02 April 2020

21 Hal yang Harus Diperhatikan agar Terhindar dari Penipuan Online di Instagram


Penipuan ada di mana-mana. Waspadalah! Penipu tidak hanya beroperasi di dunia nyata/offline, tetapi juga dunia maya (online). Yah, kalau kita amati di mana-mana orang sibuk berjualan. Pada tempat atau momen apapun biasanya akan ada orang yang menawarkan dagangannya. Termasuk media online tentunya, yang mungkin semula ditujukan untuk chat atau ngobrol akhirnya bermetamorfosis menjadi tempat promosi dan transaksi barang dan jasa.



Sudah jatuh tertimpa tangga, peribahasa ini tepat untuk menggambarkan nasib orang susah yang semakin susah setelah menjadi korban penipuan. Saya sendiri sih alhamdulillah tidak pernah tertipu yang semacam itu (barang tidak dikirim atau semacamnya), walau sudah lama membeli via online, ada yang mahal malah. Paling-paling tertipunya saya tentang barang yang tidak persis dengan katalog atau barang cacat. Yah pokoknya saya banyak-banyak bersyukur karena sejauh ini selamat dan berharap tidak akan pernah tertipu selamanya. Apalagi karena saya tidak bisa naik motor, pergerakan saya terbatas dan akan sangat tidak praktis, efektif, atau efisien jika saya harus belanja offline.

Banyak kabar penipuan telah melintas sambil lalu di kehidupan saya, namun keanehan itu semakin tampak ketika saya mencari informasi (search/browsing) tentang pinjaman online ilegal (pinjol ilegal). Tindakan tersebut dilatarbelakangi oleh 2 hal, yaitu ingin menolong seseorang yang terjebak pinjol ilegal dan ingin mengikuti lomba menulis artikel tentang bunuh diri (yang ternyata penyelenggaranya lupa menulis bahwa lombanya hanya untuk jurnalis). Jadi, saya ingin menolong kenalan saya, saya takut dia bunuh diri, dan saya juga ingin menolong korban-korban pinjol ilegal lain dari berpikir bunuh diri karena putus asa. Nah, karena setiap aktivitas kita di internet itu akan terlacak (bisa di-tracking), maka iklan Instagram (Instagram ads) di beranda saya berganti pinjol semua. Menariknya, mereka ini sangat ganjil dan saya yakini penipu (nanti akan saya jelaskan lebih lanjut). Saya pun heran, mengapa iklan-iklan penipuan bisa lolos/muncul sebagai iklan resmi/promoted ads. Pasti korbannya akan semakin banyak. Detik itu juga saya langsung melaporkan beberapa di antaranya (entah berhasil ditindak/tidak) sekaligus membuat postingan peringatan (warning) di IG saya. Kasihan kan orang sudah kesulitan keuangan malah ditipu, tambah bingung nanti mereka.

Saya jadi ingat momen di masa lalu yang so sweet so sweet gimana gitu. Waktu itu ada seorang pria yang PDKT saya dan ingin memberi hadiah. Dia mau membeli baju via online, tanya-tanya saya saya suka/memilih yang mana. Sejujurnya saya tidak suka semuanya, modelnya bukan selera saya, tapi terpaksa saya pilih salah satu agar dia tidak kecewa. Malangnya, ternyata online shop (olshop)-nya itu penipu. Kesal dong dia, apalagi dia bukan orang berada. Dan suasana pun jadi tidak enak, saya jadi serba salah.

Sudah ya curcolnya, lanjut ke cerita beberapa hari lalu, saat saya penasaran dengan iklan IG ads, kok lumayan bagus dan murah. Klik klik klik, saya simpan, tapi  dilihat doang, karena belum butuh. Belum se-pengen itu. Trus muncul lagi iklan serupa, lagi dan lagi, semua saya simpan, tetap tidak beli. Lalu beberapa hari setelahnya muncul postingan AbahRaditya tentang ciri-ciri penipu di Instagram, tiba-tiba saya ingat kasus pinjol online ilegal tadi dan beberapa ciri yang tidak ditulis olehnya. Tak lupa saya baca juga komentar-komentar di sana satu per satu untuk menambah wawasan, dan saya pun kembali bersyukur karena toko-toko yang produknya saya simpan tadi ternyata penipu. Saya cek ulang satu per satu dan memang ada indikasi ke sana. Batin saya pun berseru, “Alhamdulillah, slamet gak ketipu.”

