21 November 2020

Ciri-Ciri Pengobatan Alternatif yang Berbahaya

 Pak, Buk, Mbak-Mbak, dan Mas-Mas perhatikan isi tulisan saya ini baik-baik ya, terutama buat ortu-ortu. Saya beri penegasan di awal tulisan karena memang amat sangat penting dan bisa fatal akibatnya.


Bagi kalian yang sakit atau punya keluarga yang sakit atau punya masalah hidup lainnya, hati-hati saat datang ke tempat pengobatan alternatif. Terutama yang berhubungan dengan penyembuhan ya, karena kalau kalian atau keluarga sakit mungkin akan tidak sabar, berobat/berikhtiar apa pun asal sembuh, mengikuti saran siapa pun asal sembuh. 


Pengobatan alternatif yang saya maksud di sini adalah yang berhubungan dengan gaib-gaib. Nah, orangnya/pengobatnya kadang bisa berkedok rohaniawan misalnya ustaz atau kiai (padahal bukan), bisa juga berkedok "ilmu putih", atau jelas-jelas mengatakan dirinya dukun, orang pintar, paranormal, menggunakan "ilmu hitam", indigo, dan sebagainya. 


Orang yang sakit, baik medis maupun non medis tidak jadi sembuh sakitnya, tetapi malah parah. 

Tadinya mungkin dia asli menderita penyakit medis, tetapi karena kebodohan/kengeyelan dari orang yang ngajak berobat ke pengobatan alternatif tadi akhirnya dia jadi kena non medis juga. Tubuhnya jadi dimasuki/diganggu jin-jin dan semacamnya. Semakin dia berpindah dari satu pengobatan alternatif ke pengobatan alternatif yang lain, semakin banyak jin-jin yang akan menghuni tubuhnya atau mengganggunya. Semakin banyak jin-jin yang mengganggunya, semakin dia lemah dan semakin  berpotensi untuk jauh dari Tuhan/agama. 


Jin-jin itu akan membawa pada kemalasan, keburukan, dan memberati tubuhmu. Dan asal kamu tahu ya, tidak ada bantuan yang gratis. Ada harga yang harus dibayar oleh pasien atau keluarganya tersebut. 


Nah, kalau kamu ikut mengajak orang lain ke pengobat alternatif itu juga, artinya kamu menjerumuskan orang lain dan membuat kondisinya memburuk, terutama agamanya, karena hal ini dekat pada kesyirikan. Orang itu sudah sulit untuk "memiliki" dirinya sendiri karena sudah dikendalikan oleh jin-jin/dukun-dukun tersebut.


Pernah tidak dengar orang bicara "Orang itu penyakitnya 2, medis dan non medis"? Salah satu kemungkinannya ya itu tadi, dia aslinya sakit medis tapi berobat ke alternatif jadi ditunggangi jin juga.


Meskipun tidak selalu tampak jelas, tetapi ada ciri-ciri tertentu yang bisa membantumu untuk memutuskan "Fix, saya nggak mau berobat ke sana, nggak mau berobat dengan cara itu." 


Ciri-ciri tersebut adalah:


1. Jelas-jelas menulis segala sesuatu yang berhubungan dengan ilmu hitam di iklannya, spanduknya, dan sebagainya. Ada kata santet, teluh, susuk, dan sebagainya.


2. Ada semacam kaligrafi (semacam ya, saya tidak bilang kaligrafi pasti ada isinya) yang kamu tidak tahu artinya, misalnya sebagai hiasan dindingnya. Tidak semua kaligrafi sih, tapi lebih baik waspada. 


3. Berhubungan dengan bunga-bunga, misalnya kamboja.


4. Berhubungan dengan rajah, hizib, mantra, dan sebagainya. Terserah mau ditulis di kertas kek, telur kek, atau lainnya. 


5. Berhubungan dengan ritual/perintah aneh, misalnya mandi tengah malam, memperlihatkan aurat di depan lawan jenis, dan sebagainya.


6. Kamu melihat sesuatu semacam magic atau kesurupan di sana, sesuatu yang tidak normal, pokoknya aneh/ga wajar untuk orang normal atau auranya nggak enak tapi kamu nggak tau kenapa, nggak bisa memastikan.


7. Kamu harus lebih mewaspadai kalau pengobatnya merokok atau aura wajahnya horor, ada kemenyan-kemenyan, menggunakan tenaga dalam, berkata kalau dia punya barang yang "ada isinya", atau ada musik aneh gitu deh misal semacam musiknya (reog?). Pokoknya seperti musik tradisional yang bernuansa magis.


8. Berhubungan dengan pengorbanan terutama yang hitam-hitam, misal ayam cemani.


9. Hati-hati dengan tulisan/bacaan yang kamu tidak tahu. Kadang-kadang itu campuran antara yang benar dan yang batil, misalnya ayat surat tertentu dicampur dengan bacaan yang kamu tidak tahu atau ayat surat dipotong-potong dan disambung dengan sesuatu yang kamu tidak tahu atau adanya nama-nama yang kamu tidak tahu (bisa jadi itu namanya jin/setan).


