20 Maret 2019

Menjadi Miliuner Akhirat dengan Latte Factor


Dengan Latte Factor Semua Orang Bisa Menjadi Miliuner Akhirat 

Menjadi Miliuner Akhirat dengan Latte Factor

Suatu hari, pada saat seminar kekayaan oleh David Bach berlangsung, seorang wanita bertanya. “Bagaimana saya bisa mengikuti saran Anda sementara saya tidak memiliki uang lebih untuk digunakan sebagai simpanan?” Lalu mulailah David Bach meneliti keseharian wanita tersebut. Diinterogasinya wanita itu dengan beberapa pertanyaan, hingga akhirnya ditemukanlah latte factor ini.

Yang dimaksud latte factor adalah kebiasaan wanita tersebut untuk mengkonsumsi latte pada waktu istirahat kerja. Kantornya memberlakukan dua kali istirahat, yaitu pada pukul sepuluh pagi dan pada jam makan siang. Pada saat minum latte tersebut biasanya ia juga membeli camilan. Dalam pandangan David Bach, keduanya adalah faktor pengeluaran yang bisa dipangkas. Apalagi, wanita itu sudah menjadikannya sebagai rutinitas. Jika kebiasaan tersebut dialihkan, maka ia bisa memiliki beberapa uang sebagai simpanan. Nah, uang untuk simpanan ini disisihkan secara rutin, sehingga dalam waktu sepuluh tahun misalnya, ia sudah mencapai jumlah yang berarti.

Di dalam buku The Automatic Millionaire, David Bach mengajarkan bahwa untuk menjadi kaya tidak dengan cara menambah pendapatan, tetapi dengan mengelolanya secara benar. Salah satu cara yang diajarkan adalah dengan latte factor tadi. Meskipun namanya latte, Anda bisa menggantinya dengan yang lain, rokok misalnya. Jadi, dengan berhenti merokok, uang rokok tadi dapat disimpan, sehingga akan menjadi sumber kekayaan Anda nantinya.

Semudah itu, dan akan semakin mudah jika yang akan Anda bangun adalah kekayaan atau kesejahteraan di akhirat. Tinggal diubah alokasinya saja, yang tadinya simpanannya untuk urusan dunia, sekarang untuk akhirat. Mengapa saya katakan mudah? Karena satu sedekah saja berpotensi untuk dilipatgandakan pahalanya hingga tujuh ratus kali lipat. 

Oh ya, latte factor ini tidak mensyaratkan jumlah uang yang banyak. Ia hanya membutuhkan istiqamah atau rutinitas di dalam pelaksanaannya. Penerapannya cukup mudah, Anda hanya harus menyisihkannya di awal, tidak di akhir. Inilah harta Anda yang sebenarnya, dan harus Anda perjuangkan. Untuk mengingatkan, harta kita yang sesungguhnya adalah apa yang kita makan kemudian habis, apa yang kita pakai kemudian usang/rusak, dan apa yang kita sedekahkan. 

Menjadi Miliuner Akhirat dengan Latte Factor

Jika Anda bukan penikmat latte atau kopi, lalu apa latte factor Anda? Pertama-tama, mulailah dengan mendefinisikan latte factor Anda. Periksa pengeluaran apa yang kira-kira bisa dipangkas. Mungkin Anda bisa berhenti merokok. Mungkin Anda bisa mengganti  makan siang Anda dengan membawa bekal sendiri dari rumah. Mungkin Anda bisa mengurangi atau mengganti camilan Anda dengan yang lebih murah. Mungkin Anda bisa mengurangi pergi makan-makan atau travelling dengan teman. Atau mungkin Anda bisa menghemat pengeluaran listrik dengan mengganti lampu rumah dengan lampu hemat energi. Selain itu, Anda juga bisa mengubah kebiasaan tidur dari yang tadinya tidur dengan lampu menyala menjadi tidur dengan lampu dimatikan. Bagi Anda yang tadinya naik kendaraan umum, bisa juga dengan mulai membeli motor dan naik motor sendiri. Banyak sekali cara yang bisa dilakukan. Meskipun pola-pola penghematan atau anggaran yang dipangkas mungkin berbeda-beda antara orang yang satu dengan lainnya, tidak apa-apa. Yang penting Anda bisa menyisihkan uang. Penghematan seribu rupiah per hari pun tidak apa-apa. Seadanya saja. Tapi ingat, tidak boleh diotak-atik untuk keperluan lain.

