30 Juli 2013

MENDUKUNG PENGEMBANGAN JAMU SEBAGAI WARISAN KEBUDAYAAN DUNIA



Kabar gembira datang dari Wakil Menteri Kebudayaan, Prof. Dr. Wiendu Nuryanti dan direktur Jenderal kebudayaan, Prof. Dr. Katjung Marijan bahwa jamu telah resmi dipersiapkan Kemendikbud untuk resmi diajukan ke lembaga kebudayaan PBB, UNESCO demi memperoleh pengakuan sebagai Warisan Kebudayaan Dunia karsa dan karya bangsa Indonesia. Potensi ini sangat besar sebab khasiat jamu di Indonesia sudah terkenal sejak zaman dahulu kala. Apalagi di setiap wilayah Indonesia sepertinya memiliki ramuan jamu sendiri-sendiri. Di masyarakat sendiri setidaknya ada 2 tipe pasien, yaitu yang lebih memilih berobat dengan obat-obatan medis/modern dan yang lebih memilih berobat dengan obat-obatan tradisional (jamu).

Terkait dengan hal tersebut saya mulai dengan ide pengembangan jamu di pemukiman-pemukiman penduduk. Di mana pun mereka, baik di pedesaan (perkampungan), perkotaan (perumahan), atau bahkan  pegunungan dapat mengaplikasikan hal ini. Intinya menanami sekitar rumah dengan berbagai tanaman jamu-jamuan. Banyak sisi dari rumah yang bisa dimanfaatkan, misalnya atap, dinding, maupun halaman rumah. Sementara metode bisa digunakan polybag, pot, vertikultur, hidroponik, aeroponik, dan sebagainya jika memang lahan yang ada kurang begitu luas. Di beberapa pemukiman sudah digalakkan apotek hidup, namun untuk ide saya ini diupayakan agar lebih terorganisir. 
                                                                  
Kumis kucing
Sumber gambar: dokumentasi pribadi

Biasanya setiap keluarga memiliki kecenderungan penyakit tertentu. Nah, tanaman obat yang ditanam di halaman masing-masing rumah disesuaikan dengan kecenderungan penyakit penghuni rumahnya. Misalnya binahong bagi yang mudah terserang batuk dan radang paru-paru, jeruk nipis bagi yang rentan bau badan dan sesak nafas, kumis kucing untuk menurunkan hipertensi dan melancarkan urine, daun ungu untuk mengobati ambeien dan melancarkan haid, dan sebagainya. Tanaman yang dipilih adalah tanaman yang cocok untuk tumbuh di lingkungan itu. Ketua RT mendata penyakit warganya kemudian disetor ke ketua RW. Dari data itu diketahui penyakit-penyakit yang dominan pada penduduk di sana (dipilih 1-5 penyakit teratas). Setelah itu dicari tanaman obat apa saja yang mudah dicari dan cocok untuk dikembangkan di daerah sana. Tanaman itulah yang dikembangkan menjadi tanaman wajib untuk masyarakat di RW itu (tiap rumah harus menanamnya). Sementara untuk penyakit lainnya dibebaskan kepada tiap keluarga untuk memilih tanaman yang akan ditanam di rumahnya, namun tetap diarahkan agar tanaman yang dipilih sesuai dengan kondisi lingkungan di sana.

