12 Juni 2017

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah



Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
Gay
Sumber: Pixabay (by Geralt)

Sekian lama dalam pencarian, para pria itu lelah. Merasakan sesuatu yang berbeda tapi tak bisa bercerita kepada siapapun. Hati kecil berkata, “Itu dosa, Tuhan akan marah”. Namun, entah mengapa hasrat ini menuju kepada orang yang salah. Sesama pria.

Timbullah perasaan membenci diri sendiri. Bagaikan belenggu yang sudah mengikat kuat, akhirnya mereka menyerah. Tunduk pada nafsu.

Dalam tanpa daya, uluran-uluran tangan setan menyambut dan membawa kabar gembira. Katanya, “Jangan bersedih, ada banyak orang di luar sana yang serupa!”. Gayung bersambut dan mereka larut semakin dalam. Apalagi berbagai teori terus dicari, agar tercapai suatu kesimpulan, KAU TAK BISA DISEMBUHKAN.

Nafsu itu telah berpadu dengan kurangnya ilmu, membuat Indonesia berada dalam status waspada. Sekarang, saat ini juga, mari merangkul mereka untuk kembali kepada fitrah!


Kaum Gay Semakin Menampakkan Diri

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
Gay
Sumber: Publicdomainpictures.net

 Baru-baru ini 2 pesta gay digerebek petugas. Empat belas gay berpesta seks di hotel Oval Surabaya 30 April lalu, dengan 5 orang didapati mengidap HIV. Kurang lebih sebulan setelahnya, 22 Mei 2017, hal yang lebih mengerikan terjadi. Seratus empat puluh satu gay digerebek di Atlantis Gym dan Sauna di Kelapa Gading, Jakarta sedang melakukan pesta serupa. Empat di antaranya diduga berasal dari jaringan internasional.

Kaum gay yang sekarang bukanlah seperti yang dulu. Kini mereka cenderung terang-terangan dan minta diakui eksistensinya. Dukungan pun mengalir dari mana-mana. Mulai dari penambahan emoji LGBT pada aplikasi chatting, penyematan bendera pelangi pada Facebook, sampai dengan dukungan terang-terangan dari beberapa perusahaan atau iklan. Bahkan, pernikahan sejenis kini telah dilegalkan di banyak negara. Atau setidaknya, Civil Union (semacam ikatan resmi hidup bersama).

Ada apa dengan Indonesia dan dunia? Mengapa mencuatnya kasus LGBT ini sedemikian tinggi? Barangkali, karena informasi sudah semakin mudah diakses. Aplikasi dan media sosial memudahkan para LGBT bertemu sesamanya, bergabung ke dalam komunitas atau bahkan mendapatkan pasangan kencan/seksual. Di komunitas jugalah kaum LGBT diajari tentang hak asasi manusia, yang digunakan sebagai alat untuk meng-gol-kan tujuan mereka. Begitupun di film-film atau lawakan, menjadi ajang promosi bahwa seolah-olah menjadi LGBT itu lumrah.

Ekspose media terbukti membantu di dalam hal ini. Seiring dengan kemajuan teknologi, ekspose media semakin mudah. Sebagai dampaknya adalah meningkatnya dukungan komunitas/sosial dan toleransi masyarakat. Di Indonesia, kondisi itu didukung pula oleh adanya figur yang secara terbuka berperilaku homoseksual; pemahaman dari kaum liberal, JIL, dan atheis; serta kucuran dana dari luar negeri, misalnya HIVOS Belanda. 


Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
 Film tentang LGBT peraih banyak penghargaan
Sumber: Wikipedia

Lambat laun, Asosiasi Psikiatri Amerika (APA), PPDGJ (buku textbook diagnosis gangguan jiwa yang dipakai psikiater Indonesia-mengacu ke DSM), dan DSM (manual diagnostik APA untuk gangguan mental) akhirnya mencabut homoseksualitas dari daftar kelainan jiwa. Alasannya adalah karena “terapi konversi” atau “terapi reparatif” bagi penderita bisa berbahaya, dan terkait dengan depresi, bunuh diri, kecemasan, isolasi sosial, serta penurunan kapasitas keintiman. Sejumlah besar profesional medis, organisasi ilmiah, dan konseling di AS dan penjuru dunia telah mengeluarkan pernyataan mengenai bahaya yang dapat disebabkan oleh terapi tersebut, terutama jika didasarkan pada asumsi bahwa homoseksualitas adalah hal yang tidak dapat diterima. Barangkali masih berhubungan dengan ini juga akhirnya pernikahan sejenis berhasil dilegalkan di banyak negara.

Namun, tahukah Anda jika semua itu telah dimanipulasi untuk kepentingan kaum gay? Lima dari tujuh orang tim pembuat DSM adalah homo dan lesbian, sedangkan sisanya adalah aktivis LGBT. Di Amerika, dengan dukungan media, aktivis homoseksual dan kiri sekarang secara terbuka berkampanye untuk mengusir suara konservatif yang tidak setuju. Militan "gay" menekan dan menggertak profesional kesehatan mental Amerika untuk menyingkirkan homoseksualitas dari daftar gangguan jiwa pada tahun 1973. Mereka juga sangat membesar-besarkan populasi homoseksual untuk memperluas kekuatan politiknya di tahun-tahun berikutnya.

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
Pernikahan LGBT
Sumber: Flickr

 Selain faktor-faktor di atas, kaum gay juga mendapat dukungan dari UNDP dan USAID. Dukungan yang dimaksud adalah tentang berbagai tantangan baik hukum, politik maupun sosial  yang dihadapi kelompok LGBT, aspek hukum dan kebijakan yang terkait, serta peluang akses mereka akan layanan peradilan dan kesehatan.

