29 Januari 2023

Review Buku "Impossible to Please"

Impossible to Please: how to deal with perfectionist coworkers, controlling spouses, and other incredibly critical people

Penulis: Neil J. Lavender dan Alan Cavaiola


Impossible to please


Dalam hidup, mungkin kamu pernah bertemu orang yang sepertinya nggak pernah puas atau cukup. Orang yang mustahil untuk disenangkan, yang biasanya disebut sebagai perfeksionis (perfectionist). Dan itulah yang dibahas di buku Impossible to please ini.


Perfeksionis itu apa? Perfeksionis adalah sesuatu yang masih bisa tergolong normal maupun tidak. Perfeksionis dan OCD (Obsessive Compulsive Disorder) itu berbeda. Perfeksionis dalam psikologi (yang merupakan disorder) dikenal dengan sebutan OCPD (Obsessive Compulsive Personality Disorder). Jadi, yang dibahas di buku ini adalah pribadi perfectionistic yang disorder/yang termasuk ke dalam OCPD. 


Ada sebuah perfectionis test sederhana di dalam buku Impossible to please ini yang bisa membantumu dalam mengkategorikan pribadi perfeksionis yang bagimu mengganggu itu termasuk jenis OCPD/perfeksionis tipe apa (variasi dan sub tipe apa).


Masing-masing varian dan sub tipe ini memberikan tantangan yang berbeda bagimu, ranahnya bisa berbeda, sehingga kadang membutuhkan penanganan yang berbeda.


Perfeksionis di dalam buku ini bukan sekadar orang yang mencari kesempurnaan, tetapi controlling perfectionist/perfeksionis pengendali. 


Kamu bisa menemukan penganut perfeksionisme dalam berbagai bentuk hubungan, baik itu hubungan keluarga, hubungan dengan pasangan/pacar, hubungan dengan atasan/bawahan/rekan kerja yang setara, maupun dengan orang lain seperti pemuka agama, orang yang bekerja di profesi tertentu, politisi, dan lain-lain. 


Buku Impossible to please ini akan memberimu berbagai alternatif solusi, mulai dari memperbaiki dirimu sendiri, solusi woles-wolesan (yang cenderung menghindar/flight), konfrontasi (fight), dan juga solusi lain. 


Bagusnya buku ini adalah sangat praktis, sistematis, dan detail sehingga kamu bisa mulai mencoba cara-cara yang penulis tawarkan di sini satu demi satu untuk mengatasi atau meminimalkan gangguan dari toksik jenis perfeksionis ini di hidupmu.


Kekurangannya, buku ini tidak konsisten dalam membahas definisi toksik maupun definisi perfeksionis yang dia bahas di sini. Kadang penulis bilang perfeksionis di sini hanya tentang perfeksionis controlling atau OCPD, kadang perfeksionis pada umumnya (seluruh perfeksionis). Dia memakai standar ganda dan ada isinya yang bias. Jangan hanya karena sesuatu itu nggak cocok/mengganggu bagi kliennya maka langsung dibilang perfeksionis yang toksik. Pada beberapa contoh kasus, bagiku kliennya yang salah/kekanakan. Ada juga bagian dari tengah dan akhir buku ini yang bertentangan.


So, bagiku buku Impossible to please ini abu-abu. Tapi tentang tipsnya itu bagus dan banyak banget. Kalau kamu sering baca buku psikologi/kesehatan mental kamu mungkin tahu kalau mayoritas buku serupa itu cenderung teoritis dan isinya seperti copas (maksudku mirip/nggak baru) dan nggak aplikatif. Kalaupun beda yah gitu-gitu aja (masih mirip/dekat hubungannya). Jadi, Impossible to please ini termasuk buku yang applicable/bisa banget buat praktek/diterapin sendiri. 

