27 Mei 2014

DUET MAUT INFEKSI TB DAN HIV



Duet maut dari penyanyi dangdut mungkin disukai masyarakat, begitu pula dengan duet maut dari capres dan cawapres yang kompeten dan berakhlak baik. Namun bagaimana jika duet maut ini terjadi antara infeksi TB dan HIV? Wihh...pasti serem jadinya!
Membayangkan bertemunya Mycobacterium tuberculosis penyebab TB dengan virus HIV penyebab AIDS pasti membuat kita bergidik. Yang satu merupakan penyakit mematikan, satunya lagi merupakan penyakit yang membuat sistem kekebalan tubuh menurun. Sebenarnya kedua infeksi ini berdiri sendiri, tidak akan terjadi duet maut/koinfeksi/infeksi bersamaan jika penderita TB tidak tertular virus HIV, atau sebaliknya penderita AIDS tidak tertular bakteri TB.


Infeksi TB













               Sumber gambar


Kondisi TB ada 2, yaitu infeksi TB laten dan penyakit TB aktif. Keduanya disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, hanya saja pada kondisi laten bakteri tersebut belum aktif. Pada penyakit TB aktif bakteri tersebut sudah aktif sehingga menyebabkan demam, penurunan berat badan, kehilangan nafsu makan, menggigil, batuk berkepanjangan selama 3 minggu atau lebih/batuk darah, berkeringat di malam hari, nyeri dada, serta gejala-gejala lain tergantung pada daerah yang diserang oleh bakteri itu (paru-paru, kelenjar getah bening, otak, ginjal, tulang, atau lainnya). Selain itu penderita penyakit TB aktif  bisa menularkan penyakit TB pada orang lain. Jika sudah terkena penyakit ini tubuh bisa rusak secara permanen dan berujung kematian. Ada berbagai cara penularan TB, di antaranya melalui meludah, batuk, bersin, tertawa, menyanyi, dan berbicara.


Infeksi HIV

HIV ( Human Immunodeficiency Virus ) adalah virus yang masuk ke tubuh dan menyerang sistem kekebalan tubuh. Virus ini menyebabkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Jika kekebalan tubuhnya lemah maka orang tersebut tentu mudah terserang penyakit, termasuk penyakit TB. HIV dapat menular melalui hubungan seksual (vaginal, oral, atau anal) tanpa kondom; kehamilan, melahirkan, dan menyusui; darah dan cairan tubuh (berbagi pisau cukur, sikat gigi, jarum suntik, menyentuh luka yang terbuka, dan lain-lain).


Koinfeksi TB dan HIV (duet maut)

                                                   Sumber gambar

Bertemunya TB dan HIV dapat berujung pada kematian jika tidak segera mendapat penanganan yang tepat. Kematian ini seringkali disebabkan karena infeksi TB-nya, dan bukan karena HIV-nya. Duet ini saling menguntungkan bagi kedua penyakit tersebut, di mana orang dengan HIV 30 kali lebih berpotensi terjangkit TB sedangkan bakteri TB dapat mempercepat perkembangan infeksi HIV sehingga pasien sakit lebih cepat.
Koinfeksi TB dan HIV dapat terjadi pada berbagai kondisi TB dan berbagai tahapan HIV. TB laten pun ketika bertemu dengan HIV bisa berkembang menjadi TB aktif, sebaliknya orang yang hidup dengan infeksi HIV atau AIDS berisiko lebih tinggi untuk meninggal akibat MDR-TB dan XDR-TB, yaitu 2 jenis TB yang lebih berbahaya.