Sekarang, kita tidak hanya harus waspada terhadap lawan jenis. Sesama jenis pun bisa menjadi ancaman yang berarti. Kita tak bisa lagi merasa aman duduk di dekat sesama jenis juga, apalagi tidur sekamar atau seranjang. Tidak aman untuk berenang, buang air kecil, berkemah, senam, fitnes, sauna, berada di kolam renang/pemandian massal, dan ber-apa saja. Misalnya di pabrik-pabrik Sukabumi yang mayoritas pekerjanya wanita, tumbuh subur lesbian. Haruskah kita menjadi penyendiri karenanya? Dengan sesama jenis terancam, dengan lawan jenis apalagi.


Maraknya Gay Memakan Korban

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
Bendera LGBT
Sumber: En.wikipedia.org

Gay merupakan salah satu bagian dari kaum bersimbol pelangi (LGBT). Ia merupakan bentuk penyimpangan seksual antara laki-laki dengan laki-laki (laki-laki menyukai laki-laki). Penyimpangan ini bisa menimpa siapapun, termasuk mahasiswa, dosen, peneliti, atau jabatan penting lainnya. Inilah yang membuat gerakannya seperti terorganisir. 

Kaum penyuka sesama pria ini cenderung aktif mencari mangsa. Di suatu berita disebutkan bahwa seorang pria Inggris diperkosa gay saat sedang buang air kecil. Pada artikel lain, seorang pria diperkosa temannya yang gay. Ada pula gay yang mencari mangsa di stasiun kereta api, ada remaja yang dicabuli gay, dan tak terhitung berapa jumlah anak-anak yang menjadi korban gay (pedofilia). Itu karena tak sedikit dari kaum mereka yang kedapatan pedofil juga. Malangnya, korban perkosaan tersebut akan cenderung menambah jumlah gay yang ada (baca: ikut menjadi gay).


Faktor Biologi, Kambing Hitam bahwa Gay Bersifat Alami

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
Buku My Genes Made Me Do It
Sumber: Amazon

Faktor yang dianggap akan telak mendukung bahwa menjadi gay itu alami dan tidak perlu/tidak bisa disembuhkan adalah faktor biologi. Bermacam-macam teori muncul-patah, muncul-patah, dan begitu seterusnya karena memang dugaan tersebut tidak benar. Mulai dari teori bahwa gay disebabkan karena gen, gen Xq28, perbedaan struktur otak gay, gay karena hormon, perbedaan panjang jari, tangan kidal, urutan kelahiran, epigenetik, dan lain-lain tidak bisa membuktikan bahwa faktor tersebut dominan, apalagi menyebutnya tidak bisa diubah/disembuhkan. Dr. N.E.Whitehead, Ph.D telah membantah semuanya secara lengkap pada situsnya http://www.mygenes.co.nz/index.html atau pada bukunya yang berjudul “My Genes Made Me Do It!” Buku tersebut berisi tentang kumpulan bantahan terhadap teori-teori kaum LGBT, sebagai hasil penelitian lebih dari 20 tahun yang sangat hati-hati. Sudah bisa ditebak bahwa situs/website itupun mendapat kecaman dari kaum bersimbol pelangi tersebut, sehingga ia harus menghilangkan detail kontak diri dari situsnya.

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
 Kecaman terhadap situs Mygenes


American Psychiatric Association (2000) menyatakan, "Tidak ada penelitian ilmiah yang direplikasi yang menunjukkan etiologi biologis spesifik untuk homoseksualitas."

Studi-studi mengenai struktur otak, kembar dan gen Xq28 pun telah banyak dikritik oleh sesama profesional karena cacat dan bias. Para peneliti yang sama dari studi ini memiliki sendiri mengaku bahwa mereka tidak menemukan apa pun genetik yang deterministik orientasi homoseksual.

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
Gen
 Sumber: Commons.wikimedia.org

Dalam bukunya, Born Gay? Dr John Tay, ahli genetika klinis dan mantan Kepala Divisi Human Genetics di NUS, berbicara tentang pertentangan pendapat antara masyarakat umum dan ilmiah, apakah gay dilahirkan dengan cara ini. Dr. John memberi wawasan kepada pertanyaan apakah gay dilahirkan seperti itu dan mereka tidak dapat mengubah dengan menjelaskan apa yang benar-benar dilakukan gen kepada kami: 

"Efek dari gen pada perilaku yang sangat tidak langsung karena gen membuat protein, bukan preferensi. Kebenaran ilmiah adalah bahwa gen kita tidak memaksa kita menjadi sesuatu. Gen bertanggung jawab untuk pengaruh tidak langsung, tapi rata-rata, mereka tidak memaksa orang homoseksualitas. Kesimpulan mengejutkan adalah bahwa faktor genetik jauh kurang penting dibanding lingkungan sebagai penyebab homoseksual. Atas dasar ini, klaim kaum homoseksual yang ‘Saya dilahirkan seperti itu, jadi saya tidak bisa mengubah' adalah sama sekali tidak benar."

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
 Gen Xq28
Sumber: Wikimedia.org

Suntikan paling serius teori "gen gay" berasal dari studi kembar identik. Hal ini pernah digunakan untuk mempromosikan ide homoseksualitas bawaan. Nyatanya, Dr. Neil Whitehead, salah satu peneliti konservatif terkemuka di dunia membantahnya:

"Dari enam penelitian (2000-2011): jika kembar identik memiliki ketertarikan jenis kelamin yang sama, kemungkinan bahwa pasangan kembar juga memilikinya, hanya sekitar 11% untuk pria dan 14% untuk wanita."

"Karena mereka memiliki DNA yang identik [konkordansi tentang orientasi seksual itu] seharusnya 100 persen" Dr. Whitehead mengatakan kepada OrthodoxNet.com.

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
Kembar identik
 Sumber: Dodlive.mil

Selain teori gen ada pula teori struktur otak. Di antara riset yang terkenal berasal dari Roger Gorsky dan LeVay, lagi-lagi masih berhubungan dengan gay. Gorsky adalah pendiri Institute of Gay and Lesbian, sedangkan LeVay adalah seorang gay. Namun, penelitian LeVay, yang merupakan lanjutan dari Gorsky sudah membantah sendiri bahwa gay disebabkan karena struktur otak. Ada kesalahan di sini, yaitu bukan struktur otak yang menyebabkan gay tetapi perilaku gay-lah yang menyebabkan struktur otaknya berubah. 

