03 September 2021

Review Buku "I Thought I Was The Crazy One"

 


Pertama kali lihat covernya, buku "I Thought I Was The Crazy One" karya Amorah ini tampak aneh dan gambarnya itu abstrak yang provokatif. Ada gambar seperti p*yudara yang membuatku agak annoying lihatnya. 

Judulnya sendiri juga unik, pake gaya bahasa "aku" (orang pertama) gitu, setahuku jarang judul buku non fiksi yang kayak gini.

Pada bagian awal pembaca di-warning ati-ati dengan calon yang begini atau yang melakukan begini begitu. Font yang dipilih dan layout-nya itu enak banget gitu buat dibaca. Sebagai orang yang suka baca to the point, yang model gini ini aku banget. Bagian ini cukup banyak ya, mungkin sampai setengah buku atau lebih, ya karena layout-nya yang membuatnya jadi berhalaman-halaman gitu (tapi gak papa cz bikin lebih enak dibaca).

Selanjutnya buku ini membahas tentang tipe-tipe toksik utama, yaitu NPD (Narcisstic Personality Disorder), APD (Antisocial Personality Disorder), dan BPD (Borderline Personality Disorder), ciri-ciri mereka, kesulitan di dalam mengenalinya, perbedaan utamanya, dan cara-cara untuk menanganinya. Bagian ini lumayan ilmiah dan kayak buku kuliahan gitu deh, beda sama bagian sebelumnya yang termasuk bahasan populer.

Bagus tapi bagiku pribadi solusinya agak abstrak, nggak terlalu praktis atau applicable. Dia lebih ke panduan atau garis besar aja.

Bagian terakhir kusebut sebagai bagian pembuka pikiran dan jiwa. Bagian ini akan membuatmu menjadi open mind. Isinya tentang esensi dari relationship itu sendiri, tentang dirimu dan orang lain (entah pasangan, teman, atau lainnya). 

Secara keseluruhan, buku ini sangat kaya dan mencerahkan tetapi saat aku baca kayak ada kekurangan dalam kesatuan atau koherensinya, ada beberapa bagian yang kayak ditempel-tempel aja, belum ada penghubung/pengaitnya (Atau perasaanku aja ya? Mungkin aku yang ga teliti atau ga fokus bacanya). 

Meskipun ada beberapa bagian yang aku nggak setuju dengan isinya dan termasuk fatal (nggak sesuai value-ku/nilai-nilaiku), tetapi overall buku ini bagus banget dan sangat kurekomendasikan buat kamu yang nyari/suka buku tentang relationship secara umum (termasuk percintaan) atau buku tentang psikologi (orang-orang toksik atau self development).

Sebagai catatan dan sebenarnya udah pernah kusinggung di tulisanku sebelumnya, orang-orang ahli (para expert) di bidang mental disorder/orang-orang toksik itu kebanyakan masih bingung dan nggak terlalu ngurus bedanya, mirip-mirip dan saling tumpang tindih. Toksik ya toksik aja gitu, nggak penting bagi kita yang awam untuk sampai mengkategorikan dia masuk ke dalam golongan toksik yang mana. Yang penting kita bisa mengenali perilaku toksik itu seperti apa, orang toksik itu kayak gimana, menjauhinya, atau meminimalkan efeknya (mengamankan diri kita sendiri).

Baca deh. Worth it kok. 

Mencoba Memahami Pola Pikir "Psikopat" sebagai Fuck Boy

 

Kalau kamu berpikir bahwa psikopat hanyalah pembunuh atau orang yang menyiksa fisik orang lain dengan sadis seperti di pilem-pilem, segera singkirkan pikiran itu. Psikopat, sosiopat, atau Antisosial Personality Disorder (APD) (pokoknya rumpun ini) itu bisa tampak seperti orang biasa, bahkan bisa berfungsi biasa seperti orang normal: bisa punya pendidikan tinggi, kedudukan tinggi, menarik, atau lainnya.

APD/psikopat ini ada banyak macamnya, salah satunya yang berhubungan dengan s*ks ini (fuckboy).

Pada sebuah buku psikologi penulisnya menempatkan bad boy sebagai orang-orang dengan gangguan APD, alias bad boy adalah psikopat. 

Sebagai info buatmu pengagum bad boy; bad boy, fuck boy, ataupun playboy adalah psikopat.