Di setiap rumah harus terdapat minimal 3 golongan tanaman, yaitu tanaman obat-obatan, tanaman pangan (sayur-sayuran dan buah-buahan), dan tanaman perindang. Agar lebih indah bisa ditambah dengan bunga-bungaan, atau kalau ingin mudah dalam memasak maka ditambah dengan tanaman bumbu dapur/rempah-rempah. Jadi, daerah tanam dibagi 3, yaitu 30% untuk tanaman obat-obatan, 30% untuk sayuran dan buah-buahan, dan 30% untuk tanaman perindang. Tanaman-tanaman ini diatur yang rapi dengan desain yang indah agar bisa semakin mempercantik rumah. Akan lebih baik jika ada sukarelawan dalam hal ini, misal ahli desain eksterior. Dukungan dari pemerintah dapat berupa sosialisasi cara penanaman, kemudahan pembelian bibit (ada stand/toko di RW itu yang menjual bibit tersebut dan segala peralatan/bahan pertanian yang dibutuhkan, atau lebih baik lagi jika bibitnya gratis/murah). Praktek penanamannya dipandu oleh instruktur yang berpengalaman/pandai yang kemudian mengkader beberapa orang untuk membantu masyarakat yang lain. Untuk praktek pengobatannya dipandu oleh ahli tanaman obat/herbalis. Jadi di tiap RW (atau desa jika tidak memungkinkan) menetap seorang instruktur tanaman, dokter, dan herbalis sebagai tempat bertanya. Dalam hal ini dokter bisa menjadi pendiagnosa juga agar penyakit warga itu benar sesuai gejalanya, sedangkan herbalis membantu diagnosa sekaligus tata cara peracikan obat yang benar dan dosis yang benar. Meskipun demikian disediakan juga 2 website khusus dan 2 call center/sms center, yaitu tentang berbagai jenis tanaman obat-obatan dan fungsinya serta tentang cara penanaman tanaman (khususnya tanaman obat).

Penyakit yang umum diderita oleh masing-masing keluarga didata, begitu juga tanaman yang ada pada masing-masing rumah mereka. Ketua RT yang mendatanya kemudian disetor ke ketua RW. Jika ada beberapa tanaman yang sama (selain tanaman wajib) dan jumlahnya banyak maka dimasukkan catatan khusus. Hasil yang berlebih dari tanaman-tanaman wajib milik warga ditambah tanaman khusus yang berjumlah banyak bisa diolah oleh warga di situ. Untuk itu bisa dibentuk sentra industri kecil yang beranggotakan, misalnya ibu-ibu PKK dan Karang Taruna. Kegiatan ini juga dibimbing oleh herbalis tadi. Mengenai perhitungan ekonomisnya bisa dibantu oleh ahli ekonomi. Hasil dari pengolahan ini berupa jamu (bahan mentah, bahan baku, atau bahan jadi) bisa dijual ke tempat/desa lain atau bisa juga dibeli oleh pemerintah. Di tangan pemerintah jamu tadi (misalnya berupa produk jadi) maka akan dikemas dengan kemasan khusus, diberi desain menarik, dan dipromosikan dengan gencar di berbagai even (sebagai jamu) atau dijual ke berbagai industri farmasi. Masyarakat yang menyetorkan bahan jamu tadi (bahan mentah) memperoleh bagian (uang) sesuai proporsi jamu yang disetor. Begitu pula dengan masyarakat yang membantu tenaga atau lainnya, memperoleh bagian sesuai dengan andilnya. Pembagian ini bisa diatur secara khusus agar adil.

Diupayakan agar antara satu desa dengan desa yang lain tanaman budidayanya berbeda. Sehingga dapat melestarikan plasma nutfah sekaligus membentuk ciri khas masing-masing desa.

Jika hal ini berhasil maka beberapa fungsi sudah tercapai, yaitu fungsi ekologis, estetis, medis, sosial, ekonomis, dan lain-lain.

Daftar pustaka:



http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-info/501-info-jamu-as-world-cultural-heritage-2013
http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/593-herbal-plants-collection-binahong
http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/599-herbal-plants-collection-jeruk-nipis
http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/596-herbal-plants-collection-daun-ungu
http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/604-herbal-plants-collection-kumis-kucing


* Tulisan ini diikutkan lomba blog Biofarmaka IPB dengan tema ”Lestarikan Jamu Sebagai Budaya Indonesia”.





27 Juli 2013

KEMERDEKAAN INDONESIA, KEMERDEKAAN KITA



http://www.republika.co.id/berita/kolom/fokus/13/08/16/mrmoas-makna-kemerdekaan 


Kemerdekaan ya? Hmm...seringkali orang mempertanyakan arti kemerdekaan bagi bangsa Indonesia saat ini. Ada pula yang mempertanyakan apa benar negara Indonesia sudah merdeka, dan masih banyak pertanyaan lainnya. Yang selalu menjadi rutinitas di hari kemerdekaan Indonesia adalah upacara, lomba 17 Agustusan, dan kadang-kadang ada panggung hiburan. Di antara berbagai seremonial dan peringatan tadi, apakah mayoritas bangsa Indonesia sudah bisa memaknai dengan benar arti kemerdekaan? Dan apakah peringatan-peringatan tadi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap meningkatnya jiwa nasionalisme bangsa? Lalu bagaimana agar ke depannya negara Indonesia ini menjadi lebih baik setelah belajar dari pengalaman terjajah di zaman dahulu?