Oke, langsung saja saya jelaskan bagaimana cara meminimalkan risiko dari menjadi korban penipuan di Instagram.

Untuk menurunkan risiko menjadi korban penipuan online di Instagram, perhatikan hal-hal berikut:
1.         Akun yang diiklankan Instagram (iklan berbayar) belum tentu aman dan terpercaya.
Penipu juga bayar/keluar modal untuk promosi/membuat akun bisnis. Tulisan profil pemilik juga terkadang meyakinkan, bahkan foto-fotonya terkadang tampak seperti nyata (real pict). Jangan mudah percaya, termasuk walau pemilik akun tersebut menggunakan label-label agama, misalnya ada kata "Syariah"-nya (Saya pernah menemukannya pada salah satu pinjol di IG). 
Jang cuma lihat "casing"/"label"-nya, teliti secara menyeluruh dan mendalam.

2.        Keanehan pada komentar dan like:
1.     Komentar akan dimatikan/dibatasi,
2.    Tidak ada/sedikit yang komen/like padahal pengikut/followernya banyak,
3.    Komentar tidak dibalas/nyaris tidak pernah dibalas.
4.    Follower banyak, yang like banyak, tapi yang komen sedikit.

3.        Postingannya banyak dengan durasi upload per hari sangat banyak.

4.        Postingan yang menge-tag tokonya tidak ada, padahal follower dan kiriman banyak.

5.        Waspada jika transaksi langsung diarahkan ke Whatsapp/WA-nya
Jika tertulis “Tidak menerima komen/DM, langsung WA saja (dengan adanya link WA di profilnya)” atau semacamnya, kita perlu hati-hati.

6.        Masuklah pada akunnya, lalu klik tanda “titik tiga” pada pojok kanan atas (namun entah mengapa tidak semua akun memiliki tanda ini). Klik tanda “titik tiga” tersebut, lalu pilih “tentang akun ini”. Jika tokonya sering ganti nama, apalagi dalam waktu singkat dan berbeda jauh usahanya, maka perlu diwaspadai.
Meski demikian, anehnya tidak semua akun memiliki tanda “titik tiga” ini, sedang akun yang memiliki tanda “titik tiga” ini pun tidak semuanya memiliki pilihan “tentang akun ini”.






SS ini saya maksudkan hanya untuk menyoroti isi peraturannya. Abaikan nama akunnya/cek sendiri asli atau palsunya.


7.        Testimoni
Ada sih foto-foto testimoni, tapi... itu mungkin curian juga, Foto-foto tersebut TIDAK menunjukkan data penjual dan pembeli dengan jelas. Kita tidak akan menemukan nama toko pada bungkus paketnya, nama toko dan pembeli pada WA-nya, nomer rekening penjual, dan sebagainya.
Namun, tetap masih bisa diakali penipunya, mengingat sudah banyak tersebar resi-resi atau bukti transfer palsu yang biasa digunakan oleh penipu yang berkedok sebagai pembeli (bisa digunakan juga untuk penipu yang berkedok sebagai penjual). Jadi, hati-hati saja.


Bungkusnya berlabel merek dan ada nama IG-nya (asli)

Bungkusnya berlabel jadi merek atau toko ini benar2 ada.
Lalu kita tinggal cari tau benar tidak nama akun IG nya itu, dan ternyata pada bungkus ini juga diberi nama akun IG-nya sekalian.


Pada profil dicantumkan nama dan nomer rekening. Ini gunanya kalau ada chat wa testimoni biasanya kan pembeli itu transfer dan kirim foto bukti transfernya ke wa. Lalu tidak ada percakapan lagi. Percakapan setelahnya itu misalnya "Kakak barangnya sudah sampai. Bagus banget. Suka deh." Tepat di bawah bukti transfer tadi. Jadi kita bisa melihat transaksi itu benar. Barangnya benar dikirim.