21 Januari 2023

Review Buku "The Decision Book"

The Decision Book: 50 models for strategic thinking

Penulis: Mikael Krogerus dan Roman Tsch├Ąppeler


The Decision Book

The Decision Book adalah buku tentang berpikir strategis/strategik. Judulnya memuat angka, jadi kupikir bakal berupa listicle/sistematis/to the point/nggak bertele-tele.


Dan memang iya, buku ini sangat sistematis. Bahkan, saking to the point-nya sampai-sampai susah dipahami karena contoh dan penjelasannya itu minim atau bahkan tidak ada. 


Ini buku berat. Isinya berupa 50 model cara berpikir strategis. Dari kelimapuluh model itu, ada yang sudah kukenal seperti analisis SWOT, prinsip Pareto, dan teori 6 topi de Bono sampai dengan yang baru kuketahui seperti The Rumsfeld Matrix, The Hersey-Blanchard model, dll. Juga dari yang non digital, yang seperti intuitif, sampai dengan yang digital. Selain itu, di sini juga ada The Long-Tail model sebagai tandingan/kebalikan dari prinsip Pareto.


Secara penerapan juga meluas, bisa untuk hubungan pribadi, cara individu dalam memilih, hubungan kerja, pemilihan dalam kelompok, memilih pasangan hidup/jodoh, dll.


50 model strategic thinking ini dibagi menjadi 5 bahasan utama, yaitu:

How to improve yourself

How to understand yourself better

How to understand others better

How to improve others

Now it's your turn


Pada tiap model tersebut diberi ilustrasi/gambar sederhana sebagai penjelas tapi terlalu kecil, tidak diberi penjelasan, dan masih susah dipahami.


The Decision Book ini menurutku lebih cocok sebagai pengingat. Jadi, kalau kamu sudah tahu dan paham model-model cara berpikir strategis ini, buku ini akan menjadi semacam kamusmu, mengumpulkan model-model tadi dalam satu wadah yang akan mudah kamu akses/gunakan kembali saat kamu butuhkan. Tinggal baca buku ini. 

Nggak cocok buat beginner/pemula/nyubi/yang baru tahu/orang-orang yang tidak menempuh pendidikan formal tinggi.


Singkatnya, buku The Decision Book ini bagus dan menarik dan lebih cocok untuk pembaca level menengah atau tinggi, plus akan lebih baik kalau covernya diperbaiki.

Review Buku "10 Simple Solutions to Adult ADD"

10 Simple Solutions to Adult ADD: how to overcome chronic distraction & accomplish your goals

Penulis: Stephanie Moulton Sarkis


10 Simple Solutions to Adult ADD

Kali ini aku mo ngereview tentang ADD, "tetangganya ADHD." Apa sih bedanya? Bukunya judulnya 10 Simple Solutions to Adult ADD.


Pertama lihat judulnya, kupikir 10 solusi sederhana yang dimaksud itu ya 10 poin/tips/perilaku/semacamnya, taunya 10 bab/bahasan besar, yang terdiri dari:

1. Understanding ADD,

2. Medication,

3. Reduce clutter and get organized,

4. Stop being a "loser",

5. Manage your time,

6. Make your money work for you,

7. Practice good self care,

8. Find a job that fits you,

9. Improve your social skills,

10. Enrich your relationships


Secara isi mirip dengan Fast Minds, padahal Fast Minds itu bahas ADHD, sedangkan buku ini bahas ADD.


Kalau di salah satu situs internet, katanya bedanya pada hiperaktif dan tidaknya. Kalau lihat kepanjangannya sih gitu, ADD (Attention Deficit Disorder), sedangkan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). 


Tapi ada juga web yang memasukkan ADD menjadi bagian dari ADHD. Istilah ADD sudah dihapus sejak kalau nggak salah DSM IV. Nah, tapi lagi, pada buku Healing ADD karya Daniel G. Amen itu, ternyata ADD ada 6 macam dan ada juga ADD yang hiperaktif, misalnya ADD tipe 1. Jadi, di sini kusimpulkan, mungkin ada yang mengelompokkan ADD menjadi bagian dari ADHD dan ada juga yang sebaliknya, mengelompokkan ADHD menjadi bagian dari ADD.