SULIT! Kemerdekaan sendiri memiliki berbagai arti jika dipandang secara subyektif. Masing-masing orang (jika mau jujur) akan mempunyai pendapat yang bermacam-macam jika ditanya tentang arti kemerdekaan bagi dirinya. Bagi orang yang sakit lama mungkin kemerdekaan berarti sembuh dari sakitnya, bagi orang yang banyak hutang dan sulit melunasi hutangnya mungkin kemerdekaan berarti bebas dari hutang-hutangnya, bagi fakir miskin kemerdekaan mungkin berarti bisa makan dan mencukupi kebutuhan mereka dengan layak (menjadi kaya), bagi murid-murid yang telah selesai ujian mungkin kemerdekaan berarti kelulusan dan nilai yang baik, bagi para tahanan/pelaku kejahatan mungkin kemerdekaan berarti bebas dari hukuman, dan masih banyak contoh lainnya. Bahkan kalau ditanya pada remaja, bisa saja kemerdekaan berarti boleh pacaran atau boleh melakukan apa saja. 

http://anam.blog.unissula.ac.id/2012/06/05/perjuangan-bangsa-indonesia-dalam-masa-penjajahan-bangsa-jepang-kaitannya-dengan-kemerdekaan-ri/

Jadi, ketika berbicara mengenai kemerdekaan Indonesia, siapa yang peduli? Mereka tidak ikut merasakan penderitaan saat dijajah, susahnya melawan penjajah, dan sebagainya. Mereka tidak ikut berjuang secara fisik atau ada secara nyata di saat itu. Zaman sekarang sudah sangat berbeda dengan zaman dulu (sudah enak dan jauh lebih baik), lalu dengan adanya kenyataan ini dan subyektifitas arti dari kemerdekaan itu sendiri bagaimana solusinya? Mungkin hanya orang-orang zaman dulu yang masih hidup yang bisa memaknai kemerdekaan Indonesia sebagai sebuah perjuangan, terutama para pahlawan/veteran. Orang-orang di zaman setelahnya bagaimana? Apalagi anak-anak kecil, apa benar mereka tahu? Walaupun selalu didengung-dengungkan bahwa cara kita mengisi kemerdekaan saat ini adalah dengan belajar giat, mungkin para pelajar hanya tahu belajar untuk nilai, belajar agar tidak dimarahi orang tua/guru, belajar untuk nilai, dan alasan-alasan (nyata) saat ini (bukan di masa lalu yang mereka tidak tahu/tidak mengalami). 

http://wawansetyadi257.blogspot.com/2012/08/proklamasi-kemerdekaan-indonesia.html

Sangat ironis memang, namun mulailah bersama-sama mencari cara agar kemerdekaan tidak hanya berarti secara seremonial belaka. Mungkin dengan mengundang orang-orang zaman dulu, pahlawan, atau veteran untuk bercerita langsung di depan khalayak mengenai perjuangan mereka atau dengan kegiatan aplikatif lainnya. Intinya jangan sampai kemerdekaan/pembangunan itu bersifat abstrak, harus ada tindakan nyata bersama-sama, hasil nyata, dan peningkatan ke arah lebih baik tentunya. Kalau rakyat merasa pemerintah kurang peduli terhadap nasib mereka (dalam arti secara subyektif mereka belum merdeka)/negara malah membuat hidup mereka susah, sulit untuk menjadikan kemerdekaan Indonesia menjadi kemerdekaan kita. Apalagi berkata tentang rela berkorban, cinta tanah air, dan sebagainya.


