29 April 2018

Lestarikan Duyung dan Padang Lamun Demi Kenyamanan Hidup Manusia


Lestarikan Duyung dan Padang Lamun Demi Kenyamanan Hidup Manusia
Padang lamun

Segera Selamatkan Padang Lamun Indonesia

Indonesia harus belajar dari kasus punahnya ekosistem padang lamun di Eropa pada 1917. Ekosistem padang lamun tersebut tak bisa direhabilitasi hingga sekarang. Belum lagi dengan adanya kabar buruk yang berasal dari hasil studi tahun 2009, yaitu tentang musnahnya sekitar 58% dari hamparan padang lamun dunia. 

Lestarikan Duyung dan Padang Lamun Demi Kenyamanan Hidup Manusia


Meskipun 13 dari 60 jenis lamun yang dikenal di dunia ada di Indonesia, kondisi padang lamun di Indonesia saat ini juga perlu penyelamatan segera. Mayoritas, yaitu sebanyak 80 persen berada dalam kondisi kurang sehat, 15 persen lainnya tidak sehat, sedangkan yang sehat hanya 5 persen. Lima persen itu pun hanya di Biak Papua. Bahkan, padang lamun di daerah konservasi juga tidak luput dari kerusakan, seperti yang terdapat di Wakatobi dan Lombok. Kerusakan-kerusakan yang dimaksud umumnya disebabkan karena aktivitas manusia seperti reklamasi, pencemaran, dan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan. 


Berbagai Manfaat Padang Lamun

Lestarikan Duyung dan Padang Lamun Demi Kenyamanan Hidup Manusia
Padang lamun

Dibandingkan ekosistem terumbu karang dan mangrove, ekosistem padang lamun masih jarang dipelajari. Baru ketika kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan kajian tentang padang lamun mulai bermunculan, juga upaya pelestariannya. Padahal, ketiganya sama-sama merupakan pengendali ekosistem di laut.  

Lamun menempati 0,1% dari dasar laut, namun bertanggung jawab terhadap 11% karbon organik yang terkubur di lautan. Padang lamun, bakau dan lahan basah pesisir menangkap karbon pada tingkat yang lebih besar daripada hutan tropis. Meskipun persebaran lamun hanya 0,2 % dari seluruh perairan di planet bumi, kemampuannya dalam menyimpan CO2 dua kali lebih banyak daripada jumlah yang disimpan oleh hutan di darat (DSCP Indonesia). Lamun bersama dengan tumbuhan mangrove dan rawa payau dapat mengikat 235-450 juta karbon per tahun, setara hampir setengah dari emisi karbon lewat transportasi di seluruh dunia. Dengan kata lain, mereka mendukung peranan laut sebagai pengikat karbon (blue carbon), sebagai tandingan terhadap peranan hutan daratan (green carbon). 

Selain itu, padang lamun juga dapat menahan gelombang, mencegah erosi, serta menangkap dan menyetabilkan sedimen, sehingga air menjadi lebih jernih.

Lestarikan Duyung dan Padang Lamun Demi Kenyamanan Hidup Manusia
 

Hasil penelitian tim dari Universitas Swansea, UK bersama dengan Sustainable Place Institute, Universitas Cardiff, Forkani dan Wildlife Conservation Society menunjukan, padang lamun di Indonesia merupakan area strategis penting untuk menjaga kelangsungan pangan nasional maupun kebutuhan untuk ekspor perikanan. Survey yang mereka lakukan di Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara menemukan setidaknya terdapat 407 jenis ikan yang mendiami padang lamun. Sebagian besar yang tertangkap juga berasal dari sana, yaitu sebanyak 62 persen. Memang, padang lamun memasok 50% perikanan dunia. Tiga puluh dua persen spesies ikan komersial memanfaatkan lamun selama satu bagian dari siklus hidupnya. 

Tak hanya ikan, berbagai biota air lain juga hidup di padang lamun, misalnya teripang, bintang laut, bulu babi, keong laut, siput laut, cacing, rajungan, pesut, penyu laut, kerang, udang, dan duyung. Itu artinya, selain keanekaragaman hayati di padang lamun sangat tinggi; keberadaan padang lamun juga menunjang mata pencaharian dan kebutuhan protein pada manusia.


