22 Oktober 2019

Indozone, Bacaan Cerdas Menuju Generasi Berkualitas


Indozone, Bacaan Cerdas Menuju Generasi Berkualitas

Bagi saya, berselancar di dunia maya itu ibarat berada di luar angkasa dengan sebuah lubang hitam di dekatnya. Siapapun warganet yang tak memiliki tujuan jelas akan tersedot oleh lubang hitam itu menuju ke dunia yang “tanpa batas”. Lalu mereka terperangkap dan melayang-layang di dalamnya. Sebutan tanpa batas ini saya pilih karena memang sulit bagi kita untuk menemukan batasnya. Di antara derasnya arus informasi yang ada, pintar-pintarnya kitalah untuk menyeleksi konten mana yang terbaik dan mendukung tujuan kita. 

Yang jarang disadari oleh warganet, penggunaan teknologi informasi secara berlebihan seperti ponsel, email, pesan cepat, dan internet bisa menyebabkan bahaya yang oleh Jeffrey Haas dinamakan infomania. Infomania adalah suatu penyakit yang dapat menguras otak kita. Jeffrey Haas telah menulis mengenai sebuah penelitian di Inggris bahwa berlebihan dalam menggunakan teknologi bisa lebih mengganggu dan membahayakan ketajaman mental seseorang daripada mengisap ganja. Hasil riset dari Institut Psikiatri di Universitas London menyimpulkan, penggunaan teknologi secara berlebihan selain dapat menurunkan fokus juga dapat menurunkan IQ sebesar 10 tingkat karenanya. 

Selain itu, warganet hendaknya mengetahui pula efek multitasking bagi otak. Ketika kita membuka banyak tab/jendela internet secara bersamaan sejatinya kita telah melakukan multitasking. Padahal, multitasking itu sendiri tidak baik karena dapat menyebabkan inefisiensi dan stres, sirkuit pendek proses memori, pseudo-ADD, sulit berfokus pada masa kini, pikiran mudah dikacaukan, serta rusaknya memori jangka pendek. 

Nah, di sini, tidak hanya lamanya berinternet yang harus kita cermati, melainkan juga tekniknya. Setelah kejelasan tujuan, kemampuan warganet untuk fokus sangat dibutuhkan. Meskipun tampak sederhana, tak semua orang sanggup melakukannya. Misalnya ketika kita mencari artikel tentang X lalu sepintas melihat artikel lain yang menarik, maka kita akan tergerak untuk membuka artikel baru tadi. Lalu perhatian kita pun terpecah; sehingga waktu, tenaga, dan uang yang dibutuhkan juga semakin bertambah.

Tak bisa dimungkiri, orang berinternet dengan tujuan bermacam-macam. Sebagian warganet bertujuan mencari informasi, sedangkan sebagian lainnya ingin menambah pengetahuan atau mencari hiburan. Hal itu boleh-boleh saja dan tidak harus sama dari waktu ke waktu. Seperti saya misalnya, saya bisa mengunjungi situs tertentu pada satu waktu untuk mencari informasi, lalu beralih ke situs hiburan beberapa saat kemudian. 


Suatu hari saya menemukan sebuah situs yang menarik, INDOZONE namanya. Begitu melihat-lihat isinya saya pun takjub, semuanya ada di sini. Mau bacaan yang menarik, penting, terkini, hangat (hot), unik, sampai yang menghibur ada di Indozone ini. Dari artikel nasional sampai yang internasional juga ada di sini. Rasanya sangat hemat energi tidak perlu pindah ke situs lain berkali-kali, browsing lagi dan lagi. Apalagi Indozone juga dilengkapi dengan infografik dan videografik, cocok sekali bagi mereka yang kurang suka membaca atau membutuhkan waktu lebih cepat untuk mengakses informasi.