10. Berhubungan dengan jimat, susuk, khodam, dan sebagainya.


11. Berhubungan dengan aktivitas aneh, misalnya mengambil sesuatu dari jembatan, membuang sesuatu ke jembatan, dan semacamnya.


Yah, setidaknya ada 11 itu untuk hal-hal samarnya. 

Untuk hal-hal yang jelas-jelas seperti "nggak boleh sholat", "melihat aurat", "puasa tanpa berbuka", atau batasan halal-haram yang jelas lainnya kalian sudah saya anggap tahu sendiri ya jadi tidak perlu ditulis.


Sekali lagi saya ingatkan, HATI-HATI. Jangan sampai kalian menjerumuskan diri sendiri, keluarga, atau orang-orang yang kalian sayangi.


12 November 2020

Kasus Covid-19 Tak Kunjung Tuntas, Gula Pasir Jadi Sorotan

 


Kasus Covid yang tak kunjung tuntas membuat kita perlu menyoroti kembali mengenai masalah gaya hidup. Sebab, sulitnya penanganan kasus Covid di Indonesia terutama disebabkan karena tingkat penularan Covid yang tinggi, terlambatnya pasien dibawa ke rumah sakit, dan adanya komorbid (penyakit penyerta) serta orang-orang yang rentan/dalam kondisi lemah (misalnya lansia dan ibu hamil), bukan karena virus Corona baru (SarCov-2) itu sendiri.



Memang ada kasus penderita yang murni meninggal karena Covid-19, tetapi itu sangat minim. Seperti data kumulatif Dinkes Surabaya misalnya, per tanggal 28 Juli 2020, sekitar 90 persen kasus penderita Covid-19 yang meninggal adalah karena komorbid.




Dilansir dari Suarajatim.id, 18 April 2020, Ketua Gugus Tugas Kuratif Satgas Penanganan Covid-19 Jatim, dr Joni Wahyuhadi, menjelaskan, dari 48 pasien meninggal di Jawa Timur, hanya 2 yang kematiannya murni karena Covid-19. Begitupun di Italia, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto memaparkan data di Italia menunjukkan 99 persen pasien Covid-19 yang meninggal dunia memiliki penyakit lain. Lebih dari 75 persen memiliki hipertensi, 35 persen memiliki diabetes, dan 33 persen memiliki penyakit jantung (cnbcindonesia.com, 15 April 2020).



Penderita Covid dengan komorbid sendiri sulit untuk dipastikan kematiannya karena Covidnya atau komorbidnya, karena mustahil melakukan otopsi atasnya. Otopsi hanya dapat dilakukan jika seseorang meninggal secara tidak wajar.





Namun, saya hampir-hampir yakin bahwa itu memang karena komorbidnya dan kondisi fisiknya yang lemah. Salah satu buktinya adalah seperti termuat dalam berita detik.com, 31 Agustus 2020, dari 99 dokter yang meninggal terpapar virus Corona di Indonesia, 27 di antaranya dari Jawa Timur, dan yang terbanyak dari Surabaya. Ketua IDI Jatim, dr Sutrisno SpOG, sendiri yang menjelaskan bahwa mayoritas dokter yang meninggal tadi adalah karena komorbid atau faktor usia. Bahkan, dari 27 dokter di Jatim yang meninggal karena terinfeksi Covid-19 kebanyakan tidak menangani pasien Corona secara langsung, melainkan pasien biasa/bukan pasien Covid-19.



 

Penyakit Akibat Gaya Hidup di Indonesia

 



Hingga kini, Indonesia masih memiliki triple burden of malnutrition (tiga beban malnutrisi), yaitu gizi berlebih (obesitas), gizi kurang (stunting, kurus, berat badan kurang, atau gizi buruk), dan defisiensi gizi mikro (kekurangan asupan, penyerapan atau penggunaan satu atau lebih vitamin dan mineral). Sialnya lagi, orang bisa kelebihan berat badan sekaligus kurang gizi pada saat yang sama.



Gangguan-gangguan tersebut, misalnya obesitas, bisa terbawa sampai dewasa. Padahal, obesitas dapat meningkatkan risiko penderitanya terjangkit berbagai penyakit tidak menular, seperti diabetes, hipertensi, stroke, kanker, penyakit kardiovaskular, dan sebagainya. Penyakit-penyakit tidak menular ini justru berisiko lebih tinggi terhadap kematian.