Hubungan Duyung dan Padang Lamun

Lestarikan Duyung dan Padang Lamun Demi Kenyamanan Hidup Manusia

Duyung (Dugong dugon) merupakan mamalia laut yang banyak terpengaruh oleh padang lamun. Ia merupakan spesies kunci dari upaya konservasi padang lamun. Hal itu karena satu-satunya makanan herbivora ini adalah lamun jenis tertentu. Terutama Halophila dan Halodule, sangat disukainya. Kehilangan padang lamun bisa menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan populasi duyung. Di sisi lain, status populasi duyung dapat menjadi indikator keberadaan lamun, sekaligus indikator bagi kesehatan ekosistem pesisir secara umum. 

Lestarikan Duyung dan Padang Lamun Demi Kenyamanan Hidup Manusia

 Hubungan antara duyung dan lamun termasuk ke dalam simbiosis mutualisme. Duyung memakan lamun dan mengontrol sebarannya, sekaligus memperlancar siklus nutrien pada habitat lamun. Sedangkan lamun memanfaatkan kotoran duyung untuk perkembangannya. 


Upaya Pelestarian Duyung di Indonesia

Menemukan duyung sangatlah sulit. Selain karena termasuk hewan pemalu, ia juga beraktivitas di malam hari dan di dalam air. Reproduksinya pun lambat. Ditambah dengan maraknya perburuan dan semakin rusaknya habitat duyung membuatnya semakin susah dicari. Namun, di beberapa daerah duyung masih bisa dijumpai, misalnya di perairan laut pulau Bawean, perairan Kariangau, Alor (Nusa Tenggara Timur), Kotawaringin Barat (Kalimantan Tengah), Bintan (Kepulauan Riau) dan Tolitoli (Sulawesi Tengah). Dari sejumlah daerah di atas, Alor, Kotawaringin Barat, Bintan, dan Tolitoli kemudian ditetapkan menjadi lokasi percontohan pelestarian duyung dan lamun. 

Di Bintan, begitu melimpahnya populasi duyung sehingga dijadikan maskot atau ikon di sana, yaitu sejak tahun 2010. Namun, penurunan populasi duyung di kepulauan Riau terus terjadi. Sehingga, Bintan kemudian dipersiapkan menjadi Dugong Center, bersama dengan Tolitoli. 

Bandingkan kondisi di atas dengan kondisi pada tahun 70-an. Helena Marsh, peneliti senior dari James Cook University, Australia, memperkirakan, populasi duyung di Indonesia pada masa itu mencapai 10 ribu individu. Kemudian menyusut menjadi 1000 ekor di tahun 1990-an.

Untuk melestarikan duyung dan padang lamun, Indonesia mendapatkan dana hibah sebesar 11 miliar dari lembaga non profit internasional. Lembaga yang dimaksud terdiri dari Global Environment Facility (GEF), United Nations Environment Programme (UNEP), The Convention on the Conservation of Migratory Species of Wild Animals (CMS), dan Mohamed bin Zayed Species Conservation Fund. Dana tersebut diperuntukkan bagi program Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP) selama tiga tahun, yaitu dari tahun 2016 hingga September 2018. DSCP Indonesia tersebut diinisiasi untuk mengumpulkan data dan informasi tentang duyung dan lamun, serta mendorong pengelolaan masyarakat yang diberdayakan melalui skema insentif dan pengenalan praktik perikanan berkelanjutan. 

Lestarikan Duyung dan Padang Lamun Demi Kenyamanan Hidup Manusia
Duyung
 
Duyung sangat rawan punah. Untuk menjadi dewasa dibutuhkan waktu 10 tahun, baru bisa melahirkan di usia 3-5 tahun, mengandung selama 14 bulan, usinya paling lama 60-70 tahun, dan hanya melahirkan satu bayi di setiap kelahiran. Kelahiran individu tersebut dengan interval 2,5-5 tahun.

Duyung dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No.7/1999, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya, serta Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Selain itu, duyung sudah masuk ke dalam Daftar Merah oleh the International Union on Conservation of Nature (IUCN) dunia sebagai satwa yang “rentan terhadap kepunahan”. Serta, masuk juga dalam Apendiks I oleh the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).


Bahaya Penurunan Populasi Duyung dan Rusaknya Padang Lamun

Lestarikan Duyung dan Padang Lamun Demi Kenyamanan Hidup Manusia
Contoh padang lamun yang rusak

Populasi duyung sangat bergantung pada lamun sebagai habitat dan sumber pakan. Sedangkan lamun, sekali hancur maka kapasitasnya untuk pulih terbatas dan lambat, dan sebagian besar tergantung pada kedatangan benih atau bibit. Kerusakan itu bisa memakan waktu puluhan tahun untuk diperbaiki. Kehancuran lamun pun akan menyebabkan karbondioksida yang diambil dan disimpan di tanah dan biomassa mereka (melalui biosequestration), dilepaskan kembali ke atmosfer. Emisi karbon tersebut kemudian menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Namun, berbeda dengan hutan yang menyimpan karbon selama sekitar 60 tahun sebelum melepaskan sebagian besar dari itu, padang lamun sering menyimpan karbon selama ribuan tahun sampai mereka terganggu. Sebagai konsekuensi lain dari terganggu/matinya lamun, pertumbuhan alga dan plankton juga akan meningkat.