Tentang pekerjaannya sendiri LeVay mengatakan:
"Sangat penting untuk menekankan apa yang saya tidak temukan. Aku tidak membuktikan bahwa homoseksualitas adalah genetik, atau menemukan penyebab genetik untuk menjadi gay. Aku tidak menunjukkan bahwa laki-laki gay yang dilahirkan seperti itu, orang-orang membuat kesalahan paling umum dalam menafsirkan pekerjaan saya. Aku juga tidak menemukan pusat gay di otak."

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
Kidal
Sumber: Baseknockmlb.com

Bagi orang yang berpendapat bahwa orientasi seksual adalah masalah hormon, nyatanya mengobati homoseksual laki-laki dengan hormon laki-laki tidak terbukti mengubah preferensi seksual mereka secara signifikan. Implikasi yang jelas dari hasil ini adalah bahwa preferensi seksual didominasi respon sosial dipelajari, bukan orientasi tetap sejak awal oleh faktor genetik atau hormonal. 

Kontribusi hormon seks pralahir terhadap OSA (Opposite Sex Attraction) atau SSA (Same Sex Attraction) tidak mendekati 100% seperti yang diyakini banyak orang, namun paling banyak sekitar 25%; kontribusi kecil. Dalam hal ini seseorang tidak dilahirkan lurus atau gay atau transgender. Dalam ringkasan lebih lanjut: kontribusi hormonal pralahir terhadap struktur otak heteroseksual lemah terhadap yang sederhana. Demikian pula, kontribusi pralahir terhadap struktur otak homoseksual atau transgender bersifat lemah.

Lalu ada pula teori lain tentang serangan kekebalan ibu pada anak laki-laki terakhir dan teori kidal. Didapati bahwa studi tentang kembar identik menunjukkan bahwa faktor umum seperti lingkungan uterus hanya sedikit berpengaruh pada SSA. Artinya, pengaruhnya sangat kecil. Teori kidal lebih lucu lagi, karena faktanya sebagian besar anak kidal tidak menjadi homoseksual. Sebaliknya dan yang terpenting, kebanyakan orang homoseksual tidak kidal. Jadi jalur utama untuk homoseksualitas tidak melalui sebab apapun karena kidal. Ada kaitan atau korelasi dengan homoseksualitas tetapi lemah.


Lebih Jauh tentang Gen, Otak, dan Hormon

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
Plastisitas otak
Sumber: Http://journal.frontiersin.org

Lebih jauh tentang gen akan dijelaskan oleh Kazuo Murakami, Ph.D., seorang ahli genetika terkemuka di dunia pemenang Max Planck Research Award (1990) dan Japan Academy Prize (1996). Di dalam bukunya, The Miracle of The DNA terbitan Mizan (2007), ia menyatakan bahwa gen bersifat nyala-padam. Artinya, kita bisa memilih untuk mengaktifkan atau memadamkan gen tertentu. Kalaupun benar gen gay itu ada, Anda tidak otomatis menjadi gay. Anda punya gen obatnya juga di dalam tubuh. Anda tinggal mengaktifkan gen obat tersebut dan memadamkan gen gay tadi. Semua penelitian telah membuktikan bahwa, pengaruh dari faktor biologi, kalaupun ada, tidaklah dominan. Ia sangat kecil. Semua teori gay bisa dipatahkan dengan suatu kesimpulan bahwa faktor lingkunganlah yang lebih dominan.

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
 Plastisitas otak 
Sumber: Commons.wikimedia.org

Jika orangtua kita menderita diabetes misalnya, mungkin kita berpeluang lebih besar menderita diabetes daripada orang yang tidak ada turunan diabetes. Tetapi itu tidak memastikan bahwa kita akan diabetes juga, karena kita bisa memadamkan gen diabetes itu dan mengaktifkan gen obatnya. Sama juga dengan gen gay (jika ada), bisa dinonaktifkan. Jadi, tidak perlu khawatir tidak bisa disembuhkan, apalagi khawatir menurun ke anaknya.

“Kita semua memiliki gen yang berpotensi dapat menimbulkan penyakit, dan pada saat yang sama, juga gen yang dapat mencegah penyakit.”

Sama dengan yang lain, Kazuo mengatakan faktor lingkungan sangat penting untuk diperhatikan. “Faktor-faktor lingkungan adalah sebuah variabel penting yang menentukan apakah gen berbahaya tengah padam atau tidak.”

Bagaimana dengan otak dan hormon?

Perubahan pada otak dan hormon merupakan akibat dari perilaku homoseksual, dan bukan penyebabnya. Otak bersifat neuroplastis, artinya struktur otak bisa diubah melalui pengalaman, aktivitas, dan latihan. Segala sesuatu yang dilakukan berulang-ulang, terutama yang terkait dengan kesenangan (misalnya aktivitas seksual) bisa mengubah struktur otak. Jadi, kondisi struktur otak yang berbeda bukanlah hal yang mentok (buntu). Siapapun yang bertekad untuk mengubah perilaku apapun harus dapat membuat perbedaan mendasar dalam pola pikir dan kebiasaan dalam satu dekade, tapi biasanya lebih cepat. Jadi, menjadi sangat masuk akal untuk menganggap bahwa (misalnya) fokus emosional yang kuat pada seseorang dari jenis kelamin yang sama mungkin dipicu bersamaan dengan kegembiraan seksual, dan jika sering diulang akhirnya bisa menjadi homoseksualitas yang sangat mendarah daging. Karena plastisitas otak cukup banyak. Mungkin homoseksual bisa menjadi lebih heteroseksual dan heteroseksual lebih homoseksual, meski kerja terus-menerus bisa dibutuhkan, setara dengan menguasai alat musik baru.

