05 Juli 2020

Cara Mendaftar ke Aplikasi HalloBunda


Anda kesulitan registrasi di aplikasi Hallobunda? Sama. Saya dan Anda tidak sendiri kok, banyak yang mengalami hal serupa. Lho, kok tahu? Tahu dari mana? Rating aplikasinya yang memberi tahu saya.

Wah, berat. Padahal, saya termasuk generasi yang sudah akrab dengan internet dibandingkan generasi-generasi sebelum saya. Bagaimana dengan yang seumuran orangtua saya atau bahkan kakek nenek, pasti lebih kesulitan lagi.

Sebelumnya untuk merujuk ke RS. Dr. Soetomo, keluarga saya harus melalui RSUD. Sidoarjo, tetapi kemudian dipindahkan ke RS. Bunda Jl. Kundi. Itupun registrasinya dulu melalui sms, jadi sudah bisa lah ya generasi-generasi tua melakukannya. Nah, begitu proses registrasinya dialihkan ke aplikasi, Ibu saya mulai bingung. Aplikasinya memang tidak user friendly (ramah pengguna) sih, jadi bukan salah Ibu juga.

Singkat kata, saya yang membantu. Di situ ada isian yang saya tidak tahu, “ID rekam medis”, ini diisi apa? Apa nomer BPJS, nomer rujukan, atau apa? Kami bingung karena bukan pasien RS. Bunda, tetapi hanya meminta rujukan. Sementara itu tetangga yang kami tanya juga dapat nomer rekam medisnya dari memotret sendiri curi-curi saat berobat di RS. Bunda. Nomer manakah yang dimaksud? Apa kami punya, atau kami memilih opsi “Pasien Baru?” Ibu bilang dulu pernah ditolak saat meminta nomer, karena dianggap bukan pasien sana.

Pusing saya. Dari mulai browsing Google, nyari di Youtube, sampai tanya tetangga, hasilnya mengecewakan. Tiba-tiba, “Tink”, tercetuslah ide untuk mengintip website dan medsos Bunda-nya. IG rumah sakit Bunda tidak ada, tetapi FB-nya memberi saya pencerahan. Status Facebooknya yang teratas memuat 3 nomer call center.

Oke, saya telepon WA nomer pertama, di-reject saudara-saudara. Saya pun coba chat WA biasa, barangkali memang tidak mau ditelepon, sambil chat nomer WA ke dua. Ini inisiatif saya sendiri sih, karena Ibu selalu ingin langsung datang dan tanya orangnya. Begitupun tetangga, menyarankan langsung tanya ke front office di sana. Bagi saya males-malesi banget, nggak praktis. Coba dulu deh jarak jauh, mungkin bisa. Dari 2 call center, petugas di nomer pertama memiliki kemampuan pemahaman tulisan yang lebih baik. Akhirnya saya memilih mengamanahkan urusan padanya.

Horee ... akhirnya dapat. Sebuah nomer rekam medis masuk ke HP saya. Tetapi ... gagal terus, muncul tulisan harus mengulang pendaftaran. Saya berpikir, mungkin karena saya biarkan aplikasinya kelamaan, jadi kembali lagi ke awal. Saya ulang lagi prosesnya yang membuat “tangan keriting”, terutama pada bagian tanggal lahir yang harus scroll jauh dari tahun 2020 ke tahun dan tanggal lahir pasien. Huaaaa ... stres, ingin teriak rasanya. Masih gagal juga. Bukan karena kelamaan ternyata. Itu di bagian bawah sendiri pada formulir registrasi ada gambar panah ke kanan, saya klik berkali-kali tidak ada efeknya. Tahunya apa? Digeser saudara-saudara. Oh, no, pliz deh.

Oke deh, sekarang sudah terbuka aplikasinya, tapi kok pada “AKUN” ada tulisan “Anda sedang menggunakan akun temporari, silakan divalidasi dulu”? Bila Anda menemukan ini, abaikan saja. Langsung saja lanjut klik bagian “JADWAL”. Pada bagian jadwal, pilih poli yang Anda tuju dengan klik gambar pada polinya. Selanjutnya akan muncul nama-nama dokter pada poli tersebut beserta jadwal praktek dan kuotanya. Pada tulisan hari, jam, dan kuota, Anda geser dengan menyapukan tangan ke kiri untuk menemukan hari dan jam yang Anda inginkan, lalu klik tombol “DAFTAR”. Atau, Anda bisa melihat jadwal dokter-dokter di bawahnya, mungkin ada jadwal yang lebih cocok. Sudah deh, muncul tulisan “Anda berhasil terdaftar”.

