11 Mei 2016

Sekantong Jambu untuk Menyegarkan Kebersamaan Kami



Sejak kelas 1 hingga 2 SMA aku dan mereka sekelas. Itu karena kebijakan sekolah yang membuat kami 2 tahun bersama. Dalam kurun waktu tersebut rasanya cukup untuk saling mengakrabkan diri dan mengenal satu sama lain, walaupun tentu saja sekelas dengan orang yang sama ada juga enak dan tidaknya.

Selama 2 tahun itu posisi kelas kami relatif tetap. Dari 1-8 ke 2-3 hanya bergeser satu kelas ke sebelah. Bagiku sama saja, sama-sama strategis: dekat dengan masjid, toilet, aula, juga kantin. Nah, tempat yang terakhir kusebut inilah yang berhubungan erat dengan kisah kali ini, kisah antara aku dan teman-teman di kelas 2-3.

 Sumber: Pixabay by ClkerFreeVectorImages

Kelas 2-3 adalah kelas yang sangat istimewa. Tak hanya karena lokasinya yang strategis penghuninya pun akan makmur jika berada di sana. Bagaimana tidak, hampir setiap hari adaaa ... saja anak yang berulang tahun. Itu membuat kehidupan kami sehari-hari terjamin berkat adanya acara bagi-bagi makan gratis plus minumannya.

Entah bermula dari siapa setelah dua tiga anak melakukan “ritual” ini traktiran menjadi seperti sebuah kewajiban bagi mereka yang berulang tahun. Ada juru absennya, bagian mengabsen siapa-siapa yang dalam waktu dekat akan berulang tahun sekaligus siap untuk “menodong”-nya. Jadi, tak seorang pun bisa kabur. Ritual semacam ini memang terasa enak saat menerimanya tapi berat bagi yang uang sakunya pas-pasan sepertiku untuk balik mentraktir kala gilirannya tiba. Boro-boro mentraktir, buat jajan sendiri saja masih harus berpikir berkali-kali.

Hari itu dua puluh empat Agustus, aku blank dengan apa yang harus kulakukan. Sebenarnya perasaan galau ini bahkan sudah menyergap jauh-jauh hari sebelumnya karena memikirkan tetek-bengek ritual kelas. Namun, aku tak ada ide untuk itu. Bagaimana ini?


Jambu Air (ilustrasi, bukan jambu air milikku)
Sumber gambar: dokumentasi pribadi


 Di waktu yang sama buah-buah kecil berwarna putih kemerahan sedang bergantungan rimbun di depan rumah. Segera kuambil sebuah kantong kresek besar lalu memenuhinya dengan jambu air itu sebelum akhirnya kubawa ke sekolah. Lucunya di sekolah aku malah speechless, bingung bagaimana cara membagikan jambu-jambu ini sekaligus tak siap jika ditodong untuk traktiran. Beruntung kemudian Nora datang membantu. Teman-teman bertanya-tanya, “Ada acara apa kok bagi-bagi jambu?” Buru-buru si petugas absensi ulang tahun melihat jadwalnya. Aku tak bisa mengelak lagi dan pasrah saat semua mata seperti tertuju padaku. Tapi lagi-lagi Nora datang membantu. “Ini hanya panen,” katanya menirukan ucapanku.

Tiba-tiba kelas menjadi hidup. Suasana tetap meriah walau traktiran ditiadakan. Jadilah kami menikmati sekantong jambu tadi bersama-sama. Ketakutanku pun sirna ketika ternyata teman-teman bisa menerimanya, bahkan menyukainya. Itu membuatku merasa betapa kebersamaan ini begitu berarti. Satu demi satu kemudian mengucapkan selamat ulang tahun. Ada pula yang kemudian memberi kado di keesokan harinya. Yang satu memberi sebuah gantungan baju sedang satunya lagi memberi pigora raksasa dengan gambar Jimmy Lin di dalamnya beserta jepit rambut berhias kupu-kupu yang sangat cantik dan girlie. Begitulah, rambut bagian belakang wanita feminin ini memang sehari-harinya dikuncir rendah. Kuncir satu dan dipercantik dengan jepit yang sering berganti setiap hari. Dan Jimmy Lin adalah idolanya kala itu. Siapa lagi kalau bukan sahabatku yang memberikannya.

Ini dia Jimmy Lin-nya, dari sahabatku
Sumber gambar: dokumentasi pribadi



Terlepas dari itu semua aku senang dengan kebersamaan ini. Suasananya begitu hangat dan bersahabat. Aku bersyukur memiliki teman-teman yang baik hati dan perhatian seperti mereka. Terima kasih teman-teman, keberadaan kalian membuat tujuh belas tahun usiaku menjadi lebih berwarna.


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog ulang tahun ke lima Warung Blogger