So, isi dan kualitas buku 10 Simple Solutions to Adult ADD ini kurang lebih sama dan setara dengan Fast Minds, berupa perbaikan habit plus sedikit pengenalan tentang ADD/ADHD dan medikasi/pengobatan dan terapinya. Tebel juga. Cuma, buku yang ini lebih sistematis/to the point/lebih enak dibaca oleh penderita ADD. Sesuai dengan judul, isinya lebih menonjolkan tipsnya. Sementara secara kesantunan bahasa lebih ramah Fast Minds.


Ya, itu plus minusnya. Setara kok. Kamu bisa pilih salah satunya dan ga akan terlalu ada bedanya antara Fast Minds dan 10 Simple Solutions to Adult ADD.




19 Januari 2023

Review Buku "Faster than Normal"

 Faster than Normal: turbocharge your focus, productivity, and success with the secrets of the ADHD brain

Penulis: Peter Shankman


Faster than normal

Buku Faster than Normal ini berbeda dengan buku Fast Minds kemarin karena yang ini ditulis berdasarkan sudut pandang "aku"/orang pertama, alias pengalaman pribadi. Semacam otobiografi.


Isinya berupa pergulatan hidup penulis dalam membalik ADHD-nya menjadi berkah. Meminimalkan kelemahannya dan meningkatkan kekuatannya. 


Itu susah payah banget, dari yang tadinya dia nggak menyadari kalau dia ADHD/perilakunya salah atau bermasalah dan kemudian terjebak dalam j*di, m*ras, n*rkoba, dll (substance abuse) dan kehidupannya yang kelam dan berantakan banget menjadi dia yang sangat terorganisir, bersih, rapi, dan sukses pada banyak bidang. Cara-cara itu ditunjukkannya di dalam buku ini.


ADHD bukan alasan bahwa kamu itu nggak akan berhasil atau hidupmu bakal mentok. Juga, bukan alasan untuk nyakitin orang lain.


Penulis itu dengan sadar dan dengan susah payah berusaha memperbaiki dirinya dan melatih dirinya agar perilakunya lebih seperti orang normal tetapi tentu saja dalam batas tertentu, dia juga ingin dimengerti. Maksudnya mungkin ketemu di tengah-tengah. Nggak dia doang yang berusaha berubah tapi yang normal juga harus ngerti kalau berubahnya itu susah, masih sering gagal, atau hanya bisa sampai kapasitas tertentu. Tapi kalau kamu baca buku Faster than Normal ini, dia gila-gilaan lho usahanya. Mengingatkanku pada Nic Vujicic, tetapi Nic Vujicic mungkin lebih pada mengatasi kekurangan fisik gila-gilaannya, sementara Peter Shankman pada kekurangan mental/usaha psikologis.


Di buku ini juga kental aura ngenesnya sebagai orang ADHD, gimana pandangan dan perlakuan masyarakat terhadap dia. Namun, beberapa isinya seperti minder, beberapa seperti menginspirasi dan memotivasi, dan beberapa sisanya seperti sombong. Yah seperti "Kami super cepat dan kamu lemot, tapi karena super cepat kami bermasalah dengan rem kami yang sering blong." Pada suatu kalimat juga isinya seperti menghina orang yang mungkin punya "gangguan lain."


Buku ini juga tebel kayak buku Fast Minds dan ini lebih bertele-tele, kurang sistematis, dan kurang fokus. Wajar ya karena penulisnya ADHD dan ngakunya memang doyan ngomong. Sisi baiknya, ini ringan dibaca, berupa storytelling.


Menjadi seorang ADHD yang sudah berhasil sangat terorganisir, sangat sukses, punya rem yang lebih baik, berhasil menjauhi dunia hitamnya, dan hanya menggunakan bantuan obat pada kondisi yang sangat minimal (tertentu saja), ada banyak cara dia yang mungkin bisa kamu contek, baik kamu menderita ADHD ataupun tidak. 