Upaya Pemulihan Padang Lamun

Lestarikan Duyung dan Padang Lamun Demi Kenyamanan Hidup Manusia


Agar padang lamun bisa dipulihkan lebih cepat, kita bisa menaburkan benih atau menanam bibit secara manual. Bisa juga dengan mencangkokkan spesies yang lebih tahan banting dari daerah lain (Theguardian.com). Atau dengan melakukan transplantasi lamun.

Karena perkembangan lamun tidak selalu dapat dilihat dengan mata telanjang, dibutuhkan suatu metode agar bisa mengetahui kondisinya. Profesor Marianne Holmer, dari Departemen Biologi di University of Southern Denmark, telah mempelajari ekologi dan biogeokimia lamun di ekosistem beriklim tropis selama bertahun-tahun. Bersama dengan Kieryn Kilminster dari Departemen Air di Australia Barat, ia kini telah mengembangkan teknik yang dapat mendeteksi apakah kondisi sedimen merupakan masalah bagi lamun. Caranya, sepotong kecil jaringan tanaman lamun dibawa ke laboratorium. Kemudian dianalisis dengan spektrometer massa, mengandung belerang atau tidak. Jika mengandung belerang, berarti tanaman telah menyerap sulfida dari dasar laut. Sulfida tersebut dibentuk oleh bakteri pereduksi sulfat. Mereka muncul ketika oksigen menghilang dari dasar laut. Artinya, dasar laut tersebut bukan lingkungan yang sehat untuk lamun.

"Lamun, yang telah menyerap sulfida, menunjukkan pertumbuhan yang berkurang dan mungkin mati," jelas Marianne Holmer.



Masalah duyung dan padang lamun sangatlah kompleks. Tidak hanya tentang hubungan antara duyung dengan padang lamun, tetapi juga dengan biota laut lainnya, juga manusia. Bila kita ingin hidup nyaman, segeralah menekan/menghentikan laju kerusakan yang ada. Sambil mengikutinya dengan perbaikan kembali agar duyung dan padang lamun menjadi lestari.


#DuyungmeLamun


Sumber:

https://www.theguardian.com/environment/2018/mar/20/marine-heatwave-set-off-carbon-bomb-in-worlds-largest-seagrass-meadow
https://www.viva.co.id/berita/nasional/924757-80-persen-padang-lamun-indonesia-tercemar
https://www.antaranews.com/berita/633803/lipi-padang-lamun-indonesia-kurang-sehat
https://www.wwf.or.id/?15721/Saatnya-Peduli-Padang-Lamun%2520diunggah%252025%2520November%25202014
http://www.greeners.co/berita/tutupan-padang-lamun-indonesia-40-persen/
http://www.mediaindonesia.com/read/detail/128282-demi-dugong-dan-padang-lamun
http://www.mongabay.co.id/2018/04/17/padang-lamun-di-teluk-bogam-rumah-makan-kawanan-dugong/
http://www.mongabay.co.id/2014/08/12/sains-padang-lamun-ekosistem-penting-untuk-ikan-dan-ketersediaan-pangan-mengapa/
https://daerah.sindonews.com/read/1240035/194/ikan-duyung-sepanjang-23-meter-ditemukan-mati-di-pantai-teluk-sebong-150547019
https://www.jawapos.com/radarsurabaya/read/2018/03/13/56651/peneliti-temukan-habitat-putri-duyung
http://www.greeners.co/berita/sambut-hcpsn-2017-kkp-suarakan-pentingnya-konservasi-dugong-dan-padang-lamun/
https://www.liputan6.com/regional/read/2489245/lestarikan-ikan-duyung-indonesia-terima-hibah-rp-11-miliar
http://radarsultengonline.com/2017/02/07/tolitoli-disiapkan-jadi-pusat-pelestarian-duyung/
https://www.borneonews.co.id/berita/47617-hanya-ada-tiga-pasang-duyung-di-perairan-kobar
https://www.borneonews.co.id/berita/90758-perairan-tanjung-keluang-jadi-tempat-duyung-pesut-dan-penyu-hidup
https://muliayanti.wordpress.com/tag/padang-lamun/
https://tekno.tempo.co/read/764376/dugong-terancam-ini-perannya-menjaga-ekosistem-laut
http://www.republika.co.id/berita/koran/kesra/16/04/20/o5x4o52-duyung-di-indonesia-terancam-punah
http://www.sumbarprov.go.id/details/news/12339
http://news.metrotvnews.com/read/2018/04/26/865967/pelajaran-dari-rangka-dugong
http://kaltim.tribunnews.com/2018/04/08/sumber-makanan-di-laut-tercemar-dugong-dan-pesut-terancam-punah?page=3
https://www.medcom.id/nasional/peristiwa/ObzdBdeK-mencari-jejak-duyung-di-pulau-bintan
http://www.projectseagrass.org/why-seagrass
https://phys.org/news/2018-03-climate-threatens-world-largest-seagrass.html
https://www.sciencedaily.com/releases/2013/09/130930113953.htm
Universitat Autònoma de Barcelona. "Perubahan iklim mengancam simpanan karbon lamun terbesar di dunia." ScienceDaily. ScienceDaily, 19 Maret 2018. (https://www.sciencedaily.com/releases/2018/03/180319160045.htm)
A. Arias-Ortiz, O. Serrano, P. Masqué, P. S. Lavery, U. Mueller, G. A. Kendrick, M. Rozaimi, A. Esteban, J. W. Fourqurean, N. Marbà, M. A. Mateo, K. Murray, M. J. Rule & C. M. Duarte. A marine heatwave drives massive losses from the world’s largest seagrass carbon stocks. Nature Climate Change, 2018 DOI: 10.1038/s41558-018-0096-y
Kieryn Kilminster, Vanessa Forbes, Marianne Holmer. Development of a ‘sediment-stress’ functional-level indicator for the seagrass Halophila ovalis. Ecological Indicators, 2014; 36: 280 DOI: 10.1016/j.ecolind.2013.07.026