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
 Melatih otak
Sumber: Buzzitech.blogspot.co.id

Sebagaimana gen negatif bisa dipadamkan, struktur otak pun bisa diperbaiki.  Jangan gunakan dan Anda akan kehilangannya. Jika salah satu bagian otak tiba-tiba tidak digunakan, area di sekitarnya segera mulai merekrut sel-sel otak yang tidak terpakai ini untuk tujuan lain, memprogram ulang dan menggunakannya. Artinya apa? Putuskan segala hal yang memicu hasrat gay Anda dan otak akan memulai proses perbaikannya. 

Hormon pun demikian. Keseimbangannya dapat dipengaruhi oleh penyimpangan seksual. Para pelaku penyimpangan seksual mengalami gangguan psikologis yang menyebabkan kadar hormon berubah. Di sini, kondisi biologis bukanlah penyebab, tetapi konsekuensi dari gangguan psikologis.


Bagaimana dengan Teori Epigenetik?

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
Epigenetik
Sumber: Slideshare.net

Setahu saya ini adalah termasuk teori yang terbaru, yang masih sangat diyakini di kalangan kaum LGBT. Teori epigenetik dimuat di dalam penelitian Rice, W.R., Friberg, dan U. Gavrilets tahun 2012 yang berjudul “Homosexuality as a consequence of epigenetically canalized sexual development”. Epigenetika adalah kontrol ekspresi genetik oleh faktor-faktor selain gen. Faktor-faktor ini mungkin pra-kelahiran atau pascakelahiran (terjadi setiap saat dalam kehidupan), seringkali berasal dari lingkungan eksterior, baik biologis maupun sosial. Tanda epigenetik (perubahan konfigurasi protein di sekitar DNA) juga dapat diteruskan ke keturunan - namun hanya sampai batas tertentu. Teori epigenetik hanya membahas mengenai genitalia dimorfik secara seksual, bukan homoseksualitas. Peneliti tersebut membuat pernyataan bahwa dimorfisme seksual sangat dipengaruhi oleh paparan androgen genitalia dan otak. Epigenetik memainkan peran penting dalam memperkuat diferensiasi seksual yang disebabkan oleh testosteron. 
 
Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah

Teori epigenetik
Sumber: Skepticalinquirer.wordpress.com

Padahal, Lombardo et al  (2012) dan Whitehead (2014) telah membuktikan bahwa testosteron hanya berpengaruh lemah terhadap dimorfisme seksual di otak (15-20%).

Argumen untuk peran epigenetik yang kuat dalam ketertarikan sesama jenis yang disajikan di koran, keduanya terkait dengan penelitian kembar. Pertama, mereka berpendapat bahwa ada banyak perbedaan yang dipengaruhi secara epigenetik pada kembar identik misalnya. Mereka menemukan efek epigenetik pada 600 gen yang dapat menciptakan perbedaan 200% antara dua kembar identik, misalnya satu kembar mungkin memiliki protein dua kali lebih banyak daripada protein lainnya. Tapi 600 gen dari total sekitar 23.000 gen hanya sekitar 2,6%, bukan efek yang besar untuk sesuatu yang mereka klaim memiliki peran dominan dalam diferensiasi seksual. 

Lagi-lagi, dibuktikan bahwa peran faktor biologi tidak dominan, bukan? 

Lebih dari itu, kalaupun homoseksual bisa dibuktikan disebabkan karena faktor biologis bukan berarti bahwa tindakan tersebut dapat diterima. Beberapa ilmuwan telah mencoba untuk membuktikan bahwa faktor genetik dapat membuat kecenderungan untuk kriminalitas. Mereka tidak menyimpulkan bahwa kita harus melegalkan kriminalitas. Ilmuwan lain percaya bahwa disposisi untuk bunuh diri disebabkan oleh rendahnya tingkat serotonin (Dr. Herman van Praag. Dikutip dalam New York Times, 8 Oktober 1985). Mereka tidak menyimpulkan bahwa orang-orang ini harus dibiarkan bebas untuk mengekspresikan dorongan bunuh diri mereka.


Lalu, Apa yang Terjadi Padaku Sebenarnya?

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
Sumber: Ceritamotivasiterupdate.blogspot.co.id

 Barangkali pertanyaan itulah yang kemudian muncul di pikiran kaum gay. Seperti dijelaskan sebelumnya, faktor lingkungan-lah yang berperan utama di dalam timbulnya homoseksualitas. 

Selain itu, baik Kazuo Murakami, PhD. (ahli genetika), Dr. Shigeo Haruyama (spesialis bedah saluran pencernaan), dan Dr.dr.Taufiq Pasiak, M.Kes., M.Pd.I. (ahli otak) sepakat bahwa penyakit berasal dari jiwa/pikiran (kondisi tubuh dipengaruhi oleh jiwa/pikiran). 

Di dalam bukunya, “The Miracle of Endorphin”, Dr. Shigeo Haruyama menjelaskan mengenai keberadaan saraf A10. Pikiran dan emosi berlangsung di batang otak, sistem limbik, dan korteks serebrum. Pada bagian otak ini, berlangsung juga proses saraf A10 yang berhubungan dengan banyak fungsi kognitif dan emosional. 

Saraf A10 dikenal sebagai saraf perasaan senang, bahagia, dan gairah. Saraf penting ini menghubungkan semua bidang dan fungsi otak satu sama lain, mulai dari kebutuhan-kebutuhan fisik yang sederhana seperti libido, nafsu makan, dan pengaturan suhu tubuh saat bergerak dan otak, sampai pada mekanisme korteks prefrontal yang di dalamnya bertempat fungsi-fungsi kognitif kesadaran manusia. Pikiran dan emosi kita bisa mengendalikan fungsi saraf A10 ini. 