Di Indonesia pada masa akhir Orde Baru saja tahun 1996/1997 di ibukota seluruh provinsi Indonesia menunjukkan bahwa 8,1% penduduk laki-laki dewasa (>=18 tahun) mengalami overweight (BMI 25- 27) dan 6.8% mengalami obesitas, 10,5% penduduk wanita dewasa mengalami overweight dan 13,5% mengalami obesitas. Pada kelompok umur 40-49 tahun overweight maupun obesitas mencapai puncaknya yaitu masing-masing 24,4% dan 23% pada laki-laki dan 30,4% dan 43% pada wanita. Sementara itu, saat ini di kawasan Asia Pasifik, jumlah kasus obesitas pada orang dewasa meningkat.



Mengacu pada hal tersebut, apakah mengherankan jika saat ini banyak orang meninggal karena Covid?

 

Diabetes sebagai Komorbid Utama Covid-19

 


Komorbid utama dalam kasus meninggalnya pasien Covid di Surabaya adalah diabetes tipe 2 (T2DM/Type 2 diabetes mellitus), disusul dengan hipertensi dan jantung. Meskipun demikian, ada juga penyakit lain yang bisa menjadi komorbid seperti asma, ginjal, gangguan pernapasan kronis, dan TBC.



Komorbid diabetes ini sangat berbahaya karena dapat melemahkan sistem imun, menimbulkan komplikasi yang lebih parah, serta menyebabkan tingginya risiko kematian pada penderita Covid.






Pada tahun 2007, Health Data melansir, diabetes merupakan penyebab kematian tertinggi ke-6 di Indonesia. Bahkan, posisinya melesat ke peringkat ke-3 pada tahun 2017. Prevalensi penyakit diabetes ini kemudian naik dari 6,9% menjadi 8,5% per tahun 2018.

Diabetesnya sendiri sudah mematikan. Orang yang menderita diabetes, angka harapan hidupnya akan berkurang 5 hingga 10 tahun. Jadi, wajar apabila setelah penderita diabetes terinfeksi virus Corona, risiko kematiannya juga tinggi.

Untuk diketahui, Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, Indonesia mengalami peningkatan dalam prevalansi penyakit tidak menular dan menjadi penyebab kematian tertinggi masyarakat Indonesia. Penyakit Tidak Menular (PTM) penyebab kematian tertinggi tersebut tidak jauh-jauh dari komorbid-komorbid utama dalam Covid-19, seperti diabetes mellitus, stroke, gagal ginjal kronis, dan kanker.

 

Rokok Disayang, Nyawa Melayang

 

Selanjutnya adalah rokok. Rokok masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Bukan penyebab langsung sih, tetapi merupakan faktor risiko utama. Perokok memiliki risiko tertinggi untuk menderita penyakit-penyakit penyebab kematian tertinggi seperti hipertensi, jantung, kanker, stroke, penyakit pernapasan (misalnya Penyakit Paru Obstruktif Kronik/PPOK), atau lainnya. Merokok menyebabkan 20% kematian akibat kanker dan 70% kematian akibat kanker paru-paru di dunia.

 

Meningkatnya Jumlah Penderita Diabetes dan Hipertensi Setiap Tahunnya

 


Hipertensi dan diabetes merupakan dua penyakit tidak menular dengan jumlah penderita yang terus meningkat setiap tahun. Kalau sudah terkena hipertensi orang akan mudah terkena stroke, jantung, gagal ginjal, dan mengalami berbagai kerusakan organ tubuh. Begitupun diabetes, penderitanya akan rawan terkena stroke, penyakit jantung, ginjal, mata, dan kerusakan berbagai organ tubuh lainnya.

Sehubungan dengan Covid-19 dan peningkatan rata-rata angka harapan hidup masyarakat Indonesia, rokok tentu menjadi sorotan utama. Itu PR kita. Selain itu, saya menawarkan solusi jangka panjang berupa perbaikan konsumsi gula. Ini adalah One Thing saya, yaitu perubahan kecil dari Tiny Habits, yang terkesan remeh, tetapi konsisten dan diterapkan sungguh-sungguh.

Masyarakat sendiri tidak benar-benar bandel atau cuek kesehatannya, atau setidaknya mereka tidak sepenuhnya begitu. Ingat tidak ketika pada awal-awal muncul wacana tentang vitamin C dan jambu merah, keduanya habis di pasaran atau menjadi susah ditemukan. Beri mereka kuncinya dan kadang mereka akan mencarinya sendiri.



Saya itu menyayangkan ketika Pemprov Jatim mengadakan Lumbung Pangan-nya, mengapa pangan-pangan di situ adalah pangan-pangan yang tidak sehat, hanya harganya yang mungkin lebih murah. Padahal, di situ pemerintah bisa melakukan intervensi terselubung untuk memaksakan gaya hidup sehat di masyarakat. Jadi, saat masyarakat butuh pangan dan kesehatan secara bersamaan, kita bisa “memaksakan” pangan sehat kepada mereka.