Psikopat itu sangat manipulatif. Sehubungan dengan aksi hookup/ML-nya, ada beberapa trik yang pernah dibocorkan pelakunya, saya amati sendiri, atau saya dapat dari sumber-sumber lain.

Beberapa aksi mereka untuk mengakali konsekuensi/efek dari perbuatannya di antaranya adalah sebagai berikut: 

1. Menumpangi "benih" pria lain

Jadi, dia menarget wanita-wanita hamil sebagai korbannya agar dia nggak perlu menikahinya/bertanggung jawab kalau wanita tersebut hamil. Wong wanitanya udah hamil duluan kok sebelum dia nges*ks dengannya.


2. Menumpangi "tindakan" pria lain, baik itu menyasar istri orang atau perempuan yang perempuan yang pernah zina/pernah melakukan hubungan suami istri dengan laki-laki lain.

"Wong kamu juga 'tidur' dengan pria lain kok, apa buktinya kalau itu anakku?"


3. Menyasar cewek-cewek lugu yang sekiranya belum pernah berhubungan s*ksual.

Dia merasa lebih aman dari risiko penyakit s*ksual (PMS/Penyakit Menular S*ksual)


4. Cek lab dulu sebelum berhubungan b*dan

Seriusan ada model gini. Kamu yang mo nikah aja mungkin masih takut-takut ya minta or ngajak calonmu cek lab dulu. Kalo fucek yang satu ini mah kagak, kalo dia mo ML ma tuh cewek, tuh cewek di screening dulu, disuruh cek lab dulu biar tau mengidap PMS apa gak. Baru mereka cuz lanjut.


5. Berdalih dilakukan suka sama suka

"Ngapain tanggung jawab wong kami suka sama suka kok, sama-sama mau melakukannya dengan senang hati."


6. No prostitute

Menurut dia, nges*ks dengan p*lacur itu rawan kena PMS, jadi dia punya "pacar" (pemuas n*fsunya) itu entah 1 atau beberapa orang. Ngakunya sih lebih safe gitu deh.


7. Nges*ks saat ceweknya haid atau mungkin juga lewat an*l (an*s).

Lagi-lagi biar nggak hamil.


8. Menyuruh minum pil KB atau aborsi, dan masih banyak lagi.


Kalau kamu amati, ada perilaku manipulatif untuk mengakali risiko hamil, tanggung jawab, perasaan berdosa atau bersalah dari korbannya, dll. 

Ketika kamu kampanye, "Jangan nges*ks sebelum nikah nanti hamil!" ----> Mereka jawab, "Tenang, aku punya penangkalnya."


Ketika kamu kampanye, "Jangan free s*x nanti kena PMS!" ---> Mereka juga jawab, "Gampang, nanti kuatasi."


Ketika kamu kampanye, "Jangan ML sebelum nikah nanti dosa!" ---> Mereka jawab, "Tubuhmu adalah milikmu. Kamu bebas mengeksplorasi tubuhmu. Nges*ks itu adalah pleasure, tanda kasih sayang terhadap pacarmu, dan untuk mengetahui kecocokan/compatibility kalian dalam masalah r*njang tersebut. Kalo nggak dicoba mana tau. Nanti kamu gak puas gimana setelah nikah?"


Ketika kamu bicara tentang rasa malu ---> Mereka jawab, "Gampang nanti kunikahi dulu trus kuceraiin, or aborsi aja, atau pake pil, apa gitu. Easy. Gitu aja kok repot."


Banyak banget ya dan dari waktu ke waktu alasan atau modusnya atau solusi mereka mungkin akan semakin kreatif.

Jadi, kampanye kalian juga harus kreatif dan dibantu didoakan juga. Yah walaupun kita tidak dituntut untuk bertanggungjawab terhadap hasil dari seruan kita kepada kebaikan tetapi agar kita bisa lebih punya harapan dan peluang keberhasilan yang lebih tinggi atas kampanye kita, terutama ditujukan pada cakornya (calon korban/orang yang berpotensi tinggi sebagai targetnya ya), cz kalo psikopatnya ya bukan tandinganmu/bukan ranahmu, dan nyaris impossible untuk berhasil.

So, gitu aja, stop ngefans sama bad boy dan fucek2an. Mereka danger you know. 





29 Juni 2021

Mengerikan, Banyak Rasionalisasi Dosa Seputar Zina

Ingat janji Iblis dahulu, dia akan gigih mencari cara untuk menyesatkan manusia dari berbagai arah sampai hari kiamat tiba.

