27 September 2022

Review Buku "Bold"

"Bold," 212 Charisma & Small Talk Tips to Engage, Charm & Leave a Lasting Impression

Penulis: Irvin Finau

Bold / Charisma

Buku "Bold" ini mengingatkanku akan Dale Carnegie dan bukunya "How to win friends and influence people" (yang rencana mau kubaca) dan Carnegie lain yaitu Andrew Carnegie yang pernah disinggung oleh Napoleon Hill dalam bukunya "Think and grow rich." Bahasan tentang karismanya itu yang mengingatkanku pada duo Carnegie ini, yang sepertinya sama-sama karismatik orangnya.


Kamu yang sering ngikuti review di blogku mungkin udah bisa nebak kalau salah satu yang membuatku tertarik adalah covernya. Ceria dan komposisinya enak dilihat. Meski jumlah halamannya juga banyak seperti "How to win friends and influence people" kenapa aku baca "Bold" duluan karena lebih ringan dibaca. Wong tulisannya itu pendek-pendek, nggak nyampe 1 halaman, trus ada quote-quote, dan ada beberapa bagian yang berwarna. Aku nggak ngira lho isinya gini, kirain kayak buku-buku lain pada umumnya. Di satu sisi kayak usaha buat nebel-nebelin halaman (dan kayaknya nyaris mustahil penerbit di Indonesia nerbitin dalam bentuk banyak ruang yang kosong seperti ini), tapi di sisi lain bikin lebih ringan dan enak dibaca (dan lebih mahal tentunya).


Kalau baca judulnya, aku agak ngerasa ganjil, bold dan karisma, hubungannya apa? Di buku-buku lain biasanya dibedain pembahasannya. Bold biasanya gandengannya buku asertif, bukan buku karisma. Dan memang di buku "Bold" ini, sesuatu yang tegas/berani hanya terdapat pada halaman 99, 125, dan 177. Pada beberapa sisanya malah seperti people pleaser atau bertentangan dengan judul "Bold" itu sendiri. Penulis seperti berasumsi bahwa semua orang itu baik, pengertian, dan tidak egois. Misalnya dalam hal tak boleh memotong pembicaraan, iya kalau lawan bicara mau bicara gantian, kalau kita nggak diberi kesempatan ngomong? Kalau kita ada urusan dan dia nggak selesai-selesai ngomong? Kalau ngomongnya terlalu nggak baik, nggak penting, atau terlalu cepat dan beruntun? Itu menurutku situasional banget dan nggak bisa disikapi sama. Malahan, buku-buku tentang asertif, manajemen, habit, dan produktivitas biasa mengajarkan yang sebaliknya. Dengan kata lain, judul "Bold" tidak sesuai untuk buku ini.


Ternyata, "Bold" ini adalah buku tentang etiket/etika/tata krama/sopan santun/manner. Isinya tentang cara berperilaku, yaitu menjadi orang yang baik, sopan, menyenangkan, positif, dan perhatian penuh pada lawan bicara maupun orang lain, termasuk kedisiplinan juga. Jadi orang yang nggak nyebelin gitu deh. Yang diajarkan itu misalnya jangan mer*kok kecuali izin dulu (dan semua orang sekitar mengizinkan), jangan tanya makanannya apa sebelum kamu menerima undangan makan malam (eh ini pernah kejadian lho ada orang yang gini ke kami, nanya makanan gitu. Kaget banget cz dia satu-satunya), serta jangan tanya umur, gaji, dan status pernikahan. Kalau gaji sih aku memang ga suka ditanya-tanya, kalau yang lain ya tergantung konteks, tone, dan caranya. Lebih baik ditanya status pernikahan daripada langsung dipanggil "Bu" atau ditanya "Anaknya sudah berapa?" That's annoying. 


Buku "Bold" ini terdiri dari 4 bagian:

Part one: from hermit to sociable

Part two: from sociable to popular

Part three: from popular to socialite

Part four: charisma attained


Tapi sebenarnya part-nya cuma 3 sih ya karena part 4 cuma 1 halaman dan lebih bersifat penjelas atau anjuran untuk melatih dan mempraktekkan part sebelumnya aja sih.