Tadinya, saya tidak tahu kalau Indozone menyasar generasi milenial (gen Y) dan generasi Z. Kebetulan saya sendiri termasuk generasi milenial dan suka dengan website ini. Artikel-artikel di Indozone ini menurut saya sesuai bagi pria maupun wanita pada generasi milenial maupun Z tadi. Untuk pria, Indozone menyediakan bahasan mengenai game, teknologi (tech), sepakbola (soccer), otomotif, dan olahraga (sport); sedangkan untuk para wanita mereka memanjakannya dengan artikel tentang makanan (food), kecantikan (beauty), kehidupan (life), kesehatan (health), dan film (movie). Nah, kalau saya sendiri, saya lebih suka topik tentang fakta dan mitos, FYI, #kamuharustau, insight, life, health, news, dan popular. Terutama fakta dan mitos, topik ini bisa memuaskan rasa penasaran saya, serta FYI yang isinya unik dan didesain agar enak dibaca.

Yah, seperti itu. Itulah mengapa tak mengherankan jika Indozone menyebut dirinya sebagai “The Most Engaging Media For Millenials and Gen-Z”. Saya akui website ini baik dalam menggabungkan karakter dari generasi milenial dan Z yang berbeda tadi ke dalam suatu sajian yang disukai keduanya. Terbukti hanya dalam waktu 5 tahun, sejak ia pertama kali hadir di internet 18 September 2014 melalui instagram, jumlah penggemarnya kini sudah luar biasa. Sebagai gambarannya kita bisa melihat follower media sosialnya. Jumlah follower instagram Indozone kini sudah mencapai 3,7 juta, follower facebook 2,1 juta, sedangkan jumlah follower twitternya sudah menembus 1,8 juta. Bahkan, di dalam 2017-2018 Best Nine Indozone berhasil meraih peringkat pertama Indonesia Instagram Account.

Keren, bukan? Bagi kalian yang belum tahu website ini, coba diintip dulu di sini: www.indozone.id, pasti akan jatuh cinta. 

Indozone, Bacaan Cerdas Menuju Generasi Berkualitas

Terakhir, saya ingatkan lagi, kita memang sudah menemukan website yang baik dan variatif kontennya. Sudah hemat energi dengan tidak harus mencari kesana kemari, browsing lagi dan lagi. Namun, untuk menghindari bahaya buruk infomania dan multitasking, membukanya tetap satu-satu ya, jangan beberapa tab/jendela sekaligus. Selain itu, jangan lupa pula untuk bijak dalam menggunakan waktu. Cermatlah dalam memilih konten yang hendak dibaca. Prioritaskan konten yang mendukung tujuan kita.

30 September 2019

Menerapkan Neuromarketing dan Gaya Hidup sesuai Sunnah untuk Meningkatkan Pemanfaatan Dana Zakat


Menerapkan Neuromarketing dan Gaya Hidup sesuai Sunnah untuk Meningkatkan Pemanfaatan Dana Zakat

Besarnya Potensi Zakat bagi Umat dan Bangsa

Indonesia memiliki potensi zakat yang besarnya bisa mencapai 100 hingga 200 triliun rupiah. Suatu jumlah yang bila dimanfaatkan dengan baik dapat membantu membangun umat dan memajukan bangsa. Itu pun belum termasuk perolehan dari wakaf dan sedekah. Jika diasumsikan masing-masing penduduk Indonesia berwakaf 10 ribu rupiah per bulan, maka dalam setahun dana wakaf yang terkumpul bisa mencapai 24 miliar rupiah. Padahal, hasil penelitian Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) Universitas Indonesia di Jabodetabek, Bandung, Makasar, Balikpapan, Medan, dan Surabaya menyatakan bahwa generasi millennial rela mewakafkan uangnya hingga Rp. 150 ribu per hari. Dengan demikian, dana wakaf yang terkumpul dalam setahun bisa lebih banyak lagi. Namun, bila jumlah itu sudah mengejutkan Anda, Anda akan lebih terkejut lagi jika tahu itu belum semuanya. Masih ada sumber lain dari potensi kapitalisasi tanah wakaf yang bisa mencapai 2 ribu triliun rupiah. Dan jangan lupa juga bahwa kita belum memasukkan perolehan dari sedekah. 