Kalau kamu mudah menyerah dan putus asa, kamu kalah.

Salah satu cara yang bisa digunakan oleh iblis dan bala tentaranya adalah rasionalisasi. Mereka mencari celah atau sisi kelogisan/ilmiah di dalamnya.

Aku juga pernah cerita tentang psikopat dan semacamnya ya. Mereka ini adalah golongan yang bisa sangat cerdas/pintar sehingga dengan kemampuan keilmuan, berbicara/berdebat/persuasi/berargumentasi, atau bahkan memikat hati orang lain dia bisa mudah memiliki pengikut/menyebarkan sesuatu.

Dalam hal ilmiah, kita butuh riset atau minimal studi literatur dan itu bisa membutuhkan banyak tenaga, waktu, dan terutama biaya. Banyak hal yang menggangguku dan ingin kubahas tetapi aku punya keterbatasan sehingga aku menyinggungnya sedikit saja.

Kamu mungkin nggak asing dengan kata c*li/on*ni, berapa rasionalisasi di dalamnya. Begitupun tentang aktivitas s*ksual, nonton b*kep, lg*t, m*ras, n*rkoba, atau c*uman, masing-masing dari aktivitas atau pelaku tersebut punya rasionalisasi sendiri. 

Kalau kamu sekadar bilang, "Oh, itu nggak penting buatku." Mungkin kamu/agamamu akan dianggap tidak rasional, bodoh, atau tertinggal (primitif). Ya meskipun bagimu pribadi mungkin tidak penting, tetapi orang yang bisa memberikan pijakan logika atau ilmiah di dalamnya itu kuamati jadi banyak memiliki pengikut, menang jika berkasus dengan mereka, dan mampu mengubah sebagian orang yang yakin menjadi ragu atau berpaling.

Miris sekali gitu ketika aku menemukan ada yang ngomong "Nonton film p*rno tidak membuat orang menjadi bodoh."

Atau "C*umlah pasanganmu untuk mencari tahu dia jodohmu atau bukan (untuk mengetahui kecocokan kalian)"

Atau "Nges*kslah dulu dengan pacarmu agar kamu tahu kecocokan kalian dalam hal s*ksual, agar kamu tahu dia bisa muasin kamu atau tidak, bisa hamil/punya anak atau tidak, fr*gid/tidak, dsb."

Gak ketinggalan juga yang satu ini, "C*wek/pacar yang pinter ngasih bl*w job, akan dapat nilai plus di mata cowok. (Jadi berlatihlah dan berikan servis bl*w job sebaik mungkin pada pacarmu dan lakukan sesering mungkin padanya biar kamu bisa memenangkan hatinya)"


Atau ini:

"Tubuh tubuhmu sendiri kok, milikmu, terserah kamu mau ngapain."


Atau yang "sekadar" gini:

"Kontak fisiklah saat pdkt agar dia dekat/closeness sama kamu."

"Buat apa pacaran kalau nggak p*lukan/c*uman/lebih."

Bagaimana juga dengan yang parah kek gini:

"Berc*umanlah dulu dengan calon/pacarmu, kalau ada t*gangan/t*rangsang banget berarti kalian jodoh, dan gak papa lanjut aja "disalurin"/ ML."

"Gpp 'berbuat' asal sama-sama tau risikonya."

"Nges*kslah dulu sering-sering sebelum nikah agar saat nikah nanti kamu sudah expert."


Busyet dah bahkan artikel yang kayak gitu lolos lho di majalah online umum Indonesia. 

Dan yah masih banyak yang lainnya.

Tentang nonton b*kep pun ada yang beralasan untuk edukasi s*ksual.

Aku sejak dulu itu kepo, tiap cowok ketika beranjak dewasa itu kan pasti mimpi b*sah, dan aku pernah wawancarai salah satunya, katanya itu nggak sekadar melihat orang lain g*tuan, tetapi mimpi b*sah itu mereka sendiri yang g*tuan dengan lawan jenis. Which mean, secara otomatis gak perlu diajari pun semua pria bisa.

Nah, aku juga sering baca/dengar "Tiap cowok pasti punya atau bahkan mengoleksi foto-foto seksi di HP atau laptopnya dan pasti pernah/sering nonton b*kep."

Itu masih tanda tanya bagiku, itu pendapat atau fakta ketika dia bicara tentang semua pria.

