01 September 2017

Me VS Mami: Memahamkan akan Bahasa Kasih Ibu dan Anak



Me VS Mami: Memahamkan akan Bahasa Kasih Ibu dan Anak
Me vs Mami
Sumber: Globalradio.co.id

Saya menyukai film-film sederhana. Menonton film yang dekat dengan keseharian biasanya terdengar menarik. Itulah mengapa pilihan saya jatuh pada Me vs Mami. Dari judulnya saja bisa diduga kalau film ini bersifat universal. Tidak dibatasi oleh negara dan waktu tertentu atau semacamnya. Benar-benar tentang kisah keseharian antara ibu/mami (Maudy) dan anaknya (Mira). Saya kira, di manapun, baik di Indonesia atau negara-negara luar, hal itu bisa terjadi. Timbulnya pertentangan, perselisihan, maupun ketidak-sepahaman antara ibu dan anak adalah hal yang lumrah. Film ini bermaksud untuk mengurai masalah tersebut. Bagaimana caranya agar hubungan antara orangtua dan anak bisa membaik.

Adegan dibuka dengan munculnya Maudy (mami), Mira (anak), dan Om. Diiringi dengan musik pengiring yang lucu, membuat saya semakin tertarik. Penasaran.

Adegan demi adegan pun berlalu, dan saya mendapati film ini sangat berisik. Penuh teriakan di mana-mana. Entahlah, apa karena sosok Maudy yang digambarkan tegas, protektif, judes (cerewet), perfeksionis, dan otoriter sehingga harus seberisik itu. Suara dan akting Maudy terlalu mendominasi sehingga pemain lain seperti kebanting. Barangkali hal itu jugalah penyebab Cut Mini dan Irish Bella yang sempat menjadi nominasi pemeran pasangan terbaik dalam IMAA 2017 harus takluk pada Nicholas Saputra dan Dian Sastro dengan AADC 2-nya. 

Me VS Mami: Memahamkan akan Bahasa Kasih Ibu dan Anak
 Nominasi pemeran pasangan terbaik IMAA 2017
Sumber: Imgrum.org

Meski demikian, Cut Mini sebagai mami (Maudy) berperan dengan sangat baik. Ekspresi maupun peralihan adegannya sangat natural. Wajar jika di tahun yang sama, di bulan November, ia berhasil meraih piala citra di dalam Festival Film Indonesia 2016, yaitu untuk kategori pemeran utama wanita terbaik (melalui film Athirah-nya). Sekarang coba kita bandingkan dengan peralihan adegan di dalam Me vs Mami secara keseluruhan, bukan hanya tentang akting mami. Peralihan adegannya kasar dan terkesan dipaksakan. Tentang pencuri motor, orang yang mau bunuh diri, kerbau yang tertabrak, wanita hamil, orang pacaran yang sedang asyik berfoto, dan masih banyak lagi. Mungkin bisa dikatakan bahwa alurnya kurang baik. Memang sih, film ini memuat kearifan lokal dan mempromosikan keindahan alam Indonesia, tetapi entah mengapa saya merasa peralihan adegannya masih kurang halus. Untuk menuju ke adegan atau tempat-tempat wisata itu seperti terlalu dipaksakan. Semua potongan adegan di sepanjang perjalanan ke Payakumbuh, yang sebenarnya ditujukan untuk menunjukkan kuatnya sisi kasih sayang mami, malah terlihat aneh dan lebay

Ada juga tokoh yang seperti tempelan saja, yaitu tokoh Om yang muncul di awal cerita. Lalu hubungan antara Rio dengan peristiwa-peristiwa di sepanjang perjalanan, yang entah settingan atau tidak. Itu tidak jelas. Begitupun dengan endingnya, sama tidak jelasnya.

Sebagai film yang dikatakan bergenre komedi, film keluarga ini sangat jauh dari kata lucu. Saya yang agak tertawa itu adalah saat pemilik rumah makan baru menyadari kalau Maudy seorang artis, lalu mengajaknya foto bersama. Selainnya tidak terlalu. Mungkin lebih dekat ke unsur petualangan ya daripada komedi. Karena porsi kejadian di perjalanan lebih banyak dari kejadian sebelum berangkat atau di tempat tujuan.