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
Anjing dan kucing
Sumber: Pixabay (by: Rihaij)

Mamalia seperti anjing dan kucing juga memiliki saraf A10, begitu pula reptilia. Mereka juga menerima perasaan bahagia dan gairah melalui saraf tersebut, tetapi otak mereka tidak berkembang begitu tinggi untuk dapat mengontrol saraf ini. Hanya manusia dengan korteks serebrum mereka, di satu sisi dapat mengendalikan saraf A10 melalui pikiran, sementara di sisi lain menerima perasaan-perasaan bahagia melalui saraf ini. Dopamin adalah neurotransmitter yang memainkan peran kunci proses pengendalian di otak. Jika korteks serebrum dibuang dari otak manusia, manusia akan bertingkah laku hampir sama dengan anjing atau kucing. Jika kemudian dibuang pula bagian paling berkembang pada otak setiap mamalia-sistem limbik, manusia akan terpuruk pada tingkatan reptilia. Jelaslah, berkat korteks serebrum pula manusia memiliki kesadaran yang paling berkembang dan perasaan berharga. 

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
Singa Afrika 
Sumber: Pixabay (by: JvdMteo)

Di dunia hewan dikatakan ada hewan yang homoseksual sehingga dikatakan bahwa homoseksual itu alami. Di antara hewan yang homo (gay) adalah singa Afrika dan domba Rocky Mountain. Padahal, singa Afrika kerap menjadi homo karena adanya hierarki dalam kumpulannya. Jumlah singa betina kadang tidak cukup bagi semua populasi, terutama singa jantan yang gagal menjadi pemimpin teritori tertentu. Diketahui bahwa singa jantan dan domba Rocky Mountain jantan yang melakukan perilaku homoseksual adalah mereka yang kalah dalam persaingan (pecundang). Dalam kondisi tanpa pesaing, mereka normal (heteroseksual).

Lebih jauh dari itu, kalau kita ingin membuat hewan sebagai patokan, di dunia hewan juga ada yang namanya kanibalisme/perilaku sadis. Apakah lantas hal itu dibenarkan terjadi di dunia manusia karena dipandang alami? 

Kita manusia adalah makhluk yang paling tinggi derajatnya dan paling sempurna penciptaannya. Mengapa ingin dibandingkan dengan hewan dan meniru perilakunya yang tidak sesuai dengan ketinggian derajat kita?


Jangan Lupakan Pula Faktor Narkoba

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
 Kokain
Sumber: Pixabay (by: stevepb)

Narkoba bisa menyebabkan seseorang mengalami disorientasi seksual, misalnya kokain. Kokain memiliki efek lain yang sering dirahasiakan yaitu mengubah pria heteroseksual menjadi homoseksual. Banyak di antara orang yang mengkonsumsi kokain dan berhubungan seks dengan sesamanya (homoseksual) menjadi sadar kembali (menjadi heteroseksual) setelah efek obatnya habis. Biseksual sendiri juga dapat diinduksi pada kedua jenis kelamin dengan kombinasi obat-obatan dan seks. Kecanduan narkoba dan seks secara bersamaan menciptakan kecanduan yang maha dahsyat.


Hanya Ada 2 Jenis Kelamin pada Manusia

Masih ngotot kalau LGBT Anda itu alami? Cek dulu dengan yang satu ini!

Dalam al-Qur`an disebutkan,
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu ingat kebesaran Allah.” (Adz-Dzariyat: 49)

Khusus tentang laki-laki dan perempuan, Allah berfirman,
“Dan sesungguhnya Dia menciptakan laki-laki dan perempuan berpasang-pasangan.” (Adz-Dzariyat: 45)

Berdasarkan ayat di atas, jelaslah bahwa Tuhan hanya menetapkan 2 jenis kelamin pada manusia. Satu berjenis kelamin jantan (pria) dan satu berjenis kelamin betina (wanita). Para ulama pada umumnya (selain Ibnul Arabi) memasukkan “gender ketiga” ke dalam salah satunya. Tidak ada gender ketiga, tidak ada manusia berjenis kelamin lain selain laki-laki dan perempuan. Jika ada yang di luar itu, maka itu adalah kondisi khusus. Tapi jangan senang dulu! Kondisi khusus ini tidak seperti yang dipikirkan oleh mayoritas kaum LGBT, yang mengira dirinya adalah gender ke-3, ke-4, dan seterusnya. 

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
Pria dan wanita
Sumber: Pixabay (by. 089photoshootings)

 Kondisi khusus misalnya berkelamin ganda (ambiguous genitalia)/interseksual yang artinya alat kelamin meragukan. Istilah tersebut belakangan ini diganti dengan Disorders of Sexual Development (DSD). DSD inilah yang sering dikira sama dengan transeksual/transgender, waria/banci, atau homoseksual. Padahal, mereka berbeda. 

Seseorang dikatakan mengalami kondisi khusus jika terdapat sesuatu yang ganjil pada organ reproduksi, kromosom, hormon, dan rambut di tubuh. Penderita kelamin ganda (interseksual) memiliki kelainan pada ciri-ciri genetik, anatomik dan atau fisiologik yang meragukan antara pria dan wanita. 

Dengan adanya kondisi khusus ini, orang menjadi bingung, apa sebenarnya yang digunakan untuk menentukan jenis kelamin seseorang menjadi pria atau wanita. Apakah jumlah kromosom seks? Apakah milik organ seks yang sesuai? Apakah jumlah testosteron atau estrogen? Kesulitannya adalah bahwa tidak satupun dari standar ini yang selalu berhasil: beberapa individu dilahirkan dengan kromosom ekstra, seperti XXYY atau XYY. Beberapa individu terlahir dengan kedua pasang organ seks. Beberapa wanita memiliki kadar testosteron lebih tinggi daripada banyak pria.