Oh ya, ada juga isinya yang protes karena dia menganggap anak-anak cowok itu nakalnya wajar sebagai cowok tetapi kenapa mereka dianggap ADHD dan diberi obat ADHD (dia bahas persentase anak-anak cowok yang diberi obat ADHD), tetapi secara kebetulan aku nemu bantahannya di buku Healing ADD karya Daniel G. Amen. Sepertinya Peter terlalu emosional karena ada kata ADHD-nya.


Yup, itu adalah plus minus dari buku Faster than Normal ini. Gimana, kamu tertarik baca? 


15 Januari 2023

Review Buku "Fast Minds"

"Fast Minds: how to thrive if you have ADHD (or think you might)"

Penulis: Craig Surman, Tim Bilkey, Karen Weintraub


Fast Minds

ADHD adalah sesuatu yang sering disalahpahami oleh banyak orang. Masih banyak orang yang menyamakan antara ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder) dengan ADD (Attention Deficit Disorder), autisme spektrum/ASD (Autism Spectrum Disorder), atau bahkan gangguan lainnya. ADHD dan ASD memang berbeda, tetapi kalau ADD baru-baru ini telah dikelompokkan menjadi bagian dari ADHD.


Definisi ADHD sendiri mensyaratkan bahwa gejala-gejalanya itu harus sudah ada saat masa kanak-kanak dan harus memenuhi persyaratan-persyaratan khusus secara lengkap, kalau kedua hal ini tidak terpenuhi penulis menyebutnya sebagai FAST MINDS (gampangnya itu seperti ADHD full dan ADHD parsial/mirip ADHD). Kalau di buku-buku tentang disorder lain istilah FAST MINDS ini serupa dengan traits, misalnya orang yang terduga narsis disebut Narcissist Traits dan bukan NPD. Jadi, kamu tidak perlu melakukan ADHD test yang formal, jika kamu mempunyai satu atau beberapa gejala di dalam buku ini, kamu termasuk FAST MINDS.


Menurut Centers for Disease Control (CDC), sekitar 4 persen dari populasi orang dewasa telah secara resmi didiagnosis dengan ADHD, tetapi para ahli yang sama mengingatkan bahwa orang dewasa yang tidak didiagnosis pada masa kanak-kanak cenderung tetap tidak terdiagnosis hingga dewasa. Itu berarti prevalensi sebenarnya dari ADHD dewasa kemungkinan besar jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan, terutama karena kebanyakan dari kita tidak "tumbuh" ketika kita berusia dua puluh satu tahun. (Faster than Normal, Peter Shankman).


Di buku ini, penulis mengindikasikan ADHD sebagai kelainan genetik dan kelainan pada otak. Kalau ortumu ADHD, kemungkinan kamu juga ADHD; begitupun sebaliknya. Meskipun ADHD dimulai sejak kecil, tetapi terkadang memburuk saat dewasa. ADHD dewasa ini memburuk karena kehidupan orang dewasa yang lebih kompleks.


Aku sendiri baru pertama ini baca buku tentang ADHD. Kalau kamu sepertiku mungkin kamu akan terkejut kalau tahu ciri-ciri ADHD/FAST MINDS itu seperti apa. Mungkin kamu atau orang di sekitarmu banyak yang termasuk di sini.


Ada 3 jenis utama ADHD, yaitu distractable (mudah terganggu), impulsive (pencari kebaruan/nggak berpikir panjang/emosional), dan hyperactive (hiperaktif). 


ADHD juga biasa didapati bersamaan dengan gangguan lain, seperti mood disorder, anxiety disorder, dan substance abuse atau addiction/kecanduan.