Tetapi suatu hari tanpa sengaja aku menemukan sesuatu yang mungkin merupakan bagian kecil dari jawabannya, "Biar cepat selesai/tuntas katanya."

Maksudnya kurang lebih gini, ada masa-masa di mana libidonya itu naik, entah karena rajin olahraga, makan makanan yang ternyata peningkat libido, nggak sengaja terpicu sesuatu dari luar (misal temannya cerita ng*res atau dia habis ketemu cewek yang m*rangsang, entah berpakaian terbuka/seksi/genit/agresif, atau lainnya) lalu libidonya naik/t*rangsang dan membuat pikiran serta tubuhnya itu nggak enak/error karena belum "tersalurkan"/keluar. Jadi, dia membantu pelepasannya agar bisa er*ksi/org*sme/keluar cairan-cairan tadi dengan nonton foto-foto s*ksi/terbuka auratnya atau nonton film-film p*rno.

Menurut pengakuan salah satu pria yang kuindikasikan b*dboy, kalau belum tersalurkan itu rasanya seperti ada jarum-jarum di kepalanya. 

Tapi intinya ya, terlepas dari alasan atau rasionalisasinya, dosa itu tetep dosa.

Bagi yang nggak tahu sisi ilmiahnya cukup sami'na wa atho'na terhadap ajaran-ajaran agama, sementara bagi yang tahu atau mau berusaha tahu akan sisi ilmiahnya ya cari tahulah lalu patahkan semua bentuk rasionalisasi dosa. 

Semoga kita semua dijauhkan oleh Allah dari dosa dan semoga Allah berkenan untuk mengampuni dosa-dosa kita dan menutup aib kita. Aamiin.




28 Juni 2021

Dunia Tanpa "Pelacur Pria", Tapi Boong

Untuk ke sekian kalinya aku kembali mendapati pria melontarkan kata-kata itu, kata p*lacur, l*nte, dan sebagainya.

Aku marah, hasrat hatiku ingin berkata kasar, tapi soal kekasaran merekalah jagonya, yang mungkin sudah terbiasa ngomong kasar, terbiasa berulah/cari gara-gara, atau mungkin dekat dengan lingkungan seperti itu (baca: mungkin pemakai jasa p*lacur). Aku ingin mencari cara yang lebih baik dan lebih elegan serta (harapannya) lebih manjur. Selama ini aku sudah mencoba beberapa cara tetapi belum berhasil. Rupanya, mungkin orang cuek kalau bukan mereka sendirilah korbannya, ada juga orang-orang lugu pemuja prasangka baik, dan sebagian lagi karena keahlian pelakunya dalam menggunakan beragam teknik manipulasi. Which mean, alih-alih mendapat dukungan dan berhasil memuluskan rencanaku aku kalah dan gak dipercaya, gagal.

Aku pertama dikatain p*lacur saat SMP kelas 1, oleh teman priaku sendiri. Maksud dia bercanda karena pengen tahu marahku gimana karena aku terlalu pendiam. Waktu itu aku ga marah dan balas mengatainya rascal/berandalan, yang waktu itu kuartikan sebagai pemakai p*lacur. Tapi lambat laun aku menyesalinya kenapa aku nggak murka, terutama ketika saat mencari jodoh aku sering dikatain p*lacur oleh berbagai pria, selain itu aku juga menemukan kata p*lacur ini sering digunakan sembarangan, seenak lambene atau seenak udele, oleh pria.

Aku tuh heran ya kenapa p*lacur itu hanya disematkan untuk wanita, sementara dunia pria itu bersih. Kalau menyebut p*lacur pasti perempuan, begitu pun berbagai variasinya.

Wanita tuna s*sila (pria juga ada, tapi kenapa wanita yang lebih disorot? Penggunaan tuna s*sila itu sendiri seperti hanya melekat pada wanita).

Wanita p*nggilan (pria juga ada, tapi lagi-lagi wanita yang lebih disorot)

Begitupun mungkin istri s*mpanan, wanita m*rahan, dan istilah-istilah semacamnya.

Laki-laki juga ada toh? Tapi mereka seperti "bersih" tak tersentuh.

Sebagaimana ketika berzina, wanita pun yang lebih diubek-ubek masalah virg*nitasnya, model/penampakan organ-organ reproduksinya, bodinya, kemampuannya untuk memiliki keturunan, dll.