Sumber gambar:
Duyung : Pxhere
Padang lamun (atas): basecamppetualang.blogspot.com
Padang lamun (bawah): pasberita.com
Contoh padang lamun yang rusak: metrobali.com
gambar lain: twitter dscpindonesia



27 April 2018

Bokek juga Rezeki Lho


Bokek juga Rezeki Lho
Bokek

Kaget pake banget! Akun Bukalapak yang sudah lama nggak kukunjungi di-hack orang. Entah kenapa waktu itu aku tiba-tiba buka akunku. Dan ... ada sebuah produk sparepart sepeda motor di sana. Spare part Mio kalau nggak salah. Mana harganya mahal lagi.

Jujur aja ya, aku nggak pernah mikir akun Bukalapak-ku bakal kenapa-napa. Shock, kok ada barang itu di keranjangku. Apa memang nggak bisa dibeli? Atau karena uang di rekeningku sedang minim banget? Sampai-sampai uang seharga spare part itu nggak cukup terbeli olehnya.

Aku yang tadinya rada ngenes-ngenes gitu deh karena bokek, mendadak bersyukur. Alhamdulillah, untung lagi bokek. Kalau nggak? Aku harus bayarin pembelian pencuri itu. Males banget, kan?

Ternyata ya, bokek pun membawa rezeki. Rezeki keselamatan. Segala puji bagi Allah atas segala hal.


Sumber gambar: Zodiak keuangan


Telat Bos


Telat Bos
 Mi instan

Barang yang sama bisa memiliki arti berbeda di waktu berbeda. Kisah ini saya ceritakan agar kalian lebih berhati-hati, tidak menganggap “halah, hanya gitu aja”, “nanti kuganti”, atau semacamnya.

Kejadian ini bermula ketika mi instan saya hilang. Tinggal 1. Rencananya mau saya gunakan untuk sahur. Saya nggak pernah nyangka kalau ternyata tiba-tiba hilang, dimasak oleh orang lain. Otomatis saya sahur nggak ada makanannya, karena waktu itu sedang tidak ada masakan.

Bangun di jam sahur, saya terkejut. “Mi-nya mana?” Nggak ada deh makanan agak berat untuk makan. Untunglah saya nemu pisang. Sahur dengan itu. Tapi ya nggak mantep. Krucukan sepanjang hari. 

Nah, orang yang memasak mi saya dengan entengnya bilang dia yang makan. Lalu pagi-pagi bergegas beli ke toko bermaksud mengganti. Saya kan butuhnya untuk sahur hari itu. Nggak butuh lagi, kan? 

Jadi, perhatikan nilai waktu! Milik orang jangan dipinjam atau digunakan sembarangan.


Sumber gambar: Vemale.com