*Tulisan ini diikutkan lomba Gebyar Farmasi Universitas Andalas

WAHAI PEMUDA...NEGARA MENANTI SUMBANGSIHMU



Negara Indonesia adalah negara kita bersama. Apa yang terjadi di negara ini sedikit banyak akan berpengaruh terhadap diri kita. Hidup-matinya negara ini, merdeka atau terjajah, miskin ataukah sejahtera ada di bawah pundak kita semua. Maka dari itu, tanamkanlah rasa memiliki di dalam diri yang bisa mendorong kita menyumbangkan sesuatu untuk kebaikan negara ini.

Kalau kita ingin menangkap ikan, maka tinggalkanlah ikan-ikan yang masih kecil. Tujuannya agar kita bisa terus menikmati ikan di masa yang akan datang. Berbeda jika ikan-ikan kecil ikut ditangkap, bisa jadi spesies ikan itu akan musnah. Hal serupa juga terjadi pada pemuda. Jika ingin menghancurkan suatu negara maka rusaklah anak-anak beserta generasi mudanya. Pemuda adalah aset negara yang sangat berharga. Di masa muda, kekuatan fisik optimal, semangat membara, dan daya pikirnya sedang berkembang. Modal-modal ini harus diarahkan dengan benar agar tidak disalahgunakan. 

http://mega01yume.blogspot.com/2012/11/makalah-sumpah-pemuda.html
Di masa perjuangan ada banyak sekali tokoh dari golongan pemuda yang berperan, begitu juga dengan organisasi-organisasi pemuda. Hingga lahirlah momen yang dikenal dan diperingati hingga saat ini, di antaranya yaitu Sumpah Pemuda. Namun saya tidak ingin menjelaskan berlebihan (muluk-muluk) mengenai peran pemuda agar seperti pemuda-pemuda di masa lalu itu. Zaman sudah berubah, bentuk perannya juga tidak mungkin persis sama. Lagipula, kalau mendengar kata “Mengubah negara” itu langsung terasa sebagai beban yang sangat berat. Berbeda dengan kata “Mengubah diri sendiri”, itu lebih ramah di telinga.

                                                Anak Hebat dari Keluarga Hebat   
http://hebatnyaanakkita.wordpress.com/ada-anak-hebat-ada-orangtua-hebat/
Setiap orang itu berpotensi untuk hebat dan menjadi makin hebat jika berada di tangan orang tua yang hebat. Keluarga sebagai lingkungan pendidikan yang pertama dan utama berperan penting di dalam hal ini. Selain itu setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tuhan membekali masing-masing manusia dengan kemampuan yang luar biasa. Terkait dengan pemuda sebagai agen perubahan, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengubah diri sendiri. Pola pikir, pola sikap, dan perilaku harus diselaraskan dengan upaya menuju perubahan diri yang lebih baik. Setelah mampu memperbaiki diri sendiri, maka dapat muncul keteladanan dari orang lain, atau orang jadi terinspirasi karenanya. Kemudian kesuksesan tadi meluas sehingga dia bisa membantu keluarga dan saudara-saudaranya dengan cara mempekerjakan mereka, mengajari mereka, melatih mereka keterampilan, menularkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, dan sebagainya. Dari sini sudah bisa mengurangi beban negara atas orang-orang yang fakir/miskin/pengangguran, dan sebagainya. Tindakan positif ini bisa berlanjut ke teman dan sahabat, masyarakat sekitar, hingga akhirnya ke masyarakat luas.

Di dalam Islam ada perintah untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Pemuda juga bisa andil di dalam hal itu, karena ketika seseorang sudah dewasa (baligh) kewajiban itu sudah diberikan kepadanya secara penuh. Misalnya, mengingatkan keluarganya jika ada yang perkataan atau perbuatan mereka yang salah serta mengajak kepada kebaikan dan menjauhi keburukan/kejahatan. Sepertinya sederhana, tetapi mari kita lihat pengaruhnya lebih dalam. Misalkan pada sebuah keluarga beranggotakan 4 orang, jika tidak ada yang mengingatkan bisa saja bapaknya akan menjadi koruptor, ibunya terjerat kasus asusila, dan anak yang pertama menjadi bandar narkoba. Meski anak kedua tidak ikut di dalam tindakan-tindakan negatif itu bisa dipastikan keluarga itu akan hancur. Nama keluarga itu akan jelek hingga akhirnya nama anak kedua tersangkut juga. Sementara bagi negara, korupsi yang dilakukan sang bapak dapat sangat merugikan negara, tindakan anak pertama yang menjadi bandar narkoba dapat merusak generasi bangsa, sedangkan tindakan sang ibu bisa merusak moral bangsa. Kehancuran keluarga itu juga berimbas pada negara. Itu baru satu keluarga, bagaimana jika ada banyak keluarga serupa itu? Oleh karena itu, cobalah untuk membuka mata atas segala peristiwa di sekitar kita. Kepedulian kita mendukung keberlangsungan pembangunan di negara ini.