Saya tidak akan jauh-jauh membahas gula-gula pada snack/camilan atau minuman bersoda misalnya. Gula/pemanis sehari-hari saja lah ayo mulai kita ganti dengan yang lebih sehat. Bila memungkinkan sih, gula pasir sepenuhnya ditiadakan saja, ganti dengan gula yang lebih sehat, tetapi jadikan harganya murah (ramah di kantong).

Kalau kita mau membahas hal-hal lain lagi seperti meningkatnya kasus leaky gut (usus bocor) dan autoimun, gula juga pengaruh lho. Ya tidak usahlah solusinya terlalu fantastis, bertahap saja dari gula dulu misalnya, karena dari One Thing yang membaik dapat merembet pada membaiknya hal lain juga.

Sebagai alternatif pemanis pengganti gula pasir, ada sirup maple, madu, kurma, gula kelapa, dan sebagainya. Baik orang sehat, apalagi yang sudah sakit Covid atau lainnya, pilih pemanis yang lebih sehat.

Terus, menurut hemat saya, yang lebih butuh untuk isolasi adalah orang-orang rawan tadi. Kalau tidak penting-penting amat, kalau bisa tidak keluar, tidak ke kerumunan, atau mungkin dilokalisasi lebih baik. Ya ke tempat yang sepi-sepi aja begitu, yang jarang orangnya. Apalagi, buat yang sudah sakit tapi suka bandel melanggar pantangan dll wah jangan banget keluar atau ketemu/kumpul orang sembarangan. Diukur sendiri gitu ya kondisi tubuhnya.

Dalam buku Factfulness, Hans Rosling dan Ola Rosling menjelaskan, terdapat 6 risiko global yang harus kita khawatirkan, yaitu:

1.   Pandemik global,

2.   Keruntuhan keuangan (financial collaps),

3.   Perang dunia III,

4.   Perubahan iklim,

5.   Kemiskinan ekstrem, dan

6.   Tidak diketahui.

Pandemi flu adalah yang paling sering datang. Jadi, tak ada jalan lain kecuali kita harus lebih mempersiapkan diri menyambutnya. Gampangnya begini, kalau virus yang datang lebih kuat, ya kita harus lebih kuat lagi. Kalau pandemi akan datang tiap tahun atau tiap beberapa tahun ya kita harus lebih siap lagi.

02 November 2020

Uang Panas dan Judi Terselubung Zaman Modern

 Seiring perkembangan zaman perbuatan dosa pun makin kreatif. Tidak selalu sevulgar dulu tetapi makin implisit atau abu-abu.


Sulit bagi kita untuk mendapatkan/melakukan sesuatu yang benar-benar "bersih", tetapi setidaknya kita meminimalkan yang buruk-buruk atau abu-abu tadi.


Bagaimanapun, rezeki kita akan membentuk darah dan daging kita dan mempengaruhi akhlak kita, orang-orang yang kita nafkahi (termasuk yg mungkin kita beri, kita hadiahi, atau mengkonsumsi sajian kita), dan kemudahan kita dalam beribadah (dan mungkin juga dalam menjauhi maksiat).


Saya akan membahas sekilas mengenai hal-hal yang terkait/rawan/saya curigai judi, riba, dan permainan uang atau uang haram lainnya.


Ciri utama judi atau riba biasanya adalah untung-untungan atau memberi hasil yang fantastis, meskipun tidak selalu.


Berikut ini adalah hal-hal yang perlu Anda waspadai:


1. Game judi online yang terang-terangan memuat kata-kata yang mengindikasikan judi, misalnya mengandung kata judi, togel, kasino, dan sebagainya,


2. Game online biasa tapi kalau sudah pakai uang, koin, dan sebagainya misalnya untuk membeli nyawa, perangkat, senjata, dll agar bisa menang dan pemenangnya dapat hadiah/diundi.

Game online biasa ini modelnya banyak sekali yg menurut saya termasuk judi, termasuk game Sh*pee,


3. Event-event berbayar, misalnya lomba menulis berbayar (yg hadiahnya full dari uang peserta), jantung sehat berbayar (yg hadiahnya/doorprize-nya full dari uang peserta), dan semacamnya,


4. Kuis interaktif di TV atau semacamnya, termasuk yang sms sebanyak-banyaknya terus nanti dihubungi penyelenggara kuis secara acak. Biasanya terutama ada di acara audisi-audisian walaupun ada juga yang berupa iklan yang langsung produknya/bukan audisi,


5. Money game, MLM, ponzi, arisan berantai, MMM, dan semacamnya,


6. Pekerja yang minta-minta uang untuk pekerjaan yang sebenarnya masih termasuk job description-nya. 


7. Perjalanan dinas, rapat kantor, atau hal-hal lain yang fiktif terkait pekerjaan, (kebohongan dalam dunia kerja demi mendapat uang), dan lain-lain.


