe (suruhan penyelenggara)

4.   Juara padahal melanggar syarat dan ketentuan.
Aku beberapa kali nemu gini. Di antaranya ada lomba di FB. Aku cek pemenangnya, ga ngikuti rules. Nggak ada tag-tagnya, dll. Aku nyelem sampai dalem-dalem, sampai nemu tulisan si pemenang itu di antara postingan-postingan lain si penyelenggara. Itu jelas-jelas “ilegal”. Entah bolo dewe atau bukan. Langsung kublokir kedua FB penyelenggara itu. 

5.   Hadiah (tambahan) berupa sesuatu acara di lokasi penyelenggaraan (yang jauh, beda tempat, dan ga mungkin didatangi, berapa duit Bo’)

6.   Urutan juara ditukar.
Ini asli, aku pernah dapat sertifikat runner up. Sudah kuterima duluan, lalu muncul info pemenang lomba dan aku cuma dapat hadiah pengirim pertama. Aku diintimidasi dengan cara hadiahku ditahan sebelum aku melakukan perintah mereka. Menurutmu, apa yang terjadi?
Ini sertifikat cetak lho, sudah sampai rumahku. Sulapan bener. 

7.   Syarat dan ketentuan diganti tanpa pemberitahuan dan tanpa pasal “Syarat dan ketentuan bisa berubah sewaktu-waktu”
Waktu itu lomba ini terkait media online. Berhubungan dengan view. Pas di akhir tanggal penyelenggaraan lomba, “Lho, kok S&K –nya diganti?”
Jelas kalah dong, dan kalah dengan ga fair.

8.   Adanya kriteria kemenangan tersembunyi
Ini sering ya, misalnya sudah ditulis poin-poin apa saja yang dinilai, eh ternyata panitia memasukkan poin lain. Misalnya: komentar, share, grafis, dll. 

9.   Inbox “gerilya” dari penyelenggara ke email peserta dan isinya rules tambahan yang berupa kebohongan.
Kasus ini terjadi baru-baru ini oleh sebuah e-commerce yang relatif baru. Aku sudah curiga, jadi aku ga ikutan kena modus mereka.
Panitia bilang gini, “Kami hanya kirimkan ini ke beberapa peserta, tulisan kalian bagus, kalian tinggal gini gitu untuk meningkatkan peluang menang”.
Nah lo, baru kali ini ada panitia curang gitu ke beberapa peserta. Antik abis. Tapi bener deh, itu boongan. Modus doang. Aslinya semuanya dikirimi.

10.     Website hilang
Kalau yang ini sudah agak lama. Lomba jadul, masih zamannya aku suka samber lomba apa aja, termasuk view-view an. Waktu itu aku gencar banget, dengan cara manual, cari view. Sampai keriting tanganku. Taunya apa? Website hilang. Pliz deh.

11.     Tidak didaftar (?) atau data hilang?
Ceritanya daftarnya itu pakai ngisi form dan segala macem. Udah deh aku ikut rulesnya. Eh trus aku dihubungi panitia, katanya belum terdaftar, disuruh daftar lagi. Sambil jengkel terpaksa nurut daftar lagi. Yang bikin kaget, di akhir-akhir ada pendataan seluruh peserta, namaku tetap tidak terdaftar. Why?

12.     Waktu perpanjangan yang modus
Lomba ini terjadi setahun lalu. Pesertanya cuma dikit. Peserta di atasku termasuk gaptek, ga bisa pasang logo, dilolosin sama panitia (mungkin karena dia penggembira, peserta pertama).
Nah, terus DL-nya kan tanggal sekian jam 12 malam. Ternyata lewat jam itu ada beberapa yang kirim. Besoknya muncul perpanjangan waktu (dan yang telat itu yang menang). It’s amazing. Dua pemenang yang antik. Aku sempat mikir, seandainya mereka di-dis (dan ga ada perpanjangan waktu), aku mungkin juara 1-nya.