Suatu hari aku menemukan sebuah berita perz*naan di sebuah koran online. Hebatnya, yang ditonjolkan hanya p*zina wanitanya, yang dihukum juga dia, yang muncul namanya juga dia, sementara p*zina prianya "bersih". Itu mereka berz*na kan sama-sama melakukan tetapi pihak prianya sama sekali tidak muncul di koran tersebut dan sama sekali tidak dihukum warga. Penasaran, aku coba membaca versi di koran online lainnya, tetapi sama saja.

Dan hal-hal semacam ini bukanlah diskriminasi gender satu-satunya yang kutemui. Pada berbagai berita, isi buku, ceramah, atau lainnya penggunaan istilah untuk perempuan seringkali lebih kasar, dengan kata lain "gak aturan", minimal akan ada penghalusan untuk gender pria, baik pria itu sebagai pelaku kriminal, pez*na, atau ketika masalah s*ksual itu diangkat dan melibatkan kedua gender.

Kembali pada masalah slut-shaming dan mudahnya cowok-cowok dalam menyebut kata p*lacur, membuat aku kepo mencari arti kata p*lacur di KBBI, yang ternyata memang hanya untuk jenis kelamin wanita, dan aku semakin kecewa ketika membaca artinya, lagi-lagi berbeda nilai rasa antara arti p*lacur (untuk gender wanita) dan g*golo (untuk gender pria). G*golo diartikan dengan lebih halus dan secara implisit masih menyorot wanita (pengguna jasa g*golo) sebagai pihak yang lebih bersalah.

So, kamu masih percaya kata-kata pria bahwa "Wanita selalu benar?" Saat realitanya kaum wanita itu malah lebih sering atau bahkan selalu disalahkan.

Kamu tahu nggak betapa mudahnya para lelaki itu menyebut kata p*lacur, perempuan m*rahan, dan semacamnya?

Ada nih ya cowok bermasalah nggak deal maharnya dengan calonnya, anggap aja maharnya ketinggian buat dia, gitu ngatain calonnya p*lacur.

Ada oknum ustadz ceramah tentang hubungan suami istri, bilang "Istri harus agresif seperti p*lacur."

Ada cowok nyetatus di FB, mencitrakan dirinya soleh, tapi kayaknya sering ditolak cewek, di akhir statusnya dia menyebut kata p*lacur, tetapi sebagai upaya penghalusan dia mengadu domba antar cewek, dengan istilah t*roris dan p*lacur, dan memberi tanda tanya pada akhir kalimatnya.

Dan yang juga tak terhingga tentu saja pengalamanku sendiri, ketika aku menolak dengan menyampaikannya, ketika aku menolak dengan mencuekinya, ketika aku hanya mencari pria yang tidak pernah zina, ketika aku tidak mau dihubungi tengah malam, bahkan ketika mereka menganggapku sudah berumur tetapi belum menikah. Dibilang p*lacur lah, l*nte lah, m*rahan lah, munafik lah, sok suci lah, dll.

Kalau sekarang semakin banyak orang yang berz*na itu memang fakta, tetapi ketika sedikit-sedikit kamu ngomong p*lacur, apalagi pada orang yang tidak m*lacur dan tidak berz*na, itu sudah beda urusannya.

Sebagai pengingat, bagi yang muslim, menuduh zina itu membutuhkan 4 orang saksi, sementara p*lacur itu adalah pez*na, orang yang sengaja menjual jasa yang berhubungan dengan perz*naan, dan kemungkinan besar dia sudah berkali-kali berz*na (pez*na, bukan sekadar pernah atau 1 kali berz*na).

Jadi, ketika kamu ngomong p*lacur pada orang yang bukan p*lacur, itu kemungkinan telah jatuh tuduhan z*na berkali-kali, yang tiap kalinya kamu tidak pernah menyertakan 4 saksi.

Apalagi kalau sebutannya ditambah kata m*rahan (misal: p*lacur m*rahan), kamu memberikan tuduhan tambahan padanya, terlepas dari arti "m*rahan" versimu itu apa.