Dan hasil akhirnya adalah ... jreng jreng jreng ... BAGUUUS. Aku merekomendasikan buku "Bold" ini. Lumayan buat pengingat akan hal-hal sederhana yang sering kita lupakan atau abaikan. 



25 September 2022

Review Buku "The Art of Letting Go"

"The Art of Letting Go"

Penulis: Rania Naim, dkk.


The art of letting go


"The art of letting go" ini adalah buku tentang seni untuk move on/melepaskan mantan. Dia berupa antologi yang ditulis oleh sekitar 15 penulis. Kenapa sekitar? Karena ada penulis yang menulis lebih dari 1 cerita. 


Jadi, formatnya itu berupa kisah nyata perjalanan cinta 15 orang penulis kemudian diberi kata-kata penghibur, penyemangat, dan pelajaran hidup yang bisa diambil. Macem-macem sih cerita mereka sebagai korban asmara yang gagal, perlakuan buruk mantan, atau sekadar tidak cocok dan harus ikhlas dan ridho intinya karena nggak ridho dan nggak ikhlas pun percuma dan nggak bisa ngubah apa-apa. Baca buku ini mungkin akan bikin kamu ngerasa di-pukpuk sama para penulis itu karena salah satu ceritanya mungkin mirip kamu. 


Buku "The art of letting go" ini ditutup dengan 1 bab yang berisi 20 quote agar bisa lebih menghibur dan menguatkanmu. Bikin kamu makin cepet move on. Maksimal seminggu aja berkabungnya gitu. Yang menarik, pada salah satu quote-nya ada nama Winna Efendi, yang sepertinya orang Indonesia. Selama aku baca buku-buku bule, hanya beberapa yang mengandung nama orang Indonesia dan buku ini salah satunya.


Catatanku cuma satu, 21 tulisan di dalamnya ini nggak semuanya berupa kisah, ada yang  berisi pelajaran hidup atau nasehatnya aja. Nggak konsisten sih tapi nggak ngerusak keseluruhan format/isinya. Dan aku lebih suka kalau covernya diperbaiki. Gitu aja.


Btw, aku ketipu sih sebenernya sama judul buku ini cz aku nyarinya yang letting go untuk non mantan, yang bukan cinta-cintaan. Apa aja pokoknya selain mantan. Kupikir letting go untuk umum, bukan khusus (bahas mantan doang). Ketika aku tahunya ini tentang mantan pacar, hanya sedikit yang bisa kuambil. Selain itu, buku ini juga mengingatkanku akan buku antologi pertamaku dulu yang bertema sama, yang judulnya "Kulepaskan kau dari hatiku." 


Buat yang lagi galau karena susah move on ya nggak papa lah baca buku "The art of letting go" ini. Siapa tahu kamu akan lebih cepat bangkitnya dan jadi semangat lagi.

Review Buku "The Ultimate Focus Strategy"

Review Buku "The Ultimate Focus Strategy," how to set the right goals, develop powerful focus, stick to the process, and achieve success.

Penulis: Martin Meadows

The ultimate focus strategy

Ultimate Focus Strategy yang diajarkan di dalam buku ini ditujukan untuk kelompok selain orang yang sudah hampir mencapai tujuannya, orang yang ingin hasil instan, dan orang yang tidak yakin dengan dirinya sendiri. Terdapat 4 komponen Ultimate Focus Strategy yang masing-masingnya kemudian diuraikan ke dalam 1 bab terpisah. Di dalamnya tercakup bahasan mengenai cara menetapkan tujuan (goal setting), motivasi, cara memilih jalan untuk mencapai tujuan, cara mensinergikan tujuan, dan lain-lain. Pada setiap akhir bab kemudian penulis menutupnya dengan ringkasan.


Buku ini sangat kaya dan padat dan akan memberimu banyak insight. Penulis memberimu panduan untuk memutuskan segala sesuatu terkait tujuan dan perwujudan tujuan itu dengan baik, yang akan sangat memudahkanmu untuk memilih. Isinya berat, tetapi disampaikan dengan bahasa yang luwes. Andaikan layout serta ukuran dan jenis font serta spasinya lebih diperhatikan, keterbacaannya akan menjadi lebih baik dan lebih nyaman. 


