26 September 2018

Investasi Sederhana dari Para Ibu untuk Menurunkan Angka Stunting dan Mencerdaskan Generasi

Stunting (kanan)


 Tingginya Angka Stunting di Indonesia

Gawat, stunting (kerdil) di Indonesia menempati posisi ke-4 di dunia! Sebanyak 37% balita mengalami gangguan ini (sehatnegeriku.kemkes.go.id, 3 Juli 2018). Penderitanya menyebar di seluruh wilayah dan lintas kelompok pendapatan. Jika merujuk pada standar WHO (20%), kondisi ini sudah merupakan masalah gizi akut. Padahal, menurut Bappenas, stunting berpotensi memicu kerugian ekonomi sebesar 2-3 persen dari PDB. Jika PDB Indonesia saat ini Rp 13.000 triliun, diperkirakan potensi kerugian akibat stunting sekitar Rp 300 triliun per tahun. Sangat besar, bukan?





Pembangunan SDM sendiri merupakan prioritas Presiden Jokowi di dalam masa pemerintahannya. Dimulai dari membangun infrastruktur kemudian disusul dengan membangun kualitas SDM, termasuk menurunkan angka stunting. Meskipun sepertinya tidak berhubungan, infrastruktur bisa menjadi alat intervensi gizi sensitif bagi balita. Menurut Menkes, “Intervensi gizi sensitif sudah terbukti mampu berkontribusi sampai 70% untuk keberhasilan perbaikan gizi masyarakat, terutama untuk penurunan angka stunting.”

Begitu pentingnya stunting, penanganannya akhirnya dimasukkan ke dalam salah satu prioritas pembangunan kesehatan dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional tahun 2015-2019.


Pembangunan SDM dan Bonus Demografi

Bonus demografi

Mengapa fokus pemerintah lebih ke pembangunan SDM? Tak lain karena kualitas dan daya saing suatu negara ditentukan oleh kualitas manusianya. Apalagi, pada 2030-2040 Indonesia akan mengalami bonus demografi. Jika penduduk usia produktifnya banyak yang tidak berkualitas, tidak malah menjadi bonus, melainkan menjadi beban demografi. Produktivitas negara akan menurun, begitupun daya saingnya. 


Nyatanya, sebanyak 14 persen dari total populasi anak di Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Satu dari tiga anak di bawah 5 tahun mengalami stunting, sedangkan satu dari sepuluh anak Indonesia mengalami kekurangan gizi akut.  Sehingga masih berisiko cukup tinggi atas eksploitasi, pelecehan, kekerasan, dan penelantaran. (Katadata, 23/7/2018)

Saat ini, jumlah penduduk di Indonesia sekitar 260 juta jiwa. Akan dibawa ke mana mereka? Menjadi bonus demografi atau beban demografi?


Permasalahan Stunting


 Stunting adalah masalah serius dalam pembangunan sumber daya manusia. Juga, berefek besar pada bidang-bidang lainnya. Ia merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Anak dengan stunting cenderung memiliki IQ rendah, tinggi dan berat badannya tidak sesuai grafik perkembangan, serta mudah sakit. Idealnya, berat badan bayi saat dilahirkan minimal 2500 gram, dan panjangnya minimal 48 cm. Kalau bayi lahir pendek, ia berpeluang tubuhnya pendek. Ia butuh intervensi segera untuk mencegah agar tidak stunting, seawal mungkin. Inilah alasan mengapa setiap bayi yang baru lahir diukur berat dan panjang tubuhnya, serta dipantau terus hingga usia 2 tahun. 

Penyebab stunting bermacam-macam, misalnya kekurangan gizi kronis sejak janin dalam kandungan, faktor ibu dan pola asuh yang kurang baik, infeksi pada ibu, gangguan mental pada ibu, kehamilan remaja, jarak kelahiran anak yang pendek, hipertensi, serta rendahnya akses sanitasi dan air bersih.  