Lho, terus? Ibu protes, “Lho, yang udah terdaftar itu dapat nomer, kok.” Saya bingung lagi deh. Di mana kau nomer? Eh, ternyata nomernya ada di bagian “Beranda”. Jadi, klik “Beranda” ya. Kalau sudah akan muncul nomer antrian kita. Nanti nomer itu dibawa atau diingat-ingat ya saat datang ke rumah sakit Bunda.

Terakhir, kalau Anda sudah datang sesuai jadwal, kunjungan Anda ke rumah sakit akan terekam di bagian “RIWAYAT”. Sudah, begitu saja. Pusing nggak bacanya? Saya saja pusing nulis-nya.

Oke, begini urutannya (nggak usah pake diagram/gambar gpp ya, males bikinnya):

1.    Instal aplikasi HalloBunda di Google Playstore.
2.    Bila Anda belum tahu ID Rekam Medis atau ingin bertanya, hubungi Call Center RS Bunda di nomer (satunya belum saya simpan), nanti akan diminta untuk mengirim foto BPJS/KIS-nya:
085790333472
082232140899
3.    Isi formulir pada aplikasi dengan lengkap, lalu klik dan geser panah paling bawah ke kiri.
4.    Klik “JADWAL” pada bagian bawah sendiri.
5.    Klik pada gambar “Poli yang dituju”.
6.    Cari dokter yang Anda inginkan, geser-geser harinya sampai ketemu jadwal yang sesuai harapan Anda.
7.    Klik “DAFTAR”.
8.    Pilih tanggalnya, kategori, dan centang bagian kotak kosongnya sesuai kondisi Anda.
9.    Klik “Beranda” pada bagian bawah sendiri. Di situ akan muncul nomer Antrian Anda.
10.      Simpan, bawa, dan ingat-ingat nomer Anda tersebut.
11.   Datang sesuai dengan jadwal yang sudah tertera.

Semoga terbantu ya, dan semoga lancar urusannya dan cepat sehat kembali.

NB:
Ketika saya selesai menulis ini saya menemukan ternyata web aplikasi Bunda sudah ada (posting gambarnya tertanggal kemarin), jadi bila belum jelas juga bisa menuju websitenya, di sana ada gambarnya. Klik https://hallobunda.net/    atau kontak call centernya lagi.
.

26 Juni 2020

Virus Corona Bukan Fantasi, Mari Mawas Diri


Virus Corona Bukan Fantasi, Mari Mawas Diri
Rapid Test (Sumber gambar: rs-jih.co.id)

Pada 31 Desember 2019 pemerintah Tiongkok mengumumkan keberadaan virus Corona baru (virus 2019-nCov) di Wuhan. Namun, meski kasus pertama diyakini ditemukan di Wuhan, hingga kini belum diketahui pasti di negara mana virus Corona pertama kali menginfeksi dan kapan tepatnya. 

Penyebaran virus Corona begitu masif, hingga ketika setidaknya 118 negara telah mengkonfirmasi diri terjangkit virus ini, WHO terpaksa menetapkan keberadaan Covid 19 sebagai pandemi global. Hanya dalam jangka tiga bulan virus Corona telah berhasil menjadi momok bagi lebih dari 100 negara, tak terkecuali Indonesia.

Situasi sangat kacau, berbagai upaya pun dilakukan demi memperlambat laju penyebaran Covid 19 dan segera mengakhiri mimpi buruk ini, namun belum berhasil. Rasa panik dan takut mencekam masyarakat hingga memicu mereka memborong masker, hand sanitizer (disinfektan), vitamin C, bahkan mengalami degradasi kesehatan mental. Begitupun dengan para tenaga kesehatan (dokter dan suster), dan para karyawan rumah sakit lain seperti para petugas kebersihan (cleaning service) tak luput dari perasaan takut yang manusiawi ini.

Meski demikian, tak semua orang seperti mereka, banyak juga orang yang tenang-tenang saja seolah tak terjadi apa-apa. Bahkan, ada pula yang menganggap virus Corona ini hanya fantasi dan tak pernah ada. Tak peduli orang lain disiplin memakai masker, hand sanitizer, serta melakukan isolasi diri, karantina, atau physical distancing, mereka cuek-cuek saja. Banyak dari mereka yang masih suka mangkal di kafe-kafe atau mal-mal dan mendapat pendisiplinan lebih lanjut dari Bapak Polisi.