Menjadi Miliuner Akhirat dengan Latte Factor

Sekarang mari kita hitung. Andai Anda hanya bisa menyisihkan seribu rupiah per hari, maka dalam sebulan uang Anda sudah menjadi 30 ribu rupiah. Dalam setahun menjadi 360 ribu rupiah. Dalam 10 tahun akan menjadi 3,6 juta rupiah. Nah, misalkan Anda mendapat pahala dari Allah sebanyak 700 kali lipat, maka uang Anda di akhirat sudah menjadi 2.520.000.000. Sudah menjadi miliuner akhirat, bukan? 

Itu jika Anda hanya mampu menyisihkan 1000 rupiah per hari. Anda harus lebih bersemangat menambahnya jika mampu, karena itulah harta Anda yang sebenarnya. Selain itu, Anda juga harus meningkatkan keikhlasan agar pahala dari Allah bisa menjadi maksimal.
Untuk teknisnya, Anda bisa mendonasikan uang Anda tiap bulan misalnya. Jika per hari Anda mampu menyisihkan 1000 rupiah, maka tiap bulan Anda bisa menyumbang 30 ribu rupiah. 


Dompet Dhuafa, Tempat Amanah Penyalur Dana Sosial Anda

Menjadi Miliuner Akhirat dengan Latte Factor
Dompet Dhuafa membantu korban banjir dan tanah longsor di Gowa, Sulsel

Setelah mengenal latte factor, sekarang Anda telah mengetahui cara menghimpun kekayaan. Anda tentu tidak ingin bukan pemberian Anda jatuh ke tangan yang salah? Oleh karena itu, salurkan saja pada Dompet Dhuafa

Dompet Dhuafa adalah akun resmi lembaga sosial kemanusiaan kaum dhuafa dengan dana zakat, infak, sedekah dan wakaf. Yayasan Dompet Dhuafa Republika berdiri pada 4 September 1994. Kemudian pada 10 Oktober 2001, ia dikukuhkan sebagai Lembaga Zakat Nasional (Lembaga Amil Zakat) oleh Departemen Agama RI.




Menjadi Miliuner Akhirat dengan Latte Factor

 Jumlah penerima bantuan Dompet Dhuafa hingga Desember 2018


Peran Dompet Dhuafa sudah mencakup berbagai sektor. Bahkan, Indonesia dan dunia sudah merasakan manfaatnya. Lembaga ini tidak hanya membantu korban bencana alam, tetapi juga korban bencana kemanusiaan, membantu melestarikan lingkungan, memberdayakan para usahawan, dan sebagainya. Jadi, sudah tidak usah ragu untuk berdonasi di sini. 

Menjadi Miliuner Akhirat dengan Latte Factor
Dapur keliling Dompet Dhuafa untuk Palu, Donggala, dan Sigi

Selain itu, Dompet Dhuafa juga menyediakan berbagai kemudahan untuk berdonasi. Anda bisa menyalurkan donasi Anda melalui :
1. Kanal donasi online, yaitu melalui: donasi.dompetdhuafa.org
2.    Transfer bank
3.    Counter
4. Care visit (meninjau langsung lokasi program)
5.    Tanya jawab zakat
6.    Edukasi zakat
7.    Laporan donasi
8.    Go pay

Menjadi Miliuner Akhirat dengan Latte Factor

Menjadi Miliuner Akhirat dengan Latte Factor


Bagi yang tidak ingin repot atau takut lupa, Anda juga bisa langsung autodebet. Pokoknya, Dompet Dhuafa itu oke banget buat donatur. Sangat memanjakan donatur. Sedangkan bagi penerima, donasinya bisa sangat luas manfaatnya.

Bagaimana? Oke kan lembaga sosial kemanusiaan ini? Salurkan saja dana dari latte factor Anda ke sana. Insya Allah Anda tidak akan menyesal. 

Jangan takut berbagi! Berbagi tidak membuat miskin. Malahan, berbagi dapat membuat Anda berpotensi menjadi miliuner akhirat. 

Mari berlomba-lomba di dalam kebaikan dan takwa!



“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

26 Februari 2019

Kampanye Minim Isu Lingkungan, Ada Apa dengan Capres Kita?


Kampanye Minim Isu Lingkungan, Ada Apa dengan Capres Kita?

Tiga Masalah Terbesar Dunia di Masa Depan

Tiga masalah terbesar dunia di masa depan telah dirumuskan oleh Yuval Noah Harari, salah seorang dari 100 pemikir teratas dunia tahun 2018. Masalah tersebut adalah perang nuklir, perubahan iklim, dan gangguan teknologi. Berkaitan dengan itu, dia pun memberikan sebuah tantangan untuk para calon pemimpin di masa depan, mampukah menjawab 4 pertanyaan ini:
1.    Jika Anda terpilih, tindakan apa yang akan Anda ambil untuk mengurangi risiko perang nuklir?
2.    Tindakan apa yang akan Anda ambil untuk mengurangi risiko perubahan iklim?
3.  Tindakan apa yang akan Anda ambil untuk mengatur teknologi yang mengganggu seperti AI (kecerdasan artifisial/buatan) dan bioteknologi?
4.  Bagaimana Anda melihat dunia 2040? Apa skenario terburuk Anda, dan apa visi Anda untuk skenario terbaik?

Di antara kedua calon presiden, siapa yang telah menjawab keempat pertanyaan tersebut dengan baik? 

Setahu saya, sejauh ini tidak ada capres yang menyinggung tentang perang nuklir. Isu tentang lingkungan hidup hanya dibahas 25 kali oleh kubu Jokowi-Ma’ruf, dan 16 kali oleh kubu Prabowo-Sandi. Sedangkan masalah gangguan teknologi, meskipun Yuval juga menyinggung tentang hoaks, tetapi yang dimaksud lebih mengarah kepada AI, penjajahan/peretasan data, dan bioteknologi. Dalam hal hoaks, kubu Jokowi yang lebih memperhatikan, yaitu sebesar 75 kali dibahas, dibandingkan dengan kubu Prabowo yang hanya 10 kali. 

Kampanye Minim Isu Lingkungan, Ada Apa dengan Capres Kita?
 Grafik kampanye capres 2019 berdasarkan isu yang diangkat di media sosial

Lalu bagaimana dengan tahun 2040? Pada tahun tersebut Inggris dan Perancis sudah melarang mobil berbahan bakar bensin atau solar. Kendaraan harus sudah nol emisi. Hal itu disebabkan British Petroleum (BP) memperkirakan bahwa gas akan menyalip minyak sebagai sumber energi utama dunia, sedangkan IMF memprediksi mobil listrik akan mulai mendominasi pada tahun tersebut.

Di Indonesia sendiri, capres dengan nomer urut 2, telah meramalkan skenario terburuk bahwa Jakarta akan tenggelam pada 2025. Menurut Ilmuwan Prof. Wayan Suparta, hal itu bisa jadi benar, tapi hanya akan menimpa Jakarta Utara. Itupun jika kecepatan penurunan tanah mencapai 20 hingga 25 sentimeter per tahun ditambah penggunaan air tanah yang berlebihan. Lucunya, tak diketahui dengan pasti apa tindakan konkretnya selain seperti hanya menebarkan teror (ketakutan). Bisa dilihat bukan, grafik menunjukkan isu lingkungan hanya diusung 16 kali oleh kubu Prabowo. Selain itu, dia juga tidak menunjukkan apa skenario terbaik dari pemerintahannya pada Indonesia di masa mendatang.

Berbeda dengan paslon 2, paslon 1, lebih memfokuskan pada skenario terbaik. Jokowi menyatakan, ekonomi Indonesia akan menjadi terbesar ke-4 di dunia pada 2040-2045. Pernyataan ini tanpa dibarengi dengan apa skenario terburuk yang bisa terjadi, sehingga terkesan over optimis. 

Lebih jauh mengenai isu lingkungan, terutama perubahan iklim akan dijelaskan sebagai berikut.


Isu Lingkungan dan Perubahan Iklim

Sebagaimana pernyataan Yuval Noah Harari, isu lingkungan hidup terutama mengenai perubahan iklim sangat penting bagi masa depan. Masalah ini benar-benar serius. Laporan baru utama dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), dirilis di Korea pada 8 Oktober 2018, menyatakan “Suhu global rata-rata sekarang 1.0 °C di atas tingkat pra-industri. Peningkatan itu sudah menyebabkan cuaca yang lebih ekstrem, naiknya permukaan laut, dan berkurangnya es laut Kutub Utara, dan merusak ekosistem daratan dan laut yang tak terhitung jumlahnya. Peningkatan 1,5° C, kemungkinan pada tahun 2040, akan memperburuk keadaan. Peningkatan 2,0° C akan jauh lebih buruk dari itu. Hanya perubahan sosial-ekonomi dan politik-diplomatik radikal yang dapat menghentikan bencana. Para ilmuwan iklim terkemuka di dunia telah memperingatkan bahwa hanya selusin tahun yang tersisa untuk pemanasan global yang dijaga agar tetap maksimal 1,5C. Di luar itu, efek yang tidak dapat dibalikkan akan mulai bergerak: bahkan setengah derajat akan secara signifikan memperburuk risiko kekeringan, banjir, panas ekstrem, dan kemiskinan bagi ratusan juta orang.”

Di Indonesia sendiri, kita masih memiliki banyak PR mengenai isu lingkungan. Misalnya terkait dengan degradasi hutan karena ekspansi perkebunan, izin pertambangan dan illegal logging, konflik tenurial, krisis tata ruang, bencana ekologis, reklamasi, sampah plastik, dan pencemaran udara.

Kampanye Minim Isu Lingkungan, Ada Apa dengan Capres Kita?
Visi dan misi paslon 1

Kampanye Minim Isu Lingkungan, Ada Apa dengan Capres Kita?

Visi dan misi paslon 2

Jika merujuk pada visi dan misi dari kedua pasangan calon presiden, isu lingkungan sudah termuat di dalamnya. Pada paslon 1 terdapat pada poin ke-4, sedangkan paslon 2 terdapat pada poin ke-1. Bahkan, secara khusus, Prabowo sebagai capres nomer urut ke-2 juga memberikan beberapa janji yang terkait dengan lingkungan, misalnya membangun kemandirian dalam hal pangan, energi, dan air; serta mendisiplinkan perusahaan besar untuk menghadapi masalah lingkungan (Sains.kompas.com, 18/02/2019). Meskipun, di dalam janji-janjinya masih terdapat banyak keganjilan, misalnya janji untuk memanfaatkan kelapa sawit menjadi biofuel dan biodiesel (kubu paslon 1 pun memberikan janji serupa tentang biodiesel kelapa sawit). Padahal, selama ini perkebunan kelapa sawit masih mendatangkan isu lingkungan hidup yang besar. Selain itu, program Prabowo-Sandi tentang pertambangan yang ramah lingkungan disikapi skeptis oleh Ketua Tim Adhoc Politik Keadilan Ekologis, Khalisah Khalid. Bagi Khalisah, hal itu hanyalah mitos.

Seperti tampak pada grafik sebelumnya, faktanya kedua paslon lebih mengutamakan isu ekonomi dan demokrasi di dalam kampanyenya ketimbang isu lingkungan hidup. Perbandingannya sangat jauh. Jika pada paslon 1 ekonomi disinggung 293 kali dan demokrasi disinggung 341 kali, lingkungan hidup hanya disinggung sebanyak 25 kali. Sedangkan pada paslon 2 ekonomi disinggung 394 kali, demokrasi disinggung 365 kali, dan lingkungan hidup hanya disinggung sebanyak 16 kali.



Video debat calon presiden 2019

Pada debat calon presiden tentang lingkungan hidup, masalah lingkungan juga saya pandang kurang dibahas mendalam. Bahkan, pernyataan-pernyataan Jokowi di dalamnya banyak menuai protes dari masyarakat, karena menganggapnya tidak benar. Kebakaran hutan masih terjadi di mana-mana pada periode yang dimaksud (3 tahun terakhir). 

Komentar para netizen di Instagram atas pernyataan Jokowi saat debat isu lingkungan

Masalah lain juga dijumpai pada tidak selarasnya instruksi Jokowi dengan para pembantu di kabinet dalam hal lingkungan hidup, seperti pada kasus Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. Jokowi sudah menandatangani Inpres No.8 Tahun 2018 tentang moratorium izin perkebunan sawit. Tapi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) justru menerbitkan Surat Keputusan (SK) yang mengizinkan pelepasan area hutan produksi seluas lebih dari 9.000 hektar menjadi kebun sawit.

Pada intinya, masih terdapat banyak “lubang” di dalam visi misi ataupun program-program dari kedua calon. Diperlukan adanya kajian dan perbaikan lebih lanjut agar hasilnya lebih memuaskan. Karena bagaimanapun juga pertumbuhan ekonomi yang mengesampingkan kelestarian alam justru mengakibatkan bencana alam yang akan menjauhkan masyarakat dari kata sejahtera. Alih-alih sejahtera, ia malah akan menimbulkan kesengsaraan. Jangan lupakan pula bahwa kolapsnya Pulau Jawa dan pulau-pulau besar lainnya justru disebabkan oleh laju investasi yang tak terkendali sehingga menyebabkan kerusakan alam.

Namun, pertanyaan yang kemudian muncul adalah bisakah keduanya — pertumbuhan ekonomi dan isu lingkungan — berjalan seimbang? Ataukah hanya teori? Menurut Yuval Noah Harari tidak bisa. Di dalam bukunya 21 Lessons for the 21st Century ia menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak akan bisa menyelamatkan ekosistem global atau memecahkan gangguan teknologi. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi akan menyebabkan krisis ekologi.

Bagaimana dengan pendapat Anda? Setujukah dengan Yuval Noah Harari? Atau apakah Anda memiliki win-win solution atas masalah-masalah ini? Bagaimana agar hal itu tidak terjadi?


Sumber:

25 Februari 2019

Cyber Hoax, Alat Perang yang Dahsyat, Efektif, dan Efisien


Upaya Penjajahan terhadap Indonesia pada Zaman Dahulu

Penjajahan di Indonesia
Sumber: Galena.co.id

Jika membuka kembali lembaran-lembaran sejarah, kita akan menemukan berkali-kali bangsa lain berusaha menjajah Indonesia. Tidak hanya bangsa Eropa, juga ada bangsa Asia. Tercatat setidaknya Portugis, Spanyol, Inggris, Perancis, Belanda, dan Jepang pernah berusaha menguasai negeri ini. Mereka datang dengan motif 3G, yaitu Gold (kekayaan dan keuntungan), Gospel (menyebarkan agama), dan Glory (kejayaan, superioritas, dan kekuasaan). Di antara semuanya, konon yang terlama adalah Belanda. Bangsa kulit putih ini berusaha menjajah Indonesia hingga sekitar 3,5 abad lamanya. Lama, bukan?

Terlepas dari perbedaan pendapat apakah bangsa Indonesia sudah dijajah ataukah baru berusaha dijajah, serta apakah Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun, 126 tahun, ataukah hanya 4 tahun. Poin penting di sini adalah peristiwa-peristiwa tersebut membutuhkan waktu yang sangat lama. Selain membutuhkan waktu yang lama, upaya penjajahan itu juga banyak membuang tenaga dan biaya. Serta, jangan lupakan pula banyaknya jatuh korban jiwa. Sebagai gambaran kecil, pada Perang Diponegoro (Perang Jawa) misalnya, telah memakan korban 200 ribu orang dari pihak Diponegoro dan sekitar 10 ribu orang dari pihak Belanda. Sedangkan kerugian materi di pihak Belanda sebesar 20 juta gulden. Itu baru satu perang, dan perang tersebut terjadi selama 5 tahun (1825-1830). 

Tak bisa dipungkiri bahwa perang selalu membutuhkan persiapan-persiapan. Entah itu berupa jumlah pasukan, kekuatan pasukan, alat-alat dan strategi perang yang digunakan, biaya-biaya, maupun lainnya. Di dalam perang dengan Belanda, terdapat suatu strategi mereka yang terkenal, yaitu politik devide et impera (politik adu domba). Dengan politik ini Belanda cukup berhasil memecah belah persatuan di nusantara, yang pada waktu itu masih terdiri atas kerajaan-kerajaan.


Hoax sebagai Alat Perang dan Adu Domba

Cyber Hoax, Alat Perang yang Dahsyat, Efektif, dan Efisien
Sumber: rmolbanten.com

Hoax (berita bohong/palsu) merupakan salah satu alat perang dan adu domba juga. Hoax sudah ada sejak zaman dahulu, walaupun masih secara manual/real/tidak melalui internet. Bahkan, hoax telah berhasil menyebabkan perang dunia ke dua, konflik Suriah, perang saudara di Timur Tengah, penggulingan rezim Khadaffi, dan masih banyak lagi. Bahayanya sangat dahsyat dan mengerikan.

Bagaimana dengan saat ini? Seiring dengan perkembangan teknologi, hoaks pun merambah melalui dunia maya. Setelah menjadi cyber hoax, kecepatannya semakin meningkat, kerusakan pun semakin meningkat, sedangkan tenaga dan biaya bisa ditekan. Bahkan, cyber hoax ini bisa dilakukan hanya oleh 1 orang. Artinya, dengan satu orang membuat dan menyebarkan hoaks melalui dunia maya, bisa menimbulkan perang. Dua pihak atau lebih bisa diadu domba dengan mudah, sekaligus dilenyapkan. Sementara itu, oknum-oknum di belakang hoaks ini (di balik layar) bisa tetap “bersih” atau malah “cuci tangan”. Mereka tidak selalu bisa ditemukan.

Yuval Noah Harari di dalam bukunya 21 Lessons for the 21st Century mengatakan, algoritma big data mampu menyebabkan kediktatoran digital, yang mana semua kekuatan akan terkonsentrasi pada sekelompok kecil elit, yang menyebabkan mayoritas orang menderita karena irelevansi/ketidakrelevanan. 

Dengan kata lain, jika penguasa media/sekelompok elit tadi menyebarkan hoaks atau semacamnya, itu lebih mudah bagi mereka. Di tengah derasnya arus informasi digital, dan kebebasan masyarakat dalam menulis dan mencari informasi melalui dunia maya, membedakan mana yang hoaks dan tidak itu susah. Begitupun menanggulangi bahayanya. Ketika satu orang saja termakan oleh hoaks, lalu menggerakkan massa, maka musibah pun terjadi.

Di Indonesia sendiri, hoaks semakin gencar bermunculan saat masa kampanye/menjelang pemilu. Untuk pemilu 2019 ini, hoaks yang muncul terutama berupa cyber hoax. Hoaks yang tersebar tersebut terutama terkait dengan pemilu itu sendiri dan kandidat-kandidatnya (capres dan cawapresnya). Sudah lama pemilu di negara ini rusuh dan diwarnai hal-hal semacam itu. Kita tentu ingin hal itu berakhir. Setiap pemilu akan berlangsung damai. Tak ada kerusuhan atau pertengkaran antar kubu/paslon. Tak ada saling nyinyir, saling menjelekkan, apalagi saling menebar hoaks. Karena bagaimanapun juga, pemilu serta kepercayaan terhadap capres, cawapres, dan para caleg sangat penting bagi keberlanjutan pembangunan nasional di Indonesia. 

Mengingat betapa besar bahaya hoaks ini, kita harus bersatu untuk melawannya. Telitilah setiap informasi yang datang demi menjaga dan mempertahankan persatuan dan kedamaian di negeri ini. 

Stop membuat dan menyebar hoaks! Cerdaslah mencerna berita!




Sumber: 
https://www.brilio.net/serius/indonesia-dijajah-belanda-selama-350-126-atau-cuma-4-tahun-ya-1708167.html#
http://bangka.tribunnews.com/2018/01/11/kisah-pangeran-diponegoro-gunakan-senjata-biologis-banyak-prajurit-belanda-tewas?page=all
https://kerisnews.com/2017/11/25/perang-diponegoro-yang-membangkrutkan-kolonial/