Akhir kata, aku punya 5 keinginan:

1. Setiap orang, terutama pria, harus sangat berhati-hati dalam menggunakan kata "p*lacur",

2. Aku ingin orang yang menggunakan kata "p*lacur" sembarangan bisa dipidanakan dan dihukum seberat-beratnya karena kata tersebut mungkin adalah cacian/tuduhan terburuk bagi wanita,

3. Adil-lah dalam bersikap, dalam berucap, menghukum, dan dalam penggunaan kata bagi kedua jenis gender,

4. Didiklah diri kalian, anak-anak kalian, dan orang dekat kalian agar tidak berzina, tidak menjadi pezina/p*lacur/g*golo, dan tidak mudah melakukan slut-shaming/menyebut p*lacur, l*nte, wanita m*rahan, dsb pada perempuan secara umum, terutama pada perempuan baik-baik (yang tidak berzina, bukan pezina, dan bukan p*lacur). 

5. Untuk konteks-konteks agama, yang mungkin memang berhubungan dengan hal tersebut/ada dalilnya, hendaknya disampaikan dengan bijak, halus, dan sangat hati-hati.

Okey, semoga keinginanku ini bisa terwujud. Ada di antara kalian yang mau dan mampu untuk bantu aku, dan semoga ke depannya masalah ini akan menjadi lebih baik (menurun/tidak ada lagi). 


05 Juni 2021

Kesadaran yang Hampir Terlambat

 Ada hal-hal tertentu dalam hidup yang harus kupelajari dalam cara yang berat. Baru beberapa tahun terakhir ini aku menyadarinya, dan itu membuatku merasa sangat bodoh dan malu terhadap diriku sendiri.

Aku telah membuang-buang banyak uang, waktu, dan tenaga dengan sia-sia di hidupku.

Aku ingin mencegahmu dari mengalami kebodohan serupa atau tidak berlama-lama di dalamnya sepertiku.

Ini pelajarannya:

1. Jangan setia pada sesuatu yang salah, baik itu orang, organisasi, tempat kerja, atau apa pun. Setialah pada nilai-nilai dan kebenaran saja.


2. Jangan setia sebelum waktunya,

3. Di dalam setiap monopoli atau banyaknya demand/permintaan terhadap sesuatu itu ada potensi kesewenang-wenangan/kezaliman, bukalah opsimu sebanyak-banyaknya agar tidak terjebak dalam monopoli atau kesewenang-wenangan orang lain, sehingga opsi dan demand terhadapmu pun banyak. Kamu juga bisa memilih untuk mendapatkan yang terbaik.


4. Nama besar dari sesuatu tidak menjamin sesuatu itu baik. Segalanya itu subyektif, lihatlah perlakuan mereka terhadapmu. Meski banyak orang bilang mereka baik, tetapi kepadamu tidak, ya berarti mereka tidak baik. Apa yang kamu alami maupun standarmu itu valid.


5. Harapkan yang terbaik, tetapi bersiaplah untuk kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Milikilah fleksibilitas atau kemampuan beradaptasi terhadap perubahan apa pun. 


6. Terkadang kehidupan melemparkan "kotoran" ke wajahmu. Kamu boleh sedih ataupun marah, tetapi jangan lama-lama. Segeralah membersihkan kotoran itu lalu melanjutkan hidupmu kembali.


7. Ada orang-orang atau hal-hal yang tidak untuk selamanya. Memilih apa yang juga memilihmu terkadang dapat memudahkan hidupmu. Semua orang dan semua hal saling memilih, pastikan kamu dan dia saling memilih satu sama lain.


8. Investasi terbaikmu harus kamu tujukan pada dirimu sendiri, bukan passive income, anak, pasangan, atau apa pun.


9. Kemampuan indera-indera kita itu terbatas, tak semua yang kamu indera itu nyata. Perhatikan apa yang kamu indera dan apa yang tidak kamu indera.


10. Selektiflah akan segalanya. Lakukanlah learning dan unlearning sepanjang waktu. Hidup kita bukan tentang segalanya, tetapi tentang hal-hal yang teristimewa dan terpenting saja.


11. Sahabat terbaikmu adalah amalmu.


12. Yang paling peduli padamu dan sayang kamu adalah Allah dan Rasulullah.


13. Tidak semua orang/hal akan memilihmu, tetapi kamu harus selalu memilih dirimu sendiri. Perlakukan dirimu sebaik-baiknya. Dirimu adalah aset terbesarmu.