13.     Tidak tercantum sebagai penerima hadiah
Jadi gini, waktu itu aku sebenarnya males ikut lombanya, tapi lombanya penting (sesuai idealismeku). Sengaja ngincer hadiah pengirim pertama aja. Aku udah “nyelam” ke medsosnya, kuhitung udah berapa orang yang ngirim. Aku yakin aku masuk deh pengirim pertama. Waktu itu pengirim nomer 2. Eh, ternyata pas pengumuman pemenang aku dan pengirim sebelumku itu ga masuk sebagai pengirim pertama (pengirim awal). Panitia pun curang dengan dalih pemenang (maksudnya pengirim-pengirim awal) diumumkan lewat email. Siapa yang tau ada yang menang apa nggak?

14.     Hadiah harus diambil di lokasi
Ini dilakukan sebuah stasiun radio di kota X. Kecurangan mereka 2: pertama, hadiah ditukar (beda dengan yang di info), ke dua: pialaku ditahan. Katanya harus diambil di lokasi. Alasan nanti rusak, dll. Nada bicaranya pun arogan. Tadinya uang hadiahku juga ditahan, tapi aku memancing egonya sehingga marah dan intinya bilang “Oke, aku kirim segera”. Jadinya, alhamdulillah uangku bisa cair.
Perlu diketahui, ga ada lho pada info itu peserta harus daerah sana? Kok hadiahku dipersulit, udah tahu beda provinsi.

15.     Hadiah diganti seenaknya
Sudah ada ya pada poin sebelumnya.

16.     Hadiah dikorupsi oleh perantara lomba
Ini terkait dengan lomba pada nomer 2. Perantaranya modus, hadiahku dipotong sangat besar. Alhamdulillah aku ga ikut seremonial dan bukti-bukti masih ada, sehingga penyelenggara lomba memberiku hadiah penuh. Tadinya mereka ga percaya dan situasinya riweuh gitu, mereka eman mau ngeluarkan uang lagi. Tapi karena mungkin terkait nama akhirnya penyelenggara berikan juga uang itu. Teman-teman si penyelenggara yang waktu itu ada di lokasi juga kelihatan ga suka sama aku, karena uang yang kurang tadi.

17.     Syarat tambahan agar hadiah cair/setelah hadiah cair
Misalnya, harus share lagi, bikin review, cari like banyak-banyakan, dll.
Bagiku ini curang, aku pribadi males kalau diinfokan di awal ada gitu-gituan. Nah, misal aku kejebak gitu, mau gak mau kan harus ikut rules barunya.

18.     Bilangnya diberi sertifikat tapi ga diberi

19.     Pemenang khusus daerah situ
Misalnya, karena alasan seremonial penyerahan hadiah, ongkir ringan, harus diambil di tempat, atau lainnya. Ini ga diinfokan lho. Unsur kedekatan/lokalitas ini juga patut diwaspadai. 

20.     Syarat dan ketentuan (S&K) “yang tertinggal”
Misalnya, ga ditulis kalau khusus daerah tertentu, foto harus milik sendiri, dll.

21.     Keteledoran panitia
Misalnya, judul “untuk umum”, ternyata yang dimaksud “mahasiswa umum”

22.     Pengumuman pemenang/juara hanya nama, tidak ada link blog atau semacamnya untuk melihat hasil karyanya.

23.     Hadiah ga cair-cair/lama/ribet/dipersulit
Gak jelas deh, malah kayak pemenang yang gimana gitu, harus nagih-nagih or ngejar-ngejar.

24.     Tulisan pemenang modifikasi dan pembahasaan ulang dari tulisan peserta lain yang muncul duluan (kemungkinan plagiasi/nyontek)
Saya nulis duluan dan dia BW saya, dia yang menang.

25.     Pemenang = APS (Asal Panitia/Penyelenggara Suka)
Intinya, kalau sudah APS, syarat apapun bisa tidak berlaku.


26. Panitia ga konsisten

27. Website ganti
Pada lomba pertama ga ada kabarnya dan sepertinya sepi pendaftar. Trus ngadain lomba lagi dengan web baru. Sama, beda web aja.

Yah, sementara 27 dulu deh. Kalau ingat lagi atau nemu yang lain mungkin bisa ku-update. Semoga ga ngalamin lagi deh yang antik-antik macam ini.

Oh ya, modus di atas itu campuran. Penyelenggaranya macem-macem. Ada swasta, pemerintah, komunitas, bahkan “orang/organisasi religius”.

Lihat buktinya, jangan casingnya. Oke?



Sumber gambar: Pixabay