Menerapkan Neuromarketing dan Gaya Hidup sesuai Sunnah untuk Meningkatkan Pemanfaatan Dana Zakat

Menerapkan Neuromarketing dan Gaya Hidup sesuai Sunnah untuk Meningkatkan Pemanfaatan Dana Zakat

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana cara kita memanfaatkannya?


Zakat: Kecil Persentasenya, Besar Manfaatnya 

Menerapkan Neuromarketing dan Gaya Hidup sesuai Sunnah untuk Meningkatkan Pemanfaatan Dana Zakat

Zakat artinya harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh muslim yang mampu untuk diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya. Secara garis besar, Islam membagi zakat menjadi 2, yaitu zakat fitrah dan zakat maal (harta). Zakat yang wajib dikeluarkan sebelum salat idul fitri disebut zakat fitrah. Sedangkan zakat yang dikeluarkan dari harta yang sudah mencapai nisabnya saat sudah haul disebut zakat maal (harta).

Menerapkan Neuromarketing dan Gaya Hidup sesuai Sunnah untuk Meningkatkan Pemanfaatan Dana Zakat
Zakat maal (harta)

Mayoritas zakat hanya dikeluarkan sebesar 2,5%, kecuali zakat barang produktif dan zakat pertanian serta zakat fitrah. Zakat fitrah dikeluarkan sebesar 2,5 kg beras, sedangkan zakat barang produktif dan pertanian sebesar 5 atau 10 persen.

Menerapkan Neuromarketing dan Gaya Hidup sesuai Sunnah untuk Meningkatkan Pemanfaatan Dana Zakat

Dari persentase sekecil itu, bila dikelola dengan baik ternyata sudah mampu membebaskan masyarakat dari kemiskinan. Contoh nyatanya terjadi pada masa khalifah Umar bin Khattab, yaitu saat ia pertama kali membuat konsep baitul maal. Saat itu Muaz bin Jabal menjabat sebagai Gubernur Yaman sekaligus ketua amil di sana.  Dalam waktu setahun saja dana zakat di Yaman sudah mengalami surplus, dan dalam waktu 3 tahun masyarakat di sana sudah enggan menerima zakat. 

Kondisi serupa terulang pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz. Malahan, ia hanya membutuhkan waktu 2 tahun 6 bulan untuk mengentaskan kemiskinan di negerinya (Zakat.or.id).

Menerapkan Neuromarketing dan Gaya Hidup sesuai Sunnah untuk Meningkatkan Pemanfaatan Dana Zakat

Ini artinya konsep tersebut tidak terjadi secara kebetulan, kita bisa meniru caranya jika ingin mendapatkan hasil yang sama. Bahkan, dengan dana zakat tersebut kita tidak hanya bisa mengentaskan kemiskinan tetapi juga mengatasi masalah-masalah sosial lainnya.


Ini “kata Kuncinya”

Menerapkan Neuromarketing dan Gaya Hidup sesuai Sunnah untuk Meningkatkan Pemanfaatan Dana Zakat
Kelompok penerima zakat (mustahik)

Bila memperhatikan kisah pengelolaan dana zakat pada masa Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz, kita akan menemukan bahwa kata kuncinya adalah KEMISKINAN. Kemiskinan bisa menjadi sumber dari berbagai keburukan. Jika kita harus mencari One Thing atau akar dari masalah di negeri ini, masalah kemiskinan adalah jawabannya. Dari kemiskinan bisa timbul masalah lain seperti kriminalitas, putus sekolah/masalah pendidikan, masalah sosial/pekerjaan, kehamilan di luar nikah, dan sebagainya. 

Kemudian, perhatikan pula kelompok penerima zakat (mustahik), mereka umumnya juga orang-orang yang mengalami kesulitan keuangan/kekurangan uang. Jadi, mengentaskan kemiskinan harus menjadi prioritas pembangunan.


Mengapa Zakat yang Ada Saat Ini Belum Bisa Mensejahterakan?

Menerapkan Neuromarketing dan Gaya Hidup sesuai Sunnah untuk Meningkatkan Pemanfaatan Dana Zakat

Ada beberapa kemungkinan yang membuat pemanfaatan zakat saat ini tidak seefektif dahulu kala. 