8. Bitcoin dan semacamnya,

9. Arisan simpan pinjam,

10. Trading Forex/saham 

Trading Forex ini meskipun seingat saya dihukumi halal tetapi bagi saya abu-abu dan cenderung "No", berdasarkan cerita pengalaman seseorang yang pernah bekerja di bidang tersebut. Ini bagi saya ya, lebih baik menghindari hal yang meragukan.


Tentunya masih banyak contoh lainnya.


Kalau bahaya bank atau bunga bank dan pembayaran-pembayaran via online masih agak sulit kita hindari. Saya pernah membaca info terkait itu tetapi secara terpisah. Bahannya terserak, jadi materinya susah ditemukan lagi. Yah walaupun pendapat orang tentang hukum bunga bank itu beda-beda, tetapi terkait kreditnya itu memang menyimpan bahaya yang sangat besar.


Berhubung ini blog jadi saya tulis biasa saja, nggak perlu yang detail banget atau gimana-gimana terkait sumbernya atau penulisannya yang harus ilmiah banget gitu kayak skripsi. 

Intinya berbagi pengetahuan untuk menghindari hal-hal semacam di atas itu.







30 Oktober 2020

Keluarga: Tempat Memberi yang Terburuk, Mengharap yang Terindah

Pada zaman pdkt dengan taaruf marak seperti saat ini, ada juga lho ustadz yang tidak setuju. Saya pernah lihat videonya. Gak main-main, nggak setujunya itu ngomongnya sangat kasar. Yang intinya tentang harga diri lelaki.
Harga diri apa ya maksudnya?
Mungkin nggak pernah ngamati kali ye, model CV taaruf cowok itu kayak apa dan perilaku taaruf mereka itu bagaimana.

Biar saya jelaskan sebagian (sisanya rahasia):
1. Cowok itu suka ga pake foto, pake pun kadang foto jadul, foto buram, foto yang wajahnya nggak keliatan, abstrak, foto dengan penghalang misal masker atau diburam-buram tiru-tiru cadar pada wanita (iri dia), dan foto-foto nggak jelas lainnya.

2. Foto cowok itu banyak yang asal-asalan, tidak dalam kondisi ganteng maksimal. Foto dan backgroundnya itu nggak banget deh.

3. Banyak bagian dari CV cowok yang nggak diisi atau diisi asal-asalan. 

4. Isi CV cowok itu implisit-implisit, yang intinya penipuan or ga jujur dengan kondisi sebenarnya. Pake kata-kata ambigu.

5. Ikut taaruf pun akun cowok itu modus-modus: diprivat-privat, akun kloningan, akun ga ada isinya/dikit isinya, akun tidak ditemukan, dll.

Dan masih banyak lagi modus-modus lain yang tidak akan saya jelaskan satu persatu. Intinya, kamu itu ngakunya baik-baik, niat nikah, tapi modusnya segambreng. Penipuan di mana-mana. Itu untuk jadi istrimu, bakal keluargamu.

Lalu saat komunikasi atau ketemuan, misal prianya sendirian tanpa perantara, itu omongan dan sikapnya juga gak karuan, kasar. Plus kalau ditanya seputar kualifikasi udah sensi sana-sini bikin makan ati.

Bandingkan dengan ketika pria melamar pekerjaan: surat lamaran pekerjaan dan CV dibuat sebaik mungkin, waktu wawancara/interview penampilannya baik, ditanya terkait kualifikasi bersedia menjawab dengan baik, foto dipilih yang ganteng maksimal, performa terbaik, bicaranya sopan dan kelakuannya juga sopan. Bila tak sesuai kualifikasi pun ya menerima kalau ditolak, sedangkan jika lolos ya bekerja sebaik mungkin untuk perusahaan itu dan mematuhi aturan-aturannya.

Ada juga hubungan antara orangtua dan anak.
"Sayang anak orang lain, kalau anakku sendiri sudah ku ... hhh," sambil getem-getem. 

Pernah nggak denger atau bilang semacam itu? 
Lebih ramah pada anak orang lain daripada anak sendiri.

Atau seperti ini. Rumah mau kedatangan tamu, maka segala hal terbaik (melebihi perlakuan pada keluarganya) disiapkan untuk tamunya. Jadi, perlakuan terhadap tamu lebih istimewa daripada keluarga.

Bagaimana dengan yang satu ini:
Pemberian atau servis terhadap tetangga atau orang lain lebih pol-polan daripada terhadap keluarga sendiri.
Kalau mau ngasih apa-apa itu orang lain dapat yang lebih besar, lebih banyak, lebih enak, dll. Orang lain dulu pokoknya, keluarga mah ntar aja kalau masih sisa, ntar aja yang kecil-kecil, dsb.

Trus ada juga kayak gini:
"Aku kalo sama keluarga dan sahabat itu beda (lebih blak-blakan alias vulgar dan sarkas), soalnya mereka itu kan sudah memahami aku."

