20 Desember 2017

Cara Mudah Meningkatkan Kekhusyuan Sholat 3 Kali Lipat



Cara Mudah Meningkatkan Kekhusyuan Sholat 3 Kali Lipat
Sholat

Kekhusyukan di dalam sholat itu sangat diperlukan. Namun, pelaksanaannya tak bisa dipandang mudah. Sebagaimana kemampuan-kemampuan lain, perlu dilatih. 

Bermula dari membaca sebuah buku tentang cara meningkatkan konsentrasi, tiba-tiba saya terpikirkan hal ini. Sebenarnya tidak berhubungan dengan isi bukunya, tiba-tiba saja tercetus di pikiran.

Caranya cukup 1, dan sangat mudah. Cukup dengan berfokus untuk mendengarkan bacaan sholat kita sendiri. Bacaan dalam sholat itu kan tidak dibaca di dalam hati. Harus disuarakan sebatas kita bisa mendengarnya. Ternyata, ketika saya mencobanya, pikiran jadi lebih terfokus, sehingga bisa meningkatkan kekhusyukan sekitar 3 kali lipat. Kekhusyukan tahap awal.

Kemudian saya teringat akan suatu hadits tentang Abu Bakar dan Umar bin Khaththab yang sedang membaca bacaan dalam sholatnya, Abu Bakar disuruh Nabi untuk mengeraskan suaranya, sedangkan Umar disuruh Nabi untuk memelankan suaranya. 

Saya tidak membahas hadits lebih dalam. Intinya, dalam kondisi biasa, tidak dalam kebisingan tingkat tinggi, berfokus pada bacaan yang sebatas terdengar telinga sendiri itu berhasil bagi saya pribadi.

Barangkali, untuk alasan yang sama, pendapat ustadz Adi Hidayat bahwa zikir harus disuarakan itu benar. Salah satu hikmahnya adalah agar kita lebih bisa konsentrasi dan memahami apa yang kita baca. Hikmah lain yang saya tahu adalah hikmah kesehatan, terkait dengan makhraj-makhraj huruf dan getaran yang ditimbulkan karena membacanya (saya memiliki buku khusus tentang ini). Yang dimaksud dengan ibadah hati itu bukan tentang membaca istighfar dalam hati misalnya, tetapi tentang syukur, ikhlas, rida, dan semacamnya. 

Saya berpendapat, baik bacaan sholat, mengaji, berzikir, atau berdoa, minimal memang harus bisa didengar oleh suara sendiri. Kecuali pada kondisi khusus. 

Munculnya pendapat tentang keuntungan multitasking mungkin membuat orang berlomba-lomba untuk bisa menerapkannya. Padahal, telah banyak buku yang membuktikan bahwa hal itu tidak benar. Dengan multitasking, kekuatan dan perhatian kita terpecah. Belum lagi dengan adanya ponsel, tablet, laptop, atau semacamnya. Membuka internet dalam waktu lama saja sudah bisa menyebabkan gangguan fokus, apalagi kalau banyak yang dibuka bersamaan (banyak tab atau banyak jendela). Pemikiran untuk mempersingkat waktu itu tidak benar dan malah menyebabkan kita menjadi kurang manusiawi. Kapan Anda benar-benar berbicara dengan pasangan tanpa dibarengi dengan nonton TV atau baca koran? Kapan Anda benar-benar memperhatikan ucapan anak Anda tanpa dibarengi dengan “main” HP? Kapan Anda bisa benar-benar bekerja? Saatnya istirahat ya benar-benar istirahat? Bisa benar-benar “ada” untuk orang di dekat Anda? Banyak sekali contoh yang merupakan “produk gagal” dari konsentrasi.

Nah, bagi umat Islam, fakta tentang konsentrasi ini sangat menguntungkan. Kita dilatih minimal sebanyak 5 kali sehari di dalam sholat agar bisa berkonsentrasi. Manfaatnya apa? Kita bisa lebih fokus pada tujuan. Kita tahu apa yang terpenting di dalam hidup. Kita tahu apa yang ingin kita capai. Selain itu, dengan konsentrasi, semakin banyak yang bisa kita raih, semakin baik capaiannya, semakin singkat waktunya, semakin baik kita dalam pengelolaan segala sumber daya, dan semakin baik pula hubungan kita dengan sesama. Kita pun akan menjadi orang yang lebih terarah dan lebih manusiawi.

Bukankah sinar matahari hanya dapat membakar kertas jika difokuskan? 

Oleh karena itu, hindari multitasking dan mulai coba cara di atas! 

Semoga bermanfaat.


Sumber gambar: notepam.com