Tes TB, HIV, dan TB-HIV

Orang-orang dengan kondisi fisik lemah rentan terkena TB maupun HIV. Golongan itu antara lain anak-anak, orang sakit, ibu hamil, dan sebagainya. Untuk menguji terjadi atau tidaknya koinfeksi maka penderita HIV harus dites untuk infeksi TB, sedangkan penderita TB harus dites untuk infeksi HIV.
Tes untuk HIV dilakukan maksimal 6 bulan sekali. Jika tes darah ini positif maka Anda harus melakukan tes berikutnya yaitu tes CD4 (jenis sel kekebalan tubuh) untuk melihat perlu tidaknya Anda diterapi ART. Selain itu Anda harus segera melakukan tes kulit tuberkulin (TST). Pada tes ini sedikit cairan yang mengandung protein TB disuntikkan di bawah kulit lengan. Jika setelah 2-3 hari Anda area tersebut membengkak itu tandanya Anda terinfeksi kuman TB. Namun pada beberapa orang hasil TST bisa negatif, karena sistem kekebalan tubuh penderita AIDS tidak bekerja dengan baik.
Alternatif lainnya adalah tes darah yang disebut TB Quantiferon Emas (QFT-G). Baik TST maupun QFT-G hanya mendeteksi adanya kuman TB pada penderita, tanpa bisa membedakan apakah TB itu laten atau aktif. Kedua tes ini terkadang masih membutuhkan tes lanjutan, karena hasil bisa negatif padahal Anda terinfeksi. Hal itu terjadi jika Anda baru saja terinfeksi TB atau jika sistem kekebalan tubuh sangat rusak. Tes lanjutan yang dimaksud meliputi foto rontgen dada, tes pap TB, tes BTA (basil tahan asam), serta tes pada bayi yang dilahirkan ketika usianya 9-12 bulan. Seringkali tes BTA pun negatif bagi penderita HIV. Sehingga diuji lagi dengan bronkoskopi, lavage bronchoalveolar, dan biopsi transbronchial.
Untuk menguji TB ada beberapa tes yang bisa dilakukan:
·      Amplified Mycobacterium Tuberculosis Tes Langsung (MTD, Gen-Probe ), untuk digunakan dalam spesimen pernafasan dari pasien yang belum pernah diobati untuk TB. Tes ini dapat digunakan baik untuk BTA positif maupun negatif.
·      Xpert MTB / RIF
Tes cepat ini digunakan untuk kepentingan khusus, misalnya mengidentifikasi ada tidaknya TB serta adanya resistensi rifampisin , yang merupakan proxy untuk MDR-TB , dalam waktu 2 jam. Tes ini kini dilarang oleh FDA, namun WHO merekomendasikannya sebagai tes diagnostik awal untuk orang-orang yang diduga MDR TB atau memiliki TB terkait HIV.
·      Lipoarabinomannan kemih ( LAM ) / LAM urine
Tes ini memberikan hasil yang lebih baik pada pasien dengan HIV dibanding mereka yang tanpa HIV. Uji ini memiliki sensitivitas yang terbatas.
·      Tes kulit tuberkulin ( TST / PPD atau metode Mantoux ) dan interferon -gamma release assay (tes IGRA) dapat digunakan untuk menguji TB laten.
Tes kulit tuberkulin dapat mendeteksi antibodi terhadap TB sehingga tahu jika seseorang pernah menderita TB laten/aktif di masa lalu. Vaksin BCG juga dapat menyebabkan pembacaan positif palsu pada tes tuberkulin kulit.
·      BTA mikroskop
Dahak dari orang yang diduga TB dianalisis di bawah mikroskop.
·      Rontgen dada
Pengidap TB aktif yang tes smear (pulasan) dahaknya negatif harus melakukan rontgen dada. Pada penderita TB aktif ketika dirontgen akan tampak jaringan parut pada paru-parunya. Kendala bisa terjadi pada penderita HIV karena jaringan parut dari TB sebelumnya atau karena penyebab terkait HIV lainnya.

                                                 Sumber gambar

·      Tes kultur TB
Tes ini dilakukan dengan menumbuhkan kuman TB dalam sampel dahak di laboratorium. Jika seseorang memiliki gejala TB namun BTA mikroskop negatif maka sebaiknya melakukan tes biakan TB. Uji ini juga bermanfaat untuk penderita yang diduga mengidap TB resisten obat.