Nah, lo. Jadi, terhadap keluarga dan sahabat perlakuannya itu lebih tidak manis, lebih tidak sopan, lebih kasar.

Ada juga bapak-bapak pas ditelpon bosnya bilang "Iya bos, iya bos," sambil manggut-manggut dengan suara rendah dan lembut, tapi saat sama istri dan anaknya malah berubah horor. Meminjam istilah seseorang, "Iya dia bijaksana tapi tidak bijaksini." Hahaha....

Suami bekerja, istri bekerja pas keluar rumah ganteng/cantik maksimal. Badan tegap, perilaku berwibawa, suara se-ramah dan se-menyenangkan mungkin. Pulang-pulang sudah ote-ote, singletan doang, koloran, dasteran, kucel-kucelan, bahu turun, nggak konek diajak ngomong, asal-asalan dalam berinteraksi dan berkomunikasi serta tinggal boboknya. Lalu mereka bertanya, "Kenapa perasaanku sekarang beda sama dia?"

Buwuh/acara keluar juga gitu. Rapi dan berpenampilan baik. Atau gak usah ke luar deh, misal aja pas ada tamu, penampilannya jadi baik toh? Katanya menghormati tamu. Tapi dengan keluarga? Nggak menghormati keluarga? 

Jadi sekarang tanya aja deh sama diri masing-masing. Kamu mengutamakan keluarga?
Ah, yang bener?

Berdamai dengan Alam Lain

Sebagai makhluk dari alam yang berbeda, tanpa sadar manusia sering menyakiti jin. Selain karena jin memang tak dapat dilihat oleh manusia, manusia tersebut memang kurang ilmunya. Meskipun perkabaran mengenai jin sebagian telah diungkap dalam Al Quran atau hadits, tetapi masih ada saja yang belum tahu atau tidak mau mengambil pelajaran. 

Sulit memang. Kadang-kadang kita hanya menebang pohon (misal bambu atau randu), eh ternyata jinnya marah. Kadang juga hanya berfoto selfie (swafoto) dengan naik ke atas batu besar, eh ternyata di sana ada jin yang sedang semedi. Bahkan, hanya dengan membakar rumput atau BAK di WC juga bisa diganggu jin.

Gangguan dari jin tersebut bisa berupa macam-macam, misalnya:

1. Kesurupan,

2. Gatal-gatal yang sulit sembuh,

3. Perceraian,

4. Susah jodoh,

5. Step/kejang-kejang, serta

6. Keguguran.


Untuk menghindarinya, jauhi larangan-larangan ini:

1. Membuang air panas sembarangan, misalnya air rebusan mie.

Membuang air panas ke wastafel, WC, selokan, dll berisiko menyakiti/membunuh jin di dalamnya serta hewan lain, misalnya semut.

Lebih baik campur air panas dengan air dingin dulu agar hangat, atau biarkan air panasnya dingin dulu baru dibuang.


2. Melempar sampah sembarangan

Konon ada jin yang berhubungan dengan ini, namanya jin jurig jarian.


3. Kencing sembarangan, misalnya mengencingi tulang atau lubang di tanah.

Lubang di tanah tidak boleh dimasuki air, apalagi dikencingi, ditutup, atau dicolok-colok, terutama lubang sarang ular.

Tidak dijelaskan lebih lanjut mengapa lubang tanah berhubungan dengan jin. Yang pasti, selain jin, lubang di tanah juga rumah hewan, seperti semut, yuyu, tikus, jangkrik, rayap, dan kelinci.

Karena kita tak tahu pasti aktivitas apa saja yang mengganggu atau mencelakai jin, maka sebaiknya setiap hendak melakukan apa pun minimal bacalah selalu taawudz (Audzubillahiminasysyaithaanirrajiim) dan basmalah (Bismillaahirrahmaanirrahiim). Apalagi, membaca basmalah tiap hendak melakukan sesuatu itu akan membuat aktivitas kita menjadi dirahmati Allah. 

Tak semua jin itu jahat, ada jin yang baik, ada pula jin muslim. Mereka tidak mengganggu tetapi tinggal di tempat kita, alamnya saja yang beda. 

Sudah banyak manusia yang sakit atau mati gara-gara balas dendam jin atas perbuatannya. Jangan sampai keburukan yang sama menimpa Anda.

Berhati-hatilah agar kita tidak menyakitinya atau mencari gara-gara, walaupun tanpa sengaja.


29 Oktober 2020

Setitik Cahaya di Ujung Sana

Di dunia ini, teori terkadang hanyalah teori. Sementara pendapat setiap orang sering kali hanyalah sebatas kacamata orang itu sendiri: pengalamannya, pengamatannya, pengetahuannya, bahkan lingkungan orang itu sendiri. Kamu perlu memperhatikan, tetapi tetap mengujinya satu persatu mana yang bekerja untukmu. 