8.        Bukti transfer
Kalau bukti transfer mungkin saja benar, kan memang pembelinya transfer uang ke dia. Cuma, kita TIDAK BUTUH bukti transfer untuk melihat toko itu penipu/bukan.

9.        Bukti kirim
Sama seperti pada testimoni, bukti kirim juga tidak menunjukkan nama toko pengirim dengan jelas, baik itu pada bungkus paketnya, resinya, label alamatnya, chat WA-nya, atau lainnya.


Pada resi terlihat jelas toko pengirimnya (asli)


Ada daftar resi seperti ini tapi cek dulu dengan memasukkan nomer resinya ke web ekspedisinya (asli)

10. Penipu umumnya terburu-buru (memburu agar calon korban cepat membeli/membayar)
Waspada dengan kata-kata “no keep”, “no cancel”, “siapa cepat dia dapat”, dan semacamnya.

11.       Punya toko di e-commerce, semacam Shopee, Bukalapak, Tokopedia, Lazada, dan sebagainya tidak menjamin bahwa dia aman/terpercaya.

12.      Perhatikan nama toko dengan seksama, apakah ada tanda titiknya, underscore-nya, dash-nya, angkanya, dan sebagainya.

13.      Lebih aman jika kita berbelanja barang yang ready stock dan real pict, bukan katalog, P.O., dropship, atau lainnya.
Terutama karena penipunya pun ada yang membuka lowongan reseller/dropshipper. Jika kita tertipu, siapa yang akan bertanggungjawab?

14.      Harga terlalu murah
Seperti kisah saya di atas, saya tertarik karena harganya lumayan murah dan barangnya lumayan bagus.

15.      Akunnya masih baru
Akunnya masih baru, postingan masih sedikit, nama toko alakadarnya, dan terdapat banyak akun yang serupa namanya.

16.      Tidak mau didatangi tokonya
Alamat realnya tidak jelas, tidak mau didatangi tokonya, dan tidak bisa COD.

17.      Tidak bisa mengirimkan foto/video barang dengan nama kita,

18.      Menolak melakukan video call untuk melihat barangnya secara langsung,

19.      Kurang menguasai produk
Product knowledge penjualnya sangat rendah.

20.     Banyak alasan mengapa barangnya tidak kunjung sampai
Alasannya misalnya barang tertahan di Bea Cukai dan butuh biaya tambahan untuk menebusnya. Anehnya, kadang malah masih minta uang tambahan, marah-marah, minta nomer rekening, menyuruh ke ATM, menyuruh menyebut kode tertentu, dan sebagainya. Dia akan memburu, memaksa korban agar segera melakukan perintahnya, mengancam, serta marah-marah. Biasanya mereka tidak bekerja sendiri, tetapi memiliki tim/partner supaya lebih kelihatan meyakinkan. Biasanya bicaranya juga cepat, tidak jelas (mungkin mulutnya ditutupi saputangan), dan memburu (ngoyok, Jawa-red). Perintah yang memburu ini seringkali membuat korban bingung dan ingin segera menuruti perintahnya. Sayangnya, penipu akan segera kabur/menghilang begitu tujuannya tercapai, dan nomernya tidak aktif lagi.

Terkadang, memang ada barang yang dikirim, tetapi asal-asalan/barang yang buruk, bisa berupa produknya yang berbeda (misal beli HP dikirim batu), produk ori jadi produk KW, jumlah produk kurang dari yang semestinya, dan sebagainya.

21.Lebay menunjuk-nunjukkan trusted, padahal tidak relevan dengan bukti-bukti.
Misalnya: Dia memposting terdaftar di OJK, mengatakan dirinya trusted dengan cuma posting foto bertuliskan OJK (tanpa ada dirinya/nama usahanya). Contoh lain, misalnya mengatakan dirinya aman dan terpercaya dengan memposting foto/logo polisi online, padahal lolos situs Polisi Online tidak seperti itu indikasinya. Contoh lagi, penipu juga bisa ngomong penipu/posting tertipu, atau semacamnya. Cek selalu ya, jangan langsung percaya.


Cara kerja Polisi Online itu dg memasukkan link website kita pada situs tersebut. Kalau lolos akan ada tulisannya lolos, bukan dg memasang logo Polisi Online artinya toko tersebut terpercaya. 

