14 Oktober 2015

Tak Kenal maka Tak Beli #SmescoNV



UKM Gallery SMESCO
Sumber: http://smescoindonesia.com/index.php/halaman/18/ukm-gallery


Kita sering mendengar istilah “Tak Kenal maka Tak Sayang”, akan tetapi di dunia perdagangan istilah yang lebih cocok adalah “Tak Kenal maka Tak Beli”. Bagaimana bisa beli kalau kenal saja tidak? 

Dalam rangka menghadapi era perdagangan bebas dan menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN local brand Indonesia dituntut untuk bisa bersaing dengan brand-brand dari luar. Jika tidak siap maka industri kita bisa gulung tikar, seperti gulung tikarnya 200 industri pada 2008 lalu. Apalagi dengan masih banyaknya konsumen yang membeli hanya karena gengsi, mereka memandang bahwa produk dari luar negeri itu lebih keren dan berkelas serta berkualitas lebih baik. Padahal, ada pula produk luar yang sebenarnya produk Indonesia, hanya labelnya saja yang seakan-akan dari luar. 

Sebenarnya, jika kita mau jujur brand local maupun brand luar ada yang baik dan ada pula yang buruk. Namun image yang tertanam di pikiran sebagian orang langsung mencap bahwa merek luar itu pasti lebih bagus, begitu pun dengan harga yang mahal pasti lebih bagus. Pikiran-pikiran semacam itulah yang perlu dilawan dengan suatu metode pemasaran yang tepat.

Untuk menjangkau pasar lokal sebenarnya peluang kita sangatlah besar. Ini bangsa kita dan akan dipasarkan kepada kita, maka seharusnya pengenalan kita terhadap bangsa sendiri lebih baik dibanding pengenalan orang-orang luar terhadap bangsa kita. Namun mengapa produk kita bisa kalah bersaing dengan mereka? Misalnya pada pasar teksil dan farmasi yang 80% didominasi oleh produk asing, juga pada bidang teknologi yang sekitar 92% produknya masih impor. 

Berbicara mengenai local brand saya teringat akan seorang rekan kerja. Dia berasal dari luar daerah. Batik dianggapnya kuno, bahkan ditertawakan olehnya. Hingga suatu hari sepulang berjalan-jalan di mall dia begitu terkagum-kagum akan batik. Dia baru tahu kalau batik itu ada banyak macamnya. Ini sedikit banyak bisa menjadi gambaran bahwa sebelum kita berpikir tentang pemasaran di tingkat internasional upayakan dulu agar produk kita (local brand) itu dikenal oleh bangsa sendiri. Desa/kotanya mengenalnya, provinsinya mengenalnya, pusat mengenalnya, lalu provinsi-provinsi yang lain mengenalnya, baru terakhir menyasar pada konsumen-konsumen luar negeri. Benar bukan kalau tak kenal maka tak akan beli? Kalau sudah kenal baru ada kemungkinan untuk membelinya.

Nah, untuk bisa bersaing dengan produk-produk dari luar ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1.    Kualitas dan harga produk
Sudah menjadi prinsip konsumen untuk mencari produk yang semurah-murahnya dengan kualitas sebaik-baiknya. Jadi, perhatikan kualitas dan harganya!

2.    Ketersediaan produk
Agar bisa bersaing, produk harus mudah dicari. Baik stoknya yang cukup maupun distribusinya yang mudah. Jika konsumen sudah suka tetapi produk susah dicari ya sama juga bohong.

3.    Daya saing produk
Produk yang dipasarkan harus berdaya saing unggul, yaitu bisa dari ciri khasnya, perpaduan antara modern dan tradisional, perpaduan antara satu daerah/negara dengan daerah/negara lain, kreativitas dan inovasi, dan sebagainya.

4.    Riset dan kontrol kualitas
Setelah keempat hal di atas terpenuhi maka produk-produk dari brand local sudah menjadi keren dan kita tinggal menyiapkan strategi pemasarannya agar mereka dikenal. Ingat, tak kenal maka tak beli! Pemasaran yang baik perlu dilakukan secara aktif dan kreatif. Kita tentukan konsumen yang target lalu menyesuaikan strategi pemasaran dengannya. Misalnya jika kita ingin membidik segmen remaja, maka pemasarannya harus disesuaikan dengan dunia remaja. Hal yang sama juga berlaku jika kita ingin membidik daerah lain/negara lain, kita harus tahu budaya dan selera mereka terlebih dahulu. Selain itu, jangan lupa untuk selalu memberikan pelayanan yang baik kepada konsumen karena itu juga merupakan suatu nilai tambah bagi brand kita. Terakhir, koneksi/kerja sama dengan berbagai pihak serta adanya kebijakan dan dukungan dari pemerintah juga bisa membantu produk-produk brand local yang keren ini untuk bersaing di kancah lokal maupun internasional.

Dalam hal ini, SMESCO akan membantu para pemilik usaha kecil dan menengah di dalam pemasaran. SMESCO merupakan kepanjangan dari "Small and Medium Enterprises and Cooperatives", atau KUKM - Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. Smesco Indonesia Company (SIC) berdiri pada Maret 2007 dengan tujuan: untuk mempromosikan produk-produk unggulan Indonesia kepada dunia Internasional. 

Brand local itu sebenarnya keren lho, bahkan lebih keren dari brand luar. Dengan memakai brand local kita membuktikan kecintaan dan rasa bangga kita akan produk dalam negeri yang berkualitas. Selain itu, makin keren lagi karena dengan kita membeli dan memakai brand local maka kita ikut peduli dengan kemajuan dan pembangunan di Indonesia. Sudah tahu belum kalau ada brand-brand local yang mendunia? Sebut saja Specs, Rick Hanes, Olympic furniture, Eiger, Achilles, Martha Tilaar, Raden Roro, dan masih banyak lagi. Nah, mari kita bantu brand-brand local yang lain agar bisa mengikuti jejak kesuksesan mereka dengan cara bangga memakai produk-produk dengan brand local. Kepedulian Anda sangat berarti bagi kemajuan industri di Indonesia.