Mengapa sampai ada orang yang tetap cuek dengan virus Corona di saat orang-orang yang lain banyak yang ketakutan? Di antara penyebabnya kemungkinan adalah karena mereka berpegang teguh pada keyakinan yang salah. Banyak bukan teori-teori konspirasi dan berita palsu (fake news/hoax) yang beredar saat pandemi Corona ini, sama seperti pandemi-pandemi sebelumnya yang juga sarat dengan munculnya teori konspirasi. 

Entah teori mana yang mereka ikuti, padahal terlepas dari benar tidaknya teori-teori konspirasi yang ada setahu saya tak ada yang meragukan keberadaan Covid. Mereka tidak mengatakan bahwa Covid itu tidak ada, paling-paling hanya memperdebatkan tentang seberapa bahayanya virus Corona baru ini.

Virus Corona Bukan Fantasi, Mari Mawas Diri
Sumber data: covid19.kemkes.go.id

Bagaimana bisa dikatakan hanya fantasi, sementara para dokter dan perawat begitu sibuknya, pemerintah begitu paniknya, banyak orang harus dirumahkan (di-PHK), dan terutama telah banyak juga jatuh korban jiwa. Jahat sekali bila kita menganggap para tenaga kesehatan itu mengenakan APD atau bermasker hanya untuk drama.

Hingga detik ini saja, data dari WHO yang dikutip dari https://covid19.kemkes.go.id/ menyebutkan angka kematian global akibat Covid mencapai 5,2%, sementara di Asia Tenggara 2,9%, sedangkan di Indonesia 5,2%. Itu artinya WHO menegaskan bahwa risiko global sangat tinggi. 

Di Indonesia sendiri, dari 49.009 kasus terkonfirmasi Covid, sebanyak 2.573 jiwa telah melayang. Apakah semua dari mereka meninggal karena penyakit penyerta (komorbid)? Ternyata tidak. Meskipun sebagian besar pasien meninggal memiliki penyakit komorbid, tetapi ada juga yang meninggal tanpa penyakit lain yang menyertainya.

Berikut ini adalah beberapa contoh korban Covid yang meninggal tanpa komorbid:

1.    Di RSUP Persahabatan, data bulan April lalu menunjukkan, dari 205 pasien, sebanyak 65 pasien (86 persen) yang meninggal menderita komorbid sementara 11 pasien (14 persen) lainnya tanpa komorbid (Detik.com, 9 Juni 2020).

2.    Di NTB, dari 41 pasien meninggal per 16 Juni, 13 orang di antaranya (yaitu 30 persen) meninggal tanpa komorbid (lombokpost.jawapos.com, 18 Juni 2020).

3.    Di Tiongkok, jumlah korban Covid yang meninggal tanpa komorbid per 11 Februari 2020 mencapai 26 persen (katadata.co.id, 17 April 2020).

Jadi, penderita Covid-19 tanpa penyakit penyerta pun berpotensi untuk meninggal.

Virus Corona Bukan Fantasi, Mari Mawas Diri
Sumber: Sehatnegeriku.kemkes.go.id

Oleh karena itu, kita tak boleh lengah dan abai terhadap virus Corona ini. Usahakan untuk tetap mawas diri tanpa cemas berlebihan. Ikuti segala anjuran pemerintah dengan baik, baik itu memakai masker, hand sanitizer, menjaga jarak dengan orang lain, atau lainnya, sambil tetap menjaga dan memperbaiki imunitas tubuh dengan makan makanan yang sehat dan bergizi seimbang, minum air yang cukup, mengkonsumsi vitamin dan mineral penunjang daya tahan tubuh, istirahat yang cukup, olahraga teratur, serta menghindari stres.

Agar hati semakin tenang, kita juga bisa melakukan skrining awal Covid dengan rapid test untuk mengetahui apakah kita telah tertular virus Corona atau tidak.

Hasil dari rapid test akan menunjukkan:
1.    Reaktif, artinya antibodi sudah ada dalam tubuh/sudah pernah terinfeksi Corona.
2.    Non reaktif, artinya:
a.       Orang tersebut belum terinfeksi virus Corona, atau
b.      Sudah terinfeksi Corona tetapi antibodi belum terbentuk, karena antibodi baru terbentuk sekitar 8 hari setelah kemasukan virus.