John Skalko di dalam Http://www.thepublicdiscourse.com/2017/06/19389/ menjelaskan dengan baik tentang hal ini. Ia adalah seorang profesor tamu di Seminari St. John dan Kandidat PhD dalam Filsafat di Universitas St. Thomas, Houston. Dikatakan bahwa yang menentukan seks adalah peran yang mereka mainkan dalam reproduksi. Seks biologis didefinisikan dalam kaitannya dengan peran yang dimainkan dalam reproduksi seksual. Reproduksi seksual hanya melibatkan dua, yaitu laki-laki dan perempuan. Dengan demikian, seks biologis hanya dua, yaitu pria atau wanita. Cacat tidak membuat gender ke-3 menjadi terbentuk. Seorang laki-laki yang dikebiri masih laki-laki. Begitupun seorang wanita yang melakukan mastektomi masih tetap berjenis kelamin wanita. Sulit untuk mengidentifikasi seseorang sebagai pria atau wanita bukan berarti tidak termasuk keduanya. Kembar identik sulit dibedakan, namun mereka tetap merupakan orang yang berbeda. 

Jauh sebelum penemuan John Skalko, Imam Al-Kasani juga berpendapat serupa. Menurutnya, seorang manusia tidak bisa menjadi laki-laki dan perempuan secara bersamaan. Dia mesti laki-laki, atau mesti perempuan. [Bada`i’ Ash-Shana`i’/Al-Kasani]

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
Contoh ambiguous genitalia sebelum (kiri) dan sesudah operasi (kanan)
 Sumber: Pt.wikipedia.org

Kondisi yang tepat dari hal ini adalah telah terjadi kecacatan, entah memiliki kromosom ekstra, organ genital yang cacat, atau lainnya. Tetapi ia tetap laki-laki atau perempuan (salah satunya).

Manusia dengan ambiguous genitalia bukanlah hermafrodit. Dikatakan hermafrodit jika individu tersebut memiliki kedua pasang organ seks dan kedua pasang tersebut berfungsi sepenuhnya. Hermafrodit manusia sejati dengan organ seksual pria dan wanita yang berfungsi penuh tidak ada. Itulah mengapa tidak ada kasus pembuahan diri sendiri yang pernah tercatat pada manusia. 

Seorang laki-laki masih tetap laki-laki meskipun tidak aktif bereproduksi dengan perempuan, atau jika mereka tidak dapat bereproduksi karena sterilitas, pengebirian, atau cacat genetik atau fisik. Dia memiliki potensi untuk menghamili wanita meskipun dia belum tentu bisa menghamili karena hal-hal tadi. Berbeda dengan seorang wanita, bagaimanapun, tidak bisa menghamili wanita lain.


Bagaimana Cara Membedakan Jenis Kelamin Tersebut?

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
 ASI 
Sumber: Pixabay (by. AdinaVoicu)

Di dalam Islam, ambiguous genitalia dikenal dengan nama Al-Khuntsa. Orang yang memiliki 2 alat kelamin (laki-laki dan perempuan) atau tidak memiliki alat kelamin dimasukkan ke dalam golongan ini. Al-khuntsa ada dua macam, yaitu: al-khuntsa “ghairul musykil” (tidak sulit) dan al-khuntsa “al-musykil” (sulit).

Pertama; al-Khuntsa ghairul musykil, yaitu orang/khuntsa yang jelas tanda-tanda kelelakiannya atau tanda-tanda keperempuanannya. Tanda-tanda ini bisa dilihat secara fisik, mana yang lebih dominan. 

Kedua; al-khuntsa al-musykil, yaitu orang/khuntsa yang mempunyai tanda-tanda maskulinitas dan feminitas dalam dirinya, misalnya; dia buang air kecil dari saluran kencing perempuan dan laki-laki secara bersamaan.

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
 Ambiguous genitalia
Sumber: Medindia.net

Untuk membedakan apakah dia laki-laki atau perempuan berikut ini adalah beberapa cara yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan:

1.    Jika dia masih bayi lihat kandungan ASI ibunya.
Ia laki-laki jika ASI ibunya lebih kaya protein dan lemak, dan ia perempuan jika ASI ibunya lebih kaya kalsium.

2.    Umar bin Khatab pernah ditanya tentang hal ini dan ia menyuruh untuk melihat dari jalan mana dia kencing.


Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
 Hispospadia
Sumber: En.wikipedia.org

Namun, hal ini terkadang sulit karena penderita interseks sering disertai dengan hipospadia. Hipospadia yaitu kelainan yang terjadi pada saluran kencing bagian bawah di daerah penis. Saluran kencingnya terlalu pendek sehingga muaranya tidak mencapai ujung penis melainkan bocor dibagian tengah batang penis atau di antara kedua kantong buah zakar (scrotum). Pada keadaan berat, lubang lebar terletak di daerah perineal menyebabkan skrotum terbelah dan memberikan gambaran seperti lubang vagina terutama pada bayi baru lahir. Apabila kelainan ini disertai tidak turunnya testis ke dalam skrotum, maka dapat menimbulkan kesulitan dalam menentukan jenis kelamin bayi. 

3.    Ali bin Abi Thalib pernah menemui kasus ini di masanya. Ia memberikan solusi agar si khuntsa diperiksa tulang rusuknya dari kedua sisi. Jika tulang tersebut sama, berarti dia perempuan. Sedangkan kalau tulang rusuk di sisi kiri lebih pendek, berarti dia laki-laki. Dalilnya adalah, saat Adam masih tercipta seorang diri, Allah ingin memberikan pasangan untuk Adam dari jenisnya, agar mereka bisa saling memberikan ketenangan dan cinta kasih. Oleh karena itu, ketika Adam tidur, Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan Hawa dari tulang rusuk kirinya. Itulah makanya, tulang rusuk kiri laki-laki kurang satu, sedangkan tulang rusuk perempuan sempurna. Pada perempuan terdapat 24 buah tulang. Sementara pada laki-laki terdapat 23 tulang, dua belas di sebelah kanan dan sebelas di sebelah kiri. Dan, perempuan itu tercipta dari tulang yang bengkok. [Nur Al-Abshar fi manaqib Aali Bayti An-Nabiy Al-Mukhtar/Mukmin Hasan Asy-Syabalankhi]

4.    Situs Alodokter.com memberikan acuan jenis kelamin sebagai berikut:

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
 Perempuan
Sumber: En.wikipedia.org

Ia perempuan jika:
a.       Klitorisnya membesar hingga terlihat seperti penis kecil.
b.      Labia kemungkinan menyatu dan terlihat seperti skrotum.
c.       Pembukaan uretra (tempat urine keluar) bisa berada di sepanjang, di atas, atau di bawah permukaan klitoris.
d.      Terkadang terasa ada benjolan jaringan di dalam labia yang menyatu, membuatnya terlihat seperti skrotum dengan testis.
e.       Bayi pun sering dianggap berjenis kelamin laki-laki dengan testis tidak turun.