Pengobatan



Duet maut ini membutuhkan penanganan yang lebih kompleks. Perlu diperhatikan di sini bahwa obat TB maupun obat HIV harus bisa digunakan berdampingan dan efek samping dari kedua macam obat tersebut tidak terlalu membahayakan tubuh. Untuk mengobati TB laten biasanya digunakan isoniazid (INH), sedangkan TB aktif INH juga disertai dengan rifampisin atau rifabutin, pirazinamid, dan etambutol. Obat-obatan ini harus diminum dengan tertib agar kuman TB tidak menjadi kebal. Untuk membantu hal ini dilakukan metode DOT (pengawasan langsung).
Beberapa obat TB memiliki efek samping kulit/mata menjadi kuning dan air seni berwarna gelap seperti coca-cola. Gejala tersebut menandakan adanya kerusakan hati. Namun jangan khawatir, gejala ini akan mereda saat konsumsi obat dihentikan.
AIDS sendiri biasa diobati dengan terapi anti retroviral (ARV). Sayangnya, obat TB dan terapi ARV tersebut berinteraksi negatif dalam arti malah mempersulit pengobatan untuk pasien koinfeksi. Rifampisin malah menghambat terapi ARV yang efektif. Oleh karena itu kini sedang dikembangkan obat TB baru yang kompatibel dengan ARV. Selama jumlah CD4 tidak terlalu rendah , dokter Anda dapat merekomendasikan mengobati tuberkulosis sebelum menempatkan Anda pada ART.
Berbagai kendala pengobatan TB-HIV bisa disebabkan karena toksisitas obat kumulatif, interaksi obat-obat, sebuah beban pil tinggi, dan the immune reconstitution inflammation syndrome (IRIS). IRIS merupakan pemulihan parsial dari sistem kekebalan tubuh yang dapat menyebabkan respon inflamasi berlebihan terhadap infeksi oportunistik bersamaan.
IRIS ada 2 macam, yaitu:
·      TB paradoks IRIS, penurunan klinis yang terjadi pada pasien yang sudah memulai pengobatan TB.
Diagnosis ini ditandai dengan pembesaran kelenjar getah bening baru atau memburuk, fitur radiografi TB, manifestasi serositis, atau SSP, dan sering disertai gejala kurang spesifik seperti demam, berkeringat di malam hari, penurunan berat badan, serta gangguan pernafasan dan perut. TB paradoks IRIS ini dapat terjadi tanpa adanya inisiasi ART.
·      Unmasking TB IRIS, ditandai dengan diagnosis TB baru , biasanya dengan peradangan kuat, setelah mulai ART. Umumnya terjadi dalam 2-3 bulan pertama setelah inisiasi ART.
Pengobatan TB-HIV seringkali menyebabkan hepatotoksisitas, ruam, dan keluhan gastrointestinal. Kondisi ini dapat diperburuk dengan toksisitas ARV dan obat-obatan antibiotik seperti flukonazol dan trimethoprim - sulfamethoxazole, dengan koinfeksi dengan virus hepatitis, atau penyakit hati yang sudah ada sebelumnya. Tiasetazon yang biasa digunakan bagi pasien HIV yang terinfeksi TB pun seringkali menimbulkan ruam kulit sehingga akhirnya dilarang oleh WHO.


Pencegahan

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Tindakan pencegahan penyakit TB-AIDS dilakukan dengan kegiatan kolaborasi TB-HIV, yaitu mempercepat diagnosis dan pengobatan TB pada pasien HIV dan sebaliknya mempercepat diagnosis dan pengobatan HIV pada pasien TB, dengan memperkuat jejaring layanan keduanya.
Untuk mencegah TB terkait HIV digunakan kotrimoksazol dan inisiasi awal ART, model pelayanan terpadu TB dan HIV, serta harus ada pengawasan dari HIV dan TB di antara petugas kesehatan.


Tantangan di masa depan

TB masih menjadi masalah kesehatan utama di dunia sedangkan perkembangan epidemi HIV di Indonesia termasuk yang tercepat di Asia. Jumlah kumulatif kasus HIV dari 2005 sampai Juni 2013 sebanyak 108.600 kasus. Orang dengan HIV atau AIDS (ODHA) memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah sehingga sering terinfeksi juga oleh kuman TB. Fakta ini didukung oleh prediksi WHO bahwa duet maut TB-HIV di Indonesia meningkat, dari 3,3% di tahun 2012 menjadi 7,5% di tahun 2013 (Global Report WHO 2013). Ini menjadi tantangan bagi kita semua untuk mencegah agar TB dan HIV tidak berduet dan mengatasi duet maut mereka yang sudah terlanjur terjadi.
Upaya untuk mengurangi beban TB di antara orang yang hidup dengan HIV dan mengurangi beban HIV di antara pasien TB terus dilakukan. Ke depannya diharapkan respon imun lebih dipahami sehingga pengembangan vaksin TB tercapai.