Balita Indonesia dihantui stunting

Stunting sangat berbahaya. Selain dapat menyebabkan kekerdilan, kecerdasan dan daya tahan tubuh yang rendah, serta merugikan perekonomian negara, ia juga bisa menyebabkan kematian. Penelitian Ricardo dalam Bhutta tahun 2013 menyebutkan balita stunting berkontribusi terhadap 1,5 juta (15%) kematian anak balita di dunia dan menyebabkan 55 juta anak kehilangan masa hidup sehat setiap tahun.


Peran Ibu dalam Mengatasi Stunting

Kabar baiknya, stunting dapat diturunkan dengan mengoptimalkan peran serta wanita, khususnya ibu. Ketahanan nasional dimulai dari ketahanan keluarga. Begitu pentingnya masalah stunting ini sehingga pada Rakornas BKKBN tahun 2018, Menteri Kesehatan, Nila Farid Moeloek, berpesan kepada para peserta pertemuan agar pemenuhan gizi anak perlu menitikberatkan kepada faktor pendidikan bagi perempuan dan pola asuh. Karena menurut Menkes, perempuan harus sehat dan berpengetahuan, mendidik dan memberi makanan yang tepat bagi anaknya. Bagaimanapun juga, upaya perbaikan gizi masyarakat merupakan salah satu modal pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM).

Banyak hal yang bisa dilakukan oleh ibu dalam rangka menurunkan stunting dan memperbaiki perekonomian negara. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1.      Memenuhi kebutuhan gizinya saat hamil


Kualitas anak ditentukan sejak dalam kandungan. Pemenuhan gizi yang baik mutlak diperlukan oleh bayi dalam rahim.

2.      Melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini)
Pada 1 jam pertama dari kelahiran bayi, dilakukan IMD. IMD adalah proses meletakkan bayi baru lahir pada dada atau perut sang ibu agar bayi secara alami dapat mencari sendiri sumber Air Susu Ibu (ASI) dan menyusu. Air susu yang keluar pertama kali ini sangat kaya kolostrum.
Pemberian ASI yang optimal dapat menurunan angka kematian ibu dan bayi, memperbaiki gizi (khususnya stunting), mengendalikan penyakit menular (HIV/AIDS, Tuberkulosis & Malaria), dan mengendalikan penyakit tidak menular (Hipertensi, Diabetes Melitus, Obesitas & Kanker). Apalagi IMD, bermanfaat ganda bagi ibu dan bayinya. Selain dapat meningkatkan kekebalan tubuh bayi, ia juga berfungsi membantu mempercepat proses pemulihan ibu pasca persalinan.

3.      Memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan, dan dilanjutkan hingga 1000 hari pertama kehidupan


 Seribu hari pertama kehidupan terdiri dari 270 hari di dalam kandungan dan 730 hari setelah kelahiran, atau 2 tahun pertama kehidupan. Dua tahun pertama kehidupan merupakan periode sensitif yang menentukan kualitas hidup di masa mendatang. Periode ini disebut periode emas, periode kritis, atau disebut window of opportunity  oleh bank Dunia. 

Dalam jangka pendek, masalah gizi pada periode tersebut dapat memicu terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan metabolisme dalam tubuh, dan pertumbuhan fisik. Sedangkan dalam jangka panjang bisa menurunkan kemampuan kognitif dan prestasi belajar serta melemahnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit. Selain itu muncul pula risiko tinggi akan penyakit diabetes, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan kegemukan. Efek lanjutnya yakni kualitas kerja tidak kompetitif sehingga produktivitas ekonomi rendah.

Akibat yang ditimbulkan terhadap bayi di atas usia 2 tahun, termasuk stunting, akan bersifat permanen dan tidak bisa diperbaiki. Oleh karena itu, pemberian ASI hingga bayi berumur 2 tahun sangat mendukung pertumbuhannya agar optimal. Bayi akan tumbuh sehat, cerdas, dan produktif.


