02 Januari 2018

Sayangi Otakmu, Hindari Multitasking



Sayangi Otakmu, Hindari Multitasking
Multitasking

Banyak orang menganggap bahwa multitasking itu baik, produktif, dan keren. Nyatanya, Scott Hagwood, seorang Grand Master of Memory pertama di Amerika, yang empat kali juara National Memory Championship di sana, menyatakan sebaliknya.

Setelah dia memenangkan kejuaraan memori di Amerika, otak Scott Hagwood diteliti dan dibandingkan dengan Dr. Burdette. Menurut Scott, Dr. Burdette lebih cerdas darinya tetapi dalam tes itu ternyata otak Scott menunjukkan cara kerja yang lebih efisien. Otak tersebut sangat terorganisasi dan tahu pasti ke mana memproses arus informasi yang masuk. Sementara otak Dr. Burdette mengalami masalah kompetisi internal. Otak Dr. Burdette itu mengaktifkan semua sumber secara serempak, menyalakan kompetisi internal antara berbagai kompartemen yang secara bersaing untuk memproses informasi yang sama. Sementara tiap bagian otak sendiri sungguh efektif dengan pekerjaannya, efek menyeluruh adalah tak ada yang memegang komando masalah. Otak terlatih, di sisi lain, menggunakan hanya sumber-sumber minimal yang perlu untuk menyelesaikan tugasnya. Keahlian kompartemen-kompartemen lain adalah vital bagi keberhasilan area yang sangat terlatih, namun mereka digunakan hanya sebanyak yang dibutuhkan. 

Scott Hagwood sendiri selalu menyebutkan kata fokus dan fokus di dalam bukunya “Memory Power”. Memori yang fokus adalah proses kognitif yang membutuhkan konsentrasi, berpikir cepat, dan kreativitas. 

Upaya melakukan terlalu banyak hal sekaligus yang membagi sumber-sumber otak, menciptakan inefisiensi dan stres, serta bisa menimbulkan sirkuit pendek proses memori. Selain itu, juga menambah terlalu banyak informasi pada jaring neural yang mudah pecah dan cenderung untuk terpecah belah.

Perhatian (atensi) akan berhasil baik bila berfokus pada satu objek tunggal. Karena otak hanya bisa memiliki satu pemikiran pada satu saat, sementara tubuh bisa mengalami banyak emosi secara serempak. 

Mencoba memecahkan masalah secara serempak, bukannya secara sekuen, akan mengurangi sumber-sumber otak secara drastis. Aktivitas neural menurun ketika neuron-neuron jungkir balik (juggle) seketika dibandingkan bila berfokus pada satu tugas saja. 
Menurut para ilmuwan, kondisi demikian bisa membawa kepada pseudo ADD. Psikiater Edward Hallowell dan John ratey, keduanya dari Harvard, menemukan bahwa orang-orang yang mengalami pseudo-ADD telah melatih otak mereka tanpa hati-hati untuk secara konstan mencari informasi baru daripada sepenuhnya memproses informasi yang sudah ada. Akibatnya, mereka sulit berkonsentrasi dan menyelesaikan tugas apapun dengan baik. Sekalipun bila Anda tak mengalami pseudo-ADD, Anda mungkin masih kehilangan kemampuan untuk fokus pada masa kini karena mengizinkan pikiran Anda untuk mudah dikacaukan. 

Tidak hanya itu, Scott juga menjelaskan bahwa pembebanan multitugas (multitasking) menyebabkan otak menuju pada perusakan memori jangka pendek.

Saya pribadi memandang multitugas (multitasking) hanya sebagai upaya perusahaan/kantor untuk “memeras” pegawainya seperti memeras kelapa hingga tinggal cairan beningnya (kalau kata teman saya). Mereka ingin menghemat besar-besaran (padahal kenyataannya tidak produktif). Dulu malah pernah ada seorang kenalan yang temannya keluar dan akhirnya dia disuruh merangkap pekerjaannya juga. Perusahaan tidak memberikan orang baru sebagai gantinya. Dan masih banyak kisah-kisah seperti itu. Selain itu, multitasking bagi saya pribadi lebih pada faktor kurang pandainya orang tersebut di dalam memanajemen waktu.

Sayangi otak Anda, hindari multitasking!


Sumber:
Hagwood, Scott. 2009. Memory Power. Surabaya: Selasar.

Sumber gambar: Pixabay