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
Laki-laki
Sumber: En.wikipedia.org

Ia laki-laki jika:
a.       Ukuran penisnya kecil (kurang dari 2 atau 3 cm) hingga terlihat seperti klitoris yang membesar dan dengan pembukaan uretra lebih dekat ke skrotum.
b.      Kemungkinan ada skrotum kecil yang terpisah dan terlihat seperti labia.
c.       Pembukaan uretra bisa berada di sepanjang, di atas, atau di bawah penis. Bisa juga terletak di perineum (daerah antara anus dan skrotum atau vulva) hingga membuat bayi seperti berjenis kelamin perempuan.
d.      Testis tidak turun dan skrotum kosong hingga terlihat seperti labia, disertai dengan atau tanpa penis kecil.

Jika seseorang didapati merupakan khuntsa, ia bisa melakukan operasi penyempurnaan kelamin jika mau. Pengobatan kelamin ganda tersebut dilakukan demi kesejahteraan sosial, psikologis, dan kesehatan fisik dirinya. Hal itu disebabkan karena kelamin ganda bisa menyebabkan ketidaksuburan, masalah pada fungsi seksual, meningkatkan risiko beberapa jenis penyakit kanker, hingga rasa tidak nyaman mengenai identitas gender.

Sebelum dioperasi mereka akan melalui suatu proses pemeriksaan laboratorium rutin, analisis kromosom dan DNA, pemeriksaan hormonal dan tes-tes lain yang dianggap perlu seperti USG, foto rontgen dan lain-lain. 

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
Waria bukan khuntsa
 Sumber: Flickr

Pertumbuhan gonad yang salah (disgenesis gonad) merupakan salah satu kasus interseksual. Ia berisiko tinggi menjadi ganas. Pada kasus disgenesis gonad tersebut seringkali timbul dilema apakah gonadnya akan dipertahankan atau akan diambil. Jadi, operasi penyempurnaan kelamin benar-benar harus melalui pertimbangan yang matang.

Selain operasi, khuntsa tersebut juga membutuhkan terapi hormon ketika menginjak remaja. Gunanya untuk membantu mereka menjalani masa pubertas. Serta tidak ketinggalan pula, diperlukan suatu konseling untuk orang tua dan anak itu sendiri.

Sekarang, cek lagi diri Anda! Adakah kelainan fisik, fisiologis, atau semacamnya pada Anda? Jika tidak berarti bukan khuntsa. Anda laki-laki normal atau wanita normal. Sekali lagi, khuntsa bukanlah transeksual/transgender/waria/banci.


Bisakah Gay Disembuhkan?

Insya Allah bisa. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), dilansir dari Jakarta Post, mengklasifikasikan homoseksualitas, biseksualitas, dan transgender sebagai kondisi gangguan mental, yang dikatakan dapat disembuhkan melalui pengobatan yang tepat.

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
Gay
Sumber: Pixabay (by. Kurious)

Otak manusia bersifat neuroplastis, artinya strukturnya bisa berubah karena pengaruh stimulus dari luar termasuk faktor lingkungan, pendidikan dan pola asuh. Ia merupakan jaringan hidup dan responsif, mengalami perubahan besar di tingkat mikro sebagai respons terhadap hal-hal yang kita lakukan, bayangkan dan pikirkan berulang-ulang. Orientasi seksual dibentuk oleh banyak faktor, tidak hanya faktor biologik (hormon dan struktur otak). Pengaruh faktor-faktor seperti pola asuh, pendidikan dan lingkungan bekerja melalui bagian otak bernama Cortex Cerebri. Tidak melalui struktur otak tengah atau batang otak, seperti hipothalamus hingga nukleus-nukleus di batang otak. Oleh sebab itu, Dr.dr.Taufiq Pasiak, M.Kes., M.Pd.I. Lektor Kepala/IVa Bid. Neuroanatomi dan Neurosains pada FK UNSRAT Manado menyatakan bahwa LGBT adalah disorientasi seksual yang disebabkan oleh pola asuh, pergaulan, pendidikan dan aspek-aspek lingkungan yang berhasil mengubah struktur otak. Bukan oleh faktor genetika. Menurutnya, kasus tersebut bisa disembuhkan.

Pernyataan tersebut dikuatkan oleh Novi Andayani Praptiningsih, Dosen FISIP UHAMKA Jakarta. Dalam disertasinya yang berjudul Etnografi Komunikasi Komunitas Gay “Coming Out” (2016), ia menyimpulkan bahwa homoseksual bukan disebabkan karena faktor genetik. Seorang homoseksual bisa sembuh dengan berbagai terapi yang tepat, salah satunya melalui pendekatan komunikasi. Komunikasi persuasif dan pendekatan agama dikatakan lebih efektif dalam menyembuhkan perilaku homoseksual.

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
 Bertobat
Sumber: Mediamaya.net
 
Dari sisi psikolog, psikolog klinis Lita Gading berpendapat, meskipun pola asuh dan lingkungan mendorong heteroseksual, namun perubahan yang terus berjalan sampai dewasa bisa mengubah orientasi seksual seseorang. Apalagi mereka yang tidak dibekali pembentukan diri, karakter, pendidikan agama, dan moralitas. Proses orientasi seksual dipengaruhi oleh banyak faktor, namun gen porsinya sangat kecil. Lingkungan internal dan eksternal lebih dominan, termasuk pola asuh, trauma, pencarian figur ayah atau ibu saat kecil hingga remaja, dan perhatian orang tua pada fase pertumbuhan dari anak hingga remaja.