Sinergi Bersama dalam Intervensi Penurunan Stunting Terintegrasi (Stunting Summit 2018)
 

 4.      Memberikan MPASI yang beragam
Pada 6 bulan pertama, hanya berikan ASI kepada bayi. Setelah bayi berusia 6 bulan, tetap berikan ASI hingga ia berusia 2 tahun, sambil memberinya juga MPASI (makanan pendamping ASI). Berikan kepada bayi MPASI yang beragam, sekaligus memberinya makanan cair dan lunak yang baik.

5.      Rutin ke Posyandu
Ibu-ibu yang memiliki bayi dan Balita diharapkan dapat membawa buah hatinya minimal satu bulan sekali ke Posyandu atau fasilitas kesehatan. Hal ini dilakukan untuk memantau status gizi dan imunisasi anak. Di sana bayi akan ditimbang dan diukur tinggi badannya dan diberi perlakuan lain, misalnya imunisasi dan pemberian vitamin A. Manfaat lainnya adalah bila ditemukan gangguan dapat segera diatasi, misalnya dengan pemberian makanan tambahan.

Rahasia anak berkembang optimal dan tidak mudah sakit

 

6.      Memberikan anak pola makan dan pola asuh yang tepat
Stunting dipengaruhi oleh rendahnya kuantitas, kualitas, dan keanekaragaman gizi yang diberikan kepada anak. Oleh karena itu, dikenalkan istilah “Isi Piringku” sebagai upaya perbaikannya.
Sedangkan pola asuh penyebab stunting terutama berkaitan dengan praktek pemberian makan bayi dan balita yang kurang baik.



7.      Memberikan pemahaman perencanaan keluarga kepada remaja putrinya
Para remaja putri harus dipersiapkan agar ketika menikah dan hamil anaknya tidak stunting. Remaja putri yang terkena anemia dapat terganggu kesuburannya. Sehingga ketika hamil, asupan gizi untuk bayi yang dikandungnya menjadi kurang dan akhirnya melahirkan bayi stunting.

8.      Menerapkan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS)
Kondisi kebersihan yang kurang terjaga membuat tubuh harus secara ekstra melawan sumber penyakit sehingga menghambat penyerapan gizi. Oleh karena itu, diperlukan pola hidup sehat, yaitu dengan rajin berolahraga, perbanyak makan sayur dan buah, cek kesehatan berkala, meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan.

9.      Berperan aktif dalam PKK, Dharma Wanita Persatuan, dan Posyandu untuk mendukung program-program pemerintah
Melalui PKK, Dharma Wanita Persatuan, dan Posyandu, para ibu bisa berperan lebih luas dari sekadar lingkup keluarga, misalnya dengan pemberian makanan tambahan dan kampanye “Isi Piringku”.



Sementara pemerintah sendiri sudah melaksanakan berbagai program pencegahan stunting, yaitu sebagai berikut:

1.      STBM (Sanitasi Total Berbasis Lingkungan)
STBM memiliki 5 pilar, yaitu berhenti buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga, dan pengelolaan limbah cair rumah tangga.
Program ini memiliki target pencapaian universal pada 2019, yang berupa 100% akses air minum, 0% kawasan kumuh, dan 100% akses sanitasi yang layak.
Air yang tidak layak akibat sanitasi buruk dapat menyebabkan diare kronis pada bayi, sehingga penyerapan gizi berkurang. Akhirnya terjadilah stunting.

2.      Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita, anak usia SD, dan ibu hamil.



3.      Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS)

 4.      Program Keluarga Harapan (PKH)
PKH adalah program perlindungan sosial yang memberikan bantuan tunai bersyarat kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM). PKH berperan memperbaiki kesehatan dan gizi anak. 

5.      Menganjurkan pola hidup sehat, misalnya dengan berolahraga.

6.      Pembangunan infrastruktur dasar, seperti air bersih dan sanitasi.

7.      Intervensi pangan dan gizi masyarakat
Intervensi gizi tersebut dibagi menjadi intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif.
Untuk intervensi gizi spesifik dilakukan melalui promosi serta suplemen gizi makro dan mikro (pemberian tablet tambah darah, Vitamin A, dan taburia). Selain itu juga dilakukan penatalaksanaan gizi kurang/buruk, pemberian obat cacing dan zinc untuk manajemen diare, pemberian ASI Eksklusif dan MP-ASI, fortifikasi, kampanye gizi seimbang, pelaksanaan kelas ibu hamil, dan JKN.