Agar hasilnya lebih akurat, lakukan rapid test kembali setelah 7 hari.

Nah, di mana kita bisa melakukan rapid test?

Akses layanan rapid test bisa dilakukan melalui Halodoc, yaitu sebuah aplikasi kesehatan yang memberikan solusi kesehatan lengkap dan terpercaya untuk memenuhi kebutuhan kesehatan kita dan keluarga. Aplikasi tersebut memungkinkan kita untuk berkonsultasi dengan dokter, membeli obat, periksa lab, mencari rumah sakit, membuat janji dengan dokter, hingga mengingatkan untuk minum obat. Lengkap dan praktis, bukan? Halodoc sangat memanjakan urusan kesehatan kita dan keluarga. Memang demikianlah tujuan digagasnya Halodoc, memudahkan dan mempersingkat akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Khusus bagi warga Surabaya yang ingin melakukan rapid test, ikuti panduannya dengan melakukan klik pada link berikut Covid test Surabaya.  Di situ kita bisa melihat berapa harga rapid test, lokasi rapid test, sekaligus memilih dan membuat janji tes Covid dengan dokternya. Gampang, bukan?

Covid itu nyata, karena itu sayangi diri dan keluarga kita dengan memelihara kesehatan sebaik-baiknya. Cegah keparahan sebelum terlambat.



Sumber:
https://covid19.kemkes.go.id/
https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/12/003124065/menyebar-hingga-118-negara-virus-corona-ditetapkan-who-sebagai-pandemi?page=all
https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5045877/14-persen-meninggal-tanpa-penyakit-penyerta-masih-ragukan-bahaya-corona
https://www.pikiran-rakyat.com/internasional/pr-01398422/beda-dari-pengakuan-tiongkok-studi-harvard-klaim-corona-mungkin-muncul-di-wuhan-sejak-agustus-2019
https://lombokpost.jawapos.com/ntb/18/06/2020/13-pasien-korona-di-ntb-meninggal-tanpa-riwayat-penyakit-bawaan/
https://katadata.co.id/infografik/2020/04/17/faktor-penyebab-kematian-akibat-covid-19
https://www.kompas.tv/article/82396/tanya-jawab-corona-ini-arti-reaktif-dan-non-reaktif-saat-rapid-test
https://wartakota.tribunnews.com/2016/04/22/halodoc-aplikasi-konsultasi-dokter-diluncurkan

07 Juni 2020

Krisis Air Semakin Menggila, Saatnya Berbenah

Krisis Air Semakin Menggila, Saatnya Berbenah

Apa jadinya bila manusia, hewan, dan tumbuhan sebagai sesama makhluk hidup memperebutkan kebutuhan dasar yang sama? Air misalnya. Bila cara mengelolanya salah tentu saja salah satu atau beberapa dari mereka terpaksa dikorbankan, yaitu berupa:
1.    Mengorbankan hewan
2.    Mengorbankan tumbuhan
3.    Mengorbankan manusia lain

Meskipun persaingan/kompetisi antar makhluk hidup akan air bisa terjadi secara alami, namun mengorbankan secara sengaja juga mungkin terjadi. Contoh nyatanya terjadi pada kasus kekurangan pangan yang menimpa satwa di Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoological Garden (Bazoga). Keterbatasan anggaran karena Covid-19 memaksa pengelola kebun binatang tersebut untuk merelakan rusa menjadi santapan harimau sebagai opsi terakhir.

Pada bumi sendiri, menurut The United States Geological Survey Water Science School, 71 persen dari permukaannya tertutup air. Namun, sekitar 97 persen dari air di bumi berupa lautan, hanya 3 persen yang tidak mengandung garam. Dari 3 persen tersebut, 69 persen dibekukan di es dan gletser dan 30 persen lainnya ada di tanah. Hanya 0,26 persen air dunia yang ada di danau air tawar, dan hanya 0,001 persen dari seluruh air kita yang ada di atmosfer (Tempo.co, 22/3/2018).

Mirisnya, sebagian dari 0,26 persen tersebut airnya tercemar, tidak layak dikonsumsi atau digunakan. Alhasil persentase air yang dapat kita manfaatkan menjadi lebih kecil lagi.