Pada buku lain kutemukan kata disorganized pada judulnya, hal itu mengingatkanku pada disorganized attachment/fearful avoidant attachment. Selain itu, kalau baca isinya aku juga jadi ingat buku-buku tentang abuse, terutama tentang kodependen/people pleasure (korban dari narsis/narcissist survivor). Hal itu juga mengingatkanku pada beberapa tipe MBTI, ekstroversi (ekstrovert-introvert), serta tipe kepribadian yang dibagi berdasarkan sanguinis, melankolis, koleris, dan plegmatis. Di situ seperti ada hubungannya dan seperti ada kecenderungan kalau kamu tipe kepribadian "ini", kamu cenderung menampilkan gejala ADHD yang "ini."


Buku Fast Minds ini sangat bagus, lengkap, dan detail; meskipun kalau kamu ADHD/fast minds beneran mungkin juga berat bacanya karena tebel, 300-an halaman, dan masih kurang ringkas. Bikin paham tapi melelahkan untuk dibaca. Untungnya, pada tiap akhir bab diberi juga rangkuman poin-poin kuncinya. Sangat membantu untuk mengingat.


Buku Fast Minds itu kaya banget. Isinya mencakup isi yang biasa ada di buku habit, fokus, manajemen waktu, produktivitas, decluttering (buku beres-beres/merapikan), buku-buku agar survivor/korban abuse bisa berfungsi dengan baik, buku tentang menjalin hubungan, buku tentang insomnia, dan tentu saja buku-buku tentang terapi-terapi psikologi semacam CBT dan lain-lain, cuma porsinya beda-beda. Di dalamnya juga termuat pengaruh makanan terhadap ADHD atau gangguan yang mirip ADHD, cara memilih ahli yang bisa membantu spesifik sesuai gangguan yang kamu alami, dll.


Jadi, kalau kamu bermasalah dengan fokus atau habit, ini bisa jadi buku tambahan yang harus kamu baca. Karena meski buku habit itu bagus-bagus, isinya itu 11-12 (mirip), dengan baca buku Fast Minds ini kamu akan dapat perspektif yang berbeda. 


Tak lupa ada pula tugas/tabel untuk tracking/ngecek perubahan kondisimu dan bahasan tentang medikasi/penggunaan obat stimulan maupun non stimulan untuk mendukung perbaikan kondisimu. 


Karena ini buku ADHD pertama yang kubaca aku belum bisa komen banyak tentang kebenaran isinya (tentu saja versiku) dan belum punya pembandingnya. Apa yang kunilai bagus lebih pada kekayaan isinya, susunannya yang sistematis, bahasanya yang netral dan santun, serta isinya yang lengkap dan detail dan memberikan banyak inspirasi praktek perbaikan yang bisa kamu coba.


Aku sengaja nggak bahas ciri-ciri ADHD dengan detail/lebih banyak biar kamu baca sendiri. Banyak dari ciri di sini yang sangat umum dijumpai tetapi nggak selalu ADHD, bisa juga kamu cuma FAST MINDS entah karena diabetes, gangguan tiroid, pola makan yang salah, atau lainnya.


08 Januari 2023

Review Buku "Think Like Entrepreneur"

Penulis: Erick Bulatowicz


Think like entrepreneur


Think Like Entrepreneur adalah buku yang mengajarkan tentang mindset entrepreneur/mindset entrepreneurial. 

Untuk bisa menjadi wirausaha, wiraswasta, atau pengusaha kamu butuh mindset yang benar, yaitu mindset entrepreneur sukses. 

Menjadi entrepreneur itu bukan tentang males kerja sama orang, kerja semau gue, kerja santai/leha-leha, dan semacamnya. Ada mindset dan bekal-bekal khusus/modal-modal khusus yang harus dimiliki dan itu diajarkan di dalam buku ini.

Buku Think Like Entrepreneur ini nggak berisi hal-hal teknis sama sekali. Isinya seputar mental dan cara pikir/mindset aja dan hal-hal yang bersifat umum/generalis. Jadi, jangan bayangkan tentang cara mencari klien, cara mengelola anggaran, dll yang sifatnya teknis. Nggak ada di sini. Berupa cara pikir aja, sama seperti Think Like a Rocket Scientist dan beda dengan buku-buku Think Like ... yang lain (pada umumnya). 