Untuk intervensi gizi sensitif dilakukan melalui pemantauan tumbuh kembang, penyediaan air bersih, pendidikan gizi, imunisasi, pengendalian penyait, penyediaan jaminan kesehatan, Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PISPK), Nusantara Sehat (NS) serta akreditasi puskesmas dan rumah sakit.


 Stunting memang membayang-bayangi bonus demografi di Indonesia dan membuat perekonomian Indonesia terancam. Akan tetapi, dengan kerja sama antar kementerian/lembaga, masyarakat (terutama para ibu), dan berbagai pihak stunting pasti bisa diatasi. 

Tanpa stunting, bonus demografi akan benar-benar menjadi bonus (berkah) bagi negara kita. Bayangkan, satu anak Indonesia yang cerdas akan mampu mengangkat perekonomian negara hingga 48 kali lipat, begitu kata Menteri Bappenas, Bambang Brodjonegoro.

Ayo ibu-ibu, berikan dukunganmu untuk Indonesia bebas stunting! Perbuatan sederhana kalian sungguh mulia dan berdampak besar bagi negara. 

Benarlah kata pepatah, membangun wanita sama dengan membangun generasi.

Bicara pencegahan stunting, bicara masa depan



Sumber:
Sehatnegeriku.kemkes.go.id
Katadata.co.id






20 September 2018

Bahaya Melalaikan Sholat yang Jarang Disadari


Bahaya Melalaikan Sholat yang Jarang Disadari


Mungkin sudah banyak artikel, buku, maupun ceramah yang mengajarkan tentang keutamaan sholat tepat waktu. Ketika dulu saya mengatakan tentang sholat tepat waktu (untuk menyebut sholat tepat setelah azan), ada yang protes. Dia bilang, dia sholat tepat waktu, maksudnya, misalnya sholat Maghrib ya waktunya sampai sebelum Isya. Sedangkan sholat tepat setelah azan dibilangnya sholat di awal waktu. Whatever lah ya. Yang jelas di sini, yang saya maksud sholat tepat waktu ya begitu azan langsung sholat, begitu.

Saya tidak terlalu membahas dari sisi agama yang pastinya sudah sering dibahas. Tentang keutamaan sholat tepat waktu dan sebagainya. Saya lebih membahas ke bahayanya, potensi bahayanya, atau mungkin hal-hal yang sering terabaikan. Mungkin ada di antara kita yang pernah melakukannya baik sengaja atau tidak, yang kemudian jatuh pada meninggalkan sholat. Padahal, sholat itu tiang agama, dihisab pertama kali, dan sebagainya.

Bahaya Melalaikan Sholat yang Jarang Disadari

Berikut ini beberapa bahaya tidak segera sholat dan (atau) tidak sholat tepat waktu:

1.      Sudah masuk waktu sholat, tetapi belum sholat, lalu haid.
2.  Sudah selesai haid tapi tidak segera bersuci, akhirnya masuk waktu sholat berikutnya.
3.      Sudah masuk waktu sholat tetapi tidur dulu/beraktivitas lain, lalu kelewatan/lupa.
Kadang jadi bingung, sudah sholat apa belum ya?
(yang ini mungkin lebih ke lupa, bukan lalai)
4.  Sudah masuk waktu sholat tetapi belum sholat, lalu meninggal. Dan sebagainya.

Nah, di sini saya berpikir, apakah itu tidak termasuk meninggalkan sholat juga?

Sebagai bentuk kehati-hatian, lebih aman kalau kita bersegera sholat begitu azan dan kondisi sudah memungkinkan (misal haid tadi). 



Sumber gambar: Pejagan.com