Jangan percaya kalau orang berkata "Harus pakai ini agar sukses", "Kamu tidak akan sukses kalau tidak seperti ini," dan sebagainya. Yang biasanya bicaranya pun sambil kasar, menyindir, merendahkan, atau menghina.

Bertahun-tahun aku melahap buku-buku atau sumber-sumber lain, ada banyak sekali variasi aturan dan cara untuk menuju ke suatu tujuan. Tidak satu, banyak. Dan meski kadang aneh atau dipertentangkan nyatanya mereka itu bisa sukses dengan caranya masing-masing.

Biasanya, akan ada perkecualian. Dan jangan lupa, di atas segalanya ada Tuhan, yang tinggal berkata "Kun" maka jadilah dia (terwujud harapannya). Dan masih ada Tuhan yang malu jika tidak mengabulkan doa hamba yang meminta kepada-Nya.

Bila impianmu tinggi, tak serta merta dianggap tingginya sama oleh orang lain. Mereka yang tidak melihat dari kacamatamu sering kali menganggapnya terlalu tinggi, bahkan mustahil. Sementara orang lain sebaliknya, menganggap impianmu sama tinggi dengan mereka atau bahkan biasa saja/lebih rendah.

Mereka semua mempengaruhimu sehingga kamu mengalami distraksi/gangguan dan mungkin mulai mempertanyakan diri.

Terdapat 2 hal utama terkait mimpi yang dianggap tinggi:

1. Seberapa keras usahamu,

2. Seberapa cerdik kamu.

Barangkali ada opsi ke-3, yaitu seberapa beruntung kamu. Itu karena kadang-kadang orang lain tidak melihat usaha kita di belakang layar. Tentu saja, selalu berusahalah untuk melibatkan Tuhan.

Di sini, aku tak melulu bicara tentang kesabaran, kegigihan, konsistensi (perseverance/grit), karena memang ada hal lain yang juga berpengaruh, misalnya mendapatkan guru/ilmu pengetahuan yang tepat/cocok (bisa melalui media apa saja) dan yang tak kalah pentingnya adalah evaluasi dan kemampuan untuk berbeda dan kemampuan untuk bangkit kembali dan bertahan sampai akhir (pantang menyerah).

Hari ini kutuliskan ini di blogku karena aku seperti mendapatkan sesuatu yang baru: harapan baru, hasil yang baru, ledakan kemajuan dari momen yang bertahun-tahun seperti stuck, dan intinya aku ingin berbagi pengalaman hidup bahwa kamu harus hati-hati dengan belief-mu, harus hati-hati memilih teori atau pendapat yang kamu ikuti, dan apa-apa yang kamu indera. 

Perjalananku sangat panjang dan melelahkan. Bila kudeskripsikan dengan lebay itu laksana kamu berjalan tak tentu arah, hanya berbekal tujuanmu, dan di sepanjang jalan kamu dilempari batu dan t*i, menginjak duri, diolok-olok dan dinyinyiri, bahkan dihina-hina, dikatakan mustahil terwujud, dipingpong, disebut hanya pantas dapat yang buruk, dan lain-lain.

Aku ingin kamu lebih percaya pada Allah dan pada dirimu sendiri untuk mewujudkan mimpimu. Mencari cara-cara dan orang-orang yang tepat untuk membantumu, gagal dengan lebih baik dari waktu ke waktu. Seperti kata Thomas Alva Edison, kamu itu tidak gagal, kamu hanya menemukan cara yang tidak berhasil tetapi semakin mendekatkanmu pada tujuan. 

Tidak ada yang sulit bagi Allah.

Sering kali, pendapat dan pemikiran orang lain adalah tentang diri mereka sendiri. 

Semoga apa yang kudapat hari ini semakin ber-progress, sesuai harapan atau lebih baik dari harapan. Dan semoga kalian semua mampu menjaga harapan dan menemukan jalan menuju impian. 

Milikilah harapan walaupun kecil, sehingga kamu tidak akan b*nuh diri di dunia yang pahit dan memang melelahkan ini.



27 Oktober 2020

Tubuhmu Milik Siapa?


Tubuhmu milik siapa?
Jika kamu tanyakan pada banyak orang, jawabannya pasti beda-beda. Namun, siapa yang mengira jika salah menjawabnya bisa fatal, bahkan bisa berujung kematian.

Saya tuliskan saja ya 4 jawaban/pernyataan ter-umum:

1. Milik orangtuanya/ibunya


Terutama pria, disebut-sebut milik ibunya.
Orangtua merasa memiliki kita karena telah mengandung atau merawat kita. Akan tetapi, benarkah demikian?


Wrong. 


Penghormatan walaupun sangat besar tetap tidak mengubahnya menjadi kepemilikan. Malahan, hubungan semacam ini sering juga dijadikan dalih/modus bagi pria yang sebenarnya anak mama atau memiliki hubungan tidak sehat dengan ibunya. Ibu (ortunya) bisa sangat ikut campur dalam hidup dan pernikahan/rumah tangga anaknya secara berlebihan.