   

Secara nyata peran pemuda dapat terwujud misalnya dalam perannya sebagai inovator bisnis. Zaman sekarang sedang tren dan digalakkan di mana-mana tentang bekerja sebagai pengusaha/wiraswasta. Selain itu, bagi yang punya keahlian teknis mungkin bisa mencoba menciptakan produk yang berguna bagi negara. Sumbangsih lain yang bisa diberikan pemuda juga bisa berwujud pendirian rumah baca/perpustakaan atau memberikan bimbingan belajar gratis. Jadi inti dari gagasan saya adalah MLM di dalam amal. Pemuda mengajarkan keilmuan/keahliannya secara gratis/murah kepada 5 orang misalnya (yang paling rajin, niat, berbakat, dan pandai), namun dengan syarat masing-masing orang tersebut harus menerapkan keilmuan/keahlian itu sekaligus mengajarkannya kepada 5 orang yang lain, begitu seterusnya. Tidak semua orang harus digratiskan/dikenai pembayaran murah, bagi orang-orang yang mampu boleh saja dikenai biaya yang wajar (normal). Peran lain pemuda bisa juga dengan cara memberikan ide-ide/aspirasinya bagi masalah negara, membentuk/bergabung dengan organisasi-organisasi yang positif (di bidang seni budaya, olah raga, keilmuan, dan sebagainya). Banyak sekali cara agar bisa menjadi pemuda yang positif dan banyak manfaatnya.

Sekarang mari kita lihat potret pemuda masa kini. Masih banyak di antara mereka yang kurang perhatian dari keluarganya. Kebanyakan keluarganya terlalu sibuk bekerja. Seringkali pendidikan mereka diserahkan penuh kepada pihak sekolah. Kebanyakan dari mereka kurang kasih sayang. Akibatnya sangat malas, manja, kurang bisa memanfaatkan waktu dengan baik (main game, jalan-jalan, nonton, dan sebagainya), bergaya hidup mewah (boros dan suka barang-barang mahal), meneladani/mencontoh gaya hidup artis pujaan, bahkan terlibat berbagai tindakan negatif (asusila, tawuran, kriminalitas, dan sebagainya). Oleh sebab itu, mari kita tingkatkan kepedulian dan peran serta kita di dalam membangun negara ini.

Bagaimana dengan Anda? Peran apa yang Anda miliki saat ini?


*Tulisan ini diikutkan lomba Gebyar Farmasi Universitas Andalas


MENGINTIP SISI LAIN RAMADHAN



Selamat datang Ramadhan. Alhamdulillah tahun ini saya masih bisa bertemu dengan bulan yang penuh dengan berkah, rahmat, dan ampunan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hanya satu bulan dalam setahun dan sangat istimewa, tentu saja banyak yang menantikannya. Diiringi dengan berbagai ibadah yang wajib maupun sunnah dari Allah, kemudian diramaikan pula dengan berbagai kegiatan pribadi manusia menjadikan bulan Ramadhan semakin meriah. Namun jangan sampai berbagai kegiatan/kemeriahan tadi keluar dari tujuan ramadhan yang sebenarnya.