Isinya lebih ke mengukur kamu cocok nggak jadi entrepreneur, nyari passion-mu itu apa, trus mewujudkan passion itu menjadi bidang kerja entrepreneur-mu sambil mengatasi mental block yang kamu alami jika kamu nggak PD, gagal, menemui hambatan, dll. sampai kamu jadi entrepreneur sukses dan bertahan dalam kesuksesan itu.

Hal yang paling bagus dari buku ini ada pada bagian menetapkan passion dan tujuan (goal setting-nya). Standarku adalah buku-buku tentang passion dan goal setting yang pernah kubaca. Buku ini punya bagian yang lebih bagus dan lebih reflektif (mendorong refleksi diri/pengenalan diri) daripada buku-buku tersebut dan lebih padat.


Tapi aku nggak bilang kalau buku ini to the point ya. Maksudku, bagian passion dan goal setting yang cuma beberapa halaman itu lumayan setara jika dibandingkan dengan buku-buku yang memang membahas passion/goal setting secara terpisah yang bahkan 1 buku full.


Ini lebih kayak buku psikologi/pengenalan diri sih. Kalau tentang entrepreneurnya sangat dasar dan generalis. Mungkin banyak orang sudah tahu dan lebih berfungsi sebagai pengingat aja.


Dibanding buku Think Like a Rocket Scientist, isinya dan tampilannya itu lebih enak Think Like a Rocket Scientist. Penyajiannya lebih enak dan lebih terstruktur. Kalau buku Think Like Entrepreneur ini masih seperti buku mentah hasil brainstorming yang bahkan belum di-proofreading. Secara isi gitu, bahkan beberapa bagian seperti diulang-ulang karena mungkin nggak sadar. Begitupun tampilan/layout-nya, nggak enak untuk dibaca. Tapi ukuran fontnya udah pas, nggak kekecilan dan bahasa inggris yang dipakai itu udah sederhana banget, mudah dipahami orang yang bahasa inggrisnya pemula sekalipun. Singkatnya, buku ini masih bisa banget untuk diperbaiki dan dipangkas sehingga lebih padat dan kalimatnya lebih efektif. Masih sangat berantakan.


Buku Think Like Entrepreneur ini sebenarnya isinya full motivasi dan inspirasi (termasuk buku motivasi dan buku inspiratif), tapi entah kenapa pas baca efeknya nggak terasa sama sekali. Apa karena kurang sistematis, kurang efektif, kurang baik layoutnya, atau kurang powerful kata-kata yang digunakan aku nggak ngerti dan nggak mengamati. Buatku, tujuannya nggak tercapai gitu aja. Terus, buku ini aneh, pada bagian awal itu terlalu straight bahkan nggak ada -bukan basa-basinya- tapi pengantar untuk masuk ke kalimat pertama. Kirain bakal to the point seperti kesan pertama taunya di bagian belakang bertele-tele dan berulang-ulang/berputar-putar. 

Jadi, Think Like Entrepreneur ini adalah buku tentang mindset entrepreneur. Isinya bagus tetapi bukan tentang hal-hal yang teknis dan pasti akan lebih bagus lagi kalau dirapikan/di-make over besar-besaran, baik dari covernya dan terutama lagi isinya. Karena sayang lho ini aslinya bagus.


03 Januari 2023

Review Buku "Rocket Fuel"

"Rocket Fuel," the one essential combination that will get you more of what you want from your business

Penulis: Gino Wickman dan Mark C. Winters


Rocket fuel


Meskipun sama-sama mengandung kata roket, ini beda dengan buku Think Like a Rocket Scientist kemarin. Yang ini sama sekali nggak berhubungan dengan roket, biar menarik aja judulnya.