Kalau kamu milik ortu/ibumu, maka kamu berada dalam kendali/kontrol ortu/ibu, yang artinya juga kamu bisa diapa-apain sesuka mereka.


Para ustadz sering berlebihan dalam hal ini, terutama dalam konteks jodoh. Saya pernah mengingatkan salah satunya, tetapi mereka (entah dia entah admin yang menjawab di grup itu) menolak.


Itu fatal banget karena banyak ayat dengan tegas mengatakan bahwa semuanya itu milik Allah.

Contoh ayat-ayatnya bisa dibaca di web ini:

https://khotbahjumat.com/4886-kepunyaan-allah-lah-langit-dan-bumi.html


2. Milik pasangan/suami

Lagi-lagi masih terkait urusan asmara. 

Para muslimah dijejali paham bahwa istri itu milik suami, sedangkan suami itu milik ibunya. 

Jawaban perihal ini pernah dijelaskan dengan baik oleh motivator Indonesia, Mario Teguh, dalam acara Golden Ways-nya. Kalau milik kita, itu artinya bebas kita apa-apain. 

Pernah dengar kata pasangan posesif? Ya itu karena merasa memiliki. Makanya ada suami yang menampar, memukul, mengekang, atau memperlakukan seenaknya itu karena dia merasa memiliki.

Jadi, masih meyakini istri milik suami? 

3. Milik majikan

Ini juga sering kan kita jumpai. Majikan merasa memiliki pekerjanya karena merasa telah menggaji mereka. Tak heran jika ada cerita ART disiram air panas, disetrika, pekerja disiksa, dan lain-lain.

Ketiga hal di atas salah karena jika kita milik orang lain, orang lain itu tidak perlu melakukan apa pun terhadap kita. Tapi kita tidak, kan? Kita juga punya hak dari orang lain: suami, ortu/ibu, majikan, dll, yang kalau dibalik suami, ortu/ibu, majikan, atau orang lain juga punya kewajiban kepada kita.

Lalu bagaimana? Apakah kita milik diri sendiri?

4. Milik diri sendiri

Keyakinan ini juga populer. Bahkan, makin disosialisasikan sepertinya.


Akan tetapi, tahukah kamu kalau keyakinan ini juga fatal?


Ia berhubungan erat dengan berbagai hal/dosa, seperti:

a. Keperawanan,
b. Seks bebas,
c. Foto bugil atau tindakan menampakkan aurat,
d. Operasi plastik (Oplas),
e. Ganti kelamin,
f. Lgbt,
g. Tato
h. Miras dan narkoba
i. Tindik/piercing
j. Makan/minum berlebihan
k. Makan minum yg haram
l. Over kerja tanpa istirahat
j. Over ibadah
k. Over nges*ks, dll.

Apa pun bisa dan boleh kita lakukan pada diri sendiri karena merasa tubuh dan diri kita itu milik kita 


Tindakan menyakiti diri, merusak diri, mempermalukan diri, membahayakan diri, dll juga bebas kita lakukan karena merasa milik kita sendiri.

Dan tahukah kamu, di mana pernyataan otoritas terhadap diri sendiri itu banyak ditemukan?

1. Dalam konteks kep*rawanan

Artinya, terserah kamu mo nges*ks walo belum nikah asal tau konsekuensinya. Wong itu tubuh2mu sendiri. Itu paham yang dianut oleh mereka yang mungkin sudah tidak p*rawan alias menganut s*ks bebas atau minimal pendukungnya, walau bukan pelakunya.

2. Kata-kata itu diajarkan di sekolah khusus untuk menjadi bad boy, sebuah reframing untuk menaklukkan wanita korbannya. Jadi, ada ya "sekolah"-nya. Dan namanya bad boy tujuannya ya pasti selangkangan alias ngajak t*dur.

3. Hayo tebak di mana lagi?

Kata-kata itu digunakan oleh wanita-wanita yang berfoto b*gil dengan alasan meningkatkan rasa PD karena sepertinya mengalami body shaming. Atau mungkin juga tidak body shaming tetapi orangnya saja yang tidak PD dengan tubuhnya. Jadi mereka foto polos rame-rame (secara terpisah) untuk dikagumi body-nya apa adanya.

Dari sini kamu tahu kan, bahaya banget kalau menganggap tubuh kita sendiri itu milik orang lain atau bahkan milik kita.

Kita itu tak punya apa-apa, semua hanya titipan.


Diri kita termasuk tubuh kita itu milik Allah.
Bukan milik pasangan, bukan milik ortu, juga bukan milik kita sendiri.


Milik Allah. Artinya harus tunduk pada aturan-aturan Allah.

Jangan salah lagi ya. Tubuh kita itu milik Allah. Milik Allah.
Oke.