Faktor-faktor tersebut antara lain:
1. Pembagian zakat tidak merata atau ada orang atau daerah yang belum tersentuh zakat,
2.   Hasil zakat dicurangi, misalnya dikorupsi atau lainnya,
3.   Pemanfaatan  zakat tidak tepat sasaran, misalnya salah menetapkan prioritas penggunaan.
4.   Terjadi kebocoran dana zakat untuk atau karena hal lain, misalnya kesehatan,
5.   Adanya wajib zakat yang tidak berzakat,
Yang termasuk di dalam golongan ini adalah orang-orang yang mangkir dari kewajibannya, tidak tahu/kurang ilmu, atau curang dengan berzakat kurang dari jumlah yang seharusnya.
6.   Pemasaran zakat kurang optimal hasilnya.


Salurkan Zakat Lewat Baznas dan Laz Resmi

Menerapkan Neuromarketing dan Gaya Hidup sesuai Sunnah untuk Meningkatkan Pemanfaatan Dana Zakat

Bila kita ingin membayar zakat kita bisa menyalurkannya langsung kepada penerimanya ataupun menyalurkannya melalui lembaga penerima zakat. Namun, kita harus berhati-hati agar pembagian zakat dapat merata, hasilnya tidak dicurangi, dan pemanfaatannya lebih tepat sasaran.

Jika banyak orang yang menyalurkan zakat langsung kepada mustahik maka pembagian zakat bisa tidak merata. Sebagian orang bisa mendapat zakat berlebihan sedangkan sebagian sisanya tidak kebagian. Sedangkan, jika kita menyalurkan langsung kepada Badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) secara sembarangan harta yang kita zakatkan berisiko dicurangi atau berkurang kemanfaatannya. 

Menerapkan Neuromarketing dan Gaya Hidup sesuai Sunnah untuk Meningkatkan Pemanfaatan Dana Zakat

Menerapkan Neuromarketing dan Gaya Hidup sesuai Sunnah untuk Meningkatkan Pemanfaatan Dana Zakat

 Untungnya, sejak tahun 1999, Undang-Undang No. 38 tahun 1999 menetapkan pengelolaan zakat boleh dilaksanakan oleh Badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ). Sesuai dengan UU No. 23 tahun 2011, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Pusat mengimbau masyarakat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui Baznas dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) resmi. Hal itu tak lain dilakukan agar penghimpunan zakat bisa lebih tertib dan penyalurannya lebih tepat sasaran.


Menerapkan Gaya Hidup Sehat Ala Rasulullah untuk Mencegah Kebocoran Dana Zakat

Pepatah mengatakan lebih baik mencegah daripada mengobati. Dan itu benar adanya. Untuk satu penyakit saja kita bisa menghabiskan jutaan rupiah atau lebih untuk mengatasinya. Misalnya pneumonia, menurut Pakar Epidomologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair Surabaya, Dr. Muhammad Attoillah Isfandiari dr. Mkes, biaya pengobatannya bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Nah, agar hidup sehat siapa lagi yang lebih pantas kita teladani perilakunya selain Rasulullah. Dalam sepanjang hidupnya beliau hanya mengalami sakit dua kali, yaitu karena diracun oleh Yahudi dan saat menjelang wafat.

Peristiwa menarik terjadi ketika Kaisar Romawi mengirimkan bantuan dokter ke Madinah. Dokter itu terkejut karena selama satu tahun di sana ia jarang menemukan ada kaum muslimin yang sakit.

Sama seperti kaum muslimin pada masa itu, jika kita menerapkan gaya hidup Rasulullah kesehatan kita pun akan membaik. Sehingga, kita bisa mengalokasikan dana zakat yang ada untuk keperluan yang lain, misalnya ekonomi, sosial, atau pendidikan.