Isinya nggak seperti bayanganku, bahkan aku blank ini isinya apa kok judulnya aneh. Yang agak memberi clue/sedikit gambaran ya sub judulnya. 


Buku Rocket Fuel ini berisi kerja sama antara tipe visioner dan tipe integrator. Agak unik sih karena biasanya yang terkenal sebagai eksekutor (menjadikan visi dari visioner terwujud) adalah koleris, sedangkan buku ini malah menekankan pentingnya integrator (plegmatis).


Agar organisasi itu bekerja dengan baik dia harus punya visioner dan integrator dan keduanya harus bisa bekerja dengan efektif dan bekerja sama. Tentunya di sini dijelaskan tentang kelebihan dan kekurangan visioner maupun integrator dan tantangan-tantangannya serta bagaimana agar kehadiran mereka berdua bisa mendukung tercapainya tujuan bersama. Ada tesnya juga lho untuk tahu kamu termasuk salah satunya atau tidak.


Bagian yang menulis tentang deskripsi ini adalah penulis yang berfungsi sebagai integrator. Jadi, ketika dia menulis tentang visioner dia menulis lebih jelek (negatif) dan ketika menulis tentang integrator lebih bagus. Kekurangan yang dia tulis pada bagian integrator lebih pada pandangan orang lain yang jelek terhadapnya. Mungkin dia sendiri merasa nggak punya kekurangan atau seharusnya tipe lain yang harus menulis tentang dia sehingga dia lebih fair/balance, nggak terlalu melebih-lebihkan dirinya. Di sini kamu juga akan tau bahwa plegmatis itu nggak secuek dan se-humble itu. Nggak se-santai itu atau se-anti materi dan se-anti famousitas itu (nggak anti apa yang sering disebut orang sebagai duniawi). Mereka yang selalu merasa jadi orang ke dua, bekerja di belakang layar, atau jadi bayang-bayang dari Si Visioner pengen dapet panggung juga atau pengen dianggap berperan/dapat pengakuan. Di buku ini contohnya, Si Plegmatis atau Integrator ini sangat ingin menonjol, bahkan terkesan lebih menulis jelek tentang tipe satunya (Visioner).


Buku ini bagus, spesifik, dan unik. Setauku idenya dan isinya ini bener-bener baru. Nggak mirip buku mana pun. Ada sih buku psikologi cinta, tapi bahas kombinasi pasangan dari keempat tipe kepribadian (sanguinis, melankolis, koleris, dan plegmatis) jika sebagai pasangan dan penulisnya tidak mengatakan kalau itu murni baik/nggak bakal ada tantangan. Kalau yang di buku psikologi itu masing-masing pasangan dari tipe kepribadian itu punya kelebihan dan kekurangan/tantangan, baik itu dengan tipe kepribadian yang sama ataupun dengan tipe kepribadian yang berbeda. Menurut pemahamanku, visioner adalah melankolis, sedangkan integrator adalah plegmatis. Tetap saja mereka punya tantangan jika sebagai pasangan. Buku Rocket Fuel ini menurutku bukan berarti isinya hanya visioner-integrator yang bisa sukses, tetapi lebih menyoroti bagaimana cara agar jika kombinasi visioner-integrator muncul mereka bisa menjadi sukses. Tergantung orangnya dan cara kerja samanya, termasuk ada tidaknya kepribadian sekunder di dalamnya/jenis apa kepribadian sekundernya. 


Jadi, kalau kamu termasuk salah satu tipe ini dan berpartner dengan tipe satunya (baik sebagai pasangan, hubungan kerja, atau apa pun), kamu mungkin akan mendapatkan banyak kemanfaatan dengan membaca buku Rocket Fuel ini. Sedangkan jika kamu termasuk salah satu tipe ini (visioner/integrator) tetapi dalam organisasimu belum ada tipe satunya, maka mulai sekarang kamu harus mempertimbangkan untuk mencari orang dengan tipe tersebut.