Yah, sementara itu dulu ya. Waspada saja, bukan berarti kalau memuat satu atau lebih di antaranya pasti penipu. Karena misalnya harga, penipu bisa saja menjual dengan harga sama atau bahkan lebih mahal. Atau sebaliknya, bisa saja ada penjual jujur yang membeli dalam partai besar lalu menjual dengan harga murah.

Dan, perlu diingat, apa yang tertulis di atas itu bisa tidak relevan lagi setelah beberapa waktu kemudian, karena para penipu juga akan semakin canggih dan akan memperbarui/mencari teknik/strategi lainnya.

30 Maret 2020

Mau Dijodohkan? Eits ... Pahami 11 Hal Ini Dulu

Mendengar kata dijodohkan, apa yang pertama kali terlintas di pikiranmu: senang, sedih, marah, cemas, berharap, takut, atau ingin kabur saja? Masalah jodoh-menjodohkan alias comblang-mencomblangi itu tidak sederhana, namun entah mengapa sering dilakukan asal-asalan. Asal sama-sama single/lajang, asal bisa nikah cepat, asal ada yang "kosong"/mau, asal jodohkan saja pokoknya. Ini kan gawat.

Untuk itu, saya ingin menunjukkan/mengingatkan kalian untuk memperhatikan beberapa hal di bawah ini:

1. Orang yang dijodohkan itu belum tentu tahu kalau dijodohkan, apalagi setuju/mau dijodohkan. Terkadang ada orang dekatnya yang berinisiatif sendiri dengan prasangkanya sendiri, misalnya orangtuanya minta tolong kepada mak comblang agar anaknya dicarikan jodoh, orangtuanya mendaftarkan anaknya ke biro jodoh, atau seseorang mengenalkan 2 orang temannya yang berlainan jenis siapa tahu cocok.

2. Saat dijodohkan asumsikan kalian sama-sama belum ada rasa. Jangan kepedean langsung menganggap pihak lain naksir/ngebet langsung mau sama kamu.

3. Orang yang menjodohkan itu belum tentu tahu kondisi orang yang dijodohkan, apakah dia benar-benar single (tidak/belum punya calon/pacar/pasangan) atau sudah punya, apakah dia masih mengharapkan seseorang, sedang PDKT dengan orang lain, belum move on, mengalami trauma, belum ingin nikah, masih sibuk kerja/kuliah, sedang hamil/telah menghamili seseorang, dan sebagainya.

4. Jangan pasrahkan sepenuhnya nasibmu pada mak comblang/murobbi yang menjodohkanmu. Seringkali mereka juga tidak mengenali calon terlalu dalam. Ortu mungkin hanya tahu seputar aktivitasnya di rumah, teman kerja hanya kenal seputar aktivitas di kantor, dan sebagainya yang berupa potongan-potongan kehidupannya saja.

5. Jangan terlalu yakin dengan calon meskipun itu asli temanmu/kenalanmu di masa lalu. Dia yang dulu bisa saja sudah berbeda dengan dia yang sekarang. Apalagi cuma melalui CV taaruf. Segala informasi baik itu berupa verbal (lisan) maupun non verbal (tertulis) harus dibuktikan terlebih dahulu, jangan langsung dipercaya.

6. Pahami bahwa tidak semua orang mudah untuk menerima penolakan, baik itu calon tersebut, orangtuanya, mak comblangnya, atau bahkan orangtuamu sendiri.

7. Pahami bahwa tidak semua penolakan atau pembatalan itu tentang kamu, dan kalaupun tidak pura-pura saja demikian agar lebih ringan di hati. Orang bisa menolak/membatalkan perjodohan misalnya karena alasan pada nomer 1, karena dia PDKT dobel, atau lainnya.

8. Jika kamu terlalu sering menolak, masyarakat bisa menganggapmu buruk/pilih-pilih, atau berkata buruk tentangmu, meskipun sebenarnya pilih-pilih itu wajar demi mendapat jodoh yang terbaik.

9. Ada orang yang tetap menikahi/menerima dijodohkan meskipun sebenarnya tidak suka. Jika ini terjadi tidak ada jaminan dia menjadi cinta kamu atau kamu menjadi cinta dia, meskipun ada juga yang jadi cinta.