Secara umum, tantangan utama kolaborasi TB-HIV adalah:

1.    Meningkatkan jejaring layanan kolaborasi antara program TB dan program HIV di semua tingkatan, komitmen politis dan mobilisasi sumber daya.
2.    Meningkatkan akses tes HIV atas inisiasi petugas kesehatan yang ditujukan bagi pasien TB dan bagaimana membangun jejaring pelayanan diagnosis dan pengobatan.
3.    Memastikan bahwa pasien yang terdiagnosis TB dan HIV harus mendapatkan pelayanan yang optimal untuk TB dan secara cepat harus dirujuk untuk mendapatkan dukungan dan pengobatan HIV AIDS dalam hal ini termasuk pemberian pengobatan pencegahan dengan kotrimoksasol dan pemberian ARV.
4.    Memastikan pendekatan pelayanan kepada pasien TB-HIV dengan konsep “one stop services”
Untuk mempermudah penanganan TB-HIV muncul wacana untuk membuat pelayanan satu atap. Namun perbedaan perawatan TB dan HIV masih menyulitkan hal ini. Layanan TB diarahkan pada perawatan kronis dengan prosedur teknis sederhana dan standar, sedangkan layanan HIV/AIDS berorientasi klinis dan cenderung menjadi lebih individual/berfokus pada pasien.  Begitu pula dengan statusnya di mana AIDS sulit disembuhkan dan membutuhkan obat seumur hidup, sehingga antar pasien atau antara pasien dengan profesional kesehatan terjalin hubungan erat. Sedangkan penderita TB cenderung menyendiri (tidak berkelompok) dan penyakitnya dapat disembuhkan dalam waktu sekitar 2 tahun, sehingga hubungan dengan para profesional kesehatan biasanya hanya sesaat. Lagipula jika layanan TB dan HIV di-integrasi-kan maka penderita TB aktif berpotensi menularkan TB pada penderita AIDS. Kesemuanya ini menjadi tantangan untuk dipecahkan.
5.    Monitoring dan evaluasi kegiatan kolaborasi TB-HIV.
6.    Ekspansi ke seluruh layanan kesehatan di Indonesia.
TB maupun TB-HIV dapat disembuhkan asalkan ditangani dengan cepat dan tepat. Diharapkan kerja sama dari berbagai pihak (jaringan besar pemangku kepentingan dari organisasi internasional, donor, ahli TB dan ahli HIV, akademisi, dan lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah dari berbagai negara yang berbeda)  mampu mewujudkan target 2010-2015 di global Plan to Stop TB. Target itu adalah mengurangi separuh jumlah kematian akibat TB di antara penderita yang positif HIV, dibandingkan dengan tahun 2004. Ini adalah tantangan bagi kita semua.

 

Collaboration between TB and HIV services helps save lives






Sumber:


Http://aids.gov/hiv-aids-basics/staying-healthy-with-hiv-aids/potential-related-health-problems/tuberculosis/
Http://hivinsite.ucsf.edu/insite?page=kb-05-01-06#s2x
Http://www.avert.org/tuberculosis-and-hiv.htm
Http://www.cdc.gov/tb/publications/pamphlets/tbandhiv_eng.htm
Http://www.cdc.gov/tb/publications/pamphlets/tb_hivcoinfection/default.htm
Http://www.cdc.gov/tb/topic/tbhivcoinfection/default.htm
Http://www.hiv.va.gov/patient/diagnosis/oi-tb.asp
Http://www.niaid.nih.gov/topics/tuberculosis/understanding/pages/tbhiv.aspx
Http://www.stoptb.org/wg/tb_hiv/
Http://www.tballiance.org/why/tb-hiv.php
Http://www.tbfacts.org/tb-hiv.html
Http://www.tbfacts.org/tb-hiv-deaths.html
Http://www.tbhivcare.org/index.php?page=info
Http://www.tbindonesia.or.id/tb-hiv/
Http://www.uphs.upenn.edu/bugdrug/antibiotic_manual/tb-hivclinicalmanual.pdf
Http://www.webmd.com/hiv-aids/guide/aids-hiv-opportunistic-infections-tuberculosis
Http://www.webmd.com/hiv-aids/guide/aids-hiv-opportunistic-infections-tuberculosis?page=2
Http://www.who.int/tb/challenges/hiv/en/






2 komentar: