19 April 2014

OBAT TB GRATIS, PENDERITA MAKIN OPTIMIS


Sumber gambar: http://ratih43niezz.blogspot.com/2012/06/poster-tbc.html

Mahalnya harga obat seringkali memberikan kesulitan tersendiri bagi penderita penyakit yang kurang mampu, termasuk harga obat untuk penyakit TB (Tuberkulosis). Tadinya harga obat TB memang mahal, tetapi sekarang sudah digratiskan oleh pemerintah. Selain obat TB yang gratis, pemeriksaan awal dugaan TB juga gratis di puskesmas, sedangkan di rumah sakit pemerintah hanya perlu membayar biaya pendaftaran. Pemerintah telah menyadari bahwa mayoritas penderita TB berasal dari golongan yang kurang mampu, apalagi pengobatan penyakit ini membutuhkan kedisiplinan dalam meminum obat selama 6 bulan. Sayangnya, masih banyak penderita yang belum mengetahui bahwa obat TB itu bisa diperoleh secara gratis di puskesmas, rumah sakit, BP4 (Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru), serta klinik dan dokter praktek swasta yang sudah bekerja sama dengan program ini. Tidak tanggung-tanggung, gratis sampai sembuh.
Perlu diketahui sebelumnya bahwa ada 2 kondisi terkait TB yaitu infeksi TB laten dan penyakit TBC. Orang dengan infeksi TB laten mengandung kuman TB yang tidak aktif, sehingga dia tidak sakit dan tidak menyebarkan bakteri TB kepada orang lain. Namun jika kumannya sudah aktif dan berkembangbiak, maka orang ini menjadi penderita TBC (mengalami gejala TBC dan bisa menularkan penyakitnya kepada orang lain). Bakteri Mycobacterium tuberculosis pada infeksi TB laten biasanya dilawan dengan isoniazid (INH), rifampin (RIF), dan rifapentin (RPT); sedangkan penderita penyakit TBC diobati dengan isoniazid, rifampin (RIF), etambutol (EMB), dan pirazinamid (PZA). 

Sumber gambar: http://pramareola14.wordpress.com/2010/02/15/tuberculosis-tbc-interaksi-agent-host-lingkungan-terhadap-perjalanan-alamiah-tahapan-pencegahannya/

Terlambatnya deteksi dini TB serta ketidak-patuhan penderita dalam minum obat bisa membuat kuman kebal (resisten), sehingga tak mempan lagi dengan obat tersebut. Mycobacterium tuberculosis menjadi kebal terhadap obat dan dikenal dengan sebutan Multi Drug Resistance (MDR). Jika sudah begini, obat yang dibutuhkan menjadi bertambah, begitu pula dengan waktu penyembuhan. Kalau penderita TB biasa hanya membutuhkan waktu 6 bulan berobat rutin, TB MDR membutuhkan waktu 2 tahun. Belum lagi efek samping obat yang juga semakin kuat, benar-benar dibutuhkan kesabaran dalam menjalani pengobatan ini.
Ada banyak hal yang menyebabkan pengobatan TB biasa ini menjadi tidak tuntas, di antaranya adalah:
·      Penderita merasa kondisi tubuhnya lebih baik, berat badan sudah naik, dan sebagainya.
·      Malas/jenuh minum obat
·      Malas berobat ke tempat pelayanan kesehatan.
·      Banyaknya efek samping pengobatan
·      Tidak ada waktu untuk berobat
·      Mitos bahwa TB adalah penyakit kutukan
·      Tidak adanya dukungan dari keluarga.
·      Rasa malu terhadap masyarakat
·      Tidak ada biaya untuk berobat, dan lain-lain.
Memang, masih banyak penderita yang belum menyadari bahwa dengan tidak berobat secara teratur/disiplin membuat kuman semakin kebal, obat semakin banyak, efek samping semakin banyak, kesembuhan semakin lama, diri sendiri dan banyak pihak menderita (susah/repot), orang-orang terdekat bisa tertular, dan sebagainya.
Meski obat TB digratiskan terkadang penderita masih harus mengeluarkan biaya lain, misalnya biaya transportasi dan biaya untuk bisa menyediakan makanan bergizi seimbang secara teratur. Tetapi dengan obat gratis ini pengeluaran bisa ditekan. Dengan demikian diharapkan penderita TB semakin sadar untuk berobat, kemudian kedisiplinan itu memunculkan rasa optimis untuk sembuh. Dan harapan yang paling utama adalah angka penderita TB bisa menurun. TB ini penyakit berbahaya lho, jika tidak ditangani secara cepat dan tepat maka bisa berakibat kematian.

TB masih merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia. Dengan perkiraan 460.000 pasien yang didiagnosis dengan TB pada tahun 2013, Indonesia menempati urutan keempat di dunia untuk beban TB. Oleh karena itu, mari bersama-sama berantas TB di Indonesia!

Sumber: 
Http://www.cdc.gov/tb/topic/treatment/default.htm 
         Http://www.tbdayindonesia.org/tentang-tb.html
         Http://www.tbindonesia.or.id/2014/04/16/the-thinker-tackling-tuberculosis/
         Http://www.depkes.go.id/index.php?vw=2&id=2145
  Http://www.sapa.or.id/b1/99-k2/1358-19-persen-masyarakat-saja-yang-tahu-pengobatan-tb-gratis