10. Orang menjodohkan itu motifnya bisa berbeda-beda, ada yang baik dan ada yang buruk.

11. Perjodohan ada yang baik/sukses dan ada juga yang tidak. Namun, risikonya tetap kamu sendiri yang menanggung. Mak comblang, walimu, atau wali dia tidak akan mau tahu.

Perjodohan itu tidak selalu buruk kok, cuma harus teliti dan hati-hati. Yang akan menjalani kan kamu, jadi pahami baik-baik risikonya saat menolak atau menerimanya.

29 Maret 2020

Shaf Sholat Oh Shaf Sholat ....

Maraknya kasus virus Corona membagi masyarakat menjadi setidaknya 2 kubu terkait shaf  sholat berjamaah di masjid.

Semua ustaz/alim ulama tadi memahami bahwa:
1. Virus corona itu berbahaya
2. Merapatkan shaf dalam sholat merupakan sebuah keutamaan.

Tetapi, tetap saja mereka mengambil pendekatan yg berbeda. Kubu yang satu mengatakan tidak apa2 shaf renggang karena darurat, sedangkan kubu yg lain berpandangan kalau shaf tidak bisa rapat lebih baik sholat jamaah di rumah saja.
Perbedaan semacam ini sering terjadi di dalam Islam dan dikatakan sebagai rahmat (jika disikapi dengan baik).

Nah, saya pun memiliki kisah terkait dengan shaf. Sebagai muslim sejak lahir saya juga sangat memahami tentang keutamaan dari shaf yang rapat ini. Namun, saya mulai terganggu ketika ada beberapa orang yang mulai berlebihan dalam menerapkannya. Setidaknya ada 3 orang yang saya ingat: seorang teman kuliah, seorang tetangga yg sudah nenek-nenek, dan seorang tetangga yg tergolong junior saya. Teman kuliah saya kenali sebagai aktivis organisasi X, yang dianggap sebagian orang termasuk daftar hitam; junior saya saya duga kelompok manhaj X, yg termasuk baru namun tumbuh subur di Indonesia; sedangkan yg nenek-nenek saya tidak tahu.

But, di sini saya tidak ingin terlalu menyoroti hal itu. Saya lebih menyoroti rasa terganggu saya akan sikap mereka. Tiap dekat mereka saya yg sudah kurus ini merasa sangat kecil, dengan tubuh dan sajadah kecil masih dipepet sedemikian rupa. Bayangkan, untuk takbiratul ihram pun tangan saya tak bisa mengangkat dengan lega, ruang kaki juga tidak lega, jika sujud rukuh/mukena sering terinjak mereka, dan saat duduk tahiyat awal/akhir saya jadi tertimpa pantat-pantat di sebelah saya dan pasti akan geser-geser dulu agar posisi duduknya (agak) nyaman. Entah kenapa ada orang atau faham seperti itu. Bikin menderita dan nggak nyaman saja, terutama kalau posisi mereka di kanan saya. Cobalah tempatkan segalanya secara proporsional, tidak begitu caranya.
Saya jadi agak parno (paranoid) kalau ketemu/dekat mereka.

Intinya apa sih tulisan ini? Intinya, perlakukan shaf dengan bijak. Bukan hanya kamu yg ingin meraih keutamaan sholat, tetapi tidak hanya caramu yang harus dipaksakan untuk diterima. Hormati jamaah lain agar kamu tidak malah mengganggu mereka.

NB:
Terkait dg Corona, saya pribadi lebih cenderung pada pendapat yg menyarankan sholat di rumah saja, dengan pertimbangan sbb.:
1. Masjid adalah tempat umum, kita tidak bisa/sulit memastikan/melarang siapa yg boleh/tidak berjamaah di sana,

2. Penderita virus Corona tidak selalu menampakkan gejala,

3. Jarak yang dianjurkan agar lumayan aman adalah 1-2 meter. Selisih 1 tegel/lantai belum mencapai jarak tersebut,

4. Tidak semua orang patuh memakai masker, baik karena bandel/cuek maupun karena perbedaan pendapat tentang sholat dengan bermasker,

5. Meskipun merupakan ibadah, sholat berjamaah tetap merupakan kumpulan, sedangkan untuk saat ini kumpulan orang banyak harus dihindari untuk menurunkan kecepatan penyebaran, angka penularan, maupun risiko yang lebih besar,

6. Taat penuh terhadap anjuran pemerintah berpotensi membuat situasi gawat/darurat Corona ini cepat selesai, sehingga segala dampak negatif yang ditimbulkan bisa diminimalkan dan keadaan segera normal kembali.

7. Jika misal satu orang saja bandel keburukannya tidak menimpa dirinya sendiri, tetapi menzalimi orang lain/menyusahkan banyak orang.

22 Maret 2020

Cara Meraih Ketenangan Hidup


Beberapa tahun lalu saya sempat bertanya atau tepatnya melakukan survei kecil-kecilan terhadap beberapa teman. Apa sih yang dicari orang  dalam hidup? Dan jawaban mereka kurang lebih sama: KEBAHAGIAAN DAN KETENANGAN HIDUP. Nah, di sini saya akan menjelaskan perspektif saya mengenai ketenangan hidup, yang mungkin sedikit berbeda dengan apa yang dipahami orang pada umumnya. Cekidot ya.

Kehidupan manusia terdiri dari beberapa aspek, yaitu:
1.  Fisik,
2.  Spiritualitas, dan
3.  Psikologis/mental

Untuk mencapai ketenangan hidup, kita perlu memperhatikan ketiganya.

Fisik

Aspek fisik meliputi berbagai hal, misalnya:

1.       Makanan/minuman
Makanan dan minuman dapat mempengaruhi mood dan kondisi/kesehatan tubuh kita. Artinya, kita bisa menjadi tenang atau tidak akibat makanan dan minuman. Kalau mood kita jelek/tubuh kita sakit, kita mudah bermasalah (cari gara-gara) dengan orang lain, sehingga kita semakin tidak tenang, dan masalah pun bertambah.

Oleh karena itu, perhatikan makanan dan minuman Anda. Jangan makan/minum berlebihan atau mengkonsumsi makanan/minuman yang buruk/tidak sehat. Ingat, good foods make good moods.

2.       Kurang/berlebihan dalam beraktivitas
Kurang/berlebihan dalam beraktivitas baik berupa kurang/berlebihan dalam bekerja, berolahraga, tidur, dan sebagainya juga dapat mempengaruhi mood dan kesehatan, sehingga  dapat mempengaruhi ketenangan hidup.

3.       Ikhtiar
Sebagai manusia kewajiban kita adalah berusaha/berikhtiar, berdoa, dan bertawakal. Ketiganya ini sepaket. Kehidupan itu berubah, orang-orangnya dan segala yang ada di sekitar kita juga ikut berubah. Jika kita tidak melakukan ikhtiar yang cukup untuk mengimbangi perubahan itu wajar jika kita menjadi gelisah.

Ikhtiar yang bisa kita lakukan bermacam-macam, yaitu dengan perencanaan, persiapan, manajemen, hidup teratur dan tidak menunda-nunda, dan sebagainya.

4.       Ilmu pengetahuan
Terkadang, apa yang kita khawatirkan tidak nyata, tetapi lebih berupa overthinking atau sekadar pendapat/hoaks (berita palsu). Kita membutuhkan ilmu pengetahuan untuk mengetahui dengan lebih pasti kondisi kita yang sebenarnya itu seperti apa, jadi kita bisa menyikapi dengan sewajarnya. Selain itu, semakin kita mengetahui ilmunya, semakin kita bisa memilih tindakan yang lebih baik, misalnya memilih bacaan/tayangan yang positif.

5.       Utang
Utang merupakan sesuatu yang sangat berbahaya. Utang menjadi salah satu penyebab utama kegelisahan seseorang. Orang yang berutang akan terus-menerus memikirkan utangnya dan menjadi tidak merdeka.
Jadi, jika saat ini Anda belum punya utang, jangan coba-coba sekali pun berutang. Sedangkan bagi Anda yang saat ini memiliki utang, berusahalah secepat mungkin melunasinya dan jangan berutang lagi.

