05 Juni 2014

GARA-GARA KAMU


Menjelang skripsi, kebutuhan akan komunikasi jarak jauh makin meningkat. Mau tidak mau akhirnya orangtuaku berniat memberiku hp.  Aku bukan termasuk orang yang kormod (korban mode) ya, walaupun banyak temanku sudah punya tapi biasanya aku menunggu sampai benar-benar butuh. Lagipula aku bukan termasuk orang dengan uang yang sangat berlebih, aku sadar diri akan kondisiku dan orangtua. Aku dibiasakan hidup sederhana. Tak seperti anak-anak zaman sekarang yang bahkan sudah dibelikan tablet walaupun masih sangat kecil.

Bak ketiban durian runtuh, segera kusambut kesempatan ini. Merasa sangat awam di dunia per-hape-an, akhirnya kugandeng Ziya untuk ikut. Kupikir, dia lebih tahu soal ini. Bagaimana hp yang baik kondisinya, programnya, harga yang sesuai, dan sebagainya. Tanpa ba bi bu, kami langsung meluncur ke WTC (World Trade Center), salah satu pusat hp yang terkenal di Surabaya. Sepulang kuliah kami naik lyn W kalau nggak salah. Di sana sangat ramai. Ziya menyuruhku melihat-lihat barangkali aku tertarik dengan salah satunya. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah hp biru keunguan yang terpajang di etalase. Setelah bertanya-tanya sedikit, hp itu akhirnya berada dalam genggamanku. Sebaliknya, uang tujuh ratus ribu beralih ke tangan penjualnya.

Menjelang pulang Ziya memberitahuku bahwa itu sudah keluaran lama. Dan akhirnya aku tahu bahwa itu hp second. Aku kesal, buat apa dia kuajak kalau cuma untuk mengantar. Tak memberiku rekomendasi apa pun. “Nggak pa-pa kok, meski begitu ini tipe bagus.” Dia mencoba menenangkanku, meski tetap saja aku kesal. Aku benar-benar tak tahu kalau yang dipajang di etalase itu hp second.

ERICSSON T65

Di rumah segera kuotak-atik T65 itu. Kuharap semua fungsinya “sehat”. Tapi, harapan tinggal harapan. Sejak kedatangan hp itu aku malah stres. Benda mungil itu sering hang. Dibutuhkan energi dan kesabaran yang ekstra besar untuk “menjinakkannya”. Kesal, sedih, marah, bercampur rasa takut dimarahi oleh ortu diaduk menjadi sebuah “adonan” dalam hati dan pikiranku.

Diam...diam...diam....jangan sampai ortu tahu. Bersikaplah seolah-olah semuanya baik-baik saja (sambil terus mengotak-atik hp itu dan berharap akan suatu keajaiban). Alhamdulillah akhirnya aku berhasil, meski kadang masih suka bermasalah. Baru ketika sudah agak lama (mungkin dalam hitungan minggu) dia benar-benar bisa “jinak”. Syukur yang tiada tara membuncah dalam hatiku.

Sebenarnya fitur T65 lumayan juga buatku, juga ukurannya yang pas dalam genggaman (meski sedikit gemuk), dan warnanya yang lumayan bagus membuatku tertarik. Terlepas dari tahu tidaknya aku bahwa itu hp sudah jadul (lama banget sudah keluar) dan (malangnya) second juga.

Persisnya aku lupa sudah berapa lama bersamanya. Yang kuingat, perpisahanku dengannya adalah karena ulah pencuri. Ceritanya begini, waktu itu aku ke perpustakaan. Aku hanya berniat mengembalikan buku (tidak lama) sehingga uang dan hpku tetap berada dalam tas yang kuletakkan di loker luar (tanpa penjaga dan kunci). “Cuma sebentar”, pikirku. Aku begitu terkejut ketika mengambil tasku, tak kudapati lagi si biru itu di sana. Kulihat ada dua orang pria duduk di tangga pendek depan perpus. Mereka berdua karyawan kampus. Aku tahu bahwa pasti mereka yang mengambil, sayangnya tak ada bukti yang cukup. Aku tak punya cara untuk membuatnya mengaku. Saat itu memang kabarnya ada semacam jaringan pencurian di kampus. Di fakultasku, yang pernah tertangkap basah mencuri adalah tukang bersih-bersih. Aku nggak tahu pasti 2 orang karyawan tadi apakah OB juga atau bukan (bagian apa juga aku tidak tahu). Mengapa aku meyakini mereka sebagai pencuri? Karena saat itu perpus sangat sepi. Hanya aku pengunjungnya. Dan urusanku dengan petugas peminjaman pun kutaksir 5 menit-an, tak ada waktu secepat itu bagi selain mereka.


Hhhh....si biru kesayanganku akhirnya melayang. Mungkin jodoh kami telah berakhir. Selamat jalan “biru”-ku.