31 Maret 2018

Pola Kehidupan


Pola Kehidupan


Kehidupan itu berpola. Tidak hanya pola-pola pada alam, tetapi juga pada diri sendiri, keluarga, tempat kerja, dan lain-lain. Itulah mengapa Si A terus-menerus mengalami kejadian “ini” dan keluarga B terus-menerus tertimpa musibah “itu”.

Sebagai contoh, pada keluarga A, ibu dan 2 anak laki-lakinya mengidap penyakit kanker kelenjar getah bening. Pada keluarga B, ibu dan anak perempuannya sama-sama mengalami operasi pengangkatan rahim. Keluarga C, anak-anaknya banyak yang tersandung narkoba. Keluarga D, banyak anaknya meninggal karena kecelakaan. Keluarga E, anggota-anggota keluarganya pemarah. Keluarga F, banyak yang berumur sekitar seratus tahun, dan sebagainya.

Pola-pola ini, bila negatif, harus diputus. Ketahui akar permasalahannya. Tidak selalu tentang gen dan tidak selalu hanya disebabkan gen. Bisa juga karena makanan, pola asuh, pola pergaulan, atau lainnya. Bila Anda tidak ingin hidup begitu-begitu saja atau mengikut mata rantai yang negatif, ada yang harus diubah. Apa itu? Tugas Anda untuk mencarinya. 


Sumber gambar: http://www.appell.co

Takut Difoto, Ada Apa?


Takut Difoto, Ada Apa?
 Memoto/memotret

Pada zaman sekarang ini kita mudah sekali menjumpai orang-orang melakukan swafoto (selfie) maupun foto bersama. Apa saja dijadikan objek foto, bahkan terkadang sampai berhubungan dengan tempat-tempat atau situasi berbahaya.

Berbeda dengan manusia, bangunan-bangunan itu tampak malu-malu. Di tengah mereka memberikan pelayanan terhadap publik, mereka menolak untuk difoto. Baik melalui tulisan “Dilarang mengambil foto, video, atau merekam tempat ini” ataupun dengan bodyguard-nya, yang terkadang resmi (satpam) dan terkadang tak dapat diidentifikasi. 

Mengapa sangat rahasia? Di era transparansi publik, banyak tempat malah seperti main kucing-kucingan. Baik tempat pelayanan publik milik pemerintah ataupun swasta seperti fobia difoto. Semua orang dicurigai seolah-olah wartawan. Hal yang malah menimbulkan pikiran di otak saya, apa yang disembunyikan? Begitu takutnya mereka untuk difoto mengindikasikan mereka pasti ada apa-apanya. Mereka yang tidak jujur seringkali demikian, takut belangnya terbuka.


Sumber gambar: http://wwwrtu-kikie.blogspot.co.id

30 Maret 2018

Rumah oh Rumah


Rumah oh Rumah
Rumah besar

Sebuah rumah membawa pikiranku berkelana. Rumah besar berpenghuni sedikit, dan jarang dihuni. Maksudnya, waktu untuk di luar rumah termasuk panjang.

Saat ini, rumah di mana-mana tampak seolah bermegah-megahan. Orang Jawa bilang jor-joran. Tapi aku tidak membahas jor-joran-nya, hanya tentang ukurannya. Nggak di kota nggak di desa, rumah-rumah itu banyak yang besar. Kadang terlihat berlebihan bila dibandingkan dengan jumlah penghuninya.

Di saat ada rumah kecil atau ruangan kecil dihuni banyak orang, ada pula rumah besar yang ”ngglondhang” (tidak terlalu terisi). Beberapa di antaranya tingkat/memiliki loteng.

Setelah masa demi masa berlalu, penghuninya (orangtua yang memiliki) pun menua. Banyak yang mengeluhkan lututnya sakit, ada juga yang mengeluhkan napas yang sudah tidak kuat untuk naik ke loteng, atau semacamnya. Di sisi lain, rumah yang “kosong” menjadi semakin kosong dengan berpindahnya anak-anaknya karena menikah. Hanya pada momen-momen yang sangat jarang anak, cucu, dan atau keluarga besarnya berkumpul dan membuat penuh rumah tersebut.

Kondisi seolah menjadi semakin tragis dengan datangnya masa pensiun. Masa transisi kehidupan ini sering gagal dilewati oleh sebagian orang. Ditambah bila pasangannya meninggal, semakin kosonglah rumah itu.

Aku sering berpikir, banyak orang sebenarnya nggak membutuhkan rumah sebesar itu. Apalagi lahan terbatas dan jumlah penduduk semakin banyak. Tetapi nyatanya orang-orang itu membuat rumah besar dan sangat besar. Malah berlomba besar-besaran. Kadang kasihan melihat masa peralihan mereka, ketika mengalami kondisi seperti di atas.

Rumah oh rumah. Besar atau kecil ukurannya menyimpan kisahnya sendiri-sendiri.


Sumber gambar: http://dezeng.blogspot.co.id


29 Maret 2018

Bahaya Fatal Kosmetika yang Jarang Disadari oleh Muslimah


Bahaya Kosmetika yang Jarang Disadari oleh Muslimah

Sudah fitrah wanita sangat ingin tampil cantik. Di antara usaha yang sering dilakukan adalah dengan memakai berbagai kosmetika. Seluruh atau hampir seluruh tubuh wanita tak lepas dari sasaran kosmetik. Sebut saja bedak, pelembab, penyegar, lipstik, eyeliner, eyeshadow, maskara, handbody, pewarna kuku, parfum, sampo, dan sebagainya.

Sudah agak lama hal ini mengganggu pikiran saya. Bukan tentang tabarruj (berhias) dan mahram-bukan mahram, tetapi sesuatu yang lebih fatal.

Sudah banyak tersiar larangan memakai tato, semir rambut (tertentu) atau pewarna kuku (tertentu). Salah satunya karena bisa menghalangi masuknya air ke dalam kulit. Ketiganya bisa menyebabkan bersuci (wudhu atau mandi besar) menjadi tidak sah.

Namun, yang perlu menjadi perhatian saat ini adalah banyak kosmetik lain yang mungkin berefek serupa. Saya memikirkan tentang bedak yang sangat tebal (yang berlapis-lapis prosesnya sebelum ditaburi bedak di atasnya); lipstik, eyeliner, eyeshadow, pensil alis, maskara dan sebagainya yang tahan lama/anti air.  Pertanyaannya, bagaimana dengan sholat Anda bila bersuci Anda tidak sah?

Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu -bekas budak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Pemisah antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan.” (HR. Ath Thobariy dengan sanad shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat Shohih At Targib wa At Tarhib no. 566).

Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
”Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2825. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi). Dalam hadits ini, dikatakan bahwa shalat dalam agama Islam ini adalah seperti penopang (tiang) yang menegakkan kemah. Kemah tersebut bisa roboh (ambruk) dengan patahnya tiangnya. Begitu juga dengan Islam, bisa ambruk dengan hilangnya shalat.

Sumber hadits:
https://buletin.muslim.or.id/fiqih/hukum-meninggalkan-shalat

Sumber gambar: lifetimestyles.com

28 Maret 2018

Dekati Narkoba = Siap-Siap Jadi Gila


Dekati Narkoba = Siap-Siap Jadi Gila
 Orang gila

Bagi sebagian orang, orang gila itu tampak membuat iri. Mereka bisa seperti lepas tanpa beban. Beberapa di antaranya sangat ceria. Begitu percaya diri. Nggak usah peduli hitam-putih, kurus-gemuk, cakep-jelek, atau lainnya. Tampil bagaimanapun oke-oke saja, bahkan walau tampil telanjang. Enak deh, nggak pake banyak aturan. Males banget kan sama aturan ini itu. So pasti nyantai lah hidup ini.

Hmm ... ngomong-ngomong, gimana ya rasanya jadi “gila”? Itulah yang ingin dicoba oleh sebagian orang yang “masih waras”. Mereka minum minuman keras atau memakai narkoba agar mendapatkan sensasinya. Hasrat untuk meninggalkan dunia “kewarasan” itu begitu tinggi. 

Malangnya, banyak yang kebablasan. Tak bisa kembali ke dunia normal. Buktinya, mayoritas pasien gila yang dirawat di Yayasan Keris Nangtung (rehabilitasi orang kelainan jiwa/orgil) adalah akibat NAPZA (morfin, kokain, ganja, dan sabu-sabu). Namun, mereka termasuk beruntung karena cuma gila. Lalu diselamatkan pula oleh Dadang Heriadi, sehingga kegilaannya tidak berkepanjangan. (Hope, 2013: 47). Cuma gila, cuma. Ya, karena banyak juga di antara para pemakai narkoba yang akhirnya mati. Entah karena overdosis atau lainnya.

Kamu sudah tahu belum kalau narkoba bisa bikin gila?

Udah, ga usah ditambahi lagi. Orgil di Indonesia udah banyak. Yuk, hidup sehat tanpa  narkoba.



Sumber gambar: Vebma