Dan aku nulis sebanyak ini itu aslinya berawal dari terlambatnya aku menyadari adanya lowongan pekerjaan yang bisa tutup sewaktu-waktu, bahkan dengan segera setelah diposting/dipublikasikan atau setelah mendapat kandidat yang tepat. Padahal, aku melamar sampai buanyak gitu lho. Sering juga dulu pinjam koran Jawa Pos Sabtu milik tetangga, lalu aku melamar untuk loker di Sabtu itu dan Sabtu sebelumnya, dan mengirimkan lamaran pekerjaan itu bahkan hingga seminggu setelah loker Sabtu terbaru itu dipasang. 

Dan itu banyak sekali. Mungkin sudah ratusan. Itu pun belum termasuk yang dari web atau sumber lain. Selain itu, aku juga percaya deadline yang tertulis pada lowongan-lowongan tersebut. 

Ketika aku kemudian menemukan di Jobstreet, IG, ataupun FB ternyata lowongan-lowongan itu bisa kilat banget hilangnya/terisinya, di situ aku merasa "Apa yang telah kulakukan selama ini? Bodoh banget. Kenapa aku baru nyadar/tahu?"

Tapi ya sudah terlanjur terlambat tahu, daripada nggak tahu sama sekali. Cuma, penyesalan itu ada dan besar.

Kecepatan dan ketepatan itu penting. CATET.

01 Juni 2021

Review Buku "How to Deal With Emotionally Unavailable Men"

 


"Emotionally Unavailable Men"/pria yang tidak tersedia secara emosional selalu menjadi topik yang menarik bagi saya. 

Termasuk sering juga saya bertemu atau berinteraksi dengan mereka, sehingga sempat membuat saya berpikir apakah saya juga emotionally unavailable atau apakah kami punya daya magnet bagi satu sama lain.

Buku ini menjawab dengan jelas pertanyaan-pertanyaan tentang hal terpenting yang sangat ingin diketahui orang-orang tentang pria yang tidak tersedia secara emosional: apa ciri-cirinya, kenapa bisa seperti itu (apa penyebabnya), apa yang tidak disukainya, bahkan bagaimana menjadi menarik di mata mereka dan menjadi sosok ideal di mata mereka.

Kalau dibilang buku, ini tipis sekali dan tidak terlalu mengikuti sistematika penulisan buku, tetapi kalau yang kamu butuhkan cuma isinya/intinya, ini enak dibaca karena bahasannya to the point. Singkat, padat, jelas, dan praktis.


17 Mei 2021

Waspada, Mental Pengemis Semakin Membudaya

 

Hidup tak selamanya indah, pun tak semua orang bisa sukses di dalamnya. Sebagian orang masih berusaha bekerja, tetapi sayang sebagian sisanya bermental peminta-minta. 

Ya, sudah bukan rahasia kalau tak semua pengemis memang tak berpunya. Ada yang memang bermental demikian, memang pekerjaannya. Bahkan, sederet nama pengemis sudah tak tanggung-tanggung lagi kekayaannya, sudah menjadi miliuner atau bahkan triliuner.

Aku terkejut mendengar kisah seorang tamuku waktu silaturahmi hari raya Idul Fitri kemarin. Momen unjung-unjung berubah menjadi horor. Dia jadi takut membuka pintu rumahnya karena anak-anak kecil pengharap uang saku hari raya naudzubillah jumlahnya. Ada 50 lebih, tak dikenal, dan kalau dibiarkan masih akan menambah pasukannya entah menggemuk menjadi berapa.

Di sekitarku sendiri tahun lalu ada, tetapi tidak seheboh itu. Bahkan, anak Kristen pun ikut, seolah meminta "jatah".

Masih tentang mental pengemis, dia pun bercerita tentang pengemis-pengemis yang membludak jumlahnya di pemakaman-pemakaman di seputar Ramadhan atau hari raya Idul Fitri. Dan mereka pun memaksa agar semuanya diberi dan sama rata.

Seketika aku teringat pengalamanku sendiri beberapa tahun lalu saat belajar mengaji di Masjid Al Falah Surabaya. Mengerikan, pengemisnya bejibun, menyambut para jamaah yang keluar masuk di sana, sambil memaksa. 

Aku tak yakin kalau semua pengemis di segala tempat tadi benar-benar tak berpunya. Mental-mental pengemis seperti ini sangat memalukan dan harus dibasmi, jangan sampai mencoreng Islam. Padahal, Islam sendiri menyukai orang yang mampu memelihara diri dari meminta-minta.

Akan tetapi, mengapa mental-mental pengemis ini masih subur saja dan ikut menjadi budaya tahunan di negara kita?