Sosialisasi, Edukasi, dan Penegakan Zakat

Menerapkan Neuromarketing dan Gaya Hidup sesuai Sunnah untuk Meningkatkan Pemanfaatan Dana Zakat

Tak bisa dimungkiri bahwa masih banyak juga wajib zakat yang tidak berzakat, baik karena mangkir ataupun tidak tahu. Kalau pada masa khalifah Abu Bakar, mereka yang tidak membayar zakat akan diperangi olehnya. Saya tidak tahu apakah penegakan zakat semacam itu ada di Indonesia juga, mengingat Indonesia bukan negara agama. Jadi, kita langsung melompat pada masalah sosialisasi dan edukasi saja.

Sosialisasi dan edukasi tentang zakat sudah banyak dilakukan di Indonesia. Misalnya melalui media sosial, permainan ZAKAT GAME, hingga pembentukan agent of change ekonomi syariah bidang zakat dan wakaf. Bahkan, penghitungan zakat pun kini semakin mudah dengan adanya contoh-contoh kasus zakat.

Menerapkan Neuromarketing dan Gaya Hidup sesuai Sunnah untuk Meningkatkan Pemanfaatan Dana Zakat
 
Tak hanya itu, untuk membayar zakat pun kini makin banyak pilihan caranya. Kita tinggal datang langsung ke lokasi yang ditunjuk, atau bisa juga dengan membayar melalui website atau GoPay.


Neuromarketing sebagai Sarana untuk Mengoptimalkan Perolehan Dana Zakat

Kabar mengejutkan datang dari dunia pemasaran dan periklanan. Sebuah penelitian menemukan bahwa apa yang kita ucapkan atau tulis dalam survei atau kuesioner seringkali berbeda dengan kenyataannya. Yang lebih mengejutkan lagi, sebanyak 90% dari keputusan konsumen berasal dari kondisi bawah sadar. Oleh karena itu, kita membutuhkan neuromarketing agar pemasaran zakat yang kita lakukan lebih tepat sasaran.

Untuk tujuan ini kita perlu melakukan eksperimen dengan bantuan fMRI dan SST. Kedua alat tersebut merupakan alat scan otak tercanggih di dunia yang berfungsi untuk mendeteksi gelombang otak yang cepat secara langsung. Pemindaian otak dengan fMRI sangat mahal tetapi jangkauan hasil penelitiannya lebih baik daripada alat lain. Jadi, di dalam penelitian nanti kita menggunakan SST sebagai alat utama dan fMRI sebagai alat pendukungnya.

Menerapkan Neuromarketing dan Gaya Hidup sesuai Sunnah untuk Meningkatkan Pemanfaatan Dana Zakat

Mengenai apa yang kita uji nanti hendaknya berpedoman pada konsep neuromarketing di bawah ini:

1.   Sering-seringlah memaparkan konsumen pada “produk” (tujuan) kita,
Hanya melihat produk tertentu berulang kali kadang-kadang dapat membuatnya semakin diinginkan.

2. Tingkatkan aktivitas dopamin di otak konsumen dengan iming-iming hadiah/manfaat,

3.   Ciptakan suatu persepsi bahwa berzakat itu keren dan membuat status sosial kita meningkat karenanya,

Tindakan ini dapat mengaktifkan bagian otak yang disebut Brodmann area 10 yang berhubungan dengan persepsi diri dan emosi sosial.

4.   Membuat film atau iklan tentang zakat sebagai solusi hidup, misalnya kita bisa mengetes mana di antara tema/premis ini yang berhasil:

a.     Film/iklan tentang zakat yang berfokus pada orang miskin,

b.     Film/iklan tentang zakat yang berfokus pada orang kaya,

c.     Orang miskin sudah habis, padahal kita sangat butuh berzakat,

d.     Matahari sudah terbit dari barat, sudah tidak ada waktu untuk bertobat atau membayar zakat,

e.     Ada 2 orang yang bertetangga. Orang yang satu tiru-tiru temannya berzakat padahal aslinya cuma riya’, tetapi karena berzakat walaupun asalnya niatnya buruk tetap bisa membuatnya selamat dari musibah,

f.        Film lebay tentang sembuh dengan zakat
Ada orang kikir yang sakit parah dan obatnya hanya dengan berzakat. Anaknya sampai harus pergi jauh berpetualang untuk mencari desa-desa yang miskin karena orang miskin sudah nyaris punah.
Ini disesuaikan dengan sifat otak yang cenderung mengingat hal-hal yang didramatisir/lebay/berlebihan.

5.   Menempatkan “produk” secara strategis selama acara berlangsung,
Membuat iklan-iklan tentang zakat atau logo BAZ atau LAZ-nya memadati acara tersebut, atau membuat sesuatu bernuansa zakat di acara. “Produk”/zakat tadi harus terintegrasi dalam alur cerita, jangan terang-terangan sebagai iklan. Pastikan iklan berhubungan dengan alur cerita dari film atau acara yang ditayangkan.

6.   Manusia suka meniru tingkah laku “membeli” (dalam kasus ini adalah berzakat) orang lain,

Jadi, buatlah kerumunan orang atau kendaraan pada tempat zakat tersebut. Atau, tampakkan orang yang sedang berzakat di hadapan publik.

Menerapkan Neuromarketing dan Gaya Hidup sesuai Sunnah untuk Meningkatkan Pemanfaatan Dana Zakat
 
7.   Pastikan orang-orang yang bekerja pada BAZ dan LAZ atau yang berhubungan dengannya ramah dan suka tersenyum,

8.   Sisipkan iklan zakat pada video-video Youtube orang-orang penting, tetapi pada acara/kegiatan yang berhubungan.. Tidak beriklan terang-terangan.

9.   Pada aktivitas yang dihadiri banyak orang, sering-seringlah mengajak orang-orang berkata berulang-ulang tentang sesuatu yang berhubungan dengan zakat, semacam afirmasi. Mengatakan sesuatu berulang-ulang bisa membuat orang lama-lama meyakininya.

10.        Membuat pesan rekaman selamat datang dan reward selamat tinggal,

Contohnya:

Pesan selamat datang:
Assalamu’alaikum. Selamat datang Bapak dan Ibu sekalian. Alhamdulillah kalian sudah datang. Para fakir miskin telah menunggu zakat dari kalian.

Reward selamat tinggal:
Terima kasih Bapak dan Ibu sekalian. Berkat zakat kalian hidup kami menjadi lebih baik. Semoga Allah semakin memberkahi harta dan kehidupan kalian. (tetapi lebih baik suaranya itu rekaman dari suara mustahik langsung yang merasa sangat terharu campur kaget dan bahagia saat mendapat bantuan zakat).

11.  Buatlah pesan terselubung (subliminal message) tentang “Sudahkah kita membayar zakat?”

12.  Membuat dan memasarkan/mensosialisasikan produk-produk/pernak-pernik yang didesain untuk menggugah ingatan tentang zakat. Misalnya amplop, gantungan di mobil, kalender, jam dinding, kaos, dompet, topi, bantal kursi, kertas kado/pembungkus, dan tas atau kresek.

13.        Menampakkan warna logo BAZ/LAZ pada reality show tentang santunan dan aktivitas-aktivitas sosial, misalnya berupa seragam dan mobil.

14.  Buatlah iklan (samar) yang menghubungkan (mengasosiasikan) antara menerima pendapatan yang banyak dengan zakat,

Hal ini untuk mengingatkan bahwa bila mendapat harta banyak jangan lupa berzakat.

15.        Gunakan atau masukkan bayi di dalam iklan zakat kita

Karena wajah bayi memiliki efek kuat pada otak. Misalnya tentang ibu yang memiliki bayi dan sangat kesusahan hidupnya. Setelah menerima zakat kehidupannya pun membaik. Atau bisa juga dengan cerita lain, intinya memasukkan bayi di dalamnya.

16.        Miliki misi yang jelas dan kuat

Misalnya IBM dengan misinya “Solusi bagi sebuah planet kecil”.

17.        Buatlah bentuk/aroma/suara khas untuk “produk” tersebut,

Kita harus mencari bentuk, aroma, atau suara yang membuat BAZ/LAZ tersebut bisa dikenali dengan mudah dan melekat kuat di ingatan.

18.        Carilah kombinasi gambar dan aroma yang cocok untuk mengiklankan zakat,

Misalnya dengan membubuhkan aroma hasil mikroenkapsulasi (proses yang memungkinkan sebuah aroma akan keluar saat kita membuka amplop-amplop tersebut) pada pamflet zakat. Tetapi hati-hati karena aroma tertentu dapat menyebabkan alergi.

19.        Gunakan iklan berwarna,

Menurut hasil penelitian dari Seoul International Color Expo, warna sangat berperan dalam meningkatkan pengenalan merek hingga 80%.
Penelitian lain menunjukkan bahwa saat seseorang membuat sebuah keputusan bawah sadar terhadap seseorang, lingkungan, atau produk dalam waktu 90 detik, antara 62% dan 90% dari hasilnya didasarkan hanya terhadap warna, bukan yang lain.

20.        Perhatikan bahwa orang lebih cenderung mengeluarkan uang secara online daripada dalam bentuk nyata.

21.        Masukkan suara khas ke dalamnya, 

Misalnya: suara gemerincing uang saat donasi masuk, suara kunci membuka pintu (pintu “surga”), suara terima kasih/syukur yang tulus dari seorang mustahik, suara “Orang Islam itu satu tubuh”, mobil bersuara khusus (mesinnya mungkin), dan sebagainya.

22.        Buatlah iklan yang menggunakan kombinasi gambar dan suara yang khas,

23.        Buatlah iklan yang menimbulkan keterikatan emosi,

24.        Gunakan iklan dengan pemeran yang tampilannya biasa, alami, tanpa make up, memuat cinta (bukan s*ks), dan kondisinya sedekat mungkin (sealami mungkin) dengan kondisi kita  sehari-hari.


Prioritas dalam Pemanfaatan Dana Zakat

Menerapkan Neuromarketing dan Gaya Hidup sesuai Sunnah untuk Meningkatkan Pemanfaatan Dana Zakat
 
Selain mengoptimalkan penerimaan zakat dan mencegah kebocoran  serta kecurangan atas zakat, kita juga perlu memperhatikan masalah pengelolaan zakat. Namun, jika kita menyalurkan zakat pada BAZ/LAZ resmi kita sudah tidak perlu khawatir lagi. Mereka adalah lembaga yang amanah dan memiliki program-program yang baik. Ibarat memancing, mereka memberikan umpannya dan bukan ikannya langsung. Sehingga kemanfaatan yang diberikan bisa lebih besar.

Menerapkan Neuromarketing dan Gaya Hidup sesuai Sunnah untuk Meningkatkan Pemanfaatan Dana Zakat


Di antara program tersebut adalah Kampung Zakat. Kampung Zakat merupakan program unggulan yang dibuat untuk memberdayakan masyarakat dengan harapan dapat meningkatkan kemandirian mustahik di sana. 

Menerapkan Neuromarketing dan Gaya Hidup sesuai Sunnah untuk Meningkatkan Pemanfaatan Dana Zakat

Kampung Zakat telah dilaksanakan sejak tahun 2018 dan masih berlanjut hingga sekarang. Untuk tahun 2019 ini pelaksanaannya akan difokuskan pada 7 lokasi di 7 Provinsi, yaitu:

1.        Jawa Barat (Bekasi),
2.        Riau (Kab. Indragiri Hilir),
3.        Aceh (Kab. Aceh Singkil),
4.        Sulawesi Selatan (Kab. Bulukumba),
5.        Kalimantan Utara (Kab. Nunukan),
6.        Maluku (Kab. Buru), dan
7.        Papua (Kab. Nabire)

Menerapkan Neuromarketing dan Gaya Hidup sesuai Sunnah untuk Meningkatkan Pemanfaatan Dana Zakat

Terdapat 4 stakeholder terkait yang mengelola Kampung Zakat, yaitu Kementrian Agama RI, BAZNAS dan LAZ, berbagai kementerian, serta pemerintah daerah. Oleh karena itu, kita bisa tenang dalam mempercayakan dana zakat kita kepada mereka. Optimis saja bahwa suatu hari nanti keajaiban zakat akan menampakkan hasilnya. Indonesia pun menjadi negara yang semakin maju dan sejahtera.