Sementara jumlah air di bumi tetap, dan bahkan air yang layak pakai berkurang karena pencemaran atau lainnya, jumlah populasi manusia terus meningkat. Worldometers mencatat jumlah penduduk dunia pada 2019 mencapai 7,7 miliar jiwa, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 7,6 miliar jiwa. Oleh karena itu, persaingan antara sesama makhluk hidup dalam mendapatkan air dan tempat menjadi tak terelakkan.

Sebagai gambaran, beberapa daerah di Indonesia yang masih mengalami kekeringan di antaranya meliputi (data dari Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 22 November 2019):

99 desa di 21 kecamatan di TTU, NTT
60 desa di 15 kecamatan di Alor, NTT
27 desa 8 kecamatan di Flotim, NTT
24 Desa 6 kecamatan Kabupaten Pati, Jateng
2 Desa di Kabupaten Kendal, Jateng
12 Kecamatan di Kabupaten Cirebon, Jabar
25 Desa di 8 Kecamatan di Kabupaten Brebes, Jateng
7 Desa di 3 Kecamatan Kabupaten Karangasem, Bali (Tekno.tempo.co, 23/11/2019)
Jadi, masih sangat banyak.


Kebutuhan akan Air di Masa Pandemik

Krisis Air Semakin Menggila, Saatnya Berbenah


Hans Rosling, dalam buku Factfulness, telah memperingatkan adanya 6 risiko global yang perlu kita khawatirkan, yaitu:
1.    Pandemik global (global pandemic),
2.    Keruntuhan keuangan (financial collaps),
3.    Perang dunia III (world war III),
4.    Perubahan iklim (climate change),
5.    Kemiskinan ekstrem (extreme poverty), dan
6.    Tidak diketahui (unknown unknown).

Saat ini kita telah berada pada masa pandemik global sekaligus perubahan iklim yang terus berproses. Perubahan iklim ini memicu pemanasan global, yang berdampak pada munculnya lapisan es di kutub dan puncak gunung salju, kenaikan suhu dan tinggi permukaan air laut, meningkatnya suhu di sejumlah kota di Indonesia, cuaca ekstrem dan kekeringan yang panjang, serta munculnya berbagai hama dan penyakit tanaman (In.ideanation).

Seperti kita ketahui, pandemik global dan perubahan iklim secara terpisah sudah sangat merepotkan dan membebani, bagaimana jika keduanya terjadi bersamaan? Apalagi, kedua hal ini juga berkaitan erat dengan keruntuhan keuangan, kemiskinan ekstrem, bahkan mungkin juga Perang Dunia III dan “risiko yang tidak diketahui”.

Pada kondisi normal (tanpa pandemik), kehidupan manusia sudah sangat berhubungan dengan air. Kita membutuhkan air untuk minum, memasak, mencuci, mandi, media transportasi, dan lain-lain. Bahkan, tubuh manusia terdiri atas 75 persen air, otak manusia terdiri atas 85 persen air, di dalam sel-sel tubuh idealnya terdapat 75 persen air, dan dalam kondisi terhidrasi penuh normalnya 94 persen dari darah berupa air. Secara khusus, F. Batmanghelidj, M.D., di dalam buku Air untuk Menjaga Kesehatan dan Menyembuhkan Penyakit, memaparkan bila kita kekurangan air kita bisa menderita berbagai penyakit.

Jangan lupakan pula mengenai penyakit-penyakit lain seperti diare dan pneumonia sebagai penyebab kematian tertinggi pada anak, Covid-19, serta penyakit mata, penyakit perut, kecacingan, dan flu yang bisa berawal dari tangan yang kotor. Semua penyakit ini berhubungan dengan air, baik meliputi sanitasi atau higienitasnya, maupun cukup tidaknya air yang diminum dalam memenuhi kebutuhan tubuh.

Kekeringan (Sumber: Pixabay)
Di antara penyakit-penyakit yang bisa dicegah/diminimalisir dengan mencuci tangan menggunakan sabun, Covid-19 adalah salah satunya. Pada masa pandemik seperti sekarang, orang-orang menjadi sering mencuci tangan karena takut tertular Covid-19. Hal ini menjadi tantangan juga di tengah kondisi Indonesia yang semakin rawan air.