Perubahan cover menjadi lebih menarik juga akan menjadi pelengkap yang manis. Apalagi, karena buku ini berseri, maksudnya buku-buku yang dihasilkan oleh penulis ini gini semua model covernya. Kuning suram gini dengan desain yang kurang menarik juga. Sayang banget, kan padahal isinya bagus.


Meskipun ada beberapa bagian di dalamnya yang tidak cocok denganku, buku ini bagus. Fleksibilitas penulis serta perhatiannya akan hubungan dan kesehatan patut diacungi jempol.

24 September 2022

Review Buku "Date ... or Soulmate?"

"Date ... or Soulmate," how to know if someone is worth pursuing in two dates or less

Penulis: Neil Clark Warren

Date ... or soulmate


Memenangkan dating game itu tidak mudah dan kamu tak boleh berlama-lama di dalamnya. Untuk itu, kamu butuh strategi khusus yang dijelaskan di dalam buku "Date ... or Soulmate" karya Neil Clark Warren ini. 

Langkahnya dimulai dari mengenali dirimu sendiri dan membuat daftar 10 hal yang tidak boleh ada pada calon dan 10 hal yang harus ada pada calon berdasarkan pengenalanmu atas dirimu sendiri. Di sini, penulis membimbing kamu dengan memberi contoh 50 daftar populer yang harus ada pada calon dan 50 daftar yang tidak boleh ada, beserta pengaruh-pengaruhnya dalam hubungan nantinya. Tak lupa penulis juga mengajarkan cara membaca calon semudah membaca buku, memilih calon yang layak mendapatkan kompromi kriteria dari kita, mempertimbangkan perbedaan-perbedaan yang tak boleh diabaikan, serta membuat keputusan yang cepat dan tepat.

Buku "Date ... or Soulmate" ini lebih detail/kompleks daripada buku "Finding your perfect match" kemarin dan menyinggung sedikit mengenai aspek kesehatan mental. Selain itu, keduanya sama-sama berhubungan dengan dating site/situs kencan online. Jika "Finding your perfect match" itu berhubungan dengan perfectmatch.com, "Date ... or soulmate" ini berhubungan dengan eharmony. Persamaan lainnya adalah mereka sama-sama kompleks dan membingungkan seperti buku-buku tentang kriteria jodoh pada umumnya. Dalam arti, misalkan pada "Finding your perfect match" kriteria jodoh itu seakan-akan tertulis hanya 8, padahal banyak; sedangkan pada "Date ... or soulmate" kriteria jodohnya itu seolah-olah hanya 20, padahal lebih banyak dari itu. Jadi, masalah jodoh itu tak pernah sederhana. Susah untuk menetapkan berapa sebenarnya kriteria totalnya, yang jelas banyak, baik itu ditulis dengan detail di buku ataupun dalam bentuk tersamar/disuruh mencari sendiri. 

Buku "Date ... or soulmate" ini recommended untuk dibaca. Hanya saja, ada beberapa bagian yang kurang terstruktur dengan baik, misalnya pada bagian "How to read someone like a book" (bab 4) dan "How to make an accurate and early decision" (bab 10) itu susunannya nggak lancar jaya saat dibaca. Selain itu, sepertinya lebih cocok kalau bab 3, 5, 6, dan appendix 1 isinya didekatkan (bahasnya pada bab yang berurutan). 
Secara keseluruhan, masih terlalu acak sih menurutku, meloncat-loncat bahasan antar bab maupun dalam babnya. Trus untuk cara kompromi kriteria, menurutku 4 faktor yang dia ajukan nggak jaminan bikin calon tersebut bakal sukses/kaya nantinya. Masih berupa potensi yang gambling banget/seperti judi. Kalau dari sisi realistis yang ori-nya kamu, ajaran finansialnya lebih cocok pakai buku "Finding your perfect match."

Buat kamu suka yang lebih detail dan ada aspek kesehatan mentalnya, kamu bisa pilih buku "Date ... or soulmate" ini, tapi buat kamu yang suka aspek kriteria yang lebih sedikit/lebih simple kamu bisa pilih "Finding your perfect match."
Dua-duanya bagus kok, tapi aku beri sedikit catatan pada "Finding your perfect match" yang bisa kamu baca pada review-ku sebelumnya. 