Faktor-faktor di atas belumlah seluruhnya, masih ada faktor-faktor lain seperti cahaya, ritme sirkardian, alkohol/narkoba, kontak fisik (misalnya pelukan dengan yang halal), ekspresi menyenangkan (misalnya senyuman), dan lain-lain.

Spiritualitas

Bagi umat muslim mungkin sudah tidak asing dengan bunyi dari surat Ar Ra’du ayat 28, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang/tenteram.”

Banyak ketidakpastian dalam hidup ini, dan sebagai seorang hamba/makhluk tidak semua yang kita upayakan akan berhasil. Andai berhasil pun kita tidak tahu berhasilnya kapan. Selain itu, sudah sunatullah, selama masih di dunia setiap orang akan mendapat ujian atau musibah. Jika kita mengandalkan diri sendiri, kita tidak akan mampu. Jika kita mengandalkan orang lain, orang lain pun belum tentu mampu dan belum tentu ada untuk kita, plus dilarang karena artinya seperti menyekutukan Tuhan. Jadi, solusi terbaik adalah dengan mengingat Allah dan meyakini bahwa Allah lebih besar (kekuatannya) daripada musibah kita; Allah selalu memberi yang terbaik; Allah mengganti setiap yang hilang dengan yang lebih baik; dan setiap orang sudah ditentukan rezeki, nasib, jodoh, kematiannya, kita hidup hanya mencari ridho Allah, segala yang menimpa kita baik maupun buruk itu ada masa berlakunya (tidak abadi), dan sebagainya. Dan jangan lupa, rutin beribadah, minimal yang wajib harus lengkap. Bila Anda mendalami rahasia sholat, wudu, atau lainnya Anda pasti memahami misalnya mengapa kita dianjurkan untuk sholat tepat waktu/awal waktu. Di situ ada rahasia kesehatan dan ketenangan hidup juga, sebagai efek samping yang baik dari ibadah.

Psikologis/Mental

Terdapat 2 faktor psikologis utama pendorong ketidaktenangan hidup, yaitu:

1.       Orang-orang toksik
Dalam aspek psikologis/mental, faktor pendukung terbesar bagi ketenangan hidup kita adalah keberadaan orang-orang toksik/abuser (pelaku kekerasan), misalnya narsis, sosiopat, psikopat, dan sebagainya. Coba dicek, ada tidak orang-orang toksik di sekitar Anda? Berapa jumlahnya? Berapa kadar/intensitas toksisitasnya? Seberapa sering/seberapa lama Anda bersama mereka? Cek semuanya baik itu keluarga, tetangga, saudara, teman, sahabat, pasangan/suami/istri/anak, akun-akun online, semua pokoknya. Perhatikan siapa di antara mereka yang toksik, lalu mulailah memilih orang-orang dan lingkungan yang baik/tidak toksik. Semakin toksik lingkungan Anda, semakin tidak tenang hidup Anda.

2.       Dosa
Dosa, terutama mungkin dosa berbohong sangat membuat galau pelakunya, kecuali mungkin bagi yang hatinya sudah mati atau mengalami gangguan jiwa (gila/tidak waras). Hal itu karena seorang pembohong akan terus berbohong untuk menutupi kebohongannya dan takut ketahuan. Para pelaku dosa tidak akan tenang hidupnya dan memang sudah ditetapkan seperti itu oleh Allah.
Tidak hanya dosa, terkadang kesalahan/pelanggaran serta kemampuan memaafkan juga berperan dalam mewujudkan ketenangan psikologis seseorang.

Memperhatikan dan memperbaiki ketiga aspek tadi sangat penting dalam upaya meraih ketenangan hidup. Siapapun dapat meraih manfaatnya, termasuk penderita gangguan kecemasan (anxiety) dan semacamnya akibat trauma atau lainnya, sedikit banyak bisa diminimalisir atau diatasi kecemasannya dengan memperbaiki ketiga aspek di atas secara komprehensif, meskipun mungkin tetap memerlukan upaya tambahan berupa terapi atau lainnya. 

Jadi, ketenangan hidup dipengaruhi oleh banyak faktor. Untuk mendapatkan hasil yang optimal kita harus memperhatikan semua faktor tadi, tidak hanya memilih satu atau beberapa darinya.