Sudah umum diketahui bahwa di bulan Ramadhan umat muslim yang sudah baligh diwajibkan berpuasa. Namun masih sering dijumpai ketika berbuka mereka malah makan dan minum secara berlebihan. Selain itu pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi (makan dan minum) juga meningkat, ini kan aneh? Padahal makan yang biasanya 3 kali sehari sekarang menjadi 2 kali sehari, kok bisa pengeluaran meningkat? (Ini di luar kenaikan harga menjelang lebaran atau kenaikan harga BBM lho ya). Sebaliknya, ada juga orang yang berpuasa karena ingin diet atau tujuan lainnya yang salah. 

Kalau di daerah saya ada jadwal pemberian takjil dan hidangan tadarus, tiap hari ditanggung 3 orang. Masalahnya dalam pembagian hidangan takjil/berbuka itu terkadang tidak adil, bagian jamaah pria lebih banyak dari jamaah wanita, jatah dari sebagian jamaah wanita lebih banyak dari sebagian jamaah wanita lainnya, ada ibu-ibu tertentu (yang kurang peduli) mengambil jatah berlebihan, ada ibu-ibu tertentu yang tanpa malu-malu menyisihkan banyak dari takjil itu untuk dirinya sendiri lalu membawanya pulang, dan sebagainya. Ada pula ibu-ibu yang membawa makanan sendiri dari rumah dengan jumlah tak seberapa sehingga tidak semua jamaah diberinya. Hal ini tentu menyakitkan hati sebagian jamaah lainnya, mengapa dia tidak diberi, merasa dibenci, merasa ada grup-grup tertentu, dan sebagainya.

Di dalam tadarus juga ada semacam itu. Malah, ibu-ibu sering membawa makanan tambahan dari rumah untuk dimakan saat tadarus. Di sini ibu-ibu membuat beberapa kelompok kecil ketika tadarus, maksudnya agar sampainya giliran mereka tidak terlalu panjang. Nah, pembagian makanan tadi terkadang hanya diberikan pada kelompok-kelompok mereka saja. Itu kan kurang baik. Mereka juga cenderung untuk makan berlebihan (ngemil terus). Hal yang lain lagi adalah, tadarus ini menjadi sedikit keluar dari makna yang sesungguhnya ketika ibu-ibu yang sudah lancar membaca Al Qur’an malas berkelompok dengan ibu-ibu yang tidak/kurang lancar. Mereka juga cenderung mendominasi dengan alasan agar cepat khatam. Akhirnya ibu-ibu yang tidak/kurang lancar ini terkadang sulit mendapatkan kelompok atau hanya diberi jatah membaca sedikit saja (karena ibu-ibu yang sudah lancar juga tidak sabar menanti bacaan mereka yang sangat lama, selain malas untuk mengoreksi terlalu banyak).

Mengenai tarawih, di sini diseragamkan 11 rakaat. Jadi, siapapun imamnya mereka mempunyai toleransi dengan ikut 11 rakaat. Berbeda dengan ketika saya sholat di sebuah masjid besar di Surabaya, ada yang tarawih 11 rakaat dan ada yang 23 rakaat. Yang menjadi masalah adalah ketika jamaah yang mengikuti 11 rakaat pulang, sehingga shaf menjadi berlubang (tidak rapat) sementara jamaah yang tersisa tidak mau mengatur ulang shafnya. Sholat menjadi terasa aneh. Hal lain yang saya suka adalah sepanjang saya tarawih di masjid ini (di perumahan saya) imamnya pengertian, ritme sholatnya enak-tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat-, suaranya juga jelas terdengar, dan kebanyakan bacaan suratnya pendek-pendek. Khutbahnya pun begitu; singkat, padat, dan jelas. Jadi bagi yang mempunyai kesibukan lain bisa segera melanjutkan aktivitasnya. 

Di luar hal-hal itu, biasanya bisa ditemui di jalan orang yang membagikan takjil secara cuma-cuma, jumlah sumbangan meningkat (banyak yang menyumbang di bulan ramadhan), kemudian meningkatnya jumlah pedagang (mukenah, kue kering lebaran, baju muslim dan muslimah, hidangan berbuka, dan sebagainya), dan lain-lain. Yang jelas selama itu positif silakan dijalani. Namun jika itu menjadikan ibadah di bulan Ramadhan terganggu secara fisik maupun kekhusyu’annya maka tentunya kurang baik untuk dilanjutkan.