“Saat remaja adalah fase laten. Anak sudah mengenal seks tetapi tidak untuk menyalurkan secara biologis. Jika masa laten ini tidak didampingi orangtua dengan baik, orientasi anak bisa berubah. Anak bingung jika tidak diarahkan. Apalagi masa usia 15 tahun misalnya, sudah muncul ketertarikan terhadap lawan jenis,” jelasnya.

Sebagai bukti bahwa gay bisa kembali normal adalah testimoni di situs web Mastering Life Ministries.

Untuk membantu proses penyembuhan tersebut, lakukanlah hal-hal berikut:
1.    Sadari dan yakini bahwa gay adalah sebuah penyimpangan.
2.    Bersungguh-sungguh ingin berubah kembali kepada fitrah.
3.    Memohon pertolongan Allah dan semakin mendekatkan diri kepada Allah.
4.    Penderita hendaknya menekan kecenderungan tersebut sejak pertama kali muncul atau disadari.
5.    Menjaga pandangan.
6.    Menjauhi teman-teman homo-nya.

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
Sumber: Panjimas.com

7.    Berpuasa serta makan minum tidak berlebihan.
8.    Mencoba diruqyah
Pada beberapa kasus ditemukan ada jin yang ikut campur dalam mengubah orientasi seksual seseorang. Jadi, lakukan ruqyah sampai jin di dalam tubuh Anda benar-benar telah keluar semuanya.
9. Istighfar sebanyak-banyaknya, sholat taubat, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi (bertekad kuat untuk sembuh)
10.  Aktif di dalam kegiatan positif, terutama jamaah keagamaan (misalnya sholat berjamaah di masjid, pengajian di masjid, tabligh akbar, dan semacamnya)
11. Menjauhi makanan yang haram, misalnya babi.
Makanan mempengaruhi sifat manusia. Di antara hewan yang melakukan homoseksual adalah babi dan keledai, maka carilah makanan selain keduanya (yang halal dan baik).
12.  Berkonsultasi dengan Sinyo Egie di:
Https://www.facebook.com/groups/pedulisahabat2014/
atau
Kontak langsung ke HP-nya yang ada di Https://sinyoegie.wordpress.com/
Sinyo Egie membuat komunitas yang membantu orang-orang SSA (Same Sex Attraction) yang ingin sembuh. Coba saja bergabung ke sana!

Merangkul Kaum Gay Kembali Kepada Fitrah
 Peduli Sahabat
Sumber: Sinyoegie.wordpress.com

Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Yakin saja, cepat atau lambat upaya perbaikan diri Anda akan berhasil! Anda tidak selalu perlu untuk mengetahui apa yang terjadi pada diri. Cukuplah untuk mengetahui bahwa hal itu adalah penyimpangan dan Insya Allah bisa disembuhkan.

Kami menyayangi Anda maka kami peduli. Bagaimana dengan Anda, pedulikah dengan diri sendiri? Semoga hidayah Allah tercurah pada Anda sekalian.


Sumber: 

Haruyama, S. 2011. The Miracle of Endorphin. Bandung: Qanita.
Murakami, K. 2007. The Miracle of The DNA. Bandung: Mizan.
Pasiak, T. 2009. Tuhan dalam Otak Manusia. Bandung: Mizan.
Rice, W.R., Friberg, U. Gavrilets, S. (2012). Homosexuality as a Consequence of Epigenetically Canalized Sexual Development. Quarterly Review of Biology, 87(4), 343-368.
Doidge, N. 2007. The Brain that Changes Itself. New York: Penguin.
N.E. Whitehead. 2007. An Antibody antibody? Re-Examination of the Maternal Immune Hypothesis. Cambridge University Press. J.biosoc.Sci.
Http://www.kompasiana.com/taufiqpasiak/lgbt-bukan-karena-struktur-otak_56c2b7bd44afbd550535c2ba
Http://www.kompasiana.com/lely_nura/gay-itu-normal_54f3b4cc745513802b6c7e51
Http://www.freerepublic.com/focus/news/1300464/posts
Http://www.cnnindonesia.com/hiburan/20170317211217-220-201031/polling-cnn-indonesia-belum-terima-lgbt-di-perfilman/
Http://www.id.undp.org/content/dam/indonesia/docs/LGBT/Indonesia%20report,%2027%20May%2014_ID_FINAL_Bahasa.pdf
Http://www.jurnalmuslim.com/2016/02/terdepan-dalam-bela-lgbt-hartoyo-akui-terima-dana-asing.html
Http://hermansaksono.com/2016/01/tujuh-hal-tentang-lgbt-yang-sebaiknya-anda-tahu.html
Https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2016/05/28/95504/penelitian-ini-runtuhkan-teori-gay-gene-homoseksual-bukan-genetik.html
Http://sukabumiupdate.com/berita-lesbi-dan-tren-wanita-sukabumi-aktif-di-ruang-publik.html
Http://www.aim.org/special-report/media-myths-of-the-homosexual-transgender-agenda/
Http://americansfortruth.com/2017/04/05/national-affirmation-of-homosexuality-cannot-change-natures-renunciation/#more-25193
Http://www.mygenes.co.nz/epigenetics.html
Http://www.mygenes.co.nz/plasticity.html
Http://www.mygenes.co.nz/rams.html
Http://www.thepublicdiscourse.com/2017/06/19389/
Https://www.hidayatullah.com/konsultasi/konsultasi-syariah/read/2011/05/02/5335/ustad-ane-ingin-keluar-dari-gay.html
Http://www.alodokter.com/mengenal-kelamin-ganda-lebih-dekat
Http://fakultas-kedokteran-undip.blogspot.co.id/2012/12/kelamin-ganda-penyakit-atau.html 
Http://food.detik.com/read/2014/02/19/175045/2502537/900/kandungan-nutrisi-asi-untuk-bayi-laki-laki-dan-perempuan-ternyata-berbeda