16 Desember 2017

Di Balik “Don’t Judge A Book by Its Cover”



Di Balik “Don’t Judge A Book by Its Cover”


Don’t judge a book by its cover. Quote tersebut mungkin sudah tidak asing di telinga Anda. Quote ini kurang lebih menyarankan kepada orang-orang, khususnya para pembaca buku, untuk tidak hanya melihat buku dari sampulnya. Bisa saja sampulnya tidak menarik tetapi isi bukunya menarik. Begitu kira-kira. Di sisi lain, sadar atau tidak, quote ini secara implisit seperti menegaskan bahwa sampul/cover/bungkus itu memang penting. Suatu isi buku memang tidak berdiri sendiri. Laris atau menariknya sebuah buku dipengaruhi juga oleh banyak faktor lain selain isi; misalnya sampul (cover), judul, tata letak, gambar ilustrasi, dan nama penulis. Lebih dari itu, sialnya, memang sampul buku merupakan salah satu faktor penarik utama. Tata letak, isi, maupun gambar ilustrasi letaknya di dalam. Kecuali sebuah buku didedahkan bagian dalamnya, pembaca tidak akan tahu/terlalu tahu.

Tentang “bagian luar” ini, peribahasa lain juga menyatakan, “Jangan jadi kacang lupa kulitnya”. Wah, kulit lagi. Meskipun artinya jauh berbeda dari quote sebelumnya, tetapi lagi-lagi membahas tentang kulit/sampul/bungkus/casing/apalah namanya.

Lebih sederhana lagi Anda bisa mengamatinya di dunia percintaan. Biasanya orang akan melihat pada fisiknya terlebih dahulu, baru kemudian tahu hatinya/sifatnya/kepribadiannya. Orang sulit jatuh cinta pada hatinya bila ngobrol dengannya saja belum pernah.


Dari uraian-uraian di atas, bagian luar itu sangatlah penting dan berpengaruh. Fungsinya tidak bisa diabaikan. Seorang tetangga, sebut saja A, pernah bercerita. Ibu B menitipkan barangnya untuk dijualkan di tempat usahanya. Tempat usaha itu ada di perkantoran elit. Pembeli di sana adalah orang-orang dalam kantor itu, yang tentu saja sangat memperhatikan kerapian dan keindahan bungkusnya. Si A dikomplain oleh pembelinya karena  kemasan ibu B itu terkesan asal-asalan. A sendiri mengakui kalau kemasan ibu B itu sangat tidak berkelas. Istilahnya, kebanting, bila dibandingkan dengan produk-produk lain yang juga dititipkan orang padanya. Secara kasar bisa disebut memalukan. Tidak tahu tentang kemasan dan tidak memperhatikan akan kesesuaian tempat. Akhirnya apa? Produk tersebut tidak laku. Si A, yang walaupun hanya sebagai perantara untuk dititipi jual harus ikut menanggung malu. Tak mau mempertaruhkan reputasinya lebih jauh, A menyampaikan keluhannya kepada ibu B. Dengan sebuah ultimatum, boleh tetap titip asal bungkusnya diperbaiki.

Pernah dengar tidak orang-orang bercanda, “Yang mahal bungkusnya”? Ya ... memang kadang-kadang begitu adanya. Ha ... ha ... ha ... Karena kemasan yang baik dan indah akan meningkatkan kelas dan harga, membentuk imej, menggambarkan isi, dan hal-hal semacam itu. Slogan “Yang penting isinya” tidak selalu berlaku. Jadi, tetap beri perhatian serius pada bagian luar, sebaik Anda memperhatikan yang dalam.




Sumber gambar: picturequotes.com