Terus ada lagi ini, tidak mau ketinggalan, meski bukan termasuk ibadah di bulan Ramadhan tapi sering juga ditemui. Apa lagi kalau bukan main petasan/mercon. Sudah bahaya, mengganggu, tidak ada manfaatnya pula. 

Nah artikel ini saya tulis sebagai pandangan bahwa hal-hal menyimpang seperti di atas masih ada dan bisa mengganggu/mengurangi makna yang sebenarnya dari kegiatan-kegiatan di dalam bulan Ramadhan itu sendiri (puasa, tarawih, tadarus, dan lain-lain).

Untuk ke depannya semoga Ramadhan kita semua akan lebih baik lagi. Semoga semua amal ibadah kita di bulan Ramadhan ini diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan mendapatkan pahala yang sempurna di sisi-Nya. Selain itu semoga dosa-dosa kita diampuni, kekurangan kita ditutupi/diperbaiki, sehingga di bulan-bulan selanjutnya kita menjadi pribadi yang lebih baik. Aamiin. 

(Semoga jika ada imam/ustadz yang membaca tulisan ini bisa disampaikan ke jamaahnya).
 
*Tulisan ini diikutkan lomba Gebyar Farmasi Universitas Andalas


25 Juli 2013

MENULIS LANCAR, PUNDI-PUNDI RUPIAH DATANG



 

Zaman sekarang ini pasti sudah banyak orang yang tidak asing dengan blog. Bahkan, blogging telah menjadi tren sepertinya. Saya sendiri sudah lama mengenal blog namun baru-baru ini saja berusaha aktif menulis di blog. Sebagai seorang penulis saya rasakan benar manfaat dari blog. Saya termasuk penulis yang komersial dalam arti menulis untuk mendapatkan hadiah juga, sangat jarang saya menulis hanya untuk suka-suka. Karena memang menulis adalah pekerjaan saya, kalau bisa mendapat penghasilan dengan menulis mengapa hanya memilih gratisan. Sambil menyelam minum air sah-sah saja, bukan? Meski demikian, saya juga pilih-pilih dalam menulis. Saya hanya mengikuti/menulis sesuatu yang sesuai dengan apa yang saya yakini dan menurut saya baik.
                                       http://www.paulmurphymep.eu/blog/

Saya menyadari bahwa untuk menulis membutuhkan banyak sumber/bahan. Jadi ketika saya menulis apapun saya tidak jauh-jauh dari internet. Hasil tulisan saya sudah beragam, mulai dari artikel untuk media, buku, hingga mengikuti lomba-lomba. Bahan-bahannya saya dapatkan salah satunya dari blog di internet. Blog-blog yang ada sangat membantu saya. Untuk dunia kepenulisan ini saya sering mengunjungi blog-blog yang memasang info-info lomba menulis, seputar cara menulis yang baik, tips-tips nge-blog, seputar media massa dan penerbit, dan blog-blog yang memuat bahan-bahan tulisan yang saya butuhkan. Saya nge-blog pun juga belajar otodidak, dengan mencari di mesin pencari Google lalu mengikuti langkah-langkah di blog yang saya temukan. Ada banyak sekali blog bertebaran di internet, jika di satu blog kita masih belum paham coba saja untuk mengunjungi blog yang lain. Mudah, sederhana, dan sangat bermanfaat tentunya.

Menulis buku pun serupa. Jika saya mengambil seluruh bahan dari buku, maka saya harus mengeluarkan banyak sekali biaya. Tetapi dengan internet (blog) saya bisa memangkas biaya-biaya tersebut. Sering juga saya mendapatkan inspirasi bahan tulisan saya ketika browsing atau membaca blog orang lain. Dan hasilnya adalah, pundi-pundi rupiah mengalir ke rekening saya. Hasil dari tulisan saya sebagai kontributor tetap suatu majalah, royalti buku saya, dan hadiah dari lomba menulis yang saya ikuti. Lumayan lho. Sangat terasa bukan besarnya manfaat dari blog? Alhamdulillah ya, sesuatu :) .


*Tulisan ini diikutkan lomba menulis artikel dengan tema dengan tema Blog sebagai Media Informasi dan Inspirasi