Jadi, mulai saat ini kita tak boleh cuek lagi. Harus peduli. Kecuali jika kita mau menjadi dehidrasi, tidak mampu memenuhi kebutuhan air sehari-hari, pemilikan air sangat dibatasi, atau terpaksa menggunakan air yang tidak layak untuk konsumsi atau non konsumsi. Sudah ada buktinya, misalnya pada warga Banjar Pendem desa Manistutu kecamatan Melaya kabupaten Jembrana Bali, mereka harus rela berjalan pulang pergi 10 kilometer hanya untuk mencari air di sebuah kubangan.

Tidak mau kan seperti mereka?

Oleh karena itu, mari perhatikan prinsip-prinsip pengelolaan air di bawah ini untuk memperbaiki ketersediaan air bersih dan menurunkan laju krisis air bersih atau kelangkaan air di Indonesia:
1.    Hindari eksploitasi air berlebihan,
2.    Jaga jangan sampai air bersih yang tersisa tercemar atau berkurang,
Keberadaan air sudah terbatas, jangan sampai air yang masih tersedia ini berkurang karena pencermaran.
3.    Atur jumlah manusia dan makhluk lain dalam negara, misalnya berupa:
a.       Mengatur jumlah kelahiran
b.      Mengatur jumlah imigran
Kondisi ini bisa diterapkan jika sangat terpaksa/genting.
4.    Memulihkan air yang tercemar,
Bila memungkinkan, memulihkan air yang tercemar merupakan langkah yang baik.
5. Mengatur pendistribusian dan pemerataan air, bila sangat kritis setiap rumah perlu dijatah kebutuhan airnya,
6. Mengutamakan air untuk kebutuhan primer dulu dan menghentikan atau meminimalkan penggunaan untuk kebutuhan sekunder dan tersier,
7.    Mewajibkan setiap rumah dan setiap kantor/industri untuk membuat biopori, sumur resapan, atau semacamnya,
Mari kita belajar dari Desa Patemon dalam mengatasi kekeringan/kekurangan air di daerahnya dengan membuat biopori, sumur resapan, atau semacamnya. Program pembuatan biopori dan sumur resapan tersebut pelaksanaannya dikuatkan dengan Peraturan Desa atau Perdes  No. 3 tahun 2015 tentang Tata Kelola Sumber Daya Air sehingga semakin mengikat warga. Dalam Perdes ditetapkan bahwa setiap warga yang memiliki atau mendirikan bangunan wajib membangun sumur resapan secara swadaya. Bahkan, perusahaan yang mendirikan pabrik di Patemon juga wajib membuat sumur resapan dengan volume 20 meter kubik. Hasilnya, sejak 2014 warga Desa Patemon tak lagi mengalami kelangkaan air.
Krisis Air Semakin Menggila, Saatnya Berbenah
Pemanasan global (Sumber: Ideanation)
 
8.    Menjalankan pembangunan yang berwawasan lingkungan, termasuk terhadap industri properti.
Properti yang ada dewasa ini banyak yang kurang memperhatikan lingkungan. Misalnya di Amuntai, di kanan-kiri jalan bukit-bukit digali, diambil tanahnya untuk menimbun rawa di pinggir jalan. Rumah-rumah panggung itu sudah berubah menjadi rumah “modern” (landed house), tidak memanfaatkan arsitektur asli yang berupa rumah panggung. Sehingga daerah sana menjadi sering banjir.
Ada juga praktek lain berupa land clearing (cut & fill), mengabaikan kontur asli daerah tersebut. Padahal, banyak properti-properti yang memanfaatkan kontur dan pepohonan alami yang malah bernilai sangat tinggi. Belum selesai sampai di situ, setelah “meratakan”, pengembang akan mulai membangun infrastruktur. Dengan cara menutup dengan semen, beton, atau aspal, sehingga tiada lagi resapan air. Jika pengembang membangung cluster rumah seluas 5.000 meter saja, maka setidaknya dia telah menutup resapan air seluas 4.000 meter atau lebih. Ketiadaan area resapan air tanah ini menyebabkan tidak ada lagi proses infiltrasi. Yaitu perjalanan air ke dalam tanah sebagai akibat gaya kapiler (gerakan air ke arah lateral) dan gravitasi (gerakan ke arah vertikal). Air yang meresap ke dalam tanah sebagian akan tertahan oleh partikel-partikel tanah dan menguap kembali ke atmosfer, sebagian lagi diserap oleh tumbuhan dan yang lain akan terus meresap di bawah permukaan bumi hingga zona yang terisi air yaitu zona saturasi.
Air yang meresap melalui pori-pori tanah kemudian tersimpan di bawah permukaan bumi yang impermeabel (tak dapat ditembus oleh air) sehingga disebut air tanah.
Hal ini menyebabkan pada musim kemarau daerah tersebut kekurangan air, sedangkan pada musim penghujan terjadi banjir.
9. Mewajibkan semua industi untuk menerapkan nol limbah (zero waste),
10. Menegakkan aturan-aturan yang selama ini sudah ada, baik, dan tepat,