23 September 2022

Review Buku "A Million Bucks by 30"

 "A Million Bucks by 30," how to overcome a crap job, stingy parents, and a useless degree to become a millionaire before (or after) turning thirty

Penulis: Alan Corey


Buku "A Million Bucks by 30" ini adalah buku biografi sekaligus inspirasi, motivasi, dan pengembangan diri. Isinya tentang proses perjuangan Alan Corey yang selepas kuliah itu ngerasa nggak jelas banget (hidupnya sangat berantakan dan tak tentu arah) hingga menjadi miliuner di usia 30 tahunan.


Itu perubahan yang fantastis, bukan? Berbekal goal-nya untuk menjadi milyuner di usia 30 tahun dia menerapkan pola hidup gratisan dan sehemat mungkin sambil tetep rajin mencari uang. Masalah pekerjaan, tempat tinggal, asmara, hiburan, sampai masalah kehidupan apa pun diatasi sama dia dengan kreatif dan strategik, dan kadang kurang baik (melakukan perbuatan buruk, walau sepertinya jarang banget). 


Membaca buku ini selain membuatku malu karena nggak sehemat dan sekeras dia, itu mengingatkanku akan buku (kalau nggak salah) The Millionaire Next Door dan perjuangan-perjuangan miliuner yang tidak berasal dari turunan/bukan warisan (kerja keras dulu). Mulai dari rajin ngumpulin kupon sampai lainnya. Hal itu mengingatkanku juga tentang cowok-cowok Indonesia yang bagiku banyak yang lemah dan suka banyak alasan trus suka nyalah-nyalahin cewek, mertua, ribet tentang siapa yang harus bayar kencan, sampai lainnya. Mereka, cowok-cowok itulah, yang sangat kuanjurkan baca buku ini, biar niru tentang mindsetnya, mentalnya, perjuangannya, strategik/kreatifnya, kegigihannya, dan lain-lain. 


Penulis menjabarkan semua proses penting hidupnya beserta tips-tips hidup se-gratisan mungkin seperti dia dan tetep bisa dapet sesuatu yang bagus, menghibur diri, punya pacar, dan lain-lain. 


Rasanya setiap dia ulang tahun itu hidupnya selalu semakin membaik secara signifikan. Merinding bacanya. 


Jadi, dengan kehidupan seketat dan sekeras dia, dia melejit jauh di depan teman-temannya dan akhirnya berhasil mencapai targetnya menjadi miliuner dan mulai menikmati hidup yang ringan dan enak.


Tapi, buku "A Million Bucks by 30" ini juga ada minusnya. Masih ada utang-utangnya dan memburu hal yang klise untuk menjadi miliuner yaitu bidang real estate dan saham. Dia sangat ambisius, risk taker banget, terencana, tapi tetep bisa kubilang nekat banget juga. Selain itu, nggak semua orang juga paham atau suka bidang real estate dan saham. Jadi, yang kusarankan sebagian dari buku ini aja.


Buku ini kurekomendasikan tetapi dengan beberapa catatan di atas untuk diperhatikan.

21 September 2022

Review Buku "Finding Your Perfect Match"

"Finding Your Perfect Match," 8 Keys to Finding Lasting Love through True Compatibility

Penulis: Pepper Schwartz

Finding your perfect match


"Finding Your Perfect Match" adalah buku tentang mencari pasangan yang cocok, terutama berdasarkan fitur duet Total Compatibility System yang digunakan oleh lebih dari 3 juta orang. Masih berhubungan dengan dating site Perfectmatch.com karena penulisnya, Pepper Schwartz adalah relationship advisor di sana.


Jadi, bisa dimaklumi ya kalau judul buku ini dan nama situs kencan online tersebut masih berhubungan. Meskipun, kata "perfect" ini berat banget dan tentunya perfect yang sebenarnya itu nggak ada. Tapi, judul dan sub judul ini marketable dan ramah mesin pencari.


Metode yang digunakan dalam pencarian jodoh di sini menggunakan duet Total Compatibility System, yaitu mencocokkan kamu dan calonmu berdasarkan 8 faktor utama. Pada 4 faktor penulis menganjurkan kamu nyari yang setara/sama, pada 4 faktor sisanya kamu lebih baik nyari yang berkebalikan, tetapi tidak ekstrim. Untuk mengetahui kamu termasuk yang mana dalam pengelompokan faktor tadi, kamu disuruh menjawab 7 soal dulu pada setiap awal bahasan dari 8 faktor tadi. Setelah itu, tiap pertanyaan/soal tadi diuraikan oleh penulis, berikut pembahasannya kalau kepribadianmu sama, beda, atau beda sangat ekstrim beserta masalah-masalah yang mungkin terjadi atau kompromi yang mungkin bisa dilakukan, kalau memungkinkan. Gitu terus sampai 8 faktor tadi dibahas semua. Jadi, ada 56 pertanyaan untuk kedelapan faktor ini.


Nah, seperti buku-buku relationship pada umumnya, pembahasan tentang kriteria jodoh itu tak pernah sederhana. Kalau kamu ngira kita cuma memfokuskan pada 8 faktor tadi, kamu salah. Buntutnya masih panjang di bagian belakang, yaitu isu-isu tentang cinta dan gaya hidup. Cuma 5 poin sih, tapi kalau dipraktekkan untuk nyari calon beneran ya lebih dari 5 plus nyari orang yang memenuhi 13 faktor ini aja uda menantang banget pastinya. Tidak mudah. Meski gitu, menurutku ini termasuk salah satu buku relationship ter-simple dibanding lainnya. 


Pada bagian terakhir atau bab 4 ditutup dengan bagaimana cara kamu mencari Perfect Match-mu tadi berdasarkan isi buku ini dan bagaimana mempertahankan hubungan kalian nantinya.


Secara umum bagus sih, tapi kuberi warning pada bagian romantic impulsivity. Ini sangat rawan/berpotensi menimbulkan bahaya besar karena apa yang dipandang penulis hanya sebatas perbedaan impulsivitas romansa, bisa jadi adalah narsis atau narsis trait (narcissist trait) yang sedang melakukan love bombing. Dan narsis ini sangat berbahaya dan akan membuatmu sangat menderita jika berhubungan dengan mereka. Semua narsis pendekatannya diawali dengan love bombing, jadi aku beri peringatan keras padamu untuk sangat berhati-hati dalam masalah ini. 


Kesimpulannya, buku "Finding Your Perfect Match" ini bagus tetapi mengandung peringatan keras seperti di atas.



07 September 2022

Review Buku "The Friendship Formula"

"The Friendship Formula," add great friends, subtract toxic people, and multiply your happiness

Penulis: Caroline Millington

The Friendship Formula

"The Friendship Formula" adalah buku tentang cara mencari teman, di mana mencari teman, menyeleksi teman, melalui dinamika-dinamika/perubahan-perubahan dan naik-turunnya kehidupan yang mempengaruhi pertemanan, sampai dengan cara memutuskan pertemanan.


Pertama aku suka karena covernya ceria. Isinya sendiri biasa saja, yang dibahas ya gitu-gitu aja seperti buku serupa. Malah, buku lain ada yang lebih bagus kalau bicara isi, di antaranya adalah buku tentang loneliness. Kalau buku ini kelebihannya adalah dia kecil/singkat, lumayan straight/to the point/ga terlalu bertele-tele, dan keterbacaannya enak. 


Selain itu, pada bagian awal itu sangat halus penulisannya. Sayangnya, itu ga bertahan lama. Makin ke belakang makin terasa emosional dan tidak teduh. Mulai dari pembahasan seleksi teman itu auranya udah nggak enak lagi. Penulis terlalu emosional terutama saat menulis bahasan tentang rasis, elgebete, dan childfr**. Tak kuketahui dengan pasti apakah dia elgebete juga atau hanya sahabatnya yang punya ortu elgebete. Yang jelas itu bikin nuansa tulisannya berubah nggak ramah dan aku juga nggak suka. Aku pengen buku yang ceria seperti covernya, yang halus seperti bagian awalnya, dan yang terpenting adalah aku bukan pro elgebete dan bukan pro childfr** ataupun pro friend with b*nefit, dan aku mungkin sama kerasnya dengan dia soal ini. Jadi, aku nggak suka buku ini terutama karena bertentangan dengan nilai-nilaiku.