Me VS Mami: Memahamkan akan Bahasa Kasih Ibu dan Anak
 Cut Mini dan Piala Citra FFI 2016 (film Athirah)
Sumber: Entertainment.kompas.com

Dilihat dari cover/posternya, film yang tayang di bioskop tanggal 20 Oktober 2016 ini cukup menarik. Namun, judul masih kebarat-baratan. Disadari atau tidak, masih banyak karya yang seperti ini; baik berupa buku, film, atau lainnya. Seolah-olah jika judulnya berbahasa Indonesia itu tidak keren dan tidak menjual. Apalagi ini tentang kearifan lokal ya, bukan tentang film Indonesia yang bersetting di luar negeri, berhubungan dengan bule, atau menyasar segmen luar negeri. Mengapa sebagai orang Indonesia kita tidak bangga dengan bahasa sendiri? Di dalam kasus ini, saya merasakan hal yang sama seperti Kepala Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dadang Sunendar. Ia berkata, “Empat puluh satu persen film Indonesia dalam tahun ini judulnya pakai bahasa Inggris, padahal dialognya pakai bahasa Indonesia.” Hal itu disampaikannya pada saat Seminar Internasional Linguistik dengan tema Bahasa dan Perubahan Sosial digelar oleh Program Studi S2 Liguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas bekerja sama dengan Masyarakat Liguistik Indonesia cabang Unand.

 Film ini memang sederhana dan ringan, tetapi idenya mengandung kebaruan. Tidak seperti film lain yang banyak mengusung tema cinta-cintaan yang begitu-begitu saja. Sayangnya, saya kurang menikmati bagian awal darinya. Menurut saya, bagian awal sampai dengan adegan Mira ditampar itu “kosong”, kalau tidak bisa disebut gagal. Seperti adegan yang sia-sia, sekadar memanjang-manjangkan cerita, atau entah apa namanya. Sedangkan titik di saat adegan penamparan bermula hingga akhir cerita itu “penuh”. Hanya itu intinya. Adegan-adegan di situ itu sangat mengesankan dan feel-nya dapat banget. Saya sampai terharu dan agak menangis.

 Me VS Mami: Memahamkan akan Bahasa Kasih Ibu dan Anak
 Me vs Mami
Sumber: Celebrity.okezone.com

Terlepas dari kekurangan di atas, saya cukup mengapresiasi film ini karena muatannya baik dan tidak terkesan menggurui. Pesan moralnya kuat. Tak heran jika ia mendapat pujian dari Atalia Praratya. Namun, bukan hanya istri dari Ridwan Kamil itu yang memberikan respon positif. Di Kabupaten Bangka Selatan (Basel), Diskominfo-nya malah menggelar  nonton bareng (Nobar) Film Me vs Mom di lapangan Tubub, 22 Maret 2017 malam.

Jika melihat apresiasi yang begitu baik dari Atalia dan Diskominfo Bangka Selatan tersebut, kira-kira bagaimana penerimaan pasar akan film ini? Ternyata warga Jakarta, Bandung, Bekasi, Cileungsi, Cibubur, Cirebon, Semarang, Solo, Surabaya, Medan, Padang, Palembang, Pekanbaru, dan Gorontalo menyambut baik akan keberadaannya. Bahkan, per 31 Oktober 2016, jumlah penontonnya mencapai 225.603 orang. Hebat, bukan? Hanya sekitar 2 minggu dari masa tayangnya tiket sudah terjual sebanyak itu. Malahan, di beberapa bioskop, film komedi ini berhasil menjadi film yang paling banyak diputar bulan itu. Untuk diketahui, di bulan Oktober 2016 itu ada film-film Indonesia seperti Humor Baper, Sunya, Wonderful Life, The Doll, Ada Cinta di SMA, Pinky Promise, Dear Love, dan Cado-Cado the Movie. Dan ternyata, Me vs Mami berhasil mengunggulinya. 

Me vs Mami versi layar lebar termasuk berhasil mengulang kesuksesan FTV dengan judul yang sama. Ya, film ini berasal dari film FTV. Agaknya memang masih banyak film bioskop yang harus diawali dari kesuksesannya di tempat lain dulu. Misalnya, diangkat dari novel best seller, diadaptasi dari film luar negeri yang sukses, melanjutkan film terdahulunya yang sukses (seri lanjutannya), mengemas ulang film lama yang sukses, dan semacamnya. 

Bagaimanapun, film ini cukup menarik untuk ditonton. Anda belum menonton? Wah, sayang sekali!



"Tulisan ini diikutsertakan ke dalam lomba penulisan kritik film Apresiasi Film Indonesia 2017"