Krisis Air Semakin Menggila, Saatnya Berbenah
Air bekas tambang batu bara (Dok. Theresia Jari/Jatam Kaltim dalam Tribunnews)

11. Mewaspadai dan segera menangani pencemaran air, kerusakan air, atau pemborosan air dalam jumlah besar, yang berasal dari:
a.       Bekas tambang,
b.      Limbah deterjen dan pupuk/bahan-bahan kimia pertanian/limbah-limbah perikanan karamba,
c.       Limbah-limbah minyak atau bahan-bahan lain yang sulit terurai,
d.      Kebocoran air pada pipa-pipa PDAM,
e.       Ancaman bahaya alami maupun buatan semacam kasus Lumpur Lapindo Sidoarjo,
f.       Kolam renang-kolam renang wahana wisata air, industri pariwisata termasuk perhotelan, mal, apartemen, dan hal-hal semacamnya yang kurang penting/sekadar hiburan.
Hasil riset dari Eko Teguh Paripurno, Peneliti Penanggulangan Bencana dari Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta, menegaskan bahwa pembangunan hotel, mal, dan sejenisnya di Yogyakarta rentan memicu krisis air. Contohnya adalah
pembangunan Fave Hotel di Miliran dan Hotel 1O1 di Gowongan yang berdampak pada mengeringnya air sumur warga.
Bali, sebagai salah satu ikon wisata terkenal di Indonesia juga tak luput dari dampaknya. Dr. Stroma Cole, dosen senior Geography and Environmental Management University of The West of England bahkan telah meramalkan krisis air di Bali akan terjadi pada 2020-2025, jika tak ada aksi nyata dalam penyadaran, konservasi, dan koordinasi kebijakan. “Tourism in Bali is killing people,” paparnya, Selasa (14/4/15).

12. Mensosialisasikan dan menerapkan kebiasaan hemat air/bijak dalam mengelola dan memanfaatkan air,
13. Jangan menurunkan kebutuhan air pada tanaman, karena andai tanaman tersebut kita konsumsi buahnya, maka kandungan air pada buah tersebut juga akan berkurang/rendah,
14.    Carilah suatu teknologi/buatlah inovasi tentang penghematan air pada benda-benda mati saja,
15. Jangan mengencingi air yang tidak mengalir, jangan pula melakukan pencemaran dalam bentuk lain,
16. Carilah cara untuk mencegah dan mengatasi pencemaran dan pemborosan air, lalu sosialisasikan pada para pelakunya, misalnya limbah-limbah industri batik atau lainnya.

Situasi sudah semakin kritis, masihkah kita tak mau peduli? Kalau tidak diperbaiki sejak sekarang, kapan lagi? Jangan sampai terlambat dan menyesal?



Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini (beri link artikel persyaratan ini) 


Sumber:
https://tekno.tempo.co/read/1071944/hari-air-sedunia-2018-ini-12-fakta-mencengangkan-soal-air/full&view=ok
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/09/10/jumlah-penduduk-dunia-pada-2019-capai-77-miliar-jiwa
https://www.merdeka.com/peristiwa/dampak-covid-19-kebun-binatang-bandung-akan-potong-rusa-untuk-makanan-macan.html
http://www.beritalingkungan.com/2020/03/cerita-dari-desa-patemon-tak-biarkan.html
Http://masyarakattanpariba.com/mtr/bisnis-syariah-bukan-sekedar-tanpa-riba/
https://tirto.id/ironi-sleman-warga-krisis-air-di-tengah-geliat-bisnis-hotel-mal-ep4w
https://www.mongabay.co.id/2015/04/15/bali-terancam-krisis-air-mengapa/
https://tekno.tempo.co/read/1275398/sebagian-indonesia-masih-mengalami-kekeringan-hingga-november
Batmanghelidj, F, M.D. 2007. Air untuk Menjaga Kesehatan dan Menyembuhkan Penyakit. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.