08 Oktober 2021

Review Buku "The 100 Simple Secrets of Happy People"

 


Aku menggambarkan buku "The 100 Simple Secrets of Happy People" karya David Niven ini sebagai buku yang kriuk dan sangat renyaaah dibaca. Padahal, ini sangat ilmiah lho. Isinya merupakan kesimpulan atau rangkuman dari riset-riset ilmiah. Tapi bacanya itu ringan seringan-ringannya, kayak kerupuk. Ups. Bacanya itu kamu bisa meluncuur dengan halus dari awal sampai akhir dengan tingkat ke-kepo-an dan ketertarikan yang tetap maksimal plus nggak bikin dahi berkerut.

Dia merupakan gambaran sosok ilmuwan idamanku. Nggak seperti "orang-orang pintar" kebanyakan yang suka bicara ndakik-ndakik atau dengan bahasa rumit di kolom opini koran dan semacamnya, yang kalo orang nggak paham dia merasa lebih wah gitu (lebih merasa kamu bodoh dan saya pandai). Atau seperti yang dikatakan Deborah Tannen dalam bukunya "Kamu Memang Nggak Bakal Ngerti", bahwa cowok-cowok itu lebih suka pake bahasa yang "super", biar kelihatan lebih canggih dan smart gitu, David Niven ini bener-bener beda gitu. Kayaknya dalam hal ini dia itu aku banget.


David nggak ujug-ujug (tiba-tiba) seperti itu. Dia terinspirasi dari Harry Gilman, seorang profesor psikologi yang anti mainstream. Harry Gilman ini juga pemikirannya sepertiku, dia memandang apa gunanya kalau hasil-hasil riset itu berputar di kampus saja atau di antara sesama profesor. Jadi, dia itu membuat ilmu pengetahuan yang diketahuinya itu bisa tersebar luas di masyarakat. Di sini dia sadar, dia tidak bisa mengubah orang lain. Jadi, dia hanya menunjukkan dan berharap orang lain bisa melihat apa yang dilihatnya (dilihat oleh Harry Gilman).

Buku ini super duper oke sekali. Isinya penting, cara menyampaikannya sederhana dan menarik, praktis, trus lay out-nya itu meskipun sederhana itu mendukung banget buku ini jadi semakin enak dibaca. Nggak ada gambar-gambar, ini murni tulisan, tetapi kombinasi antara pengaturan spasi, margin, ukuran dan jenis font, dan hal-hal semacam itu bikin buku ini enak dibaca. Seolah memang sudah disesuaikan dengan tingkat fokus seseorang, jarak pandang mata, dsb.

Wis pokoknya uenak pol, lancar jaya bacanya. Apalagi 100 rahasianya ini adalah hal-hal sederhana, yang satu, beberapa, atau bahkan seluruhnya itu bisa langsung dicoba atau dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Buku ini itu ada gandengannya, aku nggak ngamati penulisnya sama apa nggak. Tapi kalo buku yang ini aja udah sebagus ini, mungkin bisa lah ya baca gandengannya juga "100 Simple Secrets of (apa lainnya - ada beberapa)."


07 Oktober 2021

Review Buku "The One Way Relationship"

 


Entah berapa banyak ahli, buku, atau penulis yang telah membahas bahwa narsisme dan orang-orang narsis serta NPD sudah meningkat pesat pertumbuhannya. Buku "The One Way Relationship" karya Neil J. Lavender dan Alan Cavaiola ini salah satunya. Narsis ini banyak sekali di masyarakat dan tidak semua orang mengenalinya. 


Kalau kamu terlibat dalam hubungan dengan narsis, kamu telah terjebak dalam hubungan satu arah. Dan kalau kamu tak mengenalinya, apalagi tak mampu mengatasinya, mereka bisa sangat menyusahkanmu, bahkan bikin sial.


Narsis ada di mana-mana dan bisa menjelma sebagai temanmu, teman kerjamu, sahabatmu, pasanganmu, bahkan keluargamu.


Aku sudah baca banyak banget buku tentang narsis dan semacamnya, dan aku bisa bilang, buku "The One Way Relationship" ini adalah salah satu buku terbaik tentang narsis/abuse (kekerasan) yang pernah kubaca.

Cara menulisnya itu sistematis, jernih, santun, sederhana, praktis, solutif, dan pokoknya beda dengan kebanyakan buku serupa yang pernah kubaca. Seperti punya gabungan antara keahlian bidang narsis itu sendiri dan keahlian menulis serta kehati-hatian dan empati atau kepedulian terhadap pembaca bukunya atau bahkan survivor/korban dari narsis/abuse. 


Beberapa buku lain tentang tema ini itu isinya gitu-gitu aja. Agak useless dibaca buat kamu yang nyari pencerahan atau solusi buat masalahmu karena mungkin kamu sudah tahu satu, beberapa hal, atau bahkan seluruh isinya dari buku lain. Sementara buku ini punya sesuatu yang baru. 


Gaya bahasanya itu terutama, santun banget gitu, Insya Allah tidak akan menyakiti hatimu. Terutama kalau kamu survivor/korban narsis/abuse beneran, kamu mungkin sensi dan udah jenuh dengan kekasaran. Buku ini bahasanya sangat aman dan nyaman bagimu.


Gitu banget ya aku mujinya? Ya emang bagus kok menurutku.


Buat kamu yang terlalu lugu, yang bucin-an, yang over positif thinking, yang mengalami hubungan satu arah, mengalami hubungan yang bikin capek deh, sedang bersama orang sulit, atau mungkin seorang survivor, baca deh buku ini. Insya Allah bermanfaat.


Dari semuanya, yang paling kusuka dari buku ini adalah kesantunan bahasanya. Masya Allah top banget. Tapi isinya juga bagus sih.

Udah ah kelamaan, baca sendiri aja.



Review Buku "Date Scene Investigation"

 


Dari sekian banyak buku yang kubaca, cover buku "Date Scene Investigation" karya Ian Kerner ini termasuk salah satu yang sangat menarik. Daya pikat utamanya bagiku adalah covernya yang langsung memuat poin-poinnya. Sekali lihat itu langsung bikin kepo. Judulnya juga menarik sih, tapi aku gak terlalu paham sih. Agak aneh gitu buatku. Feeling strange.

Oke, singkat kata aku jadi baca deh bukunya. Konsepnya sebenarnya kreatif ya, dari judul, cover, maupun cara mengemas isinya. Disusun ala-ala detektif atau FBI gitu lho.

Ada 10 kasus asmara di sini yang sekaligus mewakili 10 topik yang berbeda. Penulis berperan layaknya detektif dengan merunut sifat dan sejarah dari individu yang berpasangan tersebut, bagaimana progress-nya, dsb sampai bagaimana cara dia mengambil kesimpulan plus bagaimana ending-nya. Ada pasangan yang akhirnya bisa membaik hubungannya dan ada yang tidak. Ini lebih ke studi kasus dan bagaimana kamu belajar dari pengalaman/kesalahan orang lain. 

Aku pribadi kurang enjoy bacanya, ga tau kalo orang lain. 


06 Oktober 2021

Mungkin Kamu Belum Tahu

Mungkin kamu belum tahu, banyak hal di dunia ini bersifat 2 arah atau lebih, bisa didekati dari berbagai sisi, atau bersifat saling mempengaruhi.

Misalnya ada seseorang yang stroke karena gangguan pada otaknya. Dari sini otak yang rusak/terganggu menyebabkan gangguan pada bagian tubuh lainnya, kan? Nah, di situ proses pemulihannya bisa dibalik, anggota tubuhnya dipulihkan sehingga menunjang pemulihan otaknya.

Pada berbagai buku yang berhubungan dengan mind, body, and soul juga gitu. Pendekatan mind dapat memperbaiki body and soul, juga sebaliknya.

Kamu mungkin juga pernah baca, kalau lagi stres orang itu cenderung makan makanan dengan rasa apa atau jenis apa. Sebaliknya, kalau kamu salah makan kamu juga bisa stres atau mengalami mood tertentu dan gangguan kesehatan tertentu.

Kalau kamu stres kamu bisa sakit. Sebaliknya, kalau kamu sakit kamu juga bisa stres.

Di dunia kesehatan itu ada banyak pendekatan. Ada yang melalui pendekatan otot, ada yang getah bening, ada yang gusi/mulut, ada yang telinga, ada yang enzim, ada yang hormon, dsb. Mungkin ada gangguan yang spesifik lebih cocok dengan pendekatan jenis tertentu, tetapi pada yang lain perbaikan pada yang satu akan mendukung perbaikan pada yang lain. 

Begitupun ketika ada orang divonis komplikasi, kelihatannya serem ya karena gangguan pada bagian tubuh yang satu menyebabkan gangguan pada beberapa bagian tubuh yang lain, tetapi saya menduga/saya yakin hal itu juga berarti kebalikannya. Karena tubuh itu merupakan suatu sistem, pemulihannya juga bisa dari pendekatan mana saja. Kamu perbaiki saja salah satu bagian yang berhubungan dengan komplikasi tadi, maka bagian lain juga akan membaik.

Trus aku juga mo ngomongin soal gen yang selama ini masih simpang siur di masyarakat. Sama aja. Jadi, makananmu bisa mempengaruhi gen, gen juga bisa mempengaruhi apa yang kamu makan. Pikiran atau keyakinan atau kebiasaanmu bisa mempengaruhi gen/ekspresi gen, begitupun sebaliknya.

Trus ada juga nih cowok pura-pura jadi cewek, akhirnya karakternya terpengaruh. Cewek juga ada yang gitu, malah dibikin buku seingatku. Cewek ini nyamar jadi cowok lalu akhirnya mengalami gangguan kepribadian atau apa ya istilahnya, ya pokoknya gitu deh. Itu kenapa kamu melakukan sesuatu, memakai sesuatu, atau berpikir sesuai dengan gender-mu. 

Makanya wanita ga boleh menyerupai laki-laki, begitupun sebaliknya.

Dalam ranah yang lebih luas, saya juga berpikir larangan untuk menyerupai suatu kaum karena yang menyerupai akan termasuk golongannya itu sedikit banyak juga bisa berhubungan dengan ini, meskipun tidak sepenuhnya.

Saya juga pernah baca di sebuah tabloid, para artis stres ketika disuruh berperan misalnya jadi pemarah. Terpengaruh perannya. Jadi error gitu deh.

Pokoknya banyak contoh pendekatan 2 arah atau lebih yang seperti itu.

Saya tutup aja tulisan ini dengan sebuah buku yang juga masih berhubungan banget dengan ini, judulnya "Lupakan berpikir positif, saatnya bertindak positif." 

Di situ, penulisnya menunjukkan pendekatan yang berbeda dari pendekatan yang marak sebelumnya. Langsung aja bertindak positif, maka akan terjadi perubahan positif. 

So, ada banyak jalan menuju Roma. Kamu bisa milih, kamu juga harus hati-hati karena ada banyak hal yang saling mempengaruhi atau bersifat imbal balik seperti itu. 


 

05 Oktober 2021

Review Buku "How to Avoid Falling in Love with A Jerk"




Jerk itu musuh banget buat para jomblo. Meskipun, yang nggak jomblo juga nggak aman juga darinya. Jadi, buku "How to Avoid Falling In Love With A Jerk" karya John Van Epp ini penting banget untuk dibaca.

Lihat deh dari judul dan covernya aja udah menarik. Dan wuih kamu akan ketemu hal yang lebih menarik lagi begitu udah baca isinya.

Isinya apa tho? 

Isinya itu cara-cara logis dan terencana untuk mendapatkan jodoh idamanmu. Dimulai dengan pengertian JERK itu sendiri sampai dengan step by step yang harus kamu lakukan untuk menghindari jerk ini.

Aku pribadi bukan termasuk orang yang gambling/random dalam mencari jodoh atau penganut paham "Siapapun yang melamar duluan adalah jodohku." 

Meski demikian, buku detail ini nggak mudah untuk diterapkan. Butuh effort banget.

Membaca buku ini kamu akan diajari mengenai apa saja faktor yang berpengaruh dalam menemukan soulmate-mu, apa faktor yang bisa membingungkanmu, macam-macam jerk, bagaimana step by step caramu menerapkan isi buku ini sekaligus cara mengevaluasinya.

Ada lho orang yang aslinya nggak jerk tapi kemudian menjadi jerk. Ada jerk yang diniati dan ada yang tidak. Ada pula jerk yang nggak akan kelihatan sampai waktu/momen tertentu tiba. Nah, lo, bahaya banget kan.

Oh ya, ada poin dalam buku ini yang kugarisbawahi banget, yaitu tentang kohabitasi/kumpul kebo dan s*ks sebelum menikah. Di sini dijelaskan statistiknya, bahaya dan kerugiannya, serta sisi-sisi logis/rasionalnya kenapa hal itu buruk baik saat sebelum menikah maupun sesudah menikah. 

Aku suka sih dengan isi buku ini, terutama dalam step by step planningnya, tapi aku nggak sepenuhnya menyukai isinya. Ada yang nggak cocok dengan diriku/pemikiranku.

Bukunya sangat ilmiah ya, jadi daging banget. Tapi tenang, dikemas populer kok.

Buat kamu yang sedang cari jodoh terutama, aku sangat merekomendasikan buku ini, biar kamu nyarinya pake otak juga, ga cuma pake hati. Karena, modal cinta doang itu nggak cukup. 



23 September 2021

Bahaya Kumpul Kebo dan Kenapa Kamu Harus Menghindarinya

Kok ada ya orang yang suka kumpul kebo? Enakan juga kumpul sama manusia. (Bercanda ding)

Masih terasa aneh bagiku mengapa ada pasangan yang memilih tinggal bersama dan hidup serumah layaknya pasangan suami istri tetapi sebenarnya bukan suami istri, alias belum menikah. Istilah kerennya sih kohabitasi, tetapi kalau di Indonesia lebih populer disebut kumpul kebo.

Jadi, mereka itu ya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, berinteraksi satu sama lain, bahkan berhubungan b*dan layaknya orang yang sudah menikah.
Kenapa gitu lho? Terutama yang cewek, kenapa kok mau?

Kalau kamu sering mengikuti blogku, mungkin kamu sedikit banyak sudah tahu, sepertinya ada suatu penanaman ide/gaya hidup/reframing/modus/manipulasi atau apa pun istilahnya yang menyebabkan terjadinya pergeseran gaya hidup tersebut.
Menurut penulis buku "How to Avoid Falling In Love With A Jerk", lebih dari setengah dari pernikahan saat ini didahului dengan kumpul kebo. Perubahan ini luar biasa besar dibandingkan masa lalu. Pada tahun 1974 saja, jumlah pasangan yang melakukan kohabitasi hanya sebesar 10%. Tidak disebutkan riset tersebut skupnya apa, apakah negara/daerah tertentu, ataukah dunia.

Sebelum aku menuliskan beberapa kemungkinan alasan mengapa orang melakukan kumpul kebo, ada baiknya kamu cari dan baca artikelku tentang alasan-alasan/modus cowok untuk ngajak ML. Silakan diobok-obok di blog ini pada kategori "asmara". Itu masih berhubungan.
Aku ingin menyinggungnya sedikit di sini plus menambahinya sedikit lagi.

Jadi, pada dunia bad boy itu ada aturan "Tiga Kali Kencan." Maksudnya, para bad boy tersebut harus bisa ngajak cewek targetnya untuk ng*we maksimal dalam kencan ke tiga. Kencan ke tiga ini nggak selalu berarti 3 minggu, misal mereka kencannya tiap hari ya berarti hari ke-3 target (nges*ks) sudah tercapai (dan siap mencari target baru). Nah, di kemudian hari aku menemukan fakta miris lainnya. Di dunia cewek (cewek sana), punya pemikiran "Kamu harus bisa menahan diri untuk nggak berhubungan b*dan dengan calonmu setidaknya sampai kencan ke-3." Jadi, kalau calonmu itu ngajak ML sebelum kencan ke-3, kamu tolak aja. Puncak kemirisannya adalah pada kencan ke-3 itu sendiri. Mereka punya pikiran gini, "Pada kencan ke tiga ajakan ML-nya harus kamu terima, atau kalau tidak kamu akan dianggap nggak tertarik sama dia."

Nah, lo, cocok kan? Pas banget dengan alur yang diciptakan oleh para bad boy tadi.

Kembali ke topik awal, kenapa sih ada pasangan yang memilih melakukan kohabitasi/kumpul kebo, ini beberapa kemungkinan alasannya:

1. Suka sama suka
Butuh s*ks saja.

2. Biaya pernikahan/rumah tangga mahal
Ini aku pernah nonton di Youtube, para bule diwawancarai Youtuber Indonesia yang ada di sana. Kenapa gitu mereka mau tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan. Ternyata di sana, biaya (pernikahan/rumah tangga?) mahal.

3. Trauma menikah
Kalau nggak cocok, gampang gitu nggantinya.

4. Percobaan hidup bersama (diicip dulu baru dinikahi) / praktek dan persiapan
Mereka ingin tahu cocok/tidak s*ks, gaya hidup, dan kebiasaan-kebiasaan lain mereka, tahu satu sama lain lebih dalam, dan ngetes cara mereka bekerja sama selama 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu.

5. Menghindari tanggung jawab
Kalau hidup serumah tanpa pernikahan itu kan mereka nggak menjalani full sebagai suami istri. Jadi, mungkin lebih ringan dan fun gitu.

6. Membantu tanggung jawab pengasuhan anak
Kebalikan dari nomer 5, karena sepertiga dari orang yang melakukan kohabitasi memiliki anak-anak, beberapa pasangan mengungkapkan alasan-alasan tambahan untuk mendukung satu sama lain yang melibatkan tanggung jawab pengasuhan anak.

7. Mencegah perceraian
Mungkin dalam pikiran mereka karena sudah menjalani masa percobaan, maka tidak akan bercerai.

Bila kita amati, sebagian alasan tampak seolah positif ya, tetapi apa faktanya? 

Riset membuktikan kumpul kebo menimbulkan berbagai keburukan sebagai berikut:

1. Sekitar 14 persen dari pasangan kumpul kebo tetap kumpul kebo tetapi tidak menikah,

2. Sekitar 40 persen dari pasangan kumpul kebo akhirnya berpisah,

3. Sekitar 46 persen dari pasangan kohabitasi akhirnya menikah, tetapi tingkat perceraian mereka lebih tinggi daripada rata-rata. Faktanya, tingkat perceraian tersebut sama tingginya dengan tingkat perceraian untuk pernikahan ke-2 (sekitar 66 persen),

4. Pada kenyataannya, bagi mereka yang kumpul kebo hanya dengan 1 orang selain orang yang akhirnya mereka nikahi, mereka memiliki kepuasan yang jauh lebih rendah dan romansa yang lebih rendah dalam pernikahan mereka dan tingkat perceraian yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata - dan itu semakin memburuk secara proporsional dengan setiap peningkatan jumlah pasangan,

5. Depresi di antara pasangan kumpul kebo 3 kali lebih tinggi daripada pasangan yang menikah,

6. Sekitar 40 persen dari pasangan kumpul kebo sekarang punya anak. Tiga perempat dari anak-anak ini akan melihat orangtuanya berpisah sebelum ultahnya yang ke-16 (mayoritas ortunya akan berpisah sebelum anak tersebut berusia 16 tahun). Statistik ini, jika pada anak yang lahir dari ortu yang menikah resmi hanya 34 persen. 

Di sini kita bisa lihat setidaknya 2 hal utama:
1. Aturan-aturan agama/aturan-aturan Allah itu dibuat untuk kebaikan manusia itu sendiri,

2. Kehidupan dari pasangan kumpul kebo/berzina itu tidak berkah, tidak mendapat kebaikan/kebahagiaan. Seperti dicabut rasa manis dari hubungan/romantisme suami istri (hubungan asmara dengan lawan jenis) karena terhalang oleh dosa zinanya.

So, open your eyes and open your mind, pikir bener-bener sebelum kamu terjebak ke dalam gaya hidup yang seperti itu (baca: kohabitasi/kumpul kebo). Mending gak usah ya, banyak mudharat/keburukannya. Makanya dihukumi haram tho. Dan buat kamu yang udah terlanjur ngelakuin ya cepatlah "pensiun" (berhenti) dan bertobat. Insya Allah Allah akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan mengembalikan serta menambah keberkahan ke dalam hidupmu.


03 September 2021

Review Buku "I Thought I Was The Crazy One"

 


Pertama kali lihat covernya, buku "I Thought I Was The Crazy One" karya Amorah ini tampak aneh dan gambarnya itu abstrak yang provokatif. Ada gambar seperti p*yudara yang membuatku agak annoying lihatnya. 

Judulnya sendiri juga unik, pake gaya bahasa "aku" (orang pertama) gitu, setahuku jarang judul buku non fiksi yang kayak gini.

Pada bagian awal pembaca di-warning ati-ati dengan calon yang begini atau yang melakukan begini begitu. Font yang dipilih dan layout-nya itu enak banget gitu buat dibaca. Sebagai orang yang suka baca to the point, yang model gini ini aku banget. Bagian ini cukup banyak ya, mungkin sampai setengah buku atau lebih, ya karena layout-nya yang membuatnya jadi berhalaman-halaman gitu (tapi gak papa cz bikin lebih enak dibaca).

Selanjutnya buku ini membahas tentang tipe-tipe toksik utama, yaitu NPD (Narcisstic Personality Disorder), APD (Antisocial Personality Disorder), dan BPD (Borderline Personality Disorder), ciri-ciri mereka, kesulitan di dalam mengenalinya, perbedaan utamanya, dan cara-cara untuk menanganinya. Bagian ini lumayan ilmiah dan kayak buku kuliahan gitu deh, beda sama bagian sebelumnya yang termasuk bahasan populer.

Bagus tapi bagiku pribadi solusinya agak abstrak, nggak terlalu praktis atau applicable. Dia lebih ke panduan atau garis besar aja.

Bagian terakhir kusebut sebagai bagian pembuka pikiran dan jiwa. Bagian ini akan membuatmu menjadi open mind. Isinya tentang esensi dari relationship itu sendiri, tentang dirimu dan orang lain (entah pasangan, teman, atau lainnya). 

Secara keseluruhan, buku ini sangat kaya dan mencerahkan tetapi saat aku baca kayak ada kekurangan dalam kesatuan atau koherensinya, ada beberapa bagian yang kayak ditempel-tempel aja, belum ada penghubung/pengaitnya (Atau perasaanku aja ya? Mungkin aku yang ga teliti atau ga fokus bacanya). 

Meskipun ada beberapa bagian yang aku nggak setuju dengan isinya dan termasuk fatal (nggak sesuai value-ku/nilai-nilaiku), tetapi overall buku ini bagus banget dan sangat kurekomendasikan buat kamu yang nyari/suka buku tentang relationship secara umum (termasuk percintaan) atau buku tentang psikologi (orang-orang toksik atau self development).

Sebagai catatan dan sebenarnya udah pernah kusinggung di tulisanku sebelumnya, orang-orang ahli (para expert) di bidang mental disorder/orang-orang toksik itu kebanyakan masih bingung dan nggak terlalu ngurus bedanya, mirip-mirip dan saling tumpang tindih. Toksik ya toksik aja gitu, nggak penting bagi kita yang awam untuk sampai mengkategorikan dia masuk ke dalam golongan toksik yang mana. Yang penting kita bisa mengenali perilaku toksik itu seperti apa, orang toksik itu kayak gimana, menjauhinya, atau meminimalkan efeknya (mengamankan diri kita